Warning: AU, OOC, Typo (s) Bertebaran, tidak Sesuai EYD, abal, GaJe, ide pasaran(SANGAT), alur yang dipaksakan.
Fiction rated: M
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama/Hurt/Comfort/Family(?)(bisa terselip genre lain)
Special thanks:
Rqm3490, Suzu Aizawa, hyuuchiha prinka, Lollytha-chan, RK-Hime, Mamoka, musume, Emma Winter, sasuhina-caem, Moku-chan, Sugar Princess71, SS, Kertas Biru, Uchiha Fanny-chan, lavender hime chan, TSUBASA LI, Uchiha, Himetarou Ai, Hanazono Suzumiya, Yukio Hisa, Rosecchi, Mrs. X, Hyou Hyouichiffer, Michiru Okazaki, SparKyuHae elFISSEV, n, Niwa, daisuke, ve Degirl, Miya-hime Nakashinki, Guest, hyun young, I-My-Me.
DON'T LIKE, DON'T READ!
INGAT! DON'T LIKE, DON'T READ!^^
.
.
.
Satu bayangan kaki mulai terlihat dari balik pintu yang perlahan terbuka, menimbulkan suara deritan yang menyiksa. Menampakkan bentuknya yang jenjang dan bagus. Sudah tak terhitung berapa kali Hinata menelan ludahnya dengan paksa dalam kondisi tubuh yang bergetar, karena baru saja menangis dan kedatangan seseorang di balik daun pintu itu yang masih belum diketahui siapa oleh Hinata.
Namun, tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan dalam benaknya yang berteriak penasaran. Satu kaki itu sudah menapak masuk ke dalam kamarnya. Rasanya jantung Hinata sudah tak bisa bekerja secara tepat setelah melihat kaki itu. Tanpa melihat wajah sang empunya pun Hinata sudah bisa menebak.
Mungkin malam ini adalah malam ternaas yang pernah ia alami.
Kriieett…
Suara deritan pintu itu terdengar—lagi. Terbuka semakin lebar agar tubuh seseorang di sana bisa leluasa memasuki kamar bernuansa ungu itu.
Rambut gelap itu…mata sekelam malam itu…tubuh tegap itu, jelas bukan milik ibunya!
Saat itu Hinata hanya merasa dunianya berhenti berputar. Jantungnya serasa terlepas dari tempatnya bernaung. Udara seakan menjauh dari tubuhnya. Cukup satu tatapan mata onyx itu, Hinata membeku di tempat. Tak kuasa bergerak barang sesenti pun.
Pandangan itu … mengikatnya.
Sepasang manik lavendernya melebar tatkala pemuda itu melangkahkan kakinya—semakin mendekat ke arah di mana ia terdiam. Hinata kontan menyeret tubuhnya yang terduduk seiring langkah kaki pemuda itu semakin mempersempit jarak.
Dia, tersenyum meremehkan.
Tidak. Hinata tak mau jarak aman yang tercipta semakin terancam. Dengan segera Hinata merangkak menjauh dari keberadaan pemuda beriris onyx itu. Namun, sayang seribu sayang. Apa yang terjadi berikutnya tidaklah sesuai dengan harapan Hinata. Satu cengkraman erat ia rasakan pada sepasang kakinya, sesaat sebelum ia berhasil bergerak menjauh. Sontak Hinata memekik. Pemuda itu menarik pergelangan kakinya.
"Mau ke mana, hn?" suara itu bahkan terasa menggema di tengah malam yang masih senantiasa menampilkan warna dirinya yang gelap. Segelap tatapan pemuda yang tengah meraih dagu Hinata agar wajah si gadis mendongak. "Apa aku membuatmu takut?" bahkan tanpa permisi, pemuda itu menelusuri wajah Hinata dengan sentuhan ringan dari bibir tipisnya. Tak lupa hembusan nafasnya yang hangat turut andil.
Hinata meronta. Kedua tangannya ia gunakan untuk memukul tubuh bagian mana saja dari Sasuke yang bisa ia raih. Namun, tangan itu berhenti bergerak untuk menyerang. Bukan karena sang empunya berubah pikiran untuk menghentikan sesuatu yang dilakukan Sasuke. Namun karena sepasang tangan kekar yang menahannya.
Sasuke, menyeringai.
"L-lepaskan tanganku!" dengan brutal Hinata kembali menggerakkan tangannya yang masih berada dalam cengkraman tangan Sasuke. Namun Sasuke tidak peduli. Ia justru merasa semakin tertarik dengan keadaan seperti ini. Ini pertama kalinya seorang gadis menolaknya. Biasanya para gadislah yang memburunya. Ternyata gadis di hadapannya seratus delapan puluh derajat berbeda. "A-apa maumu! L-lepaskan t-tanganku!"
"Mauku?" Sasuke sengaja memasang wajah polosnya ketika bertanya demikian. Ia tersenyum seraya menampilkan senyum menawannya, "Mudah saja," tak lama senyum itu berubah menjadi seringai kejam namun mempesona. "Serahkan tubuhmu." Bisiknya di telinga Hinata. Kedua mata lavender Hinata membulat sempurna.
"K-kau sakit!" bentak Hinata panik sembari terus meronta.
"Sssttt…!" Sasuke menarik paksa kedua tangan Hinata dengan tangan kirinya hingga menyentuh dadanya, sedang jari telunjuk kanannya ia letakkan di atas permukaan bibir Hinata yang ranum, "kau mau ibumu mendengar permainan kita?" Tanya Sasuke—lagi-lagi—dengan wajah polos yang sengaja ia buat-buat. "Aa, atau kau sengaja melakukannya? Memamerkan kegiatan yang kita lakukan untuk membalas ibumu, begitu? Baiklah." kali ini Sasuke menyeringai.
Hinata menatapnya tak percaya, "Kau, bukan hanya sakit, tapi kau gila!" ungkapnya penuh penekanan.
"Kalau begitu aku tidak perlu dituntut karena memperkosa seorang gadis, bukan?"
"J-jangan macam-macam! A-atau a-aku—"
"Aku apa?" sela Sasuke, "berteriak maksudmu?" Sasuke mendengus geli, "lakukan saja kalau kau bisa." bola mata onyxnya menatap Hinata seolah menantang.
Plak!
Hening.
Hanya terdengar suara deru nafas yang dihembuskan dengan kasar.
"Kau milik ibuku! Setialah padanya!" bentak Hinata.
Sasuke menoleh ke Hinata sembari menyentuh pipi kirinya yang terasa panas berkat tamparan dari Hinata. Tatapannya berubah drastis. Tajam dan dingin. Hinata menelan ludah dan jantungnya berpacu lebih cepat.
"Aku bukan milik siapapun, tidak juga dengan ibumu." Sasuke berujar. Perlahan ia dekatkan wajahnya pada wajah Hinata yang nampak pucat. "Sadarlah, ini bukan cerita dongeng. Ini dunia nyata. Dia membayarku untuk memuaskannya, bukan untuk setia padanya."
"S-setidaknya hargailah dia,"
"Untuk apa? Wanita lain pun bisa membayarku seperti ibumu, lalu aku juga harus setia pada mereka?" Sasuke terkekeh pelan. Membuat Hinata muak melihat tingkahnya yang menjengkelkan. "Daripada itu, lebih baik kau persiapkan dirimu malam ini." Seringaian Sasuke nampak lebih mengerikan.
"Keluar dari kamarku sek—hmp!"
Detik berikutnya tak ada kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Hinata. Jelas, bibir itu terkunci oleh ciuman kasar dari Sasuke yang bergerak lebih cepat. Hinata meronta sekuat yang ia bisa, ia berusaha memukul pundak kiri Sasuke dan berniat menjauhkan tubuh pria itu. Namun, segera Sasuke menggenggam tangan Hinata yang hendak mendaratkan pukulan. Tetap saja Hinata tidak mau diam, ia terus bergerak berusaha melepaskan kuncian Sasuke pada bibirnya yang mulai terasa panas. Pemberontakan Hinata sedikit membuat Sasuke kerepotan, tapi tenaganya sebagai lelaki memang mendominasi. Merasa perlawanannya sia-sia, Hinata hanya mampu memejamkan matanya erat yang dengan perlahan mengeluarkan cairan bening dan hangat, mengaliri kedua pipinya yang—malam ini—tak dihiasi rona merah seperti biasanya.
Sasuke menyadari bahwa Hinata menangis, namun ia justru tersenyum puas melihat itu. Permainan akan semakin menarik, pikirnya.
Tak puas dengan bibir, Sasuke menurunkan ciumannya ke leher Hinata yang tak tertutupi lapisan gaun tidurnya. Menyadari hal itu, Hinata mendorong bahu Sasuke dan mencengkramnya.
"L-lepaskan! K-kau tidak bisa melakukan i—mmp!" bahkan Sasuke tak membiarkan Hinata melanjutkan protesnya. Ia bekap mulut Hinata dengan tangan kirinya yang menganggur. "Hmmp! Mmpp!" Hinata tetap mengeluarkan suara berusaha membuat Sasuke menjauh dari lehernya. Namun dengan mudah tangan kiri Sasuke meredam semua suara yang ditimbulkan.
Sasuke sengaja menggoda Hinata dengan menghembuskan nafasnya di leher gadis itu, membuat tubuh Hinata bergerak brutal meminta untuk dilepaskan. Tangan kanan Sasuke mendekap tubuh Hinata dan menekan punggungnya agar tubuh si gadis semakin mendekat ke arahnya. Sontak Hinata mencengkram lalu menarik kaus hitam yang dikenakan Sasuke sehingga pada bagian lehernya terlihat melar.
"Aromamu menarik." Komentar Sasuke ketika ia menghirup wangi leher Hinata yang putih dan jenjang. Yang terdengar dari mulut Hinata hanya "Hmp!" tanda bahwa ia tak bisa mengeluarkan suaranya untuk menanggapi perkataan Sasuke. Tanpa menunggu lama lagi, Sasuke menyapukan lidahnya di atas permukaan kulit leher Hinata. Bermain dengan gerakan sensual di sana. Seketika Hinata merasa merinding merasakan benda basah yang menggelitik lehernya.
Dan—lagi-lagi—Hinata hanya bisa menangis…
"Santai saja," Sasuke kembali bersuara. Kemudian menelusuri leher dan terus turun ke bawah secara perlahan. "Kau hanya tinggal menikmati dan biar aku yang bekerja, untukmu, aku tidak akan mengambil tarif bayaran."
Sasuke dapat merasakan tubuh Hinata yang didekapnya menegang setelah mendengar kalimat tersebut. Setelah itu, Hinata kembali berontak sambil terus terisak meski tak terdengar. Kedua kakinya telah diapit sempurna oleh kaki Sasuke, tubuhnya didekap erat oleh pemuda itu, tapi Hinata tidak mau menyerah. Tidak mau sama sekali.
Sasuke terus mendaratkan kecupan ringan sampai di atas dada Hinata yang masih aman di balik gaun tidurnya. Gumaman Hinata pun semakin mengencang di balik telapak tangan kiri Sasuke yang membekapnya. Namun Sasuke mengabaikan semua itu, ia terlanjur menikmati permainan yang ia ciptakan sendiri. Tubuh Hinata terlalu menggoda. Terlebih ini pertama kalinya ia melakukan ini dengan seorang 'gadis' yang benar-benar masih murni. Dan juga gadis itu adalah anak dari orang yang menyewanya. Tidakkah ini terlalu sayang untuk dilewatkan? Dan, ah bukankah kebetulan yang menyenangkan—tinggal satu atap.
Benar-benar bonus.
Two in one.
Sasuke mungkin memang brengsek.
Dan ia sama sekali tidak peduli.
Bahkan air mata Hinata yang sudah menganak sungai sama sekali tak mampu membuat Sasuke mengentikan apa yang sedang ia lakukan.
Pada mulanya, Sasuke memang hanya ingin menggoda Hinata, berhubung tadi pagi gadis itu telah mengerjainya. Namun, semuanya berada di luar kendali ketika kulit Hinata yang tanpa noda bersentuhan dengan kulit Sasuke yang sedikit kasar khas pria.
Malam yang dingin nan sunyi menjadi pengantar kesadaran Sasuke yang mulai menghilang. Tangannya yang terampil tak hanya sekedar mengelus punggung Hinata yang terasa bergetar, namun perlahan mencari celah dari gaun tidur Hinata yang tak berdosa.
Hinata terkesiap.
Kontak kulit antara Sasuke dan Hinata terjadi. Jemarinya yang piawai, membelai pengekang bra Hinata yang terikat kuat. Pemberontakan Hinata tak berakhir sampai di situ, apalagi ketika bibir sang pemuda Uchiha menulusuri bentuk rahang sang gadis incaran. Mencoba meraih sesuatu yang merah menggoda.
Keselamatan.
Permohonan itu yang Hinata serukan dalam hatinya yang sesak.
Gadis itu memejamkan mata. Pasrah jika bibir sang pemuda raven itu bergesekkan dengan bibirnya.
Ia takut.
"Sasuke."
Sial!
Suara khas seorang wanita mengiterupsi kegiatan yang tengah menjadi kesenangan Sasuke. Di tengah malam seperti ini seruan seperti itu sangatlah nyaring. Memecah suasana mencekam bagi Hinata yang kini melemas, deru nafas yang tersenggal, dan matanya yang basah karena air mata.
Sasuke menjauhkan tubuhnya dari Hinata yang masih terlihat tertekan seraya berdecak kesal. Sesaat kemudian ia menyeringai sebelum beranjak meninggalkan Hinata. Ia usap belahan bibir merahnya yang sedikit basah dengan ibu jari.
"Untuk saat ini, sampai di sini dulu." Ia berujar dengan santainya. Puas, Sasuke melangkah keluar dari dalam kamar beraroma lembut lavender.
Menyisakan Hinata yang mulai menundukkan kepalanya lebih dalam. Tangan putihnya yang bergetar mencengkram erat lapisan kain bagian dadanya dengan takut hingga kusut. Sekusut keadaannya.
Samar-samar ia mendengar percakapan Tsunade dan Sasuke di luar tentang pertanyaan Tsunade mengenai keberadaan Sasuke yang tak sempat ia temukan sebelumnya. Satu yang Hinata ketahui, Sasuke … pandai berbohong.
Selanjutnya yang Hinata rasakan … lelah.
Bibirnya bergetar. Tubuhnya gemetar. Jiwanya ketakutan.
Kini kedua tangannya yang terkepal di depan kakinya yang terlipat, di atas lantai berkeramik putih yang memantulkan refleksi bayangannya meski samar. Menemani isakannya yang lirih memilukan.
.
.
.
Di pagi yang dingin, Hinata menemukan dirinya tergeletak di lantai keramik yang tak menyalurkan kehangatan. Benang-benang cahaya yang menerobos ventilasi kamar berhasil membangunkannya dari rasa lelah sehabis menangis.
Ia berkaca pada cermin di atas meja rias. Matanya sedikit sembab, dan wajahnya terlihat lebih pucat. Kemudian Hinata beranjak ke kamar mandi untuk mulai bersiap ke sekolah.
Setelah turun ke lantai satu, tak satu pun orang yang ia temui. Entah itu Sasuke maupun ibunya, Tsunade. Hinata menghela nafas. Ia memang benar-benar sudah terbiasa.
Dan ia berangkat tanpa salam pengantar.
Sesampainya di kelas, seperti biasa Hinata disambut oleh kedua teman baiknya yang cantik. Ino dan Sakura. Meski pada awalnya tatapan mereka menyelidik ketika mendapati Hinata memasuki kelas, namun melihat keadaan Hinata yang kurang prima membuat kedua gadis cantik itu memilih menelan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas.
"Ohayou, Hinata," si gadis pirang membuka percakapan dengan salam ceria di pagi hari.
"Ohayou," bahkan di pagi secerah hari ini, suara Hinata terdengar lebih lirih. Terkesan berbisik.
Hinata akhirnya menempatkan dirinya untuk duduk di kursi yang telah ia tempati hampir setahun ini.
"Eh, Hinata, kau … baik-baik saja?" Sakura bertanya dengan ragu. Takut jika pertanyaannya malah memperburuk suasana.
Ino dan Sakura semakin merasa cemas ketika Hinata hanya menanggapinya dengan senyum yang lemah. Keduanya saling melempar pandang, kemudian memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Menghargai diri Hinata sepenuhnya.
"Jika ada yang mau kau ceritakan pada kami, katakan saja Hinata. Kami siap mendengarkan." Ino berujar dengan bijak, diperkuat dengan anggukkan pasti dari Sakura.
Dan Hinata kembali tersenyum…
Yang lebih ikhlas.
.
.
.
"Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membiarkan kau membawanya!" memecah kedamaian senja, Tsunade meluapkan emosi pada lawan bicaranya di seberang telepon.
"Aku yang mengurusnya selama ini! Jangan seenaknya mengambil dia dariku! Dasar kau brengsek!" bunyi gemerutuk gigi yang bergesekkan terdengar dari Tsunade yang menahan amarah, "Urus saja wanita jalang yang kau pilih!" rahangnya mengeras, "Dia anakku!" tangan kanannya yang bebas berhasil menggebrak meja kayu cokelat yang tak tahu apa-apa, seiring dengan suaranya yang membahana karena emosi.
"Heh," Tsunade tertawa sinis ketika menyimak penjelasan di ujung telepon, "Tau apa kau, HAH!" dan emosinya kembali memuncak. "Jangan bertingkah seakan-akan kau perhatian padanya! Kamana saja kau selama ini, hah?" lalu ia merendahkan suaranya dengan disertai air muka yang datar, "Dia tidak butuh Ayah sepertimu."
Trek.
Dan sambungan telepon terputus secara sepihak dengan sedikit bunyi bantingan gagang telepon dari tangan berkuku panjang nan terawat Tsunade.
Dalam posisi berdiri, Tsunade berbalik membelakangi meja yang terdapat sebuah telepon yang ia gunakan tadi. Ia jatuh terduduk di atas meja. Telapak tangan kanannya menutupi sebagian wajahnya yang memerah menahan marah dengan frustasi. Tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk perutnya sendiri. Melindunginya, dari luka.
Tes…
Bahunya berguncang…
Bergetar.
Dan untuk pertama kalinya—setelah perceraian, Tsunade…
Menangis.
.
.
.
Sesaat Sasuke memasuki pintu rumah, ia sempat bingung melihat banyak sepatu yang tersimpan rapi di rak yang berada di samping pintu utama—pintu masuk. Suara kikikkan tawa terdengar dari arah ruang tamu. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 16:46. Penasaran, Sasuke mengerutkan keningnya seraya berjalan menuju ruang tamu. Ia berbelok ke kiri dari arah pintu masuk untuk sampai di sana. Sebelumnya ia telah meletakkan sepatu hitamnya di rak yang sama.
Suara tawa yang Sasuke dengar langsung terhenti ketika sosoknya tertangkap oleh empat pasang mata berbeda warna.
Dan Sasuke baru mengerti, ternyata mereka tak lain adalah anak-anak sekolahan yang dapat dipastikan bahwa mereka adalah teman Hinata. Mereka masih mengenakan seragam sekolah. Dilihat dari sisa-sisa snack yang ada di atas meja, sepertinya mereka sudah lama berada di sini.
Namun tak lama, tatapan Sasuke berubah. Memandang angkuh pada satu-satunya anak laki-laki di antara tiga gadis yang salah satunya adalah Hinata.
Hinata hanya menunduk dalam keresahan yang menyergap. Sejak awal ia memang merasa cemas ketika Sakura, Ino dan Naruto memaksa untuk mengerjakan tugas kelompok dalam pelajaran Pengetahuan Alam di rumahnya. Inilah yang ia khawatirkan.
Mereka mengetahui keberadaan Sasuke.
Katanya, mereka ingin mengetahui rumah Hinata karena gadis itu tak pernah mengajak mereka untuk sekedar berkunjung ke rumahnya. Untung saja ibunya tak ada di rumah untuk saat ini, sehingga mereka tak perlu tahu keretakan dalam keluarganya yang terkubur rapi di dalam rumah besar nan megah ini.
"A-ano, t-tadi sudah sampai m-mana?" Hinata mengalihkan perhatian ketiga temannya; Sakura, Ino dan Naruto.
Sesuai keinginan, mereka tersentak dari lamunan—yang semula menatap Sasuke meski terlihat tidak ramah.
"Ah! Iya, aku sampai lupa. Kita kerjakan lagi ya, Hinata-chan!" Naruto adalah orang yang pertama kali membuka suara dengan volume yang tinggi dan bersemangat. Dengan cerianya ia tersenyum sembari mulai mendekat ke arah Hinata untuk kembali mengerjakan soal.
Dan Hinata … merona. Tentu saja!
Sudah bukan rahasia bahwa sang gadis Hyuuga menyukai pemuda pirang yang ceria itu. Namun memang Naruto bisa dibilang lelaki yang tak peka. Dan Hinata tak berani mengambil langkah.
Sakura dan Ino akhirnya menyusul Naruto dan Hinata. Nampaknya mereka mulai terbangun dari khayalan.
Merasa diacuhkan, Sasuke menyipitkan matanya. Sebenarnya yang membuat ia terpaku di sana karena melihat Hinata—yang ia pikir gadis yang tak bisa dekat dengan lelaki—justru terlihat dekat dengan pemuda beriris safir itu. Sasuke berbalik seraya mendengus. Rahangnya terlihat mengeras dan tangannya terkepal. Sasuke merasa, ia tak suka pada anak laki-laki pirang itu.
Pertama lihat saja sudah membuatnya muak!
Ck.
Sepeninggalnya Sasuke, Ino dengan semangat langsung menyerbu mendekati Hinata yang asik mengerjakan tugas dengan Naruto. Sakura pun ikut dengan antusias.
"Ne, Hinata, yang tadi itu siapa?" Ino bertanya dengan semangatnya. Wajahnya terlihat merona, sama seperti Sakura.
"D-dia … i-itu—"
"Dia bukan bukan pacarmu 'kan?" Tanya Sakura menyelidik.
Dan lavender Hinata membulat. "Bukan!" demi Tuhan! Hinata tak pernah menginginkannya. Memikirkannya saja ia tak mau.
"Lalu?"
"D-dia …" lirihnya, "saudara jauh." Dusta!
"Aaah, syukurlah," Ino terlihat bahagia, kedua tangannya bertaut di depan dada, "Dia itu tampan sekali,"
"Iya, benar!" Sakura menimpali dengan wajah merona. "Pasti senang ya punya saudara setampan dia."
Tidak!
Aku—tidak bahagia, Sakura…
Hinata tertekan, di balik wajahnya yang ia sembunyikan dalam tundukkan.
"Sudahlah, kalian ini bicara apa? Ayo kerjakan tugas lagi. Aku tak bisa melakukannya sendiri." Naruto yang tampak bingung hanya protes sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal
Dan mereka kembali fokus.
.
.
.
Pintu bercat cokelat tua menjadi sasaran empuk untuk Sasuke banting hingga menimbulkan debaman yang keras. Ia berjalan cepat ke arah tempat tidur, lalu melempar tasnya ke sembarang arah dengan kasar.
Ia hempaskan tubuhnya ke kasur hingga tubuhnya sedikit memantul karena keelastisan ranjangnya yang empuk. Sepulang dari kuliahnya, Sasuke benar-benar merasa lelah. Ia pijat keningnya yang terasa pening. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan dari hidung—sama sekali tak membuatnya merasa lebih baik.
Drrt…drrt…
Gerakannya terhenti dan beralih untuk meraik sesuatu yang bergetar dari dalam celana jeans biru tuanya.
"Hn?" lalu Sasuke menyingkirkan tangan dari keningnya, "kapan?" ia langsung duduk di tepi ranjang dan terus menyimak penjelasan dari orang di telepon sana. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Ia tutup teleponnya dan tersenyum seraya beranjak.
Sasuke mengambil kaca mata hitam dari dalam laci meja yang ia gunakan untuk belajar. Kemudian ia buka lemari berdaun pintu dua untuk mencari jaket hitamnya. Setelah mendapatkan itu, Sasuke mengganti kaus hitamnya dengan kaus berwarna putih. Sedangkan jeans yang ia pakai tak ia ganti.
Dan tak perlu diragukan, ia terlihat lebih tampan dan gagah.
Kaca mata hitam yang membingkai sepasang bola mata onyx yang hitam cemerlang. Jaket hitam yang membungkus tubuhnya yang proposional, semua terasa pas untuknya.
Ketika ia melewati ruang tamu, Sasuke masih melihat teman-teman Hinata berada di sana dan menengok ke arahnya.
Sasuke berjalan dengan angkuh melewati mereka semua yang memperhatikannya. Tapi tidak untuk Hinata.
.
.
.
Sampai di dalam klub, kerlingan mata nakal nan manja menjamunya bertubi-tubi. Memanggil nama sang Uchiha dengan nada erotis yang menggoda. Sentuhan-sentuhan jari lentik dari para gadis kesepian adalah sesuatu yang lain.
Sasuke hanya menyeringai tipis ketika melewati semuanya. Lautan manusia yang tenggelam dalam alunan musik yang menghentak tak menutupi jalannya dari sahabat yang telah menunggu.
"Kau terlambat lima menit," Gaara membuka suara dengan cuek sembari menghisap sebatang nikotin yang ia nyalakan.
Sasuke mengalihkan pandangan seraya tersenyum, lalu duduk di samping Gaara yang mulai menghembuskan asap dari sebatang rokok. Sasuke melepas kaca matanya dan meletakkannya di atas meja kaca yang terlihat hitam.
"Mana wanitanya?" Sasuke bertanya, lalu memesan minuman pada seorang wanita seksi yang adalah seorang pelayan.
Gaara menegakkan tubuhnya, lalu menjentikkan jari agar abu rokoknya jatuh dalam sebuah asbak. Kemeja hitamnya semakin membuat Gaara terlihat lebih gelap meski kulitnya putih. "Tunggu sebentar lagi," dan Gaara kembali duduk menyender. Tak lama minuman yang Sasuke pesan sudah datang. Seteguk airnya sudah masuk membasahi tenggorokan Sasuke.
"Berapa bayaran yang akan kita terima?" Sasuke kembali bertanya setelah meletakkan gelasnya.
"Yang kutahu dari Boss, nominalnya cukup besar." Jawab Gaara.
"Heh, semakin banyak wanita kesepian."
"Keuntungan untuk kita," Gaara berujar santai.
Sasuke menyeringai mendengar kalimat Gaara, "Kau benar-benar brengsek,"
Gaara pun melirik Sasuke dengan seringainya yang seksi. "Kau dan aku jika tidak brengsek, takkan hidup cukup seperti sekarang." Gaara kembali menegakkan tubuhnya lalu mematikan rokoknya. "Dia sudah datang." Lalu Gaara bangkit berdiri di ikuti oleh Sasuke yang juga ikut berdiri sembari membenarkan jaketnya yang agak kusut.
Namun, ketika pandangannya melihat sosok wanita berambut panjang keunguan, matanya yang berwarna gelap, bibir tipisnya yang tersapu gincu merah, dan pakaiannya yang menggoda…Sasuke membeku dengan onyx melebar dan nafas yang tercekat.
Wanita itu…
Dan seketika onyx Sasuke kembali menampilkan luka dalam kebisuan. Dingin dan tajam.
"Hai…"
.
.
t.b.c
A/N: Tidaaakk! Jangan Sasuke! Inget Hinata di rumah! Jangan mau ama tuh cewek TTATT…bagaimana chap 3? Semoga lebih baik ya dari chap kemarin yang aneh ==a romancenya dikit? Sabar aja ya :3 ayooo siapa ya tuh cewek XD #abaikan—ga penting. Maaf atas keterlambatan apdet #plak! Han lagi kepikiran untuk buat fic GaaHina nih soalnya(?) XD Sebelum puasa nih mau ngucapin mohon maaf lahir batin sama readers ^^hehe semoga puasanya lancar ya XD
Ah dan terima kasih juga sama temen2 yg udah ngingetin/neror(?) XD buat apdet, di dumay atau di duta wkwkwk #abaikan—lagi. Kalau belum jelas, di sini Sasuke baru sekedar pervert sama Hinata, maklumlah namanya juga … uhuk— XD
Rqm3490: yap seperti yang sudah kamu tebak :D arigatou sudah RnR.
Suzu Aizawa: itu Sasuke XD em, ada mungkin bukan membantu tapi sedikit meringankan. Arigatou sudah RnR.
hyuuchiha prinka: hahaha agak maksa tapi emang bener sasu XD gimana UAS nya sukses? Arigatou sudah RnR.
Lollytha-chan: oke ini kelanjutannya, arigatou sudah RnR. XD
RK-Hime: gimana UN nya, sukses 'kan? Haha iya sasu tapi ngga ngerape tuh :p arigatou sudah RnR.
Mamoka: aaaa terima kasih untuk doanya. Haha iya yah chap kemaren aneh XD cowok yg jadi sandaran hinata dtg di chap 5 :p arigatou sudah RnR.
Musume: aaa aku ga nyiksa kok XD salahkan itu tbc *nunjuk tulisan tbc* Han juga suka lho kalau Hina ada disiksa batin ky gitu (OwO)bb haha ga dirape tuh, arigatou sudah RnR.
Emma Winter: itu Sasuke. Hehe iya nih chap kemaren emg aneh XD romance mereka tuh masih jauh (untuk yang bener-bener romance :3) nah ini dia kelanjutannya. Arigatou sudah RnR.
sasuhina-caem: haha iya emang sasuke XD iya yah chap kemaren agak aneh gimanaaa gitu. Oke, arigatou sudah RnR.
Moku-chan: Han ga lupa sama rikuesnya kalau emg Moku rikues :3 wkwk ya kadang Han juga suka Hina yang disiksa XD #plak. Arigatou sudah RnR.
Sugar Princess71: makasih untuk semangatnya XD ada alasannya kok Hinata ga ikut di Suna, hehe semoga chap ini lebih panjang. Tak perlu panggil senpai begitulah XD arigatou sudah RnR.
SS: ga perlu minta maaf segitunya, Han ga anggep ini flame, justru jadi pembelajaran yang Han ulik terus XD semoga chap ini lebih baik lagi *keringet dingin* Han sempet nyangka emg SasuSaku lho hehe ^^v arigatou sudah RnR.
Kertas Biru: *pundung* kenapa lupa ripiu? #plak, kidding hehe makasih untuk doanya. Haha pindah jangan yaaa :p arigatou sudah RnR.
Uchiha Fanny-chan: hehe maaf apdetnya lebih ngaret XD Hinata emg harus hebat dong kaya yang buatnya *dicekek berjamaah* arigatou sudah RnR.
lavender hime chan: gimana UAS nya? Emang si Sasu yang masuk kok haha tapi ga dirape ==a mungkin hinata kesel jadi ngajak perang XD arigatou sudah RnR.
TSUBASA LI: ada alasan kenapa Hinata ga tinggal sama Hiashi nanti dibahas, tsunade bukan benci Cuma ya agak bermasalah gitu nanti juga dibahas, kenapa ga kabur? Ada hubungannya sama tsunade, akan diusahakan memperjelas karakter sasu XD arigatou sudah RnR.
Uchiha: semoga romance kali ini berkembang ya maaf apdetnya agak ngaret XD #agak lo bilang? #plak. Arigatou sudah RnR.
Himetarou Ai: sasuke disini belum ada perasaan gimana2 baru sekedar tertarik sama err…tubuhnya ==a maklum namanya juga 'Teme' semoga puas sama chap ini, arigatou sudah RnR.
Hanazono Suzumiya: ini dia lanjutannya, haha salahkanlah tbc nya jangan Han XD #plak, maaf ya apdet ngaret, arigatou sudah RnR.
Yukio Hisa: hehe ada alasannya kok nanti dijelaskan XD ada kok yang tau, tapi bukan temennya. Jangan digigit, kasian… XD Arigatou sudah RnR.
Rosecchi: wkwkwk ayo ketawa bersama(?) untuk disini namanya juga uhukgigolouhuk masa si sasu mau pilih2 XD Han juga jadi ga rela #plakplokplak. Sejak kapan manggil senpai? XD arigatou sudah RnR.
Mrs. X: semoga chap ini lebih greget lagi ya :3 maaf apdetnya ngaret. Arigatou sudah RnR.
Hyou Hyouichiffer: ga apa2 yang penting review haha XD kenapa ga bilang dan ga tinggal sama Hiashi ada alasannya kok hehe nanti dibahas kak, arigatou sudah RnR.
Michiru Okazaki: ini sudah apdet, arigatou sudah RnR.
SparKyuHae elFISSEV: bah! Akhirnya dkw review,eh? Bagaimana? Bagaimana? Chap kali ini? Jangan bilang I piktor kalau sendirinya ge sama! XD haha makasih yaw udh review. Review lagi! #ngasah golok.
N: Han juga ga terlalu suka kok sasutsunade, mereka Cuma sekilas sbg pelengkap aja :3 semoga pada sukses ya XD arigatou sudah RnR.
Niwa: tenang…tenang…tenang.. XD itu emang sasu tapi ngga ngerape atau…ya begitulah. Ini kelanjutannya semoga puas :3 arigatou sudah RnR.
Daisuke: aaaa makasih udh setia menunggu XD *hug* #plak, bagaimana? Chap ini udh berkembang belom romancenya? :3 arigatou sudah RnR.
ve Degirl: ini sudah apdet, seleranya sama ya Han juga suka yang konflik berat dan ribet hehe. Arigatou sudah RnR.
Miya-hime Nakashinki: *ikut tabok2an* XD Han aja ikutan dagdigdug #eh? Semoga masih menegangkan yaw. Arigatou sudah RnR.
Guest: udah..udah..udah.. XD ini apdetnya, arigatou sudah RnR.
hyun young: hehe maaf nunggu lama, ini apdetnya XD tau tuh gara-gara sasu sama tsunade kasiankan Hinata #dicekek. Arigatou sudah RnR.
I-My-Me: aaaa makasih banyaaak XD ini apdetannya, arigatou sudah RnR.
Thanks for reading…
(Mohon MAAf bila ada kesalahan nama)
REVIEW? :'D
.
.
