THE BOND (Revisi)

(Narufemsasu)

By : Shawokey

Disclaimer : Masashi Kishimoto

CHAPTER 1

.

.

Sasuke menatap pantulan dirinya pada cermin besar di kamarnya. Sudah beberapa menit ia berdiri diam, tidak menghiraukan punggungnya yang terasa panas dan terbakar. Seharusnya ia panik. Siapa yang tidak akan panik ketika saat sedang tidur pulas-pulasnya di malam hari, tiba-tiba punggungmu terasa sangat panas? Entah kenapa, ia mempunyai firasat buruk atas apa yang terjadi padanya malam itu. Sasuke membalikkan badan, sehingga pantulan punggungnya yang terlihat di cermin. Kedua tangannya membuka seluruh kancing baju piama tidurnya. Dan kemudian, ia melepaskannya.

Sasuke sempat terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi pada punggungnya, tetapi kemudian raut wajahnya kembali datar. Ia bahkan tersenyum, senyuman yang terlihat terpaksa, senyuman yang berusaha menguatkan dirinya untuk percaya bahwa saat itu hanya mimpi buruk. Kalaupun saat itu nyata, ia berusaha percaya bahwa ada seseorang yang membuat lelucon padanya. Lelucon yang luar biasa mengerikan hingga Sasuke bersumpah jika memang apa yang terjadi padanya adalah keisengan dari seseorang, ia tidak segan-segan akan memberikan pelajaran padanya.

Sungguh lelucon yang sama sekali tidak lucu ketika ia melihat di punggungnya tercetak jelas sebuah tato rubah berekor sembilan berwarna oranye yang memenuhi seluruh punggungnya dengan sebuah nama tertulis di bawahnya. Sebuah nama yang tidak ingin ia ingat seumur hidupnya.

"Sepertinya aku perlu mandi sekarang," ujar Sasuke. Ia akan membersihkannya sampai tak berbekas. Ia tidak sudi jika nama musuh besarnya tercetak di kulitnya.


Sudah hampir 5 menit Itachi mengetuk-ngetuk pintu kamar Sasuke. Tetapi tidak ada respon dari dalam.

"Sasu-chan… Cepat buka! Perutku sudah keroncongan minta diisi! Sasuuuuu!" teriak Itachi.

"Apa kau mati?"

"Sasuuuu…"

PLAK

"Ouch! Kaasan, mengapa kau memukul kepalaku?" protes Itachi. Mikoto mencibir, "Kau baru saja menyumpahi putri kesayanganku mati, bodoh!"

"Kaasan, mengapa kau selalu membela Sasu-chan? Padahal setiap Sasu-chan menyumpahiku, Kaasan tidak pernah memukulnya, Kaasan bahkan malah lebih keras menyumpahiku!" protes Itachi lagi. "Kaasan tidak menyayangiku ya?" tanya Itachi pelan dengan memainkan ujung kemejanya.

Mikoto menghela nafas melihat tingkah putranya. 'Drama lagi-drama lagi…' entah Mikoto ngidam apa ketika mengandung Itachi hingga menjadi tukang drama. Sungguh, semua orang tahu jika Mikoto sangat menyayangi keluarganya, termasuk putra pertamanya itu, yang cukup absurdkalau boleh ditambahkan. Itachi adalah tipe orang yang cool jika di luar rumah. Tetapi jika sedang bersama keluarganya, maka sifat aslinya muncul.

"Kaasan pernah bermimpi kalau memukul kepalamu setiap hari adalah cara untuk mengurangi kebodohanmu. Eits- jangan berbicara apa-apa lagi. Kaasan mau membangunkan putri kesayangan Kaasan."

"Sasu sayang."

Mikoto melihat Itachi mencibir, tetapi Mikoto tidak menghiraukannya, "Sasu-chan sayang!" kali ini Itachi yang berbicara dengan nada mengejek.

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Mikoto dan Itachi menjadi khawatir.

"Ambil palu atau apapun untuk membuka pintu. Seingatku kunci cadangan kamar Sasuke hilang," perintah Mikoto.

"Mengapa tidak didobrak saja!"

"Kau pikir pintu ini seperti di drama-drama yang terbuat dari triplek? Pintu di rumah ini terbuat dari kayu berkualitas paling bagus, bodoh! Bahkan sampai bahumu remuk pun pintu ini tidak akan terbuka!" sembur Mikoto.

"Panggil Fugaku juga!" perintah Mikoto. Itachi mengangguk.


BRAK!

BRAK!

BRAK!

Fugaku mengayunkan kapak ke pintu kamar Sasuke. Ketiganya segera masuk. Mereka bertiga terkejut, bukan karena Sasuke tetapi karena bau yang sangat wangi dan menggiurkan langsung menguar setelah kamar Sasuke terbuka. Secara tidak sadar bola mata Fugaku dan Itachi berubah menjadi warna merah, mata para alpha ketika mencium bau feromon yang menggiurkan.

PLAK!

PLAK!

Mikoto menggeplak kepala suami dan anaknya. "Ini bukan waktunya untuk tergoda, bodoh!" Keduanya tersadar. "SIAL!" umpat Fugaku. "Dimana Sasuke?" tanya Fugaku dengan panik. Itachi dan Mikoto yang mendengar kucuran air sontak berlari ke arah kamar mandi. Itachi mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggil Sasuke, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Itachi segera mendobrak pintu kamar mandi.

"Sasuke!" teriak Mikoto panik. Yang mereka temukan adalah Sasuke yang pingsan di bawah kucuran air shower. Fugaku segera menggendong Sasuke dan membaringkannya ke tempat tidur. "Itachi, telepon Tsunadel! Suruh dia datang cepat!" perintah Fugaku. Mikoto kemudian segera mengganti baju basah Sasuke dengan baju kering kemudian menyelimuti tubuh putri nya yang sangat pucat dan dingin.

"Apa kau melihatnya?" tanya Fugaku lirih pada Mikoto sesaat setelah Itachi keluar kamar. Mikoto mengangguk. "Lambang keluarga Namikaze di punggungnya. Itu kan yang kau maksud?" jawab Mikoto tanpa mengalihkan pandangannya dari Sasuke. "Dari sekian laki-laki di dunia ini, mengapa harus Namikaze Naruto yang menjadi mate Sasuke?" tanya Mikoto lirih. Fugaku terdiam. 'Ini tidak akan mudah,' batin Fugaku.


"Bagaimana keadaan Sasuke, Tsunade?" tanya Mikoto setelah Tsunade, dokter yang memang menangani Sasuke sejak kecil selesai melakukan pemeriksaan.

"Sasuke demam, sepertinya tadi malam ia mengalami 'mimpi atau sejenisnya' sehingga feromon yang keluar dari tubuhnya semakin pekat. Aku sudah menyuntikkan suppressant untuk meredam feromonnya. Dia hanya perlu istirahat yang cukup," ujar Tsunade.

"Tetapi ada hal yang penting yang harus kusampaikan kepada kalian. Bagaimana kalau kita membicarakan ini di ruang tamu. Biarkan Sasuke istirahat," lanjut Tsunade. Fugaku, Mikoto, dan Itachi mengangguk setuju.


"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan, Tsunade?" tanya Fugaku setelah mereka duduk di ruang tamu.

"Kalian pasti sudah tahu siapa mate Sasuke?" tanya Tsunade. Fugaku dan Mikoto mengangguk, Itachi terlihat bingung, "Kalian sudah tahu mate Sasuke? Siapa?" tanya Itachi.

"Namikaze Naruto. Mate Sasuke adalah Namikaze Naruto," jawab Tsunade. Kedua bola mata Itachi membesar, ia sungguh terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar.

"Namikaze Naruto yang itu?" tanya Itachi tidak percaya sambil menatap Mikoto, menuntut penjelasan. Mikoto mengangguk, "Iya, orang yang paling dibenci Sasuke."

Baik Fugaku, Mikoto, dan Itachi sangat khawatir dengan perasaan Sasuke setelah ini. Apa yang dilakukan Sasuke tadi malam bisa jadi adalah sebuah kefrustasian Sasuke atas takdir yang harus Sasuke jalani. Mereka bertiga berusaha menepis kuat-kuat pikiran buruk tentang apa yang terjadi pada Sasuke kedepannya. Mereka yakin, Sasuke adalah perempuan yang kuat.

Tsunade sebagai dokter Sasuke sejak kecil pun tahu bagaimana bencinya Sasuke pada Naruto. Naruto lah yang membuat kehidupan masa kecil Sasuke menjadi sangat berantakan dan Naruto lah yang membuat Sasuke memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah pertamanya di Korea. Dan baru seminggu Sasuke kembali ke Jepang, Sasuke malah dihadapkan pada kenyataan bahwa Namikaze Naruto adalah mate nya.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Tsunade. Sasuke tidak bisa lepas dari takdirnya sebagai omega. Dia tidak bisa lepas dari Naruto," ujar Fugaku.

"Tidak Fugaku. Dia bisa lepas," jawab Tsunade.

Fugaku, Mikoto, dan Itachi menyernyit heran. Bagaimana mungkin bisa lepas? Seorang omega harus menerima alpha nya, jika tidak omega itu akan mati. Itulah yang mereka pikirkan.

"Tsunade, kau jangan bicara omong kosong. Dia-"

"Dia bisa lepas dari takdirnya karena dia bukan omega," ujar Tsunade memotong Fugaku.

"Karena Uchiha Sasuke adalah seorang alpha," lanjut Tsunade.

Hening.

Baik Itachi maupun kedua orang tuanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Sasuke memang memiliki paras yang sangat rupawan dan suara yang dalam nan indah hingga Itachi berani bertaruh jika tidak ada satupun perempuan yang dapat mengalahkan kesempurnaan yang dimiliki Sasuke. Tetapi pikir Itachi Sasuke tetaplah seorang omega. Kenyataannya, Sasuke adalah seorang alpha.

"Tsunade, itu tidak mungkin. Sudah lama wanita alpha tidak dilahirkan di dunia ini. Lagipula kami tidak ada hubungan darah dengan Kaguya. Dan bagaimana kau bisa berpikir bahwa Sasuke adalah seorang omega padahal kau hanya melakukan pemeriksaan biasa?" tanya Mikoto.

"Mikoto, Aku memiliki ketertarikan tentang hal-hal yang menyangkut wanita alpha. Selama ini aku melakukan penelitian kecil tentang hal itu. Aku memang tidak bisa memberikan bukti yang jelas saat ini sebelum aku melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tetapi yang membuatku yakin adalah tanda di punggungnya karena di dalam sejarah dituliskan bahwa Kaguya juga mengalami hal itu. Tidak perlu memiliki hubungan darah untuk ditakdirkan sebagai seorang alpha," jawab Tsunade.

"Bisa saja itu hanyalah pertanda seorang omega untuk mengetahui siapa mate nya. Seperti aku dulu ketika memimpikan Fugaku," ujar Mikoto yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Tsunade.

"Itu adalah perkara yang berbeda, Mikoto. Seorang omega mengetahui siapa mate nya bisa dari bau, mimpi, atau cara lain tetapi masih terkesan samar. Ketika kau bermimpi tentang Fugaku, apakah kau melihat secara jelas wajah Fugaku?" Mikoto menggeleng.

"Aku mengetahui Jiraya sebagai mate ku pun butuh waktu beberapa minggu sejak pertama kali aku tertarik pada bau feromonnya. Begitu pula dengan omega-omega yang lain. Tetapi tidak untuk seorang alpha. Wanita alpha akan secara jelas mengetahui siapa mate nya karena akan ada tanda seperti yang terjadi pada Sasuke. Sedangkan mate dari wanita alpha tersebut mengetahui bahwa ia adalah mate nya dari bau nya. Artinya, jika Naruto mencium bau Sasuke sekali saja, aku yakin Naruto akan langsung tahu jika Sasuke adalah mate nya," jelas Tsunade.

Mereka bertiga terdiam. Apa yang dikatakan oleh Tsunade sangat masuk akal. Tsunade adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Uchiha dan mereka yakin bahwa penjelasan Tsunade bukanlah sekadar bualan.

"Tadi kau berkata jika Sasuke dapat lepas dari takdirnya karena dia adalah seorang alpha. Apakah itu berarti Sasuke dapat lari dari Naruto?" tanya Fugaku.

Tsunade mengangguk, "Ya.. Tetapi aku akan menjelaskan hal itu nanti. Aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dulu tentang status Sasuke."

Tsunade cukup lama diam hingga kemudian ia melanjutkan, "Tetapi yang aku tahu, ikatan antar alpha adalah yang paling kuat. Jika Sasuke tetap pada jalannya untuk menjadi mate Naruto, maka mereka akan menjadi pasangan sehidup semati. Ketika salah satu diantara mereka mati, maka pasangannya pun akan mati. Tetapi jika Sasuke memutuskan untuk melepaskan ikatan itu, maka ia tidak bisa menyambungkannya kembali. Kuharap kalian memikirkan ini baik-baik," dan setelah mengatakan hal itu, Tsunade undur diri.


Itachi menatap wajah adiknya yang masih terlihat pucat. Adiknya yang cantik, adiknya yang menggemaskan, adiknya yang cerewet, dan adiknya yang terbaring lemah dan terlihat begitu rapuh. Sungguh, hal yang paling ia benci di dalam hidupnya adalah melihat ia tak bisa berbuat apa-apa untuk Sasuke.

Ia masih ingat ketika kecil adiknya juga sering sakit-sakitan hingga ayahnya menjadikan Tsunade sebagai dokter pribadi Sasuke. Masih segar di kepala Itachi hari-hari menyenangkan bersama Sasuke ketika kecil, seolah-olah baru terjadi kemarin. Termasuk hari dimana Sasuke mulai membicarakan Naruto.

FLASHBACK (Itachi dan Sasuke masih di Sekolah Dasar)

Itachi kecil sudah menduga jika adiknya akan tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Sebagai kakak, ia tidak bisa menahan rasa gemasnya setiap melihat adiknya tersenyum. Senyuman adiknya memang sangat indah, lucu, dan menenangkan sehingga orang-orang disekitar adiknya berusaha untuk dapat melihat selalu senyuman itu. Ketika adiknya tersenyum atau tertawa, secara otomatis orang-orang di sekitarnya pun ikut melakukannya.

Itachi dan Sasuke kecil hidup di lingkungan yang penuh dengan kasih sayang. Curahan kasih sayang selalu mereka dapatkan dari keluarga maupun dari sahabat-sahabat mereka. Akan tetapi, Sasuke termasuk anak yang ceroboh. Ia bisa jatuh di jalan yang datar, sering tersandung batu, dan terpeleset yang membuat orang-orang di sekitarnya selalu menjaganya kemanapun ia pergi. Namun itu bukanlah apa-apa, entah apa yang terjadi, adiknya sering mengalami sakit pada dada kirinya, tepat dimana jantungnya berada.

Bukan sakit biasa, karena para dokter pun tidak mengetahui apa penyakit yang diderita adiknya. Sudah banyak dokter yang memeriksa, tetapi semua mengatakan jika adiknya baik-baik saja. Ayah dan ibu mereka sempat frustasi, bingung atas apa yang menimpa Sasuke sedangkan Itachi kecil pun hanya bisa berdoa setiap malam agar adik kecilnya akan selalu baik-baik saja.

Itachi memang merasa kasihan ketika melihat Sasuke kecil ketika di sekolah dasar hanya bisa melihat teman-temannya bermain di taman sedangkan adiknya hanya duduk melihat dengan ditemani oleh dirinya sambil minum susu coklat kesukaan mereka. Sasuke memang tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang membuatnya lelah, mengingat Sasuke kecil sering sekali masuk UKS karena mendadak jantungnya sakit.

Hingga pada suatu hari ketika Sasuke duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Itachi menyadari jika Sasuke tidak pernah lagi masuk UKS.

"Itachi-nii sangat senang melihat Sasu-chan sembuh. Hampir satu bulan ini Sasu-chan tidak pernah masuk UKS lagi. Jangan sakit lagi ya," ujar Itachi sambil menepuk-nepuk kepala Sasuke yang saat itu baru selesai mengikuti jam olahraga.

Sasuke mengangguk senang, "Iya Itachi nii-chan. Aku senang bisa bermain dengan teman-teman. Tetapi Niichan…. Aku benci. Aku benci pada anak itu.. Ia lagi-lagi menggangguku. Aku benar-benar ingin menghajarnya. Ia benar-benar menyebalkan! Aku sangat berharap dia jatuh ke jurang dan mati!"

"Hush! Sasu-chan tidak boleh berbicara seperti itu. Tousan, Kaasan, dan Itachi-nii tidak pernah mengajari Sasu-chan berbicara kasar seperti itu. Kami akan sedih jika mendengar Sasu-chan berbicara seperti itu," ujar Itachi kecil.

"Habisnya dia jahat…" Sasuke menggerutu kemudian menceritakan tentang keburukan temannya itu.

Itachi kecil hanya tersenyum ketika mendengar adiknya bercerita. Rutinitas nya di sekolah untuk menemani Sasuke di UKS telah berubah menjadi tempat curhat adiknya. Sekitar satu bulan yang lalu, ada anak baru di kelas Sasuke. Anak baru yang menurut Sasuke sangat menyebalkan. Hampir setiap hari Sasuke mempunyai hal-hal yang bisa diceritakan tentang anak baru itu. Dari ekspresi Sasuke, Itachi tahu jika adiknya benar-benar membenci anak itu. Itachi pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya anak kecil yang masih suka bermain. Tetapi yang Itachi ingat sampai ia dewasa adalah bahwa anak yang diceritakan oleh Sasuke bernama Namikaze Naruto.

FLASHBACK END


Mikoto yang saat itu sedang ingin memanggil Itachi untuk makan malam dikejutkan dengan Sasuke yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Ya Tuhan, Sasuke! Kau seharusnya masih istirahat di kamar, sayang…" seru Mikoto yang kemudian duduk di samping Sasuke.

"Aku juga lapar, Kaasan," rajuk Sasuke dengan nada manja seperi biasa membuat Mikoto tersenyum lega.

"Kaasan kan dapat mengantarkan makan malammu ke kamar," ujar Mikoto. Sasuke menggeleng. "Aku ingin makan malam bersama kalian. Itachi-nii masih di kamarnya?" tanya Sasuke yang dibalas dengan anggukan Mikoto.

"Aku akan memanggil Itachi-nii," ujar Sasuke.

"Tapi-" Mikoto ingin mencegahnya tetapi Sasuke sudah berlari menuju kamar Itachi.


"Niichan! Ayo makan malam! Sasu sudah lapar!"

Sasuke mendengar suara gedebuk dari dalam, tak lama kemudian pintu kamar terbuka, "Sasuke! Kenapa kau-"

"Jangan bilang kalau aku harus istirahat! Aku sudah lelah seharian tidur di kamar. Lebih baik kita segera turun karena aku sudah sangat lapar," pinta Sasuke.

"Baiklah. Tetapi Niichan akan menggendongmu. Dan jangan membantah!" perintah Itachi yang kemudian mengambil posisi jongkok agar Sasuke naik ke punggungnya.

"Baiklah," ujar Sasuke kemudian.


Makan malam hari itu adalah makan malam paling tenang bagi Sasuke. Biasanya kakaknya akan membicarakan sesuatu yang tidak penting. Tetapi malam itu, Sasuke bisa mendengar suara nafasnya sendiri. Kesunyian itu bertahan hingga makan malam selesai.

"Sasuke, malam ini ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Tsunade. Akan lebih baik jika kau ikut dalam pembicaraan ini. Tetapi jika kau masih lelah, kau bisa istirahat di kamar," ujar Mikoto.

"Aku ikut. Tetapi please, Kaasan. Jangan terlalu serius! Sejak tadi aku berusaha menahan tawaku melihat Niichan bodohku ini memasang wajah seperti sedang sakit perut," ejek Sasuke yang dibalas dengan delikan tajam dari Itachi.

"Kau… Kau tidak apa-apa kan sayang?" tanya Mikoto sedikit takut.

Sasuke mengangguk mantap. "Aku baik-baik saja. Tidak ada gunanya untuk meratapi apa yang terjadi padaku saat ini. Lagipula aku sudah kapok tidur di bawah guyuran shower. Hahaha…" Baik Mikoto maupun Itachi juga ikut tertawa mendengarnya. Mereka lega ketika melihat Sasuke tertawa. Walaupun di dalam hati mereka, ada keyakinan jika Sasuke sedang tidak baik-baik saja.


"Baiklah, apa yang ingin kau sampaikan, Tsunade?" Fugaku membuka pembicaraan. Saat itu seluruh keluarga Kim telah duduk di ruang tamu bersama Senju Tsunade.

"Yang pertama, aku akan memberitahukan hasil pemeriksaan tentang status Sasuke. Sasuke positif adalah seorang alpha," jelas Tsunade. Semua nya hanya diam mendengarkan. Lagipula di dalam pikiran mereka sudah meyakini jika Sasuke adalah alpha, jadi fakta itu tidak lagi mengejutkan bagi mereka.

"Yang kedua, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Sasuke. Apakah kau bersedia untuk menjadi mate dari Namikaze Naruto?" tanya Tsunade yang langsung mendapatkan gelengan dari Sasuke. Sasuke pun tak mengucapkan sepatah katapun.

"Sebagai seorang wanita alpha, ada cara untuk lepas dari mate mu dan mencari pria lain untuk kau jadikan pasanganmu. Tetapi, sekali kau melepas mate mu maka kau tidak bisa bersamanya lagi. Apa kau yakin dengan putusanmu, Sasuke?" Sasuke mengangguk. Ia sudah malas untuk mendengar basa-basi dari Tsunade. Akan lebih baik baginya jika Tsunade segera memberi tahu bagaimana cara agar dia bisa lepas dari mate nya untuk selamanya.

Tsunade mengeluarkan sebuah botol dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, "Ini adalah suppressant khusus untuk menekan feromonmu hingga kau sama sekali tidak mengeluarkan feromon. Pada intinya, kau tidak akan berbau apapun.

Sasuke mengambil botol berisi suppressant itu. Dari luar tampak terlihat bahwa itu obat sakit kepala. "Aku menggunakan botol obat sakit kepala untuk menyamarkan bahwa di dalamnya adalah suppressant. Itu adalah suppressant yang biasanya digunakan oleh para omega tetapi dengan dosis yang lebih tinggi. Kau harus meminumnya setidaknya 5 jam sekali. Jika kau terlambat minum sedetikpun, maka bau feromonmu akan keluar. Jadi berhati-hatilah!" jelas Tsunade.

"Maksudmu aku harus menghabiskan seumur hidupku dengan meminum obat ini agar dia tidak pernah mencium feromonku?" tanya Sasuke sarkastik.

"Tidak Sasuke. Cukup 1 bulan saja atau lebih tepatnya sampai bulan purnama di bulan yang akan datang, kau tidak ditandai oleh mate mu, maka kau bisa lepas dari takdirmu. Kau bisa lepas dari Namikaze Naruto," jawab Tsunade. Sasuke menatap botol obat di tangannya. Tanpa pikir panjang Sasuke mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan sekolah Sasuke? Kita sudah mendaftarkan Sasuke untuk masuk di sekolah yang sama dengan Itachi. Padahal Naruto juga bersekolah di sekolah itu. Apa perlu kita memindahkan Sasuke ke sekolah lain?" tanya Mikoto.

"Aku rasa itu tidak perlu dilakukan, Mikoto. Biarkan Sasuke melanjutkan sekolahnya di sekolah itu. Lagipula ada Itachi. Aku juga bisa meminta tolong Asuma dan staff guru kenalanku untuk turut serta menjaga Sasuke. Sekolah ini adalah sekolah terbaik di Jepang dan aku tidak akan rela jika putriku bersekolah di sekolah lain yang memilliki banyak preman. Itu akan lebih berbahaya untuk Sasuke," jawab Fugaku. Itachi mengangguk setuju.

Sasuke pun mengangguk setuju. Tidak ada gunanya melarikan diri. Ia akan menghadapi semuanya. Lagipula bukankah menyenangkan bermain kucing-kucingan dengan mate tersayangnya nanti di sekolah?

TBC

Halooo..

Ini ada revisi dari chap 1 yang ternyata banyak typo.

Terima kasih atas koreksinya. Untuk balasan review chap kemarin ada di chap 2. Terima kasih..