myst kembali dengan chapter baru~ Yuhui! Senangnya tidak terhingga :') #ambil tissue
Oh ya, myst ingin membalas Review minna-san dari chapter 2! Terima kasih untuk me-review! myst sangat menghargainya! #lirik-lirik
Walaupun yang review sedikit, myst harus sabar. myst lagi senang memanggil diri myst dari persepsi orang ketiga nih! Jadi tolong anggap myst orang yang agak kurang dewasa, karena aslinya myst itu secara mental kayak lebih tua dari umur myst! *batuk-batuk* eheminternetehem ehembisaehem ehemmenipuehem
Hime Heartfilia : Makasih! Tapi kata-kata not bad-nya kok menusuk di hatiku yah m._.m *nusuk bos!* ;]
Ruru Fullbuster : Iya ya! Aku dapet nama Ruu dari kata-kata 'Lu'nya ! #upsspoiler udah ah Xd Makasih juga! Ganbatte untukmu~
alena : Tolong jangan tulis review tentang apa yang anda mau~ Plotnya milik saya, dan saya tidak suka fanservice~ Kalau bersikeras ingin, tolong log in kalau mereview ya! Dan by the way thank you review-nya!
Hime : Karena semuanya udah tahu, iya deh saya iyain Lucy hilang ingatan! xd -author nggak becus ;X
iA: Makasih udah sempatin review! Yap, tetep ku update kok, meskipun kemungkinan aku akan hiatus~ #di timpuk sendal
mako-chan : Ada deh Mako-chan~ Pembaca menebak deh~ *ea-ea* Terusin Review- ya Mako-chan! Arigatou!
Regina Moccha : Ya, kira-kira itulah analisis para pembaca XD Btw menurutku ini bukan sepi review, review sebanyak ini aja udah thank God!
Yap, lanjut ke cerita yang memang enggak ada bagus-bagusnya ini! Dozo!
3. Fairy Art
"Jellal…," suara lembut dari si perempuan berambut merah. Rambutnya terbawa angin, membuat beberapa helainya menutupi matanya.
"Kau hanya merepotkanku, Erza. Berdua denganmu membuatku muak! Aku tidak tahan denganmu!" Teriak lelaki berambut biru itu. Dia menatap Erza dengan pandangan marah, tetapi bila kau melihat lebih jelas ke dalam matanya, kau bisa melihat bahwa dia terluka juga. Memang sulit di jelaskan dalam kata-kata, tetapi itu adalah kenyataan. Erza mengepalkan tangannya. Untuk apa selama ini mereka menghabiskan waktu bersama?
Jellal dan Erza.
Kedua insan yang tidak bisa di pisahkan. Jellal-lah yang mengeluarkannya dari dalam kegelapan, membuat seorang Erza Scarlet tersenyum tulus. Jellal adalah orang yang paling mengerti dirinya, senantiasa berada di samping Erza. Dia selalu membangkitkan semangat Erza. Kali ini Erza benar-benar tidak mengerti, kenapa Jellal ingin pergi, meninggalkan dirinya.
"Tapi Jellal…," mata Erza berkaca-kaca. Dia menghela napas berat. Meskipun begitu, dia tetap berdiri teguh menghadapi Jellal. Dia seperti siap berperang dengan Jellal kapanpun bila Jellal berada di sisi yang salah. Erza mencintai kebenaran dan kedamaian. Menurutnya kedua hal itu adalah yang paling penting di dunia ini. Itu dulu, waktu dia memiliki cinta. Memliki Jellal. Bagaimana sekarang, waktu bocah berambut biru itu pergi? Apakah dia masih menganggap kedua hal itu yang paling penting? "Aku…,"
"Aku akan pergi," ucap Jellal dengan nada sedingin es. Tampak sirat kesedihan di mata Erza. Jellal mengatakannya dengan terus terang, tanpa memperdulikan perasaan Erza. Erza merasa semuanya sudah tamat. Berapa kalipun Erza memohon dan meminta agar Jellal tetap tinggal, Jellal akan tetap pergi. Tinggal bersama Jellal begitu lama membuatnya belajar watak lelaki berambut biru.
Yah, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?
"Tolong Jellal, jangan. Tetaplah di sini…" pinta Erza. Dia tahu, meskipun bibirnya bergerak—mengatakan kata-kata itu pada Jellal Fernandes, bocah Fernandes itu akan tetap teguh dengan pendiriannya. Dia tidak akan tinggal dengan Erza. Dia sudah bilang bahwa dia akan pergi.
"Cerewet. Kau itu betul-betul banyak omong, Scarlet." Jellal mendesis. Erza sudah mempersiapkan yang terburuk. Di hina oleh Jellal, orang yang paling berarti bagi Erza Scarlet. Jellal, orang yang selalu berada di situ untuk memeluknya ketika dia sedang sedih. Seorang Jellal Fernandes.
"Aku banyak omong begitu karena kau Jellal," balas Erza. Jellal mengerjapkan matanya. Dia tidak menyangka Erza akan membalas perkataannya, karena selama ini Erza penurut padanya. Jellal menyeringai, dia memasukkan tangannya ke dalam kantungnya.
"Kau pikir kau apaan hah—Erza Scarlet?" ucap Jellal. "Selama ini aku berkata bahwa aku menyayangimu—hanya karena aku kasihan! Kata-kata hiburan itu karena aku kasihan! Bukan berarti aku benar-benar punya perasaan itu seperti yang kau harapkan! Kau itu tuli. Buta. Semua yang aku katakan itu hanyalah kebohong, Scarlet. Berhentilah berharap," Jellal menyentuh rambutnya, menelusuri rambut birunya menuju kebelakang kepalanya.
"Tidak," bisik Erza. Jellal yang tidak mengerti hanya membalas bisikkan Erza.
"Apa maksudmu?" Tanya Jellal tidak mengerti. Erza mengangkat kepalanya, berteriak pada Jellal.
"AKU TIDAK AKAN BERHENTI BERHARAP!" Seru Erza dengan keras. "KAU TELAH MENGHANCURKAN AKU, MENGKHIANATIKU, KAU BRENGSEK!" Jerit Erza, kemudian menerjang Jellal. Jellal terjatuh terbaring, sedangkan Erza mendudukinya. Erza menampar Jellal beberapa kali, begitu keras. Jellal dapat melihat kesakitan di mata Erza. Dia tidak merasakan sakit di pipinya, tetapi sakit di hatinya.
"INI UNTUKMU!" Teriak Erza, menonjok perut Jellal. Dia bangkit, sedangkan air mata terus turun dari matanya. "Aku menyayangimu, Jellal," katanya dengan tangan terkepal. Jellal bangkit, walaupun dia merasakan sakit yang begitu hebat.
"A-aku tidak menyayangimu," balas Jellal, tetap teguh dengan perkataannya. Erza membalikkan punggungnya, berlari sambil menangis. Begitu berat baginya, di khianati seperti ini. Jellal...
"Erza, kau melamun lagi saat aku mencoba menjelaskan permintaan klien untuk karyamu. Konsentrasi Erza-san." Seorang perempuan berambut panjang melipat tangannya. Rambutnya yang berwarna ungu terang ia kibaskan karena temperatur hari itu yang cukup panas. Ia membetulkan kacamatanya yang sempat tergelincir dari tempatnya. Erza yang sadar akan hal itu berdehem. Dia tidak merasa bersalah walaupun dia mengutarakan kata-kata maaf.
"Maafkan saya." Katanya dengan helaan napas perempuan itu. Erza kembali mengumpulkan konsentrasinya, dia menatap perempuan berambut ungu itu. Iris matanya menatap perempuan itu tanpa berkedip.
"Hn. Master bilang, kau harus tetap di sini menggantikanku sampai aku kembali. Aku ada tugas penting sehingga tidak sempat menjaga. Aku mengharapkan yang terbaik darimu, Erza." Perempuan itu bangkit, kemudian menghilang dari balik pintu. Suara hak dari sepatunya bergema sampai dia menutup pintu berwarna cokelat itu. Erza mengambil napas dalam-dalam. Dadanya sakit. Mengingat kejadian tentang ia dan Jellal—entah kenapa sangat menyakitkan. Dia tidak menyangka bahwa dia masih mengingat perkataan seorang Jellal di tengah kerja begini.
Erza mengepalkan tangannya. Dia kini telah terkenal. Dia seorang pembuat pedang walau sebelumnya dia adalah swordsman yang sangat hebat. Dia mengalahkan bahkan lelaki yang sangat hebat dalam dunia peperdangan. Dia begitu kuat. Dia mendapat kemewahan, kenikmatan dan kejayaan.
Tapi jauh di dalam hatinya, Erza merasakan bahwa ini tidak benar.
Ini bukanlah hidup yang ia inginkan. Ia ingin hidup tenang sampai Jellal menyadari kesalahannya. Dia tahu bahwa Yakuza itu menjebak Jellal, tetapi kabar membuatnya makin merasa marah dengan lelaki berambut biru itu. Jellal menjadi pimpinan Yakuza itu. Itulah yang membuatnya mengundurkan diri dari dunia swordsman dan menjadi pembuat pedang handal. Benar-benar handal. Dia akan membalas Yakuza, Jellal dan semua yang membuatnya begini.
Dan sampai tiba waktu di mana Jellal kembali padanya—Erza mempercayai itu—dia akan mengunci hatinya. Dia akan mengunci emosinya, tidak menunjukkan emosi itu pada siapapun. Penting baginya untuk melakukan ini, karena dia masih percaya.
Erza merasakan ada yang masuk ke dalam gedung itu. Dia mendongak, mencoba melihat siapakah yang masuk ke dalam gedung itu. Erza mengerlingkan matanya ke pintu depan. Di pintu depan, terlihatlah figur yang sepertinya agak malu-malu dan terkesan baru untuk masuk ke gedung itu. Erza dapat menebak-nebak apa yang mereka lakukan di dalam situ. Lelaki atau perempuan? Mencari kedamaian atau keributan? Erza menghabiskan waktu untuk menganalisis sesuatu—dia terbiasa untuk itu. Terbiasa mengerjakan semuanya sendiri terbiasa menimbang-nimbang kapankah Jellal akan kembali. Pada akhirnya, alasannya untuk hidup kembali pada Jellal. Dia menggelengkan kepalanya dan mencoba membuang Jellal dari pikirannya. Dia melirik ke arah pintu lagi, memastika siapa yang datang.
Tiga perempuan. Dia mengenal satu di antara mereka—Cana Alberona, depertemen Fairy Oct, tapi tidak begitu aktif dalam pekerjaan meramalnya. Cana tidak begitu sering ke depertemen Fairy Productions, dia lebih sering menghabiskan waktunya di luar. Dan kini dia datang dengan orang lain. Erza kehabisan ide menebak siapa orang bersama dengan Cana. Bila salah satu staff Fairy Productions, rasanya tidak mungkin. Cana di kenal penyendiri dan mempunyai teman di luar Fairy Productions. Rasanya mustahil bahwa Cana tiba-tiba bersama orang-orang di Fairy Productions. Seperti mempercayai bahwa awan terbuat dari kapas—bukanlah kumpulan-kumpulan air yang menguap. Mustahil. Erza bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa kedua orang lainnya? Tetapi tidak baik untuk kehilangan profesionalitas di saat seperti ini. Bisa di pastikan mereka adalah orang luar, Erza harus bersikap profesional.
"Selamat datang di Fairy Productions. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Erza dengan sopan. Dan kalau bisa di bilang, nada datar. Erza tidak benar-benar ingin menunjukkan sikap gulali. Dia selalu bersikap datar, dan baginya tidak ada guna untuk memalsukan perasaan. Dia tidak senang bertemu dengan mereka dan jadilah dia bersikap datar.
"Halo. Saya Levy McGarden dan teman saya Ruu. Kami ingin mendaftar sebagai Fairy Art," ucap Levy dengan nada antusias. Erza merasakan bahwa dia adalah tipe yang berisik dan ceria. Hidupnya normal, dan tidak di lilit oleh masalah seperti Erza. Erza merasakan gejolak keirian di dalam hatinya. Orang ini bukanlah tipe Erza. Sebisa mungkin dia akan menjauh dari perempuan ini. Tetapi akhirnya toh Erza mengangguk.
"Ya. Levy McGarden. Kesenian apa yang anda bisa lakukan?" Tanya Erza, membuka laci. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas, kertas form untuk di isi.
"Er… saya cukup bisa berurusan dengan graffiti atau sesuatu yang berusuan dengan dekorasi kata… begitulah," jawab Levy gugup. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kemudian mencodongkan tubuhnya ke Erza. Jarak mereka kini sangat dekat. Levy pelan-pelan berbisik. "Gajeel di depertemen apa ya?" bisiknya. Erza diam-diam memutar matanya.
"Dia di Fairy Tail. Kau jadi ingin masuk ke Fairy Tail atau Art?" tanya Erza. Perempuan berambut merah itu sepertinya tahu apa maksud Levy ingin gabung di Fairy Productions. Dia menoleh pada Ruu.
"Ruu-chan, gomen, tapi bolehkan aku masuk ke Fairy Tail?" kata Levy dengan manis. Ruu tampak terkejut. Ia tidak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu alasan Levy ingin masuk Fairy Tail tiba-tiba. Itu sangat abstrak dan sangat susah di tebak. Tetapi toh dia akhirnya mengangguk. Dia memasang senyumnya yang paling bagus.
"Aa.. tentu saja boleh," ucapnya. "Lagipula kita bekerja di satu perusahaan, Fairy Productions," lanjutnya lagi. Erza menuliskan nama Levy di kolom Fairy Tail. Dia beralih pada Ruu yang diam saja dari tadi.
"Dan kau?" Tanya Erza. Matanya menatap mata cokelat Ruu yang begitu hangat. Tetapi ada kilat kesedihan di matanya. Tunggu dulu. Ini seperti deja vu. Matanya seperti mata Erza. Erza menyadari itu. Ruu... dia menyimpan sejuta rahasia walau dia terlihat ceria.
"Nama saya Ruu, dan er… saya bisa melukis," aku Ruu. Erza mengangkat kedua alisnya. Dia benar-benar curiga pada Ruu. Kenapa dia tidak punya nama keluarga? Benar-benar, Ruu sepertinya menyimpan luka lama yang sulit di sembuhkan.
"'Ruu'? Tidakkah kau punya nama keluarga?" Balas Erza lagi. Ruu tampak bingung, lalu menggeleng. Ruu yang tinggal bersama Ur memang tidak mempunyai nama belakang. Bagaimana ia bisa tahu nama belakangnya? Ibunya tidak pernah memberinya nama belakang!
"Tidak… ibu angkatku tidak memberiku nama keluarga…," jawab Ruu, tersenyum getir pada Erza. Menurutnya ini agak memalukan, mengaku bahwa dia sebenarnya anak buangan—anak angkat. Tapi Ruu tidak memperdulikan pride yang orang-orang kelas atas terus banggakan. Dia adalah orang yang apa adanya.
"Siapa nama keluarga ibumu?" Erza berkata lagi. Menurutnya ini adalah sesuatu yang ia ingin pecahkan. Mungkin saja orang ini ada hubungannya dengan Jellal. Sial. Jellal lagi. Lagipula, Jellal punya nama belakang. Tetapi di Yakuza, tidak ada satupun yang memakai nama belakang. Ya. Mungkin saja perempuan ini ada hubungannya dengan dia. Hentikan Erza. Cukup. Tidak ada Jellal lagi di pikiranmu. Tidak lucu.
"Ibuku tidak punya nama keluarga juga. Aku tidak punya ayah angkat," jelas Ruu. Erza tidak habis pikir. Tetapi kemudian dia angkat bahu. Dia menghapus Jellal dari pikirannya untuk sementara, kemudian melanjutkan menuliskan nama Ruu di kolom Fairy Art. Dia sekilas berdehem.
"Kalian sudah terdaftar. Tapi kalian trial dahulu, apakah kalian memang cocok di Fairy Productions. Levy McGarden, kau akan membantu Gajeel Redfox di Fairy Tail. Gajeel akan menilamu apakah kau memang cocok. Tetapi nilai Gajeel tidak seluruhnya—kami juga akan menilai. Jadi kau tidak perlu khawatir, pertimbangan Master Makarov juga penting." Erza berdehem, membaca form Levy yang tadi ia isi.
"—Ruu. Kau akan membantu Gray Fullbuster di Fairy Art. Sama seperti Levy McGarden, Gray juga akan menilaimu. Tetapi penilaian darinya tidak penuh. Kami juga akan menilai kalian berdua. Mengerti sampai di sini? Kalau begitu, kalian mempunyai pilihan untuk melewatkan satu hari di sini untuk trial yang menambah nilai atau pulang," lanjut Erza. Ruu dan Levy mengangguk.
"Kalian bisa mulai membantu. Trial ini akan berakhir waktu master Makarov mengatakan kalau trial ini berakhir!" Jelas Erza lagi. Ruu dan Levy menatap satu sama lain, kemudian mereka bertiga berjalan meninggalkan Erza. Keheningan. Mereka tidak siap untuk membantu orang-orang yang tadi Erza sebutkan, tetapi kalau mereka pulang mereka akan melewatkan nilai. Mungkin membantu Cana?
"Bagaimana kalau kita membantumu, Cana?" Saran Levy. Cana berhenti tiba-tiba. Dia mengacak rambut cokelat indahnya itu, sambil menatap Levy tajam. Jelas-jelas ia menentang saran Levy McGarden itu.
"Tolong hari ini jangan bantu aku dulu. Aku sedang malas bekerja. Kau bisa pergi ke dua orang yang lainnya. Aku tidak begitu mengetahui mereka, mereka bukan di depertemenku." Cana tertawa. Kemudian tawanya berubah menjadi tawa yang miris. Aneh memang. " Tapi aku kenal Erza Scarlet. Dia luar biasa. Tidak ada orang yang pernah melihatnya tersenyum, walau karyanya bagus sekali. Standar professional. Tunggu. Dia professional." Cana berjalan seiring dengan mereka berdua. Ruu mengangkat alis. Sehebat itukah?
"Benarkah dia sehebat itu? Tetapi dia terlihat sedih," komentar Ruu. Cana melebarkan iris matanya.
"Sedih? Kau gila Ruu! Itu dingin dan datar menurut seluruh Fairy Productions. Mereka takut pada Erza. Begitulah rumornya!" Seru Cana, terkejut dengan pendapat Ruu yang berbeda. Ruu tertawa kecil.
"Yah, itu menurutku. Kau kan tidak tahu dia! Jangan menilainya dari luar dulu." Tawa Ruu, dia mengibaskan tangannya. Dari belakang mereka, mereka dapat merasakan bahwa ada seseorang yang datang.
"Oi, gadis." Panggil seseorang dengan suara agak berat. Mereka bertiga spontan menoleh. Seseorang dengan rambut hitam dan mata merah. Dia tampak seperti orang jahat, tapi anehnya Levy malah bersemu merah.
"Kau—Levy McGarden? Erza menghubungiku, katanya kau akan membantuku. Cepat, bocah!" Serunya kasar. Dia berkacak pinggang—ala bos. "Aku Gajeel Redfox."
"Ga-Gajeel? Jeez, aku punya nama. Berhenti memanggilku bocah!" Seru Levy, berjalan mendekati Gajeel. "Ah, Gomen Ru-chan, Cana-chan. Aku harus menolong dia. Sampai jumpa nanti!" Levy melambaikan tangannya. Cana dan Ruu memandang satu sama lain. Mereka tertawa. Entahlah apa yang membuat kedua sahabat itu tertawa.
"Itu yang namanya Gajeel? Apakah kamu yakin Levy tidak apa-apa?" Ruu nyengir cemas. Cana mengangguk. Yakin sekali, karena seluruh orang yang ada di Fairy Productions adalah orang yang baik.
"Bagi kami, semua orang yang ada di depertemen ini, mereka adalah nakama." Cana nyengir, dia menepuk Lucy di pundaknya.
"Ohh… tapi lucu ya! Aku akan segera bertemu dengan er… siapa? Gray?" Ruu menerawang. Dia membayangkan Gray adalah orang yang sama seperti Gajeel. Kasar. Tinggi. Sangar. "Iiih... serem ah!" Gerutunya tiba-tiba. Cana menoleh.
"Apa yang serem?" Tanyanya heran. Ruu tertawa malu.
"Ti-tidak apa-apa kok!" Kilahnya. Malu karena dia mengatakannya secara terang-terangan. Dia tiba-tiba merasakan bahwa ada yang menabraknya.
Bruk.
"Ah, maaf!" Seru seseorang yang menabrak Ruu. Ruu menatap pemuda itu. Berambut merah muda dengan senyuman lebar. Iris matanya melebar. Dia memakai topi dengan tulisan Natsu Dragneel. Natsu adalah orang yang sangat terkenal di Fairy Tail! Mungkin membantunya sehari akan membuatnya lebih akrab dengan orang-orang di Fairy Tail! Atau dia bisa tanya arah?
"Tunggu apakah anda Dragneel-san!? Aku—aku di tugaskan untuk membantu Gray Fullbuster-san! Bisakah anda tunjukkan arahnya?!" Seru Ruu. Natsu menyeringai senang. Dia merasakan bahwa Ruu adalah orang yang cukup unik.
"Ah! Kau yang namanya Ruuigi?" tanyanya dengan tampang bego. Natsu jelek. Ruu heran bagaimana dia bisa salah menyebutkan namanya. Adakah orang yang bernama Ruuigi di dunia Fairy Productions ini?
"Namaku Ruu!" Dia kesal. Dasar Natsu benar-benar bego.
"Ya, ya ya! Erza bilang padaku ada anak baru. Kalau begitu, kau harus segera bekerja! Kita akan ke depertemen Fairy Art, di mana kau akan bertemu dengan si jelek Ice itu. Oke, ayo ikuti aku!" Natsu mencengkram erat pergelangan tangan Ruu, sampai dia meringis kesakitan. Tetapi dia khawatir dengan Cana yang tertinggal sendiri.
"Oke! Cana, kau bagaimana?" Tanya Ruu. Cana tersenyum, dia mengacungkan jempol.
"Sukses, Ruu! Aku akan balik ke depertemen Fairy Oct. Kau bersama dia saja. Oke? Nanti sore kita pulang sama-sama!" Seru Cana, kemudian lari entah kemana. Ruu tertawa. Dia mengangguk, kemudian menyesuaikan irama berjalannya dengan Natsu Dragneel.
"Ano Dragneel-san, di mana depertemen Fairy Tail? Kau bekerja di situ kan?"Ruu penasaran.
"Tidak usah terlalu formal, Ruu! Panggil aku Natsu. Depertemen Fairy Tail tidak terlalu jauh dari Fairy Art. Tapi aku harus ke tempat ice head itu… untukmu," Ruu yang mendengarnya hanya menampilkan ekspresi bingung. Ice head? Siapa itu Ice Head? Kenapa Natsu memanggilnya dengan kata-kata Ice Head? Apakah itu Gray?
Mereka melewati lorong yang begitu bagus. Di dindingnya, ada lukisan-lukisan atau foto-foto keberhasilan para anggota Fairy Art. Ruu tersenyum melihat Erza yang memenangkan rekor pembuat pedang terbagus sepanjang tahun. Tapi dia mengernyit, di setiap foto keberhasilan Erza, perempuan itu tidak pernah tersenyum. Dia ingin bertanya ini kepada Natsu, tapi dia mengurungkannya. Dia tanyakan saja nanti. Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan. Di pintunya, ada tulisan FESTIVAL ARC.
"Ini adalah ruangan persiapan Festival art yang sebentar lagi di laksanakan, jelas Natsu. Natsu membuka pintu, menampilkan isi ruangan itu. Hanya ada seorang pemuda di situ. "Festival Arc itu menyenangkan lho! Kau harus ikut berpatisipasi. Pokoknya benar-benar bagus! Di jamin kau akan menyukainya,"
"Yo Gray! Aku kesini untuk mengambil buku tentang naga yang kata Gildarts kau simpan di sini!" Seru Natsu, melompat masuk. Dia terlihat sudah terbiasa dengan ruangan ini, sedangkan Ruu malu-malu berdiri dan menjulurkan lehernya. Dia memperhatikan ruangan itu yang begitu nyaman. Dia benar-benar seperti pernah masuk ke ruangan itu.
"Flame head, kau seenaknya saja masuk! Heh? Siapa itu di luar?" Gray menjulurkan lehernya. Natsu menyeringai lebar. Seperti yang biasa, ia selalu semangat di setiap kesempatan. Kadang dia gampang marah bila ada yang menghina Fairy Productions. Begitulah Natsu. Kadang-kadang memang dia terlalu emosional dengan sesuatu. Ruu takut untuk masuk. Tapi dia dengan berani segera membuka pintu yang tertutup sedikit.
"Oh itu Ruu—"
Pintu terbuka, menampilkan perempuan berambut pirang dan mata cokelat hangat. Iris mata Gray melebar. Dadanya bergetar, dan dia tidak bisa berpikir untuk beberapa detik. Beberapa ingatan berkecamuk di dalam kepalanya. Apa maksudnya ini? Air mata turun dari matanya tanpa sadar. Dia membuka mulutnya perlahan.
"Lucy…," bisiknya, pelan sekali.
Kemungkinan aku nggak bisa update minggu depan! Tapi aku juga nggak tahu.
BTW, REVIEW! Tapi kalau cuma mau nge-flame atau nyakitin hati author sih, Don't have good words? Don't review then!
Ja ne!
myst29
