Maaf banget update-nya super lama T^T


.

.

Hug and Kiss

CHAPTER 3: LIMIT

.

.

=xoxo=


"Hey, get your ass in gear! You work like a snail!"

-Cid, FFVII-


Sekarang pukul dua belas tepat. Matahari yang terik tepat berada di atas kepala. Di bawah sebuah pohon yang mulai meranggas sesosok gadis duduk memeluk lutut.

TRIIIIING~

Samar-samar gadis berambut brunet itu mendengar bunyi bel.

"Bel istirahat! Akhirnya!"

Gadis itu pun berlari ke sebuah gedung berdinding baja tak jauh dari pohon tempatnya berteduh. Tepat sebelum pintu masuk menelan sosoknya, sesosok lain keluar dari pintu yang sama dan hampir menabraknya.

"Hey, watch your track you stump!"

Gadis yang mengenakan ikat kepala merah—entah sekadar gaya atau memang untuk menjaga supaya poninya tidak mengganggu matanya—itu tersentak kaget, lebih karena julukan yang diteriakkan sosok pria berkaus biru yang nyaris membuatnya jatuh. Perempuan itu tahu dirinya tidak terlalu langsingi, tapi stump—gembrot? Dia jelas tak layak disebut gembrot.

Si gadis mengamati siapa yang menabraknya. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menduga. Tidak ada orang lain di ShinRa yang bisa begitu gampang memaki seperti tadi.

"Profesor Cid," salam si anak gadis setelah berhasil mengatasi shock kecil barusan. Ia mengusap lehernya canggung.

"Oh, you."

"Ehm. Ada yang mau saya bicarakan dengan Profesor. Kapan Profesor senggang?" tanyanya dengan suara rendah, berusaha tidak terdengar terlalu memaksa.

Sambil berlalu sang Profesor bergumam, "I'm always busy. Take your time now, or forget it."

Meski diperlakukan agak kasar, raut optimis di wajahnya tetap terpampang. Gadis ini pastilah tipe yang tidak gampang menyerah.

"Ini proyek akhir semester yang dulu Profesor umumkan. Saya memutuskan untuk merancang bom pelacak peretas ilegal."

Profesor pirang itu terus melangkah seolah tidak menghiraukannya sama sekali. Hanya saja siswi itu sudah mengenal gurunya dengan baik. Ia sudah terlalu mengenalnya sehingga ia tahu profesor berpenampilan montir itu menaruh perhatian pada titik koma dalam kalimatnya.

Gadis itu mengusap-usap lehernya lagi.

"Bom ini melacak bila ada akun tak dikenal meretas masuk suatu sistem tanpa ijin. Bom juga dilengkapi dengan sistem operasi terminal yang langsung mengirim data ke pusat data lainnya bila data terancam disadap. Dalam keadaan darurat bom akan 'meledak', menghancurkan upaya peretasan mata-mata tak dikenal jadi serpihan. Bom ini menjamin keamanan secara ekstrim, bila memang layak dilakukan."

Si Pirang berhenti. "Really?" tanyanya. Gadis itu tersenyum kecil karena bisa mendeteksi rasa tertarik dalam suara tenor itu.

"Benar. Saya sudah membuat rancangan programnya, tapi masih ada bagian yang bolong di sana sini. Saya sangat membutuhkan bimbingan Profeso—"

"Forget it."

Profesor itu berjalan lagi. Kepala gadis itu dimiringkan tanda tak mengerti. Kali ini siswi itu menggaruk lehernya.

"Maaf?"

"That hunka junk is all you want to make?" tandas guru itu tanpa rasa sungkan sedikitpun, menguapkan habis optimisme dari wajah muridnya, sampai yang tersisa hanya roman muka yang campur aduk dan tak terbaca.

.

.

=xoxo=

Yuffie berlari-lari menuruni tangga. Bel berakhirnya istirahat sebentar lagi berbunyi, dan kalau itu sampai terjadi sebelum dia bisa memberi tahu Tifa suatu hal yang mendesak… Sebenarnya tidak akan ada hal buruk yang terjadi, sih. Hanya saja Nona Kisaragi bukan tipe sabar yang suka menunggu beberapa jam untuk menyampaikan sebuah kejutan.

Bruk bruk bruk!

Yuffie baru berhenti berlari di koridor setelah hampir terjerembab ke lantai gara-gara menabrak tiga orang secara beruntun. Itu juga bukan karena korban 'tabrak lari'-nya memelototinya dari kepala sampai kaki, namun murni karena ekor matanya melihat seseorang yang mungkin tahu di mana orang yang dicarinya berada.

"Jessie!" panggilnya. Kepala orang yang dia panggil muncul di balik sebuah loker.

"Oh, Yuffie-chan."

Yuffie mendekat supaya tidak perlu berteriak. "Lho?" ujarnya menyadari sesuatu. "Matamu kok merah begitu?"

Jessie berpura-pura mengurusi sesuatu di dalam lokernya. "Leherku gatal sekali. Mungkin karena itu mataku berair. Err… Ada apa, Yuffie-chan?"

"Lihat Tifa tidak?" tanya Yuffie, kembali ke topik sebenarnya.

"Wah, kami baru akan bertemu di kelas yang berikutnya. Tapi coba kuingat…"

Sembari meingat, perempuan berambut coklat yang dikuncir ekor kuda itu menutup pintu loker dan menguncinya. Lalu ia menerka, "Hm. Rasanya aku sempat melihat Tifa masuk kamar mandi."

Yuffie mengangguk dan tersenyum berterima kasih. Siswi bertinggi tubuh tak sampai 5,3 kaki itu mengambil ancang-ancang, berniat segera lari menuju tempat yang dimaksud.

"Tapi kurasa dia sudah keluar dari sana. Sudah beberapa menit yang lalu, sih."

Serta merta Yuffie berhenti. "Sou ka?" balasnya sebelum terdiam. Jessie menangkap kakak kelasnya itu sedang memikirkan sesuatu. Kelihatannya mendesak.

Ia menggaruk lagi lehernya seraya bertanya, "memangnya ada apa, Yuffie-chan? Ada sesuatu yang bisa aku bantu sampaikan?"

Senyum sumringah si perempuan berambut cepak pun terkembang lagi.

"Aku ingin memberi tahu Tifa tentang konser akbar The Black Mages. Ini rahasia." Yuffie memberi isyarat supaya si gadis berponi samping mendekat.

"Aku dapat dua tiket konser The Black Mages."

Jessie mendelik tak percaya. "Ke-kereeen."

"Sssh. Jangan beri tahu Tifa dulu. Biar aku saja," Yuffie mengerling. "Uwaa, ingin cepat-cepat melihat ekspresi tak percayanya. Nenene~ Tifa pasti senang bukan kepalang! Dua tiket konser! VIP, lagi. Hihihi," kikiknya. Jessie pun tertawa geli. Siapa yang tidak akan tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan?

TRIIING~

Bel tanda istirahat selesai pun benar-benar berdering.

"Ja, kalau begitu aku duluan, ya, Jessie. Ingat, yang barusan itu rahasia! Jangan biarkan Tifa tahu, ya!" ulang si kakak kelas sembari berlari mengejar kelasnya yang berikutnya. Dasar Yuffie. Kalau Tifa ada di antara orang-orang di koridor waktu itu, dia pasti sudah dengar. Suaranya kencang sekali.

.

.

=xoxo=


"I like this kinda stuff. Bombs and monitors... you know, flashy stuff."

-Jessie, FFVII-


Sore harinya, Jessie kembali melihat Yuffie berlari-lari—dan lagi-lagi menabraki orang-orang– di selasar asrama. Makan malam baru beberapa menit yang lalu. Tidak seharusnya seseorang dengan perut penuh berlari-lari karena proses penyerapan makanan bisa terganggu.

Oh iya, Jessie baru ingat kalau kakak kelasnya punya metabolisme spesial. Gadis itu bisa menghalau godaan kelezatan dinner mewah Blizaga. Dilihat dari geraknya yang sangat lincah, Jessie menyimpulkan lagi-lagi Yuffie hanya makan porsi kucing malam itu. Bisa jadi itu sebabnya dia bisa menjaga badannya tetap langsing dan singset. Kadang-kadang Jessie agak iri padanya. Padahal sudah berusaha diet tapi tetap saja… stumpy.

"…fa tidak?"

Jessie bangun dari lamunannya dan mendapati batang hidung Yuffie sudah berada di depan wajahnya.

"Yuffie-chan mengatakan sesuatu?" tanyanya kebingungan. Gawat. Kalau ia memiliki hasrat berlebih akan tubuh langsing ideal, bisa-bisa melamun jadi kebiasaan sehari-hari.

"Aku tadi tanya, Jessie lihat Tifa tidak?" ulang Yuffie datar seraya menggiring Jessie ke ruang tengah. Jessie yang menurut saja tiba-tiba teringat akan satu hal.

"Ah, tadi Tifa titip pesan. Katanya hari ini dia menginap di rumah gurunya. 'Memaksimalkan waktu latihan yang tinggal sedikit,' begitu katanya."

Yuffie mendecak kesal karena lagi-lagi kejutannya tertunda.

"Tifa suka memaksakan diri melebihi batas. Dasar keras kepala."

"Hng?"

Yuffie dan Jessie duduk-duduk di karpet di ruang tengah, bergabung dengan beberapa penghuni asrama lainnya. Aroma wewangian ruangan tercium. Wangi mawar. Itu tandanya sebentar lagi kepala sekolah ShinRa akan datang mengecek keadaan, agenda yang selalu ada tiap akhir bulan. Yuffie kelihatan tidak peduli. Ia melanjutkan kicauannya.

"Tifa sakit beberapa hari lalu. Lena-obachan… Tahu sendiri, kan."

"Benarkah?" tanya Jessie bersimpati. Ia mengamati tangan Yuffie bergerak ke arah meja di belakang mereka, tempat sekaleng stik coklat berada. Kebiasaan buruk putri Wutai ini memang tidak pernah hilang.

"Tifa sangat sayang ibunya. Dia pasti merasa sangat kehilangan. Meski masih ada John-ojisan, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Lena-obachan di hatinya."

Yuffie memasukkan dua batang snack sekaligus ke mulutnya yang kecil, sementara Jessie entah untuk yang ke berapa ratus kalinya hari itu menggaruk-garuk tempat yang sama. Beberapa gadis masuk ruang tengah. Salah satunya melihat Yuffie memakan snack.

"Hei, itu punyaku."

Tidak mendapat perhatian yang pantas, pemilik makanan kecil itu mendekati Yuffie dan mendengar apa yang dibicarakannya dengan Jessie.

"Dia selalu begitu. Berusaha kelihatan kuat di luar."

Jessie menyetujui. "Dia memang selalu tegar dan tegas," katanya.

"Siapa sih?" tanya perempuan pirang pemilik makanan kecil.

"Tifa Lockhart."

Timbrungnya, "oh! Si kapten klub bela diri itu ya? Jadwal olahraga kami bareng, lho. Dia memang keren, ya, selalu kelihatan kuat!"

"Tifa tidak punya pilihan lain."

"Pilihan?"

Yuffie mengangguk. "Tiga tahun lalu Tifa menjadi seorang kakak –seharusnya. Hanya, kondisi Lena-obachan menjadi parah, benar-benar parah. Hanya ada dua pilihan: menyelamatkan Lena-obaachan atau adik Tifa. Ayah Tifa memilih Lena-obachan."

"Benarkah? Traagiis yaa!"

"Bisa tidak sih kau tidak usah teriak-teriak begitu, Elena?" sembur si gadis Wutai sebal. Gara-gara seruan Elena, suasana yang harusnya sedih jadi rusak.

"Pokoknya setelah itu, otomatis Tifa jadi satu-satunya tumpuan harapan orangtuanya. Karena persistensi atau apalah sebutannya, perlahan Tifa juga mengemban harapan orang-orang di sekitarnya. Karena itu dia tidak boleh kelihatan lemah. Tifa tidak mau orang-orang yang sudah mempercayainya kecewa. Itulah kenapa, Tifa selalu memaksa diri sendiri demi memuaskan ekspektasi orang lain. Dia tidak mempertimbangkan perasaannya sendiri."

Atmosfir di sekitar mereka berubah dikarenakan pembicaraan yang mulai menjurus serius.

"Anak itu," bisik Yuffie, senyum sedih di bibirnya, "selalu menjadi pundak untuk menangis, dan punggung untuk bersandar. Karena dialah aku bisa… Melewati masa-masa sulit setelah putus dengan…"

"Reno?" sambung Elena.

"Jadi Yuffie-chan masih menyukainya?"

Elena plue Jessie melempar pandangan curiga.

"Bukaaan, bukan itu yang mau kusampaikan. Maksudnya, dia bisa diandalkan di saat-saat sulit," bantah Yuffie cepat-cepat. "Dia kan pasti punya masalah sendiri. Cuma dia tidak pernah cerita padaku! Tifa menanggungnya diam-diam, sendirian lagi. Padahal kalau hatinya sakit, dia tinggal bilang, kan? Apa susahnya sih? Lagian, hati manusia punya batas juga. Kalau didera terus menerus tanpa pernah diobati, suatu saat akan remuk!"

Jessie dan Elena memandangi Yuffie, antara bersimpati dan geli.

"Sudah tahu begitu masih memaksa latihan! Sakit, kan, jadinya!"

"Err… Mungkin Tifa hanya ingin memberikan yang terbaik?" Jessie berusaha mendinginkan Yuffie.

"Iie! Dia terlalu sok! Kondisinya buruk, dan dia tahu itu, tapi tetap ngotot. Tifa terlalu perfeksionis, sampai kadang-kadang jadi tidak masuk akal! Jisho niii!"

"Eeey, sebel sih boleh, tapi astor-ku jangan diembat dong," cegah Elena berusaha mengambil kaleng astor dari tangan Yuffie. Usahanya sia-sia saja.

Celetuk Jessie "tapi aku yakin Tifa tidak sedang berusaha melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya. Dia hanya…" Jessie terdiam. Kelihatannya dia mendapat suatu pencerahan. Jawaban atas teka-teki Profesor Cid yang tadi siang. Dengan tangan kembali menggaruk lehernya, perempuan bermata cokelat itu menandaskan mantap, "Tifa mendorong dirinya sampai pada batasnya."

"Hah! Kau tetap tidak percaya kalau Tifa it sok?" sentak Yuffie, berhasil membuyarkan pergumulan si adik kelas. "Aku makan semuanya nih!"

"Jangaaaan! Itu punyakuuu!" rengek Elena. Ia kepayahan menghadapi kakak kelas yang satu itu. Sebenarnya di sini siapa yang lebih tua?

"Tidak, begini. Tadi siang aku bicara dengan Profesor Cid tentang proyek akhir semesterku. Kukira bom pelacak peretas ilegal adalah ide brilian. Profesor Cid menolaknya, dia bahkan menyebutnya sampah."

"Bom penetas apa?" tanya Elena cengo.

"Lupakan. Dia bilang apa? Sampah? Hah! Bukan cuma bau keringat, ternyata dia juga diskriminator irasional! Dasar guru tengik!" timpal Yuffie sewot. Harap maklum. Beginilah Nona Yuffie Kisaragi. Bila sudah marah, semua-muanya kena sembur.

Jessie jadi tertawa. Mungkin juga, sih. Memang, selama ini profesor pirang itu hanya memperbolehkan murid putra mengikuti kelasnya, sementara bila ada murid putri ingin hadir, harus melewati tes yang sangat sulit.

"Tadinya aku juga kesal. Barusan mulai terpikir… Mungkin, hanya mungkin… Profesor mengharapkan sesuatu yang lebih dariku. Yang harus kulakukan adalah mengeluarkan semuanya, menekan sampai pada batasnya. Kurasa itu yang dilakukan Tifa saat ini."

"Puih. Aku nggak bisa memahami jalan pikiran orang-orang ambisius seperti kalian," komentar Yuffie. Gadis muda berambut coklat panjang itu memberikan senyuman.

"Besok Sport Month sudah dimulai, kan? Saranku, dukunglah Tifa. Orang-orang ambisius tidak mundur walaupun dipaksa. Daripada Yuffie mendorongnya ke belakang, lebih baik dorong ke depan."

Yuffie cemberut. Dimasukkannya batang terakhir chocolate stick ke mulutnya.

"Huh! Apa boleh buat. Terpaksa deh."

Pembicaraan pun berhenti di situ. Sekarang perhatian kedua perempuan beralih ke sosok pirang yang memeluk lutut sambil sesenggukan di sebelah mereka.

"Astorkuuu~"

"Jangan nangis dong!"

.

.

=xoxo=


"Right now, I feel I have to push myself to the limit."

-Tifa, FFVII-


=chapter3ends=