Russia
By. Curly
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, typo, flow velocity, non-standard language, etc.
Don't like, don't read.
.
.
.
Chapter 3: That Crazy Day
"Ini adalah ide yang buruk."
"Jangan begitu, Neji. Berilah Hinata kesempatan untuk menikmati hidupnya."
"Aku tidak begitu percaya pada Gaara, Ino. Bagaimana jika Hinata sakit?" Neji menghela napas. Sudah dua minggu sejak kepergian Gaara dan Hinata. Selama itu juga Neji tidak pernah tidur dengan tenang. Ia selalu khawatir pada kesehatan Hinata.
"Apa yang akan ia lakukan?"
.
Meanwhile…
.
"Hinata…" Gaara menggoyangkan bahu Hinata.
"Hinata," panggil Gaara lagi.
Hinata menggeliat karena tidurnya yang terganggu.
"Hey, bangunlah. Kau sakit," ujar Gaara.
Gaara menghela napas tidak mendapat respon dari Hinata. Ia tidak mempersiapkan diri untuk ini. Ia tidak pernah mempertimbangkan bahwa Hinata akan sakit. Padahal, kemarin Hinata terlihat baik-baik saja.
"Hinata," panggil Gaara lagi. Ia menggoyangkan bahu Hinata.
"Hm?" Hinata merespon dalam tidurnya.
Gaara menghela napas lega. "Bangunlah, kau sakit."
Hinata membuka matanya lalu berbalik ke arah Gaara. "Sakit apa?" tanya Hinata.
"Kau demam," jawab Gaara. Ia lalu turun dari tempat tidur untuk mengambil segelas air putih. "Minumlah," ujar Gaara sambil menyodorkan gelas tersebut ke arah Hinata. "Yang banyak," lanjutnya.
Hinata duduk lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Ia mengambil gelas dari tangan Gaara lalu meminum airnya sedikit demi sedikit.
"Yang banyak," ujar Gaara lagi dengan nada memerintah.
Hinata menatap Gaara sinis. Apa Gaara tidak pernah merawat orang yang sakit? Sungguh menyebalkan. Hinata berjanji pada dirinya agar tidak menikahi Gaara, karena ia yakin, sangat yakin, anaknya tidak akan selamat dalam dua hari jika diurus oleh Gaara.
Gaara tidak menghiraukan tatapan sinis Hinata lalu menyelipkan bantal antara tubuh Hinata dan sandaran tempat tidur agar Hinata merasa nyaman. Setelah itu, ia berjalan menuju tas nya lalu mengambil ponselnya.
"Untuk apa?" tanya Hinata. Bukankah Gaara seharusnya memberikannya obat?
"Menelpon Neji," jawab Gaara sambil menekan kombinasi angka sebelum menaruh ponsel itu di telinganya.
Hinata mengernyit. Ia menyadari bahwa Gaara tidak memiliki masa depan yang cerah. Ingin sekali Hinata melemparkan gelas di tangannya ke kepala Gaara agar pikirannya sedikit jernih. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya setelah memikirkan akibat dari lemparannya.
"Hinata sakit," ujar Gaara setelah nada tunggu berubah menjadi suara Neji, sang penerima telepon.
'TUT'
Hinata menatap Gaara bingung saat Gaara sudah meletakkan ponselnya di nakas. "Kenapa? Neji-nii bilang apa?" tanya Hinata.
"Dia tidak bilang apa-apa. Sepertinya pingsan," jawab Gaara lalu merebahkan tubuhnya di samping Hinata.
.
…
.
"Neji! Neji!" Naruto menendang-nendang wajah Neji yang tidak sadarkan diri.
"Naruto! Berhenti menendang wajahnya!" seru Tenten marah. Ia mengambil segelas air dari dapur lalu berjalan menuju Neji.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa meninggal?" tanya Kiba yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dia tidak meninggal, Bodoh!" sekali lagi Tenten berseru marah melihat teman-temannya melakukan hal yang tidak senonoh pada Neji.
"Aku tidak tahu, setelah dia menerima telepon, tiba-tiba saja dia seperti ini!" Naruto menjawab pertanyaan Kiba sambil menunjuk wajah Neji dengan jempol kakinya.
"Naruto!"
"Astaga, injak saja pasti dia akan sadar," ujar Kiba yang dibalas dengan lemparan buku tebal di wajahnya. Pelaku: Tenten.
"Berhenti mengganggunya," Tenten mengusir kedua temannya yang memiliki kepintaran di bawah rata-rata lalu menghembuskan napas sebal.
'BYUR'
"Hinata!"
"Aku pikir Tenten akan membangunkannya lalu memberinya air," ujar Naruto pada Kiba yang sedang mengeringkan rambut cokelatnya, sambil sesekali mengusap-usap bagian kepalanya yang terkena buku. "Kita salah."
"Kita? Loe aja kale!" ujar Kiba lebay yang membuat Naruto memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
Mungkin otak Kiba sedikit bergeser akibat lemparan buku tebal dari Tenten.
"Hinata kenapa?" Tenten ikut panik melihat wajah panik Neji.
"Hinata sakit!" seru Neji.
Tenten dengan segera menghilangkan raut paniknya dan memutar bola mata kesal. "Gaara bisa mengurusnya. Tidak perlu pakai acara pingsan," ujar Tenten kesal seraya bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Kali ini untuk diminum Neji.
Ia lalu kembali berjalan menuju Neji tanpa mengindahkan Naruto yang masih mual dan Kiba yang masih tetap berbicara dengan bahasa alay.
"Gaara menelponku," Neji meneguk habis air yang diberikan Tenten, "itu berarti dia bodoh," lanjutnya, lalu memberikan gelas kosong tersebut pada Tenten.
"Gaara bilang Hinata sakit apa?" tanya Ino yang baru saja datang dari perpustakaan setelah mendengar keributan di bawah. Sedikit mengerutkan kening melihat Kiba yang berjalan melewatinya menuju perpustakaan sambil berbicara alay.
"Tidak tahu, Neji keburu pingsan," ujar Naruto yang sudah mendapatkan kembali kekuatannya.
"Dia tidak bertanya padamu!" bentak Neji pada Naruto.
"Jadi?" Ino kembali bertanya.
"Tidak tahu, aku pingsan setelah mendengar Hinata sakit."
Ino menatap Neji dengan pandangan membunuh. Itu sama saja dengan jawaban Naruto tadi. Ino menghembuskan napas perlahan kemudian berkata, "Sini kutelpon ulang." Neji lalu menyerahkan telepon genggam miliknya pada Ino yang segera diterima oleh orang yang bersangkutan.
Gaara mengangkat telepon setelah nada dering kedua. "Hinata sakit apa?" Ino langsung to the point. "Hm, berikan obat demam, Bodoh, bukan menelpon," ujar Ino beberapa saat setelah Gaara menjawab pertanyaannya di telepon. "Yeah, yang itu, sudah, dah." Ino memutuskan sambungan.
"Hinata sakit apa?" Naruto bertanya tepat setelah Ino memutuskan sambungan.
"Hanya demam," jawab Ino lalu menatap Neji, "kau benar, dia bodoh."
Ino dan Tenten melangkah menuju dapur untuk membuat makan siang. Mereka tidak terlalu khawatir dengan Hinata, karena Gaara hanya sedikit bodoh. Mereka pasti akan baik-baik saja.
"Ada apa?" tanya Sakura yang baru saja datang karena dipanggil untuk membuat makan siang.
"Nanti saja, sekarang bantu kami," ujar Ino yang dibalas dengan anggukan Sakura.
.
.
.
.
.
.oO – Curly – Oo.
.
.
.
.
.
Gaara memainkan ponselnya sambil menunggu Hinata bangun. Sesekali ia menghampiri Hinata yang sedang tidur untuk mengecek keadaannya. Sesudah itu, ia akan kembali memainkan ponselnya di sofa.
Hinata tertidur setelah makan dan minum obat. Dengan terpaksa, Gaara berbicara pada staff hotel –yang dimusuhinya- untuk membawakan semangkuk bubur untuk Hinata dan satu paket sarapan untuk dirinya sendiri. Setelah makan dan membantu Hinata makan, Gaara menyuruh Hinata meminum obat yang diberitahu Ino saat di telepon tadi. Ia cukup terluka dipanggil 'bodoh', tapi ia harus bersikap dewasa, jadi ia memaafkan Ino dengan seperempat hatinya.
Gaara meneguk sebotol air sampai habis kemudian membuang sampahnya di lantai. Ia menyimpan ponselnya di nakas samping tempat tidur lalu beranjak menuju kamar mandi. Setelah menghabiskan waktu 15 menit berendam di air panas, Gaara keluar tanpa memakai apa-apa. Lagian Hinata tidur, jadi ia tidak perlu khawatir.
Gaara berjalan menuju lemari –yang bersebelahan dengan jendela- untuk mengambil pakaiannya. Saat sedang memilih-milih baju, ia mendengar teriakan seorang wanita dari bawah.
"Kyaaaaaaa…!" wanita itu kembali berteriak sembari memandang Gaara dengan tatapan horror. Gaara melihat keluar jendela, sekedar ingin mengetahui apa masalah wanita itu, yang membuat tubuhnya semakin terekspos.
Gaara lalu menyadari kesalahnnya. Ia menunduk, mengambil pakainnya dengan sembarangan, lalu memakainya di sisi lain kamar, yang jauh dari jendela terkutuk itu.
"Shit… Keperawananku…" Gaara berujar lirih sambil kembali mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Ia menyapukan tangannya ke seluruh tubuhnya seolah-olah meratapi nasib keperawanannya yang telah diambil.
Sekedar nasehat, buanglah sampah pada tempatnya, karena karma masih berlaku.
Setelah mengenakan pakaiannya, Gaara kembali berjalan menuju jendela, lalu menutup tirainya, menghalangi sinar matahari masuk. Gaara lalu menghampiri Hinata dan mengecek kedaannya.
"Sudah turun," ujarnya pelan saat merasakan suhu tubuh Hinata tidak setinggi tadi. Sejenak, Gaara tersenyum geli. Tinggi? Seharusnya ia menurunkan tangganya dari tadi. Gaara lalu tertawa kecil.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di samping Hinata dan menghela napas. Rasanya membosankan tanpa Hinata yang bisa ia goda. Selama dua minggu ini ia selalu menggoda Hinata dengan memanggilnya 'sayang' atau bertanya 'bagaimana keadaan bayiku hari ini?' lalu tertawa melihat reaksi Hinata. Gaara tersenyum mengingatnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hinata saat melihat senyum Gaara yang lebih mirip seringai.
Gaara menoleh ke arah Hinata sambil bertanya-tanya sejak kapan gadis itu bangun. "Memikirkanmu," jawab Gaara, "Sa. Yang." lanjutnya yang disusul dengan seringai paling jahat di wajahnya.
Hinata menatap Gaara dengan tatapan ngeri mendengar Gaara memanggilnya 'sayang'. Wajahnya merona saat Gaara tidak berhenti menatapnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Gaara.
Gaara terkekeh melihat tingkah Hinata.
"Mau kucium?" goda Gaara lagi.
Hinata bergidik ngeri mendengar pertanyaan Gaara. Sudah dua minggu ini ia lewati dengan Gaara yang berusaha menciumnya. Hampir pernah. Tapi tidak pernah benar-benar tercium, untungnya.
"Aku sakit. Jika kau menciumku kau juga akan sakit," ujar Hinata saat akhirnya mendapatkan ide –yang menurut Hinata- cemerlang untuk membalas Gaara.
Ia kembali membalikkan badannya menghadap Gaara. Selimut tebal dengan setia mengikuti pergerakannya.
Gaara menatap Hinata yang juga menatapnya. "Tidak apa-apa," ujarnya kemudian. "Yang penting istri dan anakku baik-baik saja."
Wajah Hinata merah dalam sekejab. "A-aku akan melaporkanmu pada Neji-nii," ujar Hinata. Ia bangkit dari tempat tidur dengan selimut yang masih membalut tubuhnya untuk mencari ponselnya.
"Mana ponselku?" tanya Hinata.
"Kau bawa?" Gaara balik bertanya.
Hinata terdiam sesaat untuk merenungi hidupnya.
Gaara mengambil ponselnya di nakas.
"Boleh kupinjam ponselmu?" tanya Hinata.
Gaara menatap Hinata dengan alis yang dinaikkan sebelah. "Hm," Gaara menatap ponselnya lalu kembali menatap Hinata sebelum berkata, "tidak."
Hinata berdecak kesal. "Aku mau mandi," ujar Hinata ketus.
"Kau lagi sakit, sebaiknya jangan dulu, Pintar," ujar Gaara dengan menekankan kata 'pintar'.
Hinata menoleh. "Jadi tidak mandi?"
Gaara menjadi kesal. "Kalau kau sakit, kau tetap mandi?" tanya Gaara yang dibalas dengan anggukan dari Hinata.
"Neji membiarkanmu?" tanya Gaara lagi.
Hinata diam berpikir. "Tidak, dia tidak tahu," ujarnya kemudian. "Kalau Neji-nii tahu dia akan marah, jadi tidak kuberitahu."
"Kau akan mendapat masalah setelah pulang dari sini," ujar Gaara lalu mulai mengutak-atik ponselnya.
"Ck," Hinata mendecak. "Apa yang tidak diketahuinya tidak akan membunuhnya," Hinata berujar kesal pada Gaara yang sedang memainkan ponselnya.
Gaara tidak memedulikan kekesalan Hinata. Ia sibuk membaca laporan cuaca. Sesaat ia merasakan Hinata kembali tidur disampingnya, melirik sebentar, dan ia hanya menemukan selimut tebal yang tadi dikenakan Hinata. Hinata sudah berada dalam kamar mandi.
"Sekarang hujan? Ini bahkan masih cerah," gumam Gaara. Ia kembali mengecek laporan cuaca dan menyadari bahwa settingnya masih di Jepang. Gaara merutuki kebodohannya sekaligus lega tidak ada yang menyadari.
"Hm, cerah tapi suhunya dingin." Gaara melihat jam sebelum meletakkan ponselnya di nakas.
Ia menutup matanya sejenak sembari memikirkan godaan-godaan apa lagi yang harus ia lontarkan pada Hinata. Ia menyeringai.
"Gaara-kun, aku lapar," ujar Hinata dari dalam kamar mandi.
Gaara mengernyit. "Kau sudah selesai mandi?"
"Ya, aku tidak cuci rambut," sahut Hinata sambil keluar dari kamar mandi.
"Oke," ucap Gaara, "kita makan siang di bawah," lanjutnya sembari bangkit dari tempat tidur.
"Tidak keluar?"
"Tidak."
Hinata cemberut. Ini masih siang, dan dia akan menghabiskan sehari ini dalam kamar hotel? Yang benar saja!
Mereka lalu keluar dari kamar setelah Hinata selesai mendandani dirinya dengan sederhana. Sambil menunggu Hinata mengunci pintu, Gaara menatap tangga cukup lama sebelum menapakinya. "Aku berubah pikiran," ujarnya pada Hinata. "Kita makan di luar saja."
"Oh, kau masih dendam pada mereka?" tanya Hinata berusaha menyamai langkahnya dengan langkah Gaara.
"Mungkin."
"Makan dimana?"
Gaara mengendikkan bahu. Mereka berjalan di atas trotoar tanpa tujuan yang jelas. Beberapa kali Hinata sudah menunjukkan restoran-restoran yang penuh -yang berarti enak, tapi Gaara tetap menyeretnya menuju sebuah kafe.
"Kenapa?"
"Makan di kafe lebih murah, dan karena aku yang membayar, kita akan makan di sini."
Hinata menatap Gaara. "Kalau aku yang bayar?"
"Terserah mau makan dimana."
Ingin rasanya Hinata menguliti Gaara. Dengan berat hati ia melangkah masuk menuju kafe tersebut. Mereka duduk berhadapan. Gaara duduk menghadap pintu masuk, sedangkan Hinata duduk menghadap dapur.
'Tidak mungkin,' batin Gaara. Matanya membelalak ke arah pintu masuk.
Di pintu masuk, seorang anak kecil yang polos dan bahagia sedang berjalan bersama ayahnya. Langkahnya masih tertatih-tatih karena baru belajar.
Gaara mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat anak kecil yang sangat ia kenal itu. Anak itulah yang menginjak kakinya di Kremlin. Anak itu bahkan tidak meminta maaf, dan sekarang berani menunjukkan wajahnya di hadapan Gaara untuk kedua kalinya? Yang benar saja! Ditambah, anak itu duduk tepat di meja sebelahnya dan beberapa kali menatap Gaara untuk bermain.
"Hey," panggil Hinata pada Gaara yang sedang menatap seorang anak kecil tak berdosa di sebelahnya. Tangannya sibuk mengikat rambutnya ke atas agar ia dapat makan dengan tenang. Suhu tubuhnya masih sedikit hangat. Bukannya merasa kedinginan, ia malah merasa kepanasan.
"Gaara-chan," panggil Hinata lagi, mencoba menjahilinya. Gaara segera menoleh.
"Ya, Sayang?" balas Gaara dengan senyum jahil. Ia sedikit terperengah melihat Hinata yang untuk pertama kalinya, mengikat rambut. 'Manis,' pikir Gaara.
Hinata bergidik ngeri mendengar panggilan Gaara. "Kau mau pesan apa?" tanya Hinata sambil menyodorkan buku menu pada Gaara. "Dan siapa anak itu?" tanya Hinata lagi.
Gaara membaca buku menu.
"Itu anakmu?"
Gaara menatap Hinata yang sedang menatapnya penasaran. Setelah cukup lama memerhatikan raut wajah Hinata, Gaara dapat menangkap raut tidak suka dari wajah Hinata. Awalnya ia mengira itu karena sikapnya yang cuek, tapi itu semua berubah seketika.
"Jadi wanita itu mantanmu?"
Gaara masih diam menatap wajah Hinata. Memerhatikan tiap inci dari wajahnya. Tidak ada seinci pun yang Gaara lewatkan. Matanya menajam menatap balik mata Hinata.
Mata yang berkilat cemburu.
"Jika ya kenapa, jika tidak kenapa?" tanya Gaara enteng.
Hinata membulatkan matanya. Ia mundur, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kasar. Gerakannya membuat beberapa helai rambutnya yang masih pendek terlepas dari kuncirannya. Pikirannya kalut. Anak Gaara? Entah mengapa, tapi dadanya cukup sesak. Dan dia cukup peka terhadap perasaannya sendiri. Walaupun dirinya memang lemot, tapi ia cukup peka mengenai perasaan, berhubung ia sudah pernah menjalin hubungan dengan seseorang secara diam-diam. Tapi ia akan terus menyangkal perasaannya pada Gaara.
Menyangkal bahwa ia sedang diselimuti dengan perasaan cemburu.
Di lain sisi, Gaara merasakan perasaan aneh yang menjalari tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menyadari tatapan terluka bercampur cemburu dari Hinata. 'Apa… Hinata menyukaiku?' batin Gaara.
Tetap mempertahankan wajah stoic-nya, Gaara berujar, "Dia bukan anakku. Dia hanyalah anak kecil penuh dosa yang menginjak kakiku di Kremlin."
Gaara menangkap tatapan lega dari Hinata. "Kenapa? Kau cemburu? Tidak ada yang akan mengambil suamimu, Hinata," ujar Gaara tenang, berlawanan dengan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Bahkan ia merasa hawa di sekitarnya tidak lagi membuatnya beku.
Hinata mendengus. "Siapa bilang aku cemburu?" Hinata menyahut. "Hanya tidak menyangka saja ada seseorang yang mau menjalin hubungan denganmu," mengendikkan bahu, Hinata lalu memanggil pelayan untuk memesan.
Gaara menyeringai.
Dia bukan Hinata.
Dia tidak akan menyangkal perasaannya.
.
.
.
Canggung.
Mereka jalan dalam diam. Dalam dua minggu mereka sudah selesai mengelilingi Rusia. Mereka belum tahu pasti apa lagi yang akan mereka lakukan. Gaara berencana untuk tinggal di hotel dan berdua dengan Hinata, sedangkan Hinata lebih memilih untuk mengelilingi Rusia satu kali lagi. Itu melelahkan bagi Gaara, tapi sayang Hinata memiliki semangat masa muda seperti Lee.
"Jadi," Gaara memulai pembicaraan. Mereka duduk di bangku taman, tepat di samping danau. Cahaya matahari terbenam terpantuk di air danau yang tenang itu. "Bisa kita kembali pada masalah di kafe?"
Hinata mengernyit.
"Buat apa?"
"Sepertinya ada yang cemburu."
"Oh ya?"
'Game on," batin Gaara lalu menyeringai.
"Kau sudah dewasa ternyata," Gaara menatap langit yang berwarna kemerah-merahan. "Sebaiknya jangan menjilat ludahmu sendiri."
Hinata membelalak. Ia mengerti maksud Gaara. "Tidak akan." Hinata berujar pasti.
Giliran Gaara yang membelalak. 'Anak itu…'
"Hey, anak itu lagi. Bukankah dia yang tadi di kafe?" tanya Hinata pada Gaara yang sedang larut dalam pikirannya.
'Mungkin aku bisa balas menginjak kakinya,' batin Gaara, memikirkan rencana awal untuk melenyapkan anak kecil tak berdosa itu. 'Tidak, tidak, tidak. Aku akan memutar lehernya, menumpahkan darahnya di gelas lalu meminumnya sampai habis,' batin Gaara lagi sambil menyeringai iblis.
Hinata memandang Gaara, ngeri.
'Hm, dagingnya juga pasti em-'
'PLAK'
Gaara terdiam.
Apa itu?
Tamparan?
Belum sempat ia melihat ke arah Hinata, gadis itu kembali menamparnya.
'PLAK'
Gaara melirik Hinata dengan tatapan kesal.
"Kau ini," Gaara berujar dingin. Tangannya mengusap-usap pipinya yang merah karena tamparan Hinata.
"Kau menakutkan. Dia hanya anak kecil, kau tahu."
Hinata membalas tatapan Gaara.
"Tidak, aku tidak tahu," Gaara kembali memerhatikan anak itu yang sedang bermain dengan kaa-sannya. "Yang ku tahu, dia menginjakku."
"Jadi, selama ini jika ada yang menginjakmu, kau ingin membunuhnya?"
Gaara menoleh pada Hinata.
"Belum ada," ujar Gaara, deep and cold. "Belum ada yang pernah menginjakku, Hinata."
Hinata menatap Gaara datar. Sungguh, ia selalu berpikir bahwa Gaara lah yang paling dewasa di antara mereka semua. Ternyata ia salah.
"Aku ingin menelpon Neji-nii," ujar Hinata.
"Buat?" tanya Gaara, masih tetap fokus memerhatikan tingkah anak kecil itu yang membuatnya muak.
Hinata menghela napas. "Supaya dia segera memesan tempat untukmu di rumah sakit jiwa. Kau tahu, akan lebih mudah jika mereka langsung menjemputmu di bandara."
Gaara mendecak. Ia kesal pada Hinata.
"Siapa yang akan mengurusmu selama kau hamil?" Gaara menyeringai lalu menoleh menatap Hinata, sekedar untuk melihat reaksinya. Sesuai dugaannya, Hinata sedikit merona. Tidak mungkin dari cahaya matahari, karena matahari sudah terbenam. Tidak mungkin juga cahaya dari lampu taman, karena warna lampu taman kuning.
"A-aku tidak hamil." Hinata cemberut. Ia tidak suka diganggu terus menerus. Terutama menyangkut masalah ini. Apa Gaara tidak memiliki hobi lain selain menganggunya?
"Hah, aku tidak memiliki hobi lain selain menganggumu," ujar Gaara, seolah dapat membaca pikiran Hinata.
"Aku tidak mau tidur denganmu," ujar Hinata.
Gaara mengendikkan bahu, cuek, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. Menekan kombinasi angka, setelah itu menempelkan ponsel tersebut di telinganya dan menunggu orang yang bersangkutan mengangkat teleponnya.
"Kau mau apa?" tanya Hinata.
Setelah mendengar suara Neji, Gaara lalu mengutarakan perasaannya yang ia buat sesedih mungkin. "Hinata tidak mau lagi tidur denganku."
Hinata kembali mengernyitkan dahi saat Gaara sudah memutuskan hubungan. "Hanya itu?"
Gaara menoleh ke arah Hinata. Ekspresinya sama, bingung. "Bukan aku, Neji yang memutuskan sambungan."
.
Di lain tempat…
.
"Tenten! Dia pingsan lagi!"
Tenten meletakkan bukunya lalu segera turun dari perpustakaan.
"Hey! Naruto! Pergi darinya!" usir Tenten. Ia berjalan menuju dapur, kali ini yang membuatkan teh hangat, yang mungkin bisa sedikit menjernihkan pikiran Neji.
"Ini, Naruto!" Kiba melemparkan kaos kaki busuk miliknya ke arah Naruto untuk diletakkan di atas hidung Neji.
"Kiba!" teriak Tenten kesal sambil mengaduk-ngaduk teh-nya. Apa teman-temannya tidak bisa menjadi waras sekali saja?
"Apa kau menciumnya, Neji? Ini lah kehidupan yang sebenarnya," ujar Naruto sambil menempelkan kaos kaki busuk milik Kiba di hidung Neji.
"Naruto!" teriak Tenten, masih mengaduk tehnya. "Singkirkan itu, Baka!"
"Kita harus memotong rambutnya." Lee dengan tiba-tiba muncul membawa gunting besar yang Tenten yakin, ia sudah pernah menyembunyikannya.
Raut jahil milik Kiba dan Naruto segera barubah setelah melihat Lee yang datang membawa gunting besar dengan semangat masa muda yang berkobar-kobar.
"Run for your life…!" teriak Kiba dan Naruto bersamaan sambil menarik rambut Neji mengelilingi rumah untuk menghindari Lee.
"Lee! Sakura astaga siapa saja bantu aku!" teriak Tenten frustasi. Sejenak ia dapat melihat gunting yang dipegang Lee.
'!' Tenten membelalak. 'Itu baru!'
'PLAK'
Sepatu yang melayang itu tepat mengenai kepala Lee dan membuat yang bersangkutan tepar seketika.
Ah, akhirnya, Shikamaru datang.
"Kalian ini menyebalkan sekali."
Naruto dan Kiba melepaskan rambut Neji lalu berjalan ke sofa untuk mengistirahatkan diri. Sungguh, tadi itu sangat melelahkan. Kalian baru akan merasakannya saat nyawa kalian sedang terancam bahaya.
Sasuke yang berada di belakangnya berjalan mendahului Shikamaru menuju Lee lalu mengambil gunting yang masih dipegang Lee.
"Kupikir, kita sudah menyembunyikan benda ini beserta kerabatnya," ujar Sasuke sambil memegang gunting tersebut dengan tatapan meneliti.
"Jika kau memang pintar, kau bisa melihat itu masih baru," ujar Tenten, menyindir. Ia berjalan dengan santai menghampiri kekasihnya yang masih tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi?" tanya Neji yang akhirnya siuman. "Kepalaku sakit," ujar Neji sambil mengelus-elus kepalanya yang berdenyut-denyut.
"Tadi kami berusaha menyelamatkanmu dari Lee. Dia mendapat gunting," ujar Kiba.
Neji bergidik ngeri dan dengan segera memeriksa tiap helai rambutnya dan mengukurnya dengan penggaris. Setelah melakukan penelitian singkat, Neji menghembuskan napas lega. 'Masih sama panjang,' batinnya.
"Kau ini, hanya rambutmu yang kau pedulikan," ujar Tenten dengan nada kesal.
"Siapa lagi?"
"Sudahlah," Shikamaru datang menengahi. "Sekarang jelaskan, kenapa kau pingsan?" tanya Shikamaru pada Neji.
"Lagi," tambah Naruto.
Tenten melemparkan kaos kaki busuk milik Kiba ke arah Naruto. "Tutup mulutmu."
"Makan ini, Kiba!" teriak Naruto sambil berusaha memasukkan kaos kaki busuk itu ke mulut Kiba, sedangkan Kiba berusaha sekuat tenaga menahan tangan Naruto dan menutup mulut serta hidungnya.
Tidak mengindahkan Naruto dan Kiba, Neji menjawab pertanyaan Shikamaru. "Gaara baru saja menelpon," ujarnya.
Tenten menghela napas kesal. 'Ini lagi,' pikir Tenten.
"Mungkin sebaiknya kau terima saja, Kiba, bagaimanapun itu kaos kakimu," ujar Sasuke yang masih meneliti gunting yang dibawa Lee tadi.
"A$%^# $&()%^#$%^# +&!" sahut Kiba tidak jelas, masih berusaha menyelamatkan dirinya.
"Apa yang Gaara katakan sampai membuatmu pingsan?" tanya Shikamaru.
"Lagi," tambah Sasuke. Shikamaru menatap Sasuke dengan tatapan membunuh.
Tidak mengacuhkan tatapan Shikamaru, Sasuke berujar, "Kita harus lebih berhati-hati sekarang jika tidak mau ada di antara kita yang berambut mangkuk sehingga berujung pada botak."
"Biasanya Chouji yang duluan kena," timpal Tenten.
"Biasanya," balas Sasuke cuek. Melepaskan kacamata detektifnya, lalu duduk di sofa, jauh dari Naruto dan Kiba.
Shikamaru menghela napas. Ia lelah.
"Gaara bilang, Hinata tidak mau lagi tidur dengannya," ujar Neji dengan wajah panik.
Shikamaru mengernyit heran. "Jadi?"
Neji menatap Shikamaru dan Tenten bergantian yang balik menatapnya dengan tatapan bingung. "Kalian tidak mengerti? Demam? Tidak mau tidur bersama lagi? Kalian tidak mengerti?!"
"Bicaralah yang jelas!" sahut Sasuke yang mulai bosan melihat tingkah Neji. Selalu overreact jika menyangkut Hinata.
"Hinata hamil!"
'PLAK'
Sakura memukul seekor nyamuk.
"Itu tidak mungkin," ujar Shikamaru lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Gaara. "Kau juga kenapa harus memutuskan telepon tanpa bertanya lebih lanjut," omel Shikamaru.
"Gaara?" Shikamaru lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Gaara. Sementara itu, Neji meneguk teh hangat pemberian Tenten dan Kiba sudah selamat dari maut.
"Gaara bilang Hinata hanya ngambek tadi. Mereka sudah berada di hotel, bersiap untuk tidur," ujar Shikamaru.
"Well, satu masalah selesai. Sekarang kita selesaikan masalah Lee," ujar Sasuke sambil menunjuk wajah Lee dengan jempol kakinya.
Lee memiliki cita-cita sebagai penata rambut. Ia baru menyadarinya sejak kelas dua SMP dan sejak itu ia mengoleksi berbagai macam gunting. Awalnya, Maito Gai, ayah Lee, bangga terhadap anaknya itu. Terutama karena Lee mewarisi semangat masa mudanya. Tetapi ternyata Lee hanya ingin membuat seluruh dunia berambut mangkuk seperti dirinya dan ayahnya. Gai tidak setuju dengan ambisi anaknya tersebut. Tetapi Lee tetap berpegang teguh pada impiannya yang membuat dirinya dibuang ke tempat sampah.
Bukan, bukan berarti ia dibuang seperti yang kalian pikirkan. Ia benar-benar dibuang ke tempat sampah tapi bukan dibuang sebagai anak.
Naruto lah yang pertama kali mengenal Lee dan mengetahui kegemaran Lee. Sehingga, seminggu sebelum mereka tinggal di rumah buatan mereka tersebut, mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan gunting-gunting yang ada untuk mencegah seseorang kehilangan kesadaran jiwanya. Dan hal itu, tentu saja, ditujukan pada Neji.
"Huh," Shikamaru kembali menghembuskan napas lelah, "sepertinya bukan hanya gunting yang harus kita sembunyikan, uang juga harus disembunyikan."
"Gaara dan Hinata pasti beruntung tidak berada di sini sekarang," ujar Chouji yang datang entah kapan dan dari mana, masih memakan keripiknya.
.
.
.
.
.
.oO - Curly - Oo.
.
.
.
.
.
"Aku lelah sekali," ujar Hinata seraya menghempaskan tubuhnya di tempat tidur lalu menutup matanya.
"Bukankah kau berkata tidak mau tidur denganku?" goda Gaara.
Hinata segera membuka matanya dan menatap Gaara sinis.
"Berhentilah mengangguku. Kau lihat? Bahkan Shikamaru menelpon." Hinata kembali menutup mata.
"Itu karena kakak sepupumu yang terlalu berlebihan," ujar Gaara, ikut merebahkan tubuhnya di samping Hinata.
"Terkadang Neji-nii memang berlebihan," ujar Hinata, masih menutup matanya.
'TOK TOK TOK'
"Siapa itu? tanya Hinata.
Gaara bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Ia sempat melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 11.30 malam. "Huh, pelayan sialan, apa yang dia mau," ujar Gaara kesal lalu membuka pintu.
"Malam, maaf menganggu."
Hinata segera menegakkan tubuhnya saat mendengar suara yang sangat familiar menyapu telinganya.
'Suara itu…'
Mata Hinata membulat saat matanya menangkap sosok pemuda yang sangat dikenalnya sedang menatapnya balik.
"Kau…"
"Lama tak berjumpa…"
Hinata mencekram seprei erat.
"…Hime."
TBC
.
.
.
Hola! Maaf saya telat update, saya baru saja berjuang melawan perang yang datang tiap tahun xD UN kali ini cukup melelahkan, tapi fic ini berhasil membuat otak saya sedikit segar xD
Genius utk sementara ditunda, karena masalah tema, jadi mungkin untuk ke depannya saya akan fokus pada Russia. Chapter 4 akan diupdate setelah review mencapai goalnya, so review, please? ^^
Saya juga cukup senang melihat review di Make You Feel My Love bertambah dan untuk reader yang membaca serta memberi review, arigatou:*:)
Review" kalian cukup membuat saya terharu karena saya tidak menyangka ada yang menyukai fic saya ini :')
Terimakasih untuk semua reader yang berbaik hati memberikan review bahkan ada yang mem-fav dan mem-follow cerita ini, review kalian sangat berarti bagi saya.
At last, but not least, jgn lupa nonton naruto di global TV setiap jam 5 sore karena perang sudah dimulai xD #promosi
See you in next chapter!
Love, Curly
