The Return Of Superman
Eps. 3
Cast:
Junmyeon family
Sehun family
Jongdae family
Chanyeol family
Jongin family
Kris family
*Daegu, Keluarga Dae.
Jongdae, Minhye, dan Jongseok sampai di les vokal, tempat Minhye melatih vokalnya. Jongdae membiarkan Minhye berjalan terlebih dulu, sedangkan dirinya menggandeng Jongseok dengan tangan kanannya.
"Annyeonghaseo!" Minhye dan Jongseok membungkuk dengan hormat. Dan dibalas senyuman oleh para staff.
"Mereka sangat sopan! Tak heran bukan?! Mereka anak dari seorang Jongdae."
Sepanjang perjalanan Minhye dan Jongseok sibuk memberi salam dengan sopan, kepada para staff yang berpapasan dengan mereka.
"Eoh! Direktur?" seruan seorang staff membuat Jongdae membulatkan matanya.
"Tunggu!"
"Annyeonghaseo direktur!" staff tersebut membungkukkan badannya kepada difpan Jongdae.
"DIREKTUR?"
"Ahh, yaaa! Tolong jangan memanggilku direktur!" Jongdae membalas bungkukan sang staff.
*WAWANCARA JONGDAE ON.*
"Aku pemilik tempat itu, hehe." Jongdae tertawa ringan.
"Kenapa kau tidak ingin di panggil direktur oleh para staff mu?"
"Sebenarnya, mereka bebas memanggilku apa saja! Tapi saat bersama anakku aku tak ingin mereka memanggilku direktur."
"Karena, aku datang sebagai wali dari salah satu murid disana, bukan sebagai pimpinan mereka. Aku juga melarang mereka memberikan perlakuan khusus kepada Minseok, maupun anakku."
"Dan juga, aku tidak ingin Minhye tahu bahwa ayahnya pemilik tempat dia les vokal. Alasanku, aku ingin Minhye dapat bersosialisasi tanpa ada skat derajat. Ini juga, agar mereka tak merasa tinggi hati."
"Kapan kau mulai mendaftarkan Minhye kesini?!"
"Minhye mulai menunjukkan bakatnya dalam bermusik saat ia ber-usia 2,5 tahun. Namun, aku dan Minseok mendaftarkannya saat dia ber-usia 3,5 tahun. Aku rasa umur 3,5 tahun adalah umur yang sudah matang untuk bersosialisasi dengan sekitarnya."
"Dalam kurun waktu 1,5 tahun ini, apakah Minhye sudah banyak mengalami kemajuan?"
"Dia tipe anak yang mudah mempelajari sesuatu dengan baik. Menurutku, diusianya yang masih cukup dini ini, dia banyak mengalami kemajuan pesat."
"Dia bahkan menjadi anggota termuda dalam acara pentas yang diadakan tempat les vokal tersebut. Dan tentu sebagai ayahnya aku sangat bangga pada putriku."
"Apa kau juga akan mendaftarkan Jongseok kesini?"
"Tentu! Jika dia menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Namun, kurasa dia mempunyai bakat dibidang lain." Jongdae menjawabnya dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya.
*WAWANCARA JONGDAE OFF.*
Kelas melatih vokal Minhye akan dimulai. Jongdae mengandeng Minhye dan tangan satunya menggendong Jongseok, mendekati pintu masuk kelas tersebut.
"Masuklah! Appa dan Jongseok akan menunggu disini eoh?!" Minhye mengangguk dan berjalan memasuki kelas tersebut.
Namun, belum sampai didalam ruangan. Minhye berbalik kemudian berlari menghampiri Jongdae yang masih ditempat.
"APPAAAAAA!" Minhye berlari sambil merentangkan tangannya. Jongdae singgap mengambil posisi berjongkok, dan merentangkan tangannya.
"Ada apa ini?!"
Kini Minhye sudah berada dipelukan Jongdae.
"Kenapa eoh!?" Jongdae mengelus punggung sang anak dengan lembut.
"Aku hanya senang diantar Appa hari ini!" jawab Minhye khas anak-anak.
"Aaaaaaaaa! Jongdae pasti terharu, aku yakin!"
"Eoh? Appa juga senang mengantar Minhye hari ini." Jongdae tetap mengelus punggung sang anak.
"Poppo!" seperti yang Minhye mau, Jongdae memberikan ciuman dibibir Minhye.
"Inilah kenapa semua orang ingin punya anak perempuan!"
"Seokkie, nunna poppo!" Minhye mendekatkan kepalanya ke wajah Jongseok.
"Tidak mau!" Jongseok memalingkan wajahnya. Jongdae tertawa dengan tingkah Jongseok.
"Dia tidak mau! Hahahahahahaha."
"Aigoo! Kau sudah besar yaa!" Minhye beralih mengelus kepala Jongseok dengan lembut. Jongdae yang melihatpun hanya tersenyum bodoh.
"Apa-apaan lagi dengan ekspresi Jongdae?!"
"Aku akan kembali eoh!" Minhye mulai meninggalkan Jongdae dan Jongseok.
"Nunna Fighting!" Jongseok mengepalkan tanyanya keatas, sebagai penyemangat Minhye.
"AIGOOO! MEREKA SANGAT MANIS!"
"Eohhh! Jaga Appa, Jongseok-aa." Jongseok mengangguk patuh, atas ucapaan Minhye. Jongdae hanya melihat interaksi mereka dengan senyuman bangga.
.
.
.
.
Jongdae melihat Minhye melatih vokalnya dari kaca jendela luar kelas. Disana minhye terlihat serius melatih vokalnya, namun tetap dengan gaya khas anak-anak.
"Tolong siapapun! Hentikan wajah bodoh itu dari wajah Jongdae."
Dapat dilihat dari raut wajah, Jongdae sangat bangga kepada anak sulungnya sekarang yang tengah berbaris berjajar dengan teman-temannya di ruangan tersebut.
"Hey! Lalu dimana Jongseok?"
Disini Jongseok bersama para staff perempuan yang mengelilinginya. Para staff tersebut terus memberi kudapan seperti coklat, jelly, permen dan sebagainya.
"Hahahahaha, bagaimana bisa Jongdae melupakan anaknya yang lain eoh!"
"Berapa usia mu eoh?" Jongseok menunjukan tiga jadinya keatas untuk menjawab pertanyaan staaf tersebut.
"Aigooo!" staff tersebut mencubit pipi gembul Jongseok.
"Menurut mu aku pantas dipanggil Nunna atau Bibi?"
"Aku yakin pasti Nunna."
"Bibi." Ucap Jongseok polos.
"AHAHAHAHAHAHA! Ku kira dia akan mengoda staff tersebut."
"Hahaha, kenapa bibi?! Bukankah aku masih terlihat muda eoh!?"
"Nunna hanya untuk Minhye Nunna."
"Aaaaa, begitukah?! Jadi panggilan itu hanya untuk kakaknya!"
"Begitukah?" Jongseok mengangguk.
"Aku harus kembali ke Appa! Terimakasih atas makanannya." Jongseok membungkukkan badan laku pergi menuju sang Ayah.
.
.
.
.
Jam istirahat dimulai. Minhye dan teman-temannya berpindah ruangan, ke ruangan yang dipenuhi mainan. Semua anak bermain dengan lincahnya, tak terkecuali Minhye.
Setelah mencoba beberapa permainan, kini Minhye duduk disamping kotak yang didalamnya terdapat banyak boneka.
"Annyeong Minhye-ya! Bolehkah aku bergabung dengan mu?" ucap seorang anak gadis berkuncir kuda.
"Aku juga!" kali ini teman dari si kuncir kuda yang bersuara.
"Eoh! Duduklah, aku akan mencarikan boneka untuk kalian."
"Sudah ku duga reaksi Minhye akan seperti ini."
"Ini untuk Hyera!" Minhye memberikan boneka anjing kepada gadis berkuncir kuda.
"Dan ini untuk Chaebin!" Minhye memberikan satu boneka lagi untuk temannya yang lain.
Mereka akhirnya bermain dengan manis dengan boneka mereka masing-masing. Sesekali mereka bercanda menggunakan boneka mereka.
"Mereka terlihat sangat serasi."
Setelah mereka bosan dengan boneka yang mereka punya, kini mereka berjalan meninggalkan tempat tesebut, setelah sebelumnya mereka merapikan tempat tersebut.
"Ayo bermain lego!" ucap Hyera.
"Ayo!" mereka pun berlari menuju tempat lego yang berada di pojok ruangan tersebut.
"Aku ingin warna pink!" Chaebin mulai memilah-milah balokan lego yang berwarna pink.
"Aku biru!" Minhye pun mulai memilah balok lego berwarna biru.
"Hyera-ya kau harus memakai warna kuning! Itu cocok denganmu."
Merekapun mulai merakit lego mereka dengan sangat tenang.
"Aku akan memberikannya kepada Jongseok!" ucap Minhye sambil terus merakit lego nya.
"Jongseok menyukai warna biru."
"Aaaa! Minhye selalu memikirkan Jongseok, dan Jongseok selalu memikirkan Minhye. Jongdae dan Minseok mendidik mereka dengan sangat baik."
"Heyy, Hyera-ya! Kau harusnya hanya mengambil warna kuning. Kenapa kau mengambil punya ku eoh?!" Chaebin mengambil balok lego yang sempat diambil oleh Hyera.
"Tidak! Aku tidak suka warna kuning." Hyera merebut kembali lego berwarna pink tersebut.
"Ohh, ini yang aku takutkan ketika beberapa anak perempuan bermain bersama."
"Tapi kau tadi sudah menyetujuinya."
"Aku tidak bilang apapun! Aku tidak menyukai kuning."
Minhye hanya melihat pertengkaran antar temannya itu hanya diam.
"Eumm, Chaebin-a, Minhye-ya! Bagaimana jika kita berbagi satu sama lain?" mulai menengahi perbedatan temannya tersebut.
Jongdae yang melihatnya dari kaca pun hanya tersenyum bangga pada anak sulungnya tersebut.
"Kau bisa mengambil punyaku juga!" Minhye mulai membagikan lego punya nya kepada Hyera.
"Minhye sangat bijaksana, mungkin karena dia kakak."
Mereka pun kini mulai bermain dengan damai lagi setelah terjadi perdebatan kecil diantaranya.
.
.
.
.
"APPA!" Minhye berlari menuju Jongdae setelah menyelesaikan semua latihannya hari ini. Jongdae pun menyambutnya dengan pelukan hangat, dengan Jongseok yang berada di pelukkannya.
"Ini bukan syuting film kan?!"
"Appa! Aku membuatkan ini untuk Jongseok." Minhye memberikan sebuah lego yang entah berbentuk apa itu kepada sang Ayah.
"Eoh! Ini Bagus, bagaimana kau membuatnya eoh?"
"Aku membuatnya bersama temanku, Jongseok pasti menyukainya."
"Tapi kenapa ini berwarna biru dan kuning? Bukankah warna kesukaan Jongseok biru?!"
"Tidak! Jongseok juga menyukai warna kuning." Jongdae tersenyum mendengar jawaban Minhye.
"Ini hebat! Minhye tidak berbicara apapun kepada Jongdae tentang perdebatan tadi."
"Kau menyukainya Jongseok?" Jongdae bertanya kepada Jongseok yang sekarang terfokus dengan lego tersebut.
"Eumm! Makasih Nunna." Jongseok memberikan pelukan kepada Minhye, dan dibalas pelukan oleh Minhye.
"Eoh! Cepat lah besar eoh!" Minhye mengusak rambut Jongseok lembut. Jongdae tersenyum melihat interaksi kedua anaknya tersebut.
.
.
.
.
.
*Incheon, 06.00.*
Pagi masih gelap di musim semi menyambut kota Incheon. Sebuah rumah yang luas dengan interior serba putih dengan perabotan yang cukup lengkap dan rapi, dan tirai-tirai yang belum dibuka oleh si empunya rumah. Jika dilihat-lihat ini adalah ruang tengah tempat keluarga tersebut berkumpul, bermain, maupun menonton TV.
"Apakah ini keluarga baru?!"
Kamera beralih ke susunan foto-foto yang terpajang rapi disisi lain ruangan tersebut. Telihat sebuah foto bayi berbaju putih dengan senyuman yang sangat lebar.
"Wajah bayi ini mengingatkanku pada seseorang."
Lalu kamera beralih kembali ke satu foto lain yang terpajang tak jauh dari foto bayi berbaju putih tersebut. Foto itu juga menunjukan sebuah bayi namun dengan pakaian berwarna pink yang sangat cantik.
Kini kamera menunjukan sebuah kamar yang cukup besar, dengan dua pasang pria dan wanita tengah tertidur lelap di ranjang yang juga cukup besar.
"Oke! Aku sekarang mulai tau siapa keluarga ini."
Tak lama kemudian pria dari salah satu dari pasangan suami istri tersebut terganggu tidurnya dan memutuskan untuk bangun. Ia mengusak rambut hitam legamnya, ia mulai mengamati sekelilingnya, dan dilihatnya sang istri yang berada disampingnya tengah tertidur dengan lelapnya.
Dia lalu memutuskan untuk membenarkan letak selimut sang istri, dan mulai beranjak dari ranjang untuk keluar kamar. Namun, sebelum benar-benar keluar dari kamar pria tersebut memilih menyapa salah satu kamera yang berada dikamarnya.
"Annyeonghaseyo!"
"Tebakanku benar! INI KELUARGA PARK CHANYEOL."
.
.
.
*Keluarga Park Chanyeol! Seorang pria yang membuat jutaan gadis patah hati, setelah ia memutuskan untuk menikahi sang kekasih Byun Baekhyun pada 5 tahun yang lalu. Pasangan ini cukup dikenal publik, bagaimana tidak?! Seorang Park Chanyeol sering membuat kejutan-kejutan manis kepada sang pasangan, hingga disebut boyfriend material. Kini boyfriend material untuk beberapa tahun lalu inipun sudah menjadi Daddy material bagi dua pasang anak yang berwajah menggemaskan. Park Chanhyun, yang lahir 4 tahun lalu. Dan Park Jiwon yang lahir 18 bulan yang lalu. Keluarga ini menjadi family goals bagi masyarakat korea saat ini. Namun, dapatkah Daddy material ini menjadi superman bagi dua anaknya nanti?*.
.
.
.
Chanyeol berjalan menuju dapur dengan mata yang belum terbuka sempurna dan rambut yang acak-acakan.
"Lihatlah rambutnya! Begini yang dulu dikatakan boyfriend material?! Hahaha."
Chanyeol mencuci wajahnya di wastafel dapur dengan sangat kasar, dan sedikit membasahi rambutnya dengan air yang keluar dari kran wastafel tersebut.
"Bahkan dia membasuh wajah di wastafel dapur?! Aku tak percaya ini."
Chanyeol menyelesaikan kegiatan membasuh wajah dan rambutnya, lalu berjalan menuju kulkas yang tak jauh dari tempatnya membasuh wajah. Dibukanya kulkas tersebut.
"Apa yang harus dimasak hari ini?!" Chanyeol tetap mmengobra-abrik isi kulkas.
"Aku kehabisan bahan makanan."
Chanyeol lalu pergi dari tempat itu, dan menuju ruangan yang tadi menjadi tempatnya tidur. Ia lalu menaiki ranjang dan memeluk sang istri, sesekali kecupan diberikan kepada sang istri agar istrinya terbangun.
"Ohh, ini sangat tidak pantas untuk disiarkan di televisi Park Chanyeol-ssi!" *menggerutu.
"Sayang!" Chanyeol tetap pada posisinya yang memeluk sang Istri, dan mengelus-elus kepala sang Istri.
"Hmm!" Baekhyun menyahut ucapan Chanyeol.
"Kau membasuh rambutmu eoh?" Baekhyun melihat rambut Chanyeol yang sedikit basah.
"Eoh!" Baekhyun tertawa mendengar jawaban Chanyeol.
"Bisakah kau keswalayan!? Kita kehabisan bahan makanan." Chanyeol mulai menyampaikan apa yang ingin Ia sampaikan tadi.
"Baiklah! Aku akan keswalayan." Baekhyun mulai beranjak dari ranjang, dan bersiap untuk ke swalayan.
.
.
.
Kini Baekhyun sudah berada didepan pintu, Chanyeol sedang membenarkan letak mantel Baekhyun agar sedikit membuat Baekhyun hangat.
"Ini bukanlah program acara we got married permirsa."
Setelah selesai membenarkan mantel Baekhyun, Chanyeol kemudian memeluk sang Istri.
"Jika Jiwon bangun, buatkan susu seperti biasa!"
"Eoh!"
"Baiklah! Aku berangkat." Baekhyun memberikan kucupan ringan dipipi Chanyeol.
"Hati-hati eoh!" Baekhyun menganggukan kepala sebagai jawaban kepada sang Suami.
.
.
.
Chanyeol kini duduk diruang tengah dengan mengadahkan kepalanya. Karena bosan, sekarang Chanyeol mulai memainkan puzzle milik Chanyun yang berserakan di karpet ruangan tersebut. Namun, itu belum bisa mengusir kebosanan yang ia rasakan. Dan kini ia kembali duduk dan mengadahkan kepalanya.
*Clekkk...
"Oh! Chanyun bangun." Chanyeol bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan menuju kamar sang anak.
Disana terlihat seorang anak dengan wajah 100% diwariskan dari sang ayah. Chanhyun berdiri didaun pintu dan terlihat sedikit terkejut dengan kamera-kamera yang tersebar dirumahnya.
"Chanhyun-a! Kau sudah bangun." Chanhyun yang merasa dipanggilpun menoleh ke sumber suara.
"DADDY!" Chanhyun berlari menuju sang Ayah. Dan disambut pelukan, dan gendongan dari sang ayah.
Kini Chanhyun berada di gendongan Chanyeol, kemudian langkah kaki Chanyeol membawanya kekamar mandi untuk membasuh wajah anak sulungnya tersebut. Di letakannya Chanhyun sebuah balok kayu depan wastafel kamar mandi tersebut Chanyeol pun mulai membasuh wajah Chanhyun dengan basuhan yang lembut.
Kegiatan Chanyeol berhenti sejenak setelah melihat anak sulungnya tersebut, seperti menahan sesuatu. "Apakah menyakitkan?"
"Tidak, ini terasa sedikit dingin." Chanhyun mengusap lelehan air yang tertinggal dari basuhan Chanyeol.
"Benarkah?" Chanhyun mengangguk sebagai jawaban untuk sang Ayah, sambil terus mengusap wajahnya agar tak ada air yang tersisa diwajahnya. "Daddy, apakah ini sudah selesai?"
"Ehmm, sudah." Chanhyun turun dari balokan kayu, kemudian mulai meninggalkan kamar mandi sambil berlari.
Langkah kaki kecilnya pun membawa Chanhyun ke ruang tengah. Namun, lagi-lagi langkah lari tiba-tiba berhenti secara mendadak, saat melihat rumah-rumah kecil lain berada di rumahnya. Pandangannya menelusuri segala sisi ruangan tersebut, dengan pandangan aneh dia mulai menerka-nerka apa yang tengah terjadi di rumahnya.
"Daddy, kemana Mommy?" Chanhyun berbalik badan, disana Chanyeol juga tengah berjalan sejalalan dengannya.
"Mommy? Mommy berbelanja makanan untuk kita."
Kemudian Chanyeol memilih untuk berjalan dan mendudukan dirinya di sofa ruangan tersebut, dengan Chanhyun yang mengekor dibelakangnya."Lalu siapa paman yang ada di rumah itu?"
"Itu teman Daddy. Kau mau berteman dengan teman Daddy? Mereka tidak jahat, mereka akan disini untuk beberapa waktu. Kau mau menyapanya?"
"Daddy bantu aku menyapa teman daddy." Chanhyun berbisik ke telinga Chanyeol. Dan Chanyeol menyanggupi keinginan sang anak.
"Dia merencanakan sesuatu."
Lalu Chanyeol beralih ke dapur tengah menyiapkan sesuatu disana. Dia tentunya tidak sendiri, disana ada Chanhyun yang Setia disampingnya dengan menaiki kursi pendek.
"Bukankah tanggannya sangat lihai mempersiapkan sesuatu!? Aku penasaran sebenarnya Chanyeol itu apa!? Dia bisa segalanya."
Setelah selesai, Chanhyun membawa semangkuk kudapan yang tadi disiapkan oleh Chanyeol dan diberikan kepada satu persatu kameramen yang ada disana dengan tingkah manisnya.
"Awwwwww! Jadi dia menyambut semua kameramen dengan kudapan."
Setelah semua kameramen mendapat kudapannya, Chanhyun kemudian duduk manis ditengah ruangan tadi lalu menyantap sisa kudapan yang disiapkan oleh Chanyeol. Dan Chanyeol hanya melihat tingkah sang anak dari meja makan, tak jauh dari tempat Chanhyun menyantap kudapannya.
Kamera beralih ke sebuah kamar dengan sedikit pencahayaan disana, disebuah kasur mini terdapat seorang anak perempuan dengan cantiknya terlelap. Lalu beberapa saat tubuh anak tersebut terdikit tersentak.
"Eoh, dia bangun! Dia bangun!"
Benar saja anak tersebut tiba-tiba bangun dengan sendirinya, lalu melihat ke sekitarnya. Ia merasa asing dengan kamera dan rumah kecil dikamarnya.
"Hiks…. Hiks…" anak tersebut mulai menangis.
Chanyeol yang kebetulan melewati ruangan tersebutpun memasuki ruangan tersebut, dihampiri ranjang sang anak bungsunya tersebut lalu menggendong putri cantik nya tersebut.
"Tidak apa-apa Jiwonie! Daddy disini." ucap chanyeol sambil menenangkan sang anak. Perlahan dan tangisan Jiwon mulai mereda.
Setelah tenang Chanyeol membawa Jiwon kekamar mandi untuk membasuh wajah Jiwon. Berbeda dengan Chanhyun, Jiwon cukup tenang saat dibasuh wajahnya.
"Sepertinya mereka mengajari membasuh wajah setelah mandi sejak dini kepada kedua anaknya."
Selesai membasuh wajah, Chanyeol lantas membawa putri kecilnya menuju ruangan tengah yang Chanhyun juga berada disana. Chanyeol duduk sambil terus menepuk-nepuk punggung putrinya tersebut, sambil menyanyikan lagu yang menenangkan. Sementara Jiwon hanya menatap keluar jendela apartemennya.
"Aku melihat sisi lain dari Park Chanyeol."
Sementara Chanhyun sedang sibuk didapur. Dia menyiapkan susu untuk adik tercintanya.
"Bukankah keluarga ini membuat semenanjung korea iri eoh?!"
Chanhyun lalu berlari menuju sang Ayah dan memberikan susu tersebut, Chanyeol menggapainya dan memberikannya kepada Jiwon.
Setelah Jiwon kenyang dengan susunya, Chanyeol mengajak mereka untuk bermain-main kecil dengan kedua buah hatinya. Chanyeol mengangkat Jiwon dilehernya, sedangkan Chanhyun berlarian di lantai.
"Ayo tangkap oppa!" Chanyeol terus mengejar Chanhyun yang mencoba melarikan diri. Sedangkan Jiwon tertawa terbahak-bahak dengan permainan ini.
Tak lama kemudian pintu apartemen mereka terbuka. "Eoh! Mommy datang!" Chanyeol yang memang sedikit lelahpun bisa tersenyum lega.
Chanhyun mulai mendekati pintu dan diikuti Jiwon dibelakangnya.
"Mommy!" seru Chanhyun.
"Uri Chanhyun-ie! Uri Jiwon-ie!" Baekhyun merentangkan tangannya lalu disambut pelukan oleh keduannya.
"Tolong siapapun! Hentikan senyuman manis Baekhyun disini!"
"Apakah tidur kalian nyenyak eoh?!"
"Eoh! Mommy, tadi malam aku bermimpi aku mempunyai mainan dino yang baru."
"Benarkah!?" Baekhyun mulai memasuki apartemennya, setelah Chanyeol membawa semua belajaannya kedapur.
Baekhyun lalu bermain-main dengan buah hatinya, sedangkan Chanyeol lagi-lagi tengah mempersiapkan sesuatu didapurnya.
"Sebentar!? Mengapa Chanyeol hobi sekali didapur!?"
.
.
.
*WAWANCARA KELUARGA CHANYEOL ON"
"ANNYEONGHASEYO! KAMI DARI KELUARGA CHANYEOL, HEHE." seru Keluarga ini, namun Chanhyun yang lebih mendominasi.
"Kemungkinan banyak orang yang telah mengenal kami, tapi banyak hal yang tidak terlihat diluaran sana. Jadi mohon dukungannya!" Chanyeol dan Baekhyun membungkuk dalam duduknya. Sedangkan Chanhyun yang berada dipangkuan Chanyeol tengah asyik memainkan toben, anjing kesayangan keluarga tersebut.
"Bisa ceritakan awal pertemuan kalian?!"
"Aku mempunyai seorang kakak perempuan, semua pasti tau bukan!? Setelah kakakku itu menikah dan mempunyai bayi, aku selalu dikenalkan dengan teman kerjanya yang kebetulan mengunjungi kakakku yang baru saja melahirkan." Chanyeol sedikit kerepotan dengan pergerakan Chanhyun dipangkuannya, namun Chanhyun juga keperotan dengan pergerakan toben yang juga dipangkuannya.
"Pada saat itu aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau tentang percintaan, lalu lambat laun kakakku mulai lelah dengan menjodohkanku dengan para temannya. Lalu beberapa bulan kemudian, Baekhyun datang sebagai salah satu junior kakakku dikantornya. Saat itu aku langsung jatuh Cinta untuk pandangan pertama padanya. Kami lalu mulai bertukar telepon, dan pesan setelah itu." tambah Chanyeol.
"Bahkan, kita berdua saling memberi alasan agar bisa bertemu dirumah masing-masing. Tanpa sadar hubungan seperti itu kita lalui selama lebih dari 3 tahun." Baekhyun mulai menjelaskan.
"Setelah banyak hal yang kita lalui bersama tanpa suatu ikatan, aku melamarnya." ucap Chanyeol bangga.
"Kau langsung melamarnya tanpa berkencan dulu!?"
Chanyeol mengangguk. "Aku rasa dulu aku terlalu menjadi pengecut untuk menyatakan Cinta, dan setelah masukan dari kakak dan ibu, aku langsung melamarnya."
"Kalian mempunyai dua anak dengan selisih umur yang cukup dekat, bagaimana kalian mengurus mereka!?"
"Itu tidaklah sulit, kami akan membagi waktu bermain ataupun waktu yang lainya secara berkala. Mungkin ini terdengar seperti jawaban klasik bagi sebagaian orang, namun ini yang memang kami terapkan. Jika Chanyeol lelah setelah berkerja, maka aku akan menjaga anak-anak."
"Sejujurnya, aku tidak bisa memasak. Maka dari itu yang berada didapur adalah Chanyeol, sedangkan urusan membereskan rumah adalah urusanku, namun terkadang Chanyeol lebih pandai merapikan rumah dari pada aku. Itulah kenapa terkadang aku merasa bersyukur sekaligus merasa bersalah kepadanya. Sebagai istri aku tidak bisa belajar lebih baik lagi."
"Sebenarnya itu juga tidak masalah! Terkadang aku juga mereka bersalah dengannya yang diumurnya yang masih belia sudah memiliki dua anak yang sangat susah untuk dirawat sendiri saat aku berkerja. Terimakasih susah menjadi istriku Baekhyun-ah!" Chanyeol membawa Baekhyun kepelukannya. Kedua sejoli tersebut memamerkan kemesraannya kembali.
*WAWANCARAKELUARGACHANYEOLOFF*
.
.
.
Keluarga Chanyeol menikmati sarapan paginya dengan nikmat, Chanhyun duduk dihapadan Baekhyun, sedangkan Baekhyun menyuapi Jiwon yang belum bisa memegang makanannya sendiri. Dan Chanyeol duduk disebelah Chanhyun sambil sesekali merapikan sisa makannya yang ada diwajah Chanhyun.
"Chanhyun-ah, dua hari ini kau ada bersama Daddy tanpa Mommy. Bagaimana perasaanmu?!" ucap Chanyeol sambil mengelap sisi mulut Chanhyun.
"Bagaimana dengan Jiwon?!"
"Jiwon akan ikut kita."
"Memangnya Mommy mau kemana!?" Chanhyun tetap mengaduk-ngaduk makanannya.
"Mommy akan berlibur sendiri." Baekhyun mulai membantu Chanyeol untuk menjawab sang anak.
"Apakah Mommy mendapat tiket berlibur dari paman santa karena Mommy menjadi anak yang baik!?"
"Hmmm, Mommy mendapatkan tiketnya. Itu karena Mommy selalu menghabiskan makanan, tidak berbohong, dan sopan kepada semua orang."
"Baiklah aku akan seperti itu agar paman santa memberikan tiket berlibur." ucap Chanhyun sambil mengangkat tinggi-tinggi tangannya.
"AIGOOOO!"
"Oppa! Hari ini Jiwon harus mendapatkan vaksin. Tolong bawa diklinik seperti biasa. Dia tidak akan rewel jika dia tidak melihat jarum suntiknya."
"Baiklah!"
Dan itulah pagi cerah keluarga Chanyeol
"SAMPAI JUMPA DICHAPTER SELANJUTNYA."
.
.
.
.
.
.
.
.
_TBC_
HAI! HAI! HAI! MUNGKIN BANYAK BANGET YANG BERPIKIR KOK ENGGAK UPDET UPDET YAA NIN FF?! Oke sekarang aku bakal kasih tau alesannya. Yang pertama, aku lupa email aku, dan itu udah salah hampir 20 kali, dan disuruh nunggu 45 hari biar semuanya pulih. Yang kedua, di real life aku sebenarnya sedikit sibuk sih, karna harus mempersiapkan masa depan gitu. Bukan menikah yaaa! Yang ketiga, semua chapter yang udah aku tulis sampek chapter 12 ilang semua, alhasil harus mulai dari awal. Tapi nggak apa! Demi hasrat buat ff ini, aku bakal ngelanjutin sampek end kalo enggak ada halangan.
MAKASIH YANG UDAH BACA, REVIEW, FOLLOW, FAVORIT DAN SEBAGAINYA. AKU SENENG BANGET SAMA DUKUBGAB KALIAN. TERUS DUKUNG FF INI YAA, BIAR AKU MAKIN SEMABGAT NULISNYA. KECUP KECUP UNTUK SEMUANYAAAAAAAA.
And sorry for typo.
.
.
.
.
SAMPAI JUMPA DICHAPTER DEPAN.
SEKEDAR SPOILER, CHAPTER DEPAN AKAN ADA SEDIKIT INSIDEN YANG MENIMPA SI KEMBAR OH.
