Berakhirlah Jungkook memutuskan untuk menemui seorang Kim Namjoon seorang diri, meski jauh di dalam hatinya, ia yakin akan di tolak mentah-mentah karena tak memiliki janji dan tak memiliki orang dalam. Salahkan Kim Taehyung yang membuatnya lari-lagi kemarin. Ia takut jantungan lalu mati saat itu juga, jadi lebih baik kabur dan menyelamatkan jantungnya.

Seperti dugaannya, Kim Namjoon tak dapat ia temui saat ini. Langkah kakinya bergerak tak terarah. Terlalu bingung memikirkan deadline yang mepet sementara dana yang terkumpul belum seberapa. Matanya menatap langit, cuaca berawan bahkan sedikit mendung. Jari-jari panjangnya menjambak rambutnya yang semula tertata rapi, memilih menduduki bangku panjang di taman dekat kantor milik Kim Namjoon itu, dan memikirkan rencana lain mencari sponsor.

"Dasar Kakak adik sama saja. Seharusnya aku tak menghawatirkan mereka berdua. Usahaku sia-sia." Jungkook terlonjak kaget saat mendengar suara tiba-tiba di sampingnya. "Awas saja jika Namjoon setelah ini rapat lagi, eh?"

Jungkook mengerjap-ngerjapkan matanya lalu tersenyum kikuk dan mengangguk.

"Eoh, aku tak tau ada orang. Maafkan aku, aku sedang kesal."

"Tak apa-apa ahj-"

"Kim Seokjin, kau siapa anak manis?"

"Ah, namaku Jeon Jungkook." Jungkook membungkuk, memamerkan senyum termanisnya.

"Aigoo kau menggemaskan sekali. Apa yang sedang kau lakukan disini nak? Memang sudah pulang sekolah?"

"Eh, tidak Seokjin-ssi. Aku sudah kuliah."

"Wow. Kau masih terlihat menggemaskan. Bahkan aku mau jika kau menjadi anakku." Dan Jungkook tak tahu harus menjawab apa. "Jadi apa yang kau lakukan disini? Melamar kerja?"

"Tidak Seokjin-ssi. Sebenarnya aku ingin bertemu Tuan Kim Namjoon-"

"Untuk apa?"

"Meminta sponsor hehe." Seokjin mengangguk tiga kali lalu menegakkan badannya memandang lurus ke depan.

"Dia sedang sibuk. Aku datang saja dia tidak ada diruangannya. Kau tau manis, aku memasakkan masakan untuknya dan adiknya, sementara kedua manusia itu bahkan tak bisa kutemui." Entah Jungkook yang memang tak memahami situasi atau otaknya mendadak macet hingga yang ia lakukan hanya terdiam mendengarkan.

"Kau sudah makan?" Jungkook reflek menggeleng bingung.

"Bagus. Bagaiamana kalau kau makan makananku? Aku jamin kau menyukainya." Seokjin berkata riang.

"Eh?"

Binar mata bahagia itu terpancar jelas di mata Seokjin saat lelaki manis tersebut memperhatikan bagaiamana lahapnya Jungkook memakan masakannya. Anak itu terlihat begitu menggemaskan, Seokjin ingin membawanya pulang.

"Datanglah ke rumahku. Lalu kau akan bertemu Namjoon." Ucapnya dengan senyum terkembang manis di wajahnya.

"Ne?"

.

.

.

Taehyung menyipitkan kedua matanya, menarik Jimin yang masih terus berjalan mengemut permen yang ia dapatkan dari salah satu mahasiswi yang tentu tak mereka kenal. Jimin segera berbalik, memandang bingung Taehyung yang kini membungkukan badan dengan mata terus menyipit.

"Kau kenapa eoh? Ayan?"

"Bodoh." Geplakan satu losos begitu saja. "Aku seperti kenal mobil dan manusia yang bersandar itu." Jimin kembali memutar tubuhnya, mengikuti gerak Taehyung membungkuk dan menyipitkan mata.

"Aku juga sepertinya kenal." Suara gesekan angin dan giginya terdengar. "Eksistensinya menarik banyak mata wanita disini."

"Benar, sudahlah biarkan saja. Toh hanya mirip Namjoon Hyung." Taehyung maju selangkah, namun kemudian terhenti mengingat kalimatnya sendiri. "Namjoon Hyung?" ucapnya dengan kaget.

"Hyung." Teriaknya sembari berlari di susul Jimin.

"Oh?" Namjoon melepas kacamata hitamnya, lalu memandang Taehyung dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Hyung sedang apa disini? Hais, kau membuat semua orang melihatmu terus. Astaga, jangan membuatku malu. Aku tak perlu di jemput aku bersama bantet ini." Jimin mengangguk semangat lalu detik selanjutnya menjitak kepala Taehyung adalah kewajiban.

"Hyung, kau, err tumben kau mau menjemput Taehyung?" Jimin ikut menimpali.

"Bodoh, siapa yang mau menjemputmu bocah? Kalau aku mau menjemputmu, mana mungkin aku mau menunggu lama disini. Pasti aku sudah menghubungimu."

"Lalu?" Namjoon menghela nafas lelahnya.

"Aku menunggu seseorang. Perintah Ratu." Jimin Taehyung saling memandang bingung.

"Eh, Jeon Jungkook-ssi , disini." Namjoon melambaikan tangannya saat menemukan seseorang yang ia cari. Seulas senyum lega terpatri di wajahnya.

"Ju-jungkook?" Taehyung memundurkan badannya lalu memandangi Jungkook yang kini berjalan kecil dan menunduk menuju ke arahnya tepatnya ke arah Namjoon.

"Annyeonghaseyo Namjoon-ssi. Saya Jeon Jungkook."

"Tidak perlu seformal itu. Nah, ayo Jungkook-ssi, Seokjin sudah menunggumu." Dan yang Jungkook lihat adalah wajah blank Taehyung yang begitu lucu, susah payah ia menahan tawanya.

.

.

.

"Bagaimana kau menyukainya?" Jungkook mengangguk semangat lalu menelan kembali steaknya. "Baguslah, makan yang banyak Jungkookie."

"Jungkookie?" Taehyung membeo.

"Apa kenapa?" Seokjin mengangkat dagunya.

"Memang kalian sedekat apa?"

"Kami memang dekat. Sering bertukar pesan, iyakan Jungkookie?" Kali ini Jungkook mengangguk kikuk, sedikit melirik Taehyung. Tak menyangka, akan makan malam bersama sang pujaan dan keluarganya, ini sama sekali tak ada dalam khayalannya.

"Eii, kau tak pernah masak semewah ini untukku Hyung."

"Untuk apa aku harus memasak mewah untuk bocah nakal sepertimu ha? Ah ya, Jungkook, apa kau mengenal Taehyung di kampus?"

"A-aku-"

"Mereka saling kenal." Jawab Jimin cepat.

"Benarkah-?"

"Ya, lewat bahasa kalbu maksudku."

"Hah aku tak mengerti."

"Kau tak perlu mengerti Hyung."

"Jangan seperti Namjoon penuh teka-teki Jimin." Seokjin melirik tajam ke arah Namjoon yang sedari tadi diam. "Ah ya suamiku. Bagaiamana dengan sponsornya, kau menyetujuinya?" Jungkook segera menegakkan badannya. Dadanya berdetak cepat. Disisi lain Namjoon mendengar ucapan manis isterinya namun terselip rasa penuh akan otoritas yang kuat, bahkan Taehyung yang sedari tadi diam hanya menundukkan kepala.

"Te-tentu sayan. Aku menyutujuinya Jungkook. Aku akan menandatangi proposalnya malam ini." Dan Taehyung sukses di buat takjub dengan Jungkook yang bergerak riang. Membuat pemuda itu tambah menggemaskan.

"Hapus air liurmu Kim Taehyung." Bisik Jimin lalu kembali menegakkan badannya.

.

.

"Aku akan mengantarmu." Debaran jantung Jungkook bertambah kencang saat Taehyung mengucapkannya dengan suara beratnya.

"A-aniyo sunbae. Aku bisa pulang sendiri."

"Aku tak akan membiarkanmu menjadi santapan manusia liar disana. Ini sudah malam."

"Wah Taehyungku pandai merayu. Apa kau sering dirayu olehnya Jungkook? Aku percaya bakat merayunya turun dariku." Ucap Namjoon pongah.

"Jangankan merayu Hyung, menciu-" Detik berikutnya Taehyung menerjang Jimin lalu menutup bibir sialan itu.

"Memilih bunuh diri, atau ku habisi?" desisnya.

"Ayo Jungkook. Besok kau harus kuliahkan."

"Selamat malam Jungkookie. Datanglah lagi kesini."

Setelah pelukan panjang dari Seokjin akhirnya Jungkook dapat melangkah keluar. Suasana mendadak semakin canggung saat mereka kini duduk bersebelahan di mobil.

"Dimana rumahmu Jungkook?"

"A-akan kutunjukkan saat kita berjalan."

Lalu hening lagi.

"Em, mau mampir sebentar. Ada yang ingin kubicarakan?"

Entah apa yang menuntun Taehyung, mereka berakhir duduk di sebuah taman, dengan secup kopi panas.

"Err, bagaiamana aku memulainya." Gumam Taehyung melirik Jungkook yang kini tengah memandangi suasana taman yang lumayan rame, mengingat ada festival tak jauh dari taman.

"Jungkook?"

"Ya?" Jawabnya cepat.

"Begini." Taehyung menegakkan badannya, menggaruk kasar cup kopinya lalu memandang Jungkook ragu. "Maafkan aku, maafkan semua perlakuanku. Kau pasti memandangku buruk kan? Sungguh, aku tidak bermaksud. Semua itu ada alasannya."

"Tak apa Sunbae, aku tidak berpikir buruk tentangmu." Taehyung berani sumpah, Jungkook, dan sinar malam beserta senyumnya adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.

"Hyung, aku ingin kau memanggilku Hyung."

"Em Taehyung Hyung?" Merdu, Taehyung menyukainya. Senyum kotaknya tercipta begitu saja.

"Aku menyukaimu Jungkook. Bahkan saat pertama kali aku melihatmu. Hingga aku menciummu, semua karena aku menyukai Jungkook. Aku mencintaimu." Entah bisikan darimana karena saat Taehyung melihat bola mata segelap langit malam itu, semua mengalir begitu, pernyataan cintanya dan tangannya yang tiba-tiba terulur untuk menyentuh pelipis Jungkook, Taehyung bahkan tak menyadarinya. "Aku bersungguh-sungguh mencintaimu."

Jungkook sukses membeku. Saat Taehyung menatapnya dalam, Jungkook nyaris mati.

.

.

.

"Hyung ku beri satu rahasia." Seokjin mengalihkan pandangannya dari drama malamnya kini menatap Jimin.

"Apa?"

"Jungkook-mu itu.." Seokjin menyipitkan matanya, memasang telinga baik-baik. "Dialah orang yang Taehyung cium secara tiba-tiba itu."

"Sialan, suruh pulang anak itu!" Jimin sukses tertawa, membayangkan amukan Seokjin pada sahabat tercintanya, akan menjadi pertunjukkan sebelum tidur yang menyenangkan.

.

.

.

,

,

Ne kamsahamnida :)