Tittle : Distress

Pairing : B. Ice & Yaya

Author : Summer Nami

Genre : Drama

Rating : T (teen)

Disclaimer : I don't own anything

All charas are Monsta's

Story by Ariana-senpai

"Maaf, Ice.." Yaya bergumam pelan, masih menyentuhkan telapak tangannya di wajah Ice yang tak memberi respon apapun. "Sekarang, apa yang sebaiknya kulakukan?" suaranya terdengar putus asa.

"Mama.."

"Acqua, kamu seharusnya masih di rumah sakit.." Yaya membalas dekapan putranya dengan satu belaian lembut di kepala.

"Acqua sudah bilang ingin pulang dengan mama, kan..? tapi mama tidak dengar, jadi Acqua minta paman untuk mengantar Acqua pulang.." nada suara anak itu kembali terdengar ceria, meski tak seceria sebelum kehancuran mendekati keluarga mereka. "Acqua kangen papa." Ia segera melepas dekapan dari tubuh ibunya, perlahan menaiki ranjang untuk melihat keadaan ayahnya yang terlelap. Satu tangan terulur meraih wajah Ice, menyentuhnya pelan lalu mendaratkan satu kecupan singkat di dahi dan pipi.

"Mama, papa saat tidur itu terlihat manis ya?" anak itu bertanya pelan, sebuah senyum terkembang di wajahnya. "Mama… ingin melihat senyum papa lagi? Acqua ingin melihatnya.."

"Mama… papa pasti kembali kan?" anak itu turun dari ranjang dan kembali bersembunyi dalam dekapan Yaya. "Papa yang dulu pasti kembali kan..? papa yang selalu tersenyum hangat pada Acqua, papa yang selalu menceritakan banyak hal, papa yang selalu memberikan semua yang Acqua mau.. ya, kan, mama…?"

"Mama.. sangat mencintai papa kan..?" Acqua kini mengangkat wajah, menatap dalam kedua bola mata ibunya yang sejak tadi hanya diam. "Mama, tahu tidak? Papa sangat mencintai mama.. setiap kali bicara tentang mama, wajah papa selalu terlihat bahagia, kedua pipinya akan menjadi merah seperti tomat.. papa selalu punya banyak cerita tentang mama.."

"Mama.. sangat mencintai papa kan..? papa sangat mencintai mama, semua tentang mama, semua yang mama lakukan, bagi papa, mama adalah orang yang sangat berharga.." Acqua kembali menenggelamkan wajah dalam pelukan Yaya.

"Acqua.. maaf.."

...

..

.

Kenapa kau lakukan ini padaku, Ice..?

"Karena aku membencimu."

Kenapa kau membenciku? Aku melakukan segalanya untukmu, membagi semua yang kumiliki bersamamu..

Tawa mengejek keluar dari bibir keringnya, "Kau memang seharusnya membagi semua itu denganku, karena kau lah yang lebih dulu merebut semua milikku."

Apa yang kurebut darimu? Tidak ada! Kau yang merebut semuanya dariku, dari ibu, dari kami..

Bibir yang tadi melengkung dengan senyum sinis kini kembali datar, terkunci. Diam, seolah seluruh kemampuannya berbicara hilang, begitu pun dengan semua kata yang telah tersusun rapi di tenggorokannya.

Kau merebut ayah dariku, kau… membunuhnya…

"Tidak… aku tidak membunuhnya, aku tidak membunuh siapapun," hentakan keras kepalanya menandakan bahwa ia tak ingin menerima semua kata-kata yang masuk ke gendang telinganya.

Pembunuh…

"Tidaakk!" kedua tangannya menangkup erat kedua daun telinga.

Pembunuh… kau bahkan tega membunuhku, saudaramu sendiri,melukai Yaya, membuat dia menderita sampai seperti sekarang…

"Hentikan!" kedua kakinya menghentak, menendang sosok yang ada di hadapannya. "Aku tidak membunuh siapapun.."

Kau yakin tidak melukai siapapun? Kau tidak lihat orang-orang orang-orang di sekelilingmu menderita karena yang kau lakukan? Pembunuh…

"Hentikan! Kau sudah mati.. hentikan!"

Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau merebut Yaya dariku..

"Henti… kan.." suaranya kini terdengar putus asa, ia sudah lelah.

Aku membencimu, pembunuh.. satu senyum aneh tergantung di wajahnya. Satu hal yang membuatku sedikit senang… terima kasih sudah menghadiahkan Acqua untukku..

Mendengar kata itu membuat kepalanya tiba-tiba terasa sakit, seperti tertimpa batu besar, dadanya terasa sesak dan tanpa sadar air mata kembali mengalir membasahi kedua pipi pucatnya.

Terima kasih.. telah menghadiahkan Acqua untukku..

Tak kuat lagi, menahan semua tekanan itu, dengan sekuat tenaga dilemparkannya vas kaca yang ada di atas meja dekat tempatnya duduk ke satu titik, tempat bayangan orang yanp paling ia benci berkelebat.

"Acqua itu… putraku.."

...

..

.

"Ochobot!" anak itu berteriak diantara kedua tangannya yang tertangkup membentuk lingkaran, memanggil kucing peliharaan yang tiba-tiba menghilang sesaat setelah ia mengalihkan pandangan sebentar. "Ochobot!"

Ia berjalan di sekeliling taman, mencari kucingnya ke setiap sudut. Taman ini… taman tempat ia menemukan kucing itu hampir satu tahun yang lalu.

Hampir satu tahun berlalu..

Waktu yang dimiliki anak itu seperti terbagi dua dan keduanya sangat bertolak belakang. Di luar rumahnya waktu seolah berjalan dengan sangat cepat, sedangkan waktu terasa berputar sangat lama di dalam rumah, bahkan seolah berhenti di tempat dengan semua hal yang sama terud terulang.

Ia rindu suasana rumahnya yang dulu, rindu kehangatan rumahnya, dan yanp paling dirindukannya adalah ayahnya.

Hari itu, entah mengapa tiba-tiba ia pergi keluar rumah sendirian , mengajak jalan-jalan kucing tersayang. Sebenarnya ia melarikan diri dari pengawasan bibinya. Ia hanya ingin mencari udara segar.

"Ochobot!" suaranya lebih keras.

Suara debam kecil terdengar disusul dengan ringisan pelan, "Sakit.." Acqua jatuh terduduk ke tanah akibat tabrakan kecil, ia yang berjalan tanpa melihat ke depan tanpa sengaja menabrak sesuatu atau seseorang tepatnya.

"Oh.. maaf.." suara itu berasal dari sosok bersetelan rapi dengan coat panjang abu-abu, wanita itu berlutut, bermaksud membantu si anak berdiri. "Kamu tidak apa-apa?" nada suaranya terdengar cemas.

"Ochobot!" tak menghiraukan suara cemas dari wanita di hadapannya, Acqua berteriak girang saat melihat kucing tersayangnya ada di dalam dekapan wanita yang ditabraknya tadi. "Ochobot, aku mencarimu sejak tadi, kenapa pergi begitu saja.." anak itu mengulurkan tangan meminta kucingnya dikembalikan.

"Kamu baik-baik saja, adik kecil?" wanita itu mengulurkan kucing dalam dekapannya.

"Ya.. aku baik-baik saja, bibi. Terima kasih sudah menemukan Ochobot.." Acqua berdiri.

"Kamu tidak terluka?"

"Tidak.." gelengan penuh semangat diberikan. "Jangan khawatir, bibi."

"Kenapa kamu bermain sendirian, kemana ibumu? Ayahmu?" wanita itu bertanya sambil menatap intens pada Acqua. "Ah, aku Hanna.. siapa namamu?"

"Acqua.." senyum riang terbit di wajah anak itu. "Bibi Hanna dokter ya?'

Alis Hanna tertaut, ia terkejut kenapa anak di hadapannya bisa berkesimpulan seperti itu. "Kenapa bisa tahu?"

"Bibi bau rumah sakit.." Acqua mencium puncak kepala kucing tersayangnya dengan maksud menutupi hidungnya dari aroma antiseptik rumah sakit yang tertinggal di pakaian Hanna. "Acqua tidak suka rumah sakit.."

"Kenapa?" Hanna mengajak Acqua berjalan, duduk di sebuah ayunan yang kebetulan sedang kosong. "Acqua pernah ke rumah sakit menjenguk seseorang? Atau pernah tinggal di rumah sakit?"

Acqua menggeleng, ia mengayunkan ayunannya perlahan sambil berusaha tetap memijakan kaki pendeknya di atas tanah berpasir. Satu tangannya berpegangan pada rantai ayunan, sementara yang lain masih memegangi Ochobot.

"Papa pernah dipaksa tinggal di rumah sakit.."

Wajah anak itu tertunduk, keceriaan yang tadi sempat terkembang kini hilang perlahan, mengingat kejadian empat bulan lalu. Ice dibawa paksa oleh satu tim dari rumah sakit yang dipanggil Taufan, saat itu kondisi Ice benar-benar sudah tak bsa lagi terkendali dan bahkan hampir melukai putranya sendiri.

Saat itu cuaca sedang dingin, Acqua yang khawatir ayahnya akan kedinginan, membawakan selimut lebih agar sang ayah merasa hangat. Tapi kedatangan Acqua tak tepat, kondisi Ice sedang buruk. Jika Taufan tak datang, Acqua pasti akan kembali terluka terkena lemparan vas kaca dari ayahnya yang tengah mengalami delusi.

"Ayah Acqua sedang sakit bukan?"

Sedikit tersentak karena suara itu, tapi gelengan pelan kembali menjadi jawaban dari pertanyaan Hanna, "Papa tidak sakit.. papa hanya lelah dan sedikit bingung… papa Acqua tidak sakit walaupun papa sering berteriak dan mendorong Acqua, Acqua yakin papa pasti tetap sayang sama Acqua. Papa yang dulu pasti akan segera kembali.." terlihat satu senyum kembali terkembang di wajahnya, tapi siapapun yang melihat senyumnya akan tahu bahwa itu adalah senyum yang dipaksakan.

Hanna sebenarnya tak mengerti apa yang tengah dialami anak itu, tapi ia berusaha mendengarkan dengan seksama setiap kalimatnya. "Papa Acqua masih di rumah sakit?"

"Tidak.. sekarang papa sudah tinggal sama Acqua lagi, walau papa belum sembuh, tapi Acqua yakin kalau tinggal bersama mama dan Acqua, papa pasti cepat sembuh.. keluarga itu obat yang paling manjur untuk semua penyakit kan, bibi Hanna?"

Hanna hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyum. Ia mengulurkan satu tangan, menyentuh puncak kepala Acqua, dan sedikit mengacak-acak rambutnya. Ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi ia sudah sangat menyukai anak itu, dan anehnya anak laki-laki itu pun tak merasa canggung sama sekali.

Obrolan mereka terus berlanjut, dan tentu saja yang mendominasi adalah si kecil Acqua. Anak itu bertanya banyak hal tentang pekerjaan Hanna, lalu ia bercerita tentang kucing tersayangnya, makanan kesukaannya, semuanya. Namun ia tak lagi membicarakan keluarga atau pun keadaan rumahnya.

.

.

.

"Sudah sore.. Acqua mau pulang ya, bibi Hanna." Acqua melompat dari ayunannya tiba-tiba.

"Mau bibi antar?" Hanna pun ikut bangkit dari ayunannya lalu berlutut berhadapan dengan anak itu. "Sebagai hadiah karena sudah menemani bibi siang ini, mau bibi belikan es krim.. bagaimana?"

Lagi-lagi senyum menggemaskan terkembang di wajah mungilnya, "Es krim?! Acqua mau!"

Tanpa banyak bicara, Hanna langsung menggandeng tangan anak itu, berjalan perlahan meninggalkan taman bermain yang sudah sepi sejak tadi. Sambil berjalan, terdengar senandung kecil dari bibir anak enam tahun itu. Mereka berdua menghampiri mobil penjual es krim yang berhenti tak jauh di luar taman.

.

.

.

"Waa.. papa suka es coklat.." Acqua bergumam kecil sambil menjilati es krim coklat yang ada di tangannya.

"Benarkah?"

Hanna masih berjalan di samping anak itu. Ia memutuskan untuk mengantarnya sampai ke rumah, tak tega harus melihat si anak pulang sendirian meskipun hari belum begitu gelap.

Mendengar kalimat Acqua membuat Hanna tertegun sesaat, memikirkan sesuatu. Kalimat itu membuatnya mengingat seseorang. Sambil berjalan, diperhatikannya anak itu lekat-lekat. Setiap gurat wajah si anak benar-benar mirip dengan seseorang yang ada di pikirannya saat ini.

.

.

.

"Ah.. bibi Ara..!" Acqua tiba-tiba menjerit tertahan saat melihat Ara yang tengah berlari menghampirinya. Ternyata tanpa sadar, mereka berdua sudah sampai di depan rumah Acqua.

"Acqua! Kemana saja kamu… kamu tahu, aku mencarimu kemana-mana? Aku bahkan hampir menghubungi ibumu karena kamu menghilang tiba-tiba.." semburan amarah dari Ara berhasil membuat nyali Acqua sedikit ciut dan bersembunyi di balik tubuh Hanna.

"Ara.."

Hanna tertegun menatap sosok yang berdiri di hadapannya, teman satu angkatannya saat masih di universitas, teman yang sudah lama tak dilihatnya.

Bukan hanya Hanna, Ara pun terdiam di tempat, mengunci rapat bibirnya.

"Maaf, bibi, aku hanya ingin mengajak Ochobot jalan-jalan ke taman.."

Acqua muncul dari balik lindungan tubuh Hanna saat Ara memberi isyarat agar mendekat padanya. Perlahan anak itu berjalan mendekatinya.

"Lain kali, bilang padaku kalau mau pergi ya..!" Ara mengacak-acak rambut Acqua gemas.

Hanna masih belum bersuara sejak kira-kira dua menit yang lalu. Pikirannya masih berusaha mencerna semua hal yang ada di hadapannya. Ia yakin semua ini terhubung oleh satu benang merah. Dan lagi-lagi, dalam kepalanya hanya ada sosok itu.

"Bibi, terima kasih sudah menemukan Ochobot dan mengantarku pulang.."

Dalam diam, Hanna hanya tersenyum membalas ucapan terima kasih anak itu.

"Oiya, bibi… besok ulang tahun papa, boleh aku membuat kue?"

Besok?

13 Maret?

Hanna masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Membuat sendiri? Mmm… bagaimana kalau beli saja? Lebih mudah kan?"

"Ya.. benar," Acqua mengangguk kemudian kembali memberikan perhatiannya pada Hanna yang masih diam melihat mereka. "Bibi Hanna.. kalau mau, bibi bisa datang besok untuk merayakan ulang tahun papa. Semakin banyak orang.. papa pasti senang."

"Acqua sudah sore, masuklah ke rumah," Ara memberi perintah pada anak itu, dan tentu saja dituruti dengan patuh oleh Acqua setelah sebelumnya ber-dadah ria dengan Hanna.

Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan teman lamanya, akhirnya Ara angkat bicara, "Nama anak itu, Boboiboy Acqua.." digantungkannya sebuah senyum. "Putra Yaya dan Ice.."

Tepat.

Semuanya tepat seperti yang sejak tadi dipikirkannya.

"Kau sudah memikirkan itu sejak tadi kan, Hanna? Anak itu memang sangat mirip dengan Ice.. setiap kali melihatnya, aku justru merasa sedih karena kondisi Ice saat ini.."

Tak merespon, Hanna hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

...

..

.

"Jadi, bibi teman kuliah paman Taufan ya..? berarti bibi juga kenal dengan papa dan mama bukan?"

Sebuah anggukan menjadi respon dari Hanna yang berdiri di samping Acqua.

Hari ini, mereka berdua tak sengaja bertemu di took kue. Seperti yang direncanakan anak itu kemarin, ia pergi membeli kue untuk ulang tahun ayahnya. Ia tak sendiri tentu, Ara ada bersamanya, menjaganya.

"Kalau begitu, bibi kenal dengan paman Blaze?"

"Bisa dibilang begitu.. kenapa?"

"Paman Blaze itu orangnya seperti apa? Kenapa mama sangat menyukainya dibandingkan menyukai papa?"

"Blaze itu saudara kembar papanya Acqua, dia orang yang baik dan ceria, juga pandai."

"Tapi, Acqua tidak suka dengan paman Blaze.. dia yang membuat papa jadi seperti sekarang." Wajah Acqua terlihat kembali murung saat teringat apa yang terjadi pada ayahnya saat ini.

Entah karena merasa tak nyaman atau ada hal lain, tiba-tiba Ara menarik Acqua menjauh dari Hanna, memaksa anak itu tetap berjalan di sampingnya. Ia bukannya tak suka dengan Hanna, hanya saja ia tahu benar bahwa kedatangan Hanna saat ini tidaklah tepat, dan hari ini, wanita penyuka warna biru muda itu akan bergabung dengan mereka di acara perayaan ulang tahun Ice. Ia tak ingin Yaya melihat Hanna saat ini, dan ia juga tak ingin teman lamanya itu melihat kondisi Ice.

Tapi sudah terlanjur..

Acqua terlanjur mengajak teman barunya untuk ikut bergabung.

...

..

.

Tepat seperti yang tadi sempat dipikirkan Ara, suasana rumah sedikit berubah ketika Hanna datang bergabung, dan hal itu terlihat jelas dari reaksi awal Yaya ketika menerima teman lama mereka bergabung.

Tak nyaman…

Lebih tepatnya dibilang begitu..

Ketidaknyamanan itu hanya dirasakan oleh Yaya dan Ara ternyata, karena Taufan justru terlihat sangat senang bisa bertemu sahabat lamanya setelah sekian lama.

.

.

.

Acqua berjalan berjingkat saat melintasi lorong kamar kedua orang tuanya, perlahan dibukanya kenop pintu dengan satu tangan, tangannya yang lain membawa sebuah piring kecil berhias mini cake coklat. Senyum ceria tergantung di wajahnya. Ia tak sabar ingin melihat seperti apa ekspresi ayahnya saat melihat kue favoritnya itu.

"Ochobot… pertama kita rayakan ulang tahun papa bertiga saja, lalu lainnya menyusul.." ia berbisik pada kucing yang mengekor dengan setia di belakangnya.

Senyum yang tergantung di wajahnya semakin melebar saat ia melihat sosok ayahnya tengah duduk tenang di depan sebuah cermin besar, menatap bayangannya sendiri.

Dengah langkah pelan, didikatinya sosok itu. Ia tak ingin membuatnya tiba-tiba tak merasa nyaman apalagi terkejut.

"Happy birthday, papa.. happy birthday, papa… happy birthday, dear papa.. happy birthday, papa.." dinyanyikannya lagu itu dengan pelafalan sebisanya, membawa mini cake ke depan ayahnya yang hanya diam memandanginya. "Papa.. selamat ulang tahun!" ia bertepuk tangan sambil memposisikan diri duduk berhadapan dengan sang ayah. "Papa, hari ini kita kedatangan tamu yang akan ikut merayakan ulang tahun papa.. tapi sebelumnya, Acqua mau merayakannya berdua dengan papa.."

Setelah sekian lama, akhirnya sebuah respon ditunjukan..

Satu anggukan pelan diberi oleh Ice, dan hal itu membuat si kecil Acqua meloncat senang dan memeluk ayahnya.

"Alhamdulillah, papa… Acqua tahu papa pasti sembuh.." anak itu mempererat dekapannya dan menghadiahi satu kecupan singkat di pipi sang ayah. "Nah, ayo makan kuenya.." ia lepaskan dekapannya, sesaat kembali menatap wajah ayahnya.

Satu hal yang membuatku sedikit senang, Ice…

Acqua duduk dan mulai memotong mini cake yang ada di depannya.

"Di luar mama dan yang lainnya sedang menyiapkan sesuatu untuk papa, karena itu, sekarang kita rayakan berdua lebih dulu, ya, papa..?"

Terima kasih sudah menghadiahkan Acqua untukku, Ice..

"Tidaakk..!"

Acqua mengangkat kepala, melihat ke arah ayahnya yang tiba-tiba bersuara.

Acqua… dia anakku.. anakku dan Yaya..

"Tidaakk…!"

Acqua tak mengerti dengan apa yang terjadi pada ayahnya, tapi raut wajah anak itu berubah drastis, rasa takut dan cemas mendominasi perasaannya. "Papa.. kenapa? Ada apa, papa..?" Acqua yang panik segera bangkit, menyentuh bahu sang ayah. "Papa.."

"Tidaakk… DIA BUKAN ANAKMU..!"

Sekali lagi, Ice mendorong putranya sendiri dengan kasar, menghadiahkan satu benturan keras di tubuh mungil anak itu.

"Papa?!"

Beberapa detik setelah teriakan Ice juga suara benturan itu, derap langkah kaki terdengar menghampiri kamar itu. Tak butuh waktu lama untuk melihat Yaya dan yang lainnya memasuki kamar.

"Mama.." Acqua masih terduduk di tempat, memegangi punggungnya yang terasa ngilu. Sudah berkali-kali ia terbentur di tempat yang sama. Dengan segera, Yaya mendekati putranya.

"Bukan anakmu.." Ice bangkit, membawa sebuah gelas kaca yang sejak tadi memang ada di sampingnya, berjalan terhuyung, mengangkat gelas itu tinggi-tinggi, bermaksud melemparnya.

"Ice, apa yang ingin kau lakukan?" tak ingin lagi terjadi hal buruk pada putranya, Yaya segera bangkit dan menghalangi Ice dari apa yang akan dilakukannya, mencengkram tangannya erat, mencegahnya melakukan hal yang akan membahayakan semua yang ada di ruangan itu.

Gelas itu terlempar, pecah beradu dengan permukaan cermin besar di belakang Yaya. Di mata Ice saat ini, sosok bayangan yang terpantul di permukaan cermin tengah tersenyum mengejek.

Kau mau berteriak dan menolak seperti apapun.. Acqua tetap saja putraku..

Satu-satunya yang dilakukan Ice hanya meronta, sekuat tenaga agar bisa lepas dari cengkraman Yaya. Meronta dengan segala kekuatan dari kedua tangan yang memeluk tubuhnya erat.

"BUKAN! Dia bukan anakmu..!"

Suara pecahan kaca yang lebih keras terdengar ketika tubuh itu menabrak cermin besar yang sudah retak di belakangnya. Dan tanpa bisa dicegah, cermin itu tumbang tepat menimpa tubuh Yaya.

"Mama!"

Lagi-lagi kepanikan melanda ruangan itu, Ara dan Acqua langsung menghampiri Yaya, memindahkan kerangka cermin besar itu, sementara Taufan kini bersusah payah menahan Ice yang masih saja meronta dan berteriak keras.

"Mama! Bertahanlah! Acqua mohon.." mata anak lima tahun itu kini basah oleh air mata, melihat kondisi ibunya saat ini, darah banyak mengalir dari kepalanya, sementara matanya terpejam menahan seluruh rasa sakit.

"Tidak apa-apa, Acqua.." ia bergumam, menenangkan putranya.

"Hanna! Hubungi psikiater dan pihak rumah sakit.. sekarang!" Hanna yang sejak tadi hanya diam melihat, sedikit tersentak mendengar komando Taufan.

Pria beriris biru itu tak sanggup lagi menahan Ice yang masih meronta, entah darimana semua kekuatan sepupunya.

"Jangan..!" Yaya bangkit perlahan, tak menghiraukan rasa sakit yang amat sangat di kepala juga beberapa bagian tubuh yang lain yang terluka karena pecahan kaca. Ia berjalan ke sudut ruangan, tempat dimana Taufan tengah menahan Ice. "Ice… maafkan aku.." gumamnya pelan. Ia mengulurkan tangan menyentuh wajah pucat gelisah itu, dan ternyata berhasil membuatnya sedikit lebih tenang.

"Maaf… semuanya salahku… maaf.."

Sadar tak ada lagi penolakan, perlahan Yaya mendekatkan wajahnya ke wajah Ice, menyentuhkan bibirnya ke bibir tipis yang dingin itu, sembari menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di wajah suaminya.

Ia tak peduli dengan semua yang ada di ruangan itu, tak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya sendiri, ia tahu benar, rasa sakit yang dirasakan Ice lebih dari yang ia rasakan. Dan ciuman itu, ia tak mengharap balasan, ia hanya ingin… mengakhiri semuanya.

"PAPA! MAMA!"

Ice dan Yaya ambruk di saat yang hampir bersamaan, dan itu membuat Acqua yang sejak tadi berlindung di balik tubuh bibinya panik, segera menghampiri kedua orang tuanya yang sudah kehilangan kesadaran.

.

.

.

Suara dengkuran halus terdengar di kesunyian ruang rawat yang didominasi warna putih itu, sedikit terdengar bersahutan dengan suara desis uap yang keluar dari alat penghangat ruangan kecil yang ada di atas meja.

Di sisi ranjang, sosok anak mungil tertelungkup, tidur sambil menggenggam erat satu tangan ibunya, berharap ia akan bisa merasakan satu gerakan ketika ibunya terbangun nanti. Satu gerakan kecil yang dinantikannya selama empat hari ini.

Acqua, anak lima tahun itu menghabiskan waktu selama empat hari untuk berjaga di kamar rawat ibu dan ayahnya yang terpisah. Terus berjaga, berpindah dari kamar satu ke kamar yang lain.

Dan sekarang, karena kelelahan..anak itu tertidur lelap, dengan bekas air mata yang tergores samar di pipi pucatnya.

"Taufan.. apa yang harus kita lakukan..?" terdengar sebuah bisikan pelan dari luar ruang rawat itu.

Di depan pintu, berdiri dua sosok yang menatap nanar punggung mungil yang bergerak stabil naik-turun akibat hembusan napas pelan dalam tidurnya.

Taufan menggeleng pelan, menghembuskan satu napas berat. Ia mengulurkan tangan mengelus pelan wajah Ara yang bersandar di bahunya.

"Anak itu.. kenapa dia harus melihat dan merasakan semua ini… dia masih kecil, Taufan.." Ara berbisik lagi, lebih pelan dari sebelumnya.

Lagi-lagi hanya sebuah gelengan pelan yang menjadi jawaban dari bisikan pelan tadi. Taufan tak menoleh untuk melihat wajah orang yang disayanginya itu, kedua bola matanya fokus melihat satu gerakan yang tiba-tiba muncul dari tubuh mungil Acqua. Anak itu terbangun, terbangun karena satu gerakan pelan dari tangan ibunya yang ia genggam erat.

.

.

.

.

"Mama.." Acqua mengusap kedua matanya perlahan, kesadarannya belum sepenuhnya kembali untuk bisa benar-benar merasakan gerakan dari tangan sang ibu.

"Ice.."

"Mama!"

Anak itu berseru setelah mendengar suara pelan yang terlontar dari bibir pucat ibunya. Ia lepaskan genggaman tangan dan mengguncang pelan tubuh ibunya, memastikan bahwa apa yang barusan didengarnya bukanlah khayalan.

"Ice.."

"Mama.. ini Acqua," Acqua melihat kedua kelopak mata ibunya mulai bergerak, terbuka perlahan. Sedikit ragu, ia mencoba menyentuhkan tangannya ke wajah yang terasa sedikit dingin itu.

Terbuka..

Akhirnya kedua mata itu terbuka. Beberapa saat lensa bening itu masih terlihat kosong dan tak fokus, tapi perlahan, setelah Acqua berusaha menarik kesadaran ibunya, akhirnya kedua manic itu mulai fokus menatap anak laki-laki di hadapannya.

Awalnya, hening mengisi ruang rawat itu, belum ada satu suara pun keluar setelah Yaya sadar, begitu juga Acqua. Anak itu hanya diam mengamati wajah sang ibu, dan tanpa sadar air mata mengalir di wajahnya.

"Acqua, kenapa menangis?" suara itu terdengar bagai bisikan di telinga Acqua. "Jangan menangis..!" tangan Yaya berusaha menyentuh puncak kepala putranya, mengusapnya pelan.

"Acqua kira mama gak akan bangun.."

Akhirnya, setelah empat hari berusaha kuat dan tak menangis, air mata itu mengalir juga di wajah anak enam tahun itu. Meski berusaha kuat, toh nyatanya ia hanya anak enam tahun yang masih tak bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Dan air mata yang mengalir di wajahnya adalah air mata ke-lega-an, melihat sang ibu akhirnya sadar.

"Sst.. mana mungkin mama tidak bangun lagi," satu senyum berusaha Yaya berikan untuk menenangkan putra kecilnya.

Mendengar suara tenang yang dirindukannya, tak membuat air mata itu berhenti mengalir. Sambil menangis sesunggukan, ia berusaha menenggelamkan wajah dalam dekapan kedua tangan ibunya.

Yaya menepuk-nepuk pelan punggung putranya sambil sesekali meringis menahan sakit yang terasa saat Acqua mempererat dekapannya.

"Acqua… papa bagaimana?" Yaya bertanya pelan, suaranya hampir berbisik, masih belum melepaskan kedua tangannya yang melingkar di tubuh mungil itu.

"Papa.."

Ucapan Acqua terputus saat Taufan dan Ara masuk ke dalam ruangan bersama Hanna juga seorang perawat yang menyertai di belakangnya. Anak itu melepas dekapan di tubuh ibunya, turun perlahan dari atas kursi yang dinaikinya.

"Paman…" ia menghampiri Taufan, membiarkan Hanna mulai memeriksa kondisi sang ibu. Ia hanya melihat Hanna tanpa mengatakan satu kata pun.

"Dokter.." Yaya memanggil pelan. "Bagaimana keadaan Ice?"

Hanna diam, menatap Yaya dengan tatapan yang sama sekali tak dimengerti.

"Dokter.."

"Ice.. baik-baik saja.." jawaban singkat.

"Paman Taufan, Acqua mau lihat papa setelah ini, boleh?" anak itu berbisik, mendongak menatap wajah Taufan yang tanpa ekspresi saat ini. "Mama juga? Ayo sama-sama lihat papa..!"

Yaya tersenyum mendengar ajakan putranya. Saat ini, yang paling diinginkannya adalah melihat bagaimana kondisi Ice, tak peduli dengan kondisisnya sendiri. Ia hanya ingin memastikan bahwa orang yang dicintainya itu baik-baik saja, dan berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala.

"Perban di kepalanya sudah bisa dibuka besok," Hanna bicara pada Taufan dengan nada datar. "Sebaiknya jangan bangun dari tempat tidur sampai semua luka di tubuhmu pulih sempurna.." tambahnya, berbalik dan menatap dingin pada Yaya.

"Tapi.." protes Yaya terpotong.

"Sebaiknya kau beri waktu untuk Ice.. sejak dia bangun sehari lalu, dia tidak henti-hentinya menangis dan berteriak histeris saat orang asing mendekatinya."

Yaya bangkit dari posisi tidurnya. "Tapi aku bukan orang asing.."

"Semua yang ada di sekitarnya adalah orang asing baginya, bahkan Acqua pun dianggap orang lain." Hanna mulai melangkah menjauhi tempat tidur pasiennya itu.

"Acqua.."

"Tidak apa-apa, mama.." Acqua berlari kecil kembali menghampiri ranjang Yaya. "Kita lihat papa setelah mama sembuh. Kalau kita menemui papa setelah mama sembuh, papa pasti akan sangat senang," senyum tergantung di wajahnya. Entah darimana asal kekuatan anak itu sehingga ia bisa tetap tersenyum di saat seperti ini.

Yaya mencoba membalas senyum itu sambil mengulurkan tangan menyentuh puncak kepala putranya, mengusapnya pelan. Rasa bersalah sekali lagi menelusup ke dalam hatinya saat melihat senyum yang kini terlihat begitu dipaksakan tetap tergantung di wajah sedikit pucat putra tersayangnya itu.

Ini salahnya..

Sejak awal, semua adalah salahnya..

"Maaf, Acqua…"

...

..

.

"Kenapa… hanya aku?"

Gumaman itu terlontar dari bibir pucat Ice yang terbaring menatap kosong langit-langit kamar rawatnya. Ya.. ia sendirian. Baru saja ia mengusir kasar dua orang yang datang untuk melihat kondisinya

Ia saat ini sudah bisa kembali memegang kontrol kesadarannya, perlahan mengusir delusi-delusi mengerikan yang selalu memenuhi benaknya, mengabaikan suara-suara yang selalu mengganggu dan menyalahkannya atas kejadian yang sebenarnya sama sekali bukan salahnya.

Perlahan, ia kembali bisa menempatkan dirinya di dunia nyata dan mengenali orang-orang di sekitarnya.

Tapi.. tak sepenuhnya.

Ia masih belum membiarkan dirinya sendiri menerima kehadiran Yaya, orang yang menemaninya hampir sembilan tahun ke belakang dan mengubah seluruh hidupnya. Begitu pun dengan putranya, walau ia tahu anak itu tak salah.

"Mama… papa akan benar-benar sembuh kan?" suara Acqua yang masih berdiri sambil mengintip ke dalam ruang rawat lewat kaca yang ada di pintu terdengar sayup masuk ke telinga Ice.

"Kenapa… hanya aku..?" kalimat yang sama masih terlontar dari bibirnya. "Bukankah lebih baik jika aku tidak dilahirkan…"

Menyesal pernah terlahir adalah satu-satunya hal yang menyelimuti pikiran dan hatinya saat ini. Jika lahir hanya untuk menjadi sesuatu yang tak penting, dilupakan, disalahkan, bahkan coba dihapus keberadaannya, siapapun pasti merasa lebih baik jika tak pernah dilahirkan.

"Aku tidak pernah minta apapun.." air mata tanpa sadar jatuh mengalir di pipinya, membasahi bantal tidurnya. Sekali lagi, ia menangis dalam diam, berusaha menyembunyikan isak tangisnya karena ia tahu, dua orang itu masih berdiri di luar melihatnya.

...

..

.

"Mama…" Acqua yang berdiri di sebelah Yaya tiba-tiba memperat genggaman tangannya yang membungkus jemari sang ibu. "Papa menangis.." suara anak itu terdengar sedikit panik.

Yaya hanya diam, tenggelam dalam penyesalannya sendiri atas semua yang terjadi sekarang. Ia tetap sibuk dengan pikirannya sendiri sampai putranya itu mengulurkan tangan untuk membuka kenop pintu dan mencoba masuk sekali lagi ke dalam ruangan itu, tak menyerah meski sudah diperlakukan kasar oleh ayahnya tadi.

"Acqua… jangan..!" Yaya menahan tubuh mungil itu dari berlari menghampiri tempat tidur ayahnya.

"Tapi, mama.."

"Jangan sekarang, sayang..!" yaya berlutut di dekat Acqua dan mendekap bahu anak itu, mengusap pelan punggungnya penuh kasih sayang. "Nanti saat kondisi papa sudahlebih baik, kita coba masuk dan ajak papa ngobrol ya..?"

Satu anggukan pelan dirasakan Yaya di bahunya. Yaya tahu jelas bagaimana peasaan Acqua saat ini, sudah hampir satu tahun ia kehilangan kasih sayang yang seharusnya didapatkan lengkap dari kedua orang tuanya, dan bagaimana anak itu menghadapi kondisi ayahnya.

"Papa… benar-benar akan sembuh kan, mama…?"

Diam..

Yaya tak tahu harus menjawab apa. Ice pasti akan sembuh, tapi ia tak tahu akan seperti apa keluarga mereka setelah Ice sembuh nanti. Semuanya bisa saja berakhir saat itu.

"Mama.."

Satu anggukan pelan menjadi jawaban dari pertanyaan itu, hanya sebuah anggukan ragu.

"Mm, mama.. kemarin peringatan kematian paman Blaze kan?" Acqua mendorong sedikit tubuh ibunya agar melepaskan pelukannya, menatap mata coklat yang memantulkan sedikit keterkejutan. "Ayo kita pergi melihatnya..!"

"Apa?"

"Tidak boleh?" Acqua mendekatkan wajahnya. "Tidak boleh ya, mama?"

Yaya menggigit pelan bibir bawahnya, sedikit terkejut dengan permintaan tiba-tiba dari putra kecilnya.

"Aku hanya ingin melihatnya saja, mama.. kurasa paman Blaze juga akan senang jika Acqua datang melihatnya, supaya dia tahu kalau dia punya keponakan yang manis sepertiku.."

Satu tawa terlontar dari bibir Yaya mendengar kalimat yang diucapkan putranya tadi.

"Acqua itu anak papa Ice, bukan Blaze, kan, mama..?"

Yaya mengusap lembut puncak kepala anak itu sambil memberikan satu senyum di wajah. "Bagaimana dengan papa?"

Acqua terdiam sesaat, tampak bingung dengan pertanyaan ibunya. Ia menoleh untuk mengintip kondisi ayahnya dari celah pintu yang terbuka kemudian kembali menatap kedua manic sang ibu. "Saat kita kembali, papa pasti sudah baik-baik saja.."

"Baiklah.."

"Yaay!" anak itu memekik girang, tapi segera menutup mulut dengan kedua tangan ketika ibunya memberi isyarat tangan untuk tidak berisik karena mereka ada di lorong rumah sakit saat ini. "Mama, apa kita akan pergi membeli bunga untuk paman Blaze?"

"Boleh… bunga apa?"

Mereka berdua mulai berjalan. Yaya menggandeng erat tangan Acqua. Anak itu terlihat sangat gembira. Setidaknya ia tahu, putranya itu sedang berusaha terlihat gembira dan baik-baik saja.

"Bagaimana kalau bunga matahari?"

"Bunga matahari?"

Acqua mendongak menatap wajah Yaya lalu mengangguk. "Papa suka bunga himawari, mungkin paman Blaze juga menyukainya.."

"Begitu.. baiklah, kita beli bunga matahari."

Langkah kaki mereka terhenti saat melihat Taufan, Ara juga Hanna berjalan di lorong yang sama, mendekati mereka. Satu tanda tanya terlihat di wajah Taufan saat melihat Acqua yang tiba-tiba berubah riang.

"Kalian mau pergi?" Taufan yang pertama kali bersuara.

"Bisa tolong jaga Ice sementara kami pergi?" Yaya tak menjawab pertanyaan itu, ia justru balik bertanya dan berusaha menampakan wajah sedatar mungkin di hadapan Hanna.

"Kalian mau kemana?" Ara yang tadi berdiri di belakang Taufan, berjalan mendekat ke sisi Acqua, membelai pelan rambut anak itu.

"Kami mau ke tempat paman Blaze."

Seketika lorong itu hening setelah anak itu selesai bicara. Ia hanya menggantungkan senyum ceria saat melihat ibunya, tak tahu jika ada seseorang yang sedang menatap tajam ke arah ibunya.

"Mama, ayo..!" suara riang Acqua sekali lagi berhasil memecah keheningan. Ia meraih tangan Yaya dan memegangnya erat.

Keduanya pergi begitu saja, meninggalkan Hanna yang mulai emosi namun segera ditahan oleh Ara. Sementara Taufan hanya diam menatap kedua orang itu mulai menghilang dari pandangan.