Soonyoung galau parah pasca pembicaraan pisang. Jihoon sungguh-sungguh dengan ucapannya. Sudah tiga hari ia menjalankan puasa bicara dengan Jihoon. Setiap ketemu inginnya menyapa tapi malah dianggap angin lalu.

Soonyoung bangkit hendak ke dapur, tenggorokannya kering karena kebanyakan berpikir dan menggumam. Langkahnya terhenti di depan kusen dapur. Ada Jihoon di konter dapur sedang menyemil biskuit dan membaca novel baru. Soonyoung jadi gugup, inginnya menghampiri tapi takut ditolak lagi. Jadi, Soonyoung memanggil dari tempatnya, "Jihoon?"

Jihoon mengalihkan sebentar matanya ke arah Soonyoung kemudian beralih lagi pada bukunya.

Merasa ada sedikit tanggapan, Soonyoung menderap lebih dekat ke arah Jihoon. "Masih marah?" tanyanya sembari mengusap surai Jihoon pelan.

Tidak ada tanggapan.

Soonyoung menghela napas putus asa. "Baiklah, aku tinggal pergi. Kau masih ingin sendiri rupanya." Soonyoung membalikkan badannya seketika selesai bicara. Ia rasa percuma berbicara dengan Jihoon yang keras kepala.

Satu tarikan pada ujung belakang bajunya membuat Soonyoung berhenti. Ia menoleh ke arah Jihoon. "Es krim. Aku mau es krim," kata Jihoon pelan.

Soonyoung tersenyum samar. "Ok, aku belikan."

kkeut.

Terimakasih atas apresiasinya di chapter dua. Belum dibales, tapi sudah kubaca kok (yang di chapter satu sudah kubales, ya). Semoga chapter ini memuaskan—walau pendek lagi (karena gondok sama siders, wkwk). Ehem, review sangat membantu dalam proses kerja cerita, so RnR? :3