Nyaha! Ini dia update-an nya. Seminggu kan? Pas kan? Saya akan memenuhi janji saya sebisanya, demi deh sumpah. Oh ya, untuk chapter ini akan ada pihak ketiga, kikikikik. Dan ada beberapa ide yang saya dapet dari suatu chicklit berjudul Hissy Fit. Ada yang udah pernah baca?
Desclaimer: NGGAK USAH NANYA GUE! JELAS-JELAS NARUTO PUNYA-NYA KISHIMOTO MASASHI! Kalo Hissy Fit punya-nya yang bikin, saya lupa namanya.
Lavender
Chapter 3
-
-
Sasuke kembali ke rumahnya pukul 10, bersamaan denganku yang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Aku juga memiliki toko sebagai sampingan, dan menyewa orang untuk menungguinya. Sebenarnya itu butik, walaupun aku lulusan design arsitektur di S1 dan dan design grafis di S2, aku iseng-iseng untuk membuka usaha di bidang fashion. Dan hasilnya pun lumayan, banyak yang suka dengan style yang kubuat.
Aku bekerja disalah satu kantor yang menangani bidang perumahan. Tugasku adalah menentukan gaya arsitektur dan dekorasi rumah tersebut. Mungkin ini adalah pekerjaan yang terdengar simpel, namun saat kau mengerjakannya akan banyak sekali tantangan. Dari mulai mengejar deadline, klien yang sangat menyebalkan, sampai bos yang suka menuntut. Tapi aku menyenangi profesi ini, penuh dengan seni dan keindahan. Akan ada rasa puas tersendiri saat aku menyelesaikan tugas.
Hari ini aku akan menemui klien baru. Yang aku tahu dari bosku- Tsunade, adalah bahwa dia seorang direktur baru sebuah perusahaan bra yang bangkrut. Lucu bukan? Masih muda, single dan kaya mau-maunya dia menggarap perusahaan bra yang bangkrut. Menurutku itu sangat membuang-buang waktu. Namun itu bukan urusanku, yang penting dia akan menjadi gudang penghasilan untuk perusahaan kami. Termasuk aku yang didaulat untuk mengurus proyek ini. Bos suka sekali klien seperti itu, royal, tampan, kaya dan yah, masih muda. Memang seperti itu bosku, haus belaian pria.
Kantorku berada di pusat kota, tidak terlalu jauh dari kantor Sasuke. Terkadang kami makan siang bersama. Namun akhir-akhir ini, sekali lagi karena perubahan besar-besaran terhadap kantornya, ia menjadi lebih sibuk. Tidak pernah ada lagi korupsi-korupsi waktu saat jam kerja, atau senyum dinginnya saat menjemputku untuk makan siang. Aku maklumi itu karena meskipun sedikit, aku merasa bangga dengannya. Teman-temanku terkadang mengungkapkan rasa iri mereka, yang kujawab dengan ungkapan peduli bahwa banyak laki-laki yang seperti Sasuke di luar sana. Lain di mulut lain di hati. Karena hatiku jelas-jelas meneriakkan bahwa hanya Sasuke-lah yang begitu, begitu sempurna.
Sesampainya aku di kantor, aku langsung menuju ke ruangan Bos. Umurnya sudah kepala empat, tapi dia masih melajang. Masa lalu rupanya menyita seluruh hidup Tsunade, begitu kata teman-temang sekantorku. Dia tegas, berwibawa, dan masih kelihatan cantik. Dia tidak trauma dengan masa lalu, hanya saja dia terlalu sayang untuk melupakannya. Jadilah ia dengan pasangan-pasangan one night standnya. Tiap malam selalu berganti, namun juga ada yang bertahan beberapa bulan.
Ckrek.
"Selamat pagi." Tsunade dengan kemeja ketat dan rok supermini sedang duduk diatas meja. Ia sedang bertelepon ria dengan seseorang sambil tertawa-tawa sendiri. Yang kuanalisa, itu pasti pasangan barunya. Pandangannya langsung menjadi kesal saat melihatku masuk tiba-tiba dan mengganggu 'kegiatan' sakralnya. Sesaat kemudian dia menutup sambungan teleponnya.
"Mengapa kau ada disini, Sakura?" Tanyanya dengan nada tidak suka. Aku jadi merasa bodoh karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan membuatnya kesal seperti ini. Wah, aku pasti berada dalam ancaman yang sangat besar, apalagi ini menyangkut pasangannya. Matilah aku.
"M-maaf Miss, tadi aku langsung masuk saja. Memang sudah menjadi kebiasaanku, bukan?" Jawabku takut-takut.
"Me-nga-pa. Kau. A-da. Di-si-ni?" Tsunade berkacak pinggang, memajukan tubuhnya padaku dan menatapku penuh kejengkelan. Memang sih aku tadi menjawab tidak nyambung, tapi kan…
"I-itu kan, kita mau bertemu klien baru?" Tsunade menepuk keningnya yang sama lebarnya denganku. Aku mengernyit heran, tak mengerti apa maksudnya itu.
"Kubilang kemarin, kau yang akan bertemu dengannya. Bukan KITA! Dan harusnya kalian bertemu di café Tutu satu jam lalu. Bukan di KANTOR! Ya Tuhan! Aku kan sudah memberitahukannya!" Sekarang Tsunade menjatuhkan diri di sofa. Menghela napas seberat-beratnya. "Kita bisa kehilangan klien emas kita."
"Maaf." Aku mendudukkan kepala, dan merasa sangat bersalah. Pagi-pagi seperti ini aku sudah melakukan kesalahan yang fatal bagi kantor. "Tapi, aku akan kesana secepatnya, aku berjanji akan membuat klien itu tetap menggunakan jasa kita. Aku pergi dulu, permisi." Aku bergegas meninggalkan kantor, sebelum Tsunade sempat menghentikanku. Demi karirku, demi Bos, dan demi kantungku. Ya Tuhan, berkati aku.
"Gaara tidak akan betah menunggu, percuma." Gumam Tsunade putus asa.
-
-
-
Hah hah hah hah hah hah.
Aku sudah berusaha secepat mungkin datang ke café Tutu. Hanya lima belas menit, padahal jaraknya dari ujung ke ujung. Café ini sangat terkenal, namun letaknya terpencil dan jauh dari pusat kota. Jadilah aku disini sekarang, mencari-cari klien yang sangat tidak mungkin masih ada disini. OH IYA! Aku belum tahu wujudnya seperti apa! Dan namanya, oh tidak! Bahkan namanya pun aku tidak tahu! Bagaimana aku bisa tahu kalau orang itu dia? Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Tapi aku menemukannya.
Bisa tebak bagaimana? Padahal wajah bahkan namanya saja aku tidak tahu. Tapi aku melihatnya, aku menemukannya sedang memperhatikanku juga. Dia berbeda dari pengunjung yang lain. Bukan karena rambutnya yang berwarna merah, ataupun dandanannya yang begitu rapi. Tapi karena saat aku melihat dia, semua bayangan yang diberikan Tsunade padaku tercetak jelas pada pemuda itu. Ya, tidak salah lagi itu pasti klienku.
Aku menghampirinya.
"Kau, klienku?" Kataku tiba-tiba, saat tiba di pinggir mejanya. Dia mengernyit, kedua alisnya bertautan.
"Oh, iya. Maksudku begini- namaku Sakura, Haruno Sakura. Kau klienku bukan?" Ucapku penuh percaya diri. Tidak terbesit sama sekali di pikiranku bahwa dia adalah orang lain, dan aku salah orang. Karena aku yakin, yakin seratus persen bawa dia orangnya. Dia yang akan menjadi klienku.
"Oh! Kau rupanya yang sudah membuatku menunggu? Kau suruhannya Tsunade?" Dia memekik pelan, sadar bahwa aku adalah orang yang sedari tadi ditunggunya. Oh bukan, orang yang sedari tadi membuatnya menunggu.
"Maaf. Aku lupa kalau kita akan bertemu di café ini, ini semua kesalahanku. Dan aku mohon jangan putus kerja sama kita. Aku akan mengganti kerugianmu." Aku menunduk sedalam-dalamnya, memperlihatkan penyesalan yang sungguh-sungguh. Dia lalu menepuk pundakku, aku menatap wajahnya kembali.
"Duduklah." Ujarnya tanpa ekspresi yang berarti. "Terimakasih." Senyumku mengembang, aku berhasil! Yah, setidaknya untuk kali ini.
Saat itu aku baru menyadarinya. Tempat itu sangat indah. Lampu-lampu yang mengerlip indah, membuat café ini menjadi remang. Musik klasik yang diputar tanpa jeda, keheningan yang menyenangkan. Tidak ada ribut-ribut, tidak ada tawa yang menusuk. Semuanya menikmati keheningan itu, berbeda dengan kedai kopi Kakashi yang memiliki pengunjung dalam berbagai perasaan dan minat. Di tempat ini, semuanya sama. Indah, sangat indah.
Dan aku baru menyadari bahwa klienku benar-benar orang yang sangat tampan. Rambutnya merah menyala, wajahnya yang putih bersih. Lampu-lampu yang berpendar itu seperti menyamarkan bayangannya, sosok dihadapanku juga indah. Begitu tampan. Senyumnya irit, seperti begitu sayang untuk dinikmati. Seperti Sasuke, aku menemukan sosok Sasuke dalam wujud orang lain disana.
"Aku kecewa padamu, karena bisa menyepelekan klien seperti ini." Ujarnya ketus. "Namun aku tidak akan memutuskan kerja sama kita, karena aku membutuhkanmu dan kau membutuhkan aku. Singkat saja, kita lanjutkan kerja sama ini. Kau satu-satunya orang yang bisa mewujudkan pikiranku, kau arsitek dan designer hebat."
"Terimakasih, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Dan apa yang harus aku lakukan? Maksudku tugasku, apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku penuh minat, aku pasti akan mengerjakan proyek ini dengan baik. Jadi klien ini puas, Bos senang dan aku dapat uang banyak. Mm, aku sama sekali tidak matrealistis, hanya saja kantor butuh pekerja yang menghasilkan uang. Jadi, aku akan berusaha memberikan kantorku penghasilan yang besar-besaran dari proyek yang satu ini.
"Kau akan merenovasi Rihotten Mansion, kau pasti tahu rumah itu kan?" Dia menyeruput teh dihadapannya, lalu kembali menatapku. Menunggu jawaban dariku.
"Ya! Tentu saja, rumah peninggalan keluarga Rihotten pada abad 18 bukan? Itu rumah yang cantik, aku senang bisa mendapatkan kesempatan merenovasi rumah itu." Aku memekik senang. Itu impianku dari dulu, rumah itu begitu menakjubkan. Pasti akan menjadi suatu proyek yang mewah, apalagi klienku ini royal.
"Kalau begitu, kau bisa datang ke kantorku pukul delapan. Perusahaan bra di dekat sini, tidak terlalu jauh." Dia meraih kunci mobilnya, lalu berdiri dari duduknya.
"Baiklah, mm…"
"Garaa, kau bahkan tidak tahu nama klienmu. Dasar bodoh." Dia melenggang pergi.
Baiklah Sakura, tahan amarahmu. Dia klien besar, tahan amarahmu.
Aku duduk sambil mencengkeram celanaku, dia baru saja mengataiku bodoh dan aku hanya diam? Perbuatan bodoh apa yang aku lakukan sih? Arrrgh!
-
-
-
Aku masih berada di café Tutu meskipun klien menyebalkan itu sudah pergi. Maunya sih mengajak Sasuke, tapi dia pasti masih berada di kantor. Dan jarak kantornya ke sini itu jauh sekali, jadi aku menikmati kopi sendirian disini. Sunyi sekali, hanya ada musik klasik. Dan aku sangat menyukai ini, seperti hanya ada aku di dunia ini.
Tapi handphoneku bergetar sejenak, kubiarkan saja. Lalu bergetar lagi, kali ini aku lihat.
2 miss called from Sasuke
Saat aku mau meneleponnya balik, tiba-tiba ada panggilan masuk. Dari Sasuke tentunya.
"Halo, Sasuke?" Aku menyeruput kopi yang hangatnya semakin menghilang. Lalu memandang langit yang mendung siang ini, tapi tak satupun rintik hujan yang turun. Mungkin sore nanti hujan.
"Kau dimana? Sudah makan siang?" Suara mobil berderu di seberang telepon. Dia pasti sedang ada di jalan atau sedang di parkiran.
"Belum, aku sedang ada di café Tutu. Habis menemui klien yang menyebalkan." Gerutuku, dia terkikik pelan. Ah, aku jadi rindu seringainya. "Kau ada dimana? Aku mau bertemu." Ucapku manja.
"Tidak jauh dari café Tutu, kok. Aku kesana ya? Lima belas menit lagi aku sampai, kalau kau mau pesan duluan tidak apa-apa. Bye sayang." Dia menutup sambungan teleponnya, aku masih tersenyum sambil mendengarkan sisa pembicaraan kami barusan. Bunyi 'tut' yang panjang menggema di telingaku.
"Bye." Gumamku.
-
-
-
"Hai." Kecupan Sasuke di bibirku membuat lamunanku buyar. Sekarang rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Berarti prediksiku tadi salah. Aku tersenyum padanya, dan dia membalasnya dengan seringaian yang terlihat seksi. "Hai." Jawabku penuh dengan senyuman.
Sasuke meraih tanganku, lalu mengecupnya perlahan dan penuh perasaan. Aku menyukai Sasuke yang seperti ini, yang lembut, penuh dengan cinta dan seringaian yang seksi. Andai dia bisa menghilangkan sifat egoisnya, dia pasti menjadi laki-laki paling sempurna yang pernah aku miliki. "Kau belum memesan makanan? Tidak lapar, huh?" Sasuke mengelus kedua tanganku.
"Aku menunggumu tahu, ingin makan bersama. Aku kangen." Aku membalas remasan tangannya. Dia menyeringai lagi.
"Kau seperti anak remaja saja, sudah tidak pantas." Jawabnya mengejek, aku cemberut kesal. Dia seperti tidak tahu aku saja. Aku sangat suka bermanja-manja, dengan Sasuke ataupun Mamaku. Tapi aku mencoba terlihat sebagai perempuan tangguh diluar. Tersenyum dan tertawa, itu resep sehari-hariku. Karena tanpa dua hal itu, semua urusanku akan kacau balau. Pekerjaanku tidak akan ada yang selesai.
Sasuke duduk disampingku, membawaku kedalam dekapan dadanya. Dia orang yang dingin, namun memiliki tubuh yang hangat. Sangat membuatku nyaman, dan tidak ingin lepas darinya. "Aku tahu, malah aku yang selalu merasa kangen. Lebih memalukan, padahal kau baru saja turun dari mobilku saat itu." Dia mengecup ujung kepalaku dan mengacak-acak rambutku dengan gemas.
"Itu tidak memalukan kok." Ucapku sambil mendongak, menatap mata onyxnya. Lalu dia menurunkan kepalanya dan meraih bibirku dalam satu kuluman yang panjang. "Hanya sedikit tidak pantas untuk seorang Uchiha." Lanjutku setelah dia melepas bibirnya. Aku tertawa lepas saat kedua tangannya menggelitik pinggangku.
"Hahaha sudah, sudah, Sasuke. Cukup, aku tidak tahan. Hahahahaha." Aku semakin merapat ke jendela, menepis-nepis tangannya yang semakin gencar menggelitik pinggangku.
"Kau harus minta ampun pada Tuan Uchiha terlebih dahulu."
"Hahahaha, iya iya. Sudah cukup Tuan Uchiha sayangku, aku minta ampun. Hahahaha." Dia melepas tangannya dari pinggangku, aku terengah-engah karena terlalu banyak tertawa. "Kau parah sekali." Ucapku merajuk. Aku menghapus setitik air mata diujung mataku. Lalu kembali ke dekapan dadanya.
"Siapa yang salah, cantik? Kau ini suka jahil ya?" Dia raih lenganku dan mengusap-usapnya. Terkadang ia rekatkan pelukannya karena gemas. Sebenarnya aku yang gemas karena dia terlalu berbeda saat di hadapanku. Ingin sekali aku menggigit pipinya yang kelewat putih itu. "Kita pesan makanan ya? Aku sudah lapar." Dia memanggil salah satu pelayan yang menganggur, kemudian memesan dua mangkuk sedang lasagna, satu strawberry ice tea, dan lemon tea. Aku mengelus-elus perutnya yang rata sambil menggumam. "Tunggu ya, makanannya akan segera sampai." Kami berdua terkikik pelan.
"Kau habis dari mana? Kok tiba-tiba bisa disini?" Tanyaku setelah pelayan itu pergi.
"Survei lokasi, di dekat sini akan di dirikan kantor cabang. Partnerku adalah Hinata, jadi kurasa ini akan jadi pekerjaan yang menarik." Dia meraih tanganku, lalu diusap-usap ke telapak tangannya. Memang cuaca semakin dingin saja, dan hujan di luar café semakin deras. "Lalu bagaimana dengan klien menyebalkanmu itu?"
"Kau meledek." Aku pukul lengannya ringan, lalu mengusap-usapnya menyesal. "Memang aku yang salah karena datang terlambat dan melupakan namanya. Tapi dia mengataiku bodoh, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia klien emas kantorku. Aku kesal sekali, sebenarnya. Tapi kau harus tahu, impianku akan jadi kenyataan! Aku akan merenovasi Rihotten Mansion yang telah dibeli olehnya. Ini proyek yang menarik! Aku pasti bisa menggubah rumah itu menjadi lebih menakjubkan." Aku bercerita menggebu-gebu. Sedangkan dia hanya diam dan mengecup ujung kepalaku.
"Aku ikut senang, kau arsitek dan designer hebat. Aku bangga padamu." Ucapnya sambil berseringai. Dia memang tidak bisa tersenyum. Sudah kucoba berkali-kali dan ta-da! Nihil.
"Aku mencintaimu." Gumamku sambil tersenyum hangat.
"Hn."
Sungguh satu kata yang paling aku sukai di dunia ini.
-
-
-
BWAH! Bagaimana? Bagaimana? Cukup panjang kan? Ini udah saya panjang-panjangin loh. Dua ribuan gitu. Sekarang mau balesin review dulu lah.
Furu-pyon
Ini udah update! Makasih ya reviewnya!
nacchi cullen
Ah anda memang setia. Thanks ya mcuah mcuah mcuah –dilindes- Ini udah update kok, ditunggu review untuk chapter ini ya.
Fuyuki Namikaze
Salam kenal juga Fuyuki. Wah saya suka sih merhatiin sekitar, jadi mungkin agak banyak detail-detail nggak jelas atau yang kamu bilang diksi itu. Makasih udah bilang bagus, jangan bosen-bosen baca ya. Reviewnya juga deh sekalian, hohoho. Ini udah dipanjangin loh, gimana? Gimana? Gimana?
Nggak usah izin kalo mau fave mah, abdi mah bersedia lahir batin sok atuh. Nuhun nyak.
Aika Umezawa
Ini jeung udah gue update –nabok lo bolak-balik-ditampar balik-
Kenapa ya gue selalu berhenti di cliffhanger, ya biar para readers tercintah penasaran jeung. Iya kan? Kan? Kan? –dilempar bakiak bokap- Thanks ya jeung, mcuah mcuah.
Kyoro
Kasihan ya Sakura? Sasu-teme emang gitu, tapi Sakuranya terima dia baik boroknya –diamaterasu- Thanks ya udah review.
Naru-mania
Wah terimakasih sudah menunggu-nunggu, saya terharu. Jangan panggil saya senpai lah, jadi malu –digetok- Panggil mm apa ya? Rin bisa, Utthie juga bisa apa aja deh. Asal jangan manggil saya mbok aja. Saya suka SasuSaku, tapi sebenernya semua pairing suka. Abisnya sering nyoba-nyoba baca fanfic yang macem-macem sih. Eh lama-lama jadi suka beneran. Thanks ya udah mau review :D
Nah sebagai penutup, saya akan membungkukkan badan serendah-rendahnya untuk reviewer yang cakep-cakep diatas. Juga –mungkin- para silent readers – pede abis- saya berterimakasih banget.
Review ya?
