Naruto Masashi Kishimoto

by DG-S

.

Don't like

.

Don't read ^^d

.

.

.

Perasaan kecewa dan kesal masih ada di benak ketiga gadis kuat itu, yang seharusnya mereka bisa menangkap penjahat tersebut dengan mudah. Mungkin, memang belum saatnya bagi mereka untuk menangkap salah satunya dari penjahat-penjahat yang sedang mereka incar, dan diincar oleh pihak kepolisian. Termasuk Ino yang ingin sangat segera menangkap penjahat berambut merah yang sangat tidak sopan terhadap dirinya, lalu memasukkannya ke dalam jeruji besi. Dengan kurung waktu selama-lamanya. Negara tersendiri juga mempunyai nilai hukum yang berbeda-beda bukan?

Gadis cantik tersebutpun mempunyai hak untuk menghukum tersangka. Ino juga ingin mencincang, membunuh, memakannya sekaligus dan semuanya itu terlalu berlebihan bagi seorang polisi wanita, seperti Ino ini. Kelakuan pemuda berambut merah dengan tato di dahinya terus terngiang di pikiran Ino. Sungguh, rasa-rasanya gadis ini ingin membenturkan kepala pemuda tersebut ke tembok hingga tewas. Lalu dengan anggunnya Ino tertawa puas sambil mengambil uang pemuda tindakkan Ino satu ini sangat tidak elit juga, gitu.

Ehm! Tapi, Ino tidak mungkin senista itu juga sih, namanya saja juga Khayalannya yang konyol entah terlalu kesal dan marah sehingga otaknya dengan otomatis berpikiran yang tak sewajarnya. Toh, namanya juga gadis remaja yang tak terima ciuman pertamanya direbut oleh pemuda tak di kenal, penjahat pula. Apalagi ia berusaha menjaga ciuman pertamanya untuk seseorang yang ia suka. Semua gadis pasti tidak rela jika ciuman pertamanya di rebut begitu saja. Rasa menyesalpun masih tertanamkan.

Ino menghembusakan nafas perlahan. Tentu saja ia ingin melupakan kejadian yang sangat-sangat membuatnya malu. Kejadian di mana pemuda tersebut menciumnya. Sontak Wajah Ino memerah, dengan perlahan jemarinya menyentuh permukaan bibir lalu mengusapnya perlahan.

"Awas saja kalau kau tertangkap nantinya!" Ino langsung berdiri dan mengepalkankan tangannya. Matanyapun berkilat tajam memandang langit malam. Meninju kepalan tangannya ke udara. Membayangkan jika dirinya bisa memasukkan pemuda tersebut ke dalam sumur kuil.

"Bagaimanpun caranya aku harus bisa mengalahkannya!" Teriak Ino. Ia meremas besi pembatas balkon hingga bengkok. Ternyata Ino benar-benar marah saat ini.

Dengan refleks aktifitas Ino terhentikan oleh tangisan anak kecil. Ino menunduk kebawa itu mencari asal suara tersebut. Seketika mata gadis ini menemukan sosok anak kecil terjatuh tepat di bawah pohon sakura. Ino ingin membantu anak kecil tersebut tapi, ia urungkan niatnya. Karena anak tersebut sudah tak menangis lagi dan sudah ada kedua orang tua yang menghiburnya.

Perlahan fikirannya tadi teralihkan dengan yang ia impihkan selama ini.

.

.

Ino terus tersenyum melihat ketiga orang yang berada di bawa rindangan pohon sakura. "Sepertinya menyenangkan. Hihihi..." Ino tertawa ringan, Rona merah tipis menghiasi wajahnya. Sejenak Ino berhenti tertawa.

"Kapan, ya? Aku bisa seperti itu?" jari telunjuknya berputar dan mengusap besi yang sudah bengkok tadi. Hingga tatapannya menjadi kosong.

Angin malampun menyapu pelan wajah cantik gadis berambut pirang yang sedang duduk tenang di balkon, sambil melihat indahnya malam hari yang di penuhi kemerlap bintang dan mengayunkan kakinya. Dengan angin yang selalu menggoyangkan ranting pepohonan. Daun yang berjatuhan di malam hari menyentuh rambut panjangnya yang elok dan tergerai bebas. Tak sengaja bulir air mengalir di pipinya. "Ah," bibirnya pun melengkung ke atas dengan wajah yang sedih. Ia mengusap matanya yang sudah berlinang air mana ia melihat seorang anak kecil sedang di gendong oleh ayah –ayah dari anak kecil tadi- dan seorang ibu yang tertawa kecil melihat suami dan anaknya melantunkan nyanyian dengan bersama-sama. Betapa hangatnya keluarga tersebut di malam hari ini. Dan Ino sangat menginginkannya, sangat.

Sedari kecil ia tak tau siapa orang tuanya, siapa dirinya yang sebenarnya. Dan untuk apa ia melakukan semuanya untukmembahagiakan, memuaskan dirinya hanya untuk merasakan kehangatan keluarga. Sehinggah ia tak tau waktu hanya untuk tertawa, bercerita , bersedih bersama dengan sahabatnya, Hinata dan Sakura. Kebahagiaanpun menjadi harta yang paling penting di dunia ini.

"Mereka terlihat gembira." Ia tersenyum lembut. Harapan. Apakah harapannya bisa di kabulkan denganTuhan? Harapan kecil yang menurut gadis itu adalah sebuah harapan yang sangat besar, sebuah harapan yang bisa saja memberikannya kesempatan. Walaupun hanya sedikit. Sebuah harapan yang familiar yaitu, kasih sayang sosok orang tua yang berada di ingin merasakan kasih sayang orang tua meski hanya secuilpun ia menerima kasih sayang tersebut. Namun, dengan keyakinan yang kuat. Ino yakin bahwa orang tuanya masih hidup dan mencari Ino disisi keduanya. Ino mengangguk, hatinya tetap berfikiran positif bahwa semuanya ia serahkan pada takdir. Takdir yang mampu ia rubah selama ia bisa merubahnya sewaktu-waktu. Kadang kala fikiran positifnya berubah menjadi negatif.

"Apakah orang tuaku akan mencariku? Atau mereka sudah melupakan diriku?" Ia tak tersenyum bibirnya melengkung ke bawah. "Apakah aku masih punya harapan memiliki orang tua? Yang selalu menyayangiku? Aku ingin punya orang tua-" ia mulai menangis dalam rengkuhannya. Suara tangisnyapun samar-samar terdengar . Ia mengangkat kepalanya keatas, menengadah ke atas, apakah ada seseorang pasangan suami-istri yang menginginkannya menjadi seorang anak? Dibenaknya ia tak peduli bahwa orang tuanya itu miskin atau kaya. Seorang Ino hanya menginginkan rasa kasih sayang orang tua, tak lebih sekedar melihat hartanya. Kasih sayanglah melebihi dari harta berlian, Ino juga bangga mempunyai kedua sahabat yang selalu menyayanginya, membantunya setiap saat. Sangat bahagia, ino sangatlah bahagia. Ia mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Alisnya mengkerut ke bawah dan tatapannya kosong.

Ia menggeleng. "Ino harus semangat!" Teriaknya dengan semangat membahara.

"Kau akan melihatku bahagia atau sedihnya nanti Ino. Lihat ya!" Rok pendeknya tertiup angin sehingga terlihat lengkungan-lengkungan indah mengelilingi pahanya.

Ia mengangguk "Mungkin, aku harus melupakan semua yang ku impihkan selama ini, aku ingin menjadi orang yang kuat dan tak menjadi beban sahabatku, rekan-rekanku. Ino! Kau harus bisa melindungi sahabatmu dan mempertahankan Apa yang bisa tercapai saat ini!" ia tersenyum kedua kalinya, senyum yang membuktikan kalau dirinya bisa menghadapi semua tantangan yang diberikan kepadanya. Bahwa dia tidaklah hanya berangan-angan yang tak berguna. Ya, semua itu hanya suatu hambatan saja. Hambatan yang bisa ia lewati dengan mudah.

Kret

Suara decitan pintu terbuka menandakan ada seseorang yang memasuki tempat ini. Ino menoleh ke belakang lalu, membuang muka dan dengan cepat ia mengusap wajahnya yang penuh air mata dan menata rambutnya hingga rapi.

"Ino? Kau?" dan pemuda yang memasuki balkon kecil itupunTerlihat kaget, ketika melihat Ino berada di sini sendirian selain dirinya. Ia mendekati Ino yang terus menunduk ketika dirinya memasuki tempat itu. Matanya yang hitam terus melihat Ino yang sedang memainkan rok,ia tersenyum lembut. Tangannya meraih kepala Ino dan mengusapnya penuh kasih sayang . Sehingga membuat Wajah Ino panas dan besemu merah. Dengan cepat Ino mengangkat kapalanya dan tersenyum lebar. Ia juga mengangkat kedua tangannya keatas sambil menepuk-nempukkan kebahu pemuda tampan yang sedang berdiri disamping Ino. Wajah Ino terlihat senang, dan ternyata ia bisa berada di samping pemuda yang ia sukai waktu pertama kali bertemu.

"Ah! Senior Sai! Hahaha... kau juga di sini rupanya! Hahhaa.." matanya yang biru berbinar-binar. Takjup melihat seniornya dengan senyum ramah kearahnya, hanya kepada dirinya. Ino juga baru pertama melihat senyuman senior pujaannya yang ia kira terlalu cuek untuk tersenyum memang murah senyum.

Wajah Ino memerah ketika seniornya menyentuh pipi Ino dengan lembut. Batin Ino berteriak-teriak senang sehingga jantungnya terus berdetak kencang sewaktu matanya menatap mata pemuda yang terus tersenyum kepadanya sedari tadi.

Ia sangat bersyukur berada di tempat ini yang hanya menenangkan hatinya yang lagi galau. Dan jujur sampai sekarang keinginannya baru terkabulkan, yaitu berduaan dengan seniornya ini. Berduaan lho~. Senior yang sudah dua tahun ditaksirnya dan dan dua tahun terakhir ini ia mempunyai kesempatan berbicara hanya empat mata saja. Ya, bukan pertama kalinya sih, maksudnya pertamakali berbicara hanya empat mata saja gitu. Iya, empat mata. Ino dan senior Sai.

"Kau sering berada ditempat ini, Ino?" tanya Sai mengalihkan pandangannya keluar .

"Iya, senior!." Jawabnya antusias. Maklum, lagi berbincang dengan orang yang di sukainya, jadi agak ada rasa salah tingkahlah.

"Oh, Begitu," Ino mengangguk . Mata Sai melirik ke arah Ino yang sedang menatatapnya.

Alis pemuda tersebut mengernyit ketika melihat besi pembatas tempat ini menjadi bengkok.

"Kenapa besi ini menjadi bengkok? Selama aku berada di sini, besi ini terlihat baik-baik saja." Ino mendelik. Ia sadar kalau dialah yang sudah merusak besi tersebut. Entah kekuatan dari mana ia bisa membengkokkan besi yang kuat itu dengan tangan kosong.

"i-itu... I-itu.." Sai memiringkan kepalanya, menunggu kalimat perkataan dari Gadis cantik itu. "Besi itu bengkok, karena ulahku," Sai melongoh. Batinnya, mana bisa gadis seperti Ino bisa sekuat itu membenkokkan besi dengan tangan kosong. Sedangkan dirinya? Hm, wanita-wanita sekarang sungguh menakutkan.

"Hehehe... Maaf ya, senior Sai? Aku benar-benar tidak sengaja, aku―" ucapan Ino terpotong.

Seketika tangan Sai meraih tangan Ino lalu, mengecupnya. Mata Ino terbelalak, wajahnya memerah, Jantungnya berdetak kencang. Yang bisa ia lakukan ketika Sai mengecup tangannya hanyalah "Heeeee, Senior sai?"

.

.

"Gaara! Apalagi misi kita kali ini?" pemuda berambut pirang tersebut langsung merangkul pemuda yang ia panggil Gaara.

Sontak Pemuda itu dengan cepat melepaskan rangkulannya ketika Gaara sedang meliriknya dengan lirikan membunuh. "Baiklah, baiklah Gaara. Hehehe" Dengan tawanya yang amat garing, ia langsung memberi jarak antara Gaara dan dirinya sekitar lima meter. Takutnya Gaara melakukan kesadisan terhadap dirinya.

"Jadi?" Pemuda ini ̶ Naruto̶ bertanya lagi. Siapa tahu Gaara ingin menjawab pertanyaannya.

Merasa tak penting mendengar ocehan Naruto, Gaara langsung melenggang pergi dari tempat Naruto berada dan menuju ke kamarnya. Mungkin, ia bosan mendengar pertanyaan-pertanyaan Naruto. Dan ia bosan melihat Naruto. Sungguh kejam.

Brak!

"Oi! Gaara! Kau belum menjawab pertaanyaanku," Naruto mengulurkan tangannya dan menaruh tangan satunya di dadanya sehinggah seperti drama-drama yang menceritakan seorang gadis perempuan yang di tinggalkan oleh kekasihnya. Tapi, ini berbeda. Bukan berarti mereka berdua homo. Kalau di komik-komik Jepang, Naruto pasti mengucurkan air matanya seperti air mancur yang mengalir dengan deras.

"Gaara, jangan tinggalkan diriku~" Teriaknya.

"Gaaraaaaaaaa-kun," Baik, ini mulai agak ehm, ya begitulah.

Selama ini memang tingkah Naruto seperti tingkah orang yang berlebihan pada umumnya. Ini terlalu menyesatkan. Bagi reader yang membaca fic ini, jangan tiru Naruto.

Oke, jangan membahas apa yang di lakukan atau tingkah Naruto selama ini hingga detail. Cukup intinya saja. Maklum, masih remaja yang usianya delapan belas tahunan,yang belum juga bersikap dewasa.

Selang waktu berlalu, Naruto dengan tegap duduk bersilah di depan kamar Gaara sambil menatap kearah pintu kamar. Mungkin semua ini agak berlebihan. Tapi, Naruto memang orangnya berlebihan. Tangannya terjulur perlahan mendekat ke arah pintu, masih ada rasa was-was yang menyelimutinya. Dengan tekat yang kuat ia mengetuk pintu kamar tersebut dengan perlahan.

Tok tok...

"Oi, Gaara. Apakah kita harus melanjutkan misi kita?" Tanyanya yang masih bersemangat dengan tawa khasnya. Tidak ada sahutan apapun. Sepertinya Gaara masih tidak mau menjawab pertanyaan Naruto. Dan Naruto terus mengulanginya sampai Gaara mau menjawab.

Sepuluh menit kemudian...

"Gaara, Bagaimana dengan misi kita?" ia masih bertahan.

.

.

Tiga puluh menit kemudian...

"Gaara, aku lapar. Bagaimana kita ke kedai ramen saja dan membicarakan misi kita selanjutnya," Dan pemuda ini masih nekat dan terus mengetuk pintu kamar Gaara.

.

.

Satu jam kemudian...

Wajah Naruto yang semangat sudah menjadi wajah yang tak bersemangat lagi. Dengan hidung kembang kempis, Naruto tetap setia menanti jawaban dari Gaara. Tapi, hasilnya tetap nihil. Naruto tak tahan menanti dari tadi. Ia langsung membuka pintu dan mendobraknya dengan perasaan kesalnya.

Alhasil pemuda tersebut langsung melongo "Haaa?" Gubrak! Tidak elitnya Naruto terjungkal ketika melihat Gaara sedang tidur nyenyak di atas ranjang. Jadi , selama satu jam Naruto menunggu menjadi sia-sia, menunggu dengan senang hati jawaban dari Gaara. Tapi, pupuslah sudah semuanya perjuangan Naruto.

Dobrakan pintu tadi, membuat Gaara terbangun dari tidurnya. Siapa sangkah kalau Gaara langsung memarahi Naruto dan langsung menendang pemuda pirang tersebut keluar dari kamarnya. Melemparnya hingga tembok menjadi retak. Dan pemuda berambut pirang tersebut akhirnya terkena imbasnya. Siapa suruh, ia membangunkan Gaara dengan cara senekat itu.

Mata Gaara berkilat "Jika, kau berani menggangguku lagi, nyawamu akan melayang!" ancamnya sambil menutup pintu penuh amarah.

Alhasil, Naruto langsung menciut tak berdaya. Ia bertobat tak mengganggu Gaara lagi. Ya, bertobat sementara sih. Toh, nantinya ia akan mengulanginya lagi di lain waktu.

"Sungguh, kejamnya dirimu," tangisnya meratapi nasib seperti anak tiri. Ia langsung meringkuk ke atas sofa. Dan memejamkan matanya sejenak.

.

.

Waktu memang membutuhkan perjalanan yang lama. Memberantas kejahatanpun juga membutuhkan waktu yang lama. Mustahil jika kejahatan dengan mudah dibasmi begitu saja. Semuanya butuh rencana yang betul-betul matang. Sehingga dapat menghasilkan pekerjaan yang memuaskan. Seolah-olah otak yang menjadi biang kerusakan dan kejahatan saat ini.

"Sakura, Semalam aku tak sengaja mendapatkan ini di bawa bantal Ino." Suara lembut gadis manis berambut panjang tersebut membuat perhatian gadis berambut merah jambu itu teralihkan.

"Kau menemukan apa Hinata?" Gadis berambut indigo tersebut tak menjawab, ia hanya memberikan sesuatu benda yang berwadah mengkilap. Di dalamnya terdapat cairan merah. Sepertinya cairan suntikan untuk membius.

" Baiklah, nanti benda ini segera aku berikan ke Shizune-san untuk di teliti." Kata Sakura. Ia menatap benda mencurigakan itu. 'Dari mana Ino mendapatkan benda ini?' Batinnya.

"Ya! Tapi... Ino sekarang berada di mana?" Tanya Hinata, Sahabat Ino.

Sakura celingukan melihat koridor panjang yang sepi. Ia menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuk sambil menjulurkan lidah. "Eng.." Ia menjeda. Lalu "Ino pasti mencari tempat untuk merileks-kan pikirannya sejenak." Hinata mengangguk mengerti. Sakura hanya tetawa garing lalu ia kembali memperhatikan benda yang di bawahnya.

Sejenak, keheningan menyelimuti keberadaan mereka berdua.

"S-sakura, aku ingin bertanya, boleh?" Tanya Hinata ragu-ragu, Ia menunduk.

Tatapan Sakura beralih ka Hinata, dengan senyum yang ramah ia berkata "Boleh, tanya apa, Hinata?"

Gadis bersurai Indigo itu melirik Sakura dengan tatapan yang sayu. "Menurutmu, siapa yang akan mati di antara kita bertiga?" Sontak Sakura membelalakkan matanya. Wajahnya pucat, ia tak mampu berkata Hinata sudah mengucapkan kalimat sakralnya. Sakura langsung menutup telinganya. Ia tak mau mendengar ucapan gadis manis tersebut. Ia takut, apa yang di ucapkan Hinata menjadi nyata seperti lima tahun yang lalu.

Kejadian di mana menanyakan hal yang sama persis dengan sekarang ini. Tapi, yang di tanyakan Hinata bukan mereka bertiga, melainkan guru mereka. Dan ucapan sakral Hinata menjadi bencana. Dan jangan sampai ke dua kalinya ini bencana itu menghampirinya. Itu sangat mengerikan. Suatu bencana yang tak bisa dilupakan.

"Hentikan!" Sakura berteriak histeris. Ia takut.

Hening. Suasana menjadi senyap lagi. Sakura membuka telinganya. Ia menatap Hinata dengan raut wajah yang marah. "Aku tahu, siapa yang mati tiga bulan mendatang," Ucap Hinata.

"Tidaaaaak!" Sakura berlari, menjauhi Hinata. Ia menangis, mengapa Hinata tega mengucapkan itu, meski hanya sedikit. Jantungnya beregup kencang, nafasnya memburu. Ia harus melupakan kalimat ucapan Hinata tadi.

"Menurutmu, siapa yang akan mati di antara kita bertiga?"

Hinata hanya berdiri mematung di koridor yang sepi itu. Matanya yang bewarna lavender berubah menjadi putih keseluruhan.

To be continue

Haloooooooo saya balik lagi ^^. Ada yang masih ingat dengan fic ini? Hohohoho

Fic ini genrenya masih tak jelassssss, kadang melenceng dari cerita yang sudah di tentukan.

Maaf jika kurang memuaskan hehehe... Maaf sudah lama melantarkan fic ini.. Maaf kalau chap ini agak mengecewakan ya? T,Tv

Yap! Silahkan kritik, saran, flame, concrit dll...

TERIMA KASIH KEPADA:

heartlifhia scarlet fullbaslamande(Ino belum ada tugas xD), (makasih adekku sayong), HoMin 'eL(ini sudah updet xP), Evil Smirk of the Black Swan(Hahaha, terima kasih :*), Chesee-chan(Hohoho, aku juga suka klo Gaara-kun jadi penjahat xD), Nara Kazuki(Hahaha... Gak terlalu kok), el Cierto( Iya, terima kasih atas kritik dan sarannya... Di sini memang ada sedikit funy-nya-mungkin- Xd,), Yamanaka Chika gk login( Hahah iya, Tyoponya kebanyakan ya? xD), Elba Elizabeth( iya, tapi, di chap ini belum ada Gaaino nya, ku usahakan chap selanjutnya ada Gaaino nya deh...^^)

"DG-S"