A/N: Hehe… gara-gara keasyikan nostalgia baca Naruto dari vol. 1 sampe 53, lupa waktu deh… Naka bakal panjangin chap ini deh ^^
To:
Amane Rara 'Misa-Chan: Terimakasih atas reviewnya. Hehe, iya ya… kalo diliat-liat, semua cerita Naka yang multichap, chap 2-nya selalu pendek… gak tau deh kenapa.
Ashahi Kagari-kun: Terimakasih atas reviewnya. Gomen deh, chap ini Naka usahain panjang. Ini Naka update ^^
Sasunaru4ever: Terimakasih atas reviewnya… Iya… Naka udah update -_-v
NanaMithrEe: Terimakasih atas reviewnya. Sasu emang kasian… dicuekin gitu sama Naru tapi pasrah aja…
Misyel: Terimakasih atas reviewnya, senpai. Tuh kan… tebakannya bener lagi… lagi-lagi pertanyaan tentang saraf sensorik itu akan terjawab di chap ini… kenapa dikau bisa membaca pikiranku?*pundung*
Yashina Uzumaki: Terimakasih atas reviewnya. Iya sih… Naka juga kesel pas baca ulang fic ini. Konflik di fic ini gak bakal panjang kok.
Hara-namii: Emang pendek, dindi… kayak aku, aku kan pendek juga*ngaku*ntar aku panjangin.
Sayuri Kitazawa: Iya, emang pendek… sependek review-mu xD
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Speciel Request: my lovely readers *halah*
Sekuel by: Demi Neechan
Story by: shiho Nakahara
Pairing: SasuFemNaru
KakaFemNaru
KibaIno
KyuuKa
Warning: FemNaru, cerita gaje, lebay, dan seperti biasa TYPO BERTEBARAN, bahasa rancuh dan agak kasar.
Summary: Aku menyayangi Sasuke. Tapi, dengan kondisi tubuh yang seperti ini… perlahan-lahan aku harus menjauh darinya karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Namun, cinta tetaplah cinta, tak ada yang bisa mengubahnya.
"Ia menderita penyakit… Epilepsi," kalimat lelaki di hadapanku kini membuatku tertegun.
Selalu Bersamamu
"Ya… dia menjauhimu karena penyakit itu. Dia pikir, jika kau mengetahui semua ini, kau akan meninggalkannya. Dia lebih memilih menghadapi semuanya sendiri," ucapan dokter di depan ini membuat dadaku sesak. Jelas saja. Siapa yang tak sakit mendengar bahwa istrimu menjauhimu hanya karena penyakit konyol itu?
"J-jadi… dia pikir aku akan meninggalkannya? Dasar Dobe…" dadaku terasa semakin sesak saat mengulang kalimat Kakashi.
"Ya… dia juga bilang, mungkin ini yang terbaik. Ia belum siap memberitahu semuanya kepadamu."
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau benar-benar bodoh, Naru!" aku berkata lirih, tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.
"Kau harus menemui dan meyakinkannya. Aku yakin ia pasti akan mengerti," ya, Kakashi benar. Tapi… aku tak tahu ia di mana sekarang.
Kami terdia cukup lama. Tak ada yang mau memulai pembicaraan di antara kami.
"Aku tahu. Kita butuh sesuatu yang bisa memberitahu saat ia akan terserang penyakit itu. Apakah kau bisa mengutak-atik… genku?" ucapan nekatku ini cukup membuat Kakashi terbelalak terkejut.
Sementara itu…
Naruto's Pov:
"Apa? Kenapa kau malah menghindarinya? Kau pikir itu akan membuat semuanya jadi lebih baik? Kau gila, Naru" ucapan Kiba begitu dalam dan menusuk. Ya, temanku yang satu ini memang terlalu jujur. Namun, aku sudah biasa menghadapinya.
"Kalian tak perlu ikut campur. Ini urusanku… kalian hanya perlu mendengarkan, tak usah komentar," aku menjawab pertanyaan mereka dengan ancaman yang terkesan sangat dingin. Hal itu cukup membuat mereka menjadi pucat pasi dan menatapku takut-takut.
"Ba-baiklah, kami tak akan mencampuri urusanmu. Tapi, asal kau tahu saja! Dengan sikap bodohmu ini, justru akan membuat Sasuke muak dan bisa saja benar-benar menceraikanmu!" Kiba membentakku. Namun, Ino segera memegang pundaknya, berusaha menenangkan suaminya yang sekarang sangat beremosi.
"Itulah yang kuinginkan… dengan begitu, ia tak perlu mengkhawatirkanku. Aku ingin ia melupakanku dan mencari penggantiku. Aku hanya ingin ia mendapat yang terbaik, bukan wanita aneh dengan gen yang sudah diutak-atik seperti aku, itulah yang terbaik untuk Sasuke," aku menjawab dengan nada yang semakin dingin. Dengan sekuat tenaga aku menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk mataku ini.
"A-apa? K-kau benar-benar gila! Sedangkal itukah cintamu padanya? Aku tak menyangka mempunyai sahabat yang berpikiran pendek sepertimu! Kau sangat aneh! Sasuke tulus mencintamu! Kaulah yang terbaik baginya, bukan wanita lain!" Kiba semakin membentakku. Membuatku semakin bergejolak menahan untuk tak menangis di hadapan mereka berdua.
"…"
kali ini aku hanya bisa diam. Aku akui ucapan Kiba memang benar. Seketika itu air mataku jatuh membasahi kedua pipiku. Kiba yang melihat itu kini terdiam. Pandangannya yang sedari tadi mengintimidasiku, kini melunak. Ia kini menatap nanar diriku. Ino mulai beranjak dari sofa di hadapanku yang sedari tadi didudukinya. Ia berjalan mendekatiku dan merengkuhku.
Dadaku kini sangat sesak… air mata keluar semakin banyak dari kedua mataku. Aku mulai terisak kecil. Ya, aku yang salah… aku tahu itu. Tapi, aku belum siap menerima jawaban yang akan diberikan Sasuke.
"Kaa-san… kenapa nangis? Paman Kiba dan Bibi Ino menjahili Kaa-san ya? Sini, biar Ai yang memarahi mereka!" ucapan polos buah hatiku dan Sasuke itu membuatku tersenyum kecil, meringankan sedikit sesak di hatiku.
"Kaa-san gak kenapa-kenapa, kok… Kaa-san cuma kelilipan aja. Paman Kiba dan Bibi Ino gak salah, kok…" aku beralih memeluk sosok gadis berambut hitam yang kini tepat berada di hadapanku.
"Oh… Kaa-san… Ai mau nanya, kok kita gak pulang-pulang ke rumah sih? Terus… kenapa kita gak ngajak Tou-san ke sini? Kaa-san musuhan sama Tou-san ya?" lagi-lagi pertanyaan polosnya membuat hatiku menjadi hangat.
"Kaa-san dan Tou-san gak musuhan, kok. Lagipula, Ai senang, kan di sini? Ada Natsu yang bisa diajak bermain," aku berusaha tersenyum ceria di hadapannya.
Kulihat ia terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Ai kangen sama Tou-san, Ai juga mau sekolah… Ai bosan di sini terus…" ia mengerucutkan mulutnya, persis seperti dulu saat aku kesal.
"Iya, nanti kita pulang dan Ai bisa ke sekolah lagi. Tapi gak sekarang ya?" aku kembali merasa sesak. Maaf Ai, Kaa-san terpaksa berbohong.
Ia menganggukkan kepalanya lalu pergi dan kembali bermain dengan Natsu.
"Hah, keturunan Uchiha memang kritis ya? Selalu ingin tahu segalanya," Ino menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian Ai.
"Yah, sepertinya aku harus siap menjelaskan semua ini kepada Sasuke," aku kembali menundukkan kepalaku, tak berani menatap wajah kedua sahabatku ini.
"Nah, itu baru Naru yang kukenal. Aku yakin Sasuke pasti mengerti," Kiba tersenyum lembut menatapku.
"Ah, iya! Aku tahu bagaimana caranya agar kau bisa bersiap-siap menghadapi datangnya penyakit itu, kau bisa membeli anjing yang mempunyai kemampuan mendeteksi hal tersebut dengan cepat. Sudah banyak yang mencobanya, dan… mereka kini bisa hidup normal" aku tertegun menatap Kiba. Tak kusangka ia mengetahui hal seperti itu.
"Terimakasih, kalian memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku telah banyak merepotkan kalian," Aku kembali memeluk Ino yang berada di sampingku.
xoxoxo
Kakashi's Pov:
"A-apa? Kau bercanda bukan?" aku menatap lekat-lekat Uchiha yang berdiri di hadapanku ini.
"Tidak, aku serius. Hanya dengan cara ini Naru akan mempercayai kalau aku benar-benar mencintainya," aku heran, ia masih bisa berbicara datar sekarang. Apa ia tak sadar apa yang baru saja ia katakan?
"T-tapi, kita bisa memakai hewan lain, anjing misalnya! Lagipula, mengutak-atik gen itu hal yang berbahaya! K-kau bisa-" belum selesai aku berbicara, ia memotong perkataanku dengan nada dingin miliknya.
"Ya, aku tahu… tapi, aku yakin hal ini bukan tak mungkin… aku akan mengorbankan diriku demi Naru. Karena aku ingin selalu bersamanya, aku mencintainya," ia menatap kosong ke jendela yang menempel di dinding ruanganku.
"Hhh… baiklah… jika kau memaksa, kita akan mencobanya. Lusa, datanglah kembali ke sini. Dokter Tsunade dan Orochimaru akan kuminta bertemu denganmu," aku menatapnya putus asa. Uchiha memang keras kepala.
Sasuke's Pov:
"Hhh… baiklah… jika kau memaksa, kita akan mencobanya. Lusa, datanglah kembali ke sini. Dokter Tsunade dan Orochimaru akan kuminta bertemu denganmu," pemuda dengan marga Hatake ini menatap dengan tatapan yang sulit diartikan ke arahku.
"Sekarang, beritahu aku di mana Naru berada," aku kembali bertanya dengan nada yang mengintimidasi, seperti saat pertama kali aku datang ke ruangan dengan nuansa putih beraroma obat-obatan yang khas ini.
"Ia tidak ada di tanganku. Tadi, sebelum kau ke sini, ia memang berada di sini. Namun, Kiba membawanya pergi. Kau tanyakan saja pada Kiba," ucapannya membuatku tertegun. Kiba? Pemuda Inuzuka itu? Suami dari Yamanaka Ino yang dulu sempat tergila-gila padaku? Hah! Masalah semakin rumit sekarang.
"Terimakasih!" ucapku sebelum beranjak pergi meninggalkannya. Hampir tak pernah aku mengucapkan 'terimakasih' pada orang lain. Ucapan terimakasihku itu sesuatu yang mahal, kalian tahu?
Aku segera pergi menuju kediaman Inuzuka.
ShihoNSNSNSNakahara
Naruto's Pov:
"Terimakasih kalian sudah mengizinkanku untuk tinggal di sini sementara waktu. Terimakasih juga atas semua saran yang kalian berikan, kami pergi dulu," aku tersenyum menatap kedua sahabatku ini.
"Ai, ucapkan terimakasih kepada Paman Kiba dan bBibi Ino," aku menatap Ai dengan pandangan memohon.
"Makasih Paman, Bibi. Sampai jumpa lagi, Natsu," ia memeluk Inuzuka junior itu dengan erat. Lalu melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan.
Aku dan Ai pun pergi meninggalkan rumah keluarga Inuzuka itu dengan persaan ringan.
Aku sudah memutuskan akan menemui Kyuu-nii dan Kara-nee. Mengatakan yang sebenarnya pada mereka.
.
"Jadi itu sebabnya kau menjauhi Sasuke? Kau tidak seperti imoutoku, kau tahu? Kau mau kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi?" Kyuu-nii menatap tajam ke arahku. Hal itu membuatku menciut dan mulai berkeringat dingin. Kyuu-nii selalu membuatku seperti ini.
"A-aku hanya tak ingin Teme itu kecewa, Aniki!" aku kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana Saku-nee meninggal dan aku ingin menyusulnya. Sasuke-lah orang yang menolongku dan selalu berada di sampingku. Ya, ia tulus mencintaiku.
"Hhhh… kau seperti beberapa tahun yang lalu… menganggap semuanya berlebihan dan berpikir untuk tak ingin merepotkan orang lain. Seharusnya kau bercerita pada kami sejak lama. Kami ini keluargamu!" Kyuu-nii menjadi emosi saat mendengar pernyataanku tadi, namun… Kara-nee tetap menatapku datar dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kyuu… sudahlah, aku tahu bagaimana perasaan Naru. Kau jangan terlalu mengekangnya. Ia adikmu," Kara-nee yang sedari tadi diam kini angkat bicara dengan senyum simpul yang masih setia melekat di bibirnya.
"Kau terlalu memanjakannya, Kara! Kita tak bisa mendiamkannya terus seperti ini… kitalah satu-satunya orang yang harus merubahnya," raut wajah Kyuu-nii yang sedari tadi menegang karena marah, kini mulai melunak dengan tatapan sayu.
Ya… hanya Kara-nee dan Kyuu-nii yang bisa menasihatiku panjang lebar seperti ini. Bukan Kaa-san, bukan juga Tou-san. Tepat di hari kelulusanku, Tou-san meninggal. Saat itu, Tou-san dalam perjalanan pulang menuju Konoha. Pesawat yang ditumpanginya hancur berkeping-keping karena kesalahan system navigasi pesawat. Sedangkan Kaa-san, nasibnya tak jauh berbeda dengan Tou-san. Tiga tahun lalu, di mana kami sedang asyik berkumpul di ruang keluarga yang terbilang besar, tiba-tiba tubuh Kaa-san diam bergeming. Tak ada penyakit, tak ada kecelakaan, nyawanya seakan menguap pergi meninggalkan raganya begitu saja.
Aku tak habis pikir. Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kematian masih menjadi misteri bagi semua orang termasuk aku. Tak ada yang bisa melawan arus takdir, begitu pula keluargaku.
"Hey! Kenapa kau diam saja, Naru? Apa penyakit itu kembali menyerangmu?" Kara-nee mendekatiku dengan wajah cemas.
Aku segera menggelengkan kepalaku sedikit. Berusaha membuyarkan pikiranku yang sudah mengalir sejak tadi.
"Tidak… aku hanya sedikit berpikir. Aku ke sini untuk meminta saran kalian, bukan untuk diceramahi seperti ini," entah mengapa, aku malah mengeluarkan argumen konyol itu.
"Che! Pantas saja Sasuke selalu memanggilmu DOBE! Kau pikir aku tak bosan terus menceramahimu? Kami hanya memberi arahan dan kau malah mengejeknya dan menganggap itu semua angin lalu? Adik macam apa kau?" nada Kyuu-nii terkesan sangat menyindir.
"Bukan! Bukan itu maksudku, Aniki! Aku hanya bercanda… kau terlalu serius menanggapinya," aku menyesal telah mengeluarkan argumen konyolku itu.
Kutatap sesaat Ai dan seorang anak berambut merah darah dengan mata hitam kelamnya, anak perempuan itu memiliki rambut sebatas bahu. Nami Namikaze. Anak yang sangat cantik, secantik Kara-nee. Mereka asyik bermain rumah-rumahan.
"Tuh, kan! Kau memang sakit, Naru! Kau melamun lagi!" dengan seenaknya Kyuu-nii mengeluarkan hipotesis aneh seperti itu.
"Aku tak sakit! Aku hanya melihat betapa bahagianya Ai dan Nami bermain! Kau sangat menyebalkan, Aniki!" aku menautkan alisku dengan pipi yang mengembung sebal.
"Ah, iya… beberapa hari yang lalu, Sasuke sempat ke sini. Ia menanyakan keadaanmu," Kara-nee mengalihkan pembicaraan. Sasuke? Ke sini? Apa?
"Hah? Teme itu ke sini? Apa hubungannya dengan penyakitku? Kara-nee sengaja mengalihkan pembicaraan, ya?" aku menyipitkan mataku untuk menatap Kara-nee dengan intens.
Ia tertawa kecil melihat tingkahku dan kembali menjawab pertanyaanku.
"Jelas ada. Sepertinya ia cemburu berat dengan sahabat doktermu itu, siapa namanya? Kakuzi?"
"Kakashi!" potongku cepat."Lalu, apa saja yang ia bicarakan dengan kalian?" aku sangat ingin tahu apa yang telah Teme itu tanyakan tentangku.
"Ia menanyakan tentang… sikapmu akhir-akhir ini!"
Sasuke's Pov:
Aku menekan bel di samping kanan pintu dengan papan nama 'Inuzuka' itu beberapa kali. Menanti sosok manusia keluar dari rumah bercat putih-kuning itu.
Benar saja, tak beberapa lama kemudian, sesosok pria dengan rambut coklat dan tato merah di pipinya keluar. Ia sempat menghela napas sebentar.
"Siapa, sayang?" terdengar suara cempreng yang kukenal dari dalam rumah.
"Lihat saja sendiri. Kini sang suami yang datang," Kiba berkata datar lalu mempersilahkan aku masuk ke rumah berlantai dua tersebut.
.
"Jadi, di mana kau sembunyikan Naruto, Kiba?" tanyaku to the point, membuatnya mengeluarkan senyuman yang (menurutku) sangat menyebaalkan.
"Kuharap anakmu tak sepertimu, Sasuke. Tak ada ramah-tamah sedikitpun," ia menatap datar ke arahku. Hal itu sukses membuatku mengeluarkan deathglare kepadanya.
"Jadi, Ai juga ada bersamanya? Katakan di mana dia?" aku mulai tak bisa mengendalikan emosiku sekarang.
"Ada apa ini? Sa-Sasuke?" seorang gadis pirang dengan mata aquamarine yang kuketahui kini sudah berganti nama menjadi Inuzuka Ino membuat kami berdua mengalihkan pandangan menatapnya.
"Kau mencari Naru? Ia baru saja pergi dari sini. Memang sih, ia sempat menginap di sini… tapi-" belum sempat gadis pirang itu menyelesaikan kalimatnya, aku sudah pergi meninggalkan rumah itu untuk mencari Naruto.
"Uchiha itu sombong sekali," gumam Kiba.
Belum sampai satu detik, aku kembali lagi ke rumah itu.
"Ke mana ia pergi?" aku lupa menanyakan hal itu ternyata.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
Aku yang kesal karena ditatap dengan tatapan cengok milik mereka pun langsung membentak mereka, "Oh, ayolah! Sejak kapan Naruto membagi kebodohannya pada kalian?"
"A-aku tidak tahu. Ia hanya bilang akan kembali pulang," Ino yang sudah tersadar dari kebengongannya kini berbicara dengan gagap.
"Sial!" setelah mengumpat aku kembali pergi meninggalkan rumah Inuzuka itu. Entah sekarang harus ke mana. Ke mana Dobe berisik itu? Aku ingin mendengar suara anehnya, senyum konyolnya, tatapan polosnya… Oh, ayolah! Kau di mana sekarang, Naru?
Naruto's Pov:
"Apa saja yang ia tanyakan?" aku semakin tak sabar untuk mendengar jawaban kekasih Aniki-ku ini.
"Ia bertanya ada hubungan apa kau dan Kakashi, lalu kenapa akhir-akhir ini kau menghindarinya, ia sangat tersiksa Naru, tersiksa karena sikapmu yang akhir-akhir ini berubah drastis. Ia mencintaimu dengan tulus, cobalah percaya padanya."
Aku terdiam dan menundukkan wajahku. Ia sampai bertanya pada orang-orang di sekitarku? Aku kembali mengingat kejadian pagi itu… pagi di mana aku dan Sasuke bertengkar hebat. Ya, salahkan dia! Dia yang memancing emosiku keluar. Dengan seenaknya ia menuduhku berselingku dengan Kakashi.
Tiba-tiba rasa bersalah masuk ke dalam hatiku. Ada rasa sesak kembali menghampiriku. Perasaan apa ini? Seperti perasaan bersalah…
"Raut wajahmu berubah, Naru? Kau baik-baik saja?" ucapan Kara-nee mengejutkanku.
Tiba-tiba aku merasa aneh dengan tubuhku sendiri. Sepertinya, tubuhku kini kehilangan control, pandanganku mulai mengeruh dengan kepalaku pusing, kesadaranku semakin menurun dan…
Kyuu's Pov:
"Raut wajahmu berubah, Naru? Kau baik-baik saja?" ungkap wanita berambut hitam di sampingku yang kini menjadi pendamping hidupku.
Aku mencermati baik-baik garis wajah adikku itu, garis wajah yang menunjukkan kegelisahan. Apa yang sedang ia pikirkan? Atau jangan-jangan…
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, tiba-tiba tubuhnya limbung.
"Naru! K-kau kenapa?" Kara yang berada di sampingku kini beranjak dengan panik menghampiri imoutoku yang tak sadarkan diri. Ketika aku dan Kara hendak membawanya ke kamar, tiba-tiba badannya menegang beberapa detik. Aku dan Kara terkejut melihatnya.
"Tunggu apa lagi? Cepat panggil dokter! Penyakit itu benar-benar menyerangnya sekarang!" aku yang kalut kini membentak istriku. Ia berlari panik. Sementara aku langsung membawanya ke kamar.
Dengan cepat aku mengambil tali dan mengikatnya, ya setidaknya hal itulah yang harus dilakukan saat menolong orang epilepsi. Ai dan Nami heran melihat kepanikan kami semua hanya bisa diam mematung di ambang pintu kamar.
"Anak-anak, bermainlah di kamar," aku berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin.
Mereka terdiam sejenak lalu mengangguk dan mematuhi perintahku. Sementara menunggu datangnya dokter panggilan Kara, aku terus melakukan pertolongan pada adik semata wayangku ini.
Kakashi's Pov:
Malam ini, terjadi suatu peristiwa yang sangat penting. Bayangkan saja, setelah mengetahui peristiwa itu dari telpon yang barusan kuterima, aku langsung melesat menuju mobilku dengan peralatan medisku. Pergi ke kediaman Namikaze sulung dengan wajah panik. Ya… ini semua berhubungan dengan Naruto.
Mobil terus kukendarai dengan kecepatan tinggi, membuat orang menyumpah-nyumpahiku karena kecepatannya.
Kenapa kau begitu bodoh baru memberitahu hal itu pada mereka sekarang, Naru? Kau benar-benar nekat… persis seperti suamimu… Sasuke! Pikiranku kini beralih pada sosok pemuda pucat itu…
Ya, dia harus mengetahui ini. Dengan cepat tanganku mengambil handphone milikku dari saku jas putihku. Menekan tombol demi tombol dengan terampil lalu menempelkannya pada telinga kiriku. Menunggu suara baritone pemuda itu menjawab panggilanku.
"Ya, Sasuke di sini… ada apa Kakashi?"
"Cepat datang ke rumah Kyuubi! Naru di sana! Ia kini terserang penyakit itu! Ke sana SEKARANG!" tanpa babibu, aku langsung memutuskan percakapan dan semakin meningkatkan laju kendaraanku.
Kiba! Dia juga harus tahu hal ini! Aku kembali dengan sigap mengambil handphone hitam itu dan kembali menekan keypad-nya dengan cepat, kembali menunggu jawaban dari pemuda bermarga Inuzuka itu.
Tunggulah kami, Naru… kami pasti bisa menolongmu…
TBC or End
A/N: Gyahahaha*teriak dengan lebay-nya* akhirnya selesai update. Ih kalo diliat-liat Kakashi di sini rempong amat ya? -_- pake ngasih tau semua orang tentang keadaan Naru. Chap ini juga biasa banget… lebay malah. Udah panjang belum nih?
Wokeh-wokeh… Naka mau kembali hiatus karena ada panggilan dari surga*plak* maksudnya dari sekolah untuk Ulangan semester -_- tapi tenang aja… Naka bakal publish satu oneshot Naka yang selama ini mendep menuh-menuhin memori laptop… Ja~
Gomawo, Shiho Nakahara
