Kuroko Kyoudai no Basuke
Chapter 3 is up
Gomenne, minna. chapter ini agak pendek (terlalu pendek). Mungkin Ch 4 bakalan agak cepat ku update.
Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.
"Masamune tidak punya waktu untuk bermain dengan anak kecil sepertimu tau!" seorang anak perempuan berusia 14 tahunan berteriak pada anak kecil berambut biru dan bermata serupa sambil menarik rambut panjangnya. "Kukira anak kecil nakal ini perlu diberikan hukuman." Teman dari anak perempuan tersebut mengatakan hal tersebut sambil membawa gunting. "Apa yang akan kalian lakukan?" tanya anak kecil tersebut dengan suara bergetar. Tanpa aba-aba, gunting tersebut diarahkan pada rambut si anak kecil dan dipotonglah rambut panjangnya tersebut. Si anak kecil hanya bisa menangis sementara mereka tertawa. "Apa yang kalian lakukan!?" terdengarlah suara seorang anak laki-laki yang sangat dikenal mereka.
Ryu terlonjak bangun dari tempat tidurnya, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Sejenak dia mengatur nafasnya, lalu menolehkan kepalanya ke arah jam wekernya.
"Uwaaa—aku terlambat." Dengan kecepatan penuh dia segera berlari ke kamar mandi untuk mandi dan segera ganti baju.
"Ryu, ada apa baru bangun tidur sudah ribut?" Tanya ibunya saat dia pergi ke ruang makan untuk mengambil roti.
"Kaa-san, kenapa tak membangunkanku. Aku telat kan jadinya." Kata Ryu setelah menghabiskan roti yang ada ditangannya.
"Telat untuk apa? Hari ini kan tak ada sekolah." Tanya ibunya kebingungan.
"Latih tanding Seirin, Kaa-san. Aduh, mana di Kanagawa lagi. Harus cepat-cepat ke stasiun." Dengan cepat Ryu melesat ke pintu depan dan memakai sepatunya.
"Ittekimasu!" teriaknya sambil berlari tanpa menunggu balasan dari ibunya.
.
.
Sampainya di Kaijo gedung olahraga yang dicari Ryu dipenuhi orang yang melihat latih tanding. Ada juga perempuan yang diduganya sebagai fans Kise.
'haah... untung saja tepat waktu. Masih 2-0.' Pikirnya.
Permainannya beralur cepat dan tiba-tiba saja Kise dunk. Tapi setelahnya ketua Kaijo yang diyakini Ryu bernama Kasamatsu Yukio menendang Kise dan berteriak "Dasar bodoh, bukankah kubilang untuk merusaknya!" 'sugoi power, dan lebih lagi stat Kise-senpai lebih tinggi dari data terakhir yang kuambil' pikirnya.
"Aku tak yakin jika untuk perempuan, tapi aku tak pernah gagal membalas hutang dalam basket." Kise berkata dengan menyeringai ke arah Kagami.
"Teme, kuterima tantanganmu!" balas Kagami. 'Dari quarter pertama pertandingannya sangat intense. Apa mereka akan melakukan high pace basket? Tapi itu akan melemahkan nii-san...' pikiran Ryu mulai menyebar memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Ryu-chan?" dari belakang Ryu terdengar suara seorang anak laki-laki yang sangat dikenalinya.
"Masa—mune—senpai?" lirihnya.
.
.
Flashback
"Apa yang kalian lakukan!?" Masamune berlari mendekat kearah mereka. "Apa yang kalian lakukan pada Ryu-chan?" tanyanya dengan menggeram. "huh... seharusnya kami yang tanya, kenapa kau mau mengurusi anak kecil yang menyusahkan seperti dia? Bukankah kau punya banyak hal yang lebih penting daripada meladeni anak kecil semacamnya?" kata anak perempuan itu sambil membuang sisa rambut Ryu dari tangannya. "Natsuki, jika untuk 'date' kita yang waktu itu aku minta maaf karena telah membatalkannya aku—" "Masamune, kau ada di rumah sakit memeriksakan kakimu 'kan. Salah satu tulang dari kakimu retak jadi kau memeriksakannya untuk menentukan tanggal operasimu 'kan." potong anak perempuan bernama Natsuki itu "Retak?" Suara kecil Ryu menyahut pernyataan Natsuki. "Iya, retak. Dan semua itu karena Masamune harus menyelamatkanmu yang terjatuh dari tangga di taman. Semuanya salahmu..." mata Ryu berkaca-kaca tak tahu harus berkata apa, perasaan bersalah menyelimuti hatinya. "Maaf!" dengan sepatah kata itu Ryu berlari kencang dari tempat tersebut tanpa menghiraukan panggilan Masamune. Tapi dia menyesal karena dia melakukannya, menyesal karena terlalu lemah sehingga hanya bisa berlari dan berlari.
Flashback end
.
.
"Lama tak jumpa, Ryu-chan." Masamune—Oda Masamune—seorang senpai yang sering menemaninya bermain basket di taman saat dia kelas 6 SD kini ada dihadapan Ryu. "a—iya, lama tidak bertemu, senpai" balasnya agak canggung. "Apa kau sehat-sehat saja? Apa kakimu sudah sembuh?" tanya Masamune pada Ryu. "i—iya, aku baik-baik saja. Aku juga melakukan rehabilitasi secara teratur. Senpai sendiri? Bukankah senpai lebih parah daripadaku." Balasnya dengan memelankan suara pada bagian akhirnya. "Tentu saja aku baik-baik saja. Kalau tidak mana mungkin aku ikut dengan tim basket Kaijo. Tapi, yah aku bench sih, hahaha..." balas Masamune dengan tawa. "Maaf, senpai..." Ryu menundukkan kepalanya. "Bukan salah Ryu-chan kok. Jangan dipikirkan, aku ke atas dulu, ya?" dengan itu berakhirlah percakapan mereka.
-Ryu POV-
Permainan basketnya telah berjalan selama tiga menit tapi pace-nya benar-benar terlalu cepat. Jika keadaan seperti ini terus Seirin akan kalah. Kurasa seharusnya Seirin segera mendinginkan kepala Kagami-senpai yang sepertinya terlalu bersemangat untuk mengalahkan Kise-senpai. Namun, semakin keras Kagami-senpai bermain, maka semakin keras juga balasan yang akan diberikan Kise-senpai. Semua gerakan yang dilakukan Kagami-senpai ditirukan oleh Kise-senpai dengan ketajaman yang lebih bagus. Terlebih lagi stamina Nii-san akan cepat habis, dan lagi misdirection-nya juga tak akan berfungsi lama.
Tampaknya Nii-san juga sependapat denganku, dia mendekati kaptennya dan mengagetkannya.
"Kau lagi!? Lagipula, kenapa kau berbicara padaku?" tanya si kacamata oval itu—yang kuketahui bernama Hyuga Junpei.
"Aku ingin time out. Dan juga high pace ini tak baik untuk tubuhku." Jawab Nii-san.
"he... kenapa kau begitu lemah?" balas Hyuga-san.
"Lalu, kita harus mendinginkan Kagami-kun sebentar. Semakin keras Kagami-kun bermain, semakin keras pula Kise-kun bermain. Jika tetap seperti ini, kita akan kewalahan untuk mengimbanginya dan itu hanya akan menambah buruk posisi kita." Pikiranku sama dengan apa yang dikatakan oleh Nii-san.
Akhirnya Seirin melakukan time out, namun semua pemain Seirin terlihat sangat kelelahan walau hanya bermain selama lima menit. "Apa yang kalian lakukan, hah!? Berapa banyak poin yang kalian biarkan masuk!? Apa defense kalian tidur? hah?" pelatih dari Kaijo terlihat marah dan berteriak teriak. Berisik sekali si gendut itu! Memangnya semudah itu, high pace game itu memerlukan fokus yang lebih dari para pemain yamg ada di court. Mana mungkin mereka dapat berubah dari offense ke defense secara cepat.
Disisi lain, di bench Seirin, Aida Riko-san memulai rapat strateginya. "Pertama Kise-kun, ne."
"Kagami bahkan tak dapat mengatasinya. Apa kita harus menempatkan seorang lagi?" kata Hyuga-san.
"Na—tunggu dulu...dasai (Na—chotto mattekure... dasai)." he? Dasai? keigo? Terdengar aneh setelah Kagami-senpai memakai 'kure' dan diralat menjadi 'dasai'. Yah, kalau dipikirkan dalam situasi ini menambahkan guard lagi ke Kise-senpai tak akan berguna. Jikalau mereka bisa menahannya, Kaijo bukan hanya ada Kise-senpai saja. Pemain yang lainpun akan bertindak dan bila terdesak salah satu guard Kise-senpai akan terjun. Pada saat itu terjadi Kise-senpai akan lolos.
"Tidak perlu, ada satu cara." Potong Nii-san. Dari bench Kaijo aku dapat mendengar Kasamatsu-san berkata. "Apa maksudmu keseimbangannya akan runtuh?"
"Dia punya kelemahan." Disaat yang bersamaan Kise-senpai dan Nii-san berkata hal yang sama.
"Kelemahan?" tanya Riko-san. "Apa? Sehausnya kau mengatakannya lebih du—" sebelum Hyuga-san menyelesaikan perkataannya Nii-san memotong. "Tidak, sebenarnya aku tidak terlalu yakin untuk mengatakan ini adalah kelemahan. Lalu, aku minta maaf. Ada satu masalah lagi. Karena high pace yang tidak terduga, keefektifanku sudah berkurang."
Seperti yang kuduga hal tersebut akan terjadi. Hehe, dan lagi atas hint yang diberikan Nii-san aku bisa tahu apa yang seharusnya dan dapat dilakukan dalam posisi ini. Lamunanku buyar ketika terdengar teriakan Riko-san yang sedang marah dan 'menghukum' kakakku. Uwaah—pasti sakit, hehehe.
Gamenya dimulai kembali, Seirin melakukan box-and-one. Kurasa mereka berusaha menghentikan Kise-senpai, tapi seperti yang kupikirkan tadi Kaijo tidak terdiri dari Kise-senpai saja. Pemain yang lainnya pun tak akan kalah kuatnya. Dan seperti yang kuduga, Kise-senpai melakukan pass ke Kasamatsu-san dan dia mencetak three point. Posisi Seirin makin lagi para pemain Kaijo sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Nii-san. Jika tidak segera serius bermainnya, Seirin akan kalah.
"Kenapa kau tak mengakuinya saja? Terlampau sangat awal untukmu untuk mengalahkan Kiseki no Sedai sekarang ini." Kata Kise-senpai.
"Apa katamu?" balas Kagami-senpai.
"Perbandingan angka dalam pertandingan kita memungkinkan untuk menjadi lebih besar, tapi tak akan mungkin mengecil. Lebih dari formasi atau strategi, untuk basket itu mengandalkan tubuhmu. Jadi, basket itu adalah olahraga yang mementingkan ukuran. Perbandingan kekuatan Seirin dengan kami itu terlalu banyak. Hanya kau saja yang dapat melawan kami, tapi aku sudah tahu seberapa jauh kemampuanmu. Kuakui kau mempunyai potensi, tapi potensimu terlalu dibawahku. Tak peduli teknik apa yang kau lakukan, dengan sekali melihat aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Kau bisa mencoba, tapi kau tak akan bisa mengalahkanku. Yah, dunia ini tidaklah mudah." Setelah beberapa saat setelah mendengar ocehan (read:omong kosong) dari Kise-senpai, Kagami-senpai tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, maaf. Aku hanya senang saja." "senang?" Kenapa senang? Kalau lucu iya. Aku juga ingin menertawakannya, setiap hal itu selalu mempunyai dua sisi. Hal itu juga berlaku untuk Kise-senpai, tidak selamanya setiap game yang dimainkannya akan selalu menang. Dan lagi menurutku sifat egois itu malah akan membawa malapetaka.
"Sudah lama seseorang mengatakan hal itu padaku. Biasanya aku mendengarnya disana." Kata Kagami-senpai.
"Disana?" Tanya Kise-senpai. "Amerika." He? Kagami-senpai itu returnee? Aku sama sekali tidak tahu.
"Aku beripikir bermain basket setelah kembali kesini tidaklah begitu sulit. Mendengarmu mengatakan hal itu, membuatku bersemangat. Hidup itu adalah tantangan. Jika tak ada orang yang kuat tak akan ada artinya. Tak apa-apa jika tak memungkinkan untuk menang. Kita masih baru mulai, kan. Bukankah terlalu cepat kau mengatakan kalau kau sudah menang? Berkat kau aku tahu... kelemahanmu." Akhirnya sadar juga dia.
"Aku tahu itu bukanlah hal yang mudah untuk kau ucapkan. Sekali lihat dapat kau lakukan? Lalu jika kau tak melihatnya? Lagipula, melawan orang yang memang dari awal susah terlihat, tidaklah mungkin. Tak peduli betapa atletik tubuhmu, kau tak akan bisa copy invisible basket style. Dengan kata lain, dia kan kelemahanmu." Kata Kagami-senpai dengan bagian terakhir menekan kepala nii-san.
Beneran pendek, aku sama sekali gak puas TT_TT.
Maaf. juga untuk penamaan Oda Masamune, aku ambil dari Oda Nobunaga dan Date Masamune. Salah seorang (Dua orang?) prajurit Jepang, jika ada yang tidak suka ataupun sakit hati, sekali lagi saya mohon maaf.
R&R please!
