DECLAIMER : Naruto hanyalah milik Keira Miyako *digetok Masashi-sama*, a-ano maksudku milik Masashi Kishimoto *ngelus-ngelus kepala*
PAIRING: SasuHina
Rated: T
Warning: OOC banget, Gaje, terinspirasi dari manga yang aku baca, typo bertebaran, siapkan ajah ember wat menampung muntahan anda sekalian.
::^^:: HAPPY READING ::^^::
Fajar telah terbit, sinar mentari dengan perlahan menyeruak masuk kedalam ruangan minimalis yang bercat violet itu. Membuat seorang gadis yang masih bergumul didalam selimut sedikit terganggu. Ia kemudian menarik selimutnya sampai menutupi wajahnya. Gadis yang diketahui bernama Hinata itu pun kembali melanjutkan mimpinya.
...
...
Alarm dari jam wekernya berbunyi, mengintrupsi kegiatan tidurnya saat ini, Hinata berdecak kesal. Tangannya bergerak menuju sumber suara itu. Ia buang jam wekernya kesembarang tempat, lalu ia melanjutkan kegiatan tidurnya lagi. Hm, benar-benar nih heiress hyuuga...
Setengah jam kemudian Hyuuga junior masuk kedalam kamar Hinata. Hanabi, adik Hinata ingin membangunkan kakak kesayangannya itu dari mimpi indahnya. Biasanya sih yang membangunkan Hinata itu Neji, kakaknya. Namun nampaknya Neji sudah berangkat Kuliah.
"Nee-chan, bangun," Seru Hanabi ketika ia sampai di tepi ranjang Hinata.
"..." tak ada respon dari Hinata.
"Nee-chan, ayo bangun," bujuk Hanabi lagi.
"Mmmh" Oke kali ini memang ada respon dari Hinata, namun Hinata tak kunjung beranjak dari tempat tidurnya itu. Hanabi yang sudah gemas pun akhirnya memutuskan untuk menarik selimut Hinata.
"Mmh, Hanabi nanti..." Respon Hinata yang mulai terganggu karena selimutnya ditarik Hanabi.
"Nee-chan ini sudah jam berapa? Ayo bangun, nanti kau terlambat kesekolah," kata Hanabi lagi.
"Hm, memangnya ini jam berapa?," tanya Hinata setengah sadar.
"Jam enam Nee-chan, ayo bangun." Seru hanabi sambil geleng-geleng melihat tingkah kakaknya itu. Hening sejenak...
"APAAAAA?," seru Hinata sambil membelalakkan mata.
"Eh monyong, eh apa, eh monyong eh," Kata Hanabi sambil menutup mulut. Nampaknya latahnya kumat karena kaget dengan teriakan kakaknya itu.
"Hana-chan, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?" Tanya hinata kesal sambil beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil handuknya. Setelah itu ia pun berlari menuju kamar mandi dengan bunyi "Gedubrak, Brukkk" yang mengiringi kepergiannya *?*. Hanabi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kakak kesayangannya itu.
"Nee-chan, aku kan sudah membangunkanmu dari tadi. Tapi kau tidak mau bangun," Seru Hanabi ketika ia melewati depan kamar mandi pribadi Hinata. Setelah itu bungsu Hyuuga itu pun keluar dari kamar Hinata.
Hinata's Pov
Hua, aku telat. Bagaimana ini? Padahal kan hari ini niatnya aku mau berangkat lebih awal supaya Sasuke tidak menjemputku. Hiks...Hiks... rencanaku gagal gara-gara jam weker sialan itu, kenapa nggak bunyi coba? (weh? Hinata kau kan tadi melempar jam weker mu kesembarang tempat. Jangan salahkan jam weker yang tak berdosa itu donk) . Huh gimana ini? Kalau Sasuke sampai datang menjemput, lalu Ayah melihatnya bisa jadi perang dunia ke tiga nih. Kenapa? Karena dari dulu Ayahku terlalu overprotektif dengan ku. Ia tidak suka kalau ada cowok yang dekat dengan ku. Aku tak pernah bercerita tentang cowok kepada Ayahku. Bahkan dulu ketika aku ada masalah dengan yah kau tau lah Naruto, Ayahku tak tau. Sebenarnya Neji-nii juga overprotektif sih, namun sikap overprotektif Neji-nii masih lebih mending dibandingkan Ayahku. Huft, bagaimana ini? Ini semua salahku, kenapa aku nggak dengar Hanabi membangunkanku? (Nah gitu donk Hin, introsperksi diri. Hihihi *digaplok reader*). Padahal kan kemarin aku sudah berencana bangun pagi untuk menghindari Sasuke. Aku merutuk diri selama aku melakukan ritual mandi ku.
Flashback
"Hn, jadi ini rumahmu? Besok aku jemput," Ucap Sasuke setelah mereka sampai di rumahku. What the hell? Apa-apaan dia, seenaknya memutuskan.
"A-apa?," kucoba untuk menanyakan sekali lagi untuk memastikan apa yang kudengar itu benar.
"Kau tuli ya?,"namun ejekan itulah yang aku dengar.
"Ti-tidak, bukan begitu. Tapi kenapa berangkat juga bareng sih?" tanyaku mulai emosi.
"Hn, jaa~" Ucap Sasuke sambil berlalu. Arghhh, rasanya ingin ku jambak rambut pantat ayamnya itu.
"Hei, jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara. Hei" Teriakku sebal. Oh my, oh my... gimana nih? Kalau sampai besok dia menjemputku lalu ketauan Ayah? Bisa gawat nih. Ayo Hinata berfikirlah...
"Aku tau," teriakku senang. Haha kau memang pintar Hinata, kau tinggal bangun pagi dan pergi mendahuluinya. Itu mudah kan? Ya, itu mudah sekali, hahaha.
End of flashback...
Setelah selesai mandi, aku segera berlari menuju lemari pakaian. Segera saja kupakai bajuku. Kemudian kuraih Dasi yang tergantung di Hanger baju lalu kupakai asal-asalan. Setelah itu aku mengambil sisir dan kusisir ranbut indigo panjangku. Nah aku siap, kemudian aku berjalan menuju pintu kamar. Eh tunggu dulu, kenapa ada yang kurang ya?. Untuk beberapa detik aku memikirkan apa yang kurang dan ternyata aku lupa mengambil tas ku. Ck, Hinata kenapa kau pikun sekali? Rutukku dalam hati. Setelah memastikan tidak ada yang kurang akupun berlari menuju ruang makan.
"Ohayou Ayah, Hanabi-chan? Ohayou- Eh Neji-nii mana?," sapa sekaligus tanyaku.
"Hn, ohayou Hina-chan. Neji sudah berangkat kuliah," jelas Ayah yang kujawab dengan "Oh".
"Ne, Hana-chan, Ayah. Hinata berangkat dulu ya. Jaa~" Seruku sambil menyambar rotinya.
"Nee chan nggak sarapan?" tanya Hanabi.
"Enggak," teriakku yang sudah sampai di depan pintu.
End of Hinata's POV
Setelah Hinata berpamitan dan mengenakan sepatunya, ia pun melangkah keluar rumah sambil tergesa-gesa. Roti yang tadi ia bawa masih ia gigit dimulutnya. Tangan mulusnya membuka gerbang depan rumahnya. Dan seketika itu lavendernya membelalak. Ternyata ada sesosok Cowok berambut emo pantat ayam yang bernama Sasuke tengah menyandarkan badannya di tembok samping gerbang. Telinganya ia selipkan I-pod putih miliknya, lalu tangannya ia masukkan kedalam saku. Pemandangan seperti itu bisa membuat gadis-gadis klepek-klepek. Namun bukan itu yang Hinata kagetkan, namun kenapa ia bisa sampai lebih cepat? Ataukah Hinata yang terlalu lambat?.
"S-sasuke," ucap Hinata terbata.
"Hm? Sudah datang ya?," ucap Sasuke sambil melepas I-podnya.
"Kenapa kau di-disini?," oke pertanyaan bodoh memang. Sudah jelaskan Sasuke kesini mau menjemputmu? Kenapa kau masih bertanya?. Namun hanya itulah yang terbesit dikepala Hinata. Saking kagetnya sampai ia tak bisa berkata-kata lagi.
"Keh, kau pikun ya? Sudah jelas aku kesini mau menjemputmu," kata Sasuke.
"Be-benarkah?," Sekali lagi itu adalah pertanyaan bodoh, Hinata. Bisakah kau mengatakan hal lain selain itu?
"Hah, mungkin kepalamu harus diperiksakan kedokter," ejek Sasuke.
"A-ah, kalau begitu ayo berangkat," ucap Hinata yang sudah mulai sadar dari linglungnya. Ia sadar kalau sampai ia berlama-lama disini nanti akan bahaya.
"Hn," kata Sasuke. Mereka pun berjalan dengan diselimuti keheningan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya disekolah...
"Kyaa, Hinata-hime, aku patah hati..."
"Sasu-kunnnn~"
"Gyaaa, serasiiiiii," Begitulah teriakan-teriakan yang terdengar disepanjang koridor sekolah. Hinata hanya menghela nafas melihatnya. Sasuke dan Hinatapun menuju kekelas mereka dengan bergandengan tangan seperti kemarin. Sesampainya dikelas , Hinata dan Sasuke duduk dibangkunya masing-masing. Lalu beberapa saat kemudian bel berbunyi. Dan kegiatan belajar, mengajar pun dimulai.
.
.
.
.
Kriiiing
Bel sekolah berbunyi, menandakan pelajaran telah usai. Anak-anak KHS mulai berhamburan keluar kelas. Hanya tersisa dua makhluk di kelas 12 A 1, yaitu Hinata dan Sasuke. Hinata memang lebih suka keluar terakhir, supaya tidak berdesak-desakan. Sasuke pun begitu. Setelah mengucapkan sampai jumpa dengan Tenten dan Ino, Hinata hanyalah bedua dengan Sasuke.
"Hinata, ayo pulang," ajak Sasuke kepada Hinata. Hinatapun hanya mengangguk lalu mulai beranjak dari kursinya. Mereka pun menyusuri koridor sekolah bersama. Sesampainya diluar sekolah, Hinata heran karena Sasuke berbelok ke arah sebaliknya dari arah rumah mereka. Ya, rumah Hinata dan Sasuke seharusnya berbelok ke kiri, namun Sasuke malah berbalik kearah sebaliknya. Hinata pun bertanya.
"A-ano, kenapa ka-kau berbelok ke kanan? Rumah kita ka-"
"Aku tahu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat," potong Sasuke.
"Kemana?," tanya Hinata penasaran.
"Nanti kau juga tahu," Ucap Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
"Nani? Konoha park? kenapa kesini?," tanya Hinata kepada Sasuke setelah mereka sampai ketempat tujuan. Ternyata Sasuke mengajak Hinata ketaman bermain "Konoha Park". Hinata hanya bingung melihatnya. Bukannya menjawab Sasuke malah menyeringai, lalu menarik tangan Hinata masuk kedalam Konoha Park.
"Hei, jawab aku Sasuke, hei..." teriak Hinata sambil memberontak meminta Sasuke untuk melepas tangannya. Sasuke hanya memutar onyxnya. Ia bosan dengan ocehan Hinata. Akhirnya ia menjawab pertanyaan Hinata.
"Tch, kau berisik sekali. Aku cuma mau mengajakmu jalan saja, ya bisa dibilang 'kencan'," ucap Sasuke menyeringai. Hinata hanya merona mendengar ucapan Sasuke itu.
"Ke-kencan?," jantung Hinata berpacu kencang. Tak pernah ia bayangkan suatu saat ia akan berkencan. Karena selama ini Hinata tak pernah merasakan bagaimana yang namanya kencan. Ayahnya terlalu overprotektif kepada Hinata.
"Hn," ucap Sasuke cuek sambil kembali menarik tangan Hinata untuk berjalan kedalam. Hinata pun hanya menurut saja.
'Oh kami-sama? Ada apa ini? Kenapa jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat mendengar ucapannya?. Kencan? Yang benar saja? Bukankah kita hanya pura-pura pacaran? Bukankah diantara kita tidak terjalin ikatan cinta? Tapi mengapa ia bisa bersikap seperti itu?' batin Hinata. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di hati Hinata. Namun tak ada satupun jawaban yang bisa menjawabnya. Ia kaget dan heran dengan perlakuan Sasuke. Yah, wajar saja. Mereka kan hanya pura-pura pacaran? Tapi kenapa sampai segitunya?. Yah author pun juga bingung dengan jalan pikiran Sasuke. Hanya Sasuke lah yang tahu apa yang akan ia perbuat.
"Sa-Sasuke? Kita kan hanya pura-pura? Ke-kenapa-..."
"Karena aku ingin," potong Sasuke cepat. "Sudahlah jangan cerewet, kita jalani saja," Kata Sasuke cuek sambil menaruh tangannya disaku. Hinata hanya diam, ia tidak berniat meneruskan pembicaraan. Akhirnya mereka mencoba wahana-wahana yang ada di tempat itu, mulai dari yang biasa saja sampai yang memacu adrenalin. Setelah satu setengah jam mereka ber senang-senang -mencoba wahana satu persatu- mereka pun capek. Mereka memutuskan untuk duduk di bangku panjang di bawah pohon Sakura, tempat beristirahat sejenak. Karena Hinata haus, Sasuke memutuskan untuk membelikan Hinata minum. Ia berjalan menuju mesin minum otomatis, sementara Hinata duduk di bangku panjang itu sambil meregangkan otot.
Sasuke berjalan menuju mesin penjual minum otomatis, sesampainya disana ia segera mengeluarkan dua buah koin senilai 50 ¥ (gak tahu harga mata uang ==", anggap saja 50 yen itu 3000). Setelah itu ia masukkan koin itu kedalam tempat koin pada mesin itu. Sasuke kemudian memilih jus jeruk untuk Hinata dan jus tomat untuk Sasuke. Ketika ia membalikkan badan ia melihat seseorang dibelakangnya yang sedang antri mendapatkan giliran memakai mesin itu. Sasuke nampak mengingat-ingat siapa cowok pirang yang ada didepannya itu. Kulitnya coklat dipipinya terdapat guratan-guratan seperti kumis kucing. Wajahnya cukup tampan-namun masih tampanan Sasuke-.
"Sasuke ya?," sapa orang itu sambil menunjukkan cengiran rubahnya. Saat itu Sasuke teringat siapa cowok itu, ia pun balik menyapa orang itu.
"Hn? Naruto?," kata Sasuke.
"Haha, lama gak ketemu? Kau lupa dengan ku ya Sas? Jahat sekali padahal dulu kita sahabatan kan?," kata Naruto sambil mengerucutkan bibirnya-pura-pura sebal-.
"Hn, aku tidak lupa," elak Sasuke.
"Haha, kau masih seperti Sasuke yang dulu," ucap Naruto sambil nyengir.
"Ngomong-ngomong kenapa beli jus dua?," tanya Naruto lagi.
"Bukan urusanmu, aku pergi dulu," kemudian Sasuke berjalan menjauhi Naruto. Pria blonde itu pun mengejar Sasuke.
"Hei, tunggu dulu. Apa kau tidak kangen dengan ku?," tanya Naruto sambil berjalan dibelakang Sasuke.
"Tidak," jawab Sasuke singkat.
"Jahat," kata Naruto.
"Ini jusnya, maaf lama," ucap Sasuke ketika sudah sampai didepan Hinata.
"Tidak apa-apa," ucap Hinata seraya berdiri dan mengulurkan tangan mengambil kaleng yang berisi jus itu. Ia tak sadar kalau ada orang lain disamping Sasuke.
"Wah, Teme... Siapa dia? Manis sekali? Kenalin donk, " kata Naruto tiba-tiba. Seketika itu Hinata mendongak melihat ke sumber suara. Lavendernya membulat.
'D-dia...' batin Hinata. Lavendernya berkaca-kaca, ia pun menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Sasuke yang menyadarinya langsung mengambil tindakan. Di peluknya sosok gadis manis berambut indigo itu.
"Maaf, pacarku ini pemalu. Lagian aku juga nggak mau mengenalkannya padamu Dobe," kata Sasuke ketus.
"Heh, kenapa? Pelit kau Teme," Kata Naruto sebal. Tak lama kemudian terdengar suara ponsel berdering, ponsel si blonde Naruto. Ia pun segera mengangkat teleponnya.
"Ah, iya Sakura-chan... Aku sedang mengambil minum... ne, mesinnya banyak yang pakai, jadi antri... hei jangan marah donk... iya aku kesana...iya," setelah itu ia menutup ponselnya lalu berpamitan pada Sasuke.
'Ternyata ia masih dengan Sakura ya?' batin Hinata.
"Sas, aku pergi dulu ya, pacarku sudah menunggu. Lain kali kita bicara lagi, jaa~" pamit Naruto.
"Hn," balas Sasuke. Hinata hanya diam didalam pelukan Sasuke.
"Hei, kau tak apa kan?," tanya Sasuke pada Hinata.
"..." tak ada jawaban yang terlantun dari bibir sang gadis, melainkan hanya anggukan.
"Kalau mau nangis, tetap begini saja," kata Sasuke menenangkan.
"K-kenapa aku harus nangis?" tanya Hinata dengan semburat merah yang tergores dipipinya.
"Karena kamu suka dia kan?," goda Sasuke.
"Kok tahu?" tanya Hinata malu.
"Soalnya demi dia, kamu mati-matian membuat catatan yang mudah dimengerti kan? Lalu setiap kau mengobrol dengannya, kau selalu menunduk dengan wajah tersipu dan mendadak gagap," tanya Sasuke.
"Memangnya itu jadi gosip yah?" tanya Hinata lagi.
"Nggak, tapi kalau diperhatikan pasti langsung tahu," ucap Sasuke sambil membuka segel kaleng jusnya, lalu menegak jus tomatnya. Hinata hanya diam tak mampu berkata-kata.
Hinata's POV
Kami-sama, kenapa aku berdebar-debar? Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa aman saat dia memelukku? Aku merasa terlindungi, rasa sedihku ketika melihat Naruto pun hilang. Aku merasa nyaman sekali didekatnya.
"Nggak, tapi kalau diperhatikan pasti langsung tahu."
Kata-katanya ini seolah membiusku, padahal sahabatku sendiri nggak sadar. Aku di masa SMP sama sekali nggak meninggalkan kesan pada siapapun. Tapi...
"Tapi kalau diperhatikan pasti langsung tahu."
Dia ternyata memperhatikanku, didalam pikirannya ada aku, ah tidak-tidak. Tidak mungkin Hinata. Jangan mengada-ada. Aku segera menghapus pikiran anehku itu jauh-jauh.
"Jadi nangis nggak nih?," tanya Sasuke lagi. Aku perlahan tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak untuk apa menangis demi orang macam dia? Haha tidak penting," ucapku menghibur diriku sendiri.
"Nggak usah malu-malu, kalau mau nangis boleh kok, sini..." ucapnya sambil merentangkan tangan.
"Nggak usah," ucapku sambil berjalan pergi. Ia pun berlari mengejarku. Haha, ternyata dibalik wajah (sok) coolnya itu ia pandai bergurau juga. Dan hari ini terasa sangat menyenangkan bagiku. Meski aku harus bertemu dengannya lagi, tapi tak apa asal ada Sasuke.
TBC
Wuah, akhirnya selese juga *ngelap keringet*. Ne, bagaimana chap ini? Sudah panjangkah? 9 halaman loh *bangga-digetok reader-*. Biasanya Eira kalau nulis paling Cuma 5 atau 6 halaman dengan words:kurang lebih 1600. Nah sekarang 2000 lebih saudara-saudara *bangga banget lo?*. Hm tapi maaf yah kalau kurang memuaskan, kalau mungkin makin panjang malah makin membosankan, atau mungkin karena alurnya kecepetan. Gomeeeeeeeeeennnnnnnnnn banget yah... yah...? *puppy eyes*. Kalau memang begitu adanya bilang ajah langsung lewat kotak ripyu yah? Tapi jangan dalam bentuk flame yah? Soalnya Eira gak mau ngurusin flame yang gak membangun. Eira Cuma butuh kritik dan saran dari senpai sekalian, hehe. Eh iyah, karena terburu-buru ngupdate. Chap kemaren lupa Eira teliti, dan ternyata... WAOW... TYPOnya bertebaran bagai bintang dilangit. Weh...weh...==", kalau chap ini masih ada TYPO bilang ama Eira yah? soalnya Eira kurang teliti kalau dirasa typo udah gak ada eh gak taunya masih ada. Hehe... Yosh, akhir kata thanks for ripyuuuu... Doumo arigatho gozaimasuuuu... ^_^. Maaf lagi gak bisa bales ripyu satu-persatu, soalnya pulsa modem menipis, kebanyakan buat download sih :P hehe... Gapapa kan?
And now, time for...
R
I
P
Y
U
Please,,,, ^_^
-Keira-
