Summary : Liburan musim panas akan dimulai. Rukia dan keluarganya akan pergi berlibur. Akankah Ichigo bertemu lagi dengan Rukia? Mind to R&R ?
Disclaimer : Bleach belong to Kubo Taito-sensei. Manga "Ki Gi no Yukue" milik Eban Fumi
Warning : AU , OOC, gaje, abal-abal, typo, bahasa ancur
Kalimat = Rukia's POV
Kalimat = Flashback singkat
Kalimat = Isi surat Rukia
A/N: karena dikomiknya ga disebutin Mikami Juri a.K.a Rukia, sakit apa, jadi Ai ga bisa pastiin penyakitnya. Tapi kemungkinan sih sakit jantung. Oya, dichapter ini, Ichigo udah ga malu-malu kucing manggil Rukia dengan nama kecilnya. Ceritanya dia dipaksa Rukia gitu deh*plak*. Mungkin akan ada bagian terakhir saat Ichigo membaca surat yang akan membuat reader bingung. Itu adalah gabungan antara surat Rukia, kata-kata Ichigo, dan flashback singkat. Lalu 4 baris terakhir dari fic ini, itu dari Ichigo's POV.
XXxxXX
~Unforgetful Summer~
Previous Chapter
"Terima kasih, Ichigo." Ucap Rukia sembari tersenyum.
Lagi-lagi Ichigo tersihir dengan senyuman lembut itu. Senyuman yang selalu menghiasi wajah cantik Rukia saat ia sedang bahagia dari ubuk hatinya.
"Yosh! Aku sudah sehat! Ayo kita lanjutkan bersih-bersih!"
"Cepat sekali nyapunya!" batin Ichigo sambil seetdrop melihat tingkah laku pacarnya yang mungil itu.
Musim panas kelas 3 SMA
Aku tahu hidupku sudah tidak lama lagi
Kupikir semua hal yang kusuka sudah kulakukan
Hanya tinggal menunggu kematian saja
Dengan perasaan penuh ketakutan
"Aku akan membuat hidupmu menyenangkan!"
Tapi kamu…
Memberikan harapan padaku
XXxxXX
Chapter 3 : Last Moment
~Pulang sekolah~
"O—oi! Lihat itu!"
"Eh? Apa? Apa?"
"Itu!"
"Ichigo dengan Kuchiki?"
"Naik sepeda boncengan!"
"Ichigo!"
"Apa maksudnya ini!"
"Hah!" merasa ada yang memanggilnya dari atas, Ichigo menoleh dan mendapati teman-teman sekelasnya sedang berkumpul diambang jendela kelas dan memandangi dirinya yang sedang naik sepeda boncengan dengan Rukia.
"Sejak kapan kau—" jerit Keigo.
"Naik sepeda berduaan!" disambung oleh Tatsuki.
"Ternyata kau cepat juga, ya!" kata Mizuiro dengan tenang.
"Berisik!" bentak Ichigo yang mulai kesal dengan sikap teman-temannya. Wajahnya mulai memerah karena marah dan juga malu (karena ketahuan teman-temannya kalau ia sudah punya pacar).
"Teman-temanmu berisik, ya." Rukia tertawa kecil sambil mengomentari teman-teman Ichigo.
"Rukia! Pegangan yang erat!" Ichigo memposisikan tubuhnya untuk mengebut.
"Ah! Dia kabur!"
XXxxXX
"Padahal kau tidak perlu mengantarku. Aku baik-baik saja kok."
"Tidak bisa. Kau itu pembohong sih. Benarkan?" kalimat yang keluar dari mulut Ichigo itu sangat tepat sasaran.
"…" suasana menjadi hening. Untuk sesaat tidak ada yang bicara, hanya suara kayuhan dan roda sepeda yang terdengar.
"Hei. Kenapa Ichigo-kun bisa suka padaku?" tanya Rukia tiba-tiba.
"Hah!" reflex Ichigo sangat terkejut dengan pertanyaan yang tidak disangka-sangka dari mulut Rukia.
"Tidak perlu kaget seperti itu. Aku kan cuma ingin tahu." Rukia sweatdropped melihat reaksi Ichigo yang berlebihan.
"Jangan bertanya dengan raut wajah biasa seperti itu, dong!" Ichigo mulai blushing karena pertanyaan Rukia yang menurutnya aneh.
"Habisnya….aku tidak tahu bagian mana dari diriku yang kau sukai."
Ichigo terdiam sesaat ketika Rukia menjelaskan alasannya bertanya.
"Cewek sekelas yang lain pun…banyak yang lebih baik dariku, lebih cantik, dan juga lebih sehat daripada aku, kan."
"Waktu SMA kelas 1…saat aku melihatmu bermain piano…kupikir kau cantik."
"Eh! Cuma itu?" ekspresi wajah Rukia memperlihatkan kalau jawaban yang dilontarkan Ichigo adalah jawaban yang tidak pernah diduganya.
"Kenapa! Emangnya gak boleh?"
"Itu kan 2 tahun yang lalu."
"Lalu kenapa? warna rambut berubah, badan menjadi lemah pun, kamu tetap kamu, kan!"
Aku…
"Eh? O—oi…" Ichigo yang sedang asyik-asyiknya mengayuh sepeda birunya itu sontak terkejut ketika Rukia memeluknya dari belakang. Wajahnya merah padam bagaikan semangka.
Dengan kata-katamu yang hangat…
Membuatku ….
Ingin bertahan hidup
XXxxXX
~Kuchiki Residence~
"Tadaima!" Rukia baru saja masuk kedalam rumahnya. Ia segera melepas sepatu sekolahnya dan melangkahkan kakinya kedalam ruang tengah.
"Okaeri, Ruru-chan! Sebentar lagi makan malam siap." Sahut Hisana, ibunya Rukia, sambil menghampiri putrid satu-satunya.
"Benarkah? Kalau begitu aku mandi dulu ya, bu." Belum 23 langkah Rukia berjalan, ibunya sudah bertanya.
"Lho? Ruru-chan…hari ini ada hal bagus yang terjadi, ya?"
"Eh? Kok tahu?"
"Tentu saja tahu… kalau kamu senang, ibu pun jadi ikut senang." Jawab Hisana dengan senyum seorang Ibu.
"Ada apa? Ada apa? Beritahu ibu, dong!" Hisana merajuk kepada putrinya untuk diberitahu.
"…"
"Saat ini aku…."
Hidupku…
Terasa menjadi menyenangkan
"…sedang jatuh cinta."
XXxxXX
~Esoknya, pukul 15.00 di Karakura High School~
Jiiiitt~ *sfx Rukia lagi ngeliatin Ichigo diam-diam*
"Katakan saja kalau ada perlu! Jangan melihatku terus seperti itu!" seru Ichigo yang merasa risih karena dipandangi lekat-lekat oleh gadis yang disukainya.
"Ehehehe gomen gomen. Kupikir kau sedang sibuk, jadi aku tidak mau mengganggu." Rukia menjawab sambil nyengir kuda.
"Ng? sepertinya hari ini kamu sehat, ya." Kata Ichigo sambil memperhatikan wajah Rukia.
"Yep! Hari ini tubuhku baik-baik saja! Saaaangat sehat!" dalam sekejap Rukia menjadi luar biasa ceria. Walaupun biasanya juga ceria, tapi kali ini lebih. Mungkin karena ia sedang sehat seperti yang dikatakannya.
"Kalau begitu…mau pergi ke laut denganku?"
"Laut! Mauuu!"
XXxxXX
"Laut laut~ laut laut~" selama dibonceng, Rukia tidak henti-hentinya bersenandung ria.
"Oh iya, maaf ya sudah membuatmu memboncengku setiap hari. Pasti berat, kan."
"Iya, berat. Kebesaran pinggang, tuh." Ejek Ichigo yang spontan mendapatkan hadiah pukulan dikepala.
PLAKK
XXxxXX
~Di laut~
"Whoaaaa….. Laut!" Rukia berlari dengan riangnya ke air laut yang sedang berombak kecil.
Eits. Ujung mata Ichigo berkilat tajam.
Sebuah tangan kekar menarik kerah belakang Rukia, berhasil menghentikan lari gadis itu.
"Dilarang lari-larian."
"Eeh?"
"Itu tubuhmu sendiri, kan. Seharusnya kamu yang paling tahu apa yang boleh dilakukan dan yang tidak." Omel Ichigo sambil memandang khawatir Rukia.
BYUURR
"E—Oii! Apa yang kau lakukan!"
"Lihat. Aku sehat, kan? Makanya, jangan khawatir lagi! Saat ini aku sama sekali tidak sakit, kok!"
"…" untuk beberapa detik keheningan menyelimuti mereka. Ichigo terus memandang wajah Rukia lekat-lekat. Dengan penuh kasih sayang. Tapi juga tersirat kesedihan.
"Aku…pasti sudah mengekangmu, ya."
"Apa?"
"Membuatmu tidak nyaman. Tawamu tadi, hanya untuk menutupi rasa sakit yang kau rasakan." Air muka Ichigo menunjukkan penyesalan. Menyesal karena sudah membuat Rukia seperti terkurung.
"Aku… hidup yang menyenangkan. Bukan karena tahu akan mati. Saat ini, aku sangat bahagia." Rukia menutup matanya dan membiarkan angin laut membelai tubuhnya yang basah.
"Kau pikir ini karena siapa?"
Salahku
"Gomen."
Membuatnya tidak nyaman
"Aku senang. Kamu selalu saja tertawa, dan tidak mengatakan apa-apa padaku."
"Lebih jujurlah. Karena aku akan melakukan apapun yang kubisa." Tawar Ichigo dengan seulas senyuman manis terukir diwajahnya.
"Kalau begitu… ciumlah aku."
KISS? Eksprei wajah Ichigo saat ini seolah-olah mengatakan 'jangan bercanda!'
"Ap—! Apa yang kau pikirkan, sih!" secara otomatis, tanpa perlu disuruh, wajah Ichigo memerah bagaikan kepiting rebus.
"Kenapa? bukankah tadi kamu bilang apapun, kan?" Rukia menatap Ichigo sambil menggunakan jurus andalannya, puppy-dog-eyes.
"Lagi-lagi kau bercanda!"
"Saat ini… aku sedang serius." Dalam sekejap raut wajah Rukia yang tadi sangat lucu dan imut (dimata Ichigo) berubah menjadi serius.
Ichigo melangkahkan kakinya mendekati pacar kecilnya. Diarahkan tangannya untuk melepas jepit rambut yang saat itu dpakai Rukia untuk menjepit sebagian rambutnya keatas.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah kecil Rukia dan dalam hitungan detik, kedua bibir pasangan ini telah bertemu. Ciuman pertama bagi mereka. Sangat lembut, dan penuh cinta.
Ibu
Saat ini aku…
Sedang jatuh cinta
"Begitu, ya… anak itu…bermaksud menjalin cinta sampai saat terakhir."
XXxxXX
~Di depan rumah Rukia~
Saat ini, Ichigo dan Rukia sudah berada didepan rumah Rukia. harusnya, Rukia hanya perlu masuk kedalam rumah tersebut. Tapi….
"Aku tidak mau pulang."
"…" wajah Ichigo memperlihatkan ekspresi yang bodoh *plak*
"Apa lagi yang kau katakan?"
"Habisnya….hari ini sepertinya waktu cepat berlalu." Rukia memajukan bibirnya, dan juga mengembungkan pipinya.
"Tidak boleh, tidak boleh. Sekarang sudah malam. Hush hush hush." Nanti ayahnya bisa marah *terbayang wajah seram Byakuya –plak-*
"…"
"Hei, cepat masuk sana!"
"Benar juga, ya… Ichigo-kun aksinya cepat sih ya." Ledek Rukia yang sedang menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya, untuk menyembunyikan seringaian yang terukir diwajahnya.
"…"
"Iya iya…aku mengerti. Aku akan pulang." Baru beberapa langkah Rukia berjalan, ia sudah harus berhenti karena Ichigo mengatakan sesuatu.
"Hei. Liburan musim panas nanti…aku akan sering menemuimu."
"Ah…tapi kita kan pelajar. Apa tidak apa-apa ya kalau gak belajar?"
Untuk sesaat, wajah Rukia berubah menjadi murung, hanya saja perubahan raut wajah itu tidak disadari Ichigo karena ia sedang sibuk berpikir ini dan itu tentang kewajiban seorang pelajar.
"Hari ini terima kasih, ya. Menyenangkan sekali. Ja ne!"
XXxxXX
BLAM
"Hmm?" Byakuya, ayah Rukia, yang sedang membaca Koran di sofa menoleh kea rah yang pintu yang menghubungkan ruang depan dengan ruang tengah.
"Ruru-chan? Sudah pulang, ya?" seru Hisana.
Karena tidak juga mendapat jawaban dari anaknya, Hisana segera berlari kepintu depan, dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati tubuh putrinya terduduk dilantai sambil bersandar di dinding.
"Ruru-chan! Kamu kenapa!"
"Libur musim panas nanti…aku akan sering menemuimu."
Kau sudah mulai…
Mengajakku untuk saat yang akan datang
"Ruru-chan! Mungkinkah penyakitmu—" panik melanda hati Hisana. Melihat kondisi anaknya yang kesakitan, membuat hatinya juga turut sakit.
"I—bu— Sa—sakit, bu—"
Dengan hati yang berat…
Aku…
XXxxXX
~Esoknya di Karakura High School~
"Baiklah, pelajaran kita sudah selesai. Liburan musim panas nanti jangan lupa belajar untuk ujian semester, ya. Bapak aka member kalian banyak P.R."
"EEHH!"
"Kejam!"
XXxxXX
~Pulang sekolah~
"Sensei!"
"Oh, Kurosaki. Ada apa?"
"Ano…kenapa hari ini Kuchiki tidak masuk?"
"Tadi saat jam istirahat, ibunya menghubungi sekolah. Katanya Kuchiki pingsan."
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Ada yang gawat?"
"Ah! Bapak tidak tahu jelasnya seperti apa—"
"Jangan-jangan penyakitnya!"
"Penyakit? O-oi Kurosaki!"
XXxxXX
"Apa dia baik-baik saja? Setiap hari dia selalu tertawa. Kemarinpun dia kelihatan sangat senang. Tapi aku yakin jauh didalam hatinya, dia pasti sangat sedih."
"Hah! Oh iya! telepon saja dia!"
"…"
"Aku gak tahu nomornya…." Ichigopun bersweatdrop ria.
Disaat Ichigo sedang meratapi kebodohannya, tiba-tiba saja ada sebuah taksi yang berhenti beberapa meter disisi kanan jalan. Gadis yang sejak tadi membuat Ichigo khawatir keluar dari taksi tersebut.
"Ichigo! Yahoooo!"
"Ru—Rukia! Sedang apa kamu disini?"
"Hah?"
"Bukannya tadi kamu pingsan?"
"Oh…itu..gomen gomen. Sebenarnya aku gak masuk karena bangun kesiangan."
"Eh?"
"Ehehe maaf ya. Ichigo jadi khawatir deh…"
"Aah dasar kau ini! Wajahmu tidak pucat, berarti kau sehat, kan?"
"Yup! Sehat 100%!"
Untuk beberapa detik, Ichigo dan Rukia hanya saling bertatapan. Sampai pada akhirnya Rukia memecah keheningan itu.
"Ichigo. Aku… mulai besok sampai minggu depan, aku akan berlibur dengan keluargaku."
"Kenapa tiba-tiba?" muncul kerutan di kening Ichigo, tanda kalau dia bingung dengan pernyataan Rukia.
"Gomen ne….aku ingin menyampaikan ini padamu secara karena itu, untuk sementara kita tidak bisa bertemu. Kau kesepian?" Rukia menyatukan kedua telapak tanggannya dan mengangkatnya kedepan matanya, gerak gerik meminta maaf.
"Bo—bodoh! Siapa juga yang kesepian?" Ichigo blushing. Walaupun dia tidak mau mengakuinya, tapi sebenarnya jauh didalam hati, ia akan merasa kesepian seperti apa yang dikatakan Rukia.
"Pulang nanti aku akan membawakan oleh-oleh yang banyak, kok!" masih dengan wajah yang ceria, Rukia berbalik untuk kembali masuk kedalam taksi yang tadi telah mengantarnya.
"Kalau pulang nanti, kita ngobrol seharian, ya! Mata ne!"
"Rukia! Disana jangan lari-larian, ya!"
"Iya iya…bye bye Ichigo!"
Tanpa Ichigo sadari, Rukia pergi sambil menangis.
Menangis karena ia tahu bahwa pertemuan mereka saat ini adalah yang terakhir.
Kalau pulang nanti….
Bye bye…
XXxxXX
~20 menit kemudian~
Saat ini, Rukia beserta ayah dan ibunya sedang berada didalam taksi. Tujuan mereka bukanlah rumah saudra, melainkan….
"Ruru-chan. Kita sudah sampai."
Rumah sakit Karakura….
Gomen ne…Ichigo
XXxxXX
~Seminggu kemudian~
"Tadaima!" seru Ichigo yang baru saja masuk kedalam rumahnya.
"Lho? Ichi-nii habis darimana?" Kurosaki Karin, adik Ichigo yang tomboy, bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari layar televisi.
"Bimbel…" karena sedang kehausan, jadi Ichigo segera mengambil sekotak jus jeruk yang ada di meari es. Ia teguk sampai habis setengah gelas.
"Ooh..payah…membosankan."
"Kau juga jangan nonton bola terus, Karin! Kerjakan P.R sana!" omel Ichigo kepada adiknya yang mala situ.
"Nanti aku akan menyalin punya Yuzu."
"Dasar pemalas." Melihat tingkah adiknya yang sangat malas, Ichigo hanya bisa menghela nafas berat.
"Oiya, ada surat untukmu, nih." Kata Karin tiba-tiba sambil memperlihatkan sebuah amplop surat berwarna biru muda.
"Eh? Aku? Dari siapa?"
"Yang pasti dari cewek. Pacarmu, ya?" goda Karin dengan senyum meledek diwajahnya.
Ketika Ichigo selesai membaca isi surat tersebut, ia segera berlari menuju pintu depan dan kembali memakai sepatunya. Baru 2 langkah ia keluar dari pintu depan, ia sudah harus ditanyai oleh adiknya yang lain.
"Lho Onii-chan? Mau kemana?"
"Pergi sebentar." Jawab Ichigo sambil memberikan pandangan datar kepada kedua adiknya.
"Dia mau ketempat ceweknya, Yuzu." Seru Karin dari balik pintu.
"Eeh! Onii-chan punya pacar?" sontak Yuzu terkejut dengan berita kakaknya punya pacar.
"My baka son punya pacar?" sebuah suara nyaring nan gaje muncul tiba-tiba dari balik semak-semak yang ada didepan rumah keluarga Kurosaki. Karena sudah terbiasa, reflex Ichigo mengangkat tinjunya kedepan dan berhasil memukul entah apa yang terbang tadi itu.
""Diam kau tua bangka!"
XXxxXX
Konnichiwa, Ichigo!
Apa kabar? Aku baik-baik saja, kok. Jangan khawatir.
Saat ini kalau kau ada waktu…bisa tidak kau keluar sebentar dengan mengikuti petunjukku?
XXxxXX
Pertama, ke laut kenangan kita
Lihatlah baik-baik ranting pohon kecil pertama didekat pantai
"Ranting?" Ichigo berjalan menuju pohon kecil yang ada didekat pantai dan mencari-cari ranting yang dimaksud.
Disalah satu ranting tersebut, ada sebuah kertas yang di
Lipat dan diikatkan diranting pohon itu. Dibuka kertas itu dan dibaca isinya oleh Ichigo.
"Apa ini?"
Sudah kau temukan!
Apa kau ingat, permintaan egoisku dilaut ini?
"Kalau begitu, ciumlah aku."
Saat itu, dari lubuk hatiku, aku sangat bersyukur karena masih hidup.
~Di waktu yang sama di rumah sakit~
"…"
"Ada apa, Ruru-chan?" Hisana, Ibunya Rukia, bertanya kepada anak gadis satu-satunya yang saat ini sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Ichigo…bisa sampai ke tempat terakhir, tidak ya?"
Hisana tersenyum kepada putrinya dan menjawab, "pasti bisa. Dia kan seorang Kurosaki Ichigo."
~Kembali ketempat Ichigo~
Petunjuk berikutnya ada di pintu gerbang sekolah
Setelah dari pantai, Ichigo segera pergi menuju gerbang sekolahnya sesuai dengan apa yang tertulis di surat. Dia cari kertas yang sama seperti tadi, diikat di gerbang sekolah.
Setiap hari, aku merasa sedih saat melewati gerbang ini.
Tapi karena dirimu, kau yang mengantarku sampai masuk ke kelas, benar-benar membuatku sangat senang sekali.
Ichigo terus mengikuti arahan-arahan yang tertulis di surat tersebut. surat yang ada di gerbang sekolah kini mengarahkannya ke halaman belakang Karakura High School. Saat ia tiba dihalaman belakang, ia melihat surat yang sama terikat diranting pohon.
Halaman belakang sekolah.
Saat bersih-bersih, aku melihat sikap teman-teman kepada Ichigo.
Saat itu aku berpikir kalau Ichigo sangat keren!
Ichigo tersipu malu membaca surat yang ini. Dia dibilang keren oleh gadis yang disukainya, merupakan hal yang sangat jarang dia dapatkan, karena biasanya pacar kecilnya itu selalu meledeknya.
Nah, sebentar lagi akan mencapai gol. Pergilah ke dalam hutan sekolah.
Dengan kalimat terakhir itu, Ichigo segera melangkahkan kakinya kearah dimana hutan sekolah berada.
XXxxXX
~Didalam hutan sekolah Karakura High~
Begitu masuk kedalam hutan itu, Ichigo mengedarkan pandangan matanya ke semua pohon-pohon yang ada disana, untuk mencari surat yang selanjutnya. Udara yang sangat panas dengan sinar matahari yang teramat terik, membuat peluh menetes dari keningnya. Rasa lelah karena sudah berjalan jauh, dari rumah ke pantai, lalu menuju sekolah, ke halaman belakangnya, dan sekarang ke hutan, membuat Ichigo benar-benar merasa lelah.
Setelah berjalan beberapa menit didalam hutan itu, akhirnya ia menemukan pohon yang ia cari.
Pohon yang dulu menjadi saksi saat Ichigo pertama kali memanggil Rukia dengan nama kecilnya.
Dibatang pohon itu tertempel sebuah kertas karton bertuliskan "GOL" dengan sebuah gambar kelinci atau chappy yang memiliki rambut hitam dan wajah tersenyum. Dikertas itu juga tergambar tanda panah yang menunjuk kebawah kertas itu. Benar saja, dibawahnya terdapat sebuah peti kecil berwarna violet muda dengan hiasan bintang-bintang kecil berwarna emas.
"Harta karun? Apa ya isinya?" Ichigo kebingungan melihat apa yang ditemukannya. Dia pikir didalamnya benar-benar harta karun, atau mungkin sesuatu yang berharga, tapi ternyata…
Secarik kertas putih
"Ini hadiahnya?"
Ia buka kertas itu dan sekali lagi membaca isinya.
Selamat! Ini golnya!
"Golnya?" Ichigo sweatdrop saat membaca gol.
Capek ya? Ehehe maaf ya jadi merepotkan.
Aku cuma mau bilang, terima kasih karena sampai saat ini kamu sudah mau berpacaran denganku.
Saat Ichigo membaca surat ini, aku pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Satu kalimat tersebut berhasil membuat tubuh Ichigo membeku.
Gomen ne…penyakitku tambah parah.
"Kokoro..kakera..kanashimi ga…."
Sebuah dering telepon membuat Ichigo menghentikannya membaca surat dari Rukia.
"Halo?"
"Ichi-nii!"
"Oh, Karin, ada apa?"
"Tadi ada telepon dari teman sekelasmu. Katanya temanmu yang bernama Kuchiki baru saja meninggal."
Prakk
Ponsel yang digenggam Ichigo jatuh ke tanah.
Ia kembali membaca surat terakhir dari Rukia.
Aku…benar-benar minta maaf karena tidak mengatakan yang sebenarnya.
Aku tidak ingin Ichigo melihat diriku disaat-saat yang terkahir.
Aku tidak ingin Ichigo melihat diriku yang sangat lemah.
Diriku yang egois ini….selalu memiliki kehidupan yang menyenangkan berkat Ichigo.
"Kuchiki Rukia. sudah berapa kali kau terlambat?"
Bertemu denganmu…
"Jangan bolos!"
Sampai saat ini, belum pernah aku menyukai seseorang seperti aku menyukai Ichigo.
"Hei. Liburan musim panas nanti…aku akan sering menemuimu."
Tiap hari yang kulalui bersama Ichigo, sangatlah menyenangkan.
"Kalau begitu…mau pergi ke laut denganku?"
Aku tidak menyangka kalau hidup itu bisa begitu menyenangkan seperti ini.
"Lebih jujurlah. Karena aku akan melakukan apapun yang kubisa."
Terima kasih…sudah membuatku merasakan sesuatu yang bernama cinta.
Ichi…
Aku menyukaimu.
Aku sangat menyukaimu.
"Kenapa?" tangan Ichigo yang memegang kertas surat itu gemetar. Setetes air jatuh ke tangannya.
Diwaktu yang sama, Rukia yang berada dirumah sakit telah menutup matanya dengan hal yang sama. Air mata mengalir dari bola mata amethystnya yang telah tertutup dan tidak akan pernah terbuka untuk selamanya.
"…kenapa? bukankah kamu bilang…..kau akan segera pulang, kan? Kita akan belajar bersama, kan? Tapi…tapi kenapa…"
Bagaimanapun juga…
Aku ingin kau hidup bahagia…
Untuk bagianku juga…
XXxxXX
~Musim semi, Karakura High School, upacara kelulusan~
Sorak sorai gembira terdengar jelas. Siswa dan siswi kelas 3 yang lulus berseru sekeras-kerasnya, mengekspresikan kebahagiaan mereka. Ada yang tertawa, dan ada juga yang menangis karena bahagia.
Diantara banyaknya siswa siswi Karakura High, ada satu siswa yang tidak ada disana.
"Lulus! Kita lulus!" teriak Keigo sekencang-kencangnya.
"Kita karaokean, yuk!" ajak Orihime.
"Ayo!" sahut Mizuiro.
"Lho? Ichigo kok tidak ada?" Orihime yang baru saja mau mengajak Ichigo, sadar kalau orang yang dicarinya tidak ada.
"Ooh..kalau Ichigo sih…ada di tempat pacarnya." Jawab Tatsuki, sahib kecil Ichigo yang sudah pasti tahu dimana Ichigo berada.
XXxxXX
~Makam Karakura~
Dari kejauhan, terlihat seorang pemuda berambut orange berdiri dihadapan sebuah batu nisan putih. Ditangannya terdapat sebuah ijazah dan seikat bunga lily putih. Ia letakkan bunga lily putih itu didepan nisan tersebut dan duduk dihadapannya.
"Rukia… Aku sudah lulus." Katanya sambil tersenyum lembut.
"Aku tidak mengatakan ini dengan berat hati. Ketika bersama dengan mu, itu adalah saat-saat yang paling menyenangkan dan aku sangat bahagia bisa mengenalmu."
Ichigo terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, setetes air jatuh dari matanya dan membasahi bunga lily yang dibawanya. Ia belai dengan lembut batu nisan putih yang terukirkan nama gadis yang paling dicintainya.
"Kau tidak meninggalkanku, dan terus menyukaiku."
Ia mengambil sesuatu dari sakunya, dan meletakkan benda bulat kecil itu disamping bunga lily.
Sebuah kancing baju berwarna emas.
"Aku akan terus hidup…untuk bagianmu juga."
Tanpa Ichigo sadari, seseorang yang tidak terlihat oleh mata biasa kini sedang memeluknya dari belakang. Sosok seorang gadis yang tersenyum lembut kepadanya.
Saat ini kau pasti berada….dilangit biru yang sangat luas ini.
Tempat kita mengenal cinta…
Meskipun hanya sekejap…
Saat itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku.
Fin
Yeah! Selesai juga!
Gomen minna…..fic ini harus berakhir dengan sad ending. Ai cuma ngikutin plot asli komiknya… gomen juga apdetnya super duper lama. Mood ngetik Ai gy ilang nih…. =,='
Special thanks to:
Wi3nter
So-chand cii Mio imutZ
Meyrin Mikazuki
Sara Hikari
Cherry Ruki Kurosakii
Kurosaki Mitsuki
Yupi Akayuki Kurosaki
erikyonkichi
Yurisa-Shirany Kurosaki
Nana Kurosaki
Dina rukia kuchiki D'hollow
Uzumaki
Watery4441
Nana Naa
Hikari HimeTsukiTen
Toushiro Sakichi
Salnan Klein Phantomhive
Renmi3 novanta
Untuk para readers & author diatas, serta yang menjadi silent readers, hontouni arigatou, karena sudah mengikuti fic ini sampai akhir…makin lama tulisan Ai makin ancur deh =,='
Yang baru kenal sama Ai, salam kenal juga ^^
Gomenasai karena Ai ga bisa balas ripiu baik disini maupun d PM.
Oya! Ai bikin polling nih. Kalau ada waktu, ikutan yah ^^
http : / / www . pollpub . com / couple – in – bleach . aspx
spasinya diapus aja *buat yang belum tahu*
Niatnya Ai mau bikin fic special ultah Rukia, tapi gak ada mood =,='
Jadi yah ini aja deh yg Ai pake
Tanjoubi Omedetou, Rukia-nee!
Semoga Rukia-nee cepat muncul di Bleach, n jangan sedih Cuma karena ending bleach yang ke-26! Justru Rukia-nee harus bersemangat , karena ending itu memperlihatkan perbedaan sifat Ichigo kepada Rukia-nee dan teman-temannya yang lain!
Pokoknya, never give up at IchiRuki! *so' bahasa inggris*
Cukup sekian dari Ai
~Aizawa Ayumu Oz Vessalius~
~Review Please~
