Chapter 3 : Sasha dan Sheila
"Connie Springer?", Tanya Sasha kepada pemuda di sampingnya itu.
"Aku Sasha Braus, kau masih ingat?"
Pemuda itu menghiraukan Sasha. Ia tengah asyik menikmati air kelapanya. Sasha hanya terdiam karena Connie yang ia kenal tidak bersikap seperti ini.
"Sombong", ketus Sasha saat pemuda itu menoleh padanya dengan tatapan tidak suka.
"Sombong? Bukannya kamu ya, yang sombong?", balas Connie yang membuat Sasha bingung.
Aku sombong?
"Ya, selama ini aku menyapamu, tapi kamu pura-pura gak kenal. Sebenarnya kamu yang sombong", ketusnya segera menghabiskan minumannya.
"A-aku…"
"Gak perlu dijelasin lagi", kata Connie seraya meninggalkan tempat itu. Sashapun mengejarnya sampai ke sebuah paying yang ditancapkan dengan tikar merah di bawahnya, diikuti dengan papan selancar Connie yang terbaring di tikar itu.
"Connie, aku bisa jelasin", seru Sasha mencoba menjelaskan semuanya kepada Connie.
"Gak perlu deh, Sasha. Aku gak peduli, sama seperti kamu gak peduli dengan aku selama ini"
"Yang kamu lihat selama ini, di sini, bukan aku. Tapi Sheila", jelas Sasha kepada Connie yang tengah mengambil papan selancarnya.
"Aku buktikan. Kamu nyadar gak, aku bertambah tinggi? Aku juga punya bukti", ujar Sasha tengah menunjukkan bekas luka melepuh yang tak pernah hilang di lengannya kepada Connie. Connie lantas terkejut.
"Jadi, yang selama ini bukan kamu? Kamu Sasha beneran?", kata Connie yang masih terkejut.
"Ya, dan aku tahu, kamu Connie Springer, teman satu panti asuhan", jelas Sasha yang memang mengetahui sesosok Connie ini.
"Tapi bagaimana? Apa yang terjadi?", Tanya Connie kebingungan. Dia tak pernah tahu kalau Sasha punya kembaran. Sashapun menceritakan semua yang ia alami kepada Connie.
Sasha dan Connie memang besar di panti asuhan di Los Angeles. Sasha dan Connie memang teman sepermainan sejak kecil. Luka yang dialami Sasha sendiri akibat dari Connie yang tidak tidak sengaja menyiramkan air panas yang mengenai lengan Sasha yang masih berumur 8 tahun. Sasha dan Connie, mereka berdua memang kadang baik-baik, kadang berantem, kadang ngambek-ngambekan, kadang mereka berdua melakukan hal yang konyol. Sasha yang konyol dan Connie yang bisa bertingkah konyol juga adalah sahabatan sejak mereka masih ingusan istilahnya. Tidak pernah tahu kalau sejak 12 tahun, Connie mulai mengenal cinta, ia mulai jatuh cinta kepada Sasha.
Namun semuanya berubah saat Sasha bertemu dengan ayah angkatnya, Irwin. Saat itu sedang hujan di musim panas. Dengan Irwin yang memakai mantel karena hujan, ia memberikan kepada Sasha. Connie yang melihat kesal pergi ke sebuah ruangan kecil tempat biasanya mereka berdua bersembunyi.
"Aku kesal kamu udah dapat orangtua baru, mungkin akan punya saudara baru dan teman baru", kesal Connie yang sedang duduk di pojokan ruangan itu.
"Setidaknya aku akan mengunjungi, Connie", ujar Sasha yang duduk di sebelah Connie
"Aku bakalan kangen kamu, kentang", ujar Connie dengan bintik kuning kehijauan menatap mata Sasha.
"Aku juga bakalan denganmu, botak", ujar Sasha yang senang sekaligus sedih meninggalkan panti asuhan ini.
Sejak itulah terakhir kali Sasha bertemu dengan Connie. Sebelumnya 1 tahun kemudian Sasha sempat mengunjungi panti asuhan untuk bertemu Connie. Tapi ternyata Connie juga sudah di angkat keluarga lain. Sasha pun tidak mengetahui di mana Connie sekarang. Tidak ada komunikasi lagi di antara mereka…
"Wah! Jadi kamu masih punya keluarga kandung?", Tanya Connie yang terduduk bersama Sasha di bar.
"Ya, dan aku masih gak percaya", balas Sasha yang tengah memakan kentang rebus yang ia pesan tadi.
"Tapi kenapa kamu ada di panti asuhan? Seharusnya kamu ada di rumah keluarga kandungmu sendiri?", Tanya Connie penasaran.
"Sampai sekarang aku masih gak tahu", jawab Sasha yang tengah mengunyah kentang rebusnya dengan rakus. Connie yang dari kecil bersamanya memaklumi Sasha yang memang rakus.
"Kamu harus menanyai Ibumu", usul Connie yang sedang menikmati Banana Splitnya.
"Sebaiknya tidak", tolak Sasha sambil menggelengkan kepalanya.
"Mengapa?"
"Karena aku mau di sini dulu. Menikmati tempat ini. Aku sangat suka tempat ini. Kalau aku kembali ke Paris, aku tak sanggup. Aku malah jadi pembawa sial bagi saudariku", jelas Sasha.
"Jadi kau sementara tinggal di sini?"
"Yeah, setidaknya 1 minggu", ujar Sasha.
"Berarti, setidaknya kita bisa hang out?"
"Sound great! Kapan nih?"
"Bagaimana sekarang?" usul Connie bersemangat.
"Hmmm… sepertinya gak bisa deh. Aku harus pulang. Lagipula tadi aku gak pamit sama ibuku. Nanti aku diculik lagi", katanya setengah bercanda.
"Oke deh, tapi besok ya, di pantai ini. Bisa?", Tanya Connie.
"Bisa", jawab Sasha. "Sampai jumpa besok ya", salam Sasha beranjak dari kursinya.
"Sampai jumpa", balas Connie tersenyum melambaikan tangannya kapada Sasha. Ah, Sasha. Kamu tambah cantik saja, ujar Connie dalam hati.
Sheila, Thomas, Mina, dan Jean tiba di bandara di California. Hari sudah gelap. Mereka mengambil bagasi mereka.
"Shel, kita ke rumahku kan?", Tanya Jean kepada Sheila yang sedang menunggu kopernya.
"Errr…. Sebenarnya tidak", jawab Sheila gugup.
"What? Mengapa?", Tanya Jean kaget.
"Karena pertama, aku gak mau ibuku liat. Biarkan ini menjadi rahasia dulu. Kedua, aku mau mencari bukti, bahwa aku dan Sasha kembar", jelas Sheila sambil menemukan kopernya dan mengambilnya.
"Apa? Aku di sini Cuma mau menukarkan kalian berdua. Kok aku malah ikutan hal ini sih?", protes Jean mengerutkan dahinya.
"Hoi! Kami duluan yaa", seru Mina dan Thomas kepada Sheila dan Jean melambaikan tangan.
"Ya, sampai jumpa", balas Sheila membalas lambaian tangan Mina dan Thomas. "Ya, setelah itu baru aku izinkan kalian berdua pulang", ujar Sheila kepada Jean berjalan menuju pintu depan bandara.
"Yaudah. Jadi bagaimana rencana kita, bos?", Tanya Jean mengubah suaranya layaknya bawahan meminta perintah kepada atasan.
"Pertama, kita bertemu dengan Sasha. Kita jelasin semuanya kepadanya. Kedua kita menuju ke beberapa tempat, nanti aku kasih tahu di mana tempatnya. Ketiga kita langsung jelasin semua ini kepada Mommy", jelas Sheila saat mereka berdua sudah di depan pintu bandara.
"Ok, bos", Jean lalu melambaikan tangannya memanggil taksi. "Taksi!". Sebuah taksi meluncur kea rah mereka berdua.
"Hotel California ya", pinta Sheila ke supir taksi
Sasha terbangun dari tidur. Ia dibangunkan Petra.
"Sheila! Bangun! Sudah pagi", seru Petra menguncang badan Sasha yang masih tertidur.
"Apa sih, Mikasa?", keluh Sasha yang masih sentengah tertidur.
"Mikasa? Siapa Mikasa?", Tanya Petra sambil menarik selimut Sasha supaya Sasha beranjak dari tempat tidurnya.
"Eh? I-itu te-man aku, Mom", jawab Sasha tergagap yang sudah sadar sepenuhnya.
"Teman? Mommy rasa Mommy gak pernah kenal anak itu deh", curiga Petra.
"Itu teman….", sejenak Sasha berpikir. Aku bilang siapa ya? Gumamnya dalam hati.
"Oh! Dia teman penaku, Mom. Kami selalu berkirim email", karang Sasha.
"Yaudah, kamu mandi dulu. Ini sudah jam 10 pagi. Kamu gak biasa lho, bangun jam segini", perintah Petra yang terduduk di kursi di meja kaca besar milik Sheila.
"Ya, Mommy", ujar Sasha berjalan ke arah kamar mandi dengan males-malesan.
"Aneh. Aku gak pernah kenal sama Mikasa, dan dia gak pernah punya teman pena", gumam Petra curiga kepada anaknya.
Seperti yang ia rencanakan kemarin, Sasha pergi ke pantai dengan izin Petra, ibunya. Dengan baju kaos dan celana pendek, ia pergi ke tempat bar yang ia kunjungi sebelumnya. Ia menunggu Connie di sana.
"Sasha!", seru Connie melambaikan tangan yang tengah berkumpul dengan teman surfernya. Mereka membawa papan mereka masing-masing.
"Hey Connie", balas Sasha melambaikan tangan kepada Connie. Connie pun mampir ke tempat Sasha.
"Kau sedang ngapain?", Tanya Sasha terduduk di kursi bar.
"Aku mau surfing bareng teman. Kau mau ikut?", ajak Connie dengan celana hitam bertelanjang dada.
"Hmmm, sepertinya aku ngeliatin aja deh", tolak Sasha sambil menggelengkan tangannya.
"Setidaknya gabung dengan kami", ajaknya lagi.
"Ok, tapi no for surfing ya", kata Sasha. Mereka berdua pergi menuju kelompok surfer tersebut.
"Hey Connie! Gebetan baru ya?", goda seorang pemuda tinggi berambut cokelat dan berkulit tanned, pria idaman menurut Sasha.
"Err… bukan", bantah Connie tersipu malu. Tapi calon pacar sih, gumamnya dalam hati. Sementara Sasha terlihat biasa saja.
"Semuanya perkenalkan ini Sasha Braus, teman dekatku dari kecil", kata Connie memperkenalkan Sasha kepada temannya.
"Hai Sasha!", sapa mereka, teman Connie serentak.
"Hai", balas Sasha singkat sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Mereka, para pemuda asyik bermain surf, sementara Sasha dan sekelompok cewek, yaitu pacar-pacar mereka hanya mengobrol sambil duduk-duduk di pinggir pantai menyaksikan permainan surf Connie dkk.
Sampai siang yang sangat terik, mereka tetap bermain surf. Saat itu, Connie dkk berlari kea rah Sasha dan gadis-gadis lainnya. Sepertinya mereka mau bertindak usil.
"Hey! Apa yang kau lakukan?", Tanya Sasha saat Connie menarik tangannya. Meski dilawan, Connie yang meskipun lebih pendek dari Sasha, tapi ia jauh lebih kuat dari membawa Sasha ke tepi pantai.
"Hey! Apa kau berniat menceburkanku?", Tanya Sasha sambil melawan tarikan Connie.
"JANGAN! JANGAN DICEBURIN!", seru Sasha yang memperkuat perlawanannya itu. Connie menjadi kewalahan karenanya.
"Woi! Bantuin", ujar Connie kepada teman-temannya. Teman-temannya ini membantu Connie menarik Sasha.
"Sialan kalian!", kata Sasha yang dilempar mereka ke pantai. Ia basah kuyup karena itu.
"Awas kamu!", ancam Sasha beranjak mengejar Connie. Connie yang tidak sempat lari terdorong oleh Sasha jatuh bersama dengan Sasha yang kehilangan keseimbangan. Mereka terjatuh dengan Sasha menimpa badan Connie.
"Hahahahahaha….", mereka tertawa riang, seperti jaman kecil mereka dulu.
"Apa kau bersenang-senang", Tanya Connie tengah mengeringkan badannya dengan handuk di sebuah gazebo bersama Sasha. Kebetulan di sana hanya ada mereka berdua, sementara yang lain malah asyik dengan kegiatan sendiri.
"Yap. Bisa dibilang ini one of the best summer deh", ujar Sasha yang juga mengeringkan badannya karena basah.
"Hmmm…. Setelah ini, kita jalan-jalan yuk. Kita berdua aja", ajak Connie yang sedang menggunakan kaos hitam miliknya.
"Kita naik mobilku saja", lanjutnya.
"Hmmm…. Boleh! Tapi kau yang mengantarku pulang ya. Aku juga nanti malam ada acara dengan Mommy", sahut Sasha. "Grrrr…. Coba kau tidak menceburkanku. Sekarang aku basah kan. Dan juga aku gak bawa baju ganti", keluh Sasha menatap kesal kepada Connie.
"Hehehe… maaf lah", Connie memohon maaf kepada Sasha.
Sasha mendengus kesal, "Terserahlah".
Mereka berdua pun menuju ke mobil Connie yang terparkir. Dengan mobil biru Mercedes-Benz 190SL convertible miliknya, mereka mengitari California. Mereja melewati tempat seperti Hollywood, kebetulan artis bertebaran di sana. Sambil mengitari Hollywood, mereka bertukar cerita tentang kejadian selama ini mereka alami. Sasha bercerita tentang keluarga angkatnya, Irwin, Christa, Mikasa, dan Annie. Sementara Connie juga menceritakan hidupnya setelah keluar dari panti asuhan. Ia rupanya seorang anak angkat dari pemilik perusahaan minyak terbesar di Amerika. Ia dan ibu angkatnya tinggal di California, sementara ayahnya jarang pulang ke rumah sangking sibuknya dengan perusahaan.
Mereka berhenti di sebuah toko kecil. Ya, sejenis café. "Sepertinya kau lapar", goda Connie melihat Sasha gelisah.
"Ayo turun. Kita makan di sini", kata Connie yang turun duluan membukakan pintu Sasha.
"Silahkan, princess", ujar Connie berpura-pura menjadi pelayan Sasha.
"Iya, thank you Mr. Springer", ujar Sasha tersenyum kepada Connie. Senyuman Sasha tertular oleh Connie. Mereka pun duduk di meja seperti bar, lalu seorang pelayan menanyakan pesanan mereka.
"Aku sering ke sini. Soalnya di sini es krimnya enak. Kau harus mencobanya", Connie pun mempromosikan café tersebut kepada Sasha.
"Silahkan dilihat menunya", ujar pelayan kepada Sasha. Sasha terdiam memikirkan apa yang ingin dipesannya. Yang pasti banyak.
Singkatnya mereka sedang memakan es krim mereka masing-masing. Karena sudah sore, Connie pun mengantarkan Sasha ke rumahnya.
"Kita sudah sampai", ujar Connie kepada Sasha yang sedang tertidur lelap karena kecapekan. You sleep like an angel, Sasha, gumam Connie dalam hati.
"Hah? Udah sampai?", Tanya Sasha yang setengah sadar.
"Iya sudah sampai", kata Connie.
"Hoam… kalau begitu terima kasih tumpangannya…", Sasha membuka pintu dicegat oleh Connie.
"Tunggu dulu, aku mau ngomong sesuatu", tahan Connie.
"Yaudah, kau mau ngomong apa?", Sasha pun membiarkan Connie berbicara kepadanya.
"Errr….. sebenarnya a-aku suka kamu", kata Connie kepada Sasha malu.
"Aku juga suka kamu kok", balas Sasha tersenyum riang.
"Benarkah?"
"Iya, aku suka kamu, kamu adalah adik lelaki terbaik deh", kata Sasha polos.
Adik? Jadi selama ini aku dianggap adik?, katanya dalam hati.
"Sebenarnya Sasha, aku suka kamu… ya lebih dari itu", jelas Connie mencoba menjelaskan kepada Sasha kalau ia memang suka sebagai pacar.
"Maksudmu?", Tanya Sasha yang tidak mengerti perkataan Connie. Sasha, mengapa kamu gak ngerti-ngerti juga sih, kesalnya dalam hati. Namun Connie juga harus sabar menghadapi Sasha.
"Maksudku…. Aku cinta kamu, Sasha!", Connie pun mengaku kepada Sasha. "Aku dari dulu, dari kita yang masih ingusan itu, memang cinta sama kamu. Bukan seperti saudara, tapi lebih dari itu", Connie meluapkan isi hatinya yang selama ini terus ia pendam kepada Sasha. Ia pun memegang tangan Sasha yang lembut itu memohon untuk merespon perkataannya. Sementara itu Sasha hanya terdiam tidak tahu harus bilang apa.
Semula Sasha ingin tertawa karena hal ini, tapi dilihat sepasang mata kuning kehijauan milik Connie menatap serius ke Sasha, dan juga berharap. Sasha pun hanya tersenyum sambil berkata, "Connie, maafkan aku. Aku selama ini tidak tahu perasaanmu kepadaku. Dan maafkan aku juga, aku gak bisa menerima cintamu. Selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai saudara laki-laki. Tidak lebih dari itu Connie…".
Connie terdiam, kecewa juga karena cintanya ditolak oleh Sasha. Selama ini ia terus memikirkan Sasha, tak tahu mengapa ia selalu cinta terhadap Sasha meskipun sudah bertahun-tahun perasaan ini ia pendam. Tapi nasib, cintanya ditolak mentah oleh Sasha.
"Setidaknya kita masih berteman kan?", Tanya Sasha kembali. Ia tak mau karena hal ini pertemanan mereka berdua terpecah.
"Maafkan aku, Connie…", sesal Sasha menatap penyesalan ke Connie. Hari sudah gelap, seharusnya Sasha masuk rumah bersiap ke acara Mommy-nya.
"Tidak apa-apa. Aku juga gak bisa paksa kamu kok. Makasih ya atas pengakuannya", ujar Connie meskipun masih terpancar raut kekecewaan.
"Iya, kamu juga, makasih atas semuanya", Sashapun memeluk tubuh Connie dengan erat. "Sampai jumpa lagi, Connie".
"Sampai jumpa lagi", balas Connie tersenyum kepada Sasha yang sudah diluar mobil.
"Bye", Sasha melambaikan tangan ke Connie. Ia pun masuk ke dalam rumahnya.
Sasha. Meskipun aku kecewa kamu menolakku, setidaknya aku sudah menyampaikan perasaanku, ujar Connie dalam hati.
Sekarang Sasha, dengan white dress sedikit di atas lutut, rambut yang diikat French braid ke samping, sepatu black wedges, tas yang senada dengan sepatunya dan berdandan tebal bersama Petra pergi ke acara pesta tahunan kantor Petra di Hotel California. Petra yang sedang sibuk dengan Clientnya yang menghadiri dan juga teman kerjanya tidak memperdulikan Sasha. Lagipula biasanya Sasha akan berbaur sendiri, pikirnya.
Sasha malah asyik dengan makanannya, tidak memikirkan Petra dan pesta ini sama sekali. Saat ia memakan Lobster yang kelima, ia ditarik tangannya oleh seseorang dari belakang. Saat ia menoleh ke belakang, Sasha melihat sesosok pria yang berlari menghindari Sasha. Siapa dia?, tanyanya dalam hati penasaran. Karena penasaran, ia pun mengejar pemuda itu. Ia mengejar sampai ke pintu utama hotel tersebut.
Saat di pintu utama, pemuda itu menghilang dari pandangan Sasha. Di mana dia?
Saat itu ada yang membekapnya dari belakang. Karena tak ada yang melihat, dan juga sepi, ia pun ditarik sampai ke parkiran sebuah mobil.
"Apa-apaan sih", Sasha memberontak melawan bekapan pemuda itu. Saat berhasil, dilihat wajah pemuda itu yang daritadi tak sempat dilihatnya. Mata Sasha terbelalak kaget.
"Jean! Kenapa lu bisa sampai di sini?", Tanya Sasha terkaget melihat pemuda jangkung yang sedang memakai baju polo warna putih dengan jeans panjang, terlihat tampan ^.^
"Ceritanya panjang", kata Jean. Tiba-tiba muncul seorang gadis dengan jaket jeans dengan tanktop putih di dalamnya dan juga celana legging hitam dan sepatu sneakers di pakainya. Gadis ini lebih pendek dibanding Sasha, tapi mirip dengan rambut cokelat dan mata cokelat milik Sasha. Bahkan struktur wajah 100% sama dengan wajah Sasha.
"Hai, namaku Sheila", gadis itu mengenalkan dirinya kepada Sasha.
"Jadi kamu namanya Sheila?", Tanya Sasha tidak mempercayai gadis yang di depannya ini adalah kembarannya sendiri.
"Ayo masuk ke mobil dulu", kata Sheila sopan. Sheila mengajak Sasha duduk di bangku depan, sementara Jean duduk di kursi pengemudi.
Sheila pun menceritakan semua hal tentang dirinya dan Sasha. Bahkan Sasha syok, tidak menyangka bahwa ia masih mempunyai keluarga kandung.
"Jadi, kita sepenuhnya saudara kembar?", Tanya Sasha.
"Belum tentu. Masih banyak misteri yang kita harus pecahkan", kata Sheila seolah ia adalah detektif.
"Jadi sekarang, apa misi selanjutnya, bos?", Tanya Jean yang tidak tahu mengapa patuh kepada tuan bos alias Sheila ini.
"Barang bukti belum lengkap. Ada 3 barang bukti yang bisa menyatakan kita kembar. Pertama aku mendapati surat ini di bawah tempat tidur Mommy. Surat ini tidak pernah dibuka, jadi bahkan Mommy tidak menyadari surat itu. Isinya adalah tentang kita berdua, aku dan Sasha. Yang menulisnya adalah ayahku…", cerita Sheila panjang lebar.
"Yang kedua, aku mendapati foto kita berdua waktu baru lahir. Aku pasti mengenali foto bayiku, tapi aku tidak tahu, aku melihat foto yang disebelahku sangat mirip. Disitu juga tertulis namaku, Sheila, tapi bukan dengan nama keluarga ibuku, tapi Braus, nama keluarga ayah kita. Dan juga Sasha Braus. Dari situ aku mencari semua informasi tentangmu Sasha…", ceritanya lagi.
"Dan aku belum melihat wajah ayahku. Jadi aku pernah lihat sebuah foto di meja kerja ibuku. Dan aku tidak sempat melihat lama, dan juga lupa wajahnya", kata Sheila.
"Jadi?", Jean bertanya kepada Sheila.
"Jadi, kita pergi ke rumahku, Sasha akan diam-diam ambil foto itu, lalu aku akan memikirkan rencana selanjutnya", kata Sheila.
Sasha pun protes, "Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja?"
"Aku percaya padamu kok. Jadi rencana ini kamu yang megang, oke?", bujuk Sheila kepada Sasha.
"Ok, aku akan melakukannya", ujar Sasha dengan terpaksa.
Mereka pun melaju ke rumahnya Sheila. Sesampainya di rumah Sheila, Sasha pun keluar dari mobil. Tapi sebelumnya ia dipeluk oleh Sheila.
"Senang bertemu denganmu, Sasha", Sheila memeluk sangat erat Sasha seperti ia memeluk boneka kesayangannya.
"Senang juga, tapi sebaiknya kamu melepaskanku dulu", jawab Sasha berusaha melepaskan pelukan Sheila.
"Oh, maaf", Sheila pun melepaskan pelukannya tersebut. "Dari dulu aku ingin punya saudara kandung sendiri", kata Sheila menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa", sekarang Sasha berbalik memeluk Sheila. "Aku gak pernah nyangka punya saudara kembar. Ini seperti mimpi menjadi nyata, iya kan?", kata Sasha riang. "Iya", balas Sheila. Sasha melepaskan pelukannya dan keluar dari mobil. Tapi sebelum ia masuk dalam rumah, ia dicegat oleh Jean.
"Sasha?", kata Jean yang memegang tangan Sasha.
"Iya?", Tanya Sasha.
Jean memutar bola matanya, "Maafkan aku. Aku tidak melindungimu kemarin…", katanya penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Jean", kata Sasha kemudian tersenyum pada Jean. "Lagipula aku baik-baik saja kan?"
Jean tertegun, "I-iya", ia pun melepaskan genggaman Sasha lalu terdiam di depan pintu melihat Sasha yang sudah masuk dalam rumahnya. Selama ini aku tidak pernah membalas budinya, gumamnya.
"Sasha tolong!", seru Jean yang sudah jauh dari daratan. Dia di tengah danau. Kenapa bisa?
Ia dibully oleh teman Secampnya waktu itu. Temannya usil membawanya yang sedang tertidur di kasur beserta kasurnya juga lalu dihanyutkan di danau. Kebetulan pagi itu hanya Sasha lewat danau. Jadi Jean minta bantuan kepada Sasha.
"Jean?", Tanya Sasha bingung. "Kenapa lu bisa sampai situ?"
"Gue dikerjain sama teman gue. Sialan man ague ga jago berenang lagi", keluhnya yang sedang di tengah kasurnya tidak melakukan apa-apa. "Cepat! Panggil bantuan"
Sasha berpikir. Kalau aku minta bantuan, dari sini ke kamp utama memakan waktu 15 menit jalan kaki. Pasti Jean akan menunggu lama, pikirnya.
"Ayo! Keburu aku tenggelam. Kasur ini tak bisa bertahan lama", kata Jean yang sedang menunjukkan kasurnya yang sudah mulai tenggelam, kasurnya yang tipis tidak dapat menahan berat Jean ini.
"Baik, tunggu ya!", seru Sasha berlari cepat menuju kamp utama. Ya berlari, aku harus berlari. Nyawa Jean ada di tanganku, gumamnya.
Butuh waktu sekitar 7 menit berlari ke kamp utama. Ia mengetuk pintu petugas kamp di sana. Tapi sia-sia, tidak ada respon dari petugas kamp. Sepertinya ia tidak di dalam kampnya. Dan di sana juga sangat sepi. Sasha pun berpikir ke mana mereka semuanya. Oh, ya! Mereka pasti sedang di lapangan. Untuk ke lapangan butuh waktu 20 menit. Pasti juga tak akan sempat. Aku harus menolongnya sendiri, pikirnya.
Sasha yang sudah kecapekan berlari kencang ke arah danau dan butuh 7 menit juga untuk sampai ke sana. Saat sampai, ia melihat Jean yang sudah kelelap dalam air danau yang dingin. Karena tanpa persiapan, Jean yang sebenarnya bisa sedikit berenang malah tenggelam tidak sanggup lagi.
"Tolong!", katanya melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam air. Sasha pun panic. Gimana ini?
Kebetulan sebuah Canoe terdampar di pinggir danau. Yah, mau gimana lagi. Aku memang harus menyelamatkan Jean, gumamnya.
Dengan cekatan, ia membawa Canoe itu ke air lalu menaikinya. Ia juga dengan cekatan mengayuh Canoenhya menuju ke arah Jean.
"Jean! Bertahanlah!", katanya. Sesampainya Sasha meraih tangan Jean membantu naik ke atas Canoe tersebut. Tapi karena kurang keseimbangan, Canoe Sasha terbalik dan Sasha akhirnya tercebur ke danau. Sasha pun sama dengan Jean, kurang pandai berenang. Sakarang, mereka berdua tenggelam.
"Sasha!", kata Jean yang sudah lemas tenggelam ke dalam air. Tapi ditahan Sasha, meskipun Sasha juga terlelap dalam air. Mereka berdua sudah banyak terminum air danau.
"Bertahanlah!" seru Sasha yang sedang meraih canoe yang terhanyut menjauh darinya. Sasha berusaha meraih meskipun dia sendiri sudah tenggelam dan sedang menahan Jean yang sudah pingsan. Akhirnya ia pun meraih canoenya yang terbalik. Ia lalu memegang canoenya juga memegang Jean. Lalu dengan sisa kekuatannya, ia mengayuh menggunakan kakinya untuk sampa di pinggir danau.
"Kita H-hampir sampai", katanya yang memang sangat kecapekan mengayuh sambil terus berpegang erat kepada Jean. Dinginnya air danau di pagi hari, membuat Sasha tidak bisa bertahan lagi. Tapi ia terus mengayuh meskipun kekuatannya sudah habis. Mereka sudah sampai di pinggir danau. Jean dibiarkan tergeletak pingsan sementara Sasha yang kecapekan, kedinginan, dan kelaparan akhirnya pingsan di sebelah Jean.
"Apa yang terjadi?", Tanya Jean saat terbangu dari pingsannya. Dilihat teman baiknya, Marco Bolt, berada di sampingnya.
"Kau pingsan tadi. Untung kami menemukan kalian berdua", katanya Marco yang sedang duduk di kursi menunggu bangunnya Jean.
"Dimana Sasha?", tanyanya cemas.
"Sasha baik-baik saja, meskipun dia juga banyak menelan air, ia juga menyelamatkanmu. Untung ada dia, kamu selamat kan, Jean", katanya tersenyum ke Jean.
"Aku mau menemuinya", katanya beranjak dari tempat tidurnya. Marco pun mencegat Jean, tapi Jean melawan kabur dari kamarnya.
Ia pun mencari kamar Sasha yang kebetulan dekat dengan kamarnya. Dilihat dikamarnya, Sasha terbaring lemas di sebelahnya sudah ada Christa dan Annie. Sementara Mikasa sedang pergi mengambil makanan untuk Sasha.
"Sasha!", seru Jean.
"Eitt….. mau apa kau, Jean?", kata Annie menghalangi Jean dari Sasha.
"Aku mau melihatnya sebentar", kata Jean berusaha melihat Sasha yang dihalangi oleh Annie.
"Annie! Tidak apa-apa", kata Sasha yang terbangun dari tidurnya.
"Sasha! Kau tidak apa-apa?", Tanya Christa cemas.
"Aku tidak apa-apa, Christa", katanya dengan suara lemah. "Bisakah kalian meninggalkan aku dan Jean berdua?", pinta Sasha.
Christa pun mengangguk, "Oke kalau itu maumu", katanya smabil menarik lengan Annie. "Ayo Annie".
"Awas kau!", kata Annie ke Jean sambil mengepalkan tangannya. Jeanpun duduk di kursi sebelah Sasha. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku merasa tidak baik. Daritadi aku ingin sekali makan kentang", katanya.
Jean pun mengacak rambut Sasha yang basah, "Ih, baru bangun udah mikir makanan lu", kata Jean gemas.
"Biarin dong, gue memang lapar daritadi", ujar Sasha sambil menjulurkan lidah ke Jean. Jean hanya tersenyum melihat tingkah laku Sasha.
"Maafkan aku Sasha", kata Jean tertunduk menyesal.
"Seharusnya aku yang menolongmu. Malah kamu yang menolongku", kata Jean malu.
"Tidak apa-apa", kata Sasha. "Setidaknya kamu selamat kan? Aku juga baik-baik saja kok", katanya kepada Jean tersenyum riang.
Sasha? Mengapa selama ini aku tak pernah menolongmu? Hanya kamu yang selalu menolongku, gumamnya setelah bernostalgia masa lalunya dengan Sasha. Ia pun masuk ke dalam mobil.
20 menit kemudian, Sasha keluar dari rumah membawa sebuah foto using. Ia masuk ke dalam mobil yang terparkir jauh dari pekarangan rumahnya.
"Jadi?", Tanya Sheila penasaran.
"Apa ini fotonya, Sheila?", Tanya Sasha memberikan foto tersebut kepada Sheila. Sheila pun memicingkan matanya melihat foto seorang pria yang duduk bersama Petra. Pria tersebut tidak punya ekspresi sama sekali. Sheila berpikir sejenak.
"Ya! Ini fotonya!", seru Sheila bersemangat.
"Boleh kulihat fotonya?", Tanya Jean.
Sheila pun memberikan foto tersebut kepada Jean. "Ini"
Jean melihat foto tersebut. Pria ini kelihatan tidak asing, gumamnya. Ia teringat. Matanya terbelalak kaget.
"Ini….", ujarnya. "…..Rivaille-sensei?"
Siapakah Rivaille? Apa kasus ini terkuak? Tunggu selanjutnya ^.^
Author says :
Update! Akhirnya bisa sempat mengupdate fanfict ini. Sorry ya, baru keluarin sekarang. Karena authornya lagi sibuk nih. Banyak ulangan, banyak pr, lagi sakit-sakitan juga. Tapi ini sudah update kok. Sekarang sudah di buat chapter 4 nya. Tunggu paling lambat besok ya ;) Arigatou….
Oh, ya. Bisa dong ya, direview atau difav Fanficnya? J
