Naruto belong Masashi Kishimoto

WHO I AM? belong KimTen.

fanfiction ini hanya imajinasi Author belaka.

Happy Reading.

.

..

...

KAKASHI POV.

"Sepertinya aku harus mengirim salah satu asistenku untuk membantumu merawat Haru. Bagaimana?" tanya Tsunade Senpai, yang kini tengah berkunjung ke rumahku. Hari sudah mendekati tengah malam, dan Senior ku ini sengaja bertamu hanya untuk bertemu Haru? hmm...aku cukup terbantu sebenarnya. Karena sejak tadi, Haru enggan tidur. Dia terus mengoceh mengeluarkan suara cempreng layaknya bayi lainnya.

Haru sudah berumur dua bulan sekarang. Selama dua bulan itulah suka duka dalam merawat Haru terus aku lalui. Terkadang aku mendapatkan bantuan dari tetangga sebelah yang sangat kasihan padaku. Aku memiliki pekerjaan sendiri, tapi aku juga harus merawat Haru agar senantiasa kenyang dan sehat.

Para tetanggaku sudah mengetahui perihal kedatangan Haru yang tiba-tiba. Berbagai gunjingan negatif aku dapatkan, namun tak sedikit pula aku mendapatkan perhatian dari para tetangga ku.

Haru tumbuh menjadi bayi yang periang. Banyak yang memuji Haru karena dia begitu tampan seperti aku, para tetangga mengatakan bahwa Haru seperti duplikatku, sangat tidak jauh berbeda dariku walaupun mata Haru bukanlah miliku.

Jika aku sedang berdua saja dengan Haru aku selalu mengamati anak itu dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Belum lama ini, aku mendapatkan kiriman paket berisi popok dan beberapa kaleng susu untuk persediaan satu bulan.

Pengirimnya tidak tercantum, yang ada hanyalah beberapa kata dari sepucuk surat yang datang dengan paketan itu.

'Aku percayakan Haru padamu. Aku masih belum yakin kapan aku bisa mengunjungi kalian. Maafkan aku karena sudah merepotkan mu.'

Aku meremas kuat-kuat surat itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan kesal.

Dan lagi, kenapa dia tahu nama Haru? mungkinkah wanita ini adalah orang yang aku kenal?

"Kakashi?"

Pikiran ku buyar saat Tsunade memanggilku.

"Ya?"

"Aku harus pergi sekarang. Mulai besok aku akan mengirimkan asisten ku kemari khusus untuk merawat Haru." ucap Tsunade.

"Baiklah, terima kasih atas bantuan mu."

Seperti biasa aku mengantarkan kepergian Tsunade Senpai sampai di depan pintu.

Haru dalam gendongan ku. Tangannya menggapai-gapai udara seolah seperti mengajakku bermain.

"Kau belum mengantuk?" tanyaku walaupun aku tahu Haru belum bisa menjawab.

Untuk kesekian kalinya, Haru mengeluarkan suara lengkingan kecil.

Aku membawanya ke kamar, dan di sisa malam aku habiskan bergurau bersama Haru. Entah jam berapa kami sama-sama memejamkan mata menuju surga mimpi.

Pagi sekali aku terbangun karena suara tangisan Haru. Aku bergegas membuka mata dan mengecek popoknya.

Ternyata sudah penuh. Lantas aku membukanya, dan membalut tubuhnya dengan kain. Aku bermaksud untuk memandikannya, namun ada hal aneh saat aku menyentuh permukaan kulit Haru.

Badanya terasa panas. Aku mulai panik, karena semalam Haru masih terlihat baik-baik saja.

Aku segera menghubungi Tsunade Senpai dan mengatakan keadaan Haru yang tiba-tiba demam.

Tsunade Senpai menyuruhku untuk datang ke rumah sakitnya agar Haru mendapatkan perawatan.

Tanpa pikir panjang pun, aku segera membawa Haru ke Rumah sakit. Tak peduli dengan keadaan ku yang masih kacau sehabis bangun tidur, yang terpenting Haru segera mendapat pengobatan.

Sesampainya di Rumah Sakit, aku menyerahkan sepenuhnya Haru pada Tsunade Senpai.

Aku menunggu dengan cemas. Aku harap Haru tidak kenapa-napa.

"Sensei?"

Aku berbalik untuk melihat siapa gerangan yang menyapaku.

Ah, ternyata dia salah satu mantan muridku. Lebih tepatnya dia temannya Naruto.

"Oh, Sakura." Sapa ku. "Bagaimana kabar mu?"

"Kabarku baik, Sensei sendiri?" tanyanya.

"Sama sepertimu." Jawabku singkat. Pikiran ku sepenuhnya berada di Haru. Tsunade Senpai tak juga kunjung keluar dari ruang pemeriksaan.

"Apa kau bekerja di sini?" tanyaku, karena Sakura memakai seragam perawat di Rumah Sakit ini.

"Iya, Aku baru beberapa hari masuk kerja setelah cuti lama." Jawabnya.

Hening. Kami tidak melanjutkan percakapan kami, Aku terlalu kalut mengahwatirkan Haru.

"Siapa yang Sensei tunggu?"

Suara Sakura membuyarkan pikiran ku.

"Aku menunggu Putra ku." jawabku.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Tsunade Senpai keluar bersama Haru dalam gendongannya. Haru terlihat tidur pulas, dia tidak menangis lagi.

"Bagaimana keadaannya?" tanyaku.

"Dia baik-baik saja. hanya demam biasa. Aku akan memberikan mu resep obat untuk Haru, kau bisa menebusnya di bagian obat setelah ini."

"Baiklah, terima kasih."

Aku mengambil alih Haru dari gendongan Tsunade Senpai. Lantas aku pun berpamitan.

Aku berniat untuk pamitan juga dengan Sakura, tapi anak itu sudah tidak ada di tempatnya.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue.