.
United Babes vs Kopites Boy
.
CHAPTER 3
.
Awalnya aku berpikir menjadikan FF ini dua chapter, tapi sepertinya nggak bisa karena kalau dua chapter langsung alurnya terlalu cepat nanti jatuhnya jadi jelek. Setelah aku hitung matang-matang, kemungkinan besar sampai 4-5 chapter.
para lelaki Koreksi aku jika ada penjelasan yang salah
.
Sebuah FanFiction NaruHina yang lain mungkin bisa dibilang anti mainstream #kepedean. FF ini terinspirasi dari kisahku sendiri dalam berdebat dengan fans Liverpool. Semoga kalian suka FF abal ini.
.
Khusus adegan di group sengaja tidak menggunakan bahasa formal karena kurang greget dan maaf kalau kata-katanya kasar cz menyesuaikan dengan pengalaman. Oh ya pertandingan antara MANCHESTER UNITED vs CHELSEA aku ambil pertandingan mereka di tahun 2013.
.
.
Pria bersurai merah dengan eyeliner tebal dikelopak matanya tersenyum ramah pada Naruto. Tatapannya begitu hangat dan sangat bersahabat.. Beda sekali dengan Naruto yang tampak gelisah bahkan sedikit ketakutan. Sesekali Gaara melihat sosok gadis yang ada di dalam pelukan Naruto. Namun, dengan sigapnya Naruto menutupi wajah Hinata dengan tangan kirinya. Hinata kembali menenggelamkan kepalanya di dada Naruto ketika kilatan cahaya petir menyinari seluruh kota.
"Siapa gadis itu? cantik ya," bisik Gaara di telinga Naruto.
"Hassh, jangan coba-coba melirik gadisku dasar playboy," umpat Naruto. Sesaat gemuruh petir tak lagi terdengar dan kilatan cahaya mulai menghilang. Hinata penasaran siapa gerangan orang berambut merah itu. Ia pun bertanya pada Naruto karena penasaran.
"Siapa dia, Naruto?" tanya Hinata. Belum sempat Naruto menjawab, Gaara sudah menyodorkan tangannya di depan Hinata. Naruto tak percaya Gaara segenit ini kepada gadis yang baru ia temui.
"Kenalkan, namaku Hinata," sapa Hinata ramah.
"Namaku Sabaku Gaara."
Hinata dan Gaara saling berjabat tangan, namun Gaara mengeluarkan jurus mautnya untuk menggaet wanita dalam hitungan detik. Perempuan yang sudah menjadi korban Gaara,biasanya wajah mereka akan memerah karena malu serta terpesona dengan ketampanannya. Alarm bahaya dalam diri Naruto mulai berdering. Pria pencinta Liverpool ini segera melepas genggaman tangan Gaara dari tangan Hinata. Gaara hanya tersenyum samar melihat tingkah konyol Naruto.
"Oh ya, jangan lupa. Tiga minggu lagi kita mengadakan nonton bersama dengan fans lawan untuk membela club kesayangan kita," ucap Gaara yang berusaha mengingatkan Naruto. 'Gawat, kenapa Gaara berbicara tentang club bola disaat seperti ini?' Naruto mulai khawatir dengan ocehan-ocehan tak penting dari Gaara yang merupakan teman seperjuangannya selama membela Liverpool.
"Wah, kau penggemar Barcelona juga?" tanya Hinata senang.
"Apa, Barcelona? Ah bukan kami berdua penggemar Live… ." belum seleasi bicara Gaara merasakan sebuah cubitan panas dipinggangnya. "Aduh… pinggangku. Hei Naruto, kau ini kenapa?"
Semburat cahaya kuning menyinari mereka. Sebuah bis berwarrna hijau berhenti tepat di depan halte. Sepertinya Tuhan menolong Naruto untuk keluar dari jeratan teman seperjuangannya. Dengan begini dia punya alasan kuat untuk menghindar dari Gaara. Bisa gawat kalau Gaara mengatakan segalanya tentang dirinya karena Naruto ingin sekali mengenal Hinata lebih jauh dan lebih dekat lagi.
"Ehm.. Gaara bis yang kau tunggu sudah datang. Lebih baik cepat naik, jika tidak kau akan menunggu lama untuk bis selanjutnya," ucap Naruto yang ingin Gaara cepat-cepat menyingkir dari hadapannya. Gaara bergegas mendekati bis dan naik. Sesaat setelah pria berambut merah itu mendapatkan tempat duduk. Ia membuka kaca jendela bis dengan wajah ceria.
"Hinata, sampai jumpa. Semoga takdir mempertemukan kita kembali," ucapnya sembari melambaikan tangan.
"Hai, apa-apaan kau ini?! sudah sana pergi, jangan ganggu Hinata. Dasar playboy cap luwak," omel Naruto. Ia tak terima jika Gaara ingin menjadikan Hinata korban selanjutnya.
"I love you, Hinata," teriak Gaara bersamaan dengan bis yang sudah berjalan. Hinata hanya tertawa mendengar ucapan Gaara. Sedangkan Naruto tampak melotot pada sahabatnya. Tak hanya itu, dia mencoba mengancam Gaara dengan satu tiupan dikepalan tangannya.
"Hai, ayo pergi sana!" bentak Naruto.
Hinata terus saja tertawa mendengar pertengkaran dua lelaki lucu ini. Sehari ini, ia banyak dihibur oleh tingkah konyol Naruto yang begitu menggemaskan. Baru kali ini Hinata bisa selepas ini dengan seorang pria. Biasanya ia tampil malu-malu dengan lawan jenisnya namun untuk kali ini berbeda. Bersama Naruto, Hinata bisa menjadi dirinya sendiri. Ini suatu hal yang langka selama dia berinteraksi dengan seorang pria.
"Naruto, kenapa kau begitu kejam dengan sahabatmu sendiri?" tanya Hinata sekaligus berusaha menasehati, "Kau tak boleh begitu."
"Itu karena dia berusaha menggodamu," ucap Naruto secara spontan.
"Kau tidak suka melihatku digoda oleh pria lain?" goda Hinata.
"Iya, aku tidak suka kau digoda oleh pria lain."
Jawaban Naruto membuat jantungnya berdetak abnormal. Wajahnya memanas karena dipenuhi oleh hangatnya aliran darah. Sedangkan sesuatu bergemuruh didalam dadanya. Terasa nyeri tapi begitu menikmat dan menyenangkan.
"Hujan sudah reda, Ayo kita pulang," ajak Hinata dengan pipi memerah.
OoOOoo
"Kami pulang," sapa Hinata kepada penghuni rumah.
Tak ada jawaban, baik Naruto maupun Hinata mencari Sasuke dan Sakura di ruang tamu namun keduanya sudah menghilang. Di kamarpun juga tidak ada. Kemana perginya mereka? gumam Hinata dalam hati. Mata Hinata melihat bantal sofa yang berserakan. Menurutnya aneh, karena Sasuke adalah tipe pria yang rapi. Ia tak suka apapun yang tidak pada tempatnya. Tak hanya sofa yang amburadul, tapi buku-buku dimeja pun berjatuhan. Sebenarnya apa yang terjadi? lagi-lagi Hinata berbicara dengan dirinya sendiri. Sabagai sahabat yang baik, Hinata menata kembali barang-barang yang berserakan. Aktivitasnya terhenti ketika melihat sesuatu yang aneh. Sebuah plastik kecil namun tipis. Sangat tipis, yang mengherankan lagi ada bercak kental berwarna putih di dalamnya.
"Apa ini?" tanya Hinata namun sayang Naruto tak menghiraukannya. Hinata begitu penasaran, ia mencoba menerka barang apa ini. Sedetik kemudian ekspresinya berubah. Ia tampak shock bahkan tak percaya. "Ko… kon..dom?!"
Disaat Hinata dikejutkan oleh sesuatu yang mustahil, Naruto asyik dengan dunianya sendiri. Naruto menyalakan TV, ia berniat untuk melanjutkan permainannya. Namun saat TV menyala, sebuah gambar erotis terlihat jelas. Tampak dua insan yang telanjang asyik melakukan hubungan seksual. Suara desahan mereka begitu memekakkan telinga. Hinata mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Gadis cantik itu terbelalak, ia tak percaya melihat hal-hal erotis seperti ini.
"Kyaaaaaa!" Hinata berteriak, reflek kedua tangannya menutupi kedua matanya. "Naruto, apa yang kau lihat? Ayo cepat matikan. Dasar pria mesum!" omel Hinata sambil memukul-mukul punggung Naruto dengan mata terpejam.
"Aduh… punggungku. Hei bukan aku yang melihat video ini. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ada video seperti ini," ucap Naruto sembari mematikan televisi. Hinata baru berani membuka matanya ketika suara desahan-desahan itu menghilang.
"Kalau bukan kau, lalu siapa yang melihat video seperti itu?!"
"Mana aku tahu!"
"Na… Naruto… kau… ."
"Apa lagi?!" omel Naruto, ia tak terima jika dituduh sebagai pria mesum.
"Kau mimisan," ucap Hinata polos.
"Apa?" Naruto mengusap hidung dengan jari telunjuknya. Ia melihat bercak darah merah mengotori jarinya. Naruto segera mengambil sebuah tisu di meja dan membersihkan hidungnya dari darah. Hah, ini semua gara-gara video mesum itu.
"Ini pasti ulah Sasuke dan Sakura. Sudah kuduga mereka akan melakukan hal-hal mesum selama kita tidak ada," omel Hinata.
ooOOoo
Tiga puluh menit sudah mereka berdua menunggu Sasuke dan Sakura pulang namun dua pasangan yang dimabuk cinta itu tak menampakkan batang hidungnya. Suasana antara Naruto dan Hinata begitu hening. Hinata masih uring-uringan karena ulah kedua sahabatnya yang kelewat batas. Sedangan Naruto hanya bisa duduk termenung sambil membenarkan tisu yang ia sumpalkan di hidungnya. Mimisan ini tidak mau berhenti. Walaupun hanya satu menit ia melihat adegan mesum itu namun efeknya luar biasa.
"Gawat, Naruto dan Hinata sudah pulang," ucap sebuah suara perempuan di sudut ruangan. Naruto meringis sinis mendengar ucapan Sakura. "Apa tadi kau sudah membereskan semuanya?- Aduh bagaimana ini?"
Sakura dan Sasuke mengendap-endap menuju ruang tamu. Wajah mereka tampak gelisah melihat Naruto dan Hinata duduk siaga di sofa. Mereka semakin stress karena melihat kondom dan DVD porno tergeletak di atas meja. Sakura dan Sasuke berusaha menunjukan ekspresi biasa namun tak bisa. Ekspresi mereka terlalu kaku. Hinata dan Naruto memandang keduanya dengan tatapan tajam.
"Darimana kalian?" tanya Hinata ketus.
"Kami membeli makanan ringan sebentar. Ini kami belikan khusus untuk kalian," rayu Sakura dengan senyuman termanisnya.
"Jangan merayuku, sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan?!" teriak Hinata kepada dua sahabatnya. "Perbuatan mesum kalian sudah terlewat batas!"
"Hinata aku mohon jangan ceritakan hal ini kepada ibuku. Aku mohon," ucap Sakura sembari bersimpuh dihadapan Hinata.
"Asshhh, kau ini benar-benar merepotkan. Bagaimana kalau kau hamil, Sakura!" teriak Hinata.
"Dia tidak akan Hamil. Saat melakukannya, aku selalu menggunakan Kondom," jawab Sasuke enteng. Mendengar penjelasan Sasuke amarah Hinata semakin memuncak. Hinata mengambil sebuah bantal dari sofa dan memukul-mukulkan bantal itu ke tubuh Sasuke. Sakura berusaha menghalangi Hinata namun tenaganya kalah besar dengan Hinata.
"Kau pikir hal itu main-mainn hah! Seberapa yakin kalau kau menggunakan kondom maka Sakura takbisa hamil. Dasar pria mesum!" ucap Hinata sambil terus memukul Sasuke.
"Aduh… aduh… Hinata sakit… kepalaku…. ."
ooOOoo
"Hinata, kau tadi begitu menakutkan," ujar Naruto.
"Mereka sudah keterlaluan. Lebih baik aku pulang, biarkan saja Sakura bersama Sasuke. Dua anak itu memang susah sekali di Nasehati. Lagipula aku ingin melihat Manchester United bertanding melawan Chelsea malam ini," jawab Hinata.
Naruto mengantarkan Hinata pulang. Rumah Hinata tak begitu jauh dari rumah Sasuke, jadi Naruto hanya perlu berjalan kaki. Hinata begitu marah dengan Sakura, ia merasa bersalah kepada ibu Sakura yang menitipkan putri satu-satunya kepadanya. Ia telah gagal menjaga Sakura dari kemesuman Sasuke. Ashhh Sasuke itu benar-benar keterlaluan. Apa Sasuke sehingga Sakura rela memberikan tubuhnya.
"Hinata, apa aku boleh tahu nomor ponselmu?" tanya Naruto ragu. Hinata mengalihkan pandangannya pada Naruto dengan perasaan berbunga-bunga. Akhirnya kalimat seperti ini keluar dari mulut Naruto. Itu yang Hinata harapkan dari tadi.
"Tentu saja, berikan ponselmu," perintah Hinata. Naruto memberikan ponselnya kepada Hinata. Gadis bermata indah itu menekan beberapa tombol ponsel Naruto kemudian menyimpannya. Naruto tersenyum manis kepada Hinata, ia bahagia karena Hinata memberikan nomor ponselnya.
"Sudah sampai," ucap Hinata sambil menghentikan langkahnya.
"Ini rumahmu?" tanya Naruto.
"Iya, tak begitu jauh kan. Terima kasih, kau sudah mau mengantarkan aku pulang." Naruto mengangguk, gadis ini membuatnya mampu melakukan segalanya. Sepertinya ia jatuh cinta pada Hinata. "Pulanglah, sudah malam, Hati-hati dijalan."
"Hinata, apa besok aku boleh menjemputmu saat berangkat kuliah?"
Lagi-lagi Hinata tersenyum manis pada Naruto lalu kemudian mengangguk. Selama perjalanan pulang, banyak hal yang mereka bicarakan. Hinata baru tahu jika, Naruto satu univeritas dengannnya namun beda jurusan. Pria tampan bermata biru itu mengambil jurusan Arsitektur sedangkan Hinata ilmu sains murni. Seharian ini dadanya terasa nyeri. Nyeri yang begitu memabukkan. Ingin sekali Hinata memeluk Naruto namun ia ingat, sejauh ini mereka hanya berteman tidak lebih. Satu hari yang sempurna. Hinata melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan untuk Hari ini. Baru dua langkah Hinata melangkah, suara tenor Naruto kembali memanggilnya.
"Hinata," panggil Naruto lembut.
"Iya, ada apa?" tanya Hinata.
Naruto maju beberapa langkah mendekati Hinata. Tangannya membelai pipi Hinata yang mulus dengan perasaan yang begitu mendalam. Perasaan cinta yang sudah merasuki relung hatinya. Namun, ia tak ingin mengataan perasaan itu sekarang. Ia ingin menyatakan cinta dengan kesan tersendiri. Ibu Jari Naruto membelai pipi Hinata, pria itu berniat menghapus noda hitam dipipi Hinata akibat pertengakarannya dengan Sasuke. Wajah Hinata kembali memerah, jantungnya lagi-lagi berdetak tak beraturan.
"Ada noda hitam dipipimu," ucap Naruto dengan suara lirih.
"Benarkah?" tanya Hinata. Naruto pun mengangguk.
"Tapi sekarang sudah hilang." Hinata lagi-lagi tersenyum manis di depan Naruto. Ekspresi Hinata yang seperti ini membuat Naruto gemas. Ingin sekali ia mencium Hinata, tapi Naruto mengurungkan niatnya karena sampai detik ini status Hinata adalah temannya bukan kekasihnya. Naruto mendekatkan bibirnya ditelingan Hinata dan berbisik. "Semoga Manchester United menang kali ini."
Tes, setetes darah segar keluar dari salah satu hidung Hinata. Suara Naruto terlalu membuatnya melting. Tidak hanya itu perilaku Naruto, senyum Naruto dan pelukan hangat Naruto membuat pikirannya hilang. Suara Naruto begitu seksi ditelinganya.
"Ya Tuhan, Hinata kau mimisan," ucap Naruto panik.
"Hasshhh, kenapa bisa begini," gerutu Hinata yang pergi begitu saja ke dalam rumah meninggalkan Naruto sendirian karena malu.
" Sebenarnya kenapa dia?"
ooOOoo
Jam menunjukan pukul sepuluh malam, saatnya Hinata melihat pertandingan besar antara Manchester United vs Chelsea. Hinata duduk sendirian diruang keluarga sambil memakan popcorn pandan kesukaannya. Hampir lebih dari Sembilan puluh menit ekspresinya tampak tegang. Apalagi Manchester United tertinggal 1-0 atas Chelsea. Ketegangannya semakin memuncak ketika suasana di old Trafford semakin memanas. Mata levendernya bergerak mengikuti bola yang digiring oleh Rafael yang tengah asyik berduel dengan David Luiz. Entah kenapa tiba-tiba david luiz terjatuh padahal kaki Rafael tak pernah menyentuhnya. Peluit wait terdengar memekakkan telinga. Wasit menganggap kesalahan dilakukan oleh Rafael karena diving David Luiz, Karena hal konyol itu Rafael mendapat kartu merah. Hinata semakin tak terima ketika David Luiz tersenyum di hadapan kamera setelah melakukan diving.
"Dasar David luiz brengsek. Apa-apaan dia? Sudah melakukan diving tapi masih tersenyum seperti itu. Fans Chelsea apa melihat itu? mereka mengatakan Ashley young raja diving, padahal si kribo sendiri melebihi Young!"
Pertandingan berakhir 1-0 atas kemenangan Chelsea. Hinata masih tak terima dengan tingkah menjijikkan David Luiz. Hinata menumpahkan segala amarahnya ke dalam group Hina yang dihuninya, DSBAC.
UnitedAngel88
1 Jam
Apa-apaan itu David Luiz, sudah melakukan Diving tapi masih sempatnya dia senyam-senyum. Memang dasar kribo!
Suka . Komentari 12 menyukai ini.
Shikamaru The Blues
Kalau kalah, kalah saja nggak usah nyari kesalahan orang lain Nyuk!
1Jam Suka
Madara Chelsea
Eh lu kagak ada pelanggan ya Nyuk. Malam-malam kelayapan dimari. Semalem berapa Nyuk? Lagi sange nih gue!
56menit Suka
Kankurou Citizen
Sudah minum baygon sana Nyuk. Tidurlah dengan tenang. Manchester is Blue.
52menit Suka
Utakata The Red Army
Shikamaru The Blues : Cheleng bisanya cuma parkir bus.
Madara Chelsea : Lu lagi Horny leng. Sini leng gue cincang titit loe! Kagak ada sopan-sopannya ma cewek. Dasar cheleng keparat!
Kankurou Citizen : Ada citykus berendam di got. Pantas aja ini group baunya busuk.
50menit Suka
TheReds08
Shikamaru The blues : Cheleng keparat, emang kenyataanya David luiz diving. Malu woy. Emang dasar yee si Kribo IQnya jongkok.
Madara Chelsea : Pacar loe semalam tarifnya berapa leng? Boleh boking nggak, cantik juga cewek loe di PP. Muka cewek loe beda jauh ma UnitedAngel88. Jelekan cewek loe kemane2.
Kankorou Citizen : Baru dapat 4 BPL belagu amat ni citykus!
45menit Suka.
Notification di Facebook Hinata penuh oleh komentar-komentar kaum adam yang begitu menakjubkan. Hinata sudah terbiasa dengan kata-kata seperti ini jadi dia menanggapinya biasanya. Namun ada satu akun yang selama ini mecacinya sekarang berbalik membelanya. Padahal dulu akun ini paling semangat membullynya. Aneh, benar-benar aneh. Salah minum obat atau bagaimana? Sebuah pemberitahuan permintaan pertemanan muncul.
TheReds08 ingin menjadi teman ada
Konfirmasi Hapus permintaan
TO BE CONTINUE
MAAF BANGET JIKA SASUKE AKU NISTAKAN
