PENJAGA JEMBATAN

Goresan bulu bertinta yang mengenai kertas memenuhi kamar tidur Alfonse. Semalam suntuk ia menghabisakan waktu mencari kata yang tepat untuk mengirim surat pada kerajaan. "Kalau sampai sore aku tidak kembali. Tolong tulis surat pada ayahku kalau aku sudah meninggal." Perkataan Miku masih jelas terdengar ditelinga Alfonse. Ia tidak habis pikir, bahwa menjadi seorang putri harus memiliki nyali yang sangat besar. Tidak, bukan nyali. Melainkan tanggung jawab. Riuh kicau burung menyadarkan Alfonse dari tidurnya.

"Miku!" satu nama yang ia keluarkan dari mulutnya. Dengan sigap ia menuju lantai dua dimana kamar sang putri berada. Sayangnya ia terlambat. Hanya secarik kertas tosca yang tersimpan rapih di atas meja.

Alfonse,

Aku tahu kamu pasti akan mencariku pagi hari ini. Tolong jangan lupakan perbincangan kita semalam ya. Ingatkan Lapis untuk makan roti selai pukul delapan karena itu adalah waktu terbaik perut menerima asupan. Jangan khawatir, aku sudah menyaipkan perbekalanku sendiri. Sampaikan salamku untuk semua petani didesa. Aku sangat mengandalkanmu, Alfonse. Sampai bertemu lagi.

Salam hangat,

Hatsune Miku

Tetesan air mata jatuh membasahi surat itu. Tangannya bergetar melipat kembali surat seperti semula. Dalam hatinya ia hanya bisa memohon yang terbaik pada dewa air. "Miku, selamat berjuang." Alfonse merapikan kamar Miku lalu melakukan apa yang diperintahkan Miku padanya.

.

.

"Lofi, terima kasih ya.." Mikuo mengusap kepala serigala air itu.

"Selamat datang kembali tuan muda." seorang pelayan menyambut Mikuo sepulang dari desa Lindy

"Ah, selamat pagi Nei. Bagaimana keadaan hari ini?" Pemuda itu membuka jubahnya sembari berjalan.

"Yang Mulia sedang dalam kunjungan ke Kerajaan Kaime. Raja Ferdinand sedang sakit, sehingga ia membutuhkan pengobatan dari kerajaan Elaire. Yang Mulia Ratu sedang mengurus mantra barunya sedangkan tuan putri masih berada di wilayah pertanian, Tuan Muda." Nei mengakhiri laporannya dengan menutup jurnal miliknya.

"Wilayah pertanian? Sejak kapan?"

"Kemarin, Tuan Muda. Yang Mulia sendiri yang memerintahkan Tuan Putri untuk pergi kesana."

"Apa ada pengawal yang ikut dengannya?"

"Tentu saja, Tuan Muda. Elie dan Orion bersama Tuan Putri."

"Baiklah, pastikan Miku sore ini sudah kembali ya. Ada hadiah kecil untuknya dari putri dari desa Lindy kemarin.

Pelayan itu membungkukan badannya. Mikuo berjalan menuju ruang makan. Sang Ratu duduk didekat jendela dengan secangkir teh di tangan kanannya. Walaupun tidak menoleh, Mikuo tetap membungkukan badannya sebelum mengampiri ratu yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Mendengar pintu tertutup, sang ratu menaruh cangkirnya kemudian segera memalingkan pandangannya ke arah suara. Senyum lebar terlukir pada raut wajah wanita separuh abad itu.

"Mikuo.. kamu pulang lebih cepat?"

"Iya, ma.. Kunjungannya lebih singkat dari dijadwal. Jadi aku pakai sebagian waktunya untuk beli ini." Ia mengeluarkan bros berbentuk tetesan air lengkap dengan hiasan di sisinya. Mikuo tahu betul bahwa ibunya senang dengan koleksi bros. Tertutama yang berbentuk tetesan air. Menurutnya, selain melambangkan elemen yang ada di desa, air juga membawa ketenangan bagi siapapun tanpa peduli kedudukan mereka.

"Ah, terima kasih Mikuo. Kamu sudah sarapan? Biar Ibu buatkan teh ya sambil kita tunggu sarapan." Wanita itu menyematkan bros air tersebut pada syal miliknya. Lalu berjalan menuju meja dimana ia meletakan teko tehnya.

"Aha iya juga, tadi aku berangkat subuh."

Keduanya bercengkrama dengan asik. Melepas rindu yang sudah lama terpendam karena kesibukan masing-masing. Selama sepekan ini, Mikuo bisa bernafas lega karena ia bebas dari tugas kunjungan. Terdengar menyenangkan sepertinya, namun berkunjung ke desa lain memerlukan persiapan yang begitu matang. Selain fisik, mentalpun harus Mikuo siapkan. Tidak jarang gadis-gadis desa mengejarnya, bahkan ada yang berusaha menariknya secara paksa. Sebagai seorang pangeran, ia harus bisa menahan emosinya terutama saat berada di luar desa. Bukan hanya nama baiknya saja melainkan nama baik desa Elair pun berada di atas pundaknya. Tetap saja bebas dari tugas bukan berarti ia bebas dari beban pikiran. Saat ini ia merasa ada yang tidak beres di daerah pertanian, dimana adiknya berada. Ia selau khawatir akan Miku, namun kali ini berbeda.

.

.

Perjalanan panjang harus ia tempuh untuk dapat sampai di tebing air terjun Nirmala. Berbekalkan peta yang ia peroleh di penginapan dan senter, Miku berharap ia bisa segera tiba. Bebatuan bahkan lumpur kini sudah menjadi sahabat baiknya selama perjalanan, tidak peduli apapun yang terjadi pada pakaiannya, tujuan Miku sudah bulat, tidak ada yang bisa menghalanginya, sekalipun itu adalah ayahnya.

Bongkahan batu besar menjadi tempat peristirahatannya. Kira-kira pukul 11.00 pagi, namun matahari sudah begitu terik. Miku mengeluarkan roti selai yang ia buat tadi subuh. Potong demi potong roti, perlahan memenuhi mulutnya. Setelah dirasa kenyang, Miku merapikan pakaiannya serta tas perbekalanya. Ia berdiri lalu melanjutkan perjalanannya. Angin berhembus membelai wajah Miku yang mulai bercucuran berkeringat. Pelan tapi pasti, percikan air membasahi rambut Miku yang diikat menjadi satu bak ekor kuda. Deruh air semakin jelas terdengar serta udara lebih dingin dari sebelumnya. Cahaya matahari masih menemani putri desa Elair itu melalui sela-sela pepohonan.

"Haaa.. aku ga tau kalau dipertanian punya tebing yang bagus banget!" tangan kanannya ia taruh diatas alis segera ia melayangkan pandangannya kearah pedesaan. Para petani terlihat semakin kecil dari puncak tebing. Petak-petak air pun terlihat jelas. Betapa indahnya pemandangan yang jarang Miku dapatkan selama berkunjung ke wilayah pertanian ini.

"Eh?" Miku terdiam. Ia mendengar suara ranting yang terinjak dibelakangnya. Sekian lama perjalanan ia sudah memastikan bahwa tidak ada yang bisa mengikutinya sejauh ini. Dengan tetap tenang Miku berusaha tidak menghiraukan suara tersebut namun tetap menjaga posisinya.

Kemudian ia kembali berjalan menuju ujung tebing, dimana menurut legenda akan ada pintu gua yang mengarahkannya pada puncak air terjun. Ia berjongkok dan melihat kebawah sejenak, namun Miku ingat, sejak kejadian tadi masih ada yang memperhatikannya. Bulu tengkuknya mendadak berdiri, angin berhembus namun tidak sama seperti sebelumnya, bahkan deruh air terjun memerkeruh suasana. Tidak pernah merasa seperti ini, Miku memberanikan diri untuk berdiri dari posisinya.

Ketika ia hendak berdiri, geraman terdengar di belakangnya, langkahnya begitu berat. "Sial!" satu kata yang bisa Miku ucapkan. Kini badannya tidak bisa bergerak, terdiam kaku diujung tebing. Hanya ada dua pilihan. Lompat atau lari ke hutan. Tangannnya mengepal. Ia tidak mampu menggunakan elemennya saat ini. "Ayo Miku, AYO MIKU BERPIKIR!"

"GRAAAUUM!"

.

.

.

"A—aku.. Aku masih hidup?" Miku membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia masih mendengar deru air, angin masih menerbangkan rambut-rambutnya dan ia masih menghadap air terjun.

"Hei.."

"WAAA—" Miku menjerit namun mulutnya segera ditutup. Detak jantungnya semakin cepat.

"Ssttt! Aku ga bakal gigit! Kita pindah dulu ketempat aman." Suaranya begitu menenangkan tapi asing bagi Miku.

"Ayo.." Mereka berjalan masuk menuju hutan, mencari tempat bersembunyi yang aman dari mahluk tadi. Miku masih belum melihat siapa yang saat ini bersamanya. Ia merasa aman, namun tetap waspada. Sekarang, ia hanya bisa mengikuti langkah kaki seseorang didepannya. Orang itu menggunakan ikat kepala dengan bulu diujungnya, pakaian yang rapih, dan membawa pedang (pikir Miku) di belakangnya.

"Oke, kayaknya udah cukup jauh, kamu bisa tenang sekarang." Mereka duduk bersebelahan sambil menghela nafas.

"Em.. maaf tapi t—tangan aku.." Miku menyadari sejak tadi, tangannya terus dipegang sampai mereka tiba di sebuah gua dekat air terjun.

"A—ah! Maaf!" ia membungkukan badannya.

"Aha tidak apa-apa, aku ga biasa aja.." Miku menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Begitu ia membuka matanya, ia menemukan dua bola mata berwarna biru laut tepat berada didepannya. Wajahnya begitu tampan. Rambut kuning keemasannya yang agak panjang, terikat satu di belakang. Ikat kepalanya bergerak-gerak seiring angin yang masuk kedalam itu pun terdiam melihat seorang gadis yang ada di depannya. Sejak ia menolong gadis itu, ia belum melihat mukanya sedikitpun, hanya rambut hijau tosca yang begitu indah yang mencuri perhatiannya. Mata Miku begitu memikat pemuda itu. Menyadari wajah mereka terlalu dekat, Miku dan pemuda itu memundurkan badannya sedikit.

"Maaf!" wajah mereka berdua memerah.

Tetesan air dari stalagmit menggema sepanjang gua. Sesekali cipratan air terjun masuk melalui mulut gua. Miku dan pemuda itu masih terdiam.

"Em.. makasih ya.." Miku membuka pembicaraan.

"Ah, ga apa-apa. Oh iya, namaku Kagamine Len. Panggil aja aku Len." Ia mengulurkan tangannya.

"Aku Hatsune Miku.." Keduanya bersalaman sembari tersenyum.

"Oke, aku panggil Miku ga apa-apa?" Len sedikit memiringkan kepalanya

"Santai aja.. oh, ngomong-ngomong gimana kamu bisa ada disini?" Miku tersadar dari semua lamunan indahnya tentang Len.

"Ah soal itu, panjang ceritanya. Aku masih ada keperluan sebenernya. Tapi kalau aku tingalin kamu disini, apa kamu bisa lanjutin perjalanan kamu?" Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. Sedikit membersihkan daun-daun yang menempel di rambutnya saat ia berlari menerobos semak-semak.

"Oh..hmm.. silahkan, Len, aku udah mendingan.." senyum terukir di wajah Miku. Seketika ia ingat akan kejadian yang ia alami sebelum sampai di gua pilihan yang ia ambil tidak semudah yang ia bayangkan.

"HAHAHAHA!" Len tertawa dengan luasnya

"Ha?" Mulut Miku terbuka lebar.

"Pertama kali aku ketemu orang kaya kamu, Mi.. biasanya kalau cewe-cewe ketemu aku, yang pertama mereka pikirin cuman alesan biar aku ga pergi. Tapi kamu malah biarin aku pergi. Menarik..." Len kembali duduk di depan Miku.

"Len?"

"Tenang, Mi.. aku bercanda, aku kira kamu sama kaya cewe lain. Tapi kamu unik sih sejauh ini.."

"Len, tunggu.."

"Iya? Aku baru mau mulai cerita.."

"KEPALA KAMU BERDARAH!" Miku berteriak histeris. Darah segar mengucur dari kepala Len."

"Eh? EHHH?!"

"Sekarang diem disana! Aku bakal siapin obat buat kamu!" Miku berubah 180 derajat.

"S—SEJAK KAPAN?!"

"Stt!" Miku menaruh telunjuk mungilnya di depan mulut Len.

"Kamu tenang, atur nafas kamu. Kalau kamu takut, tutup mata juga ga apa-apa" Miku memegang pundak Len yang lebar, menyandarkannya ke dinding yang sudah ia lapisi dengan air steril miliknya. Len masih memandangi wajah Miku. Tidak pernah ia melihat gadis secantik Miku sepanjang perjalanannya.

Dengan posisi duduk, Miku mengeluarkan botol kecil miliknya berisi air dan ramuan obat. Tutup botol terbuka dan cairan tersebut keluar mengikuti gerakan tangan Miku. Bola air itu melayang diatas tangan kanan Miku, ia membawanya mendekati mulut dan mengucapkan beberapa mantra untuk ramuannya. Tidak lama gumpalan air itu mengeluarkan cahaya.

"Mi.. " pandangan Len mulai kabur. Cahaya didepannya bagaikan percikan bintang ditangan seorang gadis.

"Len.. tenanggg, obat ini cepet kok kerjanya, kamu sehat lagi kok, percaya ya sama aku. kumohonnnn" Ia membawa ramuan itu dan mengoleskannya perlahan pada luka Len. Airpun meresap dan mulai menutup luka pemuda itu. Miku masih memegang kepala Len. Berharap ramuannya cepat bekerja. Tetesan air membuat detak jantung Miku semakin cepat. Badan Len semakin dingin. "Kumohonnnn.." Miku menutup matanya dan memeluk Len dengan erat.

"Yang harusnya tenang itu kamu.." Len menepuk punggung Miku perlahan.

"Leeenn! Syukurlah ramuannya bekerja lebih cepet."

"Ehehe.. Makasih banyak ya, Mi.."

"Tidak perlu.. itu udah bagian dari tugasku juga kok. Tadi juga kamu udah bantu aku kan."

"Oh, aku janji mau cerita tadi.. tapi ada satu yang mau aku tanya dulu."

"Ya?"

"Kamu pemakai elemen air?"

"..." Miku terdiam. Ia sadar tidak seharusnya ia membiarkan orang yang baru ia kenal tahu kemampuannya.

"Mi?"

"Aha.. kebetulan iya.." salah satu sisi baik Miku adalah, ia tidak bisa berbohong.

"Whou.. aku tidak tahu kalau di desa ini ada pengendali air juga.."

"Apa?" Jawab Miku singkat. Miku sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Perilaku Len cukup mencurigakan untuknya. Segera ia berdiri lalu menarik air dari genangan terdekatnya. Len sudah menjadi targetnya.

"H—hei..Miku!"

Tubuh Len yang basah dengan air memudahkan Miku untuk menyerangnya. Ia melilit kaki Len dengan tali air. Namun saat ia akan melilit tangannya. Pedang api berada tepat didepannya. Miku kalah cepat. Len memasang kuda-kuda. Seakan tidak mau diremehkan, Miku langsung membuat tombak dari air dan mengarahkannya pada jantung Len.

"Sebenarnya kamu siapa?" keduanya menanyakan pertanyaan dengan masing-masing senjata yang siap membunuh.