"Apa kau tahu arti hujan, Naruto?"
"Hujan? Memangnya hujan punya arti?"
"Tentu saja, Baka! Kau tahu tidak artinya?"
"Tidak, dattebayo. Memang apa?"
"Artinya langit sedang menangis."
"Hah? Kenapa juga langit harus menangis, Sakura-chan?"
"Karena satu malaikatnya jatuh ke bumi..."
"..."
"Dan malaikat itu adalah ... aku! Hahaha ... jangan melihatku seperti itu, Naruto..."
.
.
.
WAY TO HEAVEN
by : Ran Kajiura
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, while this story and its eccentricity is mine...
Warning : AU, NaruSaku, typo—entah dimana, better not expect too much...
.
.
.
Mungkin bagi pemuda pirang itu, memandangi langit kelabu yang terus mengguyur bumi jauh lebih menggoda daripada memerhatikan sang dosen. Terlihat jelas dari wajahnya, bahwa ia begitu menikmati pemandangan di luar sana. Sejak tadi ia tersenyum, seakan langit sedang memberikan tontonan yang menarik baginya.
Sampai ia tidak sadar kalau pria dengan bekas luka melintang di hidung itu sudah memanggilnya berkali-kali. Entah karena bunyi air hujan yang bertabrakan dengan jendela kelasnya begitu keras atau memang telinganya sengaja menumpulkan diri agar pemuda pirang itu bisa lebih menikmati dunia khayalnya, yang jelas panggilan sang dosen tidak digubrisnya.
Dan kalau pemuda berambut seperti batang nanas yang duduk di depannya tidak menepuk jidatnya, mungkin dosen dengan bekas luka itu akan menangis dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena diabaikan.
Oke, mungkin tidak begitu. Mungkin pemuda pirang itu akan meratapi nasibnya di sisa semester karena sang dosen memutuskan untuk mengurangi nilainya, yang nantinya berakibat pada pemutusan beasiswa pemuda itu.
"Go-gomen, Sensei. Ada apa dengan saya?"
Seluruh kelas hening. Menanti reaksi sang dosen. Saat ini seluruh perhatian tertuju pada si pemuda pirang, yang sebentar lagi akan dijatuhi hukuman.
Namun alih-alih bentakan, hanya satu hela napas panjang yang keluar dari mulut sang dosen. Dan tanpa menjawab pertanyaan si pirang, ia mengacungkan kertas essai yang nampaknya hasil kerja pemuda itu. Rupanya sejak tadi ia sedang membagikan essai yang sudah ia nilai.
Mengerti dengan isyarat sang dosen, si pirang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke depan, meraih kertas essai yang diacungkan sang dosen. Sambil mengambil essainya, pemuda itu memberikan sebuah cengiran lebar sambil berujar, "Gomen, Iruka sensei..."
"Kali ini kau kumaafkan, Uzumaki. Untung saja essaimu bagus. Kalau tidak, kau harus mengucapkan selamat tinggal pada nilai A pada mata kuliahku..."
Naruto yang baru tiba kembali di kursinya, kembali melemparkan cengiran pada Iruka sensei. Cengiran sebagai tanda terima kasih karena senseinya itu mau memaafkannya, paling tidak kali ini.
"Tapi lain kali, kalau kusuruh membuat essai bertema 'Penyimpangan dan Pelanggaran HAM', bukan berarti kau membuatnya dengan judul yang sama. Kreatiflah sedikit, Uzumaki. Kau kan sudah mahasiswa..."
Tawa sekelas meledak. Pemuda itu hanya bisa tertunduk dan menatap essainya yang ia letakkan di atas meja. Dipandanginya huruf A besar di pojok kanan atas kertas itu, lalu sedetik kemudian ia tersenyum. Paling tidak pengorbanan jam tidurnya berbuah manis.
Sementara Iruka sensei melanjutkan pembagian essai, si pirang kembali pada kegiatannya yang sempat terputus. Memandang langit. Tapi itu tidak lama sampai pemuda yang tadi menepuk jidatnya berbalik menghadapnya dan mengambil kertas essainya.
"Kau dapat berapa, Shikamaru?"
Pemuda yang dipanggil Shikamaru itu mendongak lalu menjawab singkat, "Sama denganmu." Lalu kembali melanjutkan membaca essai. Si pirang kembali menatap langit.
"Kau tahu, aku bingung dengan penilaian Iruka sensei..." Shikmaru berujar. Si pirang kembali mengalihkan perhatiannya pada Shikamaru. "Kita yang hanya membuat beberapa lembar malah diberi nilai A. Sedangkan yang membuat hampir setebal makalah, tidak ada yang dapat segitu..."
"Aku tidak tahu, dattebayo. Kau tanya sendiri saja pada Iruka sensei."
"Ck, mendoukusai..."
Sesaat keduanya terdiam.
"Eh, kenapa essaimu hanya 3 lembar, Shikamaru? Aku pikir kau sudah menghasilkan belasan halaman waktu Iruka sensei memutuskan memajukan deadlinenya."
Wajah Shikamaru langsung berubah masam. "Cih! Gadis merepotkan itu sakit semalam sebelum deadline. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian saja di rumahnya."
Si pirang tersenyum mendengar jawaban Shikamaru. Butir birunya kembali menatap ke langit kelabu. Dia tahu, sekalipun Shikamaru tampak terganggu karena harus merawat seorang gadis sakit, sebenarnya si rambut nanas itu menikmatinya. Setiap detik yang ia habiskan dengan Ino Yamanaka adalah detik-detik terbaik dalam hidupnya.
"Kau tahu, Shikamaru..." si pirang menggantungkan kalimatnya. Masih sambil menatap langit, tapi ia tahu Shikamaru saat ini tengah memerhatikannya. "Segalanya akan lebih mudah kalau kalian sudah official..."
Shikamaru mengerutkan keningnya. Bingung mendengar kalimat ngelantur yang keluar dari bibir si pirang. Dan kerutannya makin bertambah saat melihat seulas senyum jahil terukir di sana.
"Yah, paling tidak acara menginap di rumah Ino akan jadi lebih seru, kan?"
Beberapa detik hening sampai akhirnya Shikamaru menyadari maksud tersembunyi dari kalimat barusan. Essai yang sejak tadi ia pegang dengan cepat ia remukkan dan ia lempar ke muka si pirang yang masih menatap langit dengan tatapan mendamba. Yang dilempari hanya terkekeh pelan.
.
.
.
"Sebelum aku memulai bicara, aku ingin bertanya. Apa ada yang mau kalian sampaikan padaku?"
Suara Tsunade menjadi satu-satunya bunyi tunggal yang memantul di ruangan itu. Nadanya tidak keras, tapi jelas mengintimidasi. Tatapan tajamnya bahkan membuat dua gadis yang berdiri di depannya tertunduk. Bagai anak kecil yang sedang dimarahi karena membuat kesalahan.
Ah, mungkin memang mereka sedang dimarahi karena membuat kesalahan.
Tsunade masih menunggu salah satu atau kedua gadis itu mengeluarkan suaranya. Tapi karena tidak kunjung angkat suara, wanita itu memutuskan bahwa kali ini gilirannyalah yang bicara.
"Kurasa tak ada. Nah, sekarang giliranku bicara, kan?"
Pertanyaan intimidasi. Kedua gadis itu tidak berani mendongak menatap sang pimpinan. Bahkan gadis yang berambut panjang malah makin menundukkan kepalanya.
"Pertanyaan pertama. Kenapa kalian membohongiku?"
Kedua gadis itu terkejut. Apa yang mereka takutkan ternyata terjadi. Padahal mereka sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak ketahuan. Tapi membohongi Tsunade-sama memang bukan perkara mudah.
Siapa bilang perkara mudah?
Gadis berambut pendek akhirnya mendongak dan angkat suara. "Tsunade-sama, ini semua salahku. Hinata sama se—"
"KAU TIDAK MENJAWAB PERTANYAANKU, SAKURA!" Akhirnya bentakan yang sedari tadi menggantung di lidahnya keluar juga. Tsunade menggebrak mejanya, kemudian bangkit berdiri. Setiap bunyi-bunyian yang ditimbulkan olehnya membuat bahu kedua gadis itu bergetar.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan tadi. Tapi nampaknya kau tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Dan kau malah berkelit saat menjawab pertanyaanku, bukankah itu melanggar sopan santun, Sakura?" Kali ini Tsunade berbicara dengan nada suara yang sedikit lebih lembut. Bagaimanapun juga, ia tidak tega melihat dua malaikat favoritnya gemetaran seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, mereka memang harus diberi pelajaran, kan?
"Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kalian membohongiku?"
Hening sebentar sampai gadis yang berambut panjang bicara. "Sa-Sakura hanya minta tolong bantuan saya, Tsu-Tsunade-sama. Ka-kami tidak bermaksud me-membohongi anda..."
"Saya meminta Hinata menggantikan saya karena saya tidak menyukai tugas semacam itu, Tsunade-sama." Sakura akhirnya memutuskan untuk mengakui semuanya. Kalimatnya barusan otomatis melemahkan pernyataan Hinata yang terucap sebelumnya, bukannya melengkapi. Nampaknya gadis itu memutuskan untuk menanggung akibat perbuatannya sendirian. Apa boleh buat, semua itu kan idenya...
"Dan apakah ada peraturan yang memperbolehkanmu menyuruh malaikat lain mengerjakan tugas yang dibebankan khusus untukmu, Sakura?"
"Sa-Sakura tidak menyuruh saya, Tsunade-sama." Hinata mencoba membela. Bagaimanapun, ia merasa dirinya terlibat dan Sakura tidak seharusnya menanggung sendirian. "Saya yang menawarkan diri untuk menggantikannya."
Sakura melotot. Matanya memandang Hinata nanar. Namun Hinata menolak berkontak mata dengan sahabatnya itu. Alih-alih menatap balas Sakura, Hinata menatap lurus Tsunade. Agar kalimat yang barusan dikemukakannya terdengar meyakinkan.
"I-itu bohong, Tsunade-sama. Hinata tidak menawarkan diri. Aku yang me—"
"Usaha yang bagus. Tapi aku tidak butuh drama persahabatan kalian sekarang," potong Tsunade cepat. "Kalian tahu kalian sudah melanggar peraturan, kan?"
Sakura dan Hinata mengangguk lemah.
"Dan kalau berani melanggar peraturan, aku rasa kalian siap menanggung akibatnya, kan?"
Sakura dan Hinata membeku. Akhirnya mereka sampai ke bagian yang terburuk.
Tsunade tersenyum puas. Segalanya berjalan lebih mudah dari yang ia duga. "Kalau begitu, apapun hukuman yang dijatuhkan atas kalian, aku tidak terima penolakan. Apalagi pemberontakan."
Sakura bergerak tak nyaman. Jangan tanya seberapa takut ia sekarang. Sejujurnya, ia sama sekali tidak mau Hinata ikut dihukum bersamanya. Tapi mencoba membela Hinata juga tidak mungkin. Gadis itu sendiri malah membuat dirinya dihukum.
Tsunade kembali duduk di tempatnya semula. Dengan santainya, ia memutar kursinya menghadap jendela. Ia tidak suka menjatuhkan vonis hukumannya sambil menatap kedua terdakwa.
"Aku tidak akan menghukum kalian dengan hukuman yang sama," jelas Tsunade. Kedua malaikat mendongak serempak, menanti kelanjutan kalimat sang pimpinan. "Menghukum kalian dengan hukuman yang sama tidak akan membuat kalian jera. Bisa-bisa kalian malah menikmati hukumannya."
Hinata dan Sakura masih terdiam. Mereka tahu Tsunade benar. Dan melihat kedua terdakwa tidak protes, Tsunade dengan senang hati melanjutkan ceramahnya.
"Untuk saat ini, aku belum menemukan hukuman yang pantas untukmu, Hinata. Tapi untukmu, Sakura..." Tsunade menggantung kalimatnya sambil menanti reaksi keduanya. Ia memutar kursinya, dan mendapati kedua gadis itu menahan napas mereka. Jujur saja, kalau ia tidak menyadari situasi dan kondisi saat itu, tawanya pasti sudah meledak detik itu juga. Wajah kedua malaikat yang sedang menahan napas terlihat begitu ... menghibur.
Tapi sayangnya, ia mengingat situasi dan kondisi. Dengan sangat terpaksa, ia menahan tawanya dan memaksakan ekspresi serius terpatri di wajahnya.
"Aku memerintahkanmu untuk memastikan jiwa Uzumaki Naruto benar-benar pergi ke Dunia Atas."
Demikianlah vonis dijatuhkan. Tsunade menghela napas setelah kalimat vonisnya itu keluar dari mulutnya. Dan Sakura hanya bisa menjatuhkan rahangnya saat kalimat tersebut selesai terucap.
"Memastikan ... jiwa ... pergi ... ke Dunia Atas? Ma-maksud anda saya harus menemaninya sampai saat ia meninggal, Tsunade-sama?"
"Bukan hanya menemaninya, Sakura. Tapi juga memastikan agar jiwanya pergi ke Dunia Atas," jawab Tsunade. "Dan kalau kau gagal—meskipun aku sama sekali tidak memperhitungkan kata gagal dalam hal ini, Sakura—kau dengan sangat terpaksa harus dipindahkan ke Dunia Bawah."
Sebenarnya Sakura ingin sekali membantah. Jangan tanya seberapa gatal mulutnya ingin menyela dan membantah setiap kata yang diucapkan Tsunade. Tapi membantah nampaknya akan jadi usaha yang sia-sia saat ini.
Jadi yang ia lakukan sekarang adalah, diam dan dengarkan.
Oh, dan dongkol dalam hati.
"Sampai kapan saya harus ada di bumi, Tsunade-sama?" tanya Sakura lemah.
"Sampai bocah itu meninggal, tentu saja. Tapi kau tenang saja, Sakura. Bocah itu akan meninggal dalam hitungan bulan. Aku tidak bisa memberitahumu kapan tanggal tepatnya," jelas Tsunade.
'Hitungan bulan? Yah ... aku tidak bisa meminta yang lebih baik dari itu, kan?' batin Sakura.
Tsunade menanti respon kedua malaikat yang berdiri di hadapannya itu. Tapi karena keduanya tampak enggan—terlalu takut, mungkin—untuk merespon, akhirnya ia putuskan untuk mengakhiri pertemuan itu.
Dan saat dua malaikat itu menghilang di balik pintu yang menutup, wanita itu tersenyum. Puas.
"Anda berhasil, Tsunade-sama. Anda berhasil," ujar Shizune.
Wanita itu terkekeh. Sambil mengerling jahil, ia angkat sebelah tangannya ke arah asisten yang berdiri di sebelahnya.
Dan meskipun ragu-ragu, Shizune membalas tangan itu. Menepukkan sebelah tangannya sendiri ke tangan sang atasan. Lalu dilihatnya senyum lebar yang terkembang di wajah sang atasan.
Senyum yang lama menghilang, akhirnya muncul lagi.
"Yah, biarpun hasil akhir nanti ditentukan oleh anak itu dan si Naruto, aku rasa aku tidak bisa berharap hasil yang lebih baik dari ini kan, Shizune?"
Shizune hanya bisa tersenyum.
.
.
.
Andai mati adalah sebuah opsi, mungkin mati adalah jalan keluar terbaik.
Sayangnya, opsi mati tidak ada dalam kamus para penghuni Dunia Atas.
"Tsunade-sama, kenapa tega se—"
Tok Tok Tok
Sakura yang saat itu sedang mengeluh sambil berbaring di kasur chambernya tiba-tiba terlonjak mendengar pintu chambernya diketuk. Keluhannya terpaksa berhenti dan gadis berambut pink itu bangkit dan menyambut sang tamu.
Yang ternyata adalah Hinata.
"Ma-maafkan aku, Sa-Sakura..." sembur Hinata setelah ia melangkah memasuki chamber sahabatnya. "Aku ti-tidak bisa membuat Tsu-Tsunade-sama meringankan hukumannya. A-aku hanya bisa terdiam dan—"
"Tidak apa-apa, Hinata," potong Sakura cepat. Dia tidak ingin sahabatnya ini menanggung rasa bersalah yang lebih dari seharusnya. "Aku tidak pantas menerima hukuman yang lebih ringan dari ini."
Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar kalimat Sakura. Jauh di dalam hatinya, ia tahu sahabatnya itu sangat keberatan dengan hukuman yang dijatuhkan atasnya. Tapi ia sendiri tidak kuasa menentang Tsunade. Apalagi ia sendiri sedang menanti vonis yang masih tertunda.
"Ada perlu apa kemari, Hinata?" Sakura memecahkan lamunan Hinata. Gadis itu akhirnya ingat tujuan kedatangannya ke chamber Sakura.
"A-ano ... kapan kau akan ke bumi, Sakura?"
"Entah. Hari ini mungkin. Kenapa memangnya?"
"A-aku ... ingin me-menitipkan sesuatu," ujar Hinata terbata-bata. Sakura memandang sahabatnya dengan penuh tanda tanya. Sejurus kemudian, ia tersenyum. Pasti menyangkut si Naruto Uzumaki, pikirnya. Ia ingat kalau Hinata sudah menjadi fans dadakan si Naruto itu.
"Kau ingin menitipkan barang pada Naruto, ya?" goda Sakura. Wajah Hinata langsung memerah mendengar pertanyaan iseng yang dilontarkan Sakura barusan.
"Bu-bukan ... bukan barang, Sakura," elaknya.
Sakura heran. "Kalau bukan barang, lalu apa?"
Hinata menggigit bibir bawahnya. Tampaknya ia tidak yakin akan mengutarakan kalimat yang saat ini sudah menggantung di lidahnya. Wajahnya terlihat bingung, ingin menceritakan darimana duduk perkaranya pada Sakura.
Sakura menyadari ada yang aneh dengan Hinata.
"Hinata, kau kenapa? Duduklah dulu, duduk..." Sakura membimbing Hinata duduk di atas kasurnya. Ia sendiri menarik kursi belajarnya dan duduk berhadapan dengan Hinata. "Kau mau titip apa pada si Naruto itu?"
"Se-sebenarnya, aku bukannya mau me-menitipkan barang Sakura..."
"Lalu?"
"Kalau ka-kau ada waktu, bi-bisakah kau tanyakan pa-pada Naruto-kun tentang ... Fugaku Uchiha?"
Sakura mengerutkan dahinya. "Fugaku ... Uchiha? Siapa itu?"
"Entahlah..." Hinata bingung memberi penjelasan pada sahabatnya itu. Masalahnya, ia sendiri tidak kenal siapa sebenarnya Fugaku Uchiha itu. "... tapi namanya terasa tak asing bagiku, Sakura..."
Sakura diam sejenak. Ia sendiri ragu bisa mencari tahu sesuatu yang bukan urusannya. Dia bukan malaikat yang biasa bertugas mencari informasi seperti ini. "Akan kuusahakan, Hinata. Tapi maaf, aku tidak bisa menjanjikan apapun..."
Hinata tersenyum. Lega. Senyumnya bahkan membuat Sakura bertekad akan mencari tahu mati-matian mengenai Fugaku Uchiha ini.
"Terima kasih, Sakura."
Sakura membalas senyum sahabatnya itu. Satu hal yang paling membuatnya berat meninggalkan Dunia Atas dan pergi menjalani hukumannya, adalah ia harus kehilangan senyum Hinata.
"Baiklah. Kurasa sekarang saatnya aku berangkat..." ujar Sakura. Gadis itu bangkit dari kursinya dan mengembalikan kursi itu kembali ke tempatnya semula.
Hinata terkejut. "E-eh ... se-sekarang, Sakura?"
Sakura membalik badannya, lalu mengangguk. "Semakin cepat, semakin baik, kan?"
Setelah merapikan chamber Sakura, keduanya lalu melangkah menuju pintu keluar. Sampai Hinata menyadari sesuatu yang kurang pada diri Sakura.
"Sa-Sakura, kau tidak ba-bawa apa-apa?"
Sakura hanya tersenyum. "Memang aku harus bawa apa lagi? Badanku saja aku rasa sudah cukup."
"Gu-gulungan perkamen dari Tsu-Tsunade-sama?"
"Oh, itu..." lagi-lagi Sakura hanya tersenyum. "Aku sudah hafal isinya. Uzumaki Naruto, rambut kuning, mata biru, tiga garis di masing-masing pipi. Memastikan jiwanya pergi ke Dunia Atas dan bla bla bla ... aku sudah hafal semuanya, Hinata. Kau tenang saja."
Khas Sakura. Bagi malaikat berambut pink itu, menghafal selembar gulungan perkamen bukanlah hal yang sulit. Karena itu ia lebih sering diberi tugas yang membutuhkan daya ingat yang bagus. Seperti mengatur jalannya cuaca, misalnya.
Hinata yakin, Sakura bisa melewati masa-masa hukumannya dengan baik. Lebih baik daripada yang dikiranya, malah. Seharusnya saat ini ia lebih mengkhawatirkan nasibnya sendiri.
"Itte kimasu," pamit Sakura pada Hinata. Dan tanpa menunggu sahabatnya itu membalas, ia sudah menghilang.
"Itte rassahai, Sakura..."
.
.
.
"Tadaima!"
Dengan gerakan terburu-buru, Naruto memasuki rumahnya. Badannya menggigil hebat. Wajar saja, mengingat ia harus hujan-hujanan dalam perjalanannya pulang. Dengan terburu-buru pula ia berlari dan menaiki undakan tangga menuju kamarnya, meninggalkan jejak-jejak air di sana-sini.
Untung saja Inspektur Uchiha cukup baik hati, mengijinkannya meninggalkan buku-buku kuliahnya di kantor polisi lantaran pemuda itu memaksa pulang meskipun langit masih mengguyur bumi.
Setelah puas membersihkan dirinya dan berpakaian, ia mengistiraharkan badannya sesaat dengan berbaring di tempat tidur. Sambil memejamkan matanya sesaat, ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang terjadi padanya hari ini.
Ia tersenyum kecil saat mengingat kejadian tadi pagi, saat ia hampir saja menabrak seorang nenek karena terburu-buru berangkat ke kampus. "Maaf ya, Nek..." ujarnya pelan.
Ia mengerutkan kening saat ingat mata kuliah Iruka sensei tadi. Di luar dugaan, essai yang ia kerjakan terburu-buru dan hanya 4 halaman bisa diberi nilai A oleh Iruka sensei. Ia sebenarnya sudah lama mempertanyakan sistem penilaian dosen yang satu itu, bahkan sebelum Shikamaru mempertanyakannya. Tapi karena tidak menemukan jawabannya, ia biarkan sistem penilaian itu menjadi rahasia Iruka sensei dan Sang Ilahi.
Angin malam tiba-tiba berhembus pelan memasuki kamarnya. Membawa serta bau yang seharian ini menemaninya. Bau yang dengan cepat mengganti image Iruka sensei dengan kenangan yang lain.
Bau hujan.
Dan meskipun hujan sudah berhenti, baunya masih tercium jelas di hidung Naruto. Bau yang, entah kenapa terasa begitu menenangkan.
Dan karena bau hujan memaksa kenangan lamanya muncul ke permukaan, Naruto lalu berjalan ke meja belajarnya dan mengambil sesuatu dari laci. Sebuah CD. Dipandangnya sesaat disk itu sambil tersenyum sebelum memasukannya ke radio di meja belajarnya.
Tak lama kemudian, suara ceria seorang gadis terdengar dari radio setelah Naruto menekan tombol 'Play'.
"Ehem ... ehem ... Sudah kau nyalakan belum sih, Konohamaru?"
"Sudah, nee-chan. Sudah daritadi, malah..."
"Ba-baka! Kenapa tidak bilang kalau sudah dinyalakan?"
Naruto terkekeh pelan mendengar pertengkaran dua orang dalam rekaman.
"Naruto ... kau bisa dengar suaraku?"
Sambil tersenyum, Naruto menjawab suara dari radio tersebut. "Bisa, Sakura-chan."
"Maaf aku tidak bisa menemanimu ziarah tahun ini, Naruto. Aku sudah memohon pada Kabuto sensei supaya bisa ikut bersamamu, tapi ternyata tidak diijinkan. Andai aku lolos uji darah beberapa hari yang lalu, mungkin sekarang aku ikut ziarah bersamamu..."
Naruto masih tersenyum. Suara gadis dari radio—yang terdengar seperti denting genta di telinganya—itu masih memberi efek yang sama. Tidak berubah, meskipun suaranya hanyalah rekaman lama.
Selalu menenangkan. Selalu enak didengar.
Sosok tegap pemuda itu berpindah, dari meja belajarnya ke jendela kamarnya. Terduduk nyaman di kusen jendelanya, pemuda itu memandang ke luar jendela. Bola birunya dimanjakan oleh pemandangan lampu malam Konoha yang terlihat seperti kunang-kunang. Masih sambil tersenyum menikmati rekaman yang mengalun dari radio.
"Tapi, sudahlah. Toh aku masih bisa mengirimimu hadiah ulang tahun, kan? Jadi tidak masalah. Oh astaga ... aku lupa. Selamat ulang tahun, Naruto. Semoga semua doa yang kau panjatkan di kuil tadi terkabul. Kau sudah ke kuil kan, Naruto? Awas kalau kau belum ke kuil..."
Sambil terkekeh pelan, Naruto kembali menanggapi si gadis dalam rekaman. "Sudah, Sakura-chan."
"Maaf kalau aku hanya mengirimkan sekeping disk sebagai hadiah ya, Naruto. Kabuto sensei benar-benar tidak mengijinkanku keluar rumah sakit untuk hunting hadiah. Bahkan jika ditemani Konohamaru sekalipun. Kabuto sensei benar-benar menyebalkan..."
Lagi, Naruto terkekeh. Semakin lama ia nampak semakin menikmati celotehan si gadis dalam rekaman.
"Ingat tidak, kau pernah menantangku menyanyikan lagu riang dan membuatnya terdengar sedih. Ingat kan? Nah, akan kubuktikan kalau aku bisa memenuhi tantanganmu kali ini. Dan karena aku malaikat yang baik hati, kuberikan gratis. Tanpa imbalan lain. Dengan kata lain, ya sebagai hadiah ulang tahunmu."
"Haha ... malaikat baik hati..." ujar Naruto.
"Dan biarpun Kabuto sensei menyebalkan, dia punya sisi baik juga, kau tahu. Aku diijinkan meminjam pianonya. Kau ingat, grand piano yang ada di ruangannya itu ... dipinjamkan padaku. Bayangkan, Naruto! Dipinjamkan ... padaku..."
Naruto tersenyum mendengar nada menggebu-gebu dari sang gadis bersuara genta. Pemuda itu hampir bisa membayangkan raut wajah si empunya suara saat mengeluarkan kalimat barusan. Cengiran di wajahnya pun bertambah lebar, membayangkan ekspresi si gadis yang pastinya sangat menghibur baginya.
"Ah, sudahlah. Sekarang saatnya aku memberikan hadiahnya, kan? Aku pasti berhasil membuatmu menangis. Berjanjilah kau akan jujur mengakui kalau kau menangis, Naruto. Oke?"
"Hahaha ... iya, aku janji..." jawab Naruto. Tawanya barusan terdengar begitu dalam.
Sesaat kemudian, suara denting piano menggantikan ocehan sang gadis dalam rekaman. Intro mengalun selama beberapa detik sampai akhirnya suara jernih—kalau tidak bisa dikatakan merdu—sang gadis dalam rekaman kembali terdengar. Tapi kali ini, dia tidak mengoceh. Kata-kata yang keluar berikutnya adalah lirik lagu yang sepertinya ia janjikan pada Naruto.
"I want to see you right now
I'm yearning for you now
When I hear your voice I start to long for you
I can't be alone so I run to you
I want to be with you
Right now..."
Ini bukan kali pertama bagi Naruto mendengar rekaman yang adalah hadiah ulang tahunnya dari seorang sahabat lama. Tapi tak peduli sudah yang keberapa kalinya rekaman ini ia putar, efek samping yang timbul selalu sama.
Disaat yang bersamaan Naruto tersenyum, air mata juga ikut mengalir turun.
Saat kali pertama rekaman ini ia dengar, ia menangis karena sang gadis dalam rekaman benar-benar berhasil membuat lagu yang awalnya ceria, menjadi terdengar begitu sedih.
Tapi semenjak ia tak lagi bertemu dengan sang pemilik suara bak genta itu, rasanya berbeda. Ia tetap menangis. Hanya saja alasannya berbeda. Rasanya mungkin seperti, ia merindukan si pemilik suara. Dan sialnya, lirik lagu yang dinyanyikan terdengar begitu tepat menggambarkan dirinya.
"I just want to see the city lights and stars with you
That trivial thing is all I need to be happy
On days I sit around with my head down
I feel the kindess you hold out to me deep in my heart..."
Sebenarnya, mendengarkan sebuah lagu sambil menangis tersedu-sedu, sama sekali bukan gaya Naruto. Tapi lain cerita jika mendengarkan lagu ini. Terkadang Naruto merasa, lagu ini seperti sengaja tercipta untuknya. Setiap kata yang melantun dari bibir sang gadis dalam rekaman terlalu menggambarkan dirinya saat ini secara eksplisit.
"Sakura-chan ... aitakute..."
Suara isakannya dan lantunan lagu dari rekaman terus bermain di kamar Naruto yang gelap, sampai akhirnya lampu yang ia biarkan mati tiba-tiba menyala. Terang dan menusuk mata. Dan seketika, menghentikan aliran air yang sejak tadi mengalir dari matanya.
Mata birunya mencoba beradaptasi dengan terang sambil mencari keanehan yang tiba-tiba muncul ini. Aneh, karena seingatnya ia tidak mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Lagipula seingatnya, ia mengunci kamarnya saat terakhir kali ia masuk kamar.
Lalu bagaimana bisa ada orang yang masuk ke kamarnya dan tiba-tiba menyalakan lampu?
"Menyedihkan. Hanya mendengar lagu seperti ini saja kau bisa menangis?"
Belum sempat matanya menangkap satupun rangsangan lantaran masih sibuk beradaptasi, telinga Naruto lebih dulu menyampaikan suara bak gema genta yang terdengar dari arah pintu kamarnya.
Tunggu. Gema genta?
Suara ini...
Kalau ini yang dinamakan halusinasi, Naruto bersumpah untuk menghancurkan apapun yang membuatnya tersadar. Masalahnya, ini adalah halusinasi paling menakjubkan yang pernah tersaji di hadapannya.
Detik berikutnya, tanpa ia sadari kaki-kakinya berderap mendekati sosok berambut pendek dan mengenakan gaun tidur terusan berwarna putih selutut yang tengah melayang di depan pintu kamarnya. Sosok yang, menurut perkiraannya, menghasilkan suara jernih yang terdengar seperti dentingan genta di telinganya.
.
.
.
つづく
Oh maaaayyy...
Kucing-kucingan lanjutan Way to Heaven ama tugas kuliah itu ternyata ... mendebarkan. Maka dari itu, saya minta maaf kalo updatenya lama, yaa...
Biiiigg thanks, dedicated to: Hoshi Yukinua, naruto lover, Jimi-li, Yashina Uzumaki, Jielly N.S, dan yang lain yang udah baca, fave, alert. Makasih banyak yaa...
Soal Naruto yang keliling Konoha sambil bawa-bawa kotak P3K itu, emang terdengar sedikit aneh, I know. Tapi itu terinspirasi sama salah satu drama serial di amrik, kok. Salah satu tokohnya emang suka keliling New York cuma buat ngobatin orang-orang yang luka di jalan. Ada something yang rencananya pengen saya utak-atik sama kebiasaan Naruto yang satu itu.
Trus soal Konohamaru ama pria yang foto bareng Naruto itu, saya biarin dulu aja yaa.. Ntar juga jelas seiring jalannya cerita.
And at last, as for usual, ngga usah ragu-ragu buat ngereview. Fic saya ini masih banyak cacatnya, kan? Ngga usah ragu-ragu buat ngritik. Atau ada yang mau ditanyain? Tanyain aja lewat review. Selama itu ngga ngebocorin endingnya, pasti saya jawab. Hehehe...
xoxo
Ran Kajiura
