Chapter ini didedikasikan untuk Elly Yanagi Hime yang nagih saya lewat tiga kali review buat update. Enjoy this, Yanagi-san!

.

.

.

Bleach

© Tite Kubo

.

.

.

Between Us

© sacha sacchi

.

.

.

"Kami hanya saudara tiri, kan? Sah-sah saja jika kami menjalin hubungan." Nyatanya, mereka benar-benar tak seharusnya seperti ini karena sebuah kenyataan pahit menanti untuk menyambut mereka...

.

.

.

Perempuan itu mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai yang dingin. Sesekali diliriknya jarum-jarum kecil yang berputar pada arloji bermerek di pergelangan tangan kirinya sambil mengipas-ngipas menggunakan tangan kanannya. Kadang bibir tipisnya mengucapkan 'iihh' dengan nada jijik begitu melihat sosok tikus-tikus cilik ataupun kecoak-kecoak nakal yang berkelebatan di hadapannya. Wajar memang, mengingat sekarang ia berada di sebuah gedung tua yang sudah usang tak terpakai.

Ia melirik arlojinya sekali lagi sambil mengipas-ngipas menggunakan tangan kanannya, lalu mendengus kesal. Diambilnya handphone model flip di dalam tas selempangnya, lalu bergerak memencet beberapa tombol di atasnya.

"Halo? Mila Rose?" ia mulai berbicara dengan nada tak sabaran.

'Ya, Sunsun?' ucap suara di seberang sana.

"Kau di mana, sih? Aku hampir mati di sini tahu," ia—Sunsun mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

'Aku masih berada di dalam mobil Apache, kami dalam perjalanan ke sana. Sebentar lagi kami sampai.'

Sunsun mengibaskan rambut panjangnya. "Oh, baguslah si penghianat itu menyadari kesalahannya dan kembali bergabung bersama kita. Suruh ia menyetir dengan cepat. Lelet banget, sih. Aku tunggu di gerbang, di dalam sini sama buruknya dengan mati," Sunsun melangkah keluar.

'Aye aye, miss.'

Sunsun lalu menutup handphone-nya.

.

.

.

"Sunsun menelpon—" Mila Rose berujar sambil memakukan fokus pada jalan raya, "—kau disambut baik. Selamat." Ia tersenyum kecil. Sedangkan Apache yang duduk di jok pengemudi bernafas lega, jika kau perhatikan dengan baik, maka akan terlihat sebutir air mata bertengger di pelupuknya.

"Terima kasih, kalian berdua. Ternyata aku hanya bisa hidup jika bernanung bersama kalian," ia berkata dengan nada ceria sambil menoleh ke arah Mila Rose. Mila Rose hanya tertawa pelan menanggapinya.

Daun telinga Soifon seolah digelitiki saat mendengar tertawaan dari dua orang wanita. Ia membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya agak kabur, rasa nyeri pun belum seutuhnya hilang dari tengkuknya. Soifon agak bingung juga menyadari ia berada di sebuah mobil. Dirangkainya rantai-rantai peristiwa yang terjadi sebelum ia berada di mobil ini, dan ia menemukan satu hal: ia diculik.

Soifon segera bangkit untuk duduk. Kalau bisa, ia ingin segera meloncat dari mobil ini. Sayangnya kedua tangan dan kakinya diikat erat, mulutnya pun dibungkam dengan lakban hitam. Soifon merengut kesal, ia menggerakkan tubuh mungilnya ke kanan dan ke kiri. Nihil. Sia-sia saja usahanya tersebut. Soifon pun berhenti meronta.

"Sudah lelah, Nona?" Soifon baru sadar, jika ia diculik dan berada di sebuah mobil, tentu ada penumpang lain sebagai pengemudi dan pengawasnya, bukan? Soifon segera menelengkan kepalanya. Ia mendapati sesosok wanita berkulit kecoklatan dengan rambut ombak yang coklat pula sedang menyeringai memperhatikan dirinya yang merengut di jok belakang. Soifon ingat, ia pernah bertemu dan berdebat kecil dengan wanita ini. Kalau tak salah, waktu itu Ggio menyebutnya Mila Rose. Ya, Mila Rose.

Tunggu, kalau di sini ada Mila Rose berarti ada cewek ular dan cewek tomboy itu, dong?

Soifon mengalihkan perhatiannya pada jok pengemudi. Bingo! Ada cewek tomboy itu di sana. Soifon masih mengingat persis bagaimana cewek dengan iris berbeda warna tersebut menunduk dan bergetar saat ditanya oleh cewek ular menyebalkan itu. Tiba-tiba cewek tomboy, yang—tidak salah—bernama Apache itu melihat ke arah spion tengah dimana refleksi Soifon jelas terpantul. "Oh, hai, Nona pacarnya Ggio. Kita ketemu lagi," sapanya sambil melambaikan sebelah tangan. Soifon membuang muka.

Kalau mereka berdua berada di mobil ini, berarti komplotan mereka yang menculik dirinya?

Soifon mendecih. Sial, batinnya. Baginya kurang kerjaan sekali mereka menculik dirinya yang sebenarnya bukan pacar asli Ggio. Orang tolol, umpatnya.

"Sabar ya, Nona. Sebentar lagi kita sampai," si Mila Rose yang sok seksi itu mengedipkan sebelah mata padanya.

"Dan kita akan bersenang-senang," dan Apache menyeringai kecil.

"Dengan idemu tentunya, sayang. Brilliant sekali," Mila Rose dengan genitnya mengelus pipi Apache.

"Suatu kehormatan untukku—" Apache tersenyum sinis, "—dan jangan berani-beraninya bertingkah bak lesbi denganku." Ia menatap Mila Rose dengan tajam. Mila Rose hanya tertawa menanggapinya.

Memangnya bisa apa mereka? Soifon membatin tak peduli.

.

.

.

Ggio asyik mendengarkan lagu lewat earphone-nya sambil melenggang santai sepanjang koridor. Jemarinya memainkan kunci motor miliknya. Ia melirik sekilas arloji hitam di tangan kirinya. 17.42. Ggio segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Moshi-moshi. Keluarga Luisenbarn di sini."

"Ini Ggio. Soifon sudah pulang?" Ggio memasukkan earphone-nya ke dalam ransel.

"Soifon-sama? Belum, Ggio-sama."

"Oh, oke. Mungkin ia tak mendapat kendaraan. Aku pulang telat, sekalian menjemputnya," Ggio meraih helmnya.

"Hai, Ggio-sama."

Ggio memutus sambungan teleponnya. Dimasukkan kembali ponsel flip tersebut ke dalam kantong. Ia memakai helmnya lalu menyalakan mesin motornya. Tak butuh waktu lama, motor putih tersebut sudah menembus ramainya jalan raya di senja Karakura.

.

.

.

Soifon tersungkur, meringis. Salah satu bagian kakinya terasa panas, lecet mungkin. Ditambah lagi pergelangan tangannya yang nyeri minta ampun gara-gara diikat erat tali. Kalau aku tidak terikat tali, sudah kubunuh kalian, serapahnya.

Mila Rose menepuk-nepukkan tangannya, membuat gerakan seolah membersihkan debu-debu yang menempel di sana. Di sebelahnya, Apache mengelap peluh yang membanjiri wajah putih mulusnya. Keduanya terlihat lelah, jelas saja. Bagaimana mungkin kedua gadis ini tak lelah mengejar serta menahan Soifon agar tidak kabur? God, kalau diibaratkan, Soifon itu seperti belut yang licinnya minta ampun!

"Jangan macam-macam, ya! Di sini kami yang berkuasa! Kalau kami mau, kau bisa jadi bangkai dengan satu tindakan!" Apache menendang tubuh mungil Soifon yang tergeletak di laintai.

Bullshit, pikir Soifon.

"Sudahlah, Apache. Panggil Sunsun," baru saja Mila Rose berujar demikian, datanglah sosok gadis cantik dengan membawa cardigan beraksen hitam serta perak. Jemarinya bergerak membetulkan rambutnya yang disanggul rapi, lalu mengibas-ngibaskan tangannya demi mengusir rasa panas yang setia meladeninya—hingga ia melepas cardigan -nya sehingga menampakkan tank top hijau lumutnya.

"Ke mana saja kalian? Aku hampir mati seperti cacing kepanasan, tahu," ia mencibir. Mila Rose mengangkat kedua alisnya sementara Apache menggaruk-garuk belakang kepalanya.

"Sori. Anak ini sedikit bandel tadi," Mila Rose mengibaskan rambutnya. Sok cantik, cibir Soifon.

Sunsun menghela nafas. Ia berjalan mendekati Soifon, menarik dagu gadis mungil itu, "Siapa namamu, gadis lancang?" Soifon mengalihkan arah pandangnya, sok cuek di hadapan Sunsun. Bodoh, mulutku masih dibungkam begini malah bertanya, batinnya.

Sunsun kesal juga. Ditariknya tubuh mungil Soifon dan segera dibantingnya di atas kursi. Ia merobek lakban hitam yang melekat di bibir Soifon. Soifon mengerang kecil. "Siapa namamu?" Sunsun bertanya lagi. Mila Rose dan Apache mengambil posisi, membuat mereka terlihat bagai segitiga yang mengelilingi Soifon.

"Bagaimana kau bisa tahu sekolahku jika kau tak tahu namaku?" ucap Soifon, berhasil membuat Sunsun kesal.

"Aku serius, dungu!" Sunsun membentaknya, kedua tangannya menggebrak masing-masing lengan kursi. Ia sudah cukup kesal dengan status Soifon yang merupakan pacar Ggio, dan sekarang gadis itu berani menantang omongannya?

"Kau pikir kau pintar?" shit! Sunsun mengayunkan telapak tangannya menuju pipi tirus Soifon. Seketika itu juga Soifon merasakan sedikit sensasi panas di pipi kirinya. Ia melihat Sunsun yang terengah-engah menahan emosi di depannya. Mila Rose dan Apache pun agak memperlebar jaraknya.

"Jawab aku!" Sunsun kembali melayangkan tamparan, kali ini di pipi kanannya. Tapi apa sih peduli Soifon? Ditampar berapa kali pun, ia tak akan mau menjawab. Yang butuh kan Sunsun, kenapa juga ia harus menjawab? Dan lagi-lagi ia hanya diam saat Sunsun kembali melayangkan tamparannya karena merasa dicueki.

Oke. Soifon tak tahu ada berapa tamparan yang singgah di pipinya. Yang ia tahu hanyalah ada cairan yang mengalir di sudut bibirnya. Dan ia—masih—tak peduli. Kembali diamatinya Sunsun yang terengah-engah—juga masih—menahan emosi di depannya. "Oke. Aku nggak peduli namamu. Yang ingin aku tahu, apa kau benar pacar Ggio?" Sunsun kembali menggebrak lengan kursi yang diduduki Soifon.

"Ya," hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir mungil Soifon, namun lebih dari cukup untuk membuat Sunsun melampiaskan sisa emosinya dengan sekali gerakan. Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Soifon, lebih keras dan lebih mempunyai 'rasa' dari tamparan yang sebelumnya. Dan Soifon tahu, gadis ular itu telah menjadi iblis ular begitu mendengar jawabannya.

"Kau, bitch!" Sunsun memakinya tepat di depan wajah imutnya. Tapi Soifon tak menghiraukannya, ia mengalihkan pandangannya pada Apache yang berada di sebelah kanannya. Yang tak disangka adalah, Sunsun dengan lancangnya telah memberikan beberapa tetes ludahnya di beberapa bagian wajahnya. Soifon reflek menoleh, ia marah. Tidak sopan sekali gadis ini, pikirnya. Tidak terima, ia balik meludahi wajah Sunsun.

Sunsun menjerit kecil sambil mundur ke belakang. "Lancang kau!" ia kembali menampar pipi Soifon, darah kembali menetes dari sudut bibirnya. Sunsun mendorong bahu Soifon, membuat gadis itu hampir jatuh dari kursinya. Sunsun berbalik. Ia melirik Mila Rose, "Lakukan, Mila Rose—" lalu ia melirik Apache, "—dan terima kasih atas infomu, Apache." Apache hanya tersenyum kecil, sedangkan Mila Rose mnyeringai.

"Kita akan bermain, Nona," Mila Rose membisikkan kalimat tersebut pada telinga Soifon.

"Jangan kaget, Nona," Apache melemparkan sebuah helm kepada Mila Rose, yang dengan sigap ditangkap olehnya. Apache sendiri memakai sebuah helm berwarna merah. Seketika itu juga firasat Soifon berubah menjadi buruk.

.

.

.

Peluh menghiasi wajah tampan Ggio. Pemuda itu tengah mencari Soifon di tengah ramainya malam Karakura. Ya, ia belum menemukan gadis cantik itu sejak kurang lebih dua jam lalu.

Dua jam lalu saat ia tiba di sekolah Soifon, tempat itu sudah kosong tanpa adanya murid-murid. Saat ia pergi mencarinya di rumah Momo dan Rangiku, mereka mengaku tak bersama Soifon saat pulang sekolah—bahkan mereka berdua berinisiatif mencari Soifon juga, namun dicegah oleh Ggio. Ggio juga sudah mengecek di rumahnya, namun nihil. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Soifon, namun tak ada jawaban sama sekali. Frustasi, Ggio pun menghentikan laju motornya. Ia meninju speedometer-nya.

"Ggio?" Ggio menoleh dan mendapati Tesla Lindocruz terheran-heran menatap dirinya. "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya.

Ggio menceritakan semuanya.

.

.

.

Soifon menatap kedua gadis ini bingung. Kenapa mereka memakai helm? Memangnya mereka mau ke mana?

Soifon melirik ke arah Sunsun. Seolah tahu apa yang ada di benak Soifon, ia pun berujar, "Apache mendapat info kalau kau phobia dengan motor, benar?" Sunsun menyeringai.

Oh, tidak.

.

.

.

"ADIKMU MENGHILANG?" teriakan Tesla sukses membuat Ggio mentutup kedua telinganya.

"Iya, baka. Dan sekarang aku sedang mencarinya. Lebih baik jika kau ikut membantuku daripada berteriak seperti itu," Ggio mencibir.

"Kau tahu? Apache bertanya padaku tentang apa yang kita bicarakan tadi pagi. Dan ia segera keluar dari kampus bersama cewek bohai itu begitu aku memberitahunya," Tesla menggunakan tatapan tajamnya. Ggio terbelalak. Sedikit banyak ia mengerti arah pembicaraan ini.

"Jam berapa ia pergi?" tanyanya. Ia mengguncang bahu Tesla. Iris emasnya berkilat tak sabar.

"Sekitar jam empat sore."

Damn! Ggio semakin terbelalak. Ditariknya kerah baju Tesla, "Kau. Ikut denganku." Tesla mengangguk yakin.

"Telepon Tia. Dia pasti tahu di mana gadis ular itu berada," Ggio menyalakan mesin motornya. Dipasangnya helm putih miliknya dengan rapat. Irisnya berkilat marah.

.

.

.

Soifon menelan ludahnya. Keringat dingin mulai mengalir menelusuri lekuk wajahnya. Di depannya, Mila Rose dan Apache masing-masing menunggangi sebuah motor. Deru motor tak henti-hentinya singgah di gendang telinga Soifon. Soifon dapat menangkap bayangan seringai di balik helm yang mereka pakai, serta senyum selamat tinggal yang disunggingkan Sunsun di sudut ruangan.

Tidak.

Mila Rose mulai maju ke arah Soifon. Soifon memejamkan matanya rapat-rapat. Tak merasakan apapun, ia membuka kembali kedua matanya. Mila Rose berputar mengelilinginya. Soifon masih belum tenang, detak jantungnya masih berdetak tak normal. Matanya bergerak mengawasi Mila Rose dengan tatapan yang menunjukkan seberapa besar rasa takutnya.

Di tengah aktivitasnya, Soifon mendengar deru motor lain. Ia kembali melihat ke arah depan, didapatinya Apache yang siap meluncur ke arahnya. Tenggorokan Soifon tercekat. Keringat dingin meluncur semakin deras. Jantungnya berdetak kencang berkali lipat. Berbagai bayangan mulai singgah di otaknya.

Apache siap meluncur.

Soifon melihat lelaki itu bersiap meluncur, dibelakangnya seorang gadis merangkul pinggangnya…

Apache menutup helmnya.

Lelaki itu menutup helmnya, tak menyadari Soifon yang mengawasinya bersama gadis lain…

Deru motor Apache memenuhi ruang daun telinga Soifon.

Soifon kecewa. Ia bersiap meninggalkan arena balapan itu…

Apache meluncur ke arah Soifon.

Soifon tak sanggup berteriak.

Lelaki itu meluncur, ikatan di pinggangnya semakin kencang…

Apache hendak melompati Soifon.

Soifon sudah tak sanggup lagi.

Lelaki itu melompat, tinggi…

Sayangnya sebuah kaki menyenggolnya…

Apache sudah setengah melompatinya.

Soifon benar-benar frustasi.

Soifon menoleh. Lelaki itu terhempas, jatuh berguling ke dalam jurang, dan ledakan…

"TIDAK!" Soifon menjerit. Wajahnya pucat. Pupilnya melebar, ketakutan. Badannya gemetar. Ia jatuh dari kursinya.

Sunsun menyeringai. Mila Rose dan Apache melepas helmnya dan ber-high five.

BRAKK

"MANA SOIFON?" Ggio datang dengan kemarahan yang meluap dalam dirinya. Irisnya berkilat marah menemukan sosok Sunsun yang menyeringai.

.

.

.

Halloo ^o^

Bagaimana kabar anda sekalian? Sacha kembali update Between Us, special buat Yanagi-san. Nih, Yanagi-san, yang kamu tagih, hehehe.

Sudah tau kan siapa yang pakai cardigan sama yang gebuk Soi, Zumi-san? Duduk Nanao ==

Nah, sekarang apa deskripsinya masih kurang, Shiori-san? Kalo iya, protes aja. Mumpung ada kotak protes di seberang XD

Dan buat Yumi-san, makassseeh banyakz #alay atas pelajaran yang telah kau berikan kepadaku, sensei #bungkukbadan. Apa di chap ini masih ada yang harus diperbaiki? Bantu saya yaa #geblekdibahasaindo. BTW, aku suka panggilan 'sacc'-mu X9

Oke, selengkapnya saya bales lewat PM yee~ Males banyak bacod di sini, ntar ditendang lagi sama readers ==

Maaf kalo banyak typo nggak jelas, ngebut nih bikinnya, kasihan sama Yanagi-san =='

So, mind to review? Sekalian benerin penulisan saya kalo bisaa~

-sacha sacchi-