Let me remind you

Disclaimer: Square Enix always...

"Sometimes the questions are complicated and the answers are simple."


chapter 3

"Well, good morning, Mr. Nabradia."

Ansem Wise, atau yang biasa dipanggil Mr. Wise, kepala sekolah Twilight High menyambutku tenang ketika aku masuk ke dalam ruangannya. Suasana ruangannya yang terkesan seperti tahun 1970-an tak pernah meninggalkannya, di mana-mana menunjukkan ciri khas Mr. Wise. Seberapa besarnya aku ingin menelusuri ruangannya, aku harus fokus. And to be honest, aku masih tidak tahu kenapa aku dipanggil oleh Mr. Wise. Well, walaupun ini bukan pertama kalinya aku dipanggil ke ruang kepala sekolah, tapi tetap saja, hal ini pasti berhubungan dengan yang namanya bad news. Aku bahkan tidak tahu masalah apa yang telah kuperbuat sampai dipanggil oleh Mr. Wise. But, as far as I know, semua siswa-siswi yang dipanggil oleh Mr. Wise, biasanya melakukan penyimpangan di sekolah terkemuka ini.

Alright... Keep calm, Roxas.

"Umm... Good morning, sir."

"Do you have any idea," Mr. Wise berhenti sejenak, menyipitkan matanya sambil mengelus janggut emasnya dan memperhatikan gerak-gerikku. Ia melanjutkan kembali kalimatnya dengan tenang, "mengapa Anda berada di sini?"

"Umm... No?" Mr. Wise mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus mengelus janggutnya dengan penuh kasih sayang. Cepat-cepat aku mengoreksi diri, "I-I mean, saya tahu bahwa saya dipanggil oleh Anda karena mungkin saya melakukan sesuatu yang...—I don't know, bad things... I guess?"

Mr. Wise berhenti mengelus janggutnya kemudian tertawa pelan. Surprised, yes, tapi harus kuakui, aku lebih suka mendengarnya tertawa daripada mendengarkan ceramah dari Mr. Wallace yang kalau dibuat marah akan diberi hukuman lari mengelilingi lapangan selama 500 kali. Cara tertawa Mr. Wise yang terdengar seperti tawa Santa Claus membuatku rileks, berbeda dengan Mr. Wallace yang membuat tubuhku pegal parah selama berminggu-minggu.

"Seharusnya seperti itu, Mr. Nabradia. Tapi kasus Anda berbeda," kata Mr. Wise sambil tersenyum. "And, oh, rileks saja. Anda tak perlu tegang seperti itu. Dari semua data yang saya dengar dari para guru, Anda baik-baik saja. You'll be fine. Here, silahkan minum teh shalimar ini, my favorite. Teh ini akan membuat Anda jauh lebih baik."

Aku hanya bisa menatap Mr. Wise yang tengah menuangkan teh ke dalam sebuah cangkir keramik putih berukir yang kemudian ia letakkan di depanku dan memberiku isyarat 'silahkan minum' sambil mengangguk, ia pun menawarkan kotak perak berisi turkish delight yang tutupnya terbuka padaku. Amazed, I must say. Ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini oleh Mr. Wise, mengingat bahwa aku pernah ke ruangannya sekali di mana saat itu aku datang bersama ibuku. Melihat kebaikan Mr. Wise, aku tidak yakin apa aku ingin meminum teh yang ditawarkannya. Namun, supaya terlihat sopan menerima tawarannya, akupun meminumnya.

"It feels good, right?" Mr. Wise ikut meminum teh shalimar yang sebelumnya juga ia tuangkan ke dalam salah satu cangkir keramiknya. Ia menyeruput sekali lagi tehnya sebelum ia akhirnya menoleh ke arahku sambil berkata, "walaupun teh ini salah satu teh favoritku, ada kalanya aku lebih menyukai early morning tea di pagi hari. Aroma tehnya, ditambah segarnya udara di pagi hari, just like paradise," Mr. Wise tertawa, "maafkan saya, saya terlalu banyak menonton drama televisi. "

Okay, I'm confused. Aku tidak tahu apa Mr. Wise berusaha membuatku terlalu nyaman di ruangan ini, karena jujur saja, niatnya berhasil. Aku tidak dapat menahan rasa keingintahuanku yang terus menerus mendesakku untuk bertanya kepadanya. "Mr. Wise, am I in trouble?"

Aku tahu seharusnya aku tidak menanyakan hal itu, karena setelah itu ekspresi Mr. Wise berubah. Wajahnya yang santai mulai terlihat serius. Tatapannya kali ini justru membuatku tidak semakin rileks, sehingga aku menggenggam kuat cangkir keramiknya untuk mengurangi kegugupanku. Such a fool I am, seharusnya aku menahannya. Rasa ingin tahuku yang tidak sabaran...

"Anda memang tipikal orang yang to the point, Mr. Nabradia. Kurasa penilaian para guru tidak salah," jawaban Mr. Wise membuatku menelan ludahku yang tercekat dan jujur saja, aku sedikit terkejut. "Rasa ingin tahu Anda memang bagus. Namun ketidaksabaran Anda lah yang harus anda atur. Relax, I told you didn't I? Saya akan menjelaskan mengapa Anda dipanggil kemari secara perlahan, dan kali ini saya minta kesabaran Anda."

Aku mengangguk pelan sebelum Mr. Wise kemudian menjelaskan, "Belakangan ini saya melihat Anda mulai menjauh dari teman-teman Anda. Saya mendengar kabar burung bahwa Anda mulai dekat dengan Ms. Fleuret, am I right?"

Aku mengangguk sekali lagi dan Mr. Wise melanjutkan, "Saya meminta Anda untuk tidak menjauhkan diri Anda dari teman-teman Anda selagi Anda berteman dengan Ms. Fleuret. Saya tahu bahwa ia adalah gadis yang kesepian, tapi kasusnya berbeda. Saya minta agar Anda tidak memfokuskan pada satu orang saja, tapi semua orang. Hal ini tentu dapat memengaruhi prestasi Anda. Saya bisa memanggil bimbingan konseling untuk mengarahkan Anda, namun akan lebih baik apabila Anda datang ke tempat ini dengan kesadaran diri Anda."

Mr. Wise membuka laci mejanya lalu mengeluarkan secarik kertas brosur berwarna hijau yang masih rapi. Aku membaca isinya pelan sambil mendengar Mr. Wise yang berkata, "I'm not forcing you, it's up to you."

Selesai membacanya aku bertanya dengan nada tidak percaya pada Mr. Wise, "A discussion group? Untuk apa?"

"I'm sure I've already told you before, Mr. Nabradia. "

"Dan saya masih tidak mengerti, sir."

"Maksud saya adalah," Mr. Wise menyeruput kembali tehnya lalu meletakkannya setelah ia selesai meminumnya dan kembali dengan wajah yang serius, "ada baiknya Anda mengikuti grup ini untuk satu hari saja. Mungkin saja grup ini dapat menginspirasikan Anda untuk kembali bersinar di sekolah ini, meraih prestasi kembali, serta menyeimbangkan hubungan Anda dengan semua orang termasuk Ms. Fleuret. Sehingga Anda tidak menjauh dari teman Anda, termasuk Ms. Fleuret. Do I make myself clear?"

Aku tahu kalau aku masih tidak mau mengalah dan ingin mengatakan kalau aku tidak mengerti, tapi hal itu tidak akan berhasil karena pada akhirnya aku sendiri pun mengerti. Mr. Wise berusaha mengatakannya padaku dengan caranya yang halus. As far as I can tell, kalau bahasanya tidak halus, aku dapat menyimpulkannya begini: Mr. Wise menginginkanku untuk mengikuti discussion group ini untuk membuatku tidak dekat dengan satu orang saja.

Setelah aku ingat-ingat kembali, Mr. Wise memang ada benarnya. Saat pertama kalinya aku memasuki Twilight High, kusadari bahwa aku lebih suka hangout dengan Axel dibanding dengan yang lain. Seberapa pun besar populerku di tahun sophomore dan juniorku, sampai sekarang teman baikku hanya Axel. Dan sekarang, aku pun mulai dekat dengan Namine, menyebabkanku mulai terpisah dari duniaku yang dulu. Menghadapi kenyataan itu, aku merasa sedikit merindukan masa-masa itu, di mana aku mulai dikenal di seluruh sekolah dan semua orang begitu ramah padaku. Mungkin memang terdengar selfish, tapi kenyataannya memang seperti itu.

Mr. Wise mempersilahkanku keluar dari ruangannya begitu kami mendengar bel istirahat berbunyi. And of course, aku pun masih perlu memikirkan tentang discussion group ini. Aku pernah mendengar discussion group ini dari seseorang, they say, grup ini berisi perkumpulan orang-orang yang memberi sharing tentang pengalaman mereka masing-masing, dan entah kenapa orang yang menceritakan hal ini padaku mengatakan bahwa ia merasa cerah kembali setelah mendengar sharing yang diberikan. Mungkin ada baiknya juga apabila aku mendatanginya.

"Yo, Roxie!" Axel mendatangiku sambil menaruh tangannya ke pundakku sambil menggoyangkan pergelangan tangannya yang tengah menggenggam secarik kertas. Ia melakukannya terus menerus di depan wajahku dengan tatapan menyeringai.

"What's up, Axel?" tanyaku karena tidak sabar dengan tindakannya yang terus mengibaskan kertas itu di depanku membuatku pusing karenanya.

Axel kemudian berhenti melakukannya sambil berkata, "Selphie's party tonight! Kamu nggak lihat kertasnya di dalam lokermu? Ia menaruhnya di setiap loker siswa!"

"Ehem," aku berdeham, "Bagaimana aku bisa melihatnya kalau kau memberhentikanku ke sini. Aku bahkan belum membuka lokerku sama sekali."

"Well then, why don't you?"

"Kau menghalangi jalan, Axel."

Axel langsung menyadari lalu berjalan di sampingku, "Oh, hehe, sorry. Yah, karena kau sudah kuberi tahu, jadi... would you come on this one?"

Aku mengambil kertas itu dari tangan Axel dan membacanya. Kertas itu berwarna merah muda dengan tulisan font yang indah. Kertas itu dihias dengan bermacam-macam warna dan gambar yang menunjukkan bahwa pesta itu bakal meriah, mewah, dan besar. Aku tidak terlalu terkejut. Aku kenal Selphie, selama aku satu sekolah dengannya, tidak ada kata tidak mewah di hidupnya.

Aku mengembalikan kertas tersebut pada Axel. Axel sepertinya menunggu jawabanku, which is very annoying, jadi aku hanya mengangkat kedua bahuku. Axel sepertinya tidak menerima jawabanku dengan baik karena kemudian ia mengumpat. Ia melakukannya setiap kali aku menolak ajakannya untuk pergi ke pesta orang lain, terlebih lagi Selphie.

"Really, Roxas? Ini pestanya Selphie, lho. Pestanya Selphieee..."

"Lalu apa? Selphie selalu mengadakan pesta, apa yang berbeda dari pesta ini dengan pestanya yang lain? Fireworks? Err—no, wait, itu sudah pernah."

"Entahlah, ini baru pertama kalinya ia mengadakan pestanya dengan lapangan skateboard, Rox. Apa kau tidak tertarik?" tanya Axel sambil membaca kertas itu lagi.

Aku mengangkat kedua bahuku sekali lagi dan Axel memukul jidatnya. Ia lalu berkata, "Lagipula, sepertinya pestanya kali ini bakal lebih meriah daripada sebelumnya, Rox. And it looks like, she's waiting for your presence in her party. Ketika aku berpapasan dengannya dan berbincang sedikit dengannya tentang pesta ini, ia menanyakan apakah kau bakal datang—"

"Not interesting," selaku.

"—sudah kuduga," Axel menghela nafas. "Oh, c'mon Roxas! Ini pesta yang bakal menggelegar semua sejarah yang pernah ada! Kau pasti tidak ingin ketinggalan kan? Semua skateboarder bakal ada di sana! Well, walau aku masih kurang yakin akan kehadiran Zexion di sana, tapi percayalah! It'll be more fun kalau kau datang!"

Axel masih mencoba meyakinkanku untuk datang ke pestanya Selphie yang mengundang hampir seluruh siswa-siswi Twilight High. Terkesan prestige, yes, mengingat Selphie termasuk kalangan anak populer di sekolah ini. Awalnya aku tidak tertarik untuk datang ke pesta ini, tapi begitu mendengar bahwa para skateboarder bakal hadir di sana, what can I say?

"Kurasa aku bisa datang," kataku pada akhirnya. "Tapi hanya datang, menemui beberapa skateboarder, lalu pulang."

"Benarkah? Hell yeah! Nanti malam pasti seru!" kata Axel sambil memberiku sebuah high-five. "Oh iya, mungkin kau bisa mengajak Namine Fleuret ke sana bersamamu."

"What the what?" aku yakin kalau aku salah dengar, tapi ternyata telingaku tidak salah. Namine? Pesta? Rasanya aku ingin memukul Axel di bagian belakang kepalanya. "No, no, no, Namine tidak terlalu suka dengan keramaian seperti itu, Axel."

"Hmm, yeah, maybe you're right," Axel mengangguk-angguk setuju, "gadis saint seperti dia memang kurang cocok dengan pesta yang ramai, sesak, dan penuh dengan para remaja berhormon. Well, setidaknya kalau bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya."

Seminggu setelah percakapan terakhirku dengan Axel, Axel pun minta maaf karena ia pernah memintaku untuk menjauhi Namine, which isn't cool. Jadi, aku merasa senang karena pada akhirnya ia menerima kehadiran Namine di sisiku, dan mulai berbicara dengan gadis itu walau hanya sekadar menyapa. Dan selama sebulan ini, sepertinya ia sudah merasa nyaman dan menerima Namine.

"I will," kataku pada Axel sebelum akhirnya aku pergi menuju ke lokerku. Axel menyeringai sambil berjalan ke arah yang berbeda, dengan tujuan yang sama yaitu pergi ke lokernya. Dalam perjalanan ke arah lokerku, aku melihat gadis berambut pirang tengah berjalan menyusuri lorong sekolah dengan tumpukan buku ICT di tangannya.

"Namine!" sapaku segera sambil berjalan ke arahnya, sambil menawarkannya bantuan untuk membawa buku-bukunya yang banyak. Aku senang dapat bertemu dengannya lagi karena ia memiliki satu kelas yang berbeda denganku. Yeah, Namine pernah bilang kalau ia tidak suka dengan pelajaran ICT, sehingga ia kesal karena tidak dapat kelas yang sama denganku yang nilainya lumayan.

"Tadi aku mendengar namamu dipanggil melalui loud speaker sekolah," Namine merubah topik. Ia bertanya, "What's wrong?"

Aku memberitahunya bahwa aku dipanggil oleh Mr. Wise, tapi aku tidak memberitahunya tentang discussion group. Aku ingin sekali memberi tahunya tentang grup ini, tapi di saat yang sama aku pun tak ingin. Aku tidak ingin membuatnya sakit hati ketika memberi tahunya bahwa Mr. Wise ingin aku berkonsultasi dengan grup ini agar aku meraih eksistensiku di sekolah kembali. Jadi aku hanya berkata kalau tadi tidak ada hal yang menarik untuk dibicarakan.

"Bagaimana rasanya? I mean, Mr. Wise? Aku pernah masuk ke ruangannya dua kali, dan menurutku he seems okay. Tapi semua siswa mengatakan kalau dipanggil oleh Mr. Wise berarti pertanda—"

"Buruk, aku tahu," kataku sambil mengangguk. "Tapi ternyata tidak seburuk seperti yang kuduga. Rumours are wrong, sometimes. Mr. Wise nggak seperti itu. Dia 180 derajat berbeda dari yang dikatakan tentangnya, malah."

Namine menganggukkan kepalanya mengerti sambil berkata, "Sepertinya kita tidak perlu rumor-rumor seperti itu lagi. Infact, para guru pun kelihatannya sangat menghormatinya. Oh, dan yang kumaksud sangat, maksudku benar-benar sangat."

"Benarkah? Well, that explains a lot," kataku. "Dia seperti Santa Claus dengan perut yang kurus. Dia sangat suka minum teh shalimar, umm his favorite, dan sepertinya suka makan makanan kecil, mengingat tadi aku melihat sekotak turkish delight di dekat teko tehnya yang tinggal setengah. Suaranya tenang, dan membuatku nyaman. Tidak heran semua guru menghormatinya."

"Wow, aku belum pernah sisi Mr. Wise yang itu," kata Namine sambil tertawa. "Sepertinya rumor yang kudengar itu salah."

"Never trust rumours again~" balasku sambil bernyanyi, dan ia tertawa.

Saat aku sampai di depan lokerku dan membukanya, aku melihat secarik kertas di atas buku-bukuku. Ah, ini pasti kertasnya, batinku sambil mengambil kertas tersebut dan membacanya. Benar, ini kertas pesta Selphie yang dimaksud Axel tadi. Aku sudah membacanya berkali-kali ketika bersama Axel tadi, sehingga aku tidak perlu membacanya lagi. Namine yang melihat kertas itu, menatapku penasaran, "What's that?"

"This?" tanyaku ulang sambil menunjukkan kertasku padanya. "Hanya sebuah pesta. Selphie's party."

Namine membacanya dan seketika wajahnya terlihat sedih. Ia mengembalikan kertas itu padaku lalu bertanya, "Apa kau ikut? Malam ini?"

Aku tidak tahu mengapa wajahnya terlihat sedih ketika ia membaca kertas itu tapi aku menghiraukannya. Aku pun menjawab, "Kurasa. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan ikut pada Axel, tapi hanya sebentar. Ibuku akan marah kalau tahu aku pulang terlalu larut malam."

Namine mengangguk. "Okay then."

"Umm... Kau tidak datang?" tanyaku. Aku tahu ini pertanyaan bodoh, mengingat Namine tidak terlalu suka dengan tempat yang ramai dan sesak seperti pesta. Namun, aku mencoba menanyakannya padanya karena tadi aku melihat wajahnya sedih.

Namine tertawa kecil lalu menjawab, "Kau tahu kalau aku tidak suka tempat yang sesak, Roxas." Seketika wajahku memerah mendengarnya menertawaiku. Lalu ia berkata, "Lagipula, why would I? Kalaupun aku mendapatkan kertas itu di lokerku, mungkin saja aku datang, walau hanya sementara."

"Wait... maksudmu," aku menghentikan langkahku ketika aku menyadarinya.

Namine menghentikan langkahnya juga lalu menatapku. Kemudian ia kembali berjalan setelah berkata, "Aku tidak pernah mendapatkannya."

Aku melanjutkan langkahku, mengejarnya yang sudah beberapa langkah jauh di depanku dan bertanya, "Selama ini?"

"Selama ini."

Aku terdiam. Aku tahu kehadiran Namine di mata seluruh siswa-siswi Twilight High tidak terlalu diterima seberapa besar prestasinya di sekolah ini. Namine pernah sekali menceritakan bahwa di sekolah mulai menyebarkan rumor buruk tentangnya setelah ia menolak masuk cheerleader dan lebih memilih melukis. Dan sejak saat itu, tidak ada yang membelanya.

Aku bahkan tidak tahu tentang hal macam itu karena aku memang tidak pernah mendengarnya. Aku pernah menanyakan hal tersebut pada Axel, berjaga-jaga apabila ia tahu. Axel menjawab bahwa ia pernah mendengar rumor semacam itu, tapi ia tidak tahu siapa yang dibicarakan. Kalau saja aku benar-benar memperhatikan dan mengetahui rumor itu, aku pasti akan bertindak.

"Mungkin lebih baik aku tidak mengikuti pesta ini," kataku kemudian.

Namine terlihat terkejut mendengar keputusanku dan menatapku bingung, "Tapi kau bilang—"

"Forget it. Pretend like you didn't even hear it."

"What about Axel?"

"I'll just text him."

"Tapi Axel—"

"Axel akan mengerti."

"Tapi—"

"Gosh, kau terlalu banyak menggunakan 'tapi', Namine."

"Roxas, this is serious," kata Namine. "Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja. Axel sahabatmu."

Aku terdiam. Namine memang ada benarnya, tapi Namine juga sahabatku. Sebagian dari diriku ingin pergi ke pesta bersama Axel, dan sebagian diriku yang lain tidak ingin agar bisa tidak menyinggung Namine. Akhirnya, aku bingung sendiri.

Namine tersenyum lalu tertawa. Kemudian ia berkata, "Sudahlah, ikut saja pesta itu kalau mau. I bet that Selphie really wants you to come."

"Hiraukan dia. What about you?" tanyaku khawatir.

"Don't mind me. Really."

"Kau yakin?Aku masih tidak yakin."

Ia tertawa, "Aku yakin. Hanya saja, don't get drunk. Dan kalau bisa, jangan buat aku khawatir."


Aku menunggu di ruang tamu sambil terus memainkan kunci mobilku di jariku. Sebentar lagi jam enam sore, pesta sudah dimulai. Aku berani bertaruh pesta itu sudah penuh pada jam ini. Selesai mandi tadi, aku hanya mengenakan t-shirt putih, celana jeans hitam yang warnanya senada dengan sepatu DC dan leather jacket milikku. Lalu ketika Sora selesai mandi, aku harus menunggunya selama lima puluh menit untuk keluar dari kamarnya. Bocah itu ikut pergi ke pesta bersama pacarnya, jadi ia ikut menumpang denganku. Namun, aku tidak bahwa menunggunya bisa selama ini.

"Sora! Kau jadi ikut atau tidak!"

"Lima menit lagi!" balasnya.

"Arrgh!" Aku memendam wajahku dan berteriak ke kedua telapak tanganku. Ia sudah mengatakan itu lima menit yang lalu. Ini sama saja aku menunggu seseorang untuk kencan prom. Sora perlu memutuskan pilihannya sebelum aku jadi gila.

Sepuluh menit telah berlalu akhirnya Sora keluar dari kamarnya. Aku langsung memukul kepalanya dan keluar dari rumahnya tanpa berkata apa-apa, mendiamkannya yang terus meminta maaf padaku. Selama perjalanan pun ia mencoba menjelaskan betapa sulitnya memilih pakaian dan ia bingung bagaimana aku bisa memilih pakaianku cepat sekali. Bro, aku tidak peduli.

Setelah sampai di lapangan skateboard tempat Selphie's party diadakan, seperti biasa, Sora turun duluan ketika ia melihat Kairi tengah berbincang-bincang dengan temannya, Olette, yang juga temanku. Olette berpamitan pada Kairi ketika melihat Sora datang, dan Sora langsung memberi Kairi ciuman. Namun, seperti yang sudah kuduga, tiga puluh detik kemudian mereka mencari tempat sunyi dan make out di sana.

Aku turun dari mobilku dan melihat Axel sedang berbincang-bincang dengan pacarnya, Larxene. Aku memilih untuk tidak mendekati Axel kali ini karena takut dicaci maki oleh pacarnya itu. Akhirnya aku berjalan-jalan di sekitar dan melihat Hayner sedang meminumpunch bersama Olette dan Pence. Aku mendekati mereka dan menyapa mereka.

"Hey, Roxas!" Hayner dan Pence langsung memberiku high-five dan Olette setengah memelukku. Mereka tersenyum melihatku datang. "Tumben sekali kau mendatangi pestanya Selphie."

"Kudengar para skateboarder akan datang," jawabku singkat.

"Memang benar, aku pun tidak sabar untuk melihat mereka beraksi. Kau tidak ikut, Roxas? Kau kan termasuk anggota Organization XIII," kata Hayner sambil menaruh lengannya ke bahu Olette dan membawa pacarnya itu dekat dengannya.

"Mungkin hanya satu putaran saja."

"Selphie benar-benar memancingmu, Roxas," kata Pence sambil tertawa.

"Maksudmu?"

"Selphie mengadakan pestanya di sini karena ia kira kau akan datang. Kau jarang datang ke pestanya," jawab Olette.

Aku mengangkat kedua bahuku sambil berkata, "Aku nggak terlalu memedulikan hal itu, sih."

Mereka bertiga tertawa. "Still the same old Roxas."

Aku tersenyum. Setidaknya aku ikut senang mendengar mereka berkata begitu, dan aku pun juga senang melihat mereka senang. Seketika aku mulai merasa rindu akan hal ini, di mana aku berbincang dengan yang lain. Mereka mengenalku dan mengajakku hang out, aku rindu masa-masa itu. Semuanya berubah setelah aku bertemu—dammit, Roxas, what are you thinking?

"Halo, Hayner, Pence, dan Olette, mind if I take Roxas?" tanya Axel sambil mengacak-acak rambutku. Mereka mengangguk lalu Axel menarik tanganku pergi.

"Aku melihat anggota Organization XIII. Sebentar lagi kami akan tampil, kau ikut?" tanya Axel sambil membawaku ke arah lapangan skateboard di mana aku melihat para anggota Organization XIII berkumpul. Even Larxene...

"Roxas!" seru Demyx ketika ia melihatku datang. "Kau datang!"

"Bukankah harusnya kau lebih terkejut melihat Zexion datang, Dem?" tanya Axel. Lalu ia menatapku sambil menyeringai, "Jadi? Kau ikut, Rox?"

Jadi inilah alasannya kenapa ia bersikeras mengajakku ke pesta, batinku. Selphie meminta Organization XIII untuk datang dan bermain skateboard di lapangan skateboard ini. Mereka tak pernah memulainya tanpaku. Aku tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah."

Axel tersenyum. Ia lalu mengambil perlengkapan skateboardku dari dalam van yang penuh dengan coretan graffiti lalu memberikannya padaku. Aku memakaikannya pada sekujur tubuhku dan menerima skateboard cadangan. Walaupun aku lebih suka memakai milikku yang ada di rumah, aku juga tidak keberatan menggunakan skateboard yang lain.

Ketika aku pergi mendekati Axel dan Demyx, aku pun juga melihat sembilan anggota lainnya, tapi aku tidak melihat superior kami, Xemnas. Axel berkata bahwa ia sedang tugas ke luar kota, sehingga kami mengambil tugas ini tanpanya. Aku melihat Saix, Luxord, Marluxia, Xaldin, Xigbar, Lexaeus, Vexen, Zexion, dan satu-satunya skateboarder kami yang perempuan, Larxene.

"Lucky your're comin', tiger," Xigbar berkata sambil membetulkan eye patchnya. "You lead. Formasi nomor lima."

Aku mengangguk dengan rasa kesal padanya. Aku tidak terlalu suka Xigbar karena ia sering menjuluki dengan nama-nama yang aneh. Entah sudah berapa kali aku mengatakan bahwa aku hanya ingin dipanggil dengan namaku sendiri. It looks like, dia harus operasi telinga.

"People of Twilight High!" suara Selphie terdengar sangat keras karena microphonenya. "Mari kita sambut Organization XIII! Juara pertama skateboard tingkat nasional! Dan tentu saja, malam ini kita kedatangan anggotanya yang spesial, lho! Tentu saja, yang cute, super cool, handsome..."

"Oh, please," kataku sambil menggelengkan kepalaku.

"Roxas Nabradia!" Selphie berteriak dan menunjuk ke arahku, di mana aku langsung memalingkan wajahku. Sekejap, aku dapat mendengar semua orang menyorakiku dan memanggil namaku.

"Sepertinya, setelah hiatusmu sebagai orang populer yang sudah lama, kau masih tetap terkenal, Roxas," kata Demyx sambil menggembungkan kedua pipinya karena cemburu.

"Yeah, siapa lagi kalau bukan Roxas," kata Axel.

Aku memalingkan wajahku menatap lapangan skateboard sambil menghela nafas. Aku menghiraukan semua orang di sekitar dan memusatkan mataku pada lapangan. "Forget them. Aku hanya ingin ini cepat selesai." Dengan itu, aku langsung berlari tanpa peringatan diikuti para anggota Organization XIII. Demyx dan Axel sepertinya masih kaget karena aku tidak memberi aba-aba pada mereka. Seharusnya mereka tahu, padahal mereka yang paling dekat denganku. Aku adalah orang yang tidak suka memberi aba-aba. Semua anggota tahu itu.

Aku melompat duluan ke dalam lekukan lapangan skateboard lalu mendarat dengan skateboard yang sudah kulempar ke bawah duluan. Anggota Organization XIII mengikuti hal yang sama lalu mereka melaju ke arah yang berlawanan, kecuali aku yang berada di tengah. Dengan aku sebagai bintangnya di bagian pembuka, dan Larxene sebagai penutup. Ia memang skateboarder perempuan yang hebat, jadi jangan ragukan dia.

Kami melakukan sebuah back flip ketika kami sudah sampai di puncaknya, dengan aku yang awalnya harus mengayuh dengan kencang agar saat kami melakukan back flip, aku dapat melompat dengan lebih tinggi melampaui para anggota organisasi yang berada di sayap kiri dan kanan. Ketika aku dan anggota lainnya sampai di bawah, Larxene melakukan aksinya dengan putaran 360 derajat dan diakhiri dengan back flip. Setelah itu ia mendarat sampai di bawah.

Semua orang mulai bersorak lebih keras melihat aksi kami tadi. Mereka berteriak agar kami melakukan lagi dan lagi, tapi Saix dan Larxene merasa aksi mereka sudah cukup malam ini. Terlebih lagi Larxene, Axel bilang bahwa mereka berencana tinggal di rumah Larxene malam ini.

"Kalian mau lagi?" Selphie berteriak dari microphonenya kepada semua orang yang semakin berteriak semakin keras. "Kalian mau lagi?" Selphie berteriak lagi, membuat semua orang semakin berteriak keras.

"Bisakah dia mengecilkan suaranya?" gertak Larxene kesal.

"Aku punya kerja besok, aku harus pulang malam ini," sahut Saix.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat Selphie yang masih terus berteriak pada semua orang yang ingin melihat aksi kami sekali lagi. Seperti yang kubilang pada Hayner tadi, kami bermain hanya untuk satu putaran saja. Dengan kesal, aku mengayuh skateboardku ke arah Selphie tanpa ia sadari. Aku meraih microphonenya dari belakangnya, lalu berkata melalui microphone tersebut.

"Satu putaran. Done, no more," kataku tegas padanya lalu melempar microphone itu ke dalam semangkuk punch. Aku mengayuh skateboardku kembali ke arah Axel dan yang lain sambil melepas helm dan perlengkapan skateboarderku, meninggalkan Selphie yang wajahnya memerah.

"Wow, bersikap tegas pun dia masih terlihat cool ya!" bisik seorang gadis pada Selphie.

"I know, I know, girls! He's cute isn't he?" Aku mendengar Selphie berbisik.

"Tapi, bukankah dia dekat dengan si Fleuret itu? Siapa, ah, Namine..."

"Namine Fleuret?"

"Iya, yang aneh itu."

That's it! Aku berhenti mengayuh dan berjalan kembali ke arah mereka. "Hentikan. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu di dekatku lagi. Terlebih lagi, tentang Namine." Lalu aku kembali mengayuh meninggalkan mereka di belakang dengan kedua pipi mereka yang timbul rona merah.

"Kau membuat para gadis merona, tiger," kata Xigbar sambil terkekeh.

"Nah, aku hanya ingin pulang. Sebentar lagi jam delapan," kataku.

Axel menyeringai sambil menerima perlengkapan skateboarderku yang kuberikan padanya. Ia bertanya, "YM lagi ya?"

"I don't wanna miss it," jawabku tanpa menoleh ke belakang lalu berlari ke luar kerumunan. Aku berjalan ke tempat parkir lalu memasuki mobilku dan mengendarainya pulang. Sebelumnya aku sempat mengirim pesan ke Sora bahwa aku pulang duluan. Sora membalas pesanku kalau ia akan pulang dengan Kairi, dan mungkin... akan menginap di rumahnya.


Aku langsung melepas leather jacketku dan menaruhnya di atas tempat tidur, lalu menyalakan komputer dan internet. Ketika komputer sudah menyala, aku langsung sign in ke yahoo messenger, berharap aku bisa bertemu dengan Namine melalui chat. Aku masih merasa kesal dengan bisikan teman-teman Selphie di belakangku. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah.

Blueocean73: hey :)
Blueocean73: gimana pestanya?

Bukannya aku merasa bersalah dengan Selphie dan kawan-kawannya, itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bersalah karena aku mengikuti pesta itu, walau aku melakukannya untuk Axel. Aku merasa bersalah karena aku rindu berada di duniaku yang penuh dengan eksistensi, di mana aku pernah mendapatkannya sebelum aku bertemu dengan Namine melalui yahoo messenger. Aku merasa bersalah, karena aku menginginkan dunia itu kembali. Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya selama ini disebut... aneh oleh mereka. Namine senang memilikiku sebagai temannya, apakah aku merasakan hal yang sama?

Thirteen13: hey :D
Thirteen13: the party? nggak seru tanpamu

"Unfortunately, sometimes the questions are simple, and the answers are complicated."


A/N: sorry guys, for the long update :D

saya sibuk selama liburan dan hell, anda tak mau tau.. biarkan saya mengucapkan :

Merry Christmas and Happy New Year! buat kalian:D walau telat

Xinon: di chapter ini dijelaskan kenapa Namine dikerjai. Alasannya simpel bukan? mungkin di chapter selanjutnya, akan saya jelaskan lbih akurat lgi.

ugya-kun gaje: makasih~ :) tapi terkadang saya suka nggak baca dua kali, jadi maaf kalo ada typonya, hehe

LunarMetacore: waduh jangan terharu dulu :D tunggu chapter slanjutnya yaa~ makasih :)

thank u very much bagi para readers yang sudah baca :) kalau ada kekurangan mohon melaporkan melalui REVIEW...

dan jangan lupa saksikan chapter selanjutnya... Apakah Roxas memilih dunianya yang penuh kepopuleran, atau berada di sisi Namine walaupun konsekuensinya adalah berpisah dari dunianya itu?

sampai jumpa di chapter selanjutnya :D