War of DNA

"Sebut lagi namanya dan aku akan membunuhnya di depan matamu"

njk

BTS ff

BTS Kim Namjoon Kim Seokjin Min Yoongi Jung Hoseok Park Jimin Kim Taehyung Jeon Jungkook

and other idols!

Zombie inside!

No plagiarism. I only own the storyline.

#3

"Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban. Tubuh Jimin meringsut bergetar hebat. Matanya masih terpejam kuat dengan lelehan air mata di sudut-sudutnya. Laki-laki itu mencoba mendekati Jimin, berjongkok untuk menyamakan tinggi. Di pegangnya tangan kiri Jimin yang masih menutupi telinganya erat. Jimin membelalakkan matanya menatap pria itu. Aderenalinnya dipacu hingga ke tingkat tertinggi. Pria itu menatap Jimin sedih. Jimin segera ditariknya ke dalam pelukan. Di tepuk-tepuk pundak Jimin yang masih shock. Air mata Jimin mulai mengalir membasahi pundak pria itu. Jimin masih tercekat. Tak ada suara tangis meraung-raung dari mulutnya menandakan fisik dan mentalnya benar-benar lelah. Sedangkan si pria hanya bisa mengucapkan kata penenang.

"Tenanglah. Kau baik-baik saja".

Tanpa sadar Jimin mengeratkan pelukannya. Jimin memang sedang sangat membutuhkan ini. Setidaknya dia harus meluapkan kekalutannnya sejenak. Namun hal itu hanya berlangsung sebentar sampai laki-laki yang memeluknya itu bertanya pada Jimin.

"Apa kau… tergigit?"

Ingatan akan apa yang dialami Jimin hari itu kembali merasuk ke otaknya. Jimin segera melepas pelukan itu. Sesungguhnya Jimin tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Tapi dari apa yang dilihatnya, dia harusnya tidak semudah ini memeluk seseorang. Bagaimana jika laki-laki ini sama seperti 'mereka'?

Jimin memundurkan diri. Di lihatnya sosok laki-laki di depannya dari kepala hingga kaki dengan tatapan takut. Rambutnya hitam kelam dengan perpaduan wajah yang panjang. Tampan. Mengenakan kaos panjang putih gading dan celana jeans biru ketat yang melekat sempurna di kaki panjangnya, serta sepatu sneakers warna hitam berlambang salah satu hewan buas di hutan rimba. Jimin sempat berfikir mungkin laki-laki di hadapannya ini adalah seorang model atau mungkin seorang idol. Tidak, sampai Jimin melihat sebuah pistol di tangan laki-laki itu.

Jimin sekarang merasakan takut karena hal yang berbeda. Pertama kali dalam hidupnya, Jimin melihat pistol asli. Tapi apakah itu asli? Jimin yang ketakutan menggelengkan kepalanya dengan masih memandangi pistol itu. Si pria mengikuti arah mata Jimin. Merasa membuat Jimin takut, pria itu menyimpan pistolnya di bagian belakang celananya. Saat itu pula terdengar suara seseorang tengah menyeret tubuh menuruni tangga. Laki-laki yang sedari tadi menunggu Jimin membuka suara sekarang terfokus pada hal lain. Ada orang lain di dalam rumah ini, fikirnya.

Dia mencoba bangkit untuk mendekati tangga yang sepertinya berada tak jauh dari pintu depan. Namun saat hendak beranjak dirasakannya tangan Jimin menggenggam tangannya. Jimin menatapnya dan menggelengkan kepalanya dengan kuat. Seakan mengerti apa yang berada di dalam rumah itu, pria itu pun mengurungkan niatnya. Dia berbalik ke arah Jimin, membopong Jimin yang masih lemas untuk keluar dari sana. Pria itu membawa Jimin dengan hati-hati sambil memperhatikan sekitar. Saat akan melewati pagar rumah Jimin pria itu mengeluarkan senapannya lagi.

"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu".

Jimin tidak bersuara sama sekali meskipun sudah tidak ada airmata lagi di wajahnya. Pria itu terlihat kesusahan. Jimin yang sepertinya sudah terlihat lebih tenang akhirnya memisahkan diri. Memilih untuk berjalan sendiri meski dengan kondisi kaki yang lemas.

"Apa kau bisa berjalan sendiri?" Tanya laki-laki itu sambil melihat ke arah Jimin lamat-lamat. Jimin hanya menganggukan kepalanya.

Saat pria itu kembali berjalan, Jimin mengikuti dari belakang. Jalanan di kawasan perumahan Jimin terlihat sepi. Hanya saja terlihat beberapa rumah dengar pagar terbuka tidak seperti biasanya. komplek rumah Jimin termasuk kawasan yang elit dimana letaknya masih berada di sekitar pusat kota. Di hari-hari biasa semua rumah akan menutup pagar rumah mereka jika mereka berada diluar ataupun berada di rumah. Tipikal warga kota yang hidup dengan mindset individualism, tidak terlalu mementingkan sosialisasi sekedar ramah-tamah dengan tetangga terdekat. Namun Jimin tidak heran. Saat berlari menuju rumahnya Jimin sudah melihat penyebab dari semua ini.

Hampir pukul 5.pm KST. Langit masih terang. Aroma musim semi masih terasa meski musim gugur sudah tak sabar mengambil alih. Dan disini Jimin berdiri dihadapan seseorang yang tak dikenalinya, di dalam kantor polisi di daerah Sageun. Seumur hidupnya Jimin belum pernah berurusan dengan kantor polisi.

Kantor polisi Sageun tidak terlalu besar dan meski Jimin tidak pernah memasukinya, Jimin hampir tiap hari harus melewatinya saat menuju kampus. Dan saat pertama kali memasuki kantor ini, Jimin tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih di situasi seperti ini, kantor yang berantakan, ditambah tak ada seorang pun sejak Jimin masuk hingga sekarang berada di ruangan pribadi tempat pria tadi mengacak-ngacak isi meja dihadapannya. Jimin kembali berfikir siapa orang di hadapannya ini. Apa mungkin dia pencuri? Tapi pencuri mana yang terlalu bodoh untuk menjarah kantor polisi di situasi sekarang ini? Meskipun Jimin penasaran, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Ruangan yang dimasuki Jimin ini sangat rapi, kecuali bagian lemari kayu yang kini tengah dijarah itu. Terdapat beberapa medali kehormatan yang tergantung di dinding. Bendera Korea Selatan juga tergantung di dinding di sisi belakang meja kayu, dengan foto presiden dan wakilnya berada di kanan dan kiri bendera itu. Lemari dengan buku-buku tebal yang tersusun cantik, serta kursi-kursi dan meja kaca berada di sisi lain meja kayu. Di atas meja kayu terdapat setumpuk berkas, satu bingkai foto yang Jimin tidak bisa lihat isi fotonya dari tempatnya berdiri sekarang, layar LCD yang mati, dan papan nama bertuliskan 'Jung Hoseok, Kepala Kepolisian Sektor Sageun'.

Jimin masih berdiri disana saat pria di hadapannya mengambil tas jinjing dari bawah meja dan meletakkannya di atas meja. Pria itu membuka laci paling bawah yang terdapat brankas berukuran sedang di dalamnya. Setelah memasukkan kata kunci, pria itu mengambil isi brankas itu dan memasukkannya ke dalam tas jinjing tadi. Mata Jimin dipaksa untuk terbelalak. Isi brankas itu adalah beberapa senapan yang Jimin sama sekali tidak ketahui jenisnya. Melihat Jimin yang terkejut, laki-laki itu membuka suara.

"Siapa namamu?"

Tidak ada jawaban. Sedangkan Jimin menatap senapan yang berada di dalam tas yang masih terbuka itu.

"Namaku Jung Hoseok. Aku tidak akan menggunakan ini untuk menyakitimu".

Laki-laki yang mengaku bernama Jung Hoseok itu membenarkan posisi senapan di dalam tas. Diambilnya satu senapan dan diletakkan disamping senapan yang tadi dibawanya yang sekarang berada diatas meja. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi di balik meja setelah menutup tas yang berwarna coklat army itu.

"Aku tidak tahu dunia akan menjadi sangat kacau seperti ini saat aku mengambil cuti bahkan hanya untuk satu hari". Laki-laki itu berucap lebih seperti kepada dirinya sendiri. Diurutnya keningnya yang mengkerut.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Semua anak buahku langsung turun begitu kekacauan terjadi dan tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi sekarang. Bahkan kantor pusatpun sedang kerepotan dan sepertinya tidak tahu apa-apa."

Hoseok menghela nafas. Saat tak mendengar tanggapan iapun melanjutkan ucapannya.

"Apa keluarga ku di Gwangju baik-baik saja?"

Jimin memusatkan perhatiannya pada Hoseok saat mendengar kata keluarga. Hatinya berkecamuk dan perasaan bersalah menghinggapinya.

"Aku Park Jimin" akhirnya Jimin membuka suara meski terdengar lirih.

Saat itu tiba-tiba ponsel Jimin berdering menampilkan tulisan "My Minah" di layarnya. Jimin segera mengangkat panggilan itu dengan tergesa-gesa.

"Minah, kau baik-baik saja?" Tanya Jimin panik.

"Oppa! Ibu.. apa ibu dan ayah baik-baik saja? Kenapa banyak zombie diluar sana?. Oppa aku takut. Aku… Sebelum pergi tadi pagi aku membantu ibu menolong seorang wanita di depan rumah kita. Ibu membawanya masuk. Aku takut terjadi sesuatu pada ibu karena… karena teman-temanku.. mereka berubah menjadi Zombie, oppa!". Minah benar-benar terdengar panik. Tangisnya terdengar diantara kalimat yang diucapkannya. Mendengar Minah Jimin terpaksa meloloskan satu butir airmatanya. Terlebih mengingat apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Namun Jimin tidak ingin Minah mendengar tangisnya.

"Minah. Tenanglah. Katakan dimana kau sekarang!" Dengan sekuat tenaga Jimin berusaha tegar.

"Aku takut oppa". Minah masih terisak.

"Tenanglah Minah. Oppa akan menjemputmu. Kau dimana sekarang?" Jimin berujar mantap. Iya, dia tidak akan mengulangi kesalahannya. Kali ini dia akan menyelamatkan satu-satunya keluarganya yang tersisa, adik kesayangannya.

"Aku berada di sekolah. Bersama Hyeri dan beberapa temanku. Tapi oppa… kami terjebak di ruang klub musik".

"Baiklah Minah. Tunggu oppa. Jangan keluar dari sana. Oppa akan segera kesana".

Jimin mematikan panggilan teleponnya saat mendengar Minah mengatakan mengerti. Jimin kembali melihat ke arah Hoseok yang ia yakini sedari tadi memperhatikannya.

"Aku tidak yakin, tapi sepertinya aku tahu siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi sekarang. Orang itu mengatakan padaku untuk berlindung ke rumah sakit Hanyang lantai 7 ruang 7-x. Silahkan anda bertanya padanya apa yang terjadi. Namanya Kim Namjoon"

"Aku tidak tahu ternyata kamu bisa berbicara sepanjang itu" kekeh Hoseok.

Jimin acuh pada candaan Hoseok yang sepertinya tidak tahu tempat dan situasi itu.

"Park Jimin-ssi, aku tidak kenal siapa Kim Namjoon ini. Tidak ada kasus serupa dengan kasus yang terjadi sekarang ini selama beberapa bulan terakhir dan bahkan pusat kepolisian Seoul tidak tahu apa-apa. Apa kau yakin dengan ucapanmu?" kali ini Hoseok terlilhat serius.

"Aku mahasiswa di universitas Hanyang. Aku melihat apa yang terjadi sebelum kekacauan ini dimulai. Aku tidak ingin mempercayainya. Aku bahkan tidak tidak yakin dengan ucapanku. Tapi aku yakin dia tahu sesuatu". Ucap Jimin tegas. Hoseok diam beberapa detik. Menatap mata Jimin untuk melihat kesungguhan Jimin. Saat tak menemukan kebohongan di mata Jimin, Hoseok pun bangkit.

"Baiklah. Kita pergi ke rumah sakit Hanyang sekarang".

"Tidak. Saya akan menjemput adik saya".

"Jika kamu tidak mau ikut denganku, maka aku yang akan ikut kemana kamu akan pergi".

Hoseok tersenyum pada Jimin. Jimin tidak mengerti. Jimin mengatakan keberadaan Kim Namjoon pada orang yang baru dikenalnya ini agar dia bisa selamat. Jika bisa, Jimin ingin menyelamatkan orang sebanyak mungkin. Jika Jimin tidak bisa selamat, setidaknya orang ini akan selamat karena dilihat dari manapun seorang kepala sektor kepolisian memiliki harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dirinya.

"Apa anda bodoh?. Anda seharunya menyelamatkan diri anda." ucap Jimin sopan walau terdengar sarkas.

"Apa kamu baru saja menghina jabatanku?" Hoseok tertawa lalu melanjutkan ucapannya.

"Sudah tugasku melindungi warga sipil. Lagi pula berjalan sendirian di tengah-tengah zombie sepertinya sangat menakutkan". Hoseok kembali tersenyum meski terlihat dipaksakan.

Iya. Jung Hoseok itu pecundang jika harus berhadapan dengan hal-hal berbau hantu atau sesuatu yang mengerikan. Beri Hoseok seratus penjahat dan dia akan menghajarnya, asal jangan seonggok hantu yang mengerikan. Hoseok akan lari terbirit-birit. Seperti saat dia dihubungi oleh kantornya sore ini. Tanpa mengetahui dengan jelas apa yang akan dihadapinya Hoseok langsung saja menuju Kantor dengan mobilnya. Tapi baru beberapa meter dari rumahnya Hoseok melihat segerombolan orang saling 'memakan'. Sontak Hoseok menghentikan mobilnya dan memperhatikan dengan seksama adegan di depannya.

Hoseok sempat terjerit lalu seketika mual. Adegan didepannya memperlihatkan lima orang pemuda dan pemudi tengah menggigit dua orang bibi-bibi yang tergeletak di pinggir jalan. Dua bibi-bibi itu masih bergerak-gerak. Mendorong sekuat tenaga orang-orang yang tengah menyerang mereka. Tapi apalah daya. Tubuh bibi-bibi itu perlahan mulai digerogoti hingga bentuknya berantakan. Hoseok sebenarnya ingin turun dan menolong, tapi kakinya lemas. Hingga tak lama kedua bibi itu sudah tak bergerak. Sayur dan beberapa butir telur yang berantakan disekitar tempat itu menjadi saksi pergulatan kedua bibi itu untuk melawan. Mungkin sebelumnya bibi-bibi itu pergi berbelanja ke toko serba yanga ada di dekat sana untuk menyiapkan makan malam.

Hoseok berteriak-teriak tak jelas di dalam mobilnya. Penyebabnya adalah lima orang yang sedari tadi sibuk itu kini tengah berjalan pelan ke arahnya. Hoseok yang panik segera menginjak gas dan tanpa sadar dan menabrak mereka semua hingga ke trotoar. Peduli setan siapa yang Hoseok tabrak. Yang jelas mereka bukan manusia dan Hoseok tidak bersalah telah menabrak mereka. Yang terpenting sekarang dia harus lari. Paska tabrakan Hoseok menyambar senapan di dasbor mobilnya, keluar dan lari sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang. Di dalam hatinya Hoseok terus menjerit 'Ya Tuhan… Ya Tuhan… selamatkan aku'.

Sepanjang pelariannya Hoseok terus berjumpa dengan sosok-sosok mengerikan. Hoseok sangat berterima kasih pada kemampuan fisiknya yang sangat terlatih hingga ia bisa berlari dengan sangat kencang. Atau mungkin karena ketakutannya Hoseok bisa lari sekencang itu? Entahlah. Yang penting Hoseok selamat. Ia sempat berhenti dan menghubungi kantornya, tapi tidak ada jawaban. Kantor pusat menjawab meski tengah kerepotan. Mereka mengatakan hal serupa terjadi di beberapa tempat dan terus meluas di Seoul. Hanya itu yang di dapatkan oleh Hoseok.

Hoseok bersyukur. Untungnya hanya komplek perumahannya yang begitu ramai dengan sosok 'itu'. Begitu memasuki komplek perumahan lain suasananya malah sepi. Terlewat sepi. Tapi setidaknya Hoseok tidak perlu berlari. Saat tengah berjalan itulah Hoseok mendengar suara tangis dari salah satu rumah. Setelah pergulatan batin antara membiarkan suara itu atau mencoba mencari orang lain yang selamat akhirnya Hoseok memasuki pekarangan rumah itu yang mana pagarnya terbuka. Di rumah itulah Hoseok menemukan Jimin tengah meringkuk ketakutan. Hoseok tentu senang melihat manusia 'normal' lainnya. Mana mungkin Hoseok memilih untuk pergi sendirian sekarang ini.

Hoseok meringis mengingat kejadian yang dialaminya. Setelah itu ia mengambil pistolnya lalu memasukkannya ke celana belakangnya. Dia pun mengambil satu lagi pistol yang tadi baru dikeluarkannya. Hoseok mengecek peluru senapan itu lalu menimbang-nimbangnya.

"Ini adalah pistol semi otomatis, Glock 20. Rangkanya plastik polymer. Lumayan ringan dan tipis dibandingakan dengan milikku. Kekuatan tolaknya juga tidak terlalu besar dan isi pelurunya 15 peluru. Cukup banyak. Sangat cocok untuk amatiran. Tarik pelatuknya lalu bidik sasaran. Apa kau sudah melaksanan wajib militermu?". Hoseok memperagakan ucapannya sebelum memberikan senapan itu pada Jimin. Jimin terkejut. Sudahkah Jimin mengatakan hari itu pertama kali ia melihat senapan asli dalam hidupnya?

"Untuk berjaga-jaga saja. Aku bahkan belum menggunakan milikku". Hoseok tersenyum, mengerti akan kekhawatiran Jimin. Hoseok sendiri khawatir memberikan senapan pada warga sipil yang tidak terlatih. Dia berharap tidak akan terjadi sesuatu yang memaksa mereka harus menggunakan senjata ini. Jika memang terpaksa biarlah Dessert Eagle miliknya yang turun tangan. Setidaknya Hoseok yakin akan kemampuan bidikannya.

"Ini … ini pertama kali aku memegang senapan sungguhan". Jimin tergagap. Bertambah alasan Hoseok agar tidak terjadi sesuatu yang buruk nantinya.

"Lakukan saja seperti yang ku katakana tadi. Lagi pula aku akan melindungimu" Ucap Hoseok santai sambil menenteng tas berisi senapan keluar dari ruangan itu. Jimin menyusul setelah mengumpulkan keberaniannya.

Saat sebelum keluar dari kantor polisi sektor Sageun Jimin sempat bertanya pada Hoseok masih dengan tangannya yang memegang pistol dengan aneh.

"Jung Hoseok-ssi, akan lebih cepat jika kita menggunakan mobil, bukankah begitu?"

Hoseok teringat akan mobilnya. Pasti mobilnya penyok cukup parah. Ah Hoseok bahkan lupa mencabut kunci mobilnya. Dia lari begitu saja.

"Kau lihat, mobil patroli tidak ada. Mungkin petugas lain yang memakainya"

"Bagaimana dengan mobil pribadi anda. Anda kan ketua kepolisian disini, pasti anda memiliki mobil". Ucap Jimin santai.

"Berjalan itu lebih sehat. Sebagai anak muda kamu tidak boleh banyak mengeluh Jimin-ssi". Hoseok tidak ingin membahas mobil terus-terusan. Meskipun dia membenci ide untuk berjalan di tengah Zombie, toh dia tidak bisa melakukan apa-apa.

"Dimana letak sekolah adikmu, Park Jimin?" Tanya Hosoek.

"SMA Umum Hanyang. Kita malah melewati rumah sakit Hanyang. Jika anda berubah fikiran kita bisa pergi bersama dan anda ke rumah sakit lalu saya menjemput adik saya"

Jimin masih memberikan pilihan kepada Hoseok. Barangkali Hoseok menyesal ingin ikut dengannya. Tapi Hoseok tersenyum disana. Dia melihat ke parkiran di depan kantor dan satu motor patroli masih tersisa disana. Disambarnya kunci motor yang tergantung di samping pintu masuk kantor polisi lalu keluar.

"Aku tidak pernah menarik ucapanku. Mungkin sudah sangat lama aku tidak mengendarai motor patroli, tapi aku pastikan kamu bisa mengandalkanku". Dan Jimin hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Hoseok.

"Hyung. Maafkan aku. Aku tidak tahu semuanya akan jadi seperti ini".

Seorang pemuda terduduk lemas dengan lebam di sisi mulut kirinya. Punggungnya disandarkan ke dinding. Dia tidak menyangka apa yang tengah dikerjakannya akan menyebabkan malapetaka seperti ini. Memang kakaknya sering mengingatkan bahaya apa yang mungkin akan terjadi karena percobaannya. Dia hanya terus berkata akan berhati-hati dan meminta kakaknya itu untuk tenang. Bambam, teman gilanya yang dia jumpai saat di Inggris, juga tak membantu mencegah. Malah kadang Bambam terlihat lebih antusias dari pada dirinya sendiri. Memang bisa dibilang mereka sama gilanya. Dan setelah mengetahui apa yang terjadi, Bambam lah yang paling banyak mendapatkan bogem mentah dari Kim Namjoon.

"Hyung, ku bilang hentikan! Kau akan membunuh Bambam!" kali ini pemuda itu berteriak. Kakaknya tak henti memukuli Bambam yang sudah tersungkur di lantai. Ini semua bukan 100% salah Bambam. Kakaknya tidak boleh membunuh Bambam.

"Kau masih membelanya? Dengan semua kekacauan ini?! Kim Taehyung! Bahkan aku akan membunuhmu jika saja kau bukan adikku!" Namjoon berang. Diinjaknya tubuh Bambam yang berada di bawah kakinya sebelum mendekati adiknya, Kim Taehyung. Bambam berteriak kesakitan memegangi perutnya.

"Hyung…" lirih Taehyung saat wajah Namjoon sudah berada di depan wajahnya.

"Taehyung. Selama ini aku selalu mempercayaimu. Tapi sepertinya aku terlalu memanjakanmu".

Namjoon yang tadinya menatap Taehyung kini mendudukan dirinya di kursi di depan meja putih panjang di ruangan lab obat-obatan yang terlihat kacau. Untuk melihat adiknya itu saja Namjoon merasa enggan sekarang. Dia kecewa. Kecewa pada Taehyung juga pada dirinya yang gagal sebagai kakak, sebagai satu-satunya orang yang dimiliki Taehyung. Ingin rasanya Namjoon mengulang waktu saat Taehyung merengek meminta cuti dari kampus dan ikut dengannya ke Inggris. Saat itu Namjoon terlalu egois. Dihadapkan dengan pilihan antara meninggalkan adiknya sendiri atau membuang kesempatannya belajar di Inggris membuat Namjoon serakah dan memilih keduanya. Membawa Taehyung bukanlah keputusan yang tepat. Namjoon baru menyadarinya satu tahun setelah mereka tinggal di Inggris. Taehyung memiliki alasan lain untuk berada di Inggris.

Ya, seandainya Namjoon bisa mengulang waktu. Mungkin kehidupan mereka akan baik-baik saja. Dan adiknya yang terlalu obsesif, si Kim Taehyung itu tetap menjadi mahasiswa normal seperti mahasiswa lain dikampusnya. Mungkin harusnya sekarang Taehyung satu angkatan dengan Park Jimin. Fikir Kim Namjoon.

Taehyung merangkak menuju temannya yang masih terbaring memegangi perutnya. Dibandingkan dengan kondisinya, luka Bambam jauh lebih parah. Sesaat setelah Taehyung menjelaskan apa yang terjadi, Namjoon yang dipenuhi emosi kalap. Dia memukul Taehyung, adiknya sendiri. Meski hanya sekali hal itu membuat hati Taehyung sangat sakit. Pasalnya kakaknya itu selalu memanjakkannya dan menuruti keinginannya. Berbeda dengan Bambam yang fisiknya terlihat berantakan dipukuli berkali-kali. Tidak ada satupun diantara mereka berdua yang melawan balik Namjoon. Mereka sadar bahwa mereka berdua telah melakukan hal yang salah.

"Bambam. Kau baik-baik saja? Apa kau bisa duduk?" Taehyung yang mengkhawatirkan Bambam membantunya untuk duduk. Bambam hanya terbatuk-batuk sambil kemudian menyeka darah dari bibirnya. Bibirnya robek, rahangnya terasa nyeri sama halnya dengan perut dan dadanya.

"Bagaimana cara agar aku bisa mengatasi kekacauan ini?" Namjoon menatap ngeri ruangan didepannya yang hanya dibatasi dengan kaca. Namun kaca itu cukup kokoh. Buktinya sosok-sosok di dalam sana yang terus mencoba keluar tak berhasil menembus kaca itu.

"Seharusnya kalian mati saja disini dari pada kalian membiarkan salah satu dari mereka melarikan diri". Ucap Namjoon kesal.

"Maafkan aku, Hyung". Hanya kata maaf yang bisa terujar dari mulut Taehyung.

"Maafmu tidak akan bisa menyelesaikan kekacauan yang terjadi diluar sana".Namjoon bangkit dari duduknya.

"Sudahlah. Aku tidak mau membuang tenagaku untuk hal yang tidak penting. Sekarang kita ke rumah sakit. Seokjin sudah menyiapkan tempat untuk kita". Kali ini Namjoon berjalan menuju westafel yang berada dipojok ruangan itu. Dia membersihkan darah yang ada di tangannya dan juga kemeja putihnya. Darah yang mengering ditangan dan kemejanya itu bukan lah darah Namjoon. Darah itu milik dari beberapa tubuh yang ditemukannya tergeletak sepanjang perjalanannya menjemput Taehyung. Belum lagi darah dari mahasiswa yang bernama Jinyoung, juga Bambam yang baru saja dipukulinya. Bukan dengan mudah Namjoon berhasil mencapai ruang lab obat-obatan Tak jarang Namjoon harus bersembunyi, berlari ataupun memukul beberapa sosok mengerikan dengan tabung gas yang diambilnya saat masih di tangga darurat.

"Apa kau yakin hyung? Di luar berbahaya". Cicit Taehyung. Sesungguhnya semenjak apa yang terjadi pagi tadi Taehyung sangat kalut dan takut. Dia tidak menyangka akan terjadi kebocoran, terlebih saat Bambam membawa teman-temannya ke lab itu. Entah beruntung atau tidak Taehyung berhasil mengkarantina beberapa dari mereka yang terinfeksi. Salah satu dari mereka berhasil lolos. Si Youngjae itu.

"Lalu apa? Mau menunggu sampai Jackson, Mark, Sana, dan Irene berhasil keluar? Atau mereka yang diluar berhasil masuk kesini?" Namjoon sekarang sedang mengeringkan tangannya dengan handuk yang tergantung di dekat westafel itu. Taehyung hanya diam. Dia mengerti dia tidak bisa membantah kakaknya sekarang.

"Tinggalkan temanmu itu. Membawamu saja cukup beresiko apalagi membawa dia". Namjoon itu sebenarnya orang yang baik. Hanya saja mengingat kebocoran ini terjadi karena Bambam yang membawa teman-temannya ke dalam lab hanya untuk sekedar pamer membuatnya benar-benar muak pada anak itu.

"Hyung, aku melakukan ini karena aku tidak mau kehilangan seseorang dan kau malah meminta ku meninggalkan temanku? Tidak. Lebih baik kau menyelamatkan dirimu sendiri. Aku akan membawa Bambam". Taehyung tahu apa yang dikatakannya akan membuat Namjoon semakin marah. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Bambam.

"Demi Tuhan, Kim Taehyung! Jangan kau bawa-bawa dia. Dia bukan siapa-siapa. Seharusnya kau abaikan dia dan semua ini tidak akan terjadi!". Benar saja, Namjoon yang kesal sekarang tengah mencengkram leher kemeja Taehyung.

"Aku tidak bisa membiarkan Jungkook mati, Hyung. Kau tahu itu". Taehyung menatap kakaknya dengan pandangan nanar. Namjoon sendiri tahu seberapa penting Jungkook bagi Taehyung, tapi pengorbanan Taehyung sudah terlalu berlebihan. Bukan hanya kehidupan Taehyung, bahkan sekarang nyawa warga Seoul ikut dipertaruhkan.

"Sebut lagi namanya dan aku akan membunuhnya di depan matamu". Geram Kim Namjoon

TBC

Huwaaaa… Tinggal kookie yang belum muncul. Tapi udah terlihat ya hubungan antara mereka.

Awalnya mau bikin Jhope itu idol biar seru. Tapi ngapain idol siang2 keluyuran wakakaka

Balesan review chap 12

Yolumine: thank you :) tungguin terus yak~

Kencal rise : yiaaaaaa… baca terus ya XD

Melyauyut575 : gomawo :) udah kejawab itu siapa yg nnya keadaan Jimin. sengaja bikin duo penakut di run bts zombie reunian lagi disini kekekke. Tungguin terus chap selanjutnya ya

Jeon mina : makasihh :) pengennya fokus 7 orang sih. Tapi nanti juga kelihatan lebih focus kemana. Baca terus biar ketauan siapa ya XD

Parkchimchim93 : huhu ngeri ya? Tapi ini melawan zombie nya belum dimulai loh kekeke

Tink224 : wkwk masih salah ya. Coba lagi xD Thanks btw. Keep reading ya :)

Makasih bgt yg udh review 3

Kalo masih ad yang minat nebak singkatan BD-YP boleh ya smpe sblm chapter penjelasan (ini lumayan susah emang XD)

Atau tebak aja ini Jungkooknya kenapa dan apa hubungan kookie sebenernya sma Taehyung? kekeke

Jangan lupa vote for BTS on MAMA. ARMY sedang kerja keras loh. We can do this. Remember Team work makes the dreams work!

Love

Jmp!

Review?