~ Black Magic ~
.
'Take a sip of this secret potion, one taste and you'll change.'
.
Kim Taehyung x Jeon Jungkook | BL Story | School-life!AU
| BTS Story | Rated T
.
.
This is inspired by Little Mix – Black Magic.
.
.
nalla-Lisa present
A / n : I'm very very very happy with all enthusiasms that you gave for this fanfic and thank you for those who favorite and following this fanfic. Couldn't tell you about how much happy am I. And I'm so sorry for updating this fanfic way too late karna aku waktu itu terjerat oleh PAS (Penilaian Akhir Semester) dan dalam mood yang ga bagus untuk ngelanjutin ini hehe. Hope you all enjoy with chapter 2! And I will reply all of your reviews from chapter 1 below the story, once again thank you and I'm sorry if I made this a/n too long! Merry Christmas and Happy V Day!
Chapter 2 : A Mysterious Black Secret Potion
Waktu terus berjalan tanpa henti, hingga kini hari pun telah berganti.
Jungkook terbaring di atas ranjangnya dengan mata terbuka lebar. Ia mengamati langit – langit kamarnya yang berhias lampu – lampu kecil ; membentuk seekor beruang.
Jungkook ingat, dulu ia yang membuat itu bersama ayahnya.
Saat itu Jungkook kecil sedang menonton TV di ruang keluarga. Tayangan yang ia tonton mengenai bintang dan luar angkasa. Disitu ia melihat bentuk – bentuk rasi bintang yang dijelaskan oleh tayangan tersebut dan membuat Jungkook kecil menatap penuh kagum.
Jungkook itu masih terlalu kecil untuk mengetahui banyak hal, baik yang mustahil maupun yang tidak mustahil. Hingga ia pun memanggil ayahnya.
"Appa," panggil Jungkook begitu ayahnya datang lalu duduk di sebelahnya. Ayahnya pun menoleh dengan tampang bertanya sambil mengelus surai hitam lebat milik Jungkook. "Ada apa Kook-ah?" tanya ayahnya dengan suara berat dan dalam.
"Appa, lihatlah!"
Jungkook menunjuk TV di hadapannya. "Appa, Jungkook ingin itu ada di kamar," lanjut Jungkook dengan mata yang masih memandang kagum ke arah layar TV. Ayahnya pun menoleh ke arah yang ditunjuk Jungkook sebelum kemudian ia tertawa kecil. Jungkook itu terlihat polos sekali dan begitu lugu di mata ayahnya.
"Waeyo appa? Apa ada yang lucu?" tanya Jungkook dengan merengut.
Jungkook merasa bahwa ayahnya menertawakannya karena ia menginginkan rasi bintang yang berada di layar TV itu.
"Anniya Kook-ah. Karena appa tidak bisa memberikanmu yang seperti di TV," jeda ayahnya sambil menunjuk layar TV, "appa akan membuatnya sendiri bersamamu. Eottae?"
Jungkook pun mengangguk bersemangat. Baginya, baik yang seperti di TV maupun tidak asal berada di kamarnya itu sudah cukup. Ah, pikiran anak kecil itu memang sederhana. "Mau! Jungkook mau appa!" seru Jungkook dengan semangat sambil tersenyum lebar kepada ayahnya.
"Hahah, baiklah ayo kita buat! Kita akan memasangkannya di langit – langit kamarmu nanti," ujar ayahnya sambil tersenyum kecil melihat Jungkook yang begitu bersemangat.
Ah, kenangan yang begitu indah. Namun sayang, ayahnya yang dulu begitu hangat dan menyayanginya berbalik menjadi sosok pembenci dan dingin terhadapnya. Ya, semua itu terjadi tepat saat Jungkook mulai memasuki masa pubertasnya hingga sekarang.
Jungkook tertawa miris. Padahal, ayahnya itu adalah panutannya. Ia merupakan pahlawan bagi Jungkook yang selalu melindungi dan menjaganya setiap saat.
Jungkook sangat menyayangi ayahnya—tidak—ia menyayangi kedua orang tuanya, sangat.
Bahkan ia rela melakukan apapun untuk kedua orang tuanya asal mereka selalu berbahagia, asal mereka selalu nyaman. Hingga saat ini pun rasa sayang itu selalu ada, walaupun mereka membencinya dan tidak pernah menganggapnya ada.
Jungkook menghela napasnya pelan sebelum kemudian menolehkan kepalanya ke kiri untuk melihat jam yang tertera. 06.15.
Percaya lah, pada pukul ini Jungkook harusnya sudah berada di sekolah dan menunggu selama 15 menit hingga bel masuk berbunyi. Namun, yang dilakukannya sekarang hanya tetap berbaring seakan – akan ia tidak memiliki jadwal maupun kesibukan pada hari ini.
Sebenarnya, Jungkook ingin masuk ke sekolah seperti biasa.
Mengikuti pelajaran dan bertemu Irene, Sana, Jihoon yang selalu menjadi mood boosternya di sekolah. Namun, kejadian yang dialaminya kemarin membuat Jungkook enggan bergerak untuk bersiap – siap menuju tempatnya menuntut ilmu. Apalagi, ada beberapa orang yang ingin Jungkook hindari. Pastinya kalian tau, orang – orang itu adalah Nayeon bersama dua anjing-nya dan terutama,
Kim Taehyung.
Setiap mengingat namja itu, otak Jungkook akan berkelana menggali memori dimana Taehyung—ah sudahlah, Jungkook tidak ingin memikirkannya kembali. Jungkook pun kemudian memilih untuk beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Setidaknya mungkin mandi bisa menyegarkan tubuh dan pikirannya.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook mengambil satu sweater merah tebal dari lemarinya lalu memakainya. Ia berencana untuk keluar sebentar dari rumahnya, berjalan – jalan merasakan udara pagi yang sangat ia rindukan. Dulu, ini adalah kegiatan rutinnya.
Tak lupa ia mengambil salah satu masker dalam laci nakasnya dan memakai kacamata bulatnya. Setelah itu ia keluar dari rumahnya.
Kakinya melangkah pelan menapaki jalanan Seoul yang ramai pada pagi hari ini.
Bisa ia rasakan sinar mentari yang hangat menerpa dirinya dengan semilir angin pagi yang begitu segar. Matanya memandang ke arah orang – orang yang saling berlalu lalang di hadapannya atau toko – toko kecil yang akan buka sebentar lagi. Ia tersenyum di balik maskernya. Jungkook selalu menyukai suasana ini karena ini selalu membuatnya tenang dan lupa akan segala masalah yang berada di belakangnya.
Ini seperti obat tersendiri baginya.
Jungkook terus berjalan menyusuri Kota Seoul hingga ia pun memilih untuk mengistirahatkan kakinya sejenak sembari duduk di salah satu taman kecil.
Ia membuka maskernya lalu menghirup udara secara langsung. Matanya terpejam sejenak menikmati suasana ini. Hingga kemudian ia memakai maskernya kembali dan melanjutkan jalannya kembali menuju rumah. Menurutnya ini sudah cukup untuk menyegarkan pikiran dan tubuhnya.
Saat dalam perjalanan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Ah," gumam Jungkook sambil memegang bahu kirinya yang tertabrak orang tersebut. Ia langsung menoleh untuk melihat wajah orang yang menabraknya. "Ah maaf, aku sedang terburu – buru sehingga tidak melihatmu. Sekali lagi maaf," seru orang tersebut yang ternyata adalah seorang namja. Ia membungkukkan badannya beberapa kali pada Jungkook sebelum kemudian berjalan kembali mendahului Jungkook dengan menyeret koper di tangan kanannya. Sama sekali tidak menolehkan kepalanya untuk melihat wajah Jungkook.
Tunggu, koper? Jungkook melihat kembali namja yang tadi menabraknya itu dengan pandangan heran sebelum kemudian ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Jungkook merasa seperti mengenal siapa namja yang tadi menabraknya, namun ia tidak tahu dengan pasti. Hingga ia pun memutuskan untuk melupakannya dan berjalan kembali menuju rumahnya.
oOooOooOo
Jungkook bersantai di dalam kamarnya sambil membaca satu buah novel baru yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Matanya memindai setiap kalimat yang berada dalam novel itu dengan antusias hingga ia pun menghentikan kegiatan membacanya begitu mendengar suara seseorang dari luar kamarnya.
"Hey bodoh, teman – temanmu datang. Cepatlah keluar, mereka menunggu di bawah."
Ah, itu suara adiknya, Jeon Jungra. Jungkook pun yang mendengar nama temannya disebut segera menutup novelnya dan menaruhnya di atas meja belajar sebelum kemudian berlalu keluar dari kamar menuju lantai bawah rumahnya. Tidak terlalu mempedulikan umpatan Jungra padanya.
Jungkook bisa melihat Irene, Sana, dan Jihoon yang tengah duduk di sofa miliknya dengan adiknya, Jungra, yang tengah mengajak teman – temannya mengobrol.
"Hua, Irene eonni semakin cantik sekali dan Sana eonni juga! Jihoon oppa juga tambah manis sekali. Aku sangat merindukan kalian!" seru Jungra dengan nada senang dan raut gembira. Sedangkan yang diajak bicara oleh Jungra hanya mendiamkan Jungra dan tidak menganggap dirinya ada. Mereka tengah asik mengobrol dengan satu sama lain.
Ah, ketiga teman dekat Jungkook itu tidak pernah menyukai Jeon Jungra. Bahkan mereka bertiga membenci remaja perempuan yang sekarang telah berumur 14 tahun itu. Mereka membencinya karena mengetahui Jungra yang tidak pernah sekalipun menganggap Jungkook sebagai kakak kandungnya sendiri dan selalu menghinanya tanpa pernah memikirkan perasaan Jungkook sendiri. Awalnya Jungkook menyuruh mereka untuk tidak membenci adiknya karena sejujurnya bagi Jungkook itu adalah perbuatan yang wajar mengingat bahwa penampilannya itu begitu memalukan.
"Hey Jungkookie!" sapa Jihoon yang menyadari kehadiran Jungkook terlebih dahulu. Kakinya melangkah mendekati Jungkook lalu memeluk sahabatnya itu. "Hua, kenapa kau tidak masuk ke sekolah hari ini? Aku merasa kesepian tau bersama Sana dan Joohyun," sahut Jihoon dengan nada sedih yang dibuat – buat.
Jungkook sendiri hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Sahabatnya yang satu ini memang cukup kekanakan dan terlalu dramatis, namun Jungkook sangat menyayanginya.
"Hey, aku baru tidak masuk sehari saja kau sudah begini. Bagaimana kalau aku tidak masuk selama berhari – hari?" ujar Jungkook sambil tersenyum kecil. Jihoon yang mendengar hal itu langsung melepas pelukannya dan menatap Jungkook dengan marah.
"Kalau sampai hal itu terjadi, aku akan mencarimu lalu membunuhmu Jeon Jungkook!" seru Jihoon dengan ekspresi marah sebelum kemudian berubah menjadi sedih.
Jungkook sendiri tertawa lebar menanggapi Jihoon. "Ya, kau itu dramatis sekali sih Hoon-ah! Benar – benar menjengkelkan," ujar Irene dengan sinis sebelum tangannya mendorong kepala Jihoon. Entah sejak kapan Irene sudah berada di dekat Jihoon dan Jungkook dengan Sana mengekor di belakangnya sambil tertawa kecil melihat kedua temannya yang tidak pernah akur itu.
"Aish Bae Joohyun, mati saja kau!"
Jihoon hendak menarik rambut Irene sebelum suara Jungkook menengahi. "Haish kalian ini, sudahlah kalian ke kamarku duluan. Aku akan mengambilkan minum untuk kalian," ujar Jungkook sambil mengusir teman – temannya untuk ke kamarnya terlebih dahulu.
Setelah mereka semua bubar, Jungkook hendak ke dapur membuat minuman sebelum suara Jungra menghentikan gerakannya.
"Aku tak mengerti mengapa orang – orang berkelas seperti mereka berteman denganmu yang tidak lebih dari sebuah sampah. Apa kau menjilat mereka untuk menjadi temanmu atau—"
/Plak/
Belum sempat Jungra menyelesaikan ucapannya, Jungkook menampar pipinya.
"Ya!" teriak Jungra pada Jungkook dengan tatapan penuh emosi. Ia tidak terima bahwa Jungkook telah menampar pipinya dengan keras. "Jaga ucapanmu Jeon Jungra. Aku tau kau sangat membenciku karena tampilanku ini yang sangat buruk, namun kau tidak bisa seenaknya juga menilai bagaimana diriku dari dalam kalau kau sendiri tidak tau apa – apa! Jangan ikut campur urusanku karena kau sendiri kan yang meminta untuk tidak berbicara antar satu sama lain dan menganggapku tidak pernah ada. Aku sudah cukup sabar selama ini menghadapimu," ujar Jungkook dengan napas tertahan. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Sungguh, Jungkook sangat menyayangi adiknya lebih dari apapun dan selalu menuruti kemauan adiknya. Bahkan ia menerima kenyataan bahwa Jungra tidak menganggapnya sebagai kakak maupun keluarga. Satu yang selalu jadi prioritas Jeon Jungkook, kebahagiaan keluarganya.
Namun, mendengar kata – kata Jeon Jungra saat ini membuat Jungkook jadi teringat kembali akan kata – kata yang dilontarkan ibunya kemarin maupun Taehyung.
Tidak ada bedanya. Mereka semua hanya menyakiti Jungkook.
Jungkook menarik napasnya pelan dan berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan adiknya maupun orang lain dengan menangis karena perkataan – perkataan tajam yang selalu menyayat hatinya. Jungkook kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan Jungra yang hanya bisa menatapnya dengan sedih tanpa Jungkook ketahui.
"Aku sebenarnya tidak berniat membencimu oppa," ujar Jungra dengan suara pelan dan memejamkan matanya perlahan, "namun mendengar perkataan orang – orang di luar sana yang selalu mencemooh appa, eomma, dan aku hanya karna tampilanmu itu membuatku menjadi benci padamu." Jungra membuka matanya kembali dan menunjukkan sorot kebencian yang mendalam. "Mianhaeyo oppa."
.
.
.
.
.
Sana memandang sendu ke arah Jungkook yang sedari tadi hanya duduk terdiam di pinggir jendela kamarnya sambil meringkuk. Pandangan matanya begitu kosong dan seakan tidak ada harapan hidup. Sana memutuskan untuk mendekati Jungkook dan mengelus bahunya pelan.
"Kook-ah," kata Sana, "kau baik – baik saja?"
Irene dan Jihoon yang tadinya sedang berdebat antar satu sama lain serta berdiam – diaman langsung menoleh ke arah Jungkook dan Sana begitu mendengar suara Sana yang lirih.
Jihoon menyikut lengan Irene pelan. "Hey, ada apa sama Jungkookie?" tanya Jihoon dengan nada yang sangat pelan. Irene sendiri hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu apa – apa. Ia memutuskan untuk mendekati Jungkook dan Sana diikuti Jihoon di sampingnya.
"Kook-ah?" tanya Sana lirih pada Jungkook yang sedari tadi hanya bungkam.
Sana sangat membenci Jungkook yang seperti ini. Hal terakhir yang Sana harapkan adalah melihat Jungkook yang sedih dan hampa.
Sana sadar sedari awal sejak Jungkook membawa masuk nampan berisikan tiga gelas es jeruk dan menyodorkannya pada mereka bertiga, raut wajah Jungkook nampak berbeda. Dan ia menyadari sudut mata Jungkook yang terdapat setitik air di sana. Ia tahu jelas bahwa itu bukan karena Jungkook yang habis membasuh muka ataupun keringat Jungkook sendiri. Itu adalah air mata.
Sana sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan Jungkook saat di luar kamar dan Jungkook sendiri juga sedari tadi masih bungkam dan enggan bersuara.
"Jungkookie kenapa?" tanya Jihoon dengan suara pelan. Raut wajahnya berubah menjadi sedih melihat Jungkook yang juga nampak sedih.
"N-nan… G-gwaen.. channa," ucap Jungkook dengan suara yang sangat lirih.
Bukannya apa Jungkook seperti ini. Ia hanya tengah merenungkan tentang segala penderitaan, cacian maupun makian yang selalu didapatkannya selama ini.
Jungkook sendiri merasa tidak enak pada Irene, Sana, dan Jihoon yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Ia merasa begitu bersyukur dan merasa sangat dicintai dengan kehadiran tiga orang tersebut yang selalu ada di sampingnya dan selalu mendorongnya dikala ia lelah dan ingin berhenti. Mereka yang akan mengusap air matanya dan membuatnya tertawa keras seakan tiada hari esok. Mereka yang selalu mengerti dirinya dan tidak pernah lelah untuk menjadi temannya, sahabatnya.
Jungkook tidak perlu meminta lebih pada Tuhan karena selama ini ia telah mendapatkan lebih dari cukup dengan kehadiran Sana, Irene, dan Jihoon. Baginya, Tuhan sudah sangat baik dengan hidupnya terlepas dari fisik yang ia punya. Selama ini ia selalu berkeluh kesah mengenai penderitaan yang dialaminya dan betapa tidak cintanya Tuhan pada dirinya dan meninggalkannya dalam lubang kegelapan yang begitu dalam tanpa sadar Ia telah memberikannya sebuah kebahagian melalui Sana, Jihoon, dan Irene yang mengubah dirinya dan menariknya keluar dari kegelapan dengan sejuta cahaya yang siap meneranginya.
Hanya mereka lah yang menerima fisiknya apa adanya dan menyayanginya tulus sebagai sahabat, bukan sebuah perasaan palsu.
"Hey Jungkook? Kau benar baik hm?" tanya Irene dengan khawatir begitu melihat Jungkook yang menangis. Ia pun segera memeluk Jungkook dari belakang, memberikan sebuah afeksi sebagai sahabat. Jungkook sendiri pun tidak sadar bahwa wajahnya telah basah oleh air mata, namun ia tidak peduli lagi.
Bukan tangisan kesedihan yang ia tangiskan, melainkan tangisan rasa syukur.
Sana pun juga memeluk Jungkook dari depan dan mengusap surai hitam milik Jungkook dengan lembut. Jihoon juga ikut memeluk sahabat yang sangat disayanginya itu melihat Sana dan Irene memeluknya.
"Kook-ah, kau tidak perlu bersedih. Kami selalu disini, siap mendengarkan keluh kesahmu dan membuatmu tertawa."
Dan dengan itu Jungkook yakin dan percaya.
Bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan hamba-Nya tanpa sebuah arti ataupun tujuan. Tuhan menciptakannya untuk mengenal rasa kasih sayang yang tulus yang didapatkannya setelah semua penderitaan yang dialaminya.
oOooOooOo
Jungkook masuk sekolah kembali pada hari berikutnya.
Dengan apa yang telah terjadi kemarin membuat Jungkook lebih bahagia dan semangat dalam menjalani hidupnya. Jungkook tidak perlu khawatir lagi akan semuanya. Baginya, asalkan ada ketiga sahabatnya itu, semua bisa dihadapinya.
Jungkook menjalani harinya dengan baik di sekolah dan entah ini suatu kebetulan atau keajaiban, Nayeon dan dua anak buahnya tidak mengganggunya hari ini. Bahkan mereka tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali, begitu juga dengan Taehyung. Saat Jungkook berpapasan dengannya, Jungkook tidak menganggap keberadaannya dan hanya melenggang pergi bersama ketiga sahabatnya.
Merupakan sebuah akhir yang baik hm? Ataukah ini adalah permulaan dari penderitaan yang sebenarnya?
Tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi dengan cepat.
Jungkook sendiri bahkan cukup kaget mengetahui bahwa waktu telah berjalan cukup cepat pada hari ini. Ia pun dengan segera membereskan peralatan sekolahnya dan hendak berjalan keluar dari kelasnya.
"Jungkook-ah gidaryo!" teriak yeoja berambut panjang berwara pirang.
"Ne, Joohyun-ah."
Ya, yeoja berambut pirang itu adalah Irene. Irene telah mengganti warna rambutnya menjadi warna pirang kemarin karena ia cukup bosan dengan rambut merahnya. Kebetulan juga Irene satu kelas dengan Jungkook tahun ini karena saat dua tahun yang lalu, Jungkook selalu satu kelas dengan Sana dan Jihoon.
Setelah selesai dengan membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya, Irene segera menghampiri Jungkook.
"Ayo kita pulang!" ujar Irene dengan semangat sembari menarik Jungkook keluar dari gedung sekolah. "Eh, bukannya kau hari ini ada rapat OSIS ya?" tanya Jungkook dengan heran. Pasalnya, tadi Sana menyinggung soal rapat OSIS hari ini saat mereka makan bersama di kantin.
Irene pun langsung berhenti sejenak dan memasang wajah heran pada Jungkook.
"Rapat OSIS? Hm aku merasa tidak— astaga Kook-ah! Aku pergi dulu menemui Sana. Annyeong!"
Kemudian Irene berlari dengan cepat meninggalkan Jungkook yang hanya terkekeh kecil melihat dirinya. Jungkook akan melanjutkan langkahnya keluar dari gedung sekolah sebelum seseorang menubruknya dengan keras dari belakang.
Jungkook hampir saja jatuh dari tangga kalau saja tangannya tidak memegang erat pegangan tangga di sampingnya.
Ia hendak memarahi orang yang menabraknya sebelum matanya menangkap figur Taehyung sedang berjalan dengan terburu dan tidak memerhatikan keadaan sekitarnya. Jungkook hanya menghela napasnya pelan mencoba untuk tidak emosi karena perlakuan Taehyung tadi yang tidak sengaja sebelum otaknya mengingat penampilan Taehyung yang berbeda hari ini.
Ia mengganti warna rambutnya menjadi cokelat madu dan memakai headband berwarna putih. Tampak begitu menawan dan ker—
"Haish! Dimana otakmu Jeon Jungkook? Jangan memikirkan dia!" gumam Jungkook pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya pelan dengan kedua tangannya. Hingga ia hendak kembali berjalan menuruni tangga sebelum seseorang menabraknya lagi.
"Aish! Kenapa semua orang suka menabrakku sih hari ini?" seru Jungkook dengan emosi. Ia pun segera menolehkan kepalanya, mencari tahu siapa lagi yang kini melakukannya.
Hingga matanya menangkap seseorang—
"Jeoseonghamnida, saya buru – buru. Maaf sekali lagi."
—yang kemarin ditemuinya saat berjalan – jalan di pagi hari.
Namja itu membungkukkan badannya berkali - kali pada Jungkook seperti kemarin sebelum tubuhnya melangkah pergi dari sana tanpa melihat Jungkook sama sekali.
"Apa namja itu bersekolah di sini?" tanya Jungkook dengan heran menatapi kepergian namja misterius tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu Jungkook sampai di rumahnya, ia dengan segera hendak menarik gagang pintu rumahnya. Ketika ia menarik pintu itu, sesuatu terlempar dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Jungkook langsung menoleh untuk melihat benda apa yang terlempar tadi dan matanya menangkap satu buah botol kaca bening yang berisi cairan hitam pekat. Tampak misterius dan aneh di matanya. Ia mencari – cari petunjuk dari botol kaca itu untuk menemukan siapa pemilik botol kaca itu, namun tidak ada satu pun nama yang tertera di botol itu. Malah ia menemukan satu gulungan kertas kecil berwarna cokelat pudar yang tersampir pada tutup botol itu.
Tangannya bergerak untuk mengambil gulungan kertas kecil itu lalu membukanya. Di sana tertera sebuah kalimat yang membuat Jungkook cukup heran.
Take a sip of this black potion, one taste, and you'll change.
Mata Jungkook bergulir untuk memandangi cairan hitam pekat yang sangat misterius itu. Ia bahkan tidak yakin bahwa cairan itu adalah sebuah minuman, namun entah darimana ia malah mendapatkan dorongan untuk membuka tutup botol kaca itu dan meminum cairan pekat itu.
Hingga tanpa Jungkook sadari, cairan itu sudah ditenggak habis olehnya dan menyisakan rasa pahit yang sangat tidak mengenakkan di lidahnya.
Matanya membulat dengan lucu begitu baru menyadari bahwa ia baru saja meminum cairan hitam pekat itu hingga tandas. Hingga tak beberapa lama kemudian, rasa pusing menghinggapi kepalanya. Ia langsung saja masuk ke dalam rumahnya dan berlari menuju kamarnya. Kepalanya semakin berat dan tidak bisa ditolerir lagi oleh dirinya.
Ia langsung saja melempar tasnya dengan asal dan menaruh botol kaca tadi secara sembarangan sebelum tubuhnya langsung ambruk di atas tempat tidurnya.
Samar Jungkook mendengar suara seseorang berbisik di telinganya entah itu siapa.
'You'll get your revenge sweetie.'
Dan semua menjadi gelap dalam sekejap.
~ To Be Continued ~
.
.
Special thanks to
Just Guest | SwaggxrBang | dianaindriani | Ly379 | GoldenVante | han helda | owlaxx | Hsh623 | FyKim | cutiepie-v | 614 | JJKookie | kukukuki | BunnyLychee
dan untuk semuanya juga yang sudah follow dan favorite story ini! ^^
.
.
Reviews reply :
Just Guest : Aku berterima kasih atas pujiannya! Makasih ya sudah mau baca ceritaku yang ini (:
SwaggrxBang : Dia hanya menunggu karma saja hm hm hm
dianaindriani : Hahah, iya ini aja udah minum secret potion nya kok! Ditunggu ya chapter 3 nya (:
Ly379 : Iya ini sudah dilanjut kok tapi belum ada pembalasan dendam (?) nya hehe makasih sudah baca!
Golden Vante : terima kasiii! Aku juga suka cerita kamu kok. Keep writing ya
han helda : eh serius kamu sampe nangis? Hahah aduh maaf deh kalau buat nasib jungkook jadi kejam begini heheh. Ini sudah dilanjut ya, semoga suka (;
owlaxx : aaa terima kasih sudah baca! Ini sudah lanjut, semoga tetap suka ceritanya ya (:
Hsh623 : wah wah wah aku juga penasaran (?) /lho ya sudah ditunggu saja ya hehe makasih sudah baca!
FyKim : ini sudah aku update hehe! Semoga suka yaaa
cutiepie-v : Hua terima kasih banyak lho aku sangat senang bacan reviewmu! Maaf ya atas keterlambatanku update hehe semoga suka chapter ini!
614 : heheh makasih sudah baca! Terima kasih atas reviewnya semoga suka chapter ini!
JJKookie : iya sudah di update kok ini hihi! Makasih sudah baca (;
kukukuki : astagaastagaastaga kamu juga nangis? Hua aduh maafkan aku ya kalo sampe buat nangis kamu sama baper heheh! Ntar aku buat yang bahagia kok di cerita ini. Tenang saja! (: Makasih sudah bacaa!
BunnyLychee : iya dek, makasih ya sudah baca! Semoga suka chapter ini (;
See ya on next chappie~
