yea, di tengah tengah ujian nasional, akhirnya chapter 3 selesai juga
hehe agak gaje di sini soalnya konsentrasinya kebagi #curcol (wo kga ada yang nanya)
yaudah, baca aja chapter 3 ini, hope you like it! :D
CHAPTER 3
Disclaimer: J.K. Rowling
Pairing: Draco Malfoy/Hermione Granger
Rating: T
Genre: Friendship/Romance
DON'T LIKE DON'T READ :)
Gossip soal duel Harry dan Hermione rupanya sudah menyebar ke seantero sekolah. Fans Harry memandang benci Hermione. Namun, untung saja Draco langsung memotong poin mereka yang berkelakuan kurang menyenangkan.
Gara-gara sikap protektif Draco, malah muncul gossip lagi kalau Draco menyukai Hermione. Draco menjadi mudah marah sedangkan Hermione memilih diam dan tidak berkomentar apapun kalau Draco sedang marah-marah.
Pesta dansa yang akan diadakan beberapa hari lagi sudah tersebar luas karena Draco sudah mengumumkannya saat makan malam. Walau masih kesal, Draco terpaksa melakukannya. Walaupun ada beberapa anak kelas 5 yang meledeknya akan menembak Hermione saat pesta dansa. Langsung saja Draco memotong banyak poin mereka. Mereka langsung tak berkutik.
"Sampai kapan Hogwarts akan berhenti menjadi biang gossip?" dengus Draco pada suatu malam setelah masuk ke ruangan Ketua Murid.
Hermione hanya mengangkat bahu dan terus membaca. Dia sudah capek untuk mendengar keluhan dan emosi Draco yang meledak-ledak. Kalau menjawab, mereka malah berdebat seru sehingga Hermione memilih diam.
"Dan kenapa kau menjadi lebih pendiam? Aku heran setelah kejadian malam itu, kau tak banyak bicara!" omel Draco lagi. Hermione tetap diam tak menghiraukan sedikitpun ocehan Draco.
"Sudahlah, cepat tua aku kalau berbicara tapi tak ditanggapi seperti ini. Good night, Hermione." kata Draco lalu menghilang dari balik pintu kamarnya.
Hermione duduk di sofanya dan menutup bukunya. Dia tiba-tiba menangis walaupun tangisnya ditahan. Dia bergumam tak jelas. Draco mendengar isakan Hermione lalu mengintip dari balik pintu kamarnya.
"Seharusnya aku tidak mencintaimu, Potter!" geram Hermione disela tangisnya. Jantung Draco mencelos mendengar kata-kata Hermione itu.
Draco merasa seperti ada sesuatu yang jatuh tepat di kepalanya. Dia merasa mual. Tapi ditahannya karena tidak mau Hermione mengetahuinya. Mukanya merona merah dan badannya panas dingin. Dia ingin berteriak. 'Kenapa aku harus mendengarnya? Kenapa aku harus mengintipnya! Kau bodoh, Draco!' batin Draco sambil menjambak rambutnya.
Akhirnya, Hermione ke kamar mandi dan mencuci mukanya yang penuh air mata. Dia lalu naik ke tangga dan Draco buru-buru menutup pintunya saat dilihatnya Hermione sudah ada di puncak tangga. Hermione memandang pintu kamar Draco sekilas lalu bergumam.
"Terima kasih, kau memang sahabat baikku, Drake. Aku tak menyangka kau akan berubah drastis seperti itu. Thanks, Draco. Thanks." bisik Hermione sebelum menutup pintu kamarnya.
OoooooooO
"Hermione, bangunlah. Matahari sudah tinggi. Aku buatkan sarapan untukmu!" kata Draco sambil mengetuk pintu kamarnya. Draco masih merasa aneh dengan perasaannya tadi malam. Dia berusaha sehangat mungkin terhadap Hermione pagi itu. Menyimpan semua amarahnya yang masih tersisa.
Hermione bangun lalu melihat ke arah jam dindingnya dan dilihatnya pukul setengah tujuh. Hermione terbelalak dan cepat-cepat bangun. Membuka pintu kamarnya dan mendapati Draco masih ada di depan pintu kamarnya. Dandanannya rapi, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang berantakan terkesan bukan seorang Malfoy.
"Kau rapi sekali? Padahal, kemarin-kemarin kau berlagak seperti Harry?" tanya Hermione sambil mengucek matanya yang agak sembap gara-gara tadi malam menangis sampai tengah malam. Draco nyengir.
"Orang tuaku baru mengirim burung hantu tadi pagi-pagi sekali dan berkata akan berkunjung menggunakan jaringan Floo. Gila! Pukul 5 pagi mereka sudah mengirimiku surat! Terpaksa aku bangun." kata Draco sambil mengajak Hermione turun ke bawah dengan isyarat.
"Oh iya! Ada paket untukmu. Ada di bawah. Sepertinya dari orang tuamu." kata Draco sambil tersenyum dan nadanya hangat. Tidak seperti tadi malam yang dingin dan penuh emosi. Hermione memandangnya heran. Dilihatnya Draco malah cengar-cengir.
Draco mengambilkan roti panggang, telur dadar dan segelas susu untuk Hermione dalam nampan. 'Benar-benar Draco yang aneh!' batin Hermione saat melihat Draco membawa nampan sambil cengar-cengir. Hermione hanya berterima kasih dan tidak berkata apa-apa lagi.
Selesai makan, dia membuka bungkusan berwarna ungu muda itu. Dia membukanya dan menemukan gaun yang sangat indah. Berwarna ungu sama seperti bungkusnya dihiasi dengan pita yang ada di bagian pinggang. Pitanya berwarna semu pink. Rasa herannya terhadap Draco hilang seketika saat melihat gaun itu. Saat meminta pendapat Draco, dia hanya mengacungkan dua jempolnya. Hermione tersenyum.
5 menit kemudian, orang tua Draco datang dengan jaringan Floo. Api hijau berkobar dan orang tua Draco keluar dari perapian. Ibu Draco-Narcissa- yang masih terlihat sangat cantik itu membawa jubah pesta. Sepertinya itu diberikan untuk Draco. Dia juga membawa kotak berukuran sedang.
Draco mengangkat alisnya. Tidak biasanya ibunya mau membawa barang-barang dengan tangannya sendiri. Tapi Draco cuek saja dan menyalami orang tuanya.
"Pagi, Miss Granger." sapa Narcissa sambil mencium pipinya.
"Pagi, Mrs Malfoy." jawab Hermione dengan penuh rasa hormat. Narcissa tersenyum.
"Cukup Aunt Cissy," kata Narcissa ramah dan tersenyum.
Pemandangan yang langka sebelumnya jika Harry tidak menyelamatkan Draco di Kamar Kebutuhan dan membunuh Voldemort.
Hermione mempersilahkan pasangan Malfoy senior itu duduk di sofa tempat biasa Ron tidur jika mereka sedang berkumpul bersama.
Lucius menarik nafas panjang lalu berkata,
"Draco, kami memiliki sesuatu untukmu. Kami tidak bisa mengirimkan lewat burung hantu karena ini terlalu berharga bagi kami." kata Lucius sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah itu dari kantongnya dan memberikannya kepada Draco. Draco mengangkat alis dan menerimanya dengan heran.
"Dan ini, Miss Granger, ada sesuatu untukmu. Pakailah saat pesta dansa. Kau akan pergi dengan anak kami, kan?" tanya Narcissa seraya memberikan kotak berukuran sedang itu untuk Hermione. Hermione menerimanya sambil mengangguk ragu.
"Ini apa, Dad?" tanya Draco. Tapi, Lucius memberi isyarat untuk diam dengan tenang.
Mereka pamit dan masuk ke perapian lagi. Api hijau berkobar lagi dan mereka hilang seketika. Draco masih bengong sambil memegangi kotak merah itu. Hermione berseru saat membuka kotak yang tadi diberikan Narcissa.
"Wow, Draco! Aku harus berbuat apa kepada orang tuamu? Lihatlah ini, sepasang sepatu dan kalung bertahtakan berlian! Kenapa bisa pas dengan gaunku yang berwarna ungu ini, ya? Apa ini tidak berlebihan, Drake? Kita hanya pesta biasa!" kata Hermione sambil memperlihatkan isi kotak yang diberikan Narcissa itu. Draco terbengong.
Ya, Narcissa memberinya sebuah kalung bertahtakan berlian dan sepasang sepatu high heels berwarna ungu. Hermione takjub melihat sepatu yang begitu indah. Berwarna ungu gelap dan ada berliannya juga. Hermione menjadi sayang kalau itu akan dikenakannya saat pesta.
Draco terbengong. Dia membayangkan kalau saat pesta dansa nanti, dia menggandeng Hermione. Hermione yang menggunakan gaun ungu dan kalung serta sepatu yang diberikan ibunya. Pasti dia terlihat sangat cantik. Draco sampai hampir meneteskan liurnya. Tapi dia buru-buru sadar karena Hermione terlonjak saat melihat jamnya.
"15 menit lagi kelas dimulai dan aku belum mandi!" seru Hermione. Draco kesal karena angan-angannya tadi menjadi kabur. Hermione langsung menyambar handuk dan seragamnya yang tadi diambilnya dengan mantra pemanggil. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Draco terduduk santai di sofa berlengan miliknya.
10 menit kemudian, Hermione keluar dari kamar mandi. Dia sudah lengkap menggunakan jubahnya yang kini berlapis 5 karena salju sedang gencar-gencarnya menampakkan dirinya.
"Kau santai sekali? Kau tidak ada kelas?" tanya Hermione sambil menyisir rambutnya. Dia memilih berdandan di bawah daripada di kamarnya karena menurutnya hanya membuang-buang waktu.
Draco takjub karena dia jarang sekali melihat wanita berdandan hanya dalam waktu 10 menit. Dia terbengong agak lama sampai dia tersadar.
"Tidak. Aku tidak mengambil Rune Kuno. Gryffindor dan Slytherin yang bersama hari ini jadwalnya Rune Kuno, Astronomi, dan Mantra kan?" tanya Draco sambil menggigit apelnya. Hermione memutar bola matanya lalu menyambar tasnya.
"Baiklah. Sampai bertemu di pelajaran Astronomi kalau begitu. Kau mengambilnya juga, kan?" tanya Hermione. Draco mengangguk dan Hermione sudah melesat menuju lukisan ksatria itu.
Draco geleng-geleng melihat sikap sahabat barunya itu.
OoooooooO
Draco berjalan sendirian di koridor-koridor untuk menghabiskan waktunya. Sekalian patroli, pikirnya. Walaupun ini masih pagi. Dia berjalan asal saja, sampai dia tiba di lantai 7 dan menemukan sebuah koridor yang sudah tidak asing untuknya. Ya, koridor menuju Kamar Kebutuhan.
Dia berjalan terus. Sepi sekali, pikirnya. Hanya suara langkahnya yang terdengar. Namun, setelah beberapa saat, dia mendengar ada hal yang aneh. Dia langsung berjalan ke sumber suara dan melihat ada mistletoe di situ.
"Aha! Ronald Weasley dan Pansy Parkinson! Wow wow wow! Pemandangan menarik!" goda Draco. Ron dan Pansy yang sedang asik berciuman itu buru-buru melepaskan dirinya dari kekasihnya. Draco masih terbahak-bahak tak menghiraukan muka Pansy dan Ron yang sudah merah padam.
"Sudahlah, Draco. Lagian, kau seperti tidak ada kerjaan lain saja. Mengganggu tahu! Mistletoe sudah bergelantungan! Kau sedang apa di koridor kosong seperti ini? Sendirian. Tidak ada misi Pelahap Maut lagi, kan?" tanya Ron asal. Draco melotot dan kini gantian Ron dan Pansy yang tertawa.
"Tentu saja, tidak! Aku menghabiskan waktu. Daripada bosan, mending aku jalan-jalan saja. Hermione sedang pelajaran Rune Kuno. Jadi aku sendirian. Eh, malah bertemu kalian di sini." kata Draco sambil menahan tawanya. Ron dan Pansy kompak membentuk mulutnya menjadi huruf O besar.
"Kau tidak mengambil Astronomi, Ron?" tanya Draco kemudian. Ron menggeleng dan menjawab, "Aku mengambil pelajaran yang sama dengan Harry." jawab Ron. Draco merasa sedikit lega karena nanti dia tidak akan bertemu dengan orang yang sudah membuat Hermione menangis.
Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk berjalan bersama. Sampai akhirnya, terdengar bell berbunyi dan Draco pamit untuk pelajaran Astronomi. Ron dan Pansy melanjutkan aktivitas mereka.
Draco berjalan menuju ke kelas Astronomi. Di jalan, dia bertemu Harry. Wajahnya kusut. Seperti tidak ada yang membuatnya tertawa semenjak kejadian duel itu. Draco menyapanya tetapi Harry hanya menoleh lalu mengangguk tanpa tersenyum.
Draco heran dengan sikap Harry. Tapi dibiarkannya saja sikap Harry itu. Dia tidak mau ambil pusing dengan Harry saat ini.
Akhirnya, dia sampai di kelas Astronomi. Hermione melambai ke arahnya dan Draco tersenyum. Entah mengapa dia sangat senang melihat lambaian tangan Hermione ini. Dia merasa ada yang aneh dengan perasaannya.
Draco menceritakan tentang Ron dan Pansy. Hermione hanya berkata, "Kau ini iseng sekali. Kalau kau yang begitu, kau mau?" tanya Hermione setengah tertawa. Draco hanya nyengir lebar.
Pelajaran Astronomi kali ini sangat membosankan. Draco hampir tertidur. Tetapi, kali ini dia duduk dengan Hermione sehingga dia harus terjaga karena berulang kali Hermione menyenggolnya atau memukul punggungnya dengan buku.
Setelah bel berbunyi, Draco bersyukur sekali karena pelajaran itu selesai juga. Dia menggandeng Hermione untuk makan siang di Aula Besar. Mereka berjalan di koridor sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
Tiba-tiba, ada mistletoe yang menjebak mereka berdua. Hermione panik dan Draco emosi karena mendengar kepanikan Hermione. Akhirnya, Draco telah memutuskan sesuatu.
Draco memegang pinggang Hermione. Awalnya, Hermione kaget dan mau berontak. Tapi omelan-omelan Hermione langsung ditutup dengan ciuman Draco. Hermione tambah kaget dengan sikap Draco. Hermione berusaha berontak tetapi ciuman Draco sangat kuat. Dilihatnya Draco menutup matanya pertanda dia sangat menikmati ciuman ini.
Akhirnya, Hermione membalas ciuman Draco. Tidak kalah kuat dengan Draco. Tas nya dijatuhkannya dan tangannya melingkar di leher Draco. Mereka berciuman sangat lama. Mungkin ada setengah jam lebih.
Tiba-tiba mereka melepaskan cengkraman masing-masing karena kebutuhan oksigen yang mendesak. Pipi Hermione sangat merah dan jantungnya berdegup kencang. Wajah gugup terlihat sekali di wajah Draco. Dia tidak tahu apakah ini benar atau salah.
Draco buru-buru merapikan semuanya dan berjalan setelah mistletoe itu bubar. Hermione mengekor di belakangnya. Mukanya masih sangat merah. Untung saja tidak ada orang lewat saat itu. Kalau ada, gossip itu akan bertambah panas!
Mereka tiba di Aula Besar dan duduk di meja asrama masing-masing. Draco dan Hermione mengunci mulut mereka setelah ciuman itu. Ron mengajaknya duduk bersamanya dan Pansy.
"Di mana, Harry?" tanya Hermione. Ron menunjuk meja Ravenclaw dengan dagunya. Dan dilihatnya Harry sedang bermesraan dengan kekasihnya. Hermione memutar matanya, 'Well, aku akan melupakannya.' Batin Hermione.
"Hei, bagaimana rencana pesta dansamu? Kau akan pergi dengan Draco?" tanya Ron sambil melahap sup nya. Hermione mengangguk tanpa eskpresi.
"Kau pasti dengan Pansy. Ya, kan?" tanya Hermione berusaha setenang mungkin. Ron dan Pansy mengangguk bersamaan. Mereka saling rangkul satu sama lain. Hermione yang di depannya malah melihat pemandangan Draco sedang bercanda dengan Blaise dan Theo.
'Oh, Merlin! Aku baru saja menciumnya!' batin Hermione. Selama Hermione bengong, Ron dan Pansy mengamatinya. Pansy mengikuti arah mata Hermione dan menemukan seorang Draco sedang tertawa terpingkal-pingkal bersama Blaise dan Theo.
Pansy tersenyum penuh misteri. Begitu juga dengan Ron membuat Hermione penasaran.
"Senyum kalian mencurigakan!" kata Hermione sambil memakan apel nya. Ron dan Pansy tidak menghiraukannya. Mereka tetap saja tersenyum lebar penuh tanda tanya. Hermione jengkel lalu menghabiskan apelnya sekejap.
"Baiklah, aku ke perpustakaan. Kita ketemu di pelajaran Mantra kalau begitu?" kata Hermione. Ron dan Pansy mengangguk lalu membiarkan Hermione pergi dengan tasnya yang penuh dengan buku.
OoooooooO
Selama pelajaran Mantra, Harry dan Ron diam saja. Tidak seperti biasanya yang usil menggoda Seamus. Walaupun Seamus sudah mahir dalam memainkan tongkatnya. Namun, ada seseorang yang mengamati Hermione. Draco.
Dia masih meneruskan angan-angannya tadi pagi saat Hermione bertanya soal hadiah dari ibunya itu. Dia juga masih bertanya-tanya soal, apa yang diberikan ayahnya, mengapa ibunya memberikan barang-barang mahal itu, dan semuanya nampak aneh!
Selesai pelajaran Mantra, Slytherin ada jadwal Herbology sedangkan Gryffindor Pemeliharaan Satwa Gaib. Ron, Harry dan Hermione tidak mengambil pelajaran itu. Mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang rekreasi Gryffindor. Tetapi, Harry menghindar dan lebih memilih untuk ke hutan terlarang.
Ron diam saja mendengar keputusan Harry. Dia lebih memilih mengobrol seru dengan Hermione. Mereka bermain dengan Ginny yang tidak ikut pelajaran Sejarah Sihir sedangkan Lavender yang juga tidak mengambil Pemeliharaan Satwa Gaib.
Mereka mengobrol seru soal pesta dansa. Ron lebih baik tidur. Ginny yang sudah berencana untuk pergi dengan Dean bercerita sampai berseri-seri. Sedangkan Lavender pergi dengan Seamus. Parvati-kata Lavender-pergi dengan Neville. Walaupun Neville mengajak Hannah Abbot tetapi, Hannah sudah pergi dengan Ernie duluan.
"Kau pergi dengan Draco kan, Hermione?" tanya Ginny. Hermione mengangguk tanpa ekspresi. Kedua wanita itu langsung bersorak melihat ekspresi Hermione. Tapi tak tahu apa jawaban Draco kalau ditanyai hal yang sama.
Sedangkan Draco...
"Hai, Draco! Bagaimana rencana pesta dansamu?" tanya Blaise di sela-sela mengurus tumbuhannya saat pelajaran Herbology.
"Aku akan pergi dengan Granger, tentu. Kita Ketua Murid!" jawab Draco bangga. Blaise dan Theo memancarkan senyum misterius. Sama seperti senyum Ron dan Pansy membuat Draco terheran-heran.
"Kau akan pergi dengan siapa, Blaise?" tanya Draco sambil memakan apelnya-entah darimana dia mengambilnya.
"Daphne Greengrass." jawab Blaise ogah-ogahan. Sepertinya dia terpaksa mengajak Daphne. Ya, walaupun perang berakhir, dia tetap saja dingin dengan anak laki-laki seperti Blaise maupun Theo. Tapi, bukan masalah.
"Kau?" tanya Draco memalingkan mukanya kepada Theo. Theo melirik ke anak Ravenclaw yang berwajah Asia. Cho Chang-saat itu jadwal Slytherin dan Ravenclaw bersama.
"Hah? Bagaimana bisa kau mengajak mantan Harry Potter itu?" Draco terbelalak melihat jawaban Theo. Theo cengar-cengir bangga. Cho memang cantik. Anak Ravenclaw memang kebanyakan cantik-cantik. 'Tapi Hermione pasti akan menjadi paling cantik seperti saat tahun 4!' batin Draco dalam hati sambil senyum-senyum.
Di ruang rekreasi Gryffindor...
"Kita tunggu kejutan darimu, Hermione. Kami sangat mengharapkan ini terjadi!" kata Lavender sambil menawarkan permen Bertie Botts.
"Kejutan dariku? Apa maksud kalian?" tanya Hermione sambil mengunyah permennya. Rasa cabai membuat muka Hermione langsung memerah.
"Ya, kau jadian dengan Draco. Jadi penasarannya anak Gryffindor sudah terbuang jauh-jauh. Bahkan anak seperti Neville pun mengharapkannya!" kata Ginny agak geli. Hermione yang masih kepedasan itu terbelalak, karena permennya juga karena Ginny.
Mengetahui Hermione kepedasan, Lavender mengambil sebuah piala dengan tongkatnya dan menyihirnya sehingga piala itu penuh berisi air.
"Aguamenti," kata Lavender dan menyodorkan piala itu untuk Hermione. Hermione meminumnya dengan sekali teguk.
"Jangan gila! Kami selalu bersama hanya karena tugas. Dan itu tidak akan pernah terjadi! Aku Gryffindor dan aku penyihir kelahiran muggle. Bukan kriteria seorang Malfoy!" bantah Hermione. Kini memakan permen dengan rasa mint.
"Semenjak perang berakhir, semua berbaur menjadi satu, Hermione. Kau tahu, anak Slytherin bernama Gregory Goyle, sahabat Draco yang tambun sekarang berpacaran dengan siapa? Anak Hufflepuff. Dia muggle. Tapi aku kurang tahu namanya siapa." kata Lavender dengan jurus sejuta gossipnya. Hermione bengong.
'Bisa saja sih. Aku juga tak tahu setiap di sebelah Malfoy aku merasa nyaman.' Batin Hermione.
"Sudahlah Hermione. Intinya, kami tetap menunggu kejutan darimu!" kata Ginny ngeyel. Hermione hanya memberikan muka tanpa ekspresinya sedangkan Lavender tersenyum mendukung perkataan Ginny.
Hermione pamit untuk kembali ke ruang Ketua Muridnya. Dia mau mandi sekaligus mengerjakan essay Mantra yang harus dibuat sepanjang 2 meter. Hermione sudah siap dengan bahan-bahannya. Jadi dia santai tinggal menyalin dari buku dan semua beres.
Dia berjalan menuju ruang Ketua Muridnya sendirian. Dia bertemu anak Slytherin kelas 6 sedang bermain produk Sihir Sakti Weasley. Hermione buru-buru menegurnya dan mengurangi poinnya 10.
Hermione berjalan damai menuju ruang Ketua Muridnya. Di dalam, sudah ada Draco dengan pakaian penuh tanah. Dasinya sudah tidak pada tempatnya dan kemejanya keluar-keluar. Sepertinya tugasnya sangat berat sehingga membuat Draco yang semula bak seorang pangeran mendadak seperti pesuruh.
"Hai, Drake." Sapa Hermione. Draco memalingkan wajahnya dari prophet nya dan tersenyum. Dan menjawabnya, "Hello, Mione." kata Draco.
Hermione langsung naik ke kamarnya dan membawa baju muggle nya ke kamar mandi. Dia mandi cukup lama. Tidak seperti tadi pagi yang 10 menit beres. Sekarang dia sengaja berlama-lama agar mengerjakan essay nya bisa sangat fresh.
Selesai mandi, Hermione ke pantry dan mengambil cokelat panas. Maklum, hawanya lagi sangat dingin. Salju di luar juga sangat tebal sehingga membuat mereka tiap hari berhangat-hangat.
Setelah mengambil cokelat panas, dia mempersiapkan alat tulisnya untuk membuat essay sepanjang 2 meter. Hermione mulai menulisnya dan Draco melihatnya heran.
"Sedang apa kau?" tanya Draco sambil melangkah ke samping Hermione yang sibuk menulis.
"Tugas. Kau tahu kan ada tugas Mantra? Dikumpulkan sebelum libur natal! Nah, libur natal itu tinggal 3 hari lagi. Besok ada pesta dansa. Jadi, tidak ada waktu lagi untuk mengerjakannya!" kata Hermione. Draco berpikir. Benar juga yang dikatakan Hermione.
Draco lalu mengambil tasnya yang dia letakkan sembarangan di sofa dan mengambil alat tulisnya juga. Dia mengambil buku mantranya dan membacanya sejenak lalu mengeluh.
"Merlin! 2 meter itu kan panjang! Patah tanganku!" seru Draco dengan nada ogah-ogahan. Hermione melotot.
"Aku bahkan sudah berencana membuat lebih dari 2 meter!" seru Hermione. Draco terbelalak mendengar jawaban Hermione.
"Bagaimana kalau kita berbagi buku. Bukumu kita gunakan bersama. Bagaimana?" tanya Draco. Hermione yang biasanya ditawari seperti itu oleh Harry dan Ron langsung melotot dan memantrai Harry dan Ron supaya mengerjakan sendiri. Namun sekarang, Hermione malah memperbolehkan Draco meminjam bukunya yang sudah ditandainya mana saja yang mau ditulis.
Draco senang sekali dan tanpa sadar memeluk Hermione dan mengecup keningnya. Hermione kaget dengan sikap Draco. Draco yang sadar langsung melepaskan tubuhnya dari tubuh Hermione.
Setelah kejadian itu, tubuh Draco bergetar hebat. Mukanya merah dan jantungnya berdegup kencang serasa mau copot! Begitu juga dengan Hermione. Mukanya memerah semerah tomat dan tangannya berkeringat.
Draco langsung terdiam dan mulai mengerjakan essay nya. Hermione juga langsung mengerjakan essay nya. Mereka mengerjakan tugas tersebut dalam keadaan diam. Sampai akhirnya, 2 jam kemudian, Draco berseru.
"Akhirnya! 2 meter selesai juga dengan tulisan dibuat besar-besar! Pasti akan dapat nilai E! Aku tidak muluk-muluk untuk mendapat O!" seru Draco kemudian. Hermione meliriknya. Dan benar saja. Punya Draco hanya garis besarnya saja yang dipanjang-panjangkan kalimatnya. Tulisannya pun besar-besar.
Sedangkan punya Hermione yang sudah 2 meter lebih terlihat rapi, rinci dan tulisannya kecil-kecil. Khas Hermione sekali. Draco nyengir. Tapi setelah itu, dia jadi teringat kejadian mistletoe tadi.
"Er-Hermione, tadi, tadi waktu di koridor saat kita terjebak mistletoe. Aku minta maaf, ya. Aku hilang kendali." kata Draco. Hermione yang sibuk menulis lalu mendongakkan kepalanya melihat ke arah Draco. Hermione tersenyum.
"Tak apa. Kalau tak seperti itu, kita tidak makan siang dan kita tak akan pernah bebas." kata Hermione sambil tertawa. Draco lega mendengar respon dari Hermione.
OoooooooO
Makan malam di Aula Besar terasa begitu ramai. Hermione memutuskan untuk duduk dengan Ginny, Lavender dan Parvati karena dia malas bergabung dengan Ron karena ada Harry di situ. Dia tidak tahu mengapa hubungannya dengan Harry semakin hari semakin buruk.
Harry jadi bertambah dingin. Lebih dingin daripada badai salju yang sedang menerjang Inggris saat itu. Hermione diam saja dengan sikap Harry. Paling, Harry juga akan lelah suatu saat nanti. Hibur Hermione dalam hatinya sendiri.
Walaupun dia masih sangat sedih mengingat kejadian di koridor sepi beberapa hari yang lalu, dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya. Toh sekarang sudah ada Draco yang menemaninya kemanapun dan di mana pun. Dia berusaha untuk memalingkan perhatiannya terlebih dahulu.
Saat itu, Hermione dan Harry bersama-sama beranjak dari meja asrama. Mereka berjalan menuju pintu Aula. Mereka tak sengaja bertabrakan dan Harry langsung tersulut emosinya.
"Di mana matamu, Granger? Kau tak lihat ada aku di depanmu?" tanya Harry dengan nada sangat pedas.
"Oh, mataku ada di sini. Lagian, siapa suruh kau menghalangi jalanku, Potter! Ku kira, minus matamu bertambah! Jangan mentang-mentang kau Pahlawan Perang jadi bisa berkelakuan seenaknya!" seru Hermione pedas.
"Oh, begitu? Maaf saja, tapi mataku baik-baik saja! Rawat matamu untuk melihat orang-orang sekitarmu! Tak hanya kau urus si Pirang Malfoy itu saja. Uruslah tugas Ketua Muridmu! Jangan kau gunakan untuk berdua dengan Malfoy!" jawab Harry setengah berteriak.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Harry. Hermione berkata, "Aku tidak pernah berpikiran serendah itu, Potter! Dan jangan pernah bawa-bawa Draco lagi! Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua!" kata Hermione tertahan dengan nada pedas. Air mata sudah penuh di matanya siap diluncurkan.
Hermione berlari meninggalkan Harry. Ron yang daritadi melihatnya langsung berusaha melerainya. Namun telat, Hermione sudah keburu pergi. Draco yang melihat Hermione berlari langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengejar Hermione tanpa melihat ada Harry dan Ron di pintu.
Ron memasang tampang tak percaya kepada Harry. Harry meninggalkan Ron di depan pintu Aula. Ron tercengang melihat kelakuan Harry. Dia langsung mengejar Harry yang ternyata hanya menuju ke ruang rekreasi Gryffindor.
Ron menahan Harry. Namun Harry terus saja berjalan dan menerobos anak kelas 3 yang sedang asik berkumpul di ruang rekreasi. Harry berlari menuju kamarnya disusul Ron di belakangnya.
Sedangkan Hermione di ruang rekreasi Ketua Murid, sedang menangis sejadi-jadinya di kamar. Dia mengunci pintunya dengan mantra. Draco yang khawatir dengan keadaan Hermione terpaksa menunggunya di depan pintu.
Hermione sudah menyuruhnya pergi dan Draco menurut karena nada Hermione yang sanggup membuat Draco luluh.
Draco mondar-mandir di kamarnya. Apa yang baru saja dikatakan Pothead itu sehingga membuat Hermione menangis tersedu-sedu seperti itu. Pestanya bisa kacau besok kalau hubungan mereka buruk seperti ini.
Draco yakin ini ada hubungannya dengan dirinya. Karena tadi samar-samar dia mendengar Harry meneriakkan marganya. Tapi dia berusaha menepis rasa itu.
Sedangkan di kamar Harry...
"Kau! Aku sungguh tak percaya kau akan berkata sepedas itu padanya!" seru Ron galak. Harry diam saja di tempat tidurnya. Meringkuk seperti orang sakit demam.
"Aku lelah, Weasley!" ujar Harry dingin.
"Kalau kau lelah, masalah ini tidak akan pernah selesai! Kau sudah dewasa! Berpikirlah secara dewasa! Kita bukan anak berumur 11 tahun lagi!" kata Ron setengah berteriak.
"Stop, Weasley! Aku lelah!" kata Harry bertambah dingin.
"BERHENTI MEMANGGIL MARGAKU, POTTER!" teriak Ron tidak sabar dengan sikap Harry. Harry terpatung dalam posisinya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menjawab atau memberikan isyarat melawan. Jadi dia menunggu kata-kata apa lagi yang akan keluar dari mulut Ron.
"Apa kau lupa semua bantuan Hermione kepadamu?" teriak Ron.
"Dia yang memberimu informasi tentang Batu Bertuah! Dia yang memberi tahumu tentang Basilisk walaupun dia saat itu membatu! Dia yang membantumu untuk menyelamatkan Hippogrif Hagrid! Dia yang membantumu menyelamatkan Sirius! Dia yang mendukungmu saat ikut Turnamen Triwizard! Dia yang membantumu saat kita bertengkar! Dia menemanimu ke Godric's Hollow! Dia yang memberi informasi bagaimana untuk menghancurkan Horcrux itu! Dia rela menjadi Bellatrix Lestrange hanya untuk membantumu menemukan Horcrux itu! Dan masih banyak lagi kebaikannya yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata! Hampir semua informasi penting dari misi kita itu dari otak bukunya Hermione! Apa kau tega memperlakukannya seperti tadi, APA KAU TEGA?" teriak Ron berang.
Harry merasa menjadi batu. Seperti baru saja melihat mata Basilisk lewat kaca di depannya. Hatinya sakit mendengar fakta-fakta yang diungkapkan Ron. Semua yang dikatakan Ron benar. 100% benar. Tapi apa sikapnya terhadap Hermione sekarang? Dia bersikap dingin. Menganggap seolah-olah dia tak ada.
Deru nafas Ron yang tersengal-sengal terdengar jelas di telinga Harry. Harry bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di tempat tidurnya memandang salju yang terus turun.
"Tapi dia hampir mengutukku dengan kutukan Cruciatus. Kau tak pernah merasakan kutukan itu, Ron." gumam Harry. Ron semakin emosi mendengar itu.
"DIA SAJA BELUM SELESAI MERAPALKAN MANTRANYA! SEDANGKAN KAU LANGSUNG SAJA MENGELUARKAN SECTUMSEMPRA!" teriak Ron. Ron seperti sudah hilang akal. Ron benar. Hermione belum selesai merapalkan mantranya dan langsung dihalau begitu saja olehnya.
"Draco sudah menceritakan lengkap kepadaku tentang kejadian malam itu. Dan Hermione emosi karena cemoohan bodohmu yang salah!" kata Ron yang kini menjadi dingin sedingin-dinginnya salju.
"Tapi dia marah-marah saat melihatku berciuman dengan Addie!" kini Harry berteriak.
"Jelas! Aku saja marah saat pertama kali mendengarnya! Walaupun saat itu aku langsung mendengarnya dari bibirmu, tapi aku tak mau langsung marah! Kau tega! Jelas saja dia kecewa! DIA MENYUKAIMU, POTTER!" seru Ron.
Kini Harry benar-benar tak dapat bergerak. Dia seperti terkena mantra Ikat-Tubuh-Sempurna. Bibirnya kelu. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Tak dapat berkata apa-apa. Kenyataan yang sangat pahit. Pahit sekali. Dia mendengarnya langsung dari mantan Hermione sendiri.
"B-b-bagaimana, bagaimana kau tahu, Ron?" Harry mulai melunak.
"Jelas aku tahu! Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan Draco dan Hermione akhir-akhir ini setelah sikapmu yang lebih pamer bahwa kau berpacaran dengan perempuan paling cantik di Ravenclaw!" kata Ron pedas. Bibir Harry terkatup rapat.
"Tapi kesempatan itu sudah hilang sekarang. Hermione mencintai Draco. Kau tak dapat mengusiknya. Walaupun Hermione tak berkata langsung, tapi aku bisa melihat sorot matanya. Aku ingat sorot mata Hermione ketika dia masih mencintaiku!" kata Ron sudah mulai hangat walaupun masih ada sedikit nada benci dalam bicaranya.
Harry lagi-lagi terpatung di tempatnya. Dia tak dapat berpikir jernih saat itu juga. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tak mungkin menggedor-gedor lukisan yang menuju ruang rekreasi Ketua Murid malam itu juga.
"Baiklah, semua terserah padamu. Besok pesta dansa, anggap saja masalah malam ini tak ada. Selamat malam, Harry." kata Ron. Ron kelelahan. Terdengar jelas dari nada bicaranya. Dan benar saja, 15 menit kemudian, dengkur Ron yang keras sudah terdengar.
Harry masih melihat salju. Namun pikirannya menerawang jauh. Dia tidak menyangka ternyata selama ini Hermione menyukainya. Badan Harry gemetar hebat setelah memikirkannya kembali.
Harry merasa sangat bersalah karena tuduhan-tuduhannya terhadap Hermione. Dia perempuan, dia sudah pernah disakiti Ron. Tapi seseorang yang menyakitinya selama 6 tahun kini malah dekat sekali dengannya. Draco Malfoy. Pikiran Harry tidak jelas.
Dia tak dapat tidur malam itu. Memikirkan perasaan Hermione juga bagaimana dia kedepannya menghadapi Hermione. Harry mengaku, dia salah.
OoooooooO
Sarapan yang dingin. Harry berjalan gontai menuju Aula Besar. Dia berharap bertemu teman sekamarnya di Aula. Dan benar saja, ada Neville yang sedang duduk bersama Seamus dan Dean juga Ginny. Dia bergabung di antara mereka berempat.
Sedangkan Ron, lebih memilih makan di meja Slytherin bersama Pansy. Ron masih kesal dengan sikap Harry tadi malam. Ron menunggu datangnya Draco. Namun sampai jam sarapan selesai, Draco tak muncul juga.
Hari ini bebas karena Kepala Sekolah mengizinkan untuk persiapan pesta. Ron menunggu Draco dan Hermione karena mereka akan mendekorasi Aula Besar. Ron menunggu di Aula Depan bersama Pansy, Blaise dan Theo.
Setengah jam kemudian, Draco muncul dari ambang pintu. Wajah Ron yang cemas langsung menghampirinya. Pansy yang ikut cemas juga buru-buru menanyakan keadaan Hermione. Namun Draco berkata, "Dia belum keluar kamar. Aku sudah bilang padanya akan kesini. Dan dia hanya menjawab akan menyusulku. Entah benar atau tidak tetapi aku menurut saja." kata Draco. Ron dan Pansy mengangguk-angguk.
"Di mana Harry?" tanya Draco berusaha se rileks mungkin.
"Entah. Mungkin di rumah Hagrid karena tadi aku melihat dia berlari ke arah rumah Hagrid. Sudahlah Draco, kami bantu kau untuk mendekorasi Aula Besar." Kata Ron sambil tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.
Draco tersenyum dan membalas uluran tangan Ron lalu memukul pundak Ron pelan. Blaise, Theo dan Pansy juga tersenyum melihatnya.
Mereka sibuk mendekorasi ruangan. Kira-kira satu jam mereka mendekorasinya. Tiba-tiba, Hermione datang dengan muka sembap. Pansy langsung menghampirinya dan berkata, "Kau tidak apa-apa?" tanya Pansy. Hermione tersenyum dan menggeleng.
"Kami sudah selesai mendekorasi. Kau pergi saja dengan Pansy. Aku akan bersama Ron. Iya kan, Ron?" tanya Draco sambil menyenggol pinggul Ron. Ron bengong lalu mengiyakan.
Blaise dan Theo pamit untuk mencari pasangan dansa mereka nanti malam. Draco menceritakan bahwa Theo akan pergi dengan Cho. Ron terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Draco.
Draco dan Ron berjalan bersama menikmati salju di halaman Hogwarts. Mereka mengobrol tentang masalah tadi malam. Draco merapatkan jaketnya dan sarung tangan bulunya. Ron yang berbadan kekar hanya mengenakan sweater 2 lapis. Berbeda dengan Draco yang perlu berlapis-lapis baju karena badannya yang kecil.
Tiba-tiba, mereka menemukan Harry sedang termenung di dekat pohon Dedalu Perkasa. Harry duduk di dekat tanaman sekitarnya. Dia memainkan jarinya yang ditutupi sarung tangan di atas salju. Draco dan Ron berpandangan lalu sepakat untuk menghampirinya.
"Harry," sapa Draco saat sudah dekat. Harry menoleh dan tersenyum samar saat melihat siapa yang datang.
"Oh, hai Draco, Ron." sapa Harry. Nafasnya terlihat jelas di udara yang sangat dingin itu. Salju menerpa wajahnya sehingga ada gundukan kecil di ujung hidungnya.
"Apa yang kau lakukan? Tak bersiap ke pesta?" tanya Ron sambil duduk di sebelah Harry berusaha sehangat mungkin karena tadi malam baru saja ada perang mulut di antara mereka berdua.
"Memang kita perempuan yang butuh waktu 1 hari penuh untuk berdandan? Cuci muka saja cukup!" kata Harry sambil tertawa. Walaupun tertawanya terdengar berat, namun Draco dan Ron juga ikut tertawa.
"Draco, bagaimana Hermione?" tanya Harry tiba-tiba. Draco terbelalak. Dia berbisik kepada Ron. "Kau apakan Pothead tadi malam?" bisik Draco kepada Ron. Ron nyengir lebar.
"Oh, dia baik-baik saja. Dia sedang bersama Pansy. Entah kemana. Mungkin dandan atau apalah terserah aku tak peduli." kata Draco. Ron memukul pundaknya pelan. Draco terkekeh. Harry menghela nafas panjang.
"Aku mau minta maaf saja padanya." kata Harry. Draco dan Ron terbelalak tapi mereka senang juga.
"Bagus! Bagaimana nanti malam?" usul Ron. Draco melotot.
"Aku akan menembaknya!" kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Draco. Ron dan Harry tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Aaaa, Malfoy. Akhirnya, Gryffindor dan Slytherin bersatu!" seru Ron senang. Harry mengangguk-angguk.
"Oh baiklah, sebelum aku menembaknya, kau berdamai saja dulu. Tapi jangan ada yang bilang kepada siapapun tentang rencanaku ini!" kata Draco dengan nada mengancam. Harry dan Ron mengangguk. Mereka masih tak percaya bahwa Draco benar-benar akan menembak Hermione. Pasti akan menjadi sejarah hebat di dunia sihir!
Satu jam mereka duduk-duduk di atas salju seperti itu. Salju yang turun juga semakin lebat. Mereka memutuskan untuk kembali ke kastil dan duduk di Aula Besar. Harry seperti sudah lupa dengan masalahnya tadi malam.
Dia senang bahwa Ron sudah tidak sedingin tadi malam. 'Cepat sekali Ron berubah! Ah, biarkan. Yang penting nanti malam aku berdamai dengan Mione!' batin Harry sambil senyum-senyum. Tapi, baru saja mereka sampai di depan pintu Aula, Addriana sudah menghampiri Harry.
"Harry," panggil Addriana. Harry menoleh lalu tersenyum.
"Sudah minta jatah, rupanya." Kata Draco sambil nyengir. Ron terkekeh mendengar kata-kata Draco. Addriana nyengir dan Harry tertawa.
"Biar hangat." kata Harry. Addie langsung memukul pundak Harry lembut. Harry nyengir. Tanpa babibu lagi, Harry meninggalkan Draco dan Ron bersama Addie. Ron dan Draco bingung mau berbuat apa.
"Apa yang dilakukan para wanita itu? Ini masih siang dan waktu dansa masih sangat lama! Tak perlu dandan heboh. Toh mereka juga sudah cantik." omel Ron. Draco mengangguk-angguk.
"Ya, Hermione memang cantik." gumam Draco. Ron melirik lalu tertawa. Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita. Ron menceritakan petualangannya bersama Harry dan Hermione saat mencari Horcrux. Draco juga menceritakan bagaimana menyebalkannya menjadi Pelahap Maut.
"Menyebalkan! Kenapa aku dulu bisa sebodoh itu untuk menjalani tugas manusia botak dan pesek itu? Coba saja kau lihat wajahnya dekat-dekat. Rasanya ingin membawanya ke dokter bedah plastik dan menyuruhnya mengoprasi daerah hidungnya agar memiliki hidung!" gerutu Draco saat sedang bercerita tentang Voldemort.
Ron yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai memegangi perutnya. Tidak tahu ternyata Draco begitu kesal kepada Voldemort. Apalagi nada bicaranya yang blak-blakan soal 'hidung' membuat Ron tambah terbahak.
"Oh Merlin! Aku kasihan dengan Tom Riddle, Sr. Dia tampan sekali tetapi memiliki anak botak dan pesek. Oh Tuhan, berkati dia walaupun itu tak akan pernah mungkin." kata Draco dengan tampang melas.
"Sudah Draco. Kau membuat perutku sakit!" kata Ron di sela tawanya yang masih terpingkal-pingkal. Draco nyengir mendengar perkataan Ron dan benar saja, muka Ron sudah merah karena tawanya.
"Bibi Bella juga! Wow rambutnya aduhai! Kalau sedang berbicara dengannya, aku ingin membawanya ke salon. Gila! Ibuku saja rambutnya rapi dan menunjukkan dia itu Malfoy. Eh, Bibi Bella malah memperlihatkan yang mengerikan. Bagaikan singa! Bahkan singa lebih baik daripada dia!" kata Draco sambil menggeleng-geleng mukanya. Ron terpingkal-pingkal mendengarnya.
"Kalau tertawa ingin rasanya ku jadikan alarm ku saat aku tertidur. Tapi kalau mendengarnya, pasti kau akan mengalami mimpi buruk 7 hari 7 malam." kata Draco lagi. Nada tanpa dosa masih dikeluarkannya. Tidak peduli dengan Ron yang sakit perut akibat tawanya.
"Suara tawanya seksi. Ah, sayang dia gugur dalam pertempuran. Aku jadi rindu dengan cara ketawanya yang seksi itu. Oh, Bibi Bella. Aku merindukanmu." kata Draco sambil mengangkat tangannya dan memperlihatkan ekpresi seperti penyair yang sedang menyatakan cinta.
Orang-orang di sekitarnya heran melihat sikap Draco dan Ron. Ron yang terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya, sedangkan Draco berwajah seperti tak punya salah. Sebagian anak yang melihatnya terkikik melihat pemandangan langka itu.
"Drake, Ron, kau ini kenapa?" tanya sebuah suara. Mereka berdua menoleh dan mendapati Hermione dan Pansy sedang menyilangkan tangannya di depan dadanya. Muka Draco merah padam saat melihat Hermione terkekeh karena dia pasti melihat ekspresi Draco terakhir. Sedangkan Ron masih terkekeh.
Lalu Ron akhirnya bercerita tentang sisi konyol Draco barusan. Hermione dan Pansy ikut tertawa mendengarnya.
"Aku tak tahu, seorang Malfoy sepertimu bisa berkelakuan bodoh juga!" kata Hermione masih tertawa. Pipi Draco merona merah saat mendengar kata-kata Hermione. Draco langsung mengajak Ron pergi, tetapi Ron menolak. Ya sudah, Draco tidak bisa menolak. Akhirnya dia tetap duduk di situ bersama Hermione, Pansy dan Ron.
Mereka mengobrol biasa lagi. Walaupun semburat merah masih terlihat jelas di pipi Draco, tetapi Draco menyembunyikannya dengan menunduk terus. Hermione masih asik mengobrol dengan Ron dan Pansy.
Tiba-tiba Harry datang bersama Addie. Ekspresi Hermione yang ceria sebelumnya, berubah menjadi dingin dan tanpa ekspresi. Draco bisa membaca pikiran Hermione. Harry yang ada di belakang Hermione salah tingkah.
Hermione beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi. Namun, buru-buru Harry menahan tangannya. Hermione meronta dan berusaha untuk melepaskannya. Namun, genggaman Harry lebih kuat dari usahanya. Sehingga, yang dihasilkan hanya sakit di pergelangan tangannya.
Hermione memandang mata hijau cemerlang itu dengan tatapan benci. Harry masih tetap memegangi pergelangan tangan Hermione. Di antara Draco, Pansy, Ron dan Addriana tidak ada yang bicara. Suasana menjadi tegang.
"Lepaskan aku, Potter!" desah Hermione dengan nada benci. Harry tetap memegangnya.
"Hermione, dengarkan aku dulu." kata Harry.
"Memang apa lagi yang mau kau katakan? Semua sudah jelas. Kau sudah tidak menganggapku sahabat! Sekarang semuanya sudah terbuang sia-sia. Jadi terima kasih Harry atas semua perhatianmu selama 7 tahun ini." kata Hermione sambil tersenyum kecut. Harry terbelalak.
"Ayo Draco, kita pergi." ajak Hermione. Kini Harry sudah melepaskan tangannya sejak khotbah Hermione.
"Tidak!" jawab Draco tegas. Hermione terbelalak. "Dengarkan dulu apa yang mau dia katakan baru kita pergi." sambung Draco lagi. Hermione tidak bisa memilih. Kalau dia pergi begitu saja, Draco malah akan mengamuk padanya.
"Thanks, Drake. Hermione, tadi malam aku sudah sadar. Aku, aku merasa bersalah padamu. Ron benar, kau sudah terlalu banyak membantu. Ya, bodohnya aku tidak memikirkan semua kebaikanmu selama ini. Ron menyadarkanku. Dia berkata semua bantuanmu kepadaku dan aku sadar. Kau memang sangat berarti. Apalah artinya aku dan Ron tanpamu? Yang selalu memecahkan misteri dengan otak bukumu, yang selalu melindungiku dan Ron dengan mantra-mantra hebatmu. Jadi, maafkan aku, Hermione." kata Harry tulus. Hermione berdiri mematung di depannya. Mulutnya menganga tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
Dia masih mencerna kata-kata Harry. Dia hampir menangis tapi ditahannya. Dia juga sadar. Selama ini persahabatannya dengan Ron dan Harry sangat kekal. Walaupun dia dan Ron sering bertengkar, tapi Harry dengan sabar menghadapi itu semua.
Harry yang menenangkannya saat Ron kabur dari tenda. Harry yang menemaninya saat dia menggunakan time turner-nya. Harry yang memiliki ide untuk memberi tahunya saat Troll menyerang sekolah. Harry yang memberi ide kepada Ron untuk menyelamatkan Hermione.
Hermione memeluk Harry seketika. Harry terbelalak dengan sikap Hermione. Hermione menangis di pundak Harry saat memeluknya. Addie, Draco, Pansy dan Ron bernafas lega setelah menunggunya cukup lama.
"Iya, maafkan aku juga, Harry." bisik Hermione. Harry membalas pelukan Hermione.
hore! hermione sama harry damai!
dan draco mau nembak dia! tunggu aja di chapter 4
buat semuanya yang review thank you bangeeeeeeeeet,
review nya lucu lucu hehe
update selanjutnya abis ujian haha ._.
review yaaa please :D
review ya yg baik.
