Tittle :Ahjussi
Chapter : 3
Cast : Kim Jong In, Oh Sehun, Kim Jun Myeon, Park Chanyeol , Do Kyung Soo, Byun Baekhyun
selama 10 tahun tak menyadari identitasnya yang ia ingat hanya namanya, dan selama 10 tahun pula seorang kim jong in harus merasa hidup bagaikan di neraka. keputus asaan membawanya kedalam sebuah cerita bahagia. Jong In tak pernah menyangkah setelah 10 tahun ia akhirnya bisa bertemu dengan keluarga satu-satunya. meski perjalanan panjang menantinya. Jong In yakin ia akan bahagia kemudian
HunKai. dan pairing-pairing lain di dalam cerita~
Ini sudah hampir 2 bulan bersama dengan ahjussi, dan saat uangku terkumpul aku bahkan tidak diizinkan keluar dari rumah ini. Ahjussi sangat baik, ia bilang ia menganggapku sebagai adiknya tapi itu membuatku agak tak enak. Ia memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku dan menjadi salah satu asistennya di kantor. Dan sungguh aku mengutuk pak tua itu, aku bahkan tidak mengerti dengan semua ini. Buku yang sedari menupuk dihadapanku sangat membuatku mual, apa katanya aku harus membaca buku ini? Astaga bunuh saja aku. Aku terakhir kali membaca saat di SMP selebihnya aku hanya diam di atap gedung sekolah enggan mengikuti pelajaran. Di sekolah aku hanyalah angin yang berhembus, tak ada yang mengenalku selain guru. Anehnya aku bisa sampai tingkat SMA, dan sekarang apa aku harus membaca setiap tulisan yang ada dibuku itu? Setiap katanya saja aku tak mengerti. Aku menyerah.
"semangat adik kecil" aku merengut mendengarnya, si jangkung ini sungguh tak membantu
"Hyung bisakah kau bilang pada ahjussi, aku tak mengerti semua ini" aku memohon padanya untuk kesekian kalinya.
"bisa saja, asal kau bilang juga padanya untuk meminjamkan aku kartu kreditnya" itu adalah hal mustahil, si jangkung ini menyebalkan. "ah satu hal lagi, malam ini ada sebuah pertemuan antar perusahaan besar di salah satu hotel, kau mau ikut? Ya si bapak tua itu sih minta kau ikut"aku menghela nafas
"perintahnya adalah mutlak kan?" aku meyakinkan ucapanku padanya, dan ia hanya menaikan bahunya acuh.
"kalau begitu ayo cari pakaianmu" aku menutup buku besar yang sudah ku baca setengah dan sama sekali tak ku mengerti setiap katanya. Selamat tinggal sementara pada buku-buku yang tebal dan menyebalkan. Aku mengekor Chanyeol, selama 2 bulan ini kami selalu bersama, kadang ia akan datang dan mengajakku jalan-jalan atau mencari makanan lezat. Kami suka makanan lezat, tapi dia memintaku mencari restoran padahal pinggir jalan saja sudah enak. Dasar orang kaya!, kami seperti adik kakak yang tak bisa dipisahkan.
...
Keduanya memasuki sebuah toko pakaian untuk kesekian kalinya, mencari pakaian yang bagus untuk di pakai oleh Jong In untuk acara malam ini, Jun Myeon memintanya ikut untuk bertemu dengan orang-orang penting. Dan untuk kesekian kalinya tak ada yang cocok, dan Chanyeol kembali mencari tempat yang lain.
"hyung berapa toko lagi, masa tak ada yang cocok denganku sih?" Jong In kesal pasalnya ini sudah kesekian kalinya mereka keluar masuk toko busana
"habis tak ada yang cocok" Jong In mengehela nafas kesalnya, memang badanya jelek? hingga tak ada yang cocok dengannya "ini akan menjadi jas yang pertamamu jadi aku ingin memilih yang bagus" ujar Chanyeol saat ia melihat ekspresi Jong In yang kesal.
"ah semoga disini ada" ucapnya lagi saat menemukan tempat busana, dari kejauhan ditengah keramaian dan padatnya orang-orang berlalu lalang. Sosok yang selama ini Jong In hindari berdiri di antaranya membaur dengan orang-orang itu. Melihat kearah toko yang Jong In datangi
"itukan Jong In oppa" ucapnya dengan tatapan meneliksik, agak jauh sih maka dari itu matanya seakan menzoom agar terlihat jelas. Soo Jung adik perempuan Jong In berdiri di tengah kerumunan, kaget melihat siapa yang ia lihat masuk kedalam toko. Soo Jung dengan Jong In hanya berjarak 1 tahun dan saat ini sedang ada acara sekolah atau bisa dibilang gengnya. Jalan-jalan di tengah kota Seoul,
"chingu deul, kalian boleh duluan ke cafe aku ada urusan sebentar" ungkapnya matanya tak berpaling pada objek yang sekarang sudah masuk kedalam toko. Teman-temannya mengiyakan dan Soo Jung akhirnya berlari menghampiri toko tersebut untuk memastikan betulkah itu Jong In yang membuat kedua orang tuanya marah setelah 2 bulan ini meghilang dari rumah. Mengambil beberapa uang ayahnya, dan membuat ayahnya murka dan melampiaskan padanya. Mengingatnya saja ingin membunuh biang kerok itu, enak saja ia bisa hidup tenang seperti itu. Ia mengitip dari jendela luar toko busana,
"jadi dia tinggal dengan pria itu? Tampan dan terlihat kaya. Bisa juga dia mendapatkan pria seperti itu, apa dia mengemis atau berpacaran untuk mengambil hartanya" ungkapnya dalam hati sambil terus memperhatikan gerak gerik orang yang didalam, tak lama kemudian keduanya keluar dengan sebuah kantong belanjaan di tangannya. Soo Jung buru-buru bersembunyi agar Jong In tak melihatnya
"akhirnya ketemu juga, ah aku lapar ayo cari makan" ucap Chanyeol, berjalan meninggalkan toko, Soo Jung mengambil ponselnya lalu menekan beberapa tombol
"ayah kau tidak akan menyangka aku bertemu siapa di Seoul" ucapnya pada sang ayah yang tesambung telepon di sebrang sana
"siapa?" tanya ayahnya
"Kim Jong In" ucapannya sengaja diperjelas agar sang ayah mendengarnya
"anak sialan itu kabur kesana rupanya, punya nyali juga dia masih hidup anak tidak tau diuntung itu" terdengar sang ayah yang kesal dengan hanya menyebutkan nama anak itu, tatapannya Soo Jung sinis seperti akan membunuh Jong In. Soo Jung menelepon sambil melihat dari jauh tubuh yang berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
"dia bersama dengan pria, tapi aku tak tau siapa dia sepertinya kaya" jelasnya lagi
"aku akan cari tahu nanti saat sudah ke Seoul" ungkap sang ayah lalu mematikan sambungan teleponnya. Soo Jung kembali bergabung dengan teman-temannya.
...
"Kai, kau sudah siap?" suara ahjussi membuatku kaget, aku baru saja selesai dengan jasnya.
"sebentar lagi Jun Myeon Ahjussi" si jangkung satu itu ternyata tidak salah dalam memilihkan baju, ini sangat enak di pakai dan sangat bagus. Seperti seorang pengantin heheh ingat Jong In kau baru saja 16 tahun sudah ingin menjadi pengantin, ngawur. Aku menambah pelembab bibir yang di belikan ahjussi bulan lalu, katanya melihat bibirku sangat kering dan sedikit gelap.
"aku sudah siap" ungkapku setelah menutup pintu kamar, aku tak melihat Chanyeol, kemana dia "ahjussi Chanyeol-hyung tidak ikut?" tanyaku
"dia akan berangkat sendiri, kamikan punya perusahan masing-masing. Ayo berangkat" aku tersenyum sambil mengikuti langkah kaki ahjussi menuju mobilnya. Kali ini ahjussi menggunakan supir katanya takut mabuk, karena disana akan menjadi pesta yang meriah dan banyak petinggi-petinggi yang hadir dan akan mengajaknya minum. Sepanjang jalan ahjussi menanyakan perihal buku-buku yang dia berikan untuk dipelajari dan untuk kesekian kalinya aku merengek tak mengerti. Ya memang tak mengerti dengan segala kosa katanya itu membuatku pusing mungkin jika diberikan waktu beberapa bulan lagi rambutku bisa botak karena terus mempelajarinya.
"tak apa nanti aku akan mengajarimu jika waktu ku agak luang" aku tersenyum saat ia berbicara, memang ia agak sibuk akhir-akhir ini dan menitipkan aku pada Chanyeol. Aku kan sudah besar kenapa juga menitipkan pada si tiang yang lebih seperti anak kecil itu. Kerjaannya hanya main game, marah-marah karena selalu kalah, termasuk jika ia bermain denganku heheh. Mengingatnya aku malah tersenyum sendiri
"jangan banyak berfikir, kau nikmati pestanya" ah ahjussi ini sungguh baik, aku mendoakan selalu agar pencarian adiknya segera ketemu
"iya, ahjussi juga. Ahjussi harus sedikit bersenang-senang jangan terus-terusan berkutat dengan pekerjaan" dia menoleh dan tersenyum sendu "lagi pula ditinggalkan 1 hari untuk libur dan mengistirahatkan tubuh perusahaan ahjussi tak mungkin bangkrut kan?" tanyaku, tangannya spontan mengusak rambutku pelan
"ahh kau benar juga mungkin aku butuh sedikit liburan" aku mengangguk meyakinkan
"benar, tapi ahjussi rambutku sudah kutata jangan di usak ini jadi rusak lagi" aku merengek kesal melihat rambutku sudah acak-acakan karena ulahnya.
"hahahah maafkan aku" ia tertawa lepas, aku menyukai senyumnya. Ia mengingatkanku pada seseorang tapi entah siapa aku lupa. Aku merasa aman jika di dekatnya. Lama perjalanan di hiasi dengan canda dan obrolan ringan soal ini itu dan jangan lupakan percobaan menghilangkan buku-buku sialan itu. Ahjussi satu ini tidak mau mendengarkan, mobil berhenti di baseman sebuah hotel yang sangat besar. Bintang 7 sepertinya, dan aku yakin 1 malam menginap disini bisa menghabiskan 3 tahun uang sekolahku. Besar dan sangat bagus, saat aku masuk liftnya semuanya terbuat dari kaca dan emas. Saat pintunya terbuka semuanya semakin membuatku takjub, interiornya sangat bagus dan mewah patung-patung itu mengeluarkan air.
"kau sangat mengaguminya?" aku terbangun dari kekagumanku dan melirik pada ahjussi yang tersenyum.
"aku belum pernah melihatnya, ini sangat bagus" ungkapku
"lain kali aku akan mengajakmu ke jeju, hotelku disana lebih menakjubkan dari pada ini" ahjussi ini bicara membanggakan karyanya, ya nanti ku coba lihat sebagus apa hotel ahjussi ini. Tapi tunggu, hotel? Sekaya apa sih ahjussi ini?. Kami berjalan menuju sebuah aula besar, pestanya ada didalam. Dan saat pintu aula dibuka terlihat ratusan undangan sudah memadati aula, makanan terlihat lezat dan menggiyurkan. Sepertinya aku akan sibuk dengan makanan saja, biarkan ahjussi bertemu dengan rekan-rekannya.
"aku akan disini saja ahjussi, kau bisa menemui rekanmu" ungkapku
"baiklah, aku akan menyapa beberapa tamu dulu ya, tapi sepertinya sang pemilik acara belum datang, nikamti makananya ya" aku mengangguk lalu berlarih mencari makanan. Makanannya banyak dan sekarang aku justru bingung mau memulai menyantap yang mana. Suasana mendadak tegang entah kenapa, lampu ruangan ini sengaja diredupkan dan aku tidak tau untuk apa ini semua. Seorang laki-laki berjalan ditengah dengan beberapa orang yang mengikutinya, tubuhnya tinggi dan tubuhnya sangat bagus bahunya lebar. Aku masih menyantap makananku selagi pria itu berjalan ke atas panggung.
...
"baik hadirin sekalian, kami persembahkan presedir Oh Sehun" suara dari pengeras suara itu terdengar nyaring, dan pria yang berjalan dengan gagahnya diikuti banyak orang dibelakang akhirnya beridiri diatas podium dan mengucapkan beberapa kata. Jong In tersedak saat mendengar suaranya, seakan ia kembali terpenjara karena mendengarnya. Ia mengambil sembarangan minuman yang dibawa para pelayan.
"hahaha bulu kudukku merinding mendengarnya" ia kembali meneguk minumannya,
"ah Kai-ssi, disini kau rupanya" Chanyeol datang sambil memegang sebuah cangkir kristal yang sama dengannya
"ah hyung datang, aku sudah datang dari tadi" ucap Jong In meletakan kembali gelasnya dan mengambil gelas yang lain yang ada isinya, ia tidak tahu apa yang ia minum. Yang jelas ada sensasi panas saat airnya sampai ditenggorokan.
"semoga kalian menikmati acara hari ini" pria yang baru saja diketahui sebagai pemilik hotel ini turun dari podium dan berbaur dengan hadirin yang lain. Jong In melihat ahjussi dan Chanyeol mengobrol dengan pria itu, dan ia sekarang sendirian di pesta besar ini. Tak ada yang mengenalinya, hanya makanan dan minuman yang ia pegang sedari tadi yang menemaninya. Sebetulnya ia tak menyukai minumannya, karena membuatnya sedikit pusing dan tenggorokannya panas. Tapi otaknya meminta untuk terus minum dan ini sudah gelas ke 4. Dan sekarang ia butuh toilet, mana toilet. Ia berjalan keluar aula mencari kamar kecil, butuh toilet. Pandangannya kabur, sebenarnya yang ia minum adalah minuman beralkohol, oh Jong In yang malang diumur 16 tahun ini kau sudah meminum minuman yang dilarang. Ia membuka pintu,
"hmm gelap?" tanyanya saat berhasil masuk kedalam sebuah ruangan yang ia yakini adalah toilet. Ia mencoba meraba menemukan tombol saklar lampu. Dan saat menyala ia mendapati seorang pria yang menindih seorang wanita setengah telanjang diatas kasur, pria itu terlihat sedang bercumbu tetapi kegiatannya terhenti karena lampunya mendadak menyala. Keduannya menoleh ke sumber masalah dan Jong In berdiri kaget, ia baru tersadar bahwa ia salah masuk.
"aku tidak melihatnya" ia menutup mata mencoba melarikan diri secara perlahan. Tetapi dengan kecepatan kilat ia sudah terperangkap oleh sebuah tangan yang mencoba menggapainya dan menahannya di sisi tembok.
"kau kira kau bisa lari ha?" suara itu, ia mengenalnya. Suara yang berkali-kali memerangkapnya dalam sebuah hasrat yang tak diketahuinya.
"sudahlah Sehun, kita bisa melanjutkannya" Jong In melirik ke sumber suara, lalu mengangguk hebat
"benar kalian bisa lanjutkan, aku tidak lihat apa-apa" pria didepannya hanya diam dan memperhatikan wajah Jong In.
"kau keluar" suaranya seakan menjadi sebuah perintah mutlak, nadanya tegas dan sangat penuh dengan emosi. Tapi tidak ada yang tahu siapa yang dimaksud pria didepannya ini, dia hanya mengucapkan dengan datar tetapi pandangannya tak pernah berpaling dari Jong In. Dan Jong In berharap bahwa ia lah yang diminta keluar, tetapi cengkraman tangannya semakin kuat.
"ku bilang keluar" barulah kini pada siapa perintah itu dilontarkan, pria dihadapannya membentak perempuan yang hampir bercumbu dengan dia sebelumnya. Memintanya meninggalkan mereka berdua
"tapi?" tanyanya heran, tetapi pria didepannya hanya diam sambil menatap nyalak. Wanita itu menggunakan kembali pakaiannya, dan pergi keluar dengan kesal.
"tuan lepaskan ini sakit" ungkap Jong In yang sedari tadi menahan kesakitan
"apa kau tau etika?"
"aku hanya sedang mencari toilet dan mataku kabur aku tidak tahu kalau ini sebuah kamar tuan maaf" Jong In sudah ketakutan, ia mencoba sekuat tenaga melepaskan cengkraman pria dihadapannya ini. Pria itu melemparkan tubuh Jong In ke atas kasur dengan paksa.
"akhh"ia terhempas dan pria tadi mengunci tubuhnya lagi
"aku akan mengajarkanmu sebuah etika" pria itu memaksa menciumi perpotongan leher Jong In, Jong In berusaha menghindar dan yang terjadi hanya akan ada lenguhan yang keluar dari mulutnya.
"jangan tuan, ahhh" lenguhan itu justru membuat libido pria diatasnya semakin naik. Jong In sekuat tenaga mencoba memberontak, tapi cengkraman pria didepannya ini benar-benar kuat. Ia ingat siapa pria didepannya ini, presedir Oh Sehun. Garis rahangnya benar-benar tajam, bukan waktu yang tepat Jong In kau mengagumi keindahan ciptaan tuhan didepannya ini.
"tuan ku mmmppp" saat ia mencoba bicara, sehun justru menutup akses suara itu. Menciumnya dengan ganas, menuntut untuk memasuki setiap rongga mulutnya. Mencoba bermain dengan lidahnya, Jong In tak mengerti kenapa semua ini terjadi padanya. Nafasnya hampir habis, dan pria didepannya ini enggan melepaskannya.
"haa...haaa...haa" Jong In meraup sebanyak-banyaknya udara saat Sehun melepaskan pagutannya.
"kau manis" Sehun memperhatikan wajah Jong In yang diterangi cahaya bulan, benar-benar sangat sempurna. Matanya, pipinya yang tambun dan hidung yang mungil dan jangan lupakan bibir yang pas saat ia mencoba menciumnya lagi. Dan kini Jong In hanya pasrah tak berkutik, entah apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tubuhnya seperti tak mengikuti perintah otaknya. Disela-sela ciuman panas itu, tangan besar seorang Oh Sehun mencoba membuka seluruh pakaian yang digunakan pria yang tak dikenalnya ini. Ini kali pertamanya ia melakukan hal gila, bercumbu dengan pria yang bahkan tak dikenalnya. Tapi tubuhnya sangat menggoda, lebih menggoda dari wanita jalang tadi. Tubuhnya seperti candu tersendiri, bibirnya manis, paling manis diantara bibir-bibir yang pernah ia cicipi. Astaga Sehun kau bisa gila jika kau tak menikmati tubuh ini sekarang. Setelah pakaian yang dikenakan Jong In telah terlepas seutuhnya. Tangan besar itu mencoba menggapai penis Jong In
"ahh..." Jong In mendorong, melepaskan ciuman ganas itu mencoba bangkit melihat apa yang dilakukan Sehun,
"jangan ahhh tuan jangann ahhhh" Sehun tersenyum bak iblis
"kau bilang jangan tapi kau menikmatinya" Sehun semakin mengocok adik kecil Jong In
"hmmmm ahhh..." Jong In tak bisa memungkiri rasa ini, tapi ia sama sekali tak pernah merasakan hal ini. Sekalipun ia tak pernah berfikir akan senikmat ini. Astaga apa yang kau fikirkan Jong In. Sehun menciumi puting yang mencuat, memang tak seperti perempuan tapi sungguh ini nikmat. Jong In menjabak rambut pria yang memperkosanya saat ini,
"ahjussi" gumamnya dalam hati, Sehun semakin menekan kuat sedotannya. Ia turun kebawah dan melahap adik kecil milik Jong In
"ahhhh... tuan ahhungggmmmm" Jong In berusaha menjauhkan kepala Sehun dari juniornya. Ini seperti sekumpulan kupu-kupu berkumpul pada satu titik di bawah perutnya.
"ha, cepat sekali" Sehun tersenyum sambil menjilati sisa sperma yang membasahi lengan dan mulutnya. Jong In terengh-engah setelah orgasme pertamanya. Pipinya dipenuhi dengan semburat merah, peluh membajiri pelipis dan tubuhnya justru membuat semakin berkilau di bawah sinar rembulan. Sehun sudah bersiap didepan hole Jong In,
"hmmmmm" Jong In menahan nafasnya saat ia merasa sesuatu memaksa menerobos tubuhnya, ia mencoba menjauhkan tubuh itu tetapi hanya akan ada sebuah lenguhan karena Sehun mendorongnya semakin dalam.
''sempit" ucap sehun parau. Ia semakin memaksa miliknya masuk sedalam mungkin hingga menyentuh titik terdalam dan darah kental mengalir keluar setalah Sehun berhasil masuk seutuhnya. Ia berhenti sebentar memandang wajah pria dihadapannya. Penuh dengan keringat campur air mata. Pipinya terlihat memerah, dan ia mencium sedikit bau alkohol. Setelah sekian lama ia hanya berdiam diri, Sehun akhirnya mencoba menggerakkan pinggulnya
"ahh akhh akhh akhh"
"sial ini sempit sekli" ucap Sehun memaki, tubuh Jongin bergetar saat merasakan perih menjadi sebuah kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sehun semakin kuat memaju mundurkan penisnya
"ahh,, tuah hmmmmp ahhh sakit hmmm tujmmmmm" mulutnya dikunci oleh bibir Sehun, ia meraupnya dengan kasar mencoba menguasai seluruh tubuh Jong In. Tubuhnya tersentak-sentak
"shit, kau nikmat sekali" Jong In menitihkan airmata, meski rasa sakitnya tidak sesakit saat ayahnya mencoba memukulinya, atau ibunya yang mencoba menjambak rambutnya. Tapi ini sungguh sangat menyakitkan. Bukan untuk tubuhnya tapi hatinya juga
"ahhh ahhh akhhh,,, eungghhh" Sehun tampak sangat bernafsu, tubuh Jong In semakin kuat tersentak. Dan selanjutnya teriakan kenikmatan keduanya menggema di kamar ini.
...
Yak jong in-a pegangan, aku akan menolongmu jongin... hyung aku takut hyung...bluppppp bluppp tubuh kecil itu tenggelam, walau sekuat tenaga ia mencoba untuk meraih tangan yang mencoba menolongnya ia hanya bisa pasrah dan tenggelam semakin dalam.
"hyung" Jong In berteriak saat mimpi itu kembali menghantuinya setelah beberapa tahun kebelakang ia tak pernah bermimpi hal yang sama lagi. Ia terbangun dan merasakan sakit dikepalanya semakin kuat,dan saat ia menoleh
"apa-apaan ini" ia segera menutup mulutnya, melihat seorang pria dengan tubuh yang indah tanpa busana sedang memeluknya. Apa yang dilakukannya, ia mencoba mengingat dan sungguh itu hal yang memalukan. Apa ahjussinya tak mencarinya. Ia mencoba meraih celana bahannya mengambil ponsel dengan kesusahan, tubuhnya sakit terlebih di pusat pinggulnya. Ia melihat lebih dari 20 telepon tak terjawab dan pesan dari kedua ahjussinya. Dengan susah payah ia mencoba melepaskan pelukan sang pria itu lalu mengambil pakaiannya dan menghilang sesegera mungkin.
...
Aku membuka pintu mansion ahjussi dan melihat Chanyeol dan ahjussi sedang meminum teh sambil memegang ponselmu
"Kai... kau darimana saja?" Chanyeol menghampiriku saat mata kita bertemu, aku lemas sekali pinggulku sangat sakit.
"maafkan aku, hingga aku meninggalkanmu" ahjussi langsung memelukku saat ia menatapku, ia seperti merasa bersalah. Bukannya aku yang menghilang semalam
"aku benar-benar mabuk dan melupakanmu" ah jadi ahjussi semalam mabuk dan tak menyadari bahwa aku tidak ada ditempat?
"tak apa" jawabku lesu, ahjussi melepaskan pelukannya lalu menatap wajahku
"kau tak baik-baik saja, aku akan membuatkan teh" ahjussi segera berlari mengitari konter dapur dan mengambil sembarangan gelas untuk membuatkan minuman
"jadi semalam kau menginap dimana?" aku menoleh menatapnya sendu
"aku... sepertinya ditoilet, aku semalam sangat pusing setelah aku meminum sesuatu yang seperti membakar tenggorokanku" aku menjelaskan
"itu alkohol" alkohol? Astaga, tuhan tolong maafkan aku, aku meminum sesuatu yang Engkau larang. Aku mengambil cangkir yang di sodorkan ahjussi
"terima kasih, tapi bolehkah aku istirahat badanku sangat pegal" ahjussi dan chanyeol serentak mengangguk, dan aku membawa cangkir berisi teh hangat itu menuju kamar.
...
Sehun menggerakan tubuhnya saat ia merasa sinar matahari terlalu menyengat, ia meregangkan badanya.
"selamat pagi tuan" suara maid yang baru saja datang mengintrupsinya, dan menggerakan gestur tangannya untuk kembali bekerja. Ia melihat sekeliling dan hanya ada dirinya dengan segala kekacauan ini. Ia mencoba mengingat sesuatu tapi ia kembali mengacuhkannya. Ia turun dari kasur mengambil handuk kimononya dan berjalan menuju kamar mandi. Kakinya menyentuh sebuah jas yang tergeletak di lantai dekat kamar mandi, ia mengambil jas itu dan melihat ukurannya. Jelas ini bukan ukurannya. Apa yang kau ingat Oh Sehun
"astaga, aku melakukannya lagi dengan seorang pria" Sehun tertunduk mengingat kejadian semalam, dan melemparkan jas itu keatas kasur, tidak perduli.
"selamat pagi sajang-nim" semua karyawan membungkuk hormat saat Sehun sudah sampai diruang meeting. Pemilik OH CORP ini sangat dikagumi banyak kaum hawa, tubuhnya tinggi tampan dan jangan lupakan kekayaan yang ia dapatkan diusia muda. Bahkan Keluarga Kim saja kalah, Walau ia bersikap angkuh dan sangat sombong tapi semua wanita mengaguminya, bahkan rela untuk menjadi teman tidurnya semalam. Dan kini fikirannya diliputi oleh kejadian semalam, mata coklat hidung mungil bibir yang pas untuk ia kecap dan jangan lupakan kulit yang bersinar dibawah rembulan. Perasaan dan fantasinya hilang saat tau ia telah kembali bercinta dengan seorang laki-laki. Astaga bagaimana pendapat orang-orang seorang direktur dari perusahaan paling besar dan dikagumi banyak wanita dari kalangan manapun malah bercinta dengan seorang pria yang lugu. Lugu? Berfikir lugu ia memang melihat wajah polos pria itu, apa pria itu seorang pelajar? Atau.
"Sajang-nim... Sajang-nim" Sehun memandang sekretarisnya dengan tajam,
"maaf, tapi apa yang sedang sajang-nim fikirkan, dewan direksi sedang menunggu keputusan anda" Sehun menatap sekelilingnya, ia baru ingat bahwa sekarang sedang berada ditengah-tengah rapat.
"apa? Ah kalian bisa lanjutkan" Sehun mengambil berkas didepannya menghilangkan canggungnya. Semua karyawan dan staff direksi memandang heran.
..
"Sehun, apa yang kau fikirkan ha? Aku baru pertama kali melihat kau bermuka bodoh seperti itu" Sehun memutar bola matanya melirik jendela luar
"tidak ada Hyung"
"jangan bohong"
"sungguh Hyung, aku tak apa. Lebih baik kau kembali bekerja atau aku akan memecatmu" Ucap Sehun dengan nada datar tetapi tak mengalihkan pandangannya pada luar jendela
"baik-baik, nikmatilah tampang bodohmu" Oh Myung Soo, sepupu dan satu-satunya keluarga yang Sehun miliki. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat ia berumur 5 tahun dan dibesarkan oleh sang Kakek yang meninggal 2 tahun lalu. Sehun memutar kursinya menyambar telepon diatas mejanya.
"bawakan aku rekaman cctv semalam di hotel" ungkapnya tegas, dan menutup kembali teleponnya. Tak lama seorang staff datang memberikan apa yang ia inginkan. Sehun membuka satu persatu filennya, yang ia temukan hanya acara pesta semalam yang amat membosankan.
"eoh? Ketemu" ucap Sehun girang, ia menatap heran "Kim? Dia bersama Kim?" ucapnya saat kaget melihat pria yang ia tiduri semalam ternyata adalah tamunya dan datang bersama dengan saingannya. ...
/
hallllo~~~~ semoga cerita ini menemani buka puasa kalian, bacanya pas buka ya hahahha
maaf encehnya gak ngefeel karena hmmm gak tau kenapa diusahakan selanjutnya lebih hottt...
seperti biasa review nya jangan lupa supaya diriku yangtak seberapa ini giat untuk menyelesaikan cerita ini hehehe :D
