Jimin/Yoongi/Boy's Love/Chaptered
Do not plagiarize.
Enjoy!
.
.
.
.
Yoongi menatap tubuh bagian atasnya dengan pandangan datar menghadap cermin. Masih ada bekas memar disana. Ia merabanya sejenak sebelum menurunkan kembali kaus tipis yang dipakainya.
"Hah... Menyedihkan." Gumamnya kepada hampa udara.
.
Yoongi merebahkan tubuhnya dengan malas keatas ranjangnya. Ia kemudian menoleh ke meja nakas di sampingnya dan menatap sebuah snapback hitam yang terletak disana. Snapback yang pagi tadi diberikan oleh Jimin.
Yoongi menghela nafas. Ia jadi khawatir sendiri jikalau kakaknya itu menceritakan sesuatu yang terjadi kepada Jimin. Yah, tak seharusnya juga Yoongi peduli mengenai hal itu.
.
Tetapi... ia hanya merasa sedikit takut...
Takut kalau-kalau Jimin menjauhinya?
Kecewa?
.
Eh dia mikir apa sih?
.
Selanjutnya Yoongi memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
.
.
.
.
Jimin meregangkan kedua tangannya ke samping. Ia kini berada di perpustakaan untuk mengerjakan deadline dua macam laporan yang harus dikumpulkannya esok pagi.
Taehyung baru saja meninggalkannya. Katanya sih sudah di jemput oleh kekasihnya yang bernama Hoseok itu. Lagipula, hari sudah semakin sore. Banyak mahasiswa lebih memilih untuk pulang daripada terus berdiam di kampus. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas ataupun kelas tambahan, mereka akan bertahan lebih lama di kampus.
Tak terkecuali Jimin, beberapa hari ini ia memang disibukkan oleh banyak laporan dan tugas yang menumpuk. Ditambah ia juga merupakan salah satu anggota senat kampus. Membuatnya semakin sibuk saja dengan kegiatan ini-itu.
.
Jimin menshutdown laptopnya. Ia kemudian merapikan buku-buku referensi musik yang masih berserakan di hadapannya untuk dikembalikan ke rak perpustakaan.
Sambil bergumam nyanyian favoritnya, Jimin dengan santai melangkah menuju sela-sela rak tujuannya untuk meletakkan setumpuk buku di tangannya.
.
Jimin baru saja akan berbelok di ujung sebuah rak namun tanpa diduga seseorang datang dari arah depan rak di hadapannya dan menabrak Jimin begitu saja. Membuat setumpuk buku di tangan Jimin jatuh begitu juga bersama orang yang menabraknya, sedangkan Jimin sendiri hanya tersentak ke belakang.
Bruk.
"Aduh!"
.
.
Yoongi dengan tergopoh memasuki perpustakaan. Ia ingin mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya beberapa hari yang lalu.
Dengan langkah tergesa—karena demi Tuhan ia sedang sangat lapar sore ini—Yoongi melaporkan buku yang akan dikembalikannya dan menaruhnya kembali ke rak yang telah diatur.
Tanpa banyak bicara Yoongi melangkah menuju rak tujuannya dengan terburu-buru, tak menyadari bahwa di balik rak yang ditujunya itu ada seseorang yang juga berjalan ke arahnya.
"Aduh!"
Yoongi mengaduh terduduk sesaat ia menabrak seseorang dan buku yang dibawanya itu menimpa dirinya. Dengan kesal ia mendongak untuk menatap siapa yang baru saja menabraknya—atau ditabraknya—.
.
Perempuan penjaga perpustakaan melongok dari mejanya untuk melihat kejadian yang sedikit membuat gaduh tersebut. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus bersama komputer dihadapannya.
.
Jimin membulatkan kedua mata sipitnya menatap siapa yang baru saja bertabrakan dengan dirinya. Dengan khawatir ia ikut berjongkok di hadapan Yoongi dan memunguti buku-buku yang terjatuh.
"Kau baik-baik saja, Hyung?" Tatap Jimin khawatir.
Yoongi hanya mendengus tak peduli. 'Bocah ini lagi,'
"Tidak." Yoongi juga memunguti beberapa bukunya. Keduanya kemudian meletakkan buku-buku tersebut ke tempat yang seharusnya.
Jimin melirik Yoongi disebelahnya dengan gugup. Beberapa hari ini ia memang belum berpapasan dengan Yoongi dan sore ini ia baru melihat Sunbae manisnya itu.
Rasanya jadi kangen...
.
Aish, kelihatannya jadi lebih manis kalau lagi kangen...
.
Yoongi beranjak pergi ketika selesai meletakkan buku-bukunya. Ia melangkah agak cepat keluar perpustakaan. Ia ingin cepat keluar dari kampus kemudian menuju kedai ramen favoritnya kemudian pulang ke rumah dan tidur hingga esok pagi. Rencana pendek yang bagus bukan.
.
Tentu saja rencana itu sangat bagus, kalau saja tidak ada pengganggu.
.
"Hyung, pulang bersama, yuk!"
Yoongi menghentikan langkahnya mendengar suara Jimin. Ternyata bocah itu mengikutinya—lagi—. Yoongi menoleh dan menatap datar Jimin yang tersenyum kearahnya sebelum melanjutkan kembali langkahnya.
"Tidak."
Jimin cemberut.
Ia selalu ditolak kalau menawarkan sesuatu terhadap Yoongi.
.
Mungkin Jimin tak seharusnya menawarkan pada Yoongi.
Maka dari itu, Jimin akan memaksanya saja.
.
Dan Jimin pun menarik lengan Yoongi menuju parkiran dimana motornya berada.
"Yak! Bocah sialan! Lepaskan!"
Jimin hanya menyeringai senang dan terus menggenggam lengan Yoongi tanpa berniat melepasnya sedikit pun.
"Kita ke kedai ramen, Hyung! Aku lapar sekali!"
.
.
.
.
"Nah, dipakai ya, Hyung."
Jimin menyodorkan sebuah helm kepada Yoongi. Sedangkan ia sendiri menaiki motor sport ninjanya yang berwarna hitam keluaran negeri Sakura itu dan mengaitkan helmnya.
Yoongi menatap horor helm yang disodorkan Jimin. Ia membalikkan tubuhnya untuk segera beranjak meninggalkan area parkiran namun Jimin telah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Anggap saja ajakanku ini sebagai permintaan maafku karena tadi menabrakmu." Jimin menatap Yoongi dengan pandangan sendunya—ugh, sekaligus pandangan aegyonya—. "Kumohon, Hyung~"
Yoongi mengalihkan tatapannya. Kenapa akhir-akhir ini ia merasa sering mendapatkan tatapan mengemis seperti itu dari Jimin, sih? Kan ia jadi tak tega—ekhem.
"Kau gila, aku harus pulang." Yoongi masih mencoba untuk berdalih. Namun ia tetap berdiri dihadapan Jimin tanpa mencoba kabur.
Jimin masih tetap dengan tatapan memohonnya. Ia memasangkan helm ke kepala Yoongi dan mengaitkannya. "Aku akan mentraktirmu di kedai ramen. Setelah itu baru kita pulang, oke?"
.
Sialan, itu kan tadi rencananya untuk pergi ke kedai ramen dan setelah itu baru pulang...
Kenapa jadi Jimin yang merencanakan padanya?! Yoongi menggerutu didalam hatinya.
.
Dan sejak kapan Jimin berani menggunakan kata 'kita'?!
Apa itu artinya aku dan kamu?!
.
Yoongi terdiam sesaat. Tangan Jimin masih berada dibawah dagunya untuk mengaitkan pengait—dan kenapa itu harus berlangsung lama Yoongi tidak mengerti—dan pandangannya tiba-tiba hanya terkunci dengan manik gelap milik Jimin yang terus memaksanya untuk menatapnya. Entah kenapa rasanya seolah tertarik begitu saja dari pandangan Yoongi.
"Hyung?"
.
'Tolong jangan bilang kau mulai terpesona padakuuu~' narsis Jimin dalam hatinya.
.
"Hng?" Yoongi tersadar dan menggelengkan kepalanya pelan. Membuat lengan Jimin yang masih berada di bawah dagunya menyingkir. Tuh 'kan pengaitnya sudah terkait—Jimin modus—.
"Baiklah. Kau harus menraktirku."
"Tentu saja!" Jimin tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit sempurna. "Ayo naik, Hyung!"
.
.
.
.
Yoongi turun dari motor dengan pandangan suramnya. Karena... Oh ayolah, posisinya harus menempel dengan punggung Jimin sepanjang perjalanan tadi. Kalaupun ia mencoba tegak, itu akan err terlihat aneh dan jauh lebih beresiko di motor sport seperti itu. Dan juga sialan sekali dengan cara mengendarai seorang Park Jimin.
Ia jadi berpikir siapa saja yang pernah diboncengi Jimin dengan motor itu. Aish, kalau Jimin pernah memboncengi wanita pasti untung sekali dia.
Yoongi menggeleng kuat dengan helm yang masih berada di kepalanya.
.
Dia ini mikir apa sih. Ngapain juga mikirin siapa saja yang mungkin pernah diboncengi Jimin. Aish, bodoh!
.
Jimin menatap bingung tingkah Yoongi setelah turun dari motornya. Ia beralih untuk meraih pengait helm dan melepaskannya dari kepala Yoongi.
"Kau kenapa, Hyung?" Tanya Jimin khawatir.
"Ti-tidak." Tanpa menoleh pada Jimin, Yoongi berjalan begitu saja meninggalkan Jimin dibelakangnya menuju kedai ramen di hadapannya.
Jangan bilang ada nada gugup disana.
Jimin buru-buru beranjak dari motornya untuk menyamai langkahnya dengan Yoongi. "Eh eh tunggu aku, Hyung!"
Jimin sebenarnya sangat bingung melihat tingkah Sunbae manis itu. Ia merasa tak melakukan kesalahan lagi kali ini.
Hanya memaksanya untuk makan bersama. Itupun tadi Yoongi menyetujuinya, bukan? Jimin hanya bingung. Sungguh.
.
Tapi melihat Yoongi yang seperti itu...
Ukh, manis sekali.
Jimin jadi gemas sendiri.
.
.
Jimin tertawa kecil melihat Yoongi yang begitu serius melahap shoyu ramen pedas porsi besar dihadapannya. Melihatnya saja membuat Jimin tahu kalau Sunbae manisnya itu pasti lapar sekali.
"Aigoo~" Jimin meraih selembar tisu. Ia mengulurkannya ke sudut bibir Yoongi yang terdapat cipratan kuah ramennya sendiri. Namun, belum sempat tisunya menyentuh spotnya, Yoongi telah lebih dulu berbicara.
"Singkirkan tanganmu, kau menghalangiku makan." Ucap Yoongi datar dan menyumpitkan kembali ramennya.
Jimin hanya tertawa miris dan membawa tisu ditangannya untuk ia usapkan di sudut bibirnya sendiri. "Pedasnya nagih ya, Hyung."
Dan Yoongi sama sekali tak mempedulikan ucapan Jimin barusan.
.
.
.
.
"Aku pergi seka—"
"Eeh? Kuantar! Kuantar!"
"Tidak usah. Aku—"
"Tak bisa begitu, Hyung. Ayo cepat naik."
"Kenapa tidak bisa? Aku pulang sendiri saja."
"Harus kuantar. 'Kan sudah kukatakan sedari tadi. Kita pulang bersama. Aku akan mengantarmu sampai rumah."
"Memangnya kau tahu dimana rumahku?"
"Aish, tentu saja Hyung harus menunjukkan jalannya padaku."
"Tidak mau."
"Yasudah, aku tanya Yoonjae-hyung saja."
"Yak! Hentikan itu!" Yoongi menghalangi lengan Jimin yang ingin merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya disana. "Aish, baiklah, cepat pergi dari sini."
Yoongi memakai helmnya dengan kesal.
Jimin tersenyum puas. Setelah berargumen cukup panjang dan sangat tidak penting sekali, akhirnya Jimin berhasil membujuknya untuk pulang bersama.
.
.
Sejujurnya Jimin ingin terus mengendarai motornya dengan Yoongi yang ia boncengi. Karena...
Sungguh, Jimin sangat menyukai ketika tangan Yoongi meremas kedua bahunya ketika ia dengan sengaja memberi kecepatan lebih pada motornya.
Apalagi kalau tiba-tiba ngerem mendadak.
Jimin jadi terkikik sendiri membayangkannya.
.
Ia akan berencana untuk sering-sering memaksa Sunbae manisnya itu untuk pulang bersama lagi nanti.
.
.
.
.
"Lampu merah belok kiri, bodoh! Bukan lurus!"
"Yak! Yak! Jangan ngebut!"
"Lewat jalan pintas itu sa—HEI KAU MENDENGARKU TIDAK SIH?!"
.
.
.
.
Yoongi dengan cueknya turun dari motor Jimin, mengembalikan helmnya dan bergumam terima kasih dengan sangat tidak ikhlas.
Demi Tuhan kenapa perjalanannya untuk sampai ke rumah saja ia merasa begitu lelah jiwa dan raga hanya karena diantar oleh seorang bocah yang dua tahun lebih muda darinya.
"Eeh tunggu dulu, Hyung." Lagi-lagi Jimin menahan Sunbae-nya yang ingin berbalik pergi itu dengan menarik pergelangannya. Membuat Yoongi kembali berhenti dan memandangnya jengah.
"Apa lagi sih, Bocah. Kau membuat tanganku terluka hari ini. Lihat!" Yoongi mengangkat tangan kanannya. Jemari Jimin masih melingkar disana, dan dan ada warna merah samar disekeliling pergelangan kulit pucat tersebut. Karena Jimin selalu menarik di tempat yang sama.
Jimin menghela nafas, ia maju selangkah mendekati Yoongi dan membawa lengan Yoongi yang masih digenggamnya ke wajahnya.
Yoongi terkejut, ia refleks memundurkan tubuhnya ke belakang namun ia hanya menemukan punggungnya telah bersandar dengan gerbang hitam rumahnya itu.
Yoongi menegang dan tak bisa berkutik, entah kenapa. Ia merasa desiran asing menggelitik ketika Jimin mengendusi pergelangan tangannya dengan hidungnya.
"Mianhae...," Jimin menghirup aroma Yoongi dari pergelangan tangan yang digenggamnya itu. Hidungnya mengelilingi pergelangan tangan Yoongi, bibirnya sesekali menyentuh ringan permukaan kulit pucat itu. Membuat Yoongi semakin terdiam menikmati perlakuan Jimin.
"Mianhae..." Gumam Jimin sekali lagi. Ia menatap Yoongi penuh emosi. Entah emosi macam apa yang tersirat di kedua bola mata gelap itu. Tapi yang pasti, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Yoongi menyukai tatapan Jimin yang menatapnya seperti itu.
"A-aku harus—" Yoongi menghindari tatapan Jimin, ia mencoba menarik lengannya untuk menjauh dari wajah Jimin. Tetapi Jimin tetap menahannya dan mengendusi seperti anak kucing di tangan Yoongi.
"Kau harum, Hyung. Aku menyukainya."
Ah. Dapat Yoongi rasakan kedua pipinya menghangat mendengar penuturan Jimin. Ingin sekali ia memukul bocah itu namun entah mengapa tubuhnya jadi terasa kaku sekaligus lemas. Sensasi menggelitik itu menggoda dirinya hingga ia tak bisa berkutik.
.
.
TIIIN
Yoongi membulatkan kedua matanya terkejut. Dengan refleks yang bagus ia mendorong Jimin ke sisi hingga membentur gerbang, bahkan gerbangnya sampai bergetar.
Jimin tak kalah terkejut dan meringis sakit, yang barusan itu Yoongi kuat sekali, ia jadi merasa punggungnya memar karena menghantam pagar besi itu.
.
Tapi... Tadi Jimin sempat melihat ekspresi Yoongi yang terkejut. Dan itu terlihat menggemaskan! Sungguh!
.
Yoongi tahu itu suara klakson mobil kakaknya. Wajahnya kembali memerah, kakaknya pasti melihatnya bersama Jimin disana. Astaga, rasanya Yoongi ingin berteriak saja.
.
Yoonjae melongokkan kepalanya dari jendela mobil. "Hei, kalian menghalangi gerbang rumahku. Seharusnya kalian—"
"Berisik! Cepat parkir sana!" Bentak Yoongi, ia dengan langkah cepat beranjak dari sana dan pergi ke sisi gerbang untuk masuk ke rumah. Tak mempedulikan kakaknya, apalagi Jimin yang masih meringis di depan gerbang dengan pandangan terkejutnya karena tak menyangka Yoonjae tiba-tiba datang.
"Err... Jimin?"
Jimin mendongak menatap Yoonjae dengan gugup. Biar bagaimanapun, tadi itu dia pasti kegap, bukan?
"I-iya?"
"Singkirkan motormu dan tolong bukakan gerbangnya untukku ya?"
.
.
.
.
Malam itu Jimin hanya langsung kembali ke apartemennya. Sebenarnya ia diajak Yoonjae untuk sekedar mampir, tapi ia tahu, Yoongi tidak akan menyukainya.
Lagipula... Aduh, pasti canggung sekali nanti.
Tetapi tetap saja, setiap tindakan Jimin selalu ada baiknya dalam rencana pendekatannya selama ini, ia jadi terkikik sendiri mengingatnya.
.
.
.
.
Pukul tujuh pagi Jimin sudah sampai di kampusnya. Menyerahkan dua laporan yang baru saja diselesaikannya beberapa jam lalu.
Dan kini ia punya jam kosong makan siang yang panjang hingga pukul 2 siang nanti di kelas dance untuk menjadi tutor materi yang tertinggal Yoongi...
.
Oh iya.
Jimin harus menyiapkan lagu untuk popping dance yang bisa ia cover nanti.
Harus minta bantuan Taehyung!
Karena Jimin butuh yang agak 'seksi' kali ini. Jadi ia butuh Taehyung untuk merekomendasikannya.
.
.
Taehyung memasuki studio dance yang hanya berisi Jimin seorang itu dengan membawa kantung berisi banyak cookies.
"Yo man~" sapa Taehyung kemudian duduk di hadapan Jimin yang sedang berkutat di depan laptopnya. Ia meletakkan cookiesnya diantara mereka. "Jadi, apa yang bisa kubantu, eh?"
Jimin mencomot sebuah cookies cokelat yang dibawa Taehyung. "Menurutmu, popping dance yang paling bagus dan yang paling seksi yang baru-baru ini sedang in apa?"
"Unthuk apha?" Tanya Taehyung bingung dengan mulut dipenuhi cookies.
"Tentu saja untuk latihanku bersama Yoongi-hyung."
Taehyung menelan cookiesnya sejenak sebelum merespon perkataan Jimin. "Waah~ kau sudah mulai berani, eoh?" Taehyung menyenggol lengan Jimin. "Coba saja Troublemaker yang judulnya Now."
"Tidak, itu terlalu berlebihan, ah."
"Sunmi, 24hours."
"Terlalu seksi."
"Sunmi, full moon."
"Tolong jangan Sunmi, Tae."
"Girls day, something."
"Kau makin ngaco. Popping, Tae~"Jimin mendelik kearah Taehyung seraya meraup cookies kembali.
"Ugh, apa ya..." Taehyung menumpukan kepalan tangannya didagu, pose berpikir. "Kupikir lagu ini cocok, tapi sudah agak lama sih."
"Hm? Beritahu aku."
"TVXQ, Before You Go. Popping-nya, oke. Seksinya, oke. Cocok sekali bukan?" Ucap Taehyung antusias.
Jimin mengangkat sebelah alisnya mencoba mengingat-ingat. "Um~ coba kulihat dulu."
.
.
.
.
Jimin melangkah lesu ke arah toilet. Siang ini Yoongi cabut dari kelasnya dan tak menghadiri kelas dance juga bersama Jimin. Ia juga sudah mengiriminya pesan beberapa kali tetapi tak ada yang terjawab satupun.
.
Jangan tanyakan darimana Jimin memiliki nomor ponsel Yoongi, tentu saja gara-gara kejadian menginap mendadak itu. Dan semenjak itu Jimin selalu mengsmsi Yoongi setiap hari namun tak pernah Yoongi balas sedikitpun hingga hari ini.
.
Kan Jimin jadi kepikirian, kalau terjadi sesuatu lagi bagaimana? Lagipula ia sudah begitu semangat menemukan tarian bagus buat pembelajarannya nanti.
.
Jimin baru saja keluar dari toilet. Ia terkejut ketika di belokan koridor ia melihat Yoongi bersama... Seorang wanita. Seorang Sunbae juga bagi Jimin.
Kelihatannya ada sesuatu yang tak beres. Karena yang Jimin lihat, atau sebut saja yang Jimin intip dari balik tiang koridor ini, Yoongi sedang menahan amarahnya. Lihat saja wajahnya yang manis itu mendelik tajam, kedua tangannya juga mengepal erat, dan ia seperti bergumam sesuatu.
Oh, Jimin sangat hafal tingkah Yoongi yang satu ini. Karena ia hampir setiap kali mengalaminya.
.
"Jadi, kau dan teman-temanmu sengaja menjadikanku bahan taruhan kalian begitu?" Yoongi berkata sinis.
"Em~ oppa, tapi kita hanya—"
"Hanya mendekatiku kemudian mengajakku kencan?" Sudut bibir Yoongi berkedut emosi. Ia merasa telah dipermainkan habis-habisan mengenal wanita dihadapannya ini.
Wanita dihadapan Yoongi merajuk. "Oppa, kan untuk bersenang—"
"Bersenang-senang katamu? Kau pikir aku itu mainan?!" Terbakar sudah emosi seorang Min Yoongi yang memang kadar emosinya hanya setipis kertas itu. Ia mulai mengangkat salah satu kepalan tangannya untuk menghantam wajah cantik itu. "Breng-shhh!"
.
Yeoja berambut ikal sebahu itu membelalakkan kedua matanya tanpa bisa berkata-kata. Ia terkejut. Speechless. Barusan seorang Min Yoongi hampir saja memukul wajahnya dan kini orang yang bersangkutan sedang terhimpit diantara tiang dan seorang pemuda yang memegang erat kedua lengannya dan membekap Yoongi di bahunya dengan cara memeluknya bersamaan dengan tiang dibelakang Yoongi berdiri.
"Sunbae, maaf, tapi pergilah sekarang. Cepat!" Ucap Jimin kepada Sunbae wanita yang masih berdiri terpaku dibelakangnya yang mencoba menahan Yoongi itu.
"E-eh iya. Yoongi-oppa, maafkan kami. Sungguh. Kami takkan melakukannya lagi padamu. Annyeong~" dan wanita itu segera meninggalkan Jimin dan Yoongi disana. Sejenak ia tertawa kecil melihat tingkah Jimin sebelum benar-benar pergi dari sana.
.
KRAUK
"ADUUH!"
Jimin meringis kesakitan, bahu kanannya baru saja digigit oleh Yoongi. Digigit dengan keras.
"Bodoh! Kau ingin membunuhku?! Lepashh—"
Jimin mengunci kedua lengan Yoongi ke belakang tubuhnya dengan satu tangan dan masih menghimpitnya ke tiang dibelakang tubuh Yoongi. Sedangkan tangan lainnya ia pakai untuk membekap mulut Yoongi.
"Diamlah." Jimin bergumam geram karena marah—barusan ia digigit dan itu rasanya perih, man!—.
Namun Yoongi tetap tak bisa diam dan mencoba melepas pegangan Jimin, namun rasanya kenapa sulit sekali. Ia juga sulit menggigit lengan Jimin yang membekap mulutnya. Untung bukan hidungnya yang dibekap, 'Aish bocah sialan satu ini!' Geram Yoongi didalam pikirannya.
"Kubilang diam, Hyung!" Jimin menyentak lengan Yoongi yang terus saja mencoba melepaskan diri. Jimin mendekatkan wajahnya ke wajah Yoongi. Begitu dekat bahkan sampai bibir Jimin menyentuh lengannya sendiri yang membekap mulut Yoongi.
.
Mahasiswa lain yang kebetulan melewati koridor dimana Yoongi dan Jimin berada hanya bisa memandang mereka dengan pandangan bingung. Ada yang terkikik geli, ada yang terkejut, ada yang cuma melihatnya sekilas lalu berlalu dan tak peduli.
.
Yoongi langsung terdiam begitu melihat tatapan Jimin padanya. Tatapan tajam penuh intimidasi yang baru pertamakali ini Yoongi lihat dari Jimin. Pandangan liar yang mengintimidasinya sampai Yoongi sendiri bahkan sulit untuk berkedip. Ia hanya bisa terdiam balik menatap tatapan Jimin.
"Jangan pernah mengumpat pada wanita apalagi memukulnya." Jimin berkata dengan nada pelan menahan amarah didepan wajah Yoongi. Masih dengan tatapan tajamnya yang langsung menatap kedua bola mata sayu milik Yoongi dengan paksa.
.
Dapat Yoongi rasakan debaran jantungnya semakin cepat ketika ia merasakan nafas Jimin menerpa wajahnya. Serasa ada sesuatu yang menggelitik perasaannya saat ini.
.
Lama mereka dalam posisi seperti itu, Jimin akhirnya menghela napas panjang. Yoongi sudah tenang sekarang, menurutnya. Ia menjauhkan wajahnya dan melepas bekapannya dari mulut Yoongi. Namun pegangannya pada pergelangan tangan Yoongi tak ia lepaskan. Padahal pergelangan tangan kulit pucat itu terlihat memerah.
"Sekarang kita pergi." Ajak Jimin menarik lengan Yoongi dengan paksa ke arah studio dance kembali untuk mengambil ranselnya. Setelah itu ia akan membawa pulang Yoongi saja.
.
Maksud Jimin membawa pulang Yoongi ke rumahnya tentu saja, bukan ke apartemennya kok.
.
.
Yoongi kesal setengah mati. Ia berusaha melepaskan genggaman Jimin ditangannya namun tangan Jimin malah menggenggamnya semakin kencang, dan itu tentu saja membuatnya sakit.
Yoongi juga mencoba menendang-nendang kaki Jimin sampai Jimin hampir tersandung beberapa kali, tetapi sayangnya Jimin tetap mampu berdiri dan menyeret Yoongi pergi.
Yoongi terus saja mengumpat. "Lepaskan, bocah sialan!"
"Jimin brengsek."
"Jimin bodoh."
"Bocak tengik."
"Tidak sopan."
"Jimin kampret. Argh, bocah sialan satu ini!"
Jimin sudah sangat gemas sekali dengan Sunbae manisnya itu. Mulut kecilnya yang selalu mengumpati Jimin itu benar-benar membuat Jimin ingin menciumnya dan menelan semua umpatan yang pernah Yoongi ucapkan padanya.
.
O-oke, bagian ciuman itu bisa dilewati nanti. Jimin tak bisa gegabah begitu saja kalau ingin mendapati hati Yoongi.
.
Tapi saat ini Jimin benar-benar dibuat gemas sekaligus kesal oleh Yoongi. Ingin sekali ia mengikat Yoongi agar diam dan tak berontak. Tapi di sisi lain, ia menemukan momen yang manis, hehehe. Jimin terkekeh dalam pikirannya sendiri.
.
Taehyung sedang mengunyah cookies terakhirnya ketika melihat Jimin kembali ke studio dance dengan Yoongi.
Taehyung menatap keduanya dengan bingung. Jimin dengan tampang lesunya sekaligus emosi dan Yoongi dengan wajah jutek dan juga sedikit rona samar di kedua pipinya dengan mulut terus menggumamkan sesuatu. Lalu Taehyung menurunkan pandangannya, ia dapat melihat lengan Jimin yang menggenggam pergelangan Yoongi.
Oh astaga! Jimin kan tadi bilang mau ke toilet! Kenapa sekarang jadi... Begini. Bawa-bawa Yoongi pula.
.
Jimin memutar kedua bola matanya jengah menatap Taehyung yang terbengong bodoh menatap dirinya dan Yoongi.
"Dengar ya, Tae. Apa yang kau lihat tak pernah searti dengan pemikiranmu, oke?" Masih dengan menarik lengan Yoongi, Jimin pergi ke sudut dimana ia meletakkan ranselnya.
"Nah, aku pulang duluan, Tae!" Jimin melambaikan lengannya kearah Taehyung sebelum menutup pintu studio dance itu dan kembali menarik Yoongi juga untuk keluar dari sana.
Blam.
"Anak itu benar-benar serius terhadap Yoongi-sunbae." Taehyung melipat kedua lengannya di depan dada. "Sedikit menguji perasaannya mungkin akan menarik." Taehyung menyeringai.
Ia punya kejutan untuk sahabatnya, Park Jimin.
.
.
.
.
"Berhenti menarik lenganku, bodoh!"
Jimin menghentikan langkahnya sesampainya mereka di parkiran. Ia menatap Yoongi sejenak dengan dalam.
Yoongi yang merasakan tatapan itu lagi dari Jimin kembali diam. Ia tak pernah bisa mengalihkan tatapan itu dari Jimin, entah mengapa.
.
"Maaf aku menyakitimu lagi..." Jimin membawa pergelangan tangan Yoongi yang memerah karena ulahnya itu mendekat ke wajahnya. Mengendusinya dengan hidungnya kembali dan mengecup pelan sekeliling pergelangan tangan itu.
Sekali lagi Yoongi hanya bisa terdiam menikmati perlakuan Jimin
.
Setelah keheningan menyelimuti mereka berdua. Jimin menarik lengan Yoongi ke arahnya dan membuat Yoongi datang ke pelukannya. Jimin memeluk Yoongi dengan lembut. Lengan kanannya yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangan Yoongi yang membuatnya kesakitan, kini ia lingkarkan perlahan di punggung sempit Yoongi. Lengannya yang lain mengusap rambut sewarna karamel Yoongi dengan lembut dan hati-hati.
"Aku takkan pernah melepaskanmu. Jadi, jangan pernah memintaku untuk melepasmu, Min Yoongi."
Bisik Jimin di telinga Yoongi.
.
.
.
.
Yoongi hanya bisa terdiam. Jantungnya kembali berdebar cepat ketika Jimin memeluknya. Dan wajahnya kembali menghangat ketika Jimin berbisik lembut di telinganya.
Yoongi ingin berontak.
.
Tetapi ia terlalu menyukai pelukan Jimin.
.
.
.
.
Yoongi mengerutkan keningnya dengan lucu—kalau Jimin melihatnya mungkin Jimin akan langsung membekapnya pulang—membaca pesan di ponselnya.
Oke, Yoongi tahu. Sangat tahu sekali kalau teman-temannya itu bisa dikatakan agak sedikit melewati garis normal. Seperti saat ini, mengacaukan malam minggu yang damai milik Yoongi.
Mereka boleh saja disebut sebagai geng underground rapper yang keren. Tapi kalau sudah hangout bareng, semuanya berubah drastis.
Oke, Yoongi diajak untuk bersenang-senang bersama geng-nya malam ini di studio cafe mereka. Sebenarnya ia malas dan lelah, tetapi karena Yoongi tipe orang yang setia kawan. Jadi, ia memutuskan untuk mendatangi mereka saja.
.
"Jadi, dalam rangka apa tiba-tiba kita berkumpul seperti ini, guys?" Tanya Yoongi. Ia meneguk tea latte di tangannya.
"Sebenarnya ini rencanaku," Hoseok menyahuti. "Aku ingin berbagi kebahagiaanku bersama Taehyungie di hari jadi kami yang ke 27 bulan! Angka bagus, bukan?" Lanjut Hoseok kemudian tertawa bersama kekasihnya yang duduk disebelahnya. Mereka berseru heboh kemudian. Meramaikan suasana bersama yang lain juga.
Tuh 'kan. Yoongi hanya menatap bosan pasangan hiper dihadapannya itu. Ia mendudukkan dirinya di sofa kosong yang belum terisi.
"Ayo, pesta seperti apa yang kalian rencanakan?" Seru Namjoon dari ujung sofa lainnya.
"Sebentar, aku mengundang satu orang lagi. Dia sahabatnya Taehyungie. Yang event kemarin battle dance bersamaku itu, lho."
.
Tiba-tiba Yoongi tersedak minumannya sendiri mendengar penuturan Hoseok.
.
"Ah! Siapa namanya?"
"Namanya—hei! Disini Jimin-ah!" Hoseok dan Taehyung melambaikan tangannya ke arah Jimin yang baru saja memasuki cafe. Ia memakai celana jeans hitam dengan kaus putih tipis dan jaket denim. Tak lupa sebuah snapback yang ia pakai ke belakang dan tetap menampilkan poni hitamnya.
"Annyeong~ Park Jimin imnida." Sapa Jimin kepada mereka yang belum ia kenal. Ia tersenyum lebar. "Aku diundang Taehyung kemari."
Jimin kemudian duduk di sebelah Yoongi. Yang kebetulan memang hanya disitu space yang belum terisi. "Hai, Yoongi-hyung." Jimin menoleh kearah Yoongi dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Yoongi seperti biasa.
Yoongi hanya berdehem dan mengangguk sekilas. Ia masih sedikit terkejut Jimin bisa bergabung dan akrab begitu saja bersama gengnya.
"Nah, sekarang kita sudah berkumpul semua. Mari kita mulai pestanya!"
Di meja persegi panjang yang di kelilingi sofa itu terisi oleh Hoseok, diikuti Taehyung di sisi kanannya, lalu Yoongi, Jimin, dan Namjoon. Mereka hanya berlima.
.
"Tadaaa! Kita pesta soju! Yuhuu~" ucap Hoseok dan Taehyung berbarengan seraya mengeluarkan beberapa botol soju dari bawah meja.
Yoongi hanya menatap malas, ia masih menyeruput tea latte di tangannya.
"Woaah! Daebak!" Sedangkan Jimin menatap antusias melihat cukup banyak botol soju yang dikeluarkan oleh Hoseok dan Taehyung.
"Yo, Jimin-ah~ Bersenang-senanglah~" Taehyung memberi kedipan penuh arti kepada Jimin.
.
.
(Ps: acara pesta Soju sebenarnya ide Taehyung dan ia bekerjasama bersama kekasihnya dan menceritakan semua hal tentang Jimin dan Yoongi kepada kekasih semata wayangnya itu. Hoseok sih senang-senang saja, ia juga mendukung Yoongi bersama Jimin, jadi ia mengikuti ide kekasihnya itu.)
.
.
.
.
Taehyung menghampiri Yoongi, duduk di sebelahnya dan membawa satu gelas kecil berisi soju. "Yoongi-hyung? Ayolaah~ oneshot saja?"
Ternyata Taehyung sedang membujuk Yoongi untuk ikut berpesta soju. Yang lain sudah menikmati dan mengobrol juga tertawa bersama. Hanya Yoongi yang belum minum sedikitpun.
"Ah, aku sedang tak ingin." Yoongi menggeleng pelan.
"Ayolah, Hyung~ oneshot saja. Kalau tidak, kau sama saja tidak menghargai hari jadiku bersama Hoseok-hyung." Taehyung cemberut, pura-pura ngambek.
.
Melihat Taehyung yang terus merajuk padanya. Lama-lama Yoongi menyerah juga. Ia mengambil gelas kecil dari tangan Taehyung dan langsung meneguknya dengan oneshot. Semburat merah langsung muncul di kedua pipi pucatnya.
"Asal kau tahu, Taehyung-ah. Oneshot tidak akan cukup. Aku selalu ketagihan. Berikan aku botolnya!"
.
Dari sisi lain, Jimin menatap Yoongi dengan pandangan khawatir.
.
.
.
.
To be Continued...
.
.
.
.
.
Nb :
Halo halooo saya kembali.
Umm oke ini semakin cheesy, tapi... Tapi... I'm still so much in feel with this couple aaaa ;;A;;
Terimakasih sudah mau membaca sampai sini,
Sumbangan ide, kritik, saran, review, please? :3
