Halo – halo I'm Cygnus ( geleng – geleng ala Dijah Yellow -_-). Akhirnya (walaupun telat) Cygnus sempetin buat update fic ini setelah disibukkan dengan berbagai urusan yang sumpah bikin KTP (KESEL TENAN PUOLLL). Kemungkinan untuk kedepannya Cygnus nggak terlalu intens buat update karena kegiatan maba yang seabrek. But, don't worry aku bakal tetep setia nerusin fic ini dll. Buat yang nanyain tentang Tou – chan, sabar ya! File nya ilang dan aku harus inget – inget lagi itu alurnya sampek mana ( reader : huuuuuuu). hehe
Balas – balas review :
Ae Hatake : Shion? Emm . . sementara ini belum. Tp ntar aku pertimbangin lagi.
fannyc : makasih ya buat semangat dan idenya #peluk
Galura no Baka Lucky22 : kyaaaa. Nggak nyangka senpai mau review fic aku. Btw, aku sepemikiran sama senpai. Hehe
Unni-chan552 : terimakasih. Tetep dkung NS!
Yassir2374 : pengennya Sakura itu rapuh tapi tetep mencoba tegar. Hehe itu karakter cewek banget ya.
mikaze9930 : bisa jadi gitu !
dum242 : iya, kasian sebenarnya (padahal aku yang bikin -.-). Keep waiting for next chap ya!
TomatUchiha : berlebihan nggak sih?
Guest : iya ini udah aku lanjut!
Guest : mau nyekik Naru? Aku kayak kenal gaya bicara kamu? Kenal aku? Temen aku bukan ya? #sms/tlp/chat/bm ya kalo ternyata bener hehe
Aiko hara : iya, chap yang ini lebih panjang . . .dikit( suara mengecil).
Sementara itu dulu ya, buat yang belum aku bales rasa penasaran kalian kemungkinan udah aku jawab sekalian dengan beberapa balasan review diatas. Oke oke?
Oke, langsung aja chek this out!
WARNING : GAJE, ABAL, RATED M, TYPOS, OOC, dll.
Yang nggak suka silakan klik tanda X di pojok kanan atas!
Naruto © Masashi Kishimoto
Cygnus Jennesia
Mempersembahkan
Sayonara Memory
Bab 3
"Bukan salahmu, Pig. Pada akhirnya aku juga tidak akan bersatu dengan Naruto. Dulu, di akademi aku sudah sering menolaknya. Sekarang, jika aku harus menolaknya lagi, apa susahnya? Aku sudah terlatih," Sakura tersenyum manis ke arah Ino, sementara Ino malah memasang ekspresi khawatir kepada Sakura.
"Kau baik - baik saja?" Tanya Ino.
"Ya. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," jawab Sakura.
"Tapi kau dan Naruto . . ."
"Bisakah kita membicarakan hal lain?" Potong Sakura.
Dari respon Sakura yang seperti ini, Ino tahu bahwa Sakura tidak sedang baik - baik saja. Pada menit - menit berikutnya Sakura sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Perjalanan pulang mereka diwarnai kesunyian. Ino menyadari kalau sahabatnya itu sedang menangis tapi ia tidak mau mengusiknya.
Ino ingin membiarkan Sakura melampiaskan rasa sedihnya dengan cara menangis. Karena terkadang menangis adalah salah satu solusi terbaik membuang kesedihan.
Tak terasa mereka berdua telah sampai di depan rumah Sakura dan dikejutkan dengan adanya Naruto yang berdiri di depan rumah dengan pintu kecil itu. Naruto tampil tampan dengan jubah putih - orange miliknya.
"Sakura, Naruto ada disini!" Bisik Ino.
"Biar aku yang menanganinya. Kau pulang saja."
Ino mengangguk patuh dan melambai kepada Sakura. Dengan terburu - buru Sakura menghapus sisa air mata di pipinya dan berjalan ke arah Naruto.
"Kenapa kau ada disini?"
"Aku merindukanmu. Seharian ini aku tidak melihatmu, Sakura - chan. Aku benar - benar merindukanmu, dattebayo!"
"Masuklah kedalam!" Perintah Sakura, ia menarik tangan Naruto, menggenggamnya erat.
Ketika Sakura baru saja menutup pintu, Naruto memeluknya dengan tiba - tiba. Tubuh Naruto begitu besar dan hangat, Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh kulit tan Naruto yang begitu ia puja.
"Malam ini aku ingin tidur denganmu," pinta Naruto.
"Hai' Nanadaime - sama."
"Aku merasa aneh jika kau memanggilku begitu," Naruto nyengir, matanya menyipit lucu.
"Kau harus terbiasa," kata Sakura.
'Kau harus terbiasa . . .karena mungkin begitulah aku akan memanggilmu seterusnya!'
Sakura melenguh panjang ketika Naruto yang pada mulanya hanya diam sambil memeluknya kini mulai melucuti pakaian dan sengaja menghisap puting Sakura dengan kuat. Pemuda itu merangkak ke atas tubuh Sakura dan menindihnya dengan perlahan.
"Kau bilang hanya ingin tidur bersamaku?"
"Aku tidak bisa menjamin tidak akan tetjadi sesuatu selama kita tidur," kata Naruto dengan suara parau.
Sakura mendengus,"Kau berkembang jadi pria mata keranjang. Kau juga pandai merayu," sindir Sakura.
"Aku belajar pada ahlinya. Pertapa genit, Kakashi - sensei, mereka semua pria mata keranjang."
Sakura tertawa mendengar kejujuran Naruto. Naruto selalu bisa membuatnya tertawa dengan cara - cara unik dan konyol. Pria berambut cepak itu meraba dahi Sakura yang lebar dan mengusap tanda bulatan kecil berwarna hijau yang serupa dengan milik Tsunade. Naruto mengecupnya sayang. Ia terus meraba tubuh Sakura sampai - sampai gadis itu memohon pada Naruto untuk segera mengakhirinya.
Dengan sengaja pula Naruto menyentuhkan ujung ereksinya ke bibir vagina Sakura yang mulai basah sehingga pada saat itu juga gadis itu menggelinjang karena dorongan gairah.
"Naruto," desah Sakura. Ia meremas rambut pirang milik Naruto.
Pria itu tak berhenti, kini ia mencium telapak kaki Sakura, menciumi jari - jari kakinya dan merayap ke betis, paha serta pangkal paha. Sakura memejamkan mata dan menarik otot - otot perutnya, ia meraup udara sebanyak yang ia bisa kemudian berusaha bangkit dengan cara berpegang pada kepala ranjang.
Gadis itu menarik kepala Naruto dari pangkal pahanya. Naruto mendongak.
"Jangan Naruto."
Sakura tidak tahu sejak kapan Naruto mempelajari ini semua, yang ia tahu pria itu telah tumbuh dan berkembang sangat jauh. Naruto sukses menjadi seorang ninja hebat dan sekarang Naruto sukses membuatnya hidup tak berdaya dibawah bayang - bayang tubuh pria pirang itu. Naruto menyeringai puas, dengan secepat kilat ia menaikkan tubuh Sakura ke atas pangkuannya, dan perlahan - lahan Naruto memasuki diri Sakura.
Sakura mendesah sekaligus merintih, ia menangis sesenggukan ketika Naruto tiba - tiba saja diam saat setengah ereksinya baru memasuki vagina Sakura. Vagina gadis itu berkedut hebat, ia sudah tidak sabar untuk menyambut kejantanan Naruto dan menyelubunginya dengan kehangatan.
Sakura frustasi. Ia mengarahkan tangannya sendiri ke buah dadanya dengan tremor yang cukup hebat.
"Tenang Sakura. Jangan menyentuh dirimu sendiri!" Ancam Naruto,"memohonlah!"
"Aku m-mohon Na-ruto. Aku begitu menginginkanmu . . .di - di dalam . . .diriku!" Kata Sakura dengan nada terbata - bata.
Naruto terkekeh puas. Dengan sekali sentakan ia menghujam diri Sakura, membuat gadis merah mudanya melenguh nikmat dan merasa melayang. Di tengah percintaan mereka Naruto berucap,"Sudah kubilang kau tidak akan bisa menolakku dan tidak akan bisa hidup tanpa diriku."
Sakura mendengus kasar kemudian tertawa. Naruto memang terlalu percaya diri, tapi pria itu ada benarnya. Sakura memang tidak mampu menolaknya.
Lalu apa yang harus Sakura lakukan untuk menjaga jarak dengan Naruto?
*****NARUSAKU*****
Keheningan melanda Sakura dan Naruto, tidak seperti biasanya, gadis itu terus membisu meski Naruto berkali - kalu mencoba memulai pembicaraan. Suasana dimeja makan pun sunyi senyap seolah tidak ada kehidupan.
"Sakura - chan, kau kenapa? Kenapa diam saja?" Naruto mengambil 2 nasi kepal dan memasukkannya ke dalam mulutnya sekaligus.
"Kau marah padaku? Apa aku berbuat kesalahan? Kau marah karena kejadian semalam?"
Sakura tak menanggapi, ia terus saja menunduk menatap piring kosonf du depannya seakan piring itu lebih menarik daripada wajah Naruto.
"Sakura?"
"Aku tidak apa - apa. Setelah ini pulanglah!"
Sakura bangkit dari kursi makan, ia belum makan sama sekali tetapi agaknya nafsu makan gadis itu menguap begitu saja setelah seseorang mendatanginya pagi ini.
'Aku akan memberimu waktu. Tapi aku harap kau tidak akan lupa pada yang aku katakan. Dengan adanya dirimu, kau akan mempersulit Naruto - sama. Kau tidak dibutuhkan.'
Lamunan Sakura buyar karena Naruto tiba - tiba mengecup keningnya. Pria itu menyingkirkan rambut pink Sakura yang menutupi kening maupun pipi gadis itu sendiri. Naruto menyatukan ibu jarinya di kedua pipi Sakura yang merona seperti buah plum.
"Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku, dan yang terpenting jangan pernah mengabaikanku."
Sakura mundur satu langkah, ia menepis tangan Naruto dan membuat pria itu melongo tak percaya. Sakura menggeleng lemah. Hidupnya penuh dengan imbauan semenjak bersama Naruto, dia masalah dengan itu semua, akan tetapi ada beberapa pihak yang merasa lebih tidak nyaman dengan keposesifan Naruto kepadanya.
"Aku harus segera bertugas, Ino pasti sudah menungguku," ucap Sakura seraya membelakangi tubuh Naruto.
"Baiklah. Sepertinya pemilik rumah menginginkan aku angkat kaki dari sini sekarang juga," Naruto memakai jubahnya kembali, dengan gerakan kilat pria itu melompat ke kusen jendela. Naruto menoleh kebelakang, ia seperti tidak rela pergi meninggalkan Sakura walau sedetik saja,
"Aku pergi!"
Hanya kata itu saja yang terlontar dari mulut Naruto sebelum pada akhirnya pria jabrik itu menghilang seperti kumpulan asap yang tertiup angin.
Cepat. Tak terlihat. Sulit kembali.
Beberapa hari telah berlalu semenjak pertemuan terakhir Naruto dan Sakura. Setelah hari itu, keduanya jarang bertatap muka maupun bertegur sapa. Bukan karena ada perseteruan, akan tetapi itu semua terjadi karena Sakura tiba - tiba saja menjadi manusia paling sibuk yang pernah ada. Gadis itu sering mengambil shift lembur, pulang pada tengah malam, tidak pernah muncul di depan batang hidung Naruto dan terkadang Sakura sama sekali tidaj pulang ke rumah karena ia lebih memilih untuk tidur di rumah sakit bernama pasien - pasiennya.
Naruto sering mendatanginya, ia merasa jika Sakura seolah berlari darinya. Naruto terkadang melihat sekelebat bayangan Sakura di kantornya, ada aura kesedihan yang kentara, namun ketika pria itu membuka pintu, ruangan itu kosong.
Yang tertinggal hanya nuansa hangat dan bau harum yang sama - samar masih tercium. Hal itu terus berulang dan hampir membuat naruto frustasi. Pria itu sama sekali tidak mengerti kenapa Sakura menghindarinya.
"Naruto mencarimu terus," Ino berbisik ke telinga Sakura. Sedangkan Sakura tetap fokus dan tak terusik dengan kata - kata Ino. Gadis cantik itu menyuntik serum berwarna ungu gelap ke lengan seorang ninja yang tengah tak sadarkan diri.
"Biarkan saja."
"Dia bisa mendobrak semua pintu kamar pasien hanya demi menemukanmu," Ino kembali berbisik.
Sakura mencabut jarum suntik dari lengan pasiennya kemudian melepas masker yang sedari tadi ia pakai.
"Naruto pasti kesulitan nenemukanku. Disini ada ratusan kamar."
Sakura membuang jarum suntik ke tempat sampah dan menatap Ino dengan mata yang menyipit,
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkanku?"
Ino menggeleng cepat, perlahan - lahan gadis berambut ponytail itu menyentuh bahu Sakura dan membuat sahabatnya itu tertegun,
"aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku mencemaskan si - baka itu. Kau terlalu jahat, membiarkannya terlihat frustasi seperti itu. Naruto memang bodoh, tapi kurasa dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini."
Nafas Sakura memburu, dadanya terasa sakit untuk sepersekian detik. Apa yang di katakan Ino adalah kebenaran. Semuanya benar. Ia memang jahat.
"Kau sama sekali tidak tahu apapun," Sakura membalikkan badan. Gadis itu menggigit bibir untuk menahan perasaan getir yang merayap seperti rambatan petir di langit, "aku harus melakukannya."
'Bisa atau tidak . . .aku harus'
"Apa maksudmu?"
Sakura menelan ludah dengan susah payah. Tangannya mengepal erat.
"Aku akan melepasnya. Aku akan membiarkan Naruto pergi."
"Apa? Kau sedang membuat lelucon, iya 'kan?" Ino membelalak kaget, mata aquamarine nya berusaha mencari kebohongan dari diri Sakura.
Akan tetapi melihat ekspresi Sakura yang terlampau dingin membuat gadis cantik itu yakin bahwa tidak akan ada tawa setelah ini. Ini serius.
"Tapi kenapa?"
Jika diizinkan, Sakura ingin Ino menggunakan jurusnya untuk membaca pikirannya. Sakura tidak yakin ia bisa berpura - pura baik - baik saja ketika harus menceritakan berlembar - lembar kenyataan yang telah di gariskan oleh dewa.
"Naruto harus mendapatkan gadis yang layak sebagai pendamping hidup. Dan aku sama sekali tidak layak, Ino."
Sakura menceritakan setiap detail kisah yang ia alami. Dalam setiap cerita Sakura, gadis itu selalu menarik nafas dalam - dalam dan tanpa ragu - ragu mengusap air mata yang menggenang di ujung matanya. Sakura membiarkan Ino tahu penderitaan yang sedang ia rasakan.
"Kau oke?" Ino merangkul Sakura.
"Sayangnya tidak Pig. Aku tidak baik - baik saja," jawab Sakura dengan intonasi lemah.
"Kau mencintainya. Kau tidak harus-,"
"Ya, aku harus melakukannya. Bagiku . .cinta adalah pengorbanan . .dan pengorbananku ini adalah caraku untuk mencintai Naruto!"
*****NARUSAKU*****
Menikmati sore di musim panas memang sangat menggiurkan. Kau bisa tidur di atas rumput di lapangan luas sambil menghitung detik demi detik saat matahari akan kembali ke peraduan di ufuk barat.
Hal itu pula yang tengah dilakukan Sakura. Gadis itu berjalan santai bersama seorang laki - laki berkostum hijau ketat, Rock Lee. Sakura tertawa senang seraya sesekali menutup sebagian wajahnya dengan map biru yang sedang ia bawa saat Lee melontarkan kata - kata lucu.
"Guru Guy sama sekali tidak mau disuntik. Seharian ini dia bersembunyi dari aku, Neji, Ten - ten dan Nona Shizune."
Lee menggosok tengkuknya sendiri. Pria itu begitu senang karena mendapat kesempatan untuk berduaan dengan Sakura yang notaben - nya adalah gadis yang selama ini dia sukai.
Lee suka melihat Sakura yang tertawa karena gadis itu akan terlihat cantik sekali.
"Ehmmm . . Sakura - chan . . apa . .apa malam ini kau sibuk?" Tanya Lee malu - malu.
"Kenapa?" Sakura bertanya balik sambil menatap wajah Lee yang memerah di terpa sinar matahari senja.
"Berkencanlahdengankumalamini!" Ucap Lee sangat cepat. Pria itu memejamkan mata dan bersiap untuk menerima pukulan dari Sakura.
Beberapa detik berlalu, namun tidak terjadi reaksi apa - apa. Sakura diam. Matanya tak lagi fokus pada Lee, gadis pink itu menatap lurus pada jalan setapak yang jarang ditumbuhi rumput. Lee yang penasaran akhirnya membuka mata dan mengikuti arah pandangan Sakura.
Naruto
Diujung jalan ada Naruto yang tengah berdiri dengan jubah berkibar. Ia bukan lagi seorang anak kecil ataupun remaja bertampang bodoh. Ia adalah seorang pria dengan ekspresi serius dan punya kekuasaan besar di seluruh Konoha.
"Sakura - chan," panggil Lee untuk menyadarkan Sakura dari lamunan panjangnya, " jadi bagaimana? Kau mau 'kan berkencan denganku?"
Sakura membisu dengan segala pikirannya. Di benaknya hanya ada Naruto yang terus memandangnya dengan mata penuh amarah sekaligus kerinduan.
"A-aku . . ," Sakura mencengkeram rompi Jounin milik Lee ketika ia ingin menjawab pertanyaan dari Lee. Gadis itu secara tidak sadar mendekat ke tubuh Lee saat Naruto berjalan mendekat dan mendenggungkan nama indahnya.
"Sakura - chan . . "
Lee yang melihat gelagat aneh Sakura, secara reflek merangkul bahu Sakura untuk memberi perlindungan.
"Wah . . ada hokage - sama. Kebetulan sekali kita bertemu. Aku ingin melaporkan misi . . .,"
Lee tak melanjutkan perkataanya karena mendadak Naruto mendorong tubuh pria berambut bob itu menjauh dari Sakura. Ia juga cukup terkejut melihat Naruto yang secepat elang merangkul tubuh Sakura seolah Sakura adalah barang milik Naruto yang ingin dicuri orang lain.
"Aku ingin bicara padamu," kata Naruto.
"Aku lelah, bisa kita bicara besok saja Nanadaime - sama?" Sakura berusaha untuk melepaskan diri rangkulan Naruto.
"Ada apa denganmu?" Tanya Naruto dengan nada tinggi.
Lee mengerutkan alis tebalnya. Naruto memanglah seorang hokage, tetapi hokage yang melakukan tindak pemaksaan bukanlah hal yang benar.
"Kau menghindariku dan lebih memilih pulang bersama Lee?" Naruto mencecar Sakura dengan pertanyaan sekaligus tatapan yang dapat mengintimidasi setiap orang dalam kebisuan.
"Maafkan aku hokage - sama, tapi kau sudah membuat Sakura - chan tidak nyaman," kata Lee saat ia melihat Sakura meringis kesakitan karena tubuhnya di tahan oleh Naruto.
Naruto mendecih kesal,
"Berhentilah memanggil Sakura seolah dia itu milikmu. Aku tidak suka mendengarmu memanggilnya Sakura - chan."
Lee mulai terbakar amarah. Emosinya melonjak - lonjak dalam tubuhnya. Apa - apaan ini? Siapa orang yang berada di hadapannya ini?
Lee sama sekali tidak mengenali Naruto yang seperti ini. Dia bukan lagi Naruto yang konyol, ceroboh, dan selalu menunjukkan senyum kudanya setiap saat.
"Dia adalah milikku," Naruto menggertakkan giginya.
"Jangan membual di hadapanku. Kau boleh saja menjadi seorang hojage, akan tetapi tidak berarti kau bisa mengontrol hidup Sakura - chan," sahut Rock Lee.
"Dengarkan aku! Aku dan Sakura- . ."
"HENTIKAN NARUTO!" Sakura berteriak kencang.
Gadis bermata emerald itu menatap Naruto dengan pandangan memohon. Ia mendorong dada Naruto menjauh darinya. Bersama dengan terbenamnya matahari, bersama dengan selimut gelap di langit, bersama dengan angin panas yang berlari menjauh, Sakura menangis sejadi - jadinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat. Semakin lama Sakura menahan perasaanya, semakin besar puls keinginannya untuk bersama Naruto. Semua ini harus di selesaikan.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Selama ini aku sudah bersabar, tapi nyatanya aku tidak sanggup menghadapimu. Aku . .aku i-ingin kita ber...pisah."
Suara deru angin menjadi latar suata mereka bertiga. Naruto mematung. Mulutnya tak lagi bisa membalas kata - kata Sakura dengan sangkalan. Pikirannya kalut saat itu juga, saat mengetahui bahwa Sakura mencampakkannya.
"Kenapa? Apa alasannya?"
Sakura diam seribu bahasa, bibirnya terkatup rapat karena gadis itu tidak mau lagi mengucap kebohongan yang lebih banyak lagi.
"Lee, ayo kita pergi!" Kata Sakura dalam tangisnya.
"Tapi Sakura,"
"Jika kau tidak ingin pergi dari sini, aku akan pergi sendiri!" Sakura bersiap untuk berlari dan meloncati pepohonan di sepanjang jalanan. Lee menatap Naruto dengan tanda tanya besar di otaknya.
'APA YANG SEBENARNYA SEDANG TERJADI?'
"Naruto?"
"Kejar dia, Lee. Pastikan dia pulang dengan selamat!"
Lee mengangguk patuh, dengan sekali sentak saja pria berbaju ketat itu sudah meluncur meninggalkan Naruto yang berdiri menghadap ke arah sisa - sisa sinar matahari. Cahaya merahnya tang pekat benar - benar mewakili hati Naruto. Hatinya terluka dan mengelurkan banyak darah karena di sayat oleh pisau yang dinamakan cinta.
Naruto berjalan terseok - seok menuju tempat tinggalnya di lantai 2 sebuah rumah sewaan. Meskipun ia adalah seorang hokage dan bisa mendapat tempat tinggal paling megah di desa, Naruto tetap tidak mau meninggalkan tempat tinggal kecil yang telah ia huni bertahun - tahun itu. Naruto meraih kenop pintu dengan tangan gemetar, ia merasa sangat lemas dan ingin muntah di depan pintu.
Seorang anbu mendekat dengan takut - takut, pasalnya Naruto telah memaki beberapa dari mereka yang berusaha menolongnya karena Naruto benar - benar dalam kondisi dimana tubuhnya tak terkontrol dan pikirannya sedang kalut.
"Jangan mendekat," kata Naruto dengan nada mengancam.
Malam ini, Naruto telah menghabiskan belasan gelas sake sendirian. Itu adalah jumlah terbanyak yang pernah Naruto minum, karena pada dasarnya Naruto bukanlah orang yang menggemari alkohol. Kepala Naruto terasa sangat sakit dan berat. Tiba - tiba tubuh besarnya ambruk. Mata Naruto berkunang - kunang, di saat yang sama pria berambut cepak itu menangis keras.
Seminggu ini Naruto menghabiskan waktunya untuk minum sake dan menyibukkan diri. Pria itu terus minum sampai batas dimana tubuhnya serasa akan meledak karena saking banyaknya.
"Saku . .ra - chan," gumam Naruto di sela - sela tangisnya.
Mata biru itu mengerjap pelan, berat sekali. Lampu di atas langit - langit semakin mengabur dan berputar seperti gasing mainan. Tak berapa lama Naruto kehilangan kesadarannya dengan mulut berbusa. Para anbu membawanya ke rumah sakit dengan secepat kilat . Sementara itu Ino tiba - tiba saja masuk tanpa permisi ke kantor Sakura.
Nafasnya tercekat, "Sakura . .Naruto . . .d- dia kehilangan kesadaran."
"Apa kau bilang?" Sakura mendongak tak percaya, matanya yang memerah karena rasa kantuk yang luar biasa langsung melotot.
"Naruto . .dia . .oh ya ampun," Ino hampit terjengkang karena Sakura berlari dan menerjang dirinya tanpa ampun.
"Katakan!" Sakura membuat Ino ketakutan karena hanya dalam 5 detik Sakura berunah jadi pribadi yang asing.
"Dia ada di kamar nomer 01."
Sakura kembali berlari. Ia merasakan sesuatu yang seakan ingin keluar dari dalam dadanya. Sesak yang teramat sangat. Ada beberapa anbu yang berdiei di depan pintu kamar nomer 01. Sakura merangsek agar dapat mendekat ke pintu geser. Shizune keluar dari dalam ruangan dan terkejut ketika melihat Sakura yang sudah pucat pasi di depan pintu.
"Apa baru saja ingin memanggilmu."
"Dia kenapa?" Sakura melangkah masuk dan melihat Naruto yang sedang diberi penanganan khusus oleh beberapa perawat.
"Pingsan. Tidak ada luka serius tapi aku belum bisa memastikan hal apa yang membuatnya sampai seperti ini, para anbu bilang Naruto mabuk," Shizune mengikuti langkah Sakura.
Dengan lembut Sakura menyentuh pipi Naruto, gadis itu juga tetus saja memanggil nama Naruto dalam rangis yang tertahan.
"Naruto, bangunlah! Aku mohon!" Pinta Sakura.
Ada reaksi dari tubuh Naruto, dadanya naik - turun cepat, nafasnya tak teratur sesaat dan pada detik berikutnya kedua kelopak matanya terbuka. Menampakkan dua bola permata yang berwarna biru pudar. Sakura merasakan kesenangan yang luar biasa, ia menangis tersedu - sedu.
"Naruto . . ini aku. Apa yang terjadi pada-,"
"Kau . . .siapa?"
To be continue...
Back to pose mikir . . .
Sedihnya berlebihan nggak? Alay kah?
Bab 3 ini aku bikin setelah liat orang gemeteran di UGD rumah sakit -.- hehe. Nggak sengaja waktu itu dengar dokter mengucapkan kata – kata tertentu dan syuuuuung munculah inspirasi. Menurut kalian gimana? Alurnya kecepetan ya? Berikan pendapat serta aspirasi kalian ya! Oke oke? Thank youuuuu #geleng-geleng lagi.
Bye!
Salam
Cygnus
