Hi, all! Apa kabar?

Oke lanjut, nih.. One more again yang gak suka sama fic ini gak usah review deh!

Apalagi ngajakin berantem!

Well... S'lamat membaca!

Disclaimer: NARUTO milik Masashi Kishimoto


GIRLFRIEND

Episode 3

Sasuke's pov.

Keesokan harinya *si author dilempar karena fic ini kebanyakan kata "keesokan hari"*...

Aku telah sampai di kelasku. Aku melihat sekilas di kelas Ino. Wah, Ino belum datang. Apa ia masih sakit? Atau aku yang datang terlalu pagi? Mungkin saja aku yang datang terlalu pagi.

Aku melirik jam tanganku. Ini masih jam 07.00 pagi, sedangkan jam masuk 07.40 pagi. Wah, kecepetan nih.

Di kelas Ino hanya ada Hinata, Sakura, Lee, dan Tenten (hihihi, Lee cowok sendiri) yang bertugas piket hari ini.

Sedangkan di kelasku yang piket si Gaara, Neji, Temari, dan Kankuro (hihihi lagi, di NARUTO asli si Neji ninja Konoha sendiri diantara yg bertugas piket). Huh, aku pun memutuskan untuk mampir ke rumah Yamanaka. Toh rumahnya gak terlalu jauh dari sini.

Sesampainya di rumah Ino, aku melihat mamanya sedang menyirami bunga di taman.

"Eh, Sasuke? Kok pagi-pagi kemari?" tanya mama Ino.

"E.. enggak kok, aku hanya mau tanya, Ino hari ini masuk, nggak?" tanyaku.

"Sebenarnya tadi dia sudah siap pakai seragam , eh tau-tau malah suhu tubuhnya naik lagi dan dia sakit perut. Jadi istirahat lagi," jawab mama Ino.

"Boleh aku masuk?" tanyaku. "Tentu saja boleh, Sasuke."

Di kamar Ino.

"Eh, Sasuke.. Nggak ke sekolah?" tanya Ino yang masih berbaring lemah.

"Ini 'kan masih jam tujuh, sedangkan masuknya jam tujuh lewat empat puluh menit," jawabku.

"E.. emm.. anu, boleh tidak aku meminjam catatan pelajaranmu?" tanya Ino agak ragu-ragu. "Boleh, kok. Tapi, kita 'kan beda kelas. Apa pelajarannya sama?" tanyaku.

"Tentu saja sama! Kamu bukan kakak kelasku, 'kan?" jawab Ino lagi sambil tersenyum. "Iya baiklah. Tapi, tasku masih di sekolah," jawabku. Ino cekikikan pelan.

"Sasuke, balik 'gih ke sekolah. Ini sudah jam 07.15 lho," kata Ino. "Eh, iya.. Aku kembali ke sekolah, ya!" pamitku berlari pelan. "Hati-hati!" seru Ino.

Ah.. Meskipun Ino tidak di sekolah, tadi aku sudah melihat senyumannya. Itu sudah cukup membuatku senang. Eh, sedang mencuci mata lewat khayalan, si Curry Flurry itu datang.

"Hai Sasuke-kun... Maukah kau berkencan denganku? Nanti sore, jam empat di toko buku. Mau ya?" tawar Karin. "Gak mau," jawabku pendek langsung bangkit dari posisi duduk, beranjak ke kelas Naruto.

Di kelas Naruto.

Suara ribut dan kertas-kertas yang sudah kucel dilempar-lempar menyambutku. Tempat Naruto dimana, ya?

Eh, di barisan kelima ada tas oranye milik Naruto, tuh. Tapi Narutonya mana? Oooh.. Lagi ikutan lempar-lemparan kertas rupanya. Haah, seperti anak kecil saja.

"Eh, itu ada Sasuke!" seru Kiba. Dia ternyata sekelas dengan Naruto, ya... Padahal kukira dia sekelas dengan Ino. Aaah, di pikiranku Ino melulu, ya.

"Oooi.. Sasuke! Tumben banget nih mampir kesini!" sapa Naruto.

"Eh, apa maksud dari SMSmu kemarin?" tanyaku. "Yang mana?" tanya Naruto.

"Jangan pura-pura tidak tau. Lihat nih," aku menunjukkan inbox HPku yang ada SMS dari Naruto berisi: Sasuke! 2 hari lagi, kau harus ke taman Konoha! Kalau tidak mau, akan kubunuh kau! Lalu Naruto tertawa pelan dan lama-lama jadi ngakak.

"Eh.. Oi... Tunggu! Apa maksud dari SMS ini?" tanyaku menarik kerah seragamnya.

"Masa' orang sepintar kamu nggak tau? Maksudku, kamu 2 hari lagi HARUS datang ke taman Konoha! Gitu aja 'kok repot!" jawab Naruto setengah esmosi binti emosi.

"Ooh... Gitu... Jam berapa?" tanyaku. "Kebanyakan tanya, kamu! Biasanya kita janjian jam berapa?" tanya Naruto balik.

"E... Jam empat sore," jawabku. "Yasudah! Berarti jam segitu! Huh.." kata Naruto.

"Ya.. ya... Aku kembali ke kelasku, ya," pamitku. "Siapa yang suruh kamu masuk sini?" cibir Naruto sambil nyengir nggak jelas. Aku langsung berjalan lunglai ke kelasku. Baru duduk 5 menit, bel langsung bunyi. KRIIIIIIING! KRIIIIIIIIIIIIING! Berisik banget sih bel itu. Aku kan nggak tuli.

Ternyata, ada pengumuman dari Hokage Tsunade. Khusus untuk para rookie ninja. Ternyata... Hari berkumpulnya rookie dimajukan jadi 3 HARI LAGI! Waduh, gawaaaaat! Super duper gawat! Nah lho... Aku harus 'nembak' Ino besok malam! Harus! Secepatnya!

Selama pelajaran, aku memperhatikan sambil muter-muterin pulpen gajelas.

Habisnya bingung+panik+takut=dag dig dug. KRIIIIIING! KRIIIIIIIIIING! Bunyi bel istirahat yang superberisik dan supernyaring menyadarkan lamunanku.

Habis, aku lagi kacau sih. Apalagi semalam mamaku bilang, 'Ternyata bisa juga seorang Sasuke menemukan cintanya...' . Huu.. Memangnya aku gak bisa menemukan cinta, apa?

Keesokan harinya *si author ditampar*

Kok di kelas sebelah (kelas Ino) ramai, ya? Gak kayak biasanya. Ah, siapa tau Ino sudah masuk.

Ternyata benar. Ada Sakura, Hinata, Karin, Tenten, dan Temari yang mengelilinginya. Yah, nggak bisa mendekat, deh. Oh iya, di kelas Ino kalau jam istirahat tidak ada orang. Ini kesempatan untuk menaruh surat "itu" di lokernya!

Jam tujuh sore kamu kutunggu di Konoha's Shake and Steaks. Harus datang. Kalau tidak datang, akan kucekik kamu. Begitu tulisanku.

Hehehe... Aneh ya? Gak pernah nulis surat semacem gituan sih. Saat jam istirahat... Wah, kulihat Ino dan Sakura bergandengan berjalan menuju kantin. Di kelasnya sepi. KESEMPATAN, KESEMPATAN!

Kuselipkan kertas surat "itu" di loker nomor 30, kulihat tulisan namanya "INO YAMANAKA". Wah, tulisanku kalah bagus. Eeeeh... Kok jadi kesini, sih?

Aku dan Naruto diam-diam mengintip dari balik jendela. Kulihat dahi Ino mengernyit kebingungan membaca surat dariku.

Tapi, disana ada si rambut pink (Sakura) dan si pemalu (Hinata). Huh, pengganggu aku yang sedang cuci mata.

"Eh... Menurut kalian, apa aku harus datang?" tanya Ino. "Datang saja! Kamu harus datang!" seru Sakura bersemangat.

"I... Ino... Konoha's Shake and Steaks itu restoran yang bagus. Kusarankan.. Kalau kau memakai gaun yang sederhana, dan kau harus lebih terlihat cantik," saran Hinata.

"Apa kalian yakin?" tanya Ino. Sakura dan Hinata mengangguk pelan.

Yes! Yes! Hore! Ino akan datang! Tapi sialnya.. kraaak! Kakiku menginjak sebuah ranting pohon yang sudah terjatuh! Waduh, gawat, nih! Kulihat Ino, Sakura, dan Hinata tengak-tengok kesana-kemari. Aku dan Naruto langsung melesat lari yang lebih tepatnya disebut "KABUR".

Fiuuh... Untung saja tidak terlihat. Eh... Tunggu. Kata Hinata, Konoha's Shake and Steaks itu restoran yang bagus. Jadi... Aku harus pakai kemeja? Dan uangnya... Pakai uang tabunganku? Ini gara-gara Naruto yang menyarankan makan di Konoha's Shake and Steaks! Uuugh... Tapi kalau demi ini, tidak apa-apa, deh!

Malamnya... Di Konoha's Shake and Steaks...

Aku sudah siap dengan kemeja dan sepatu hitam. Ini udah kayak pesta pernikahan atau acara prom night aja, ya. Aku langsung berjalan ke garasi, tapi...

"Sasuke! Tunggu!" teriak Itachi-niisan. "Kau lupa membawa dompetmu," katanya. Hiiihh... Untung aja diingatkan. Kalau udah sampai sana, udah makan, eh tau-tau gak bawa uang... Malu dong sama Ino! Pokoknya, malam ini aku harus terlihat SANGAT PERFECT DI HADAPAN INO!

"Hoi... Sasuke..." Itachi-niisan menyadarkan lamunanku. "Cepat berangkat! Kasihan si Ino kalau nunggu lama!" "E... Iya!" seruku.

Aku mengendarai mobil Ferrari (ceilee!) milik keluarga kami (eh?lanjut deh) ke Konoha's Shake and Steaks. Begitu sampai disana, aku ngumpet dulu, pengen lihat apakah Ino sudah datang? *ditampar inner sasuke*

Ternyata dia sudah datang. Dia cantik sekali (ufufufu). Pakai gaun lagi-lagi warna ungu, sepatu warna putih berpita... Bagus deh. Tapi... Satu yang bikin aku kecewa. Cara berjalannya kurang feminin!

Lalu, kulihat dia tengak-tengok kebingungan. Akhirnya, aku masuk ke dalam restoran itu. "Eh... Sasuke?" panggil Ino sedikit tak yakin.

"Ah, Ino.." sapaku. "Yang memberi surat kepadamu itu aku," kataku (sok) tegas. "Ooooh... Memang ada apa? Nanti siapa yang bayar?" tanya Ino.

"Tentu saja aku. Silakan pilih tempat duduk," jawabku. "Horee... horee! Asyiiiik!" Ino meloncat(?) setinggi 30 cm (wuih). Aaah, dia memang kurang feminin.

Akhirnya kami duduk di meja nomor 6. "Kamu mau ngapain ajak aku kesini? Kenapa nggak ajak Naruto atau Karin?" tanya Ino lagi.

"Ng... Kalau Naruto, dia sedang kencan dengan Hinata. Kalau Karin... Malas 'ah," jawabku 'mencari' alasan.

"Oooh... Eh kamu sudah dapat pasangan?" Ino bertanya lagi. "Kamu ini, nanya mulu," candaku.

"Maaf! Tapi siapa? Pengen tau nih...," Ino berkata lagi.

"Ee... Belum... Aku belum dapat pasangan," jawabku. Ino menjitak kepalaku pelan "Cepat cari! 3 hari lagi, lho!" katanya.

"Eee... Mmm..." aku sempet gugup. Bilang sekarang nggak ya? Ah, tunggu! Aku punya sebuah topik obrolan yang asyik..!

"Ino, apa kau suka baca komik PIRATE yang dibuat oleh Dian?" (hehehe, author bikin komik judulnya PIRATE tapi nggak dicetak lho)tanyaku. "Ah.. Aku tau! Sekarang sudah jilid berapa, sih? Aku ketinggalan mulai dari jilid 5.." tanya Ino. "Sekarang sudah jilid 7. Kamu ketinggalan 2 buku," kataku. "TIDAAAK! SUDAH JILID 7?" Ino shock. Aku hanya tertawa pelan. Ehem, menjaga image gitu, lho!

"Aaaah.. Akhirnya beef steak sudah datang! Selamat makaaaan..." seru Ino bersemangat saat sepiring beef steak pesanannya dan pepperoni chicken fusili pesananku datang, serta 2 gelas jus jeruk. Hmm... Enak! Eh, tapi ngomongnya kapan, ya?

"I... Ino... Sebenarnya.." aku mencoba mengatakannya. "Apa? Oooh.. Mau traktir lagi? Boleh! Kapan?" Ino langsung menyerobot.

"Tu.. Tunggu! Aku belum selesai ngomong! Kamu ini tukang serobot ya?" candaku. "Iiiih!" Ino menjitak kepalaku (agak keras). Aku harus mengatakannya tidak boleh gugup dan harus jantan! Melihat senyuman Ino, tekadku makin bulat... Dan aku akan...

PULANG SAJA.

Eeeh, kalau begitu caranya berarti aku ini pengecut! Ayo Sasuke... Ayo! Inner Sasuke(?) menyemangatiku.

"Ino... Aku... suka padamu," waduh, tanpa sadar aku mengatakannya! Aku nggak berani lagi menghadap wajahnya.

"Sasuke... Aku juga..." omongannya terputus. Lalu dia melanjutkan lagi. "Aku senang sekali bisa akrab denganmu waktu bertemu di klub sepakbola. Dan mengobrol denganmu waktu itu. Dan ketika kau menjengukku waktu aku sakit. Aku senang sekali waktu itu..." kata Ino lagi.

"Eh?" aku kaget. "Ya," kata Ino (lah?). "Jadi jawabannya..." omonganku terputus oleh perkataan Ino "Ya, Sasuke. Aku juga... su... Aku pulang dulu, ya," Ino langsung berlari. Tiba-tiba seorang pelayan datang. "Ini tagihanmu," katanya. Tagihannya... 5800 YEN! Hiks, tabunganku... Hanya tersisa 500 yen, deh. Ah, tak apalah.

Keesokan harinya... *author dilempar*

Aku diam saja tanpa suara. Merenung.. dan merenung... Huh... Apakah aku akan ke kantor hokage tanpa membawa pasangan?

"Sasuke! Pasangan ke kantor hokage, aku saja, ya? Please... Please..." pinta Karin.

"Gak mau," aku lempar mukanya pake gulungan kertas kucel lalu pergi.

Mau kemana? Kantin. Ya, aku ingin minum teh mugicha dulu lah. *mugicha: teh dari saringan gandum. Hangatnya...

"SASUKE!" terdengar suara yang kukenal. Itu suara Naruto. "Kemarin berhasil nggak?" tanyanya sambil menyeruput es serut.

"Nggak tau," jawabku. "Kamu ini, kasih jawaban yang jelas, dong. Aku kan yang sudah memikirkan ide itu!" kilah Naruto.

"Eh... Ino bilang dia juga su...ka sama aku. Tapi habis itu dia langsung kabur ke rumahnya," jawabku loyo.

"Yasudah. Akan kuminta Hinata untuk menolongmu," kata Naruto. "Serahkan saja padaku!" seru Hinata tiba-tiba.

"Te... terima kasih ya."

Nobody's pov

"Selamat siang Ino-chan!" sapa Hinata.

"Hi... Hinata?" Ino kaget. "Tenang, aku Hinata asli, kok. Bukan ilusi," canda Hinata.

"Oh iya aku mau tanya, kamu suka sama Sasuke, Shikamaru, atau Sai?" tanya Hinata.

"Shikamaru sudah sama Temari, tau. Lagipula aku tidak suka dia. Sai? Biar dia bilang aku cantik, pasti itu bukan berarti suka, kan? Jadi, jawabannya enggak," jawab Ino.

"Bagaiana dengan Sasuke?" tanya Hinata. "Sa...Suke?" wajah Ino langsung memerah.

"Ah, sudah kuduga. Sebaiknya kamu makan ini." KLAK! Hinata memberikan satu stik es krim kepada Ino. "Terima kasih, Hinata," kata Ino. "Eh, Ino, aku ke kantin dulu, ya," kata Hinata.

Ino menangguk, lalu Hinata berjalan menuju kantin.

Sasuke's pov.

"Hinata, gimana katanya?" tanya Naruto.

"Aku bertanya, siapa yang dia suka, Sasuke, Shikamaru, atau Sai (wah depannya 'S' semua)? Lalu dia jawab 'Shikamaru sudah sama Temari, tau. Lagipula aku tidak suka dia. Sai? Biar dia bilang aku cantik, pasti itu bukan berarti suka, kan? Jadi, jawabannya enggak,' lalu aku tanya lagi 'Bagaimana dengan Sasuke?' lalu dia hanya bilang 'Sa.. Suke?' lalu mukanya merah, dan kubagikan es krim ini padanya,"kata Hinata sambil menunjukkan es krimnya.

Naruto dan aku hanya mengangguk-angguk. Naruto tersenyum.

"Sudah jelas jawabannya 'kan, Sasuke?" tanya Naruto.

"Iya. Terima kasih atas bantuan kalian. Kali ini, aku harus berusaha sendiri," jawabku balas tersenyum.


Hello friends! Gimana pendapat kalian tentang chapter 3?

Oh iya, jangan lupa untuk me-review!

Dan SEKALI LAGI, review jangan ngajakin perang atau belain pair lainnya lho!

Bye!