(Chap 2)
- Skool Luv Affair -
Taehyung duduk melamun di meja nya. Ia memikirkan kejadian kemarin di taman hiburan dan di rumahnya. Ia tidak menyangka jika orang yang baru beberapa menit bertemu dengannya sudah meninggal dibunuh oleh pembunuh gila dan sadis. Pikirannya kembali melayang saat ia di interogasi oleh polisi.
→ Flashback
"... Apa benar kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka?"
"tidak hyungie, aku baik-baik saja..."
"tempat ini mengerikan juga, ayo kita segera pergi saja dari sini" Jungkook hanya mengangguk sambil memeluk lengan Taehyung. Taehyung tak henti-hentinya mengusap kepala Jungkook sambil berjalan menjauhi tempat itu. Jungkook menatap datar pada petugas yang membawa kantung mayat menuju mobil ambulance.
"permisi, apa kau yang bernama Taehyung?"
Baik Jungkook maupun Taehyung, keduanya berbalik menatap seorang pria tinggi yang memakai jaket sambil membawa note kecil. Disamping pria itu ada seorang pria pendek yang terlihat sangat ketakutan. Taehyung menatap bingung kedua pria itu kemudian menjawab pertanyaan pria tinggi tadi.
"ya, aku Taehyung, ada apa?"
"ah, maaf jika aku mengganggu harimu, tapi kami baru saja mendapat informasi dari pria ini. Dia bilang, sebelum berbicara dengannya, Hoseok terakhir kali berbicara padamu sebelum dia ditemukan tewas. Apa itu benar?"
"ya, benar..."
"kalau begitu tolong ikuti aku, aku punya beberapa pertanyaan untukmu. Oh, namaku Kim Seokjin, kau bisa memanggilku Seokjin" ucap pria tinggi itu sambil memperkenalkan dirinya sendiri dan menyuruh kedua pemuda itu duduk pada kursi yang ia siapkan di sebuah van hitam.
"ah baik"
"ok, jadi... apa kau mengenal Hoseok?"
"t-tidak, kami baru saja bertemu di kedai es krim"
"uh, santai saja, aku tidak akan menembak kepalamu dengan ini" ucap Seokjin sambil menyembunyikan pistol di laci mejanya. Taehyung hanya bisa terdiam menatap Seokjin. Jungkook juga ikut terdiam menatap kedua pria di hadapannya ini. Terutama menatap Seokjin.
"baiklah, lalu... aku dengar dia menumpahkan es krim ke bajumu"
"iya, tapi aku rasa itu hanya kecelakaan kecil. Aku juga sudah memaafkannya, tapi dia yang terus-menerus meminta maaf padaku"
"hm, setelah kau berbicara padanya, apa kau lihat dia berbicara dengan orang lain?"
"aku rasa tidak..."
"terakhir, dimana kau saat kejadian itu berlangsung?"
"aku sedang mengambil mobil di parkiran"
Seokjin kembali menulis hal-hal yang menurutnya penting. Tiba-tiba matanya tertuju pada pria disamping Taehyung. Pria itu menatapnya seperti anak kecil yang sedang bingung. Seokjin menghentikan acara menulisnya dan menatap Jungkook.
"ini adikmu?"
"ah, bukan, dia kekasihku"
"ah, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Jungkook menatap Seokjin dan Taehyung bergantian. Ia sedikit ragu saat Taehyung tersenyum padanya tanda mempersilahkannya. Tak lama kemudian Jungkook mengangguk dan menatap Seokjin takut-takut.
"ah, kau ini seperti anak kecil saja haha"
"aku rasa dia ketakutan karena mendengar ada pembunuhan"
"hm, kau harus menjaganya baik-baik"
"ah ne"
"ah iya, kau ada dimana saat kejadian?"
"a...aku menunggu Taehyung hyug di depan kedai es krim"
"ah, berarti, kau bisa melihat jelas toilet pria dari tempatmu berdiri ya. Kalau begitu, apa kau lihat orang lain masuk ke toilet itu setelah Hoseok?"
"umh... tidak, aku tidak melihatnya"
Seokjin menatap Jungkook sebentar kemudian segera menulis apa yang menurutnya penting. Jungkook hanya diam sambil menatap note Seokjin.
"baiklah, kalian bisa pulang sekarang. Ah, maaf ya telah mengganggu hari kalian"
"tidak masalah, kami tidak merasa terganggu sama sekali, ya kan Kookie?" tanya Taehyung sambil menggenggam tangan Jungkook. Jungkook hanya terdiam menatap Taehyung kemudian matanya beralih menatap Seokjin yang sudah berdiri.
"aku akan mengantar kalian. Ah iya, kekasihmu ini pendiam juga"
"dia sebenarnya banyak bicara, mungkin karena kejadian hari ini dia jadi pendiam"
"aku rasa dia juga terkejut. Ah, kau jaga dirimu baik-baik ya" ucap Seokjin sambil tersenyum pada Jungkook.
Jungkook hanya menatap datar Seokjin. Tapi tak lama kemudian Jungkook menyeringai tipis, sangat tipis, hingga kedua pria di hadapannya melihatnya hanya senyum biasa. Taehyung segera pamit pulang pada Seokjin dan pergi menjauh dari sana.
→ Flash end
Taehyung masih tidak habis pikir mengenai nasib Hoseok. Disaat ia sedang asik melamun, tiba-tiba saja seorang pria dengan seragam berantakan dan pipi yang memar duduk di sebelah Taehyung. Taehyung yang merasakannya segera sadar dari lamunannya dan menengok menatap pria disampingnya.
"yaampun! Jimin, kau kenapa?" tanya Taehyung sambil memperhatikan wajah Jimin.
"ah, aku kembali memberi pelajaran pada kelompok sekolah sebelah"
"aigo, kenapa kau berkelahi lagi? Hish, kau ini benar-benar berandal"
"tsk, aku hanya tidak suka pada mereka Tae. Sudahlah ini bukan apa-apa, aku baik— ADUH! SIALAN TAEHYUNG APA YANG KAU LAKUKAN?!" Jimin berteriak keras saat Taehyung dengan sengaja menekan salah satu memar di wajah Jimin.
Taehyung hanya menatap datar pada teman sebangkunya itu, "ini namanya kau tidak baik-baik saja bodoh! Ayo, kita segera ke ruang kesehatan"
"tsk, tidak tidak. Aku khawatir kau akan melakukan hal tadi"
"aku janji akan mengobati luka mu. Ayolah, aku tidak menerima penolakan!"
Tanpa bisa menolak, Jimin menggenggam tangan Taehyung dan mengikuti pria itu menuju ruang kesehatan. Disepanjang perjalanan, banyak murid yang menatapi mereka, terutama nenatap Jimin, karena terkejut dengan memar di wajah Jimin. Jimin hanya terus berjalan mengikuti Taehyung menuju ruang kesehatan.
"hey, lihatlah Jimin sunbae, dia berkelahi lagi!" ucap seorang gadis perempuan sambil menghampiri meja kedua temannya. Jungkook yang duduk tak jauh dari sana langsung mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap ketiga gadis penggosip di kelasnya itu.
"benarkah? Dia kembali membuat kekacauan?"
"sepertinya iya, tadi dia bersama Taehyung sunbae baru saja lewat. Aku benar-benar terkejut menatap wajah pria itu. Penuh memar, dan aku lihat sudut bibirnya berdarah"
"omo... Jimin oppa, apa dia terluka sangat parah?"
"tsk, kau tidak usah khawatir, kalaupun ia terluka parah sekalipun, si Taehyung temannya yang kaya itu akan segera menanganinya"
"huwee beruntungnya dia punya teman sebaik Taehyungie oppa"
Jungkook meremas tangannya. Ia menatap jijik pada ketiga gadis didepannya. Rasanya ia ingin sekali memotong lidah gadis-gadis itu. Terlebih lagi, ia baru saja tau kalau Taehyung-nya sedang bersama orang lain sekarang. Tanpa pikir panjang Jungkook segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju ruang kesehatan.
Sementara itu di ruang kesehatan, Jimin sedang meringis menahan sakit pada wajahnya. Taehyung yang berada di depan Jimin sedang serius mengobati luka di sudut bibir Jimin.
"aw! Hey, pelan-pelan Mongtae!"
"tsk, kau ini cerewet sekali. Aku sudah melakukannya pelan-pelan tau"
"tapi sakit!"
Taehyung menghela nafas saat melihat Jimin menggusap pipi nya. Ia membuang kapas di tangannya dan beralih ke tempat obat lain. Jimin hanya terdiam sambil membaringkan tubuhnya di kasur.
"lihatlah bagaimana kau membuat sekolah kembali heboh Jimin"
"tsk, mereka itu berlebihan. Ini bukan kali pertamanya aku berkelahi dengan sekolah sebelah"
"kau ini, berhentilah berkelahi. Bagaimana jika kau di keluarkan dari sekolah atau mungkin kau luka berat?"
"tsk, tidak akan! Aku ini kuat kalau kau mau tau"
"hei hei, baru saja kau aku obati, tidak ingat bagaimana wajahmu saat meringis tadi?"
"haish, lupakanlah. Ah iya, ngomong-ngomong, terimakasih kau sudah mau mengantarku kesini"
"hm, tidak masalah, itulah gunanya teman kan" ucap Taehyung sambil kembali menghampiri Jimin dan kembali mengompres memar di wajah Jimin.
Jimin kembali meringis merasakan peeih pada setiap luka yang Taehyung obati. Taehyung hanya tertawa kecil saat Jimin mengumpat ketika ia kembali menekan luka Jimin. Jimin kembali memukul kepala Taehyung saat pria di depannya itu terus-menerus menekan beberapa menar di wajahnya. Diluar ruangan, Jungkook yang baru saja mendengar dan melihat adegan kedua orang itu, langsung berjalan menjauhi ruang kesehatan.
*. Skip
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Taehyung berjalan menyurusi koridor sekolah sambil memakan roti. Tangannya sedang menggeser layar ponselnya, membaca berita kematian Hoseok. Tak jauh di belakangnya, Jungkook mengendap-endap berjalan menuju Taehyung. Ia tersenyum begitu melihat Taehyung sedang asik pada ponselnya.
"eh? Siapa ini?" Taehyung memasukan ponselnya dan memegang tangan yang menutupi kedua matanya. Jungkook hanya bisa tertawa kecil melihatnya.
"oh apakah ini baby Jungkookie ku?" tanya Taehyung sambil tersenyum. Jungkook segera mem-pout-kan bibirnya dan langsung menjauhkan tangannya dari mata Taehyung.
Taehyung berbalik dan tersenyum menatap kekasihnya itu dalm mode ngambeknya. Ia terkekeh pelan sambil mencubit kecil pipi pria manis itu. "kkk, apa aku menang?"
"hyungie tidak seru" ucap Jungkook masih dengan poutnya
"kkk kalau aku bisa menebakmu, berarti itu bagus kan?" ucap Taehyung sambil memeluk dan menarik pinggang pria manis itu.
Jungkook mengerjapkan matanya beberapa kali melihat jarak wajahnya yang begitu dekat dengan Taehyung. Pipi Jungkook tambah merah ketika ia merasakan banyak orang yang memperhatikan mereka dan tersenyum sambil berbisik-bisik kecil. Jungkook segera menjauhkan sedikit badannya dan membuat Taehyung tertawa kecil melihat wajah merah Jungkook.
"aigo, baby Jungkookie-ku ini malu, hm?"
"Taehyungie hyung bodoh. Kita dilihat banyak orang tau!"
"kkk maaf maaf. Oh, apa kau sudah makan?"
"hm, belum..."
"baiklah, kalau begitu ayo kita ke kantin"
"ne, kajja kajja" ucap Jungkook sambil memeluk lengan Taehyung.
Taehyung kembali tertawa kecil sambil mengusap kepala Jungkook. Ia bersyukur Jungkook sudah kembali ceria, tidak seperti kemarin terlihat sangat pendiam. Ia berjanji tidak akan meninggalkan Jungkook sendiri seperti kemarin. Jungkook dan Taehyung duduk berhadapan. Mereka sudah membeli makanan untuk mengisi perut mereka. Taehyung tak berhenti tersenyum melihat Jungkook yang makan dengan lahap, dan seperti biasa, dengan jejak makanan yang kadang tertinggal. Taehyung mengambil tissue dan mengusap sudut bibir Jungkook.
"selalu seperti ini. Kau benar-benar terlihat seperti anak kecil Jungkookie..." ucap Taehyung sambil mengusap kepala Jungkook
"umurku 18 belas hyungie..."
"bagiku 8 tahun haha"
Jungkook hanya mem-pout-kan bibirnya kemudian melanjutkan makannya. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Jimin datang sambil merangkul Taehyung dan duduk di sampingnya. Kedatangan Jimin membuat sepasang kekasih itu berhenti makan dan menatapnya. Terutama Jungkook yang mulai menatap tajam pada Jimin yang masih setia merangkul Taehyung.
"tsk, kau mengagetkanku Jim"
"ahaha, maaf, apa kau ketakutan hah?" tawa Jimin sambil mencubit pipi Taehyung.
"haish kau ini benar-benar seorang troublemake! Eh, tapi kenapa kau duduk disini?"
"hei, memang kenapa tempat duduk ini sudah kau pesan kah?"
"biasanya kan kau makan di luar sekolah— bodoh jangan sentuh makanan ku!"
Tanpa mendengarkan omelan Taehyung, Jimin tetap memakan makan siang Taehyung. Taehyung hanya berdecak kemudian memukul pria bertopi itu. Jungkook masih setia menatap tajam pada pria disamping kekasihnya itu. Tak lama kemudian, Taehyung izin membeli makanan lagi untuknya.
"hei, aku mau minun"
"apa-apaan kau, aku bukan pembantumu"
"heish, kau ini, nanti kuganti tenang saja" ucap Jimin yang dibalas dengan acungan jempol oleh Taehyung yang sudah berjalan menjauh.
Jimin kembali memakan makanan -Taehyung-nya. Jungkook meletakan sendoknya. Ia merasa nafsu makannya menurun melihat pria dihadapannya itu. Dan lagi, ia tidak suka makan dengan penghalang antara dia dan Taehyung. Ia rasa ia harus menyingkirkan penghalang itu. Jimin yang merasa ditatap mulai berhenti makan kemudian ikut menatap Jungkook. Ia tersenyum menatap pria manis disampingnya itu.
"hei, kau Jungkook? Wah, ternyata jau manis juga ya" ucap Jimin sambil menjulurkan tangannya bermaksud mencubit pipi Jungkook. Tapi belum sampai mendekat, Jungkook sudah menempelkan pisau pada tangan Jimin dan kembali menatap tajam pria di hadapannya.
Jimin sedikit terkejut merasakan dinginnya besi di tangannya. Ia menatap pisau di tangannya kemudian perlahan menjauhkan tangannya sambil tersenyum canggung.
"ah-haha, maaf ya. Oh iya, hei, bagaimana kau bisa berhubungan dekat dengan alien itu?"
"diamlah"
Satu kalimat bernada datar dan dingin itu membuat Jimin seketika merasakan sesuatu yang tidak enak. Jimin hanya mengusap lehernya dan kembali makan makanannya. Jungkook meletakan pisau di bawah piringnya saat Taehyung datang dan kembali duduk di depan Jungkook. Taehyung tersenyum sambil meletakan milkshake coklat didepan Jungkook dan soda di depan Jimin. Jungkook hanya menatap datar milkshake didepannya.
"hei, aku tak melihatmu di kelas saat pelajaran tadi"
"oh... aku menyusul teman-temanku tadi. Mereka bilang malam ini akan melakukannya lagi"
"Jimin, aigo si bodoh ini, berapa kali harus kubilang, berhenti lah berkelahi"
"ah kau ini, aku baik-baik saja Tae. Aku tidak akan mati hanya karena pukulan mereka, tenang saja tenang"
"terserahlah, kau ini sangat keras kepala"
"ahaha, terima kasih atas makanannya Tae"
"hm, sama-sama. Tak usah diganti, tapi bayarannya kau jangan berkelahi lagi"
"aduh, aku tidak bisa janji kalau itu"
"terserahlah"
"aigo my honey Taehyung, kau marah eh? Eh? Hahaha"
Jimin mencubit kedua pipi Taehyung membuat pria itu harus memukul kepala Jimin dengan sumpit di tangannya. Jungkook hanya memperhatikan kedua pria itu dengan tidak suka. Jungkook bisa melihat banyak pasang mata yang menatap mereka. Tak lama kemudian, Jimin pergi meninggalkan mejan mereka. Saat berjalan menjauh, Jimin sempat melirik Jungkook, ia menelan salivanya saat melihat Jungkook sedang menatapnya tajam.
"hei, kau lihat tadi? Jimin sunbae begitu serasi"
"eum, apa mereka berdua diam-diam berhubungan?"
"yaa, itu gila! Jangan sampai dia tinggalkan Jungkook"
"tapi aku senang kalau mereka berdua jadian"
"kkk kau gila"
Jungkook menunduk sambil meremas kedua tangannya mendengar percakapan para gadis di belakangnya. Ia merasa sangat terganggu sekarang. Orang tadi jadian dengan Taehyung-nya? Tidak akan terjadi, dia akan menyingkirkan penghalang itu, dan juga penggosip. Taehyung berhenti makan saat melihat Jungkook yang menunduk. Ia ikut menurunkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah kekasihnya itu.
"Kookie? Kau tak apa?"
"hyung, siapa dia?"
"ah, Jimin? Dia teman sebangku ku. Dia anak berandal, sering berkelahi dengan sekolah sebelah. Ada apa?"
"tidak. Hyung, aku mau pergi ke toko buku sepulang nanti"
"mau ku antar?"
"tidak"
"hee? yakin?"
"hm, setelah pulang sekolah nanti kau masih ada kelas tambahan kan?"
"tapi aku bisa bolos sehari ini saja untukmu Kookie. Aku tidak mau kau pergi sendirian lalu bertemu orang jahat" ucap Taehyung sambil memegang tangan Jungkook. Jungkook menatap tangannya kemudian mendongak menatap Taehyung. Ia tersenyum manis begitu melihat wajah kekasihnya yang cemas itu.
"gwenchanayo hyungie, aku akan baik-baik saja" ucapnya sambil menempelkan satu tangan kekasihnya itu pada pipi putihnya. Taehyung hanya bisa menatap cemas kekasihnya itu sambil mengusap pipi kesayangannya itu.
*. Skip
Jimin sedang berjalan mengendap-endap pada sebuah lorong sempit. Ia baru saja bolos pelajaran terakhirnya. Teman-temannya menghubunginya untuk segera menjalankan mereka. Jimin bersandar pada dinding di belakangnya. Disampingnya, ada temannya yang teruduk dengan penuh luka. Ia sedang bersembunyi untuk menunggu teman-temannya yang lain.
"sial, kenapa aku malah ditugaskan untuk menjaga orang sakit. Hei, seharusnya kau pulang saja jika kau tidak merasa sehat" ucap Jimin sambil menendang pelan paha orang yang pingsan itu.
Jimin berdecak kesal sambil menyalakan rokoknya. Ia kembali melihat sekitar, takut-takut musuh ya berada dekat dengannya. Jimin menghembuskan asap rokoknya. Ia merasa sangat bosan sekarang. Ia ingin keluar dan membunuh para berandal, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan temannya ini. Saat Jimin sudah selesai melihat keadaan, ia duduk disamping temannya itu dan melihat ke belakang. Matanya menyipit begitu melihat bayangan seseorang berdiri jauh darinya.
Jimin mengibaskan tangannya berusaha menyingkirkan asap yang mengganggu pemandangannya. Seketika matanya membulat melihat bayangan tadi berjalan mendekat dengan membawa sesuatu yang panjang mengkilat. Ia segera membuang rokok ya dan berlari menjauh dari tempat itu.
"sial, aku pikir tempat itu aman"
Jimin terus berlari menuju sebuah gedung tua yang sudah tidak terurus dekat tempat persembunyiannya tadi. Ia menengok ke belakang saat ia rasa orang tadi sudah tidak mengikutin. Jimin segera naik ke lantai atas begitu merasa aman. Ia duduk bersandar pada sebuah dinding berlumut sambil mengatur nafasnya.
"apa ada yang melihatku? Bisa gawat jika ada yang melihatku dan menyerangku disini" ucap Jimin sambil menatap pemandangan langit biru disampingnya.
Clang!
Jimin terdiam begitu mendengar sesuatu di lantai bawah. Ia memelankan suara nafasnya untuk mempertajam pendengarannya. Samar-samar Jimin mendengar suara langkah sepatu yang sedang naik tangga. Jimin segera mencari sesuatu untuk senjatanya. Ia segera mengambil sebuah kayu yang penuh dengan paku dan bersembunyi di balik sebuah papan. Jimin kembali mempertajam pendengarannya, samar-sama Jimin mendengar suara langkah berjalan menyusuri ruangan tempat ia bersembunyi. Bisa ia rasakan jantungnya berdegup sangat kencang sekarang.
"kosong"
"bodoh, kau bilang dia disini"
"aku memang melihatnya berlari kesini tadi"
"kemungkinan ini hanya bangunan tua yang kosong"
"tsk, kita cari ke tempat lain"
Jimin bernafas lega begitu mendengar suara orang berlari menuruni tangga. Ia menurunkan kayu di tangannya dan menengok keluar dari papan tempat persembunyiannya.
"degup jantungmu keras sekali"
Seketika mata Jimin sukses membulat begitu mendengar seseorang berbicara padanya.
Brak!
Belum sempat Jimin menengok, orang tadi sudah memukul papan tempat bersembunyinya dengan sebuah kampak. Beruntung Jimin sempat menghindar sebelum kampak itu mengenainya. Jimin menatap pria tinggi yang memakai masker hitam tak jauh darinya. Ia mengerutkan dahinya begitu melihat seragam sekolah yang dipakai orang itu. Seragam yang sama dengan yang dipakainya.
"siapa kau?"
"malaikat maut mu"
Dengan segera orang itu berlari cepat menuju Jimin. Jimin sempat menghindar sebelum kampak orang itu mengenai lengannya. Kampak orang tadi menghancurkan sebuah batu. Jimin mengatur melihat orang tadi.
"akhirnya kau datang juga kesini. Kau membuatku harus berlari dulu, itu sangat melelahkan"
"kau, orang tadi?"
Tanpa menghiraukan pertanyaan Jimin. Orang tadi kembali menyerang Jimin. Jimin yang terlambat menghindar akhirnya hanya bisa berteriak keras merasakan kampak tertancap pada bahu kanannya. Ia bisa merasakan ujung kampak itu menggesek tulangnya saat pria bermasker itu menarik kampaknya. Jimin mengatur nafasnya sambil memegang bahunya, ia menatap tajam pada pria bermasker itu yang sekarang sudah membuang kampaknya. Ia mengambil sebuah cambuk tak jauh dari tempatnya berdiri.
Pria tadi segera melayangkan cambuknya ke arah Jimin. Beruntung Jimin bisa menghindar. Tapi pria itu tidak menyerah, ia terus melayangkan cambuknya dan Jimin masih terus menghindar sambil perlahan mendekati pria itu.
Brugh!
Pria tadi tersungkur begitu Jimin dengan keras menendang kepalanya. Jimin segera berlari menuju lantai berikutnya sebelum pria tadi bangun kembali. Sesampainya di lantai atas, Jimin menengok kanan kiri mencari tempat bersembunyi. Ia merasa lega ketika melihat sebuah lemari tak terpakai disana. Dengan segera ia membukanya perlahan dan masuk kedalamnya.
Di sisi lain, pria bermasker tadi yang tidak lain adalah Jeon Jungkook sedang duduk bersandar pada dinding. Tendangan Jimin tadi membuat kepalanya sangat pening. Ia mengerjapkan matanya perlahan dan menatap tetesan darah yang berjejer rapi membentuk sebuah garis. Jungkook segera bangun dan mengambil sebuah pipa yang runcing bagian ujungnya. Dengan perlahan ia mengikuti tetesan darah Jimin hingga ke lantai atas. Jungkook memegang kepalanya saat beberapa kali merasakan pusing. Ia berjalan sambil memegang dinding di sampingnya.
Ia benar-benar kesal sekarang. Sudah berani mendekati Taehyung-nya, Jimin juga sudah berani menendangnya. Ia berjanji Jimin akan merasakan balasannya. Sekarang Jungkook sudah berdiri didepan sebuah lemari yang merupakan jalan buntu dari jejak darah Jimin. Jungkook menengok kesamping dan menemukan sebuah tali disana. Ia menyeringai dan menghampiri tali itu.
Sementara di dalam lemari, Jimin sudah lemas karena darah yang banyak keluar dari bahunya. Meskipun ia sudah menghentikan pendarahannya, ia tetap merasa pusing karena banyaknya darah yang hilang. Jimin mengatur nafasnya pelan. Sekarang ia tidak bisa keluar, setidaknya tidak sekarang. Tapi ia rasa pria tadi tidak mengikutinya. Ia tidak menyangka jika ia akan berakhir disini seperti ini. Tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya terbunuh disini. Ia sudah janji pada Taehyung. Jimin menghela nafasnya perlahan. Ia melihat keluar dari celah yang ia buat. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
"mungkin ini saatnya aku keluar..." ucap Jimin pelan. Ia memegangi lengannya dan kemudian bangun perlahan. Dengan perlahan Jimin membuka pintu lemari itu. Ia semakin bernafas lega melihat ruangan itu kosong. Sambil waspada dengan sekitarnya, Jimin terus berjalan menjauhi lemari itu. Dan beberapa langkah kedepan, tiba-tiba saja satu kakinya masuk kedalam perangkap tali dan tubuhnya tertarik ke atas.
"sialan" umpat Jimin sambil menatap kakinya. Ia melihat ke sekitar dan menangkap seorang pria tinggi yang membawa sesuatu di tangannya.
"Jungkook?"
Tanpa menghiraukan Jimin, Jungkook berjalan mendekati Jimin. Dengan perlahan Jungkook menusukkan pipa di tangannya pada perut Jimin. Jimin hanya bisa berteriak sekeras mungkin merasakan sesuatu menusuk perutnya. Ia semakin keras berteriak saat Jungkook kembali menancapkan pipa lain di sisi lain perutnya. Jimin semakin lemas melihat darah yang terus keluar dari pipa-pipa itu.
Ia bisa melihat Jungkook mengambil sebuah pisau dari saku jaketnya. Jungkook perlahan mendekati Jimin dan memegang lengannya. Jimin hanya bisa menatap Jungkook dengan lemas, ia ingin berteriak, tapi ia sudah merasa sangat lemas. Jungkook segera menempelkan mata pisau yang terlihat tumpul itu pada kulit lengan Jimin. Perlahan ia mulai menguliti Jimin dengan teliti. Jimin hanya bisa memejamkan matanya merasakan sakit pada lengannya.
"hei, kenapa... kau... lakukan ini?"
"untuk memberimu pelajaran"
"apa salahku...?"
"kau berani mendekati orang yang paling berharga untukku"
"maksudmu... Taehyung?"
Jungkook hanya terdiam mendengar pertanyaan Jimin. Ia masih asik menguliti kedua lengan Jimin. Jimin perlahan terkekeh begitu ia sadar kalau ia mati karena sahabatnya sendiri. Padahal ia baru saja janji pada Taehyung tidak akan mati, tapi ternyata dia mati hanya karena dia mendekati Taehyung.
"hei... bukankah... ini terlalu... berlebihan?"
"tidak. Ini wajar. Ini benar. Taehyung itu milikku. Dia milikku, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya" ucap Jungkook sambil menguliti leher Jimin.
Jimin hanya tersenyum mendengar jawaban Jungkook. Ini benar-benar salahnya, seharusnya ia tidak begitu over pada Taehyung. Jungkook mengambil sebuah garpu kemudian menusukkannya pada satu mata Jimin. Jimin hanya bisa meringis kecil merasakan garpu tadi memutar bola matanya. Perlahan Jungkook menarik garpu itu hingga membuat bola mata Jimin ikut tertarik keluar.
"kunyah" titah Jungkook sambil menyodorkan bola nata di garpunya pada Jimin.
"tidak..."
Tanpa pikir panjang, Jungkook mengambil sebuah pedang dan segera menebas kaki Jimin yang tidak terikat. Jimin berteriak keras dan saat itu juga Jungkook memasukan bola mata itu kedalam mulut Jimin. Jungkook menjepit kedua bibir Jimin dan segera menusukan besi panjang dengan pola zig-zag. Jimin kembali meringis merasakan perih pada bibirnya. Darah segar segera mengalir ke wajahnya. Jungkook hanya tersenyum melihat pemandangan didepannya.
Jungkook mengambil sebuah pisau lipat. Ia kemudian merobek baju Jimin. Ia segera membuat sebuah luka lebar. Jungkook memperhatikan seluruh isi organ dalam Jimin. Ia menyingkirkan semuanya dan seperti sebelumnya, ia mengambil sedikit tulang rusuk Jimin. Jungkook kemudian menarik sebuah bak besar beroda yang berwarna hitam legam. Didalamnya ada sebuah cairan tar. Jungkook meletakan bak itu di bawah kepala Jimin kemudian menyalakan api di bawahnya. Jungkook memperhatikan cairan itu yang mulai mendidih. Dengan cepat Jungkook menurunkan tali yang nengikat kaki Jimin. Ia memperhatikan bercak-bercak darah yang keluar saat cairan tar itu menggolak-golak. Jungkook mengecek ponselnya dan segera berlalu dari tempat itu.
TBC
RnR juseyooo :3
