Raira Gakuen.

30 January 2015

08:30 GMT+9

"Nah... hari ini kita memperkenalkan murid baru." Sesosok gadis bergakuran dan ber-rok pendek memasuki kelas.

"Namaku Kuroko Tetsuragi... salam kenal." Katanya dengan nada dan wajah tembok.

.

.

.

.

WE ARE HERE!

Durarara! © Narita Ryohgo

We Are HERE! © Kuroko Tetsuragi x Kaizen Katsumoto.

Rate: T

Genre: Friendship, Humor, Supernatural.

.

.

.

.

Kita berjalan 23 jam sebelumnya.

"KALIAN BERKENDARA TANPA HELM DAN MELEBIHI KECEPATAN YANG SEHARUSNYA!" Salah seorang polisi lelaki tampak gagah berani menghadang di depan Kai dan Tetsu.

Tetsuragi menatap polisi itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Remnya blong." Jawab Tetsuragi dengan nada datar—tidak ada rasa takut yang tersirat dari wajahnya, membuat polisi itu agak geram.

"T—tetsu-chan bagaimana ini?" tanya Kaizen yang udah agak panik (sangat panik)

"Maa.." kata Tetsu masih sangat tenang, aduh! Bagaimana bisa ni anak setenang itu ((Izaya: itu lu :v ))

Karena suasana yang sangat mencekam kita skip saja.

Maju ke 12 jam yang lalu.

"Sekolah?" Tanya Kaizen ketika menatap Simon yang menyuruh Tetsuragi untuk bersekolah.

"Aku tidak mau... aku benci sekolah." Ucap Tetsuragi sambil memalingkan wajahnya.

"Tidak, kau harus sekolah... lagipula kau terlalu muda untuk bisa bekerja." Kata Simon.

"Jadi mulai besok kau akan mulai bersekolah." Belum sempat memprotes, Simon sudah pergi meninggalkan mereka berdua.

Dan disinilah Tetsu sekarang, di keliling banyak murid Raira gakuen. Wajahnya yang selalu jadi tembok kini berubah 180 derajat.

"Aku ingin pulang..." ketakutan tersirat dari wajah putihnya. Tidak ada Kaizen disini, apa yang harus ia lakukan.

"Ah~ Ohayo~ murid baru." Sapa sesosok pemuda berambut pirang dengan SKSDnya yang membuat Tetsu tercengang.

"Dare?!" ia mengacungkan pisau lipat yang dia ambil dari kantungnya. Ia lalu terdiam.

"Woa~!"

Masaomi Kida...

"Ah... maafkan dia." Kata sosok berambut raven yang ada disampingnya—Ryuugamine Mikado.

"Ah tidak apa-apa, aku hanya kaget." Kata Tetsu sambil meninggalkan trio itu.

-Pembatas

"Haa~ Tetsu-chan masih di sekolah~ apa dia bertemu Mikado atau Kida nggak ya?" Sementara Tetsu sekolah Kaizen sibuk kerja—menyebar pamflet.

Gadis itu melihat jam—sudah seharusnya Tetsu pulang, ia melihat sekitar—matanya terpaku pada gadis berambut raven yang berjalan gontai ke arahnya.

"He? Tetsu-chan?" dia menghampiri Tetsu.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya lagi.

"Aku benci sekolah..." gadis itu mengabaikan pertanyaan Kaizen dan malah bergumam yang tidak jelas.

"H—ha?" Kaizen malah tambah bingung—apa yang terjadi pada Inaho versi dunia nyata ini.

"Hoi! Kamu napa sih..." tanya Kaizen lagi, ia kini menatap gadis itu dengan tatapan 'jawab aku kampret.'

Namun Tetsuragi memilih diam tanpa kata.

Mau tau kenapa?

Kita mundur lagi... 3 jam sebelumnya.

Tetsu menatap mejanya yang kini penuh coretan, matanya yang dibingkai kacamata itu ((fetish Megane Shoujo kambuh )) ia tidak perduli, ia memilih untuk pergi—mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menghapus coretan tangan-tangan jahil tersebut.

"Pfftt lihat itu si cupu."

"Mana ada gadis pakai GAKURAN." Tetsuragi terdiam, ia menatap gadis yang kini tertawa melihatnya, ia melaluinya tanpa memperdulikannya.

Namun lama-kelamaan kuping Tetsu panas mendengarnya. Ia mempercepat langkahnya sampai tak sadar ia menabrak seseorang.

"Ah sumimasen..." Tetsuragi membantu orang tersebut berdiri, lalu berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Dia dingin sekali ya Mikado." Orang yang Tetsu tabrak—Ryuugamine Mikado hanya dapat tersenyum canggung.

"Mungkin ia hanya belum terbiasa."

"KORAAAA!" Dengan kekuatannya yang kini sama dengan Shizuo—ia meninju tembok sampai retak, berada di atap sekolah—baru saja keluar dari pintu.

Ia lalu terduduk di lantai.

"Sial... aku tidak mau sekolah..." Tetsu menekuk lututnya lalu menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

"Cih... dasar sok pintar."

"Tau dah yang pinter bahasa inggris."

"Siapa yang mau jadi temannya? Kaku begitu."

Tetsuragi mengangkat wajahnya lalu menatap langit musim dingin yang terlihat mendung.

"Cih... aku tidak akan datang ke sekolah lagi." ucapnya ia lalu merentangkan kakinya lalu tertidur, sampai jam sekolah usai. Dan alasan ia sampai ketakutan adalah.

Karena ia ketahuan bolos dan dimarahi oleh guru.

Begitulah ceritanya.

Kembali ke Timeline sekarang.

"Huft... pekerjaan selesai." Tetsu mengusap keringat yang melewati dahinya. Sesekali ia menatap sosok gadis yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.

"Nee... Kai-kun apa ada yang salah denganku?"

"Ada banyak... ada apa denganmu tadi, trauma sekolah?" tanyanya, Tetsu hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya.

"Aku benci keramaian.. itu saja." Jawabnya—berbohong. Maa jangankan ke Kaizen, ke ortu aja sering bohong ni anak kalo punya masalah.

"Tidak usah kau pikirkan..." lanjut gadis itu—yang kini mendapat julukan 'Inaho in Real Life' tersebut.

"Kita harus pulang..." ujar Tetsu masoh dengan nada datar dan tampang tembok.

-Keesokan Hari

05.00 am

Pagi itu Tetsu memakai kembali Gakurannya.

[Seharusnya kau menyuruhku keluar kemarin.]

"Damare... aku tidak ingin kau muncul." Ucap Tetsuragi.

[Kalau begini terus kau tidak akan dapat—]

"DIAM!" Serunya—yang membuat Kaizen terbangun dari mimpi indahnya.

"Eh? Apa gempa?!" katanya yang membuat Tetsuragi sedikit sweatdrop.

"Ah... warui kau bangun ya? Tenang tidak ada gempa." Tetsu berjalan keluar dari sana—menuju sebuah tempat.

"Ruang Praktek memasak dimana ya?" ya—ia ingin membuat sarapan—dan bento untuknya.

"Hm... bagusnya buat apa ya?" Tetsu menatap barang-barang yang dia curi dari restoran Sushi milik Simon.

"Bikin ah apa saja lah..." ia mulai memasak.

SKIP

Hari ini tidak ada yang mengejeknya—ada apa ini? Apa ini awal dari kepalsuan yang akan mereka sampaikan.

Tetsuragi membenci sekolah—dimana ia hanya bisa melihat orang-orang dengan topengnya berusaha mendekatinya.

Apa itu juga berarti sama untuk Kaizen?

Tetsuragi terdiam sejenak.

Ia selalu bersikap ceria dan berisik di dunia maya—namun ia tidak bisa melakukannya di dunia nyata. Ah bukan itu topik kita.

Apa menurut Tetsuragi—Kaizen sama dengan orang-orang yang ia benci? Tidak ada yang tahu.

Bahkan dia sekalipun tidak tahu. Ia baru bertemu Kaizen di dunia nyata beberapa hari—saat terperangkap di dunia nyata—lalu apa yang manyebabkan Tetsu biasa saja bahkan memperlihatkan sisi sebenarnya pada gadis itu?

Ia tidak merasa kalau gadis itu sama dengan lainnya—mungkin lebih mirip sahabatnya saat smp.

Kalian kaget—tentu ia punya. Namun ia berpisah dengannya saat sma—tidak terpisah juga sih cuman jadi jarang bertemu.

Ia merasa nyaman bersama sahabatnya itu—dan ia juga merasa hal yang sama pada Kaizen.

"Hei, gadis gakuran." Tetsuragi kembali menghiraukan panggilan dari orang-orang disana. Namun pria itu malah mencengkram bahu Tetsuragi, membuatnya marah.

Ia tidak suka disentuh orang yang ia kenal.

"Kau berani menyentuhku..." Tetsu menggenggam tangan orang yang mencengkram pundaknya lalu membantingnya.

"Jangan main-main denganku..." Tetsu menginjak tangan kanan sang pemuda—meremukan tulangnya.

"Aku tidak suka di sentuh.." sementara orang-orang sudah panik. Tetsu mengangkat kakinya dari tangan pemuda itu—menuju kelas lalu keluar dengan tasnya—ia memilih untuk bekerja.

Ia akan berkata pada Simon kalau ia benci sekolah.

TBC

((Ahahahaha apa ini Gaje! KYAHAHAHAHAHAHA CHAPTER INI BONGKAR AIB GUE KAMPRET! Ahahaha

Yosh chap 4 yoroshiku tanomu~ ))