.
.
.
Ruangan itu sangat gelap.
Seorang wanita terlihat sedikit linglung dengan semua yang terjadi beberapa saat yang lalu. Kemudian ia mencoba meraba-raba dan berusaha berdiri.
Rasa sakit itu nyata ia rasakan.
Tapi ia tetap berusaha bangkit dan berdiri. Tidak ada luka yang lebih dari ini. Seumur hidupnya ia adalah wanita yang sangat dihormati dan dipuja.
-TAP
Ia berhasil berdiri dengan menapakkan tangannya pada dinding-dinding yang terasa lembab. Ia terus berusaha berjalan dengan tertatih, menjadikan tembok itu sebagai pegangan.
Ketika ia sampai pada ruangan yang lebih besar, ia melihat beberapa wajah yang sangat ia kenali. Kedua bola mata lavendernya melebar. Seketika itu pula ia jatuh terduduk dan menangis sekencang-kencangnya.
Di tengah tangisannya ia melihat wajah-wajah itu menyeringai dan sebagian orang tertawa dengan puas, salah satunya berwajah dingin. Sangat dingin.
Dan ia sangat membenci wajah-wajah itu.
.
"Lavender Flower"
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
.
Story © Hyuugadevit-Cherry
.
[Uzumaki Naruto & Hyuuga Hinata]
.
"If You don't like don't ever try to read"
.
Enjoy Okay ^_^
.
.
.
.
.
Hinata terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu. Keringat dingin mengalir dari pori-pori kulit disekitar wajahnya.
Mimpi itu.
Mimpi itu kembali menghantuinya.
Hal itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia sudah melupakan semua itu dan berusaha bangkit dan hidup senormal mungkin. Lagipula ia tak pernah lagi mendapati mimpi itu.
Tapi kenapa sekarang ia justru kembali dihantui mimpi tersebut?
Apa yang akan ia hadapi?
Apa yang akan ia jalani selanjutnya?
Apakah ia akan kembali dipertemukan dengan seseorang dari masa lalunya itu?
Ya Tuhan, jika benar apa yang akan ia lakukan?
Wanita berhelaian lurus itu mengambil gelasnya dengan tangan bergetar. Ia meneguk air mineral tersebut hingga tandas. Entah kenapa rasa haus itu terasa lebih terasa sekarang ini.
Setelah itu ia menyimpan gelasnya.
Perlahan tangannya terangkat dan meraba permukaan wajahnya.
Ahh, wajahnya sangat lembab. Apakah ia menangis?
Ini semua akibat mimpi sialan itu! Ya mimpi yang menceritakan masa lalunya!
.
.
.
Wanita berhelaian hitam keunguan panjang nan lurus itu bangun lebih awal.
Sejak memimpikan hal mengerikan itu, ia tak bisa benar-benar tidur. Sekuat mungkin Hinata menutup matanya rapat-rapat.
Tidak ada yang boleh mengganggu ketenangannya lagi kali ini. Ia harus bahagia dengan kehidupan barunya setelah bersembunyi selama beberapa tahun ini. Sebenarnya yang terlihat bukan bersembunyi, tapi .., melarikan diri. Ya mungkin seperti itulah.
Dengan cepat ia menuju kamar mandinya dan mandi dengan waktu yang sangat singkat. Ia harus ke kampus lebih awal, karena mata kuliah kali ini adalah mata kuliah dosen yang sangat ketat.
Sesampainya di kampus, Hinata langsung bergegas menuju ruangan C01, di mana ia akan menimba ilmu. Wanita ini memilih bangku pojok dekat jendela.
Tempat yang sangat nyaman. Mungkin juga tak tersentuh.
Setelah mendudukkan dirinya, buku dalam dekapannya segera ia buka dan membacanya dengan khusyu layaknya kutu buku. Apapun caranya ia harus melupakan kejadian tadi malam.
Kemudian ia mendengar kicauan burung-burung di dekat jendela yang berhasil mengalihkan perhatiannya.
Secara seksama ia memperhatikan interaksi antara dua makhluk ciptaan Tuhan yang bersayap indah, makhluk hidup yang dikenal sebagai merpati.
Pandangan Hinata mendalam ketika menatap dua merpati dengan warna putih itu berinteraksi.
Merpati.
Ya, merpati selalu dikaitkan dengan lambang keromantisan cinta. Setiap kali ia membaca buku-buku romansa percintaan, pastilah hewan ini yang akan dijadikan salah satu simbol cinta sejati.
Mengapa?
Karena, hewan unggas ini sangat unik.
Meskipun hewan ini tidak semahal harga burung-burung jenis lainnya, tapi merpati memiliki sifat setia. Ia hanya akan setia pada satu pasangannya dan mengetahui kemana ia harus pulang. Bukan kah itu sangat romantis? Terdengar sangat hangat dan menyejukkan hati.
Lalu pikiran Hinata tertuju pada manusia. Bagaimana dengan kaum sejenisnya? Kaum manusia?
Tidak. Manusia tidak bisa seperti itu. Kaum manusia selalu saja berpindah-pindah hati. Manusia selalu mengatakan cinta, setia, janji dan berbagai kata-kata manis demi mendapatkan seseorang yang ia sukai.
Manusia itu berhasil mendapatkan hati orang ia inginkan. Akan tetapi, setelah mengetahui masa lalu seseorang itu, kemalangan orang yang ia sukai, biasanya manusia akan meninggalkan pasangannya. Kata-kata manis berubah menjadi kata-kata yang busuk.
Mata Hinata menatap dingin.
Ya, ia merasa tertohok dengan berbagai macam pemikirannya sendiri.
.
"Hai, kita bertemu lagi" Hembusan nafas dan suara yang sangat-sangat jelas di Indra peraba bagian tengkuk dan Indra pendengaran nya.
Hinata terjengit.
"K-kau!" Hinata berkata dengan terbata. Sungguh ia sangat terkejut mendapati pemuda tempo hari yang menabraknya kini duduk di sampingnya dan berlaga seperti seseorang yang sudah lama kenal.
"Me-menjauh, ja-jaga jarak!" Lanjutnya.
Kemudian pemuda itu mulai berceloteh ini dan itu. Dan entah kenapa setiap mendengar pemuda di samping nya berbicara dengan gaya jenakanya ini, bibirnya dengan refleks akan sedikit terangkat; menciptakan senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Sungguh, karena selama ini tidak pernah ada yang mau dekat-dekat dengannya. Terutama orang-orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya.
Dan semakin lebar lah senyumnya ketika mendengar perkataan pemuda yang ia ketahui bermarga Uzumaki ini "Pokoknya nanti setelah acara perkuliahan ini selesai, kau harus mau makan denganku!"
Nada suara pemuda itu tidak memaksa meski perkataanya jelas-jelas memaksa.
Hinata tak bisa menolak. Tidak. Pemuda ini terlalu baik dan ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menolak eksistensi pemuda berhelaian blonde ini di sekitarnya. Jadi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan.
.
.
.
Pembicaraan antara Naruto dan Hinata ketika sampai di kantin adalah Naruto yang memulai sesi wawancaranya pada wanita dengan iris lavendernya. Dan secara sukarela, wanita itu pun menanggapinya, menjawab dengan baik setiap pertanyaan dari pemuda di hadapannya ini.
Naruto Uzumaki.
Ia tahu nama itu sejak pertama memasuki kampus ini. Tidak ada yang tidak mengenal pemuda bernama Naruto Uzumaki; pemuda yang paling diincar di Universitas Konoha setelah Sasuke Uchiha sahabat si pirang Naruto. Selain tampangnya yang rupawan dan kaya, pemuda ini juga memiliki kepribadian yang menyenangkan.
Siapapun itu akan merasa tertarik. Selain menarik, pemuda ini juga bersahabat baik dengan kedua orang sahabatnya yang tak kalah terkenalnya di UK ini. Sasuke dan Sakura; pasangan terfenomenal atau entah apalah itu.
Jadi tak heran jika ketika Hinata datang bersama pemuda ini ke kantin, semua mata memandang dengan iri.
Ditengah acara makan mereka, Naruto bertanya mengenai umur. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini akan berakhir. Pastilah pembicaraan ini akan mengantarkan pada alasan kenapa ia menunda sekolahnya.
Mengingat mengenai masa sekolahnya, Hinata tertegun. Terlalu banyak alasan yang memang benar-benar ia alami sehingga ia harus menunda semuanya.
Dan yah itu benar. Kemudian ia kembali teringat akan mimpinya tadi malam. Berbagai tragedi yang menimpanya, berbagai beban yang ditanggungnya, rasa sakit, sedih, dan duka bercampur menjadi satu.
Hinata yakin kini wajahnya menjadi aneh. Terlebih ketika iris lavendernya melihat seseorang yang memasuki kawasan kantin dengan gaya khasnya- Wajah Hinata pastilah sangat pucat.
Mimpi itu-
ahh, benar kata pepatah. Bahwa jika kau berulang-ulang kali memimpikan suatu hal yang terjadi di masa lalu- maka mimpi itu akan menjadi suatu pertanda. Pertanda bahwa kita akan kembali bertemu dengan orang-orang di masa lalu. Dan Hinata merasa perkataan itu benar adanya. Masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam itu mungkin akan terungkap.
Lalu, bagaimana respon pemuda yang mulai ia terima di hidupnya ini jika mengetahui masa kelamnya?
Dari pada memikirkan hal itu ia lebih baik pergi kan? Menjauh dari siapapun agar ia tidak merasakan sakit hati lagi. Agar ia tidak merasa ditinggalkan lagi!
Tanpa mengucapkan satu katapun, ia segera berdiri dan berjalan secepat mungkin menghindari orang yang tak pernah ia harapkan untuk bertemu kembali dengannya.
'Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?'
.
.
.
"Aku telah melakukan kesalahan besar" Naruto berkata dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Pemuda Uzumaki ini datang ke apartemen sahabat sejatinya- Sasuke dan langsung mengeluarkan berbagai macam keluh kesahnya sejak di tinggalkan Hinata di kantin.
"Bodoh" Sasuke memberikan tatapan tajamnya "Kau benar-benar bodoh"
"Hey Teme, kau benar-benar tidak membantu!" Naruto berdiri dan hendak pergi "kalau begitu aku curhat pada Sakura-chan saja!"
"Oii, baiklah .. baiklah.." Sasuke menghela nafasnya "apa yang bisa aku bantu?"
Mendengar perkataan sahabatnya ini kedua iris biru menenangkan itu berbinar-binar bak anjing yang akan mendapatkan sesuatu dari majikannya.
"Aku ingin meminta maaf pada Hinata." Serunya semangat.
Sasuke menaikkan alisnya tinggi-tinggi "kau hanya harus mengatakan 'Maaf'!"
"CK... Masa gitu doang sih Teme! Aku ingin cara yang sedikit romantis atau bagaimana gitu!" Gerutunya.
"Hmm... Biarkan aku berpikir... aaa- aku tahu, bagaimana jika kita memberikan ia sesuatu seperti..."
Dan sepertinya mereka berdua akan memberikan sesuatu yang dapat membuat Naruto dan Hinata menjadi dekat. Rencana apakah itu ehh Naruto? Sasuke?
.
.
.
"Kau ada di sini?" Hinata menatap dingin seseorang yang kini berdiri di hadapannya dengan gaya congkaknya. Orang itu mendudukkan dirinya di hadapan Hinata.
Setelah menyelesaikan tugas kampusnya di perpustakaan, ia lekas menuju kafe dengan berbagai buku di dalamnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika orang ini datang dan bergabung dengannya yang sebenarnya, membuat Hinata tidak nyaman. Ia butuh waktu sendiri.
Tidak ingin ditemani.
Terlebih oleh orang ini!
"Ya tentu saja! Konoha adalah kota terbaik di Jepang. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik hmm?" Ucapnya dengan nada sedikit mencibir.
"Aku yakin kau merencanakan sesuatu!"
Tawa keras nan riang itu terdengar melecehkannya. Bahkan orang itu seolah tak peduli dengan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka berdua.
Hinata harus waspada. Ia merasa orang ini benar-benar memiliki tujuan lain selain sekolah dan menikmati keindahan Konoha.
"Bukan kah kau juga seperti itu ehh Hinata?" Orang itu tersenyum lembut, kemudian orang itu menelengkan kepalanya dan menatap Hinata dengan pandangan jijik.
"Seseorang yang tak pantas berada di kota Indah ini saja menempati Konoha? Kenapa tidak dengan ku?"
Iris lavender itu mengkilat marah. Hinata sontak berdiri dan hendak memberikan tamparan pada orang itu "K-kau!"
Ya, tapi tangannya kalah cepat dari tangan orang itu. Seseorang itu mencekal tangannya dan membuatnya mengaduh kesakitan.
"Sakit bukan? Aku juga sama! Bahkan lebih dari ini! Kita ini sama Hinata. SAMA!" Tegasnya.
"Tidak!" Bantah Hinata. "Kau yang menyebabkan semua ini. Kita tidak sama.., tidak" lirihnya. Orang-orang mulai memperhatikan. Seseorang itu hanya tersenyum remeh.
Setelah menghempaskan tangan Hinata yang terasa lemas, orang itu lekas pergi. Sedang Hinata langsung ambruk di tempat sambil menahan tangis.
.
.
.
Awalnya Naruto memang bermaksud berbelanja ke mini market di sekitar kota. Sekalian ingin menikmati kota, ia memilih berjalan kaki dan melihat pemandangan kota Konoha yang indah. Sungguh, lebih enak menikmati pemandangan dengan berjalan kaki dibandingkan mengendarai kendaraan.
Karena, ia tak benar-benar menikmatinya.
─ klik.
Ia merasakan handphonenya bergetar. Ketika ia membuka pesannya, ia menemukan bahwa sahabat merah mudanya menyuruhnya cepat-cepat datang ke apartemen Sasuke. Tak lupa juga gadis itu menambahkan pesanannya.
"Cafe ? Tart apel? Si Sakura itu... Benar-benar─ apa ia pikir aku..."
Naruto tak melanjutkan perkataannya. Ia telah sampai di depan cafe . Dan ia melihat Hinata tengah berbincang dengan seorang wanita berhelaian blonde. Mereka tampak membicarakan sesuatu yang serius.
Pemuda dengan marga Uzumaki itu juga dapat melihat wajah Hinata yang sekeras papan. Mata mereka saling memicing satu sama lain.
Mungkin mereka bermusuhan. Pikir pendek Naruto.
Bel berbunyi ketika ia memasuki cafe tersebut. Berniat menghampiri, kedua wanita itu berdiri dan yang paling dramatis adalah wanita berhelaian blonde itu menghempaskan tangan Hinata yang menggapainya.
Dan Hinata ambruk di tempat.
Melihat hal itu tentu saja sesuatu dalam hatinya tak suka. Ia hendak menegur si wanita blonde itu ketika melewatinya, tetapi wanita itu meliriknya dengan pandangan sinis.
"Kau bersamanya tadi bukan?"
"Ya" jawab Naruto dengan datar.
"Hah, ku harap kau tak kabur setelah mengetahui dia yang sebenarnya!"
Mendengar penuturan wanita itu yang menjelekkan Hinata membuat hatinya marah. Ia marah dan ingin mengetahui segalanya. Tapi ia segera mengenyahkan hal itu.
Yang terpenting saat ini adalah menenangkan Hinata yang menangis. Kali ini ia harus berani bertanya pada Hinata mengenai siapa wanita ini sebenarnya. Agar segala sesuatunya tak bertambah rumit dan menyulitkannya dikemudian hari.
Dan Naruto tak akan membiarkan Hinata lari lagi dari semua pertanyaannya.
.
.
.
.
.
-TBC-
A/N:
Ini dia chapter 3 yang aneh ^^ Btw, Dhe-chan lagi banyak tugas kuliah dan Mood menulis Dhe-chan juga naik turun. Terutama karena salah satu reviews yang menusuk T.T membuat Dhe-chan ingin berhenti.
Terimakasih untuk semua yang sudah R&R, Dhe-chan tidak bisa membalasnya satu satu tapi Dhe-chan membacanya dan merasa senang untuk semua yang mendukung & melanjutkan fic yang masih banyak sekali kekurangan ini. Terutama Typo.
So Next or No?
