Kembali lagi dengan Aru :DD

Untuk yang menunaikan, selamat puasa yaaa. Jangan lupa THR nanti. #plak

Oh ya, sebenarnya sih rencananya aku mau off dari FFn ini. Tapi thanks to Ileyra-san, dirimu udah nyemangatin lewat PM. Jadinya saia ada semangat lagi buat nulis fic ini. #bows. Doumo arigatou...

m(_ _)m

It's OOC/AU/Romance/Shou-ai untuk chapter ini/Semi Formal/dan abalisme

Disclaimer : KHR by Akira Amano, The Fallen Angel by bahasa inggris, ide cerita by aru, dan G. bakal sakit hati. #hajared.

Untuk chapter ini, Cozart nongol dikit buanget karena suatu alasan. Jadi mohon jangan kecewa ya. ;)

Happy reading minna :D. Atashi janji chap depan ada cozartnya hehe #plak

V vvv V

"Mau apa lu ke sini, sampah?"

"Aku ingin membawa Giotto keluar dari sini."

"Tak semudah yang lu pikirkan!"

"Apapun syaratnya, akan kupenuhi..."

"Apapun?"

"Apapun..."

V vvv V

Beberapa hari kemudian, di pagi hari setelah insiden luka-luka akibat perlakuan tamu dan kejadian memalukan yang dilakukan Cozart akan tubuh Giotto (meski hanya menjilat saja, bagi Giotto itu sangat memalukan), Giotto terbangun dengan senyum sumringan di wajahnya. Semalam ia tidur nyenyak sekali, tanpa bermimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya selama enam tahun.

Hari ini wajah Giotto sangat cerah. Secerah mentari pagi di hari Sabtu ini. Ia segera beranjak ke kamar mandi dan menyalakan shower. Tidak, kali ini dia tidak salah antara spons mandi dengan sabut kawat. Selesai mandi, Giotto memakai kemeja dan jeans santainya. Di pagi hari, adalah saat di mana seorang Giotto akan duduk taman dan membaca buku. Memang begitulah jam kerjanya. Pagi sampai siang, adalah waktu bebas. Sore hingga malam adalah saat di mana penderitaan Giotto dimulai.

Giotto segera keluar dari kamarnya dan bergegas keluar dari pub, namun langkahnya terhenti karena tangan kasar seseorang menariknya kembali masuk ke dalam pub dan menyeretnya ke sebuah ruangan yang mewah, ruangan sang boss. Dan yang menariknya adalah sang boss sendiri, Xanxus!

"Sini lu, sampah! Ngerepotin banget lu!" Sepertinya mood si boss sedang jelek. Giotto dengan pasrah diseret masuk dan dihempaskan ke kursi dengan kasar.

"Itte..." keluh Giotto saat pegangan kursi menghantam punggungnya. Giotto mengelus punggungnya dan duduk dengan sebal. Padahal moodnya hari ini sangat bagus. Tiba-tiba sang boss menghancurkan mood bagusnya, bahkan menyakiti tubuhnya. Belum cukup tamu-tamunya menyakiti Giotto sedemikian rupa?

"Gue seret lu ke sini karena ada masalah penting, sampah! Jangan pasang wajah ngeselin atau gue batal izinin lu keluar dari sini!"

Apa Giotto tidak salah dengar? Keluar dari sini? Xanxus melempar secarik kertas ke pangkuan Giotto. "Baca dan tandatangani! Jangan sampai salah!"

Giotto membaca kertas itu. Isinya adalah izin dari Xanxus untuk Giotto agar bisa keluar dari pekerjaannya, dengan satu jaminan mutlak. Hanya saja, jaminan itu tidak ditulis, membuat Giotto bertanya-tanya.

"Mr. Xanxus, jaminan apa yang dimaksud?"

"Lu gak perlu tau! Gak ada hubungannya! Cepet tandatangan atau gue robek surat itu!"

Dengan terburu-buru, Giotto menandatangani surat tersebut dan menyerahkannya kembali pada Xanxus. Xanxus tersenyum puas dan meletakkan surat tersebut di map dokumennya. Dipandanginya Giotto yang dengan wajah bingung masih bertanya-tanya dalam hatinya. Sangat disayangkan memang melepas anak itu, mengingat tamu-tamunya terlanjur mencintai Giotto hingga penghasilannya meningkat. Tapi mau bagaimana lagi?

"Lu kenal anak berambut merah dan bermata merah itu? Siapa namanya?"

"Cozart?"

"Iye, Cozart. Dia datang ke ruangan gue. Sialan, gangguin gue lagi indehoy! Setan satu itu yang nebus lu beberapa hari yang lalu. Dia nitip biar lu gak disentuh siapa-siapa lagi!"

Cozart...menebusnya? Pantas saja tiga hari ini Giotto dilarang untuk bekerja seperti biasanya. Dengan apa Cozart menebusnya? Sebelum Giotto sempat bertanya, dia keburu disemprot duluan oleh Xanxus, "Cepet kemasin barang-barang lu, sampah sialan! Jangan banyak tanya! Bawel lu kayak nenek-nenek!"

Dan Giotto sukses ditendang keluar ruangan dengan kasar. Setengah merengut, ia beranjak ke kamarnya dan merapikan semua pakaian dan peralatannya. Kamar yang sudah ia tempati selama enam tahun. Rasanya berat ia tinggalkan meski ia tahu ia tak akan bahagia jika terus berada di tempat itu.

Namun kemana pangeran yang telah mengeluarkannya dari penjara itu? Hari sudah sore dan Giotto tak kunjung melihat sosok laki-laki itu. Diliriknya ponsel mahal berwarna hitam yang tergeletak manis di mejanya. Ponsel dari Cozart. Giotto meraih ponsel itu dan mencari menu phonebook dan menemukan satu-satunya nama di sana. Nama Cozart.

Namun tak ada jawaban dari seberang sana. Berulang kali Giotto menelepon Cozart, tetap tak ada yang mengangkat. Kemana dia? Apakah sedang flight? Beberapa pikiran buruk menari-nari di otak Giotto. Namun buru-buru Giotto menepis pikiran buruknya. Ah mungkin saja Cozart memang sedang flight.

"Woi sampah!"

Pintu kamar Giotto ditendang oleh sang boss. Memang si boss ini tidak main-main tenaganya. Makanya pantas saja dia menyandang gelar boss. Selain karena kaya, dia juga sangat kuat. Pernah suatu hari pub mereka kedatangan sekelompok penjahat yang berniat menghancurkan tempat itu dan mengambil harta dan anak buah Xanxus. Dan saat itu juga, Xanxus seorang diri berhasil merobohkan kelompok penjahat yang berjumlah lebih dari dua puluh itu.

"I... Iya?"

Xanxus masuk ke kamar Giotto dan melempar sebuah kartu ke meja Giotto. "Ambil! Itu kartu pass apartemen Cleoptra yang ada di kota! Mulai sekarang lu tinggal di sana. Ngerti lu!"

Sebuah apartemen paling bergengsi di daerah itu. Kenapa sang boss yang terkenal pelit itu memberinya kartu pass kamar apartemen yang terkenal mahal? Sepertinya otak si boss sedang konslet.

"Ape lu liat-liat?" Xanxus mendelik ke arah Giotto yang menatapnya dengan heran sekaligus senang.

"Ti.. tidak... terimakasih, boss."

"Elah! Kagak perlu makasih-makasih! Cepetan keluar dari tempat ini, sampah!"

"Eh? Tapi..."

"Bawel amat lu!" Xanxus menarik tangan Giotto kasar, menyeretnya menuju pintu keluar, dan berhenti tepat di depan pintu. "... Maen-maen lu kemari ye. Layanin yang kangen sama lu."

Giotto manyun. Bossnya bener-bener tega. Masih saja memikirkan tamu-tamu iblisnya. Giotto membalikkan tubuhnya dan saat kaki Giotto melangkah keluar dari pub, tangannya kembali ditarik kasar. Apa-apaan ini? Tadi sudah mengusirnya dengan kejam, sekarang ditarik-tarik bak mainan. Apa sih maunya?

"Boss, aku akan keluar, sekarang! Tenang sa..." dan hal yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar akalnya. Si boss yang gengsi tinggi itu membekap mulut Giotto dengan sebuah ciuman. Di depan pintu, dimana semua orang termasuk anak buahnya dapat melihat kejadian itu. Beberapa dari mereka tertegun kaget.

"Ngh!" Giotto meringis karena sesuatu merobek bibirnya hingga membuatnya mengeluarkan darah. Ternyata tidak hanya menciumnya, sang boss menggigit bibir Giotto dengan taringnya. Hingga saat Xanxus melepas ciumannya, darah Giotto menetes dari lukanya itu juga mengenai bibir bawah Xanxus. Dan dia tanpa jijik menjilat darah yang menempel di bibirnya. Xanxus tersenyum sinis dan menepuk punggung Giotto keras. "Pergi sana, Giotto."

Giotto mengelus punggungnya yang panas dan menyeka darah yang mengalir dari bibirnya dengan perasaan campur aduk. Enam tahun mereka bersama. Meski jarang bertemu, namun enam tahun bukanlah waktu yang sebentar. Berat, hati Giotto begitu berat meninggalkan tempat itu. Karena banyak juga kejadian-kejadian yang kini hanya akan menjadi kenangan di hati Giotto.

"Aku pergi, boss. Sayonara."

Giotto melangkahkan kakinya, berharap setelah keluar dari sana, ia akan menemukan masa depannya yang cerah. Dan sosok Giotto tak lama kemudian telah menghilang ditelan malam yang pekat.

V vvv V

Giotto terbengong-bengong melihat apartemen yang akan ia tempati mulai hari ini. Tampak luarnya begitu luar biasa. Suasana mesir kuno begitu kental saat kaki Giotto menapaki lantai dan berjalan menuju resepsionis. Mulai dari dinding, lukisan, dan pajangan di tempat itu semua bernuansakan mesir kuno zaman dahulu.

Dan Giotto kembali terbengong ketika ia sudah masuk ke dalam ruang apartemennya. Ruangan yang terasa begitu luas jika hanya ia seorang diri yang tinggal. Dengan lantai beralaskan karpet tebal, dinding berwarna krem cerah, perabotan yang sudah dipastikan bernilai tinggi, kamar mandi dengan bathub mewah dan kompor listrik canggih, membuat mata Giotto tak dapat berkedip. Kenapa bossnya memberikannya apartemen semewah ini?

Giotto duduk di sofa dengan canggung. Ia meletakkan kopernya di depan pintu kamar tidurnya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Tidur? Tidak mungkin. Ia masih shock dan tak mungkin dapat memejamkan matanya. Giotto menghela nafas dan beranjak ke kamar mandi. Lebih baik mandi saja dan pikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

PIIIP PIIIPP!

Ponsel Giotto berbunyi. Giotto keluar dari kamar mandi dan meraih ponsel yang ia letakkan di meja ruang tamu. Giotto membuka pesan yang masuk dan tersenyum lebar membaca tulisan yang ada.

Giotto, maaf tadi aku tak sempat mengangkat teleponmu

Sedang apa? Sebentar lagi aku ke tempatmu, ya ;)

Dengan cepat, Giotto membalas pesan Cozart dan meletakkan kembali ponselnya di meja. Ia bergegas mengeringkan tubuhnya dan memakai kemeja serta celana bahan. Kemudian berdiri di depan kaca, memastikan wajahnya tak lagi pucat seperti kemarin.

Cozart, aku sekarang berada di apartemen Cleopatra. Kamar nomor 127. Datanglah sekarang ke sini.

Selesai berberes, Giotto duduk dengan tak sabar di sofa. Tadi Cozart kembali membalas pesannya dan berkata akan datang. Namun ia tak janji akan datang cepat. Giotto menggaruk pipinya dan tersenyum. Tidak apa. Giotto akan tetap menunggu.

Pukul 12 malam. Giotto menghela nafas dan memainkan ponselnya dengan gelisah. Selama tiga hari itu, Cozart tak datang padanya. Tak memberi kabar. Tidak membalas pesan dan mengangkat telepon Giotto. Dan baru sekaranglah Cozart membalas pesannya. Ia berkata akan datang. Namun sudah tengah malam, orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan sosoknya.

Sedikit kecewa, Giotto mengunci pintu dan merebahkan tubuhnya di kasur yang besar dan empuk. Dingin. Giotto merasa ranjang itu suram dan dingin. Hanya seorang diri di tempat sebesar itu, Giotto merasa sangat kedinginan. Padahal ia tidak menghidupkan AC. Sekarang Giotto hanya bisa meringkuk di ranjangnya sambil memeluk bantal. Beberapa menit kemudian, Giotto tertidur karena lelah menunggu, dalam kesepian yang menyelimutinya.

V vvv V

Pagi hari, Giotto dikejutkan dengan suara ponselnya yang terus berdering di samping bantalnya. Dengan enggan, Giotto meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengganggunya pagi-pagi begini. Di layar ponselnya, terpampang nama Cozart dan fotonya yang diam-diam Giotto ambil beberapa minggu yang lalu.

"Halooo..."

"Giotto? Apa kabar...? Maaf kemarin aku tidak bisa datang. Ada... urusan mendadak sekali.. maaf.."

Giotto menajamkan pendengarannya. Sepertinya suara Cozart hari ini sedikit aneh. Apakah Cozart sakit? "Cozart... kamu sakit?"

"Eh? Tidak sama sekali. Hahaha. Ok Giotto yang manis. Aku ada urusan lagi. Jhaa." Dan sambungan terputus dari seberang. Giotto masih menatap ponselnya dengan bingung. Ada yang disembunyikan Cozart. Tapi apa...?

Ting tong!

Bel berbunyi. Giotto bergegas membukakan pintu dan mendapati seorang tukang pos tersenyum pada Giotto sambil membawa bingkisan dan bunga. "Dengan tuan Giotto, benar? Ada kiriman untuk anda. Silakan tandatangan."

Giotto menandatanganinya dengan bingung. Ia menerima bunga dan bingkisan tersebut dan membaca nama pengirim yang tertera di buket bunga. Sesaat kemudian, bibir tipis Giotto melengkung. Ia tersenyum mengetahui siapa pengirim bunga dan bingkisan tersebut.

From : Cozart Shimon

Giotto, kau tau apa arti bunga Anemone ini? :)

Giotto menggenggam buket bunga yang ia tak mengerti namanya. Apa tadi? Anemone? Giotto segera membuka aplikasi browsing lewat ponselnya dan mencari tahu apa arti bunga tersebut. Karena sejujurnya meskipun Giotto seorang pria, ia tak seromantis itu sampai tahu arti-arti dari bunga.

Anemone : true love, truth, sincerity, anticipation, no hope, give up

Giotto terlalu sibuk mengartikan tiga kata pertama dan melupakan kata-kata selanjutnya. Wajahnya kembali merona dan ia segera menata buket bunga tersebut di vas bunga yang cantik. Senyum Giotto tak pudar-pudar memandangi bunga tersebut. Baru ia tahu ternyata Cozart cukup romantis juga.

Seharian itu, wajah Giotto sangat cerah dipenuhi senyum. Isi bingkisan itu adalah cokelat liquor yang kelihatannya mahal. Giotto menyimpan cokelat-cokelat tersebut untuk ia makan nanti. Sepertinya malam ini Giotto akan tidur nyenyak lagi.

V vvv V

Ting tong ting tong ting tong!

Sorenya, bel kamar Giotto berbunyi dengan tak sabaran. Dengan kesal, Giotto keluar dari dapur dan berlari kecil ke arah pintu dan membukanya kasar. "Hoi, berisik ta...hu.."

"Giotto!" ternyata G. G. masuk ke dalam dan mencengkeram bahu Giotto pelan. "..kau kenapa tidak mengabariku kalau sudah tidak di sana? Aku sampai harus membayar mahal pada bossmu untuk mengetahui kau dimana." Nafas G. tampak berat. Ia terlihat habis berlari.

"Maaf. Aku tidak punya nomor ponselmu, G." Giotto tersenyum polos. Membuat G. yang awalnya menegang kembali relaks.

"Hhh... Oke, mana ponselmu? Kusimpan nomormu di phonebook." G. duduk di sofa dengan wajah lelah. Ia langsung melesat ke alamat yang diberikan oleh Xanxus setelah membayarnya dengan sejumlah uang yang menurutnya bisa membeli anggur Rumania termahal sebanyak sepuluh buah. Benar-benar mata duitan.

"Itu di meja. Silakan kamu masukkan sendiri ya. Aku sedang membuat makan malam. Nanggung."

G. meraih ponsel di depannya. Wallpaper Giotto standar. G. menekan menu phonebook dan kaget mendapati hanya ada satu nama di sana. Cozart Shimon. Kenapa orang pertama dan satu-satunya yang ada di phonebook Giotto adalah Cozart? G. segera memasukkan nama dan nomor ponselnya ke phonebook. Jadi orang kedua dalam list phonebook Giotto ya. Entah ia harus senang atau kesal.

"Giotto, boleh aku minta minum?"

"Ambil saja di lemari es."

G. beranjak ke dapur dan mengambil air mineral di dalam lemari es. Ia melirik Giotto yang sedang sibuk membuat kare. Boleh juga kalau minta. G. tersenyum. Tiba-tiba matanya tertuju pada kotak cokelat di dalam lemari es.

"Giotto, ini cokelat liquor, bukan?"

"Iya. Kau mau? Ambil saja. Kita makan bersama. Aku belum makan sedikitpun sih. Hehehe."

"Oke. Kalau begitu aku juga boleh dong nyicipin masakanmu, Giotto?" G. tersenyum dan mendekati Giotto yang sibuk memotong bawang bombay.

"Eh? Jangan. Aku malu tahu. Masakanku pasti tidak enak."

"Pasti enak." G. merapatkan tubuhnya ke punggung Giotto hingga Giotto dapat merasakan nafas G. di telinganya. Dan dengan lembut, G. memeluk pinggang Giotto dan mendekapnya erat sampai-sampai si punya tubuh tak dapat bergerak sedikitpun.

"He..hei, G. Aku tidak bisa bergerak, nih. Nanti masakannya hangus." Pipi Giotto memanas. Ia berusaha melepas pelukan G. namun ternyata tenaga G. jauh lebih kuat dari pada dirinya. "...hei, G..."

G. hari ini benar-benar lepas kontrol akibat kesal dengan ponsel Giotto dan senang karena Giotto sudah keluar dari pekerjaannya yang dulu. Rasa senang dan kesal itu berbaur di hatinya membuat pikirannya jadi kacau. Iapun tidak mengerti kenapa tubuhnya bergerak dengan sendirinya dan membuat sahabatnya itu kebingungan.

"Giotto... kau.. punya hubungan spesial dengan laki-laki itu?"

"Eh? Siapa?"

"Cozart..."

Giotto terdiam. G. tahu saat ini wajah Giotto sudah merah seperti kepiting. G. tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sejak bertemu, Cozart tidak pernah menyentuh Giotto, memberikan oleh-oleh serta ponsel mahal, merawat dan memperhatikannya seperti sedang merawat sebuah kristal rapuh, dan kini Cozartlah yang berjasa mengeluarkan Giotto dari tempat itu. Tapi sedikitpun tak pernah Giotto dengar kata 'suka' dari bibir Cozart untuknya.

"Ah lupakan saja. Aku sudah selesai memasak. Ayo makan bersama." Giotto mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan kare. Ia membalikkan badan dan tersenyum ke arah G. dan memberikan piring berisi kare itu untuknya. "Silakan, G."

"Eh? Thanks." G. menerima piring itu dan membawanya ke meja makan yang memang bersebelahan dengan pintu dapur.

"Tidak tanggung lho kalau besok kamu sakit perut." Giotto melongokkan kepalanya dari pintu dapur dan tersenyum jahil. G. membalas senyum Giotto dan perlahan memakan kare tersebut. Rasanya lumayan. Hanya sedikit kurang tomat saja. Tapi secara keseluruhan, nilainya 90.

"G.?"

"Enak, Giotto. Tenang saja." G. mengacungkan jari jempolnya dan memakan habis kare buatan Giotto dengan cepat.

Giotto tersenyum sumringah dan membawa kotak berisi cokelat ke ruang tamu. "Selesai makan itu, kita makan cokelat ini sama-sama ya." Giotto duduk di sofa dan menyalakan televisi sambil bersenandung kecil.

G. meletakkan piringnya di wastafel cuci piring dan bergegas menuju ruang tamu. Ia duduk di samping Giotto yang sibuk menonton berita di televisi. "Ini. Makanlah." Giotto menyodorkan sekotak cokelat. G. memperhatikan kotak tersebut. Cokelat liquor mahal dengan kadar alkohol 51%-80%. Setara dengan minuman Bourbon Whiskey yang sering G. beli di pub Giotto dulu.

"Thanks." G. mengambil satu dan memakannya perlahan. Benar-benar cokelat kualitas tinggi. Pasti mahal. G. heran darimana Giotto mendapatkan cokelat luar negeri seperti itu. Diperhatikannya wajah Giotto yang masih asyik menonton televisi sambil memakan beberapa cokelat bulat-bulat.

"Hei, Giotto. Bukankah kamu..."

"Hmmh? Apa, G..."

"Tidak kuat alkohol kadar tinggi... sepertinya terlambat..."

Giotto menoleh ke arah G. yang menatapnya khawatir. Wajah Giotto memerah. Ia menggumamkan kata-kata yang tak begitu jelas didengar. Sepertinya Giotto memakan cokelat itu tanpa tahu kadar alkoholnya.

"Hei, G... malam ini nginap di sini yaa..." dan Giotto sukses mabuk.

G. menepuk keningnya sendiri. Sahabatnya benar-benar mabuk. Giotto tampak terhuyung-huyung. Sesaat kemudian, tubuhnya limbung, nyaris menghantam meja jika saat itu G. tidak sigap menahan tubuh Giotto. "Giotto, kau mabuk. Ayo tidur saja."

"Gen..dong..." Giotto menatap G. dengan tatapan sayu dan wajah memerah. Membuat iman G. nyaris runtuh kalau saja ia tidak ingat jika orang yang ada di dekapannya adalah sahabatnya sendiri yang tidak mungkin ia serang dalam keadaan mabuk seperti itu. Meskipun di hatinya ingin.

"Hah? Oh. Oke." G. menggendong tubuh Giotto ala brydal syle dan merebahkannya di kamar dengan hati-hati. Di luar dugaan sahabatnya itu begitu ringan. G. tidak habis pikir. Yah meskipun ia tahu tubuh Giotto itu kurus, namun ia tak menyangka jika bobotnya seringan itu.

Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Giotto langsung tertidur dengan lelap. G. mengacak rambutnya, bingung. Selanjutnya apa lagi yang harus dilakukannya? Tidurkah? Tapi dimana? Di sebelah Giotto kah? Tidak apa-apakah? G. galau.

Giotto tidur dengan wajah tetap merah khas orang mabuk. Nafasnya teratur dan senyum bak malaikatnya tetap singgah di wajahnya, membuat G. secara tidak sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Giotto. Perlahan, dan begitu jarak mereka tinggal beberapa senti lagi, telinga G. mendengar sesuatu yang paling tak ingin ia dengar.

"...Co..zart..."

Nama itu. Kenapa nama itu yang keluar dari mulut Giotto? Apakah Giotto sedang memimpikan orang itu? Dalam keadaan mabuk sekalipun, nama itu yang Giotto sebutkan. Kesal dan frustasi, G. menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Giotto yang tersenyum semakin lebar. Ah, ternyata memang ada hal yang spesial di antara keduanya.

G. berdiri dan beranjak keluar kamar. Kesal, frustasi, kecewa dan sedih. Perasaan itu tak bisa ia keluarkan. Pukulan bertubi-tubi ke tembok hingga tangannya terlukapun tak akan bisa mengobati sakit di hatinya. Ah beginikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?

V vvv V

Pagi hari yang cerah. Giotto terbangun dengan pusing menyerang kepalanya akibat mabuk semalam. Ia meringis dan mengacak-acak rambut pirangnya gusar. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Giotto celingukan. Mencari sosok yang semalam harusnya masih ada di sini.

"G. kemana ya? Apa sudah pulang? Aduh pusiingg..."

"Apa kabar, Giotto? Sepertinya keadaanmu kacau sekali. Apa kau habis pesta miras tanpa mengajakku?"

Giotto menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Di sana berdiri sosok yang ia rindukan selama beberapa hari itu sedang tersenyum lembut ke arahnya sambil bersandar di bibir pintu. Kali ini Cozart datang ke ruangannya dengan pakaian santai.

"Cozart? Kenapa bisa masuk ke kamarku?"

"Dengan ini." Cozart mengacungkan kartu pass apartemen dengan senyum jahil di wajahnya.

"Kenapa bisaaa?"

"Karena aku yang membeli ruangan ini untukmu, Giotto."

Giotto mengulang kata-kata Cozart dalam hati. Cozart menebusnya keluar dari pub. Ia juga membelikan satu ruangan di apartemen mewah ini. Semua pemberian Cozart tak bisa Giotto terima begitu saja. Itu terlalu mahal!

"Bagaimana caranya aku harus mengganti semua pemberianmu, Cozart? Ini terlalu mahal!"

Cozart menggeleng pelan. "Tidak usah. Anggap saja ini hadiah dariku untuk malaikat terindah yang pernah ada di hidupku."

Wajah Giotto yang pucat kini memerah lagi. Bukan, ia bukan mabuk karena cokelat. Ia mabuk akan kata-kata Cozart yang ditujukan untuknya. Giotto turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah Cozart, memeluk sosok di depannya dengan bahagia.

"Aduuh..."

Kaget, refleks Giotto melepas pelukannya. Ditatapnya wajah Cozart yang pucat sambil meringis kesakitan. "Cozart, kamu kenapa?"

"Ukh. Tidak... aku tidak apa-apa. Hanya saja kemarin jatuh dari motor. Hehe." Cozart mengacak rambut Giotto dengan gemas.

"Mana kulihat?"

"Tidak mau! Sudahlah aku tidak apa-apa. Ini untukmu." Cozart memberikan map dokumen pada Giotto yang manyun dan siap untuk protes.

"Apa ini?"

"Formulir pendaftaran. Isi semua dengan benar."

"Pendaftaran apa?"

"Lamaran untuk jadi pramugara. Bawel kamu. Cepat isi!" dengan tidak sabaran, Cozart menyerahkan pulpen dan mendudukkan Giotto di kursi. "Ayo isi. Nanti akan ajukan lamarannya ke atasanku." Cozart duduk di samping Giotto dan tersenyum memandangi Giotto yang kebingungan.

Hadiah indah apalagi ini. Cozart susah payah mendapatkan formulir yang terkenal susah untuk didapat itu demi dirinya. Sepertinya memberikan jiwa raga dan nyawanya sekalipun, Giotto merasa hal itu belum cukup untuk menebus semua pemberian Cozart.

Dan sebentar lagi ia bisa bekerja di tempat Cozart bekerja sekarang ini. Satu tempat kerja. Giotto merasa semakin dekat dengan Cozart. Hari-hari menegangkan dan menyenangkan akan menantinya sebentar lagi.

V vvv V

TBC

Thanks untuk yang udah ngikutin dari awal :D

Mind to review? :D