Cast: Meanie (Main)
(3)Another OTP in SVT
Jeon's Family, Seokmin
Chaptered (2)
Uke!GS [Wonwoo, Jeonghan, Woozi, Seungkwan], OOC, Bad EYD, WATCH OUT TYPO
Cast belong to their family, Ent, fans. Storyline is mine
Happy Reading :3
Si Jak!
Eommaku bekerja sebagai seorang reporter olahraga untuk suatu percetakan. Hari ini beliau akan meliput kegiatan Olimpiade di provinsi tempatku tinggal, kebetulan sekali stadion tempatnya meliput nanti dekat dengan rumah. Karena aku dan Jungkook sedang libur dan tidak memiliki kegiatan kami pun ikut. Lumayan, tiket gratis.
"Eomma mau ke sana dulu ya," eomma menunjuk sebuah spot yang ramai dengan kamera dan banyak orang. Kumpulan para pemburu berita. "Kamu jagain Jungkook, sekalian nonton. Kalau ada apa-apa telepon saja."
Aku menganggukkan kepalaku dan menarik tangan adikku. Mencari bangku kosong untuk menonton, kalau tidak salah yang akan dilangsungkan adalah kompetisi cabang olahraga estafet.
'Baiklah permisa, selamat datang di acara Olimpiade 2009, untuk kompetisi cabang olahraga Estafet. Pada kesempatan hari ini saya Ahn Rye Na akan memandu kegiatan ini dimulai dari awal perlombaan hingga akhir acara. Untuk acara pembuka mari lah kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk sambutan dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Tuan Kim Goo Nam'
Setelah sambutan tadi acara terus berjalan, aku hanya fokus menjaga adikku. Adikku sudah tertidur saat perlombaan akan dimulai. Keramaian disini tidak menghalanginya untuk terlelap, maklum sedang sakit. Akhirnya aku dapat menikmati perlombaan dengan santai.
Duarr
Suara pistol tanda perlombaan dimulai baru saja ditembakkan. Aku sangat menikmati kegiatanku ini, padahal biasanya saja aku malas sekali menonton apa yang selama ini eommaku liput. Baru pertama kali dalam hidupku aku melihat perlombaan estafet yang ternyata sangat seru sekaligus membuat gemas.
Aku berteriak kencang menyemangati salah satu tim yang mengenakan kaus berwarna biru seterang langit. Ayunan kaki mereka sangat lincah dan cepat. Membuat yang melihat seolah-olah di ajak untuk berlari dan terbang ke langit bersamanya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka, binar kagum nampak jelas terbayang dimataku. Sampai suatu hal menyentakkanku.
"Noona, Jungkook mau pipis." Bisik adikku pelan. Aku menghela nafas, akhirnya aku bangun dan mengajak adikku untuk ke kamar mandi.
"Gimana tadi lombanya? Seru?" Tanya eommaku tepat saat kita baru sampai di rumah.
"Lumayan lah. Tapi tadi Jungkook kebelet. Jadi aku tidak tahu siapa pemenangnya." Aku mendengus dan adikku hanya tersenyum manja. Eommaku tertawa mendengar omonganku.
"Oh iya, Eomma. Wonwoo mau latihan estafet."
Tawa eommaku semakin kencang dan adikku hanya melongo menatapku.
"Kenapa?" Aku menaikkan alisku.
"Kamu yakin?"
"Iya. Wonwoo senang melihat cara mereka berlari."
"Hm, iya iya. Nanti eomma akan coba tanya ke teman eomma. Kamu mau latihan di stadion tadi?"
"Wah, boleh tuh. Kayaknya seru."
"Tapi kalau kamu malas latihan duit jajanmu eomma tarik ya seminggu." Sekarang adikku tertawa, ah eommaku ini. Mengerti sekali kalau anaknya sangat pemalas haha.
"Iya-iya. Wonwoo serius kali ini," ujarku.
Seminggu setelah aku mengutarakan keinginanku untuk mengikuti latihan estafet eommaku mendapat informasi lengkap tentang sistem latihan di stadion. Kami hari ini akan survey langsung sekaligus mencari perlengkapan untuk estafet.
"Selamat datang. Wah, Nyonya Jeon. Kebetulan sekali hari ini sedang ada latihan rutin. Mari silahkan ikut saya." Ahjussi yang bernama Yongguk itu mengantar kami ke lapangan. Menurut cerita eommaku, beliau adalah pengelola stadion sekaligus mengurusi latihan estafet ini.
"Nama adik siapa?" Tanyanya padaku.
"Jeon Wonwoo, panggil saja Wonwoo," ujarku sambil tersenyum garing.
"Panggil saya 'Oppa' ya? Jangan 'Ahjussi' haha, nanti saya terlihat lebih tua." Aku menganggukkan kepala. Eomma hanya menggelengkan kepala mendengar perkataannya.
"Biasanya di sini latihannya di bagi per tim. Setiap tim memiliki satu kakak pembimbing. Untuk mengetahui siapa kakak pembimbing kamu, kamu akan di tes untuk berlari. Kami tidak akan melihat seberapa jauh kamu berlari, tapi teknik kamu. Nanti teman-teman satu tim kamu adalah pelari yang teknik berlarinya sama denganmu." Jelasnya, aku bingung. Memangnya gaya lari orang beda-beda ya?
"Haha, nanti saat latihan kamu akan mengerti perbedaannya. Setiap perbedaan teknik memiliki kekurangan masing-masing dan posisi mereka pasti selalu di tempat yang sama di setiap latihan gabungan." Aku hanya mangut-mangut. Cukup mengerti penjelasan.
"Apa Wonwoo siap di tes hari ini?" Tanyanya tiba-tiba.
"Hah, kenapa sekarang? Pakaian saya saja bukan pakaian santai apalagi pakaian lari." Aku terkejut.
"Justru itu, supaya kami bisa melihat natural-strength kamu. Nanti kamu akan di tes saat latihan selesai. Nah, sekarang silahkan menikmati kegiatan mengamati latihan dan pelajari pelan-pelan." Dia menepuk pundakku dan meninggalkanku sendiri di bangku ini.
Aku mengamati kegiatan latihan dengan serius. Kaki mereka tegap-tegap sekali. Ku alihkan pandanganku ke arah kakiku, kecil banget.
"Hai!" Sapa seseorang. Ku lihat dirinya, pasti salah satu pelari disini. Ku teliti dari atas hingga bawah. Ewh, tipikal cowo flirty.
"Aku Seokmin, pelari tim ayam. Kamu anak baru ya?" Hah? Apa? Tim ayam?
Aku terkekeh kecil, kok nama timnya lucu sekali. Dia yang menyadari perubahan ekspresiku langsung gelapan dan menggaruk tengkuknya.
"Nama timnya itu disesuaikan dengan teknik kita berlari, dan di sini diibaratkan dengan hewan. Nanti pasti saat kamu selesai tes akan di jelaskan mengenai pembagiannya haha."
Aku tersenyum, dia baik juga ternyata. Ku ulurkan tanganku dan berkata, "namaku Jeon Wonwoo, panggil saja Wonwoo."
"Ah, oke. Aku panggil kamu Wonlu saja ya? Panggilan kesayangan khusus buat kamu." Aku terbahak, apa-apaan dia ini.
"Seokmin! Jangan godain anak baru mulu! Latihan!" Teriak salah satu pelari, Ia pun berlari menuju lapangan sambil mengedipkan matanya genit ke arah ku. Aku menghiraukan kegenitan dia dan kembali fokus menonton.
Sudah 45 menit ku habiskan untuk menonton, sepertinya mereka semua sudah selesai latihan. Ku hampiri mereka dan tersenyum kecil.
"Anak baru ya?" Tanya seorang perempuan. Aku menganggukkan kepala.
"Mau di tes sekarang?"
"Boleh, tapi pakaianku...?"
"Tidak apa apa. Toh kamu bukan pakai celana jeans kan?"
Aku menganggukkan kepala dan bersiap, Seokmin melepas sepatunya dan memberikan kepadaku.
"Pakai sepatuku. Kalau pake flat shoes bisa lecet."
"Cie Seokmin.. Cie," koor mereka kompak. Aku tertawa geli, sepertinya akan mudah bagiku untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Mereka semua sangat ramah.
Aku bersiap di lapangan. Untung saja aku suka senam kecil-kecilan di rumah. Jadi badanku tidak terlalu kaku. Orang-orang di pinggir menatapku dengan fokus, duh jadi ngeri.
"Wonlu, semangat! Wonlu, semangat!" Teriak Seokmin dengan kencang, mengurangi sedikit ketakutanku.
"Bersedia," aku melakukan ancang-ancang seperti yang kulihat tadi.
"Siap," duh deg-degan.
"Mulai," aku langsung berlari seperti kata Yongguk Oppa tadi, memperhatikan teknik dibandingkan jarak. Ku kontrol diriku agar kecepatanku stabil dan terus berlari.
Sayangnya di tengah perjalanan aku rasakan kakiku sedikit oleng. Daaan..
Bruk.
Aku terjatuh, duh ngilu banget. Kurasakan ada yang mengalir dari lututku. Pasti luka.
Orang-orang berlari menghampiriku. Mereka terlihat panik melihat darah yang mengalir. Sebagian langsung menggotong tubuhku ke pinggir dan yang lain mencari kotak P3K.
"Gwenchana?" tanya Seokmin, aku hanya menyengir. Memang sakit tapi ini wajar, aku yakin ini merupakan awal yang baik untuk menjadi seorang pelari.
Beberapa orang mengobati lukaku dan ada yang mengompres lenganku karena ada memar. Aku terharu melihat kekhawatiran mereka, padahal masih anak baru.
"Anak-anak, kalian pulang saja duluan. Biar dia kami yang urus sekalian membicarakan pembagian tim untuknya." Kata Yongguk Oppa. Dia terlihat berjalan dari arah tempat duduk penonton. Sepertinya dia ikut mengamatiku.
Lukaku sudah selesai di urus, kulihat ada empat orang yang berdiri. Sepertinya mereka kakak pembimbing yang dibicarakan oleh Yongguk Oppa? Kira-kira aku di bimbing oleh siapa ya?
"Bagaimana Woo?" Tanyanya.
"Lumayan sakit. Tetapi ya wajarlah haha." Aku tersenyum.
"Lari kamu bagus, Wonwoo-ya. Lincah sekali, dan lebar langkah kaki kamu pas. Sayang kaki kamu terlalu kecil. Untuk menjadi pelari estafet mungkin latihan kamu nanti akan lebih berat di banding yang lainnya. Supaya keseimbangan kamu bagus." Ujarnya.
"Jadi, Oppa. Dia akan di bimbing oleh siapa?" Tanya seorang perempuan yang cukup cantik, aku meragukan kalau dia adalah pelari haha.
"Eum... Mingyu. Dia akan cocok masuk ke timnya Mingyu." Jawab Yongguk Oppa setelah lama terdiam.
"Kenapa gak di aku aja?" tanya perempuan itu lagi.
"Memang dia lincah, tapi lebih baik dia di taruh di timnya Mingyu. Dia punya potensi, hanya perlu di latih dengan keras." Aku merasa takut sendiri mendengarnya.
"Nah, Wonwoo. Sekarang kamu perkenalkan diri kamu ke mereka semua. Mereka semua adalah kakak pembimbing disini. Setelah itu kamu akan berbicara dengan Mingyu. Oppa pergi dulu." Yongguk Oppa mengusak rambutku dengan lembut. Andai saja ayahku seperti dia.
"Hai, eum.. aku Jeon Wonwoo. Biasa di panggil Wonwoo, hehe. Mohon bantuannya." Aku menundukkan kepalaku, merasa canggung.
"Kamu mungil banget, sih. Aku gemes deh. Kenalin aku Nana, terus ini Mark, Youngjae, sama yang pake baju biru itu Mingyu. Dia yang bakal jadi pembimbing kamu." Ujar Eonni yang cantik tadi sambil merangkulku.
"Kamu kelas berapa?" Tanya Youngjae Oppa padaku.
"Aku baru lulus SD." Jawabku jujur.
"Gile, pantes aja masih mungil begini. Udah, Gyu. Sana lo ajak ngobrol, kita pada balik dulu. Ayo!" Mark Oppa mengajak yang lainnya untuk meninggalkanku dan Mingyu Oppa. Aku mengerjapkan mataku bingung. Aku harus bicara apa.
Melihat kecanggunganku, Mingyu Oppa membuka topik.
"Hai, saya Mingyu. Tim kamu adalah tim elang, haha sebenarnya saya agak ragu kenapa kamu dimasukkan ke tim ini. Tim ini keras, menuntut stamina tubuh yang tinggi. Dalam lari estafet kita akan menjadi pelari terakhir. Kamu tahu kan resiko pelari terakhir?"
Aku menganggukkan kepala. Jelas saja aku paham, kalau timmu tertinggal jauh kamu harus berusaha untuk mengejar. Tanggung jawab pelari terakhir sangatlah tinggi.
"Awalnya aku pikir kamu akan masuk tim Nana, tim ayam. Berisi orang-orang lincah dan kecepatan lari yang tinggi. Mereka menjadi pelari di tempat ketiga. Dan rata-rata tim Nana berisi perempuan dan orang kurus seperti kamu."
"Kalau Youngjae dan Mark Oppa membimbing tim apa?"
"Youngjae itu tim ikan, pelari kedua. Yang lebih condong ke arah kesempurnaan teknik berlari. Mark tim sapi, pelari pertama. Pemula untuk estafet, dengan kata lain starternya. Tugas mereka juga sebagai penyemangat untuk tim yang lainnya."
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti, pantas saja di timkan. Ternyata ada juga ya sistem seperti itu.
"Lalu, apa aku akan digilir latihannya oleh setiap pembimbing?"
"Pasti, tapi kamu akan lebih rutin dilatih olehku. Pertemuan kita setiap Kamis dan Minggu setiap pekan. Lalu latihan gabungan di hari Jumat dan Sabtu pada pekan akhir bulan, pada hari Sabtunya kamu akan dilatih oleh pembimbing lain. Untuk membenahi kekurangan kamu di hal tertentu."
Aku sangat semangat mendengarnya. Sepertinya seru sekali. Ah tak sabar untuk latihan pertamaku.
"Oh iya, Oppa? Apa ada privat?"
"Iya, memang kau ingin privat?"
"Pasti. Seperti kata Yongguk Oppa aku harus dilatih dengan keras, kan? Kekuranganku banyak sekali sepertinya haha."
"Haha, tidak banyak kok. Tetapi stamina kamu memang kurang. Sepertinya di antara semua murid baru kamu akan menjadi tantangan berat buat saya, haha." Ujarnya.
Aku tertawa lepas, "mohon bantuannya, Oppa."
Sudah genap tiga tahun aku mengikuti kegiatan latihan estafet ini. Tidak ada perubahan yang nampak pada badanku, tetap mungil dan kurus. Tapi aku sudah kuat untuk berlari dan keseimbanganku sudah baik. Bulan depan akan ada kegiatan Olimpiade tahunan dan syukurnya aku sudah diperbolehkan untuk turun ke lapangan tahun ini. Aku sangat gembira mengetahui hal itu, aku terus berlatih dengan keras. Tak jarang bentakan dan kritikan ku terima dari para pembimbing tapi itu tidak menjadi masalah selama aku diperbolehkan mengikuti lomba.
Hari ini latihan gabungan terakhir sebelum Olimpiade dilaksanakan. Masing-masing dari kami akan di review oleh kakak pembimbing untuk bekal sebelum perlombaan.
'Wonwoo, perhatikan langkah kamu dan kestabilannya." Teriak Nana Eonni.
'WONWOO BAHU KAMU JANGAN DI BUNGKUKKAN.' Kak Youngjae berteriak lebih kencang dari Nana Eonni, maklum kritikus teknik. Sangat perfeksionis
'Wonwoo, senyum dikit dong mana semangatnya.' Dasar tim hore-hore.
'Wonlu, Wonwoo sayangku semangaaaaaat.' Seokmin memulai kegenitannya yang mengundang tawa, aku heran dia itu memang becanda apa betul-betul sayang? Haha.
"WONWOO FOKUS JANGAN KETAWA SENDIRI!" Teriak Mingyu Oppa. Ya ampun, dia kalau sudah di lapangan sangat galak.
Ku hentikan pacuanku, aku sudah mencapai titik finish.
"1 menit 58 detik, sudah baik. Lain kali hiraukan teriakkan orang-orang, pasti kau bisa menempuhnya lebih cepat." Kata Mingyu Oppa, aku menganggukkan kepalaku. Memang biasanya aku lebih cepat, aku jadi menyesal.
"Yap. Anak-anak, latihan hari ini sudah cukup. Besok kalian bisa beristirahat di rumah dan lusa kumpul di sini pukul 06:30. Paham?" Kata Yongguk Oppa.
"Paham, Songsaenim!" Jawab kami kompak.
Hari ini adalah H-1 sebelum lomba. Kami disuruh berkumpul karena kami harus pergi ke luar provinsi untuk mengikuti kegiatan Olimpiade ini, kami berjalan menuju provinsi tersebut menggunakan bis. Perjalanan ini sangat menyenangkan dan seru. Kami menyanyi bersama, foto-foto, dan menari menghebohkan bis. Kurang lebih 9 jam kami habiskan untuk perjalanan sebelum akhirnya sampai ke tujuan.
"Wah, hotelnya keren bangeeeet." Dahyun, salah satu temanku menjerit kagum. Kami langsung menuju kamar kami untuk beristirahat.
"Wonlu.." Panggil Seokmin di tengah jalan.
"Ada apa?"
"Naik tangga yuk. Jangan naik lift." Katanya. Aku bingung. "Biar kita menghabiskan waktu berdua lebih lama hehe," lanjutnya.
"Ah baiklah," kataku. "Oppa, Eonni, semuanya, ada yang mau naik tangga juga bareng kami?"
Mereka menolehkan kepala mereka dan semuanya meng-iyakan. Malang sekali kamu, Seokmin, pikirku.
.
Kami pun menaiki tangga bersama-sama. Sepanjang jalan aku berbincang dengan Nana Eonni. Dia menanyakanku banyak hal perihal Seokmin. Padahal aku sama sekali tidak tertarik dengannya.
Aku yang malas mendengarnya pun mengalihkan pandanganku darinya. Mempercepat langkahku menuju Mark Oppa, lebih baik jalan bersamanya, aku bisa mendapat masukan penting mengenai perlombaan nanti.
Youngjae dan Mark Oppa asyik berjoget-joget di depan, ya begitulah mereka. Saat di lapangan dan luar lapangan sangat berbeda.
"Jadi tangannya harus dibuka lagi, Mark. Kasih tenaga coba."
"Kayak gini?"
Plak
Brukk
Pipiku terkena siku Kak Mark, aku langsung terjatuh dan terguling di tangga ini. Semua ini terasa sangat cepat bagiku. Rasa sakit seketika memelukku dengan erat. Sakit sekali, ya Tuhan. Badanku rasanya remuk sekali terbentur sudut tangga. Aku hanya bisa menangis di bawah. Mereka yang sebagian besar sudah di atas langsung berlari turun dan menghampiriku.
"Ya, ampun. Jeon Wonwoo!"
"Kamu gapapa kan?"
"Woo-ya, lo masih sadar kan? Ga pingsan kan?"
Dan kata-kata lain terdengar di telingaku. Di tengah kesadaranku yang minim masih dapat ku lihat Mark Oppa berucap maaf tanpa suara dan Mingyu Oppa membopongku.
"Udah sadar?" Suara lembut seseorang memasuki gendang telingaku. Ku lihat Mingyu Oppa duduk di kasurku. Dia menjagaku ternyata.
Aku ingin bangun untuk mengambil handphone dan menghubungi eommaku. Ku gerakkan badanku.
"ARGH!.. Hiks sakit banget.." Aku menjerit dan langsung menangis kencang, kakiku sakit sekali. Ku sibak selimutku dan kudapati kakiku di balut perban tebal. Aku menatap Mingyu Oppa, menuntut penjelasan.
"Hm, gimana ya... Kaki kamu... uratnya ke geser," lirihnya.
"Jadi.. Aku gabisa –hiks.. ikut lomba?" Aku masih menangis, sedih sekali rasanya mengetahui fakta tersebut.
"Resikonya tinggi, bisa-bisa uratmu putus. Dan kamu harus operasi." Ujarnya. Aku menatapnya nanar.
Ceklek
"Woo.." Kulihat Mark Oppa berdiri di depan pintu. Perubahan ekspresi Mingyu Oppa terlihat jelas. Dia marah sekali nampaknya.
"Maaf ya..." Lanjut Mark Oppa menghiraukan tatapan Mingyu Oppa, dia menghampiriku dan memelukku. Aku menangis cukup lama di pelukannya. Aku kesal tetapi mau bagaimana.
"Gwenchana, Oppa. Aku sehat kok. Jangan minta maaf." Aku memaksakan senyumanku. Ia ternyata ikut menangis.
"Hahaha, jangan menangis, Oppa." Aku tersenyum mengejeknya.
"Sedih gila gue. Ini tuh salah gue, Woo. Urat lo ke geser, sakit kan pasti? Jangan bohong."
"Iya, rasanya sakit sekali. Tapi akan tambah sakit kalau aku lihat kalian sedih begini. Tolong semangati aku, agar rasa sakitnya berkurang." Aku tersenyum, berusaha tegar.
"Hmmm.. Mingyu Oppa, aku ingin menghubungi eomma. Bisa tolong ambilkan ponselku?" Tanyaku pada Mingyu Oppa, dia langsung memberikan ponselku yang entah bagaimana bisa berada di kantung celananya.
Aku menelpon eommaku sambil menangis, aku menceritakan semuanya kepada eommaku. Menghiraukan tatapan dua pria yang sedang menungguiku. Eommaku menyemangatiku dan berkata bahwa aku pasti bisa. Ku bulatkan tekadku setelah menutup telpon dari eommaku.
"Oppa, aku tetap mau ikut lomba," aku tersenyum ceria.
"Kamu yakin?!" Koor mereka bersamaan.
"Iya, aku akan mengambil resiko tertinggi!"
Hari perlombaan pun dimulai. Seluruh orang memarahiku saat aku mengambil keputusan itu. Tetapi Mingyu Oppa tetap tersenyum dan menyemangatiku. Akhirnya setelah aku memberi pengertian mereka mengizinkanku untuk tetap berlari di lomba. Bahkan membantuku untuk meredam rasa sakit agar setidaknya dapat berlari.
"Nih, seragam untukmu." Kata Mingyu Oppa padaku. Dia memberikan seragam berwarna biru, persis seperti yang kulihat di lapangan waktu itu. Aku menatapnya bingung.
"Haha, ini lah seragam kami. Alasan kamu menjadi atlit estafet adalah tim kami yang kamu lihat waktu itu." Pantas saja saat aku menceritakan alasanku memilih menjadi atlet estafet, mereka senang sekali dan langsung memelukku.
Aku bergegas mengganti pakaianku dan sepatuku. Untung saja rasa sakitnya cukup teredam dan panitia tidak mengetahui bahwa aku cidera.
"Semangat ya, Won-ie." Ujar Mingyu Oppa. Ia mengelus rambutku pelan.
"Iya, Doakan ya!"
Aku berjalan menuju lapangan. Bersiap di posisiku, pelari terakhir. Melewati teman-teman satu timku yang memandangku dengan kecemasan.
"Wonlu~~ gimana kaki kamu?" Tanya Seokmin saat aku melewatinya.
"Aku baik-baik saja kok. Jangan menatapku seperti itu, tersenyumlah. Agar rasa sakitnya berkurang." Aku terus mengucapkan kalimat yang sama kepada setiap orang yang memandangku penuh iba seolah-olah itu adalah mantra.
Aku langsung berjalan lagi, menghiraukannya. Kalau aku tanggapi bisa saja menangis karena sakit. Sepanjang menunggu dimulai aku terus berdoa di dalam hati. Agar semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah nanti.
"BERSEDIA!"
"SIAP!"
DOR
Aku terus bersiaga dan mengamati jalannya lomba, Rin memacu dengan kecepatan yang sangat tinggi, lalu ia memberikan tongkatnya kepada Minhyuk. Minhyuk mendapat masalah saat di tengah perjalanan, Ia disikut oleh pelari lain. Hal ini mengakibatkan tim kami cukup tertinggal. Saat Minhyuk memberikan tongkatnya kepada Seokmin dan Seokmin langsung berlari dengan sangaaaaat cepat. Ia sudah berjanji untuk menolong agar aku tidak perlu berlari dengan sangat cepat. Dan,
Pluk.
Tongkat sudah berada di tanganku, aku langsung berlari dengan kecepatan maksimalku. Aku memejamkan mata agar rasa sakitku berkurang.
"WONWOO SEMANGAT!" Suara-suara seperti itu memasuki gendang telingaku. Ku percepat langkah kakiku dan tak lama ku dengar teriakkan para penonton ikut menyemangatiku.
"DAN PEMENANGNYA ADALAH!
.
.
.
TIM BIRU!"
Ku buka mataku dan ternyata, aku berhasil melewati garis finish! Pelari lain jauh tertinggal di belakangku.
Nyut
Rasa sakit langsung menyerang kakiku, aku pun ambruk dan tak bisa berdiri lagi. Apakah aku akan lumpuh?
"Permisi.." suara terdengar di depan gerbang rumahku. Ternyata teman-teman dari tim lariku datang semua.
"Hai, ayo masuk." Ujarku dari kursi roda.
Mereka semua masuk, eommaku datang dari dapur membawa minuman dan makanan untuk mereka.
"Wonwoo! Kok kamu habis lomba malah menghilang sih? Kita semua panik tau," ujar Kak Youngjae, "apalagi si Mark." Kulihat Mark Oppa, Ia terus menundukkan pandangannya dari semua orang.
Aku tersenyum, "aku operasi, Oppa."
"APA?!" Koor mereka serempak minus Mingyu Oppa dan Mark Oppa.
"Yup, sepulang dari sana aku langsung operasi. Aku sudah mendiskusikan hal ini dengan eommaku dari hari di mana aku jatuh. Eommaku bilang dia mengizinkanku untuk ikut lomba. Ya sudah aku ikut saja." Ujarku girang.
"Lo kok begitu sih... Kan kita gabisa ngejenguk kan." Mark Oppa akhirnya berbicara, ucapannya diangguki oleh yang lain.
"Aku tuh kesel liat muka menyedihkan kalian. Tau gak sih selama lomba tuh aku di tatap kayak gitu yang ada tambah sakit. Makanya aku rahasiakan, biar cepet sembuh."
Mereka nampaknya mengerti dan mengangguk paham.
"Oh iya, ngomong-ngomong hari ini aku farewell ya?"
"Farewell itu apa?" Tanya Seokmin.
"Perpisahan. Kata dokter aku tidak bisa lari lagi setelah aku memaksakan diriku kemarin. Jadi yang kemaren adalah lomba pertamaku sekaligus yang terakhir."
Seokmin menyemburkan minumannya. Seluruh pandangan langsung teralih padaku.
"Ya, mau gimana haha." Ujarku sambil tersenyum.
"Ayo kita jalan-jalan," usul Kak Mark. Seluruhnya menatap dia bingung.
"Ya, untuk pesta perpisahan. Sekaligus permintaan maafku pada Wonwoo."
"Lets Go!" Seruku.
Cut!
Andromeda Time
[1] QnA
Hasil vote, DK: IIII/ Jun: II.Yang dipakai adalah Kuda Oppa! Sebenarnya adegan dia tidak banyak, cuman disini dan 2/3 chap lagi. Tapi makasih ya vote-nya! Aku jadi semangat ngerjainnya~
Update lagi yaa. Sudaaaah!
Banyakin meanie momen. Ditunggu saja yaaa, ini masih flashback pertemuan pertama mereka~~
Mingyu suka sama Wonwoo ga? Hmmmmmm gimana yaaaaaa.. Wkwkwk, ikutin terus aja. Semua akan terjawab di chapter2 selanjutnya~
[2] Thank you reviewers (svtbae, tfiy , chanbaekhyeon, Me, Guest, Beanienim, kimxjeon, mingyu). Dan buat yang udah ngefollow dan fav cerita ini. Muncullah kalian wahai ikan badut!
[3] Buat yg sistem tim lari estafet begitu... Itu hanya imajinasi aku aja -_-v
[4] Maaf agak lama updatenya.. Aku habis bertapa meratapi kehidupanku (?) Wkwkwk ngga. Jadi tuuuh.. aku kan ikut ujian masuk sekolah tinggi, alhamdulillah tahap kedua kemarin lolos, makanya aku langsung fokus belajar buat tahap terakhir. Alhamdulillah sudah dilalui tadi pagi, doakan lolos yaa! (malah curhat wkwk)
[5] Review, Review, Review!
