Do Kyung Soo & Kim Jong In
UnA Na
Rated : T
Warn : GS! RATED M!
©2016
Summary : Do Kyungsoo punya hidup sempurna di umur 26 tahun. Bisnis kue yang sukses, teman-teman yang baik, dan malaikat kecil yang selalu membuat tiap harinya berbeda. Hingga ia bertemu Kim Jongin, lelaki misterius yang akan membuka masa lalunya yang terlupakan.
Karma lebih menyakitkan, bukan?
…
Do In Soo, gadis kecil umur tujuh tahun kesayangan Kyungsoo. Punya mata besar seperti ibunya dan kulit putih khas orang Asia. Hampir seluruh sifat dan fisiknya menurun dari Kyungsoo. Dia gadis pendiam yang punya bakat besar, jika kata Minseok. Di umurnya yang masih kecil, In Soo punya suara merdu dan pintar bermain piano berkat ajaran neneknya yang mencintai alat musik tersebut.
Gadis kecil itu berdiri di depan gerbang sendirian sambil memegang tali ranselnya erat-erat. Ia memainkan batu di bawah kakinya, memutarnya bolak-balik atau menginjaknya sampai remuk. In Soo bosan setengah mati menunggu sang ibu menjemput. Ia melirik ke kiri, berharap menemukan mobil Ford Kyungsoo tengah melaju kemari.
"In Soo-ya…"
Bukan dari arah kiri, In Soo malah menoleh ke arah yang berlawanan. Seorang wanita, tengah melambai kepadanya. In Soo mengenal siapa wanita tersebut. Ia berlari dengan cepat dan memeluk kaki wanita tersebut. Senyum lebar terpasang nyata di wajahnya. "Bibi Luhan, kangen!"
Luhan tertawa, ia ikut menjongkokkan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan pandangan In Soo. "Bibi juga kangen!" dicubitnya hidung In Soo dengan gemas. Mereka saling berpelukan sampai menggoyangkan badan masing-masing saking senangnya.
"Ekhm…"
Suara itu merusak kesenangan mereka. Keduanya menoleh bersama ke asal suara. Disana, berdiri seorang lelaki berjas, sepatu pantofel hitam mengkilat, dan rambut hitam legam yang diatur acak. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya di saku celana, bermuka jutek karena kesal. "Melupakan sesuatu?"
"Paman Sehun!" seru In Soo dibalik pelukan Luhan. Ia melambaikan tangannya dengan semangat. Melihat bibi dan pamannya datang, kekesalan In Soo mendadak hilang. Ia sangat rindu kedua orang dihadapannya ini. Paman Sehun dan bibi Luhan akhir-akhir ini jarang menemui In Soo karena sibuk. Dan melihat keduanya ada disini, ia senang sekali.
Sehun dan Luhan menggandeng In Soo menuju mobil BMW hitam milik Sehun. Mereka terlihat seperti keluarga saat ini. Hingga Sehun nyeletuk, "Kalau Kyungsoo nunna melihatnya, dia pasti iri sekali." Dan dihadiahi pukulan 'sayang' oleh Luhan.
"Jangan membahas itu, Sehun! Kamu terlalu optimis mencari Kyungsoo suami." Luhan membuka pintu mobil dan memangku In Soo. Sehun duduk di kursi kemudi setelahnya. Ia membalas omongan pedas Luhan sambil menyalakan mesin mobil. "Sebagai adik, itu kewajibanku untuk membantu kakaknya dalam kesulitan mencari jodoh."
"Bukan kesulitan Sehun…" buru-buru Luhan meralat, "Kyungsoo saja yang tidak mau."
"Kakakku tidak mau karena tidak ada yang mendekatinya." Sehun menjalankan mobilnya, menembus jalanan Seoul.
"Park Chanyeol tidak kamu hitung? Dia bahkan yang paling gencar mendekati kakakmu."
"Ayolah! Chanyeol hyung hanya teman Kyungsoo nunna."
"Teman? Bagaimana bisa–"
"Kenapa paman Sehun dan bibi Luhan tidak pacaran sekalian?"
Sehun mengerem mendadak dan Luhan langsung membekap mulut In Soo karena celetukannya. Mereka sama-sama menatap In Soo dengan dahi berkerut, tidak mengerti darimana anak kecil ini tahu istilah 'pacaran'. Sedangkan mata bulat itu menampilkan kepolosan karena tidak mengerti kenapa dua orang dewasa ini menatapnya dengan tatapan aneh.
…
Toko Lou-be dipenuhi tawa Kyungsoo dan Minseok setelah mendengar cerita Luhan tentang celetukan In Soo di mobil tadi. Sedangkan si empunya sibuk memakan cupcake mini dipangkuan Kyungsoo dengan nikmat. Gerutuan Luhan tidak berhenti disitu saja. Mulut kecilnya terus mengutuk kemampuan menyetir Sehun yang buruk. Mereka diteriaki orang-orang dijalan karena Sehun berhenti mendadak di tengah jalan.
"Bukannya kalian sudah jadian?" kata Minseok yang hampir membuat Luhan tersedak tehnya.
"Siapa bilang?!" pekik Luhan tak tahu diri. Kyungsoo meringis melihat semua pembeli melihat ke arah mereka penuh tanda tanya.
Minseok melirik Kyungsoo yang memberi senyum minta maaf ke setiap orang yang ada disana. "Kyungsoo yang bilang." Orang yang merasa namanya disebut menoleh. Ia membulatkan matanya lebih lebar, terkejut dengan pengakuan sepupunya. "Kapan aku bilang?"
"Baru kemarin, Kyung." Minseok memutar bola matanya. "Katamu Sehun sudah menembak Luhan."
"Sehun tidak pernah menembakku!" Luhan cepat berkilah, ia mencium bau kesalahpahaman disini.
"Ah, yang itu!" Kyungsoo langsung ingat. Ia meringis saat Minseok memutar kedua bola matanya untuk yang kedua kali. "Bukan 'sudah ditembak'. Tapi masih rencana."
"Sepertinya, Sehun tidak akan menembak Luhan." Minseok berucap dengan serius, sampai-sampai Kyungsoo mendekatkan kepalanya yang terlihat begitu antusias. "Lalu?"
"Excuse me!" Luhan mengetuk meja dua kali untuk mendapatkan perhatian dua wanita dihadapannya. Ia yang menjadi objek pembicaraan harus menghentikan topik yang mereka bahas.
"Aku yakin…" suara Minseok berubah merendah, hampir berbisik. Kyungsoo makin mendekatkan kepalanya, ia penasaran kalimat apa yang akan keluar dari mulut sepupunya. "Sehun akan melamar Luhan."
PLAK!
Tidak mencapai dua detik setelah kata terakhir diucapkan Minseok, ia mendapatkan hadiah di lengan kanannya dari Luhan. Kyungsoo tertawa paling keras. Minseok paling suka menggoda Luhan bahkan Sehun mengenai kejelasan hubungan mereka.
"Lihatlah temanmu ini, Kyungsoo! Dia memukul unni!" lapor Minseok, nadanya meninggi di akhir kalimat.
"Minseok unni!"
Perdebatan mereka berlanjut lebih panas dan Kyungsoo tidak peduli setelahnya. Ia menyibukan diri untuk membersihkan remah-remah cupcake di wajah hingga baju In Soo. Gadis kecil itu tertawa saat Kyungsoo menyentuh bagian pipinya. Ia berseru sakit karena ibunya mencubit pipi tembemnya dengan tak berperasaan.
Kegiatan ibu dan anak itu terhenti setelah Luhan menyebut nama Kyungsoo dalam perdebatan mereka. "Sehun tidak mungkin menikah jika Kyungsoo belum menikah," ucap Luhan sengit.
"Oh, benarkah? Sehun harusnya sudah tahu kalau Kyungsoo tidak mau menikah. Betulkan, Kyung?!" Minseok menatapnya bengis, membuatnya susah untuk menjawab.
"Unni terlalu mengintimidasinya." Luhan menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan.
"Mau pembuktian?" Minseok mengangkat alisnya, nadanya menantang penuh kepercayaan diri. "Do Kyungsoo, jawab dengan jujur unni-mu ini," Minseok menatapnya dengan tajam. "Tidak ingin menikah?"
Kyungsoo yang disudutkan dengan pertanyaan sensitif itu terdiam. Matanya yang besar melihat kedua wanita itu satu persatu. Mereka terlihat penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkannya. Sejujurnya Kyungsoo sendiri tidak tahu jawabannya. Ia tetaplah seorang wanita yang butuh lelaki disampingnya. Sebagai suaminya dan ayah untuk In Soo. Tentu Kyungsoo tidak akan membiarkan anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Tapi In Soo sendiri terlihat enggan untuk punya ayah.
"Entahlah, aku lebih suka jadi single parent." Untuk sekarang itu jawabannya. Ekspresi kecewa Luhan dan senyum penuh maklum Minseok membuat Kyungsoo tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia memperbaiki posisi In Soo dipangkuannya untuk mengurangi kecanggungan.
"Sehun harus berhenti menjodohkan Kyungsoo mulai sekarang," sahut Minseok dan disetujui Luhan dengan mudah.
…
Dia baik-baik saja.
Jongin terus menggumamkan kata yang sama sambil tersenyum setelah pulang dari kantor Chanyeol. Ia menutup matanya dan membayangkan wajah wanita kesayangannya kembali. Jongin kembali berdebar seperti tadi.
Do Kyungsoo, dia baik-baik saja.
Nadanya penuh syukur saat ini. Mungkin Luhan sudah menceritakan segalanya. Betapa sehat dan bahagianya wanita itu. Tapi melihat dengan kepala matanya sendiri, rupanya lebih melegakan dibanding mendengarnya dari orang lain.
Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja, tapi tatapan Chanyeol mengganggunya. Lelaki itu menyimpan kemarahan dan ketakutan dimatanya. Jongin menyadari itu setelah Kyungsoo pulang. Ia tidak mengungkitnya, begitupun Chanyeol yang paling enggan membahasnya. Mereka membiarkan pertemuan tadi selayaknya rekan yang membahas tentang pekerjaan. Walau Jongin tidak tahan untuk tidak melirik ke kotak makan di atas meja kerja Chanyeol. Ia sangat mengenal kotak makan itu, dan rasanya perih sekali kotak makan beserta isinya sekarang bukan miliknya lagi.
Karma.
Jongin tidak pernah percaya akan hal seperti itu dulu. Tapi ia merasakannya sekarang. Kotak makan itu pernah ia buang ke tempat sampah, dengan tidak tahu diri Jongin menginginkannya sekarang. Kotak itu, beserta isinya, dan selembar stick note warna-warni beserta tulisan penyemangat di atas.
Mengingat kisah lama sebenarnya bukan sesuatu yang bagus. Tapi Jongin terlalu senang mengungkitnya. Seakan ia tengah menghukum diri dari kesalahan di masa lalu. Sungguh, penyesalan paling berat bagi Jongin adalah melihat mata bulat itu sudah tidak mengenalnya. Terlalu asing untuk Jongin kenali saat ia menatap langsung mata itu.
Ia bangun dari tidurnya dan menuju lemari. Jongin mengganti kemeja biru mudanya dengan kaus hitam polos yang ditutupi dengan jaket kulit. Ia menyambar kunci mobil dan segera keluar kamar. Tujuannya sekarang hanya satu.
Menuju toko kue Kyungsoo bahkan rumahnya jika perlu.
...
Kyungsoo keluar dari Lou-Be hampir pukul enam sore. Biasanya, ia sudah berada di rumah sekarang. Tidak tahunya toko lebih ramai dari biasanya siang ini, membuat Luhan yang ada disana ikut membantu. Lou-Be benar-benar sepi setelah waktu menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit.
Minseok sudah pulang satu jam yang lalu, karena suami tercintanya telah menjemput. Luhan lebih dulu pulang karena ada yang akan memesan gaun pengantin padanya. Ia pergi dengan penuh penyesalan karena tidak bisa membantu lebih lama. Kyungsoo pulang paling akhir karena harus mengecek segalanya. Apalagi para pegawai tengah sibuk membersihkan toko. Setelah semua beres, barulah ia bersiap pulang.
Ia menggendong In Soo yang tertidur di ruang kerjanya tadi. Kebiasaan gadis kecil itu jika ibunya sibuk dan tak sempat memerhatikannya. Makanya Kyungsoo meletakkan kasur lantai diruangannya.
Kunci diputar dua kali agar pintu toko lebih aman. Ia memperbaiki posisi tas sekolah In Soo yang sedikit melorot disamping mempertahankan anaknya yang berada digendongan. Mobilnya hari ini masuk bengkel yang memaksa Kyungsoo untuk naik taksi.
Kyungsoo menunggu taxi di pinggir jalan. Ia agak kedinginan malam ini, beruntung mantel dan In Soo yang berada dipelukannya bisa mengurangi sedikit kedinginan tersebut. Di saat ia menunggu taxi lewat, mobil Ferrari merah mengkilat berhenti tepat dihadapannya. Kyungsoo mengenal mobil ini, jadi ia tidak terkejut melihat sang pemilik mobil tengah berdiri dihadapannya sambil nyengir lebar.
"Aku tidak terlambat, kan?"
"Kamu terlihat seperti pahlawan sekarang," sahut Kyungsoo.
Chanyeol mengubah raut wajahnya dengan senyum kecil menawan yang nampak 'dibuat-buat' berwibawa. "Aku memang pahlawan untukmu." Dengan gentle ia mengambil tas sekolah In Soo dan diletakkannya di bangku belakang. Chanyeol juga membuka pintu mobil untuk Kyungsoo. Wanita itu tertawa dengan kelakuan manis Chanyeol dan masuk kedalam mobil. Ia menutup pintu dengan hati-hati. "Jangan lupa sabuk pengamanmu."
"Aku tahu itu, Yeol!"
Chanyeol tertawa dan berlari ke tempat pengemudi. Tawa dan langkahnya terhenti saat mata besarnya melihat seorang pria tengah berdiri di seberang jalan, disamping mobil hitamnya. Wajahnya berubah menjadi datar dan terus menatap pria itu yang juga tak bergerak dari posisinya. Chanyeol melengos dan segera masuk ke dalam mobilnya. Tanpa memedulikan orang tersebut.
…
Jongin melihat segalanya.
Rupanya, sebuah keputusan yang salah datang ke sini jika akhirnya jantungnya terasa diremas-remas dengan kuat. Seharusnya Jongin tidak datang. Sebuah kebodohan yang ia lakukan untuk pertama kalinya.
Ia sudah memarkir mobil di seberang jalan sebelum Kyungsoo keluar. Rasa rindunya yang mengakibatkan Jongin nekat kemari. Dari kaca mobil, Jongin bisa melihat jelas Kyungsoo yang keluar dari toko sambil membawa anak kecil dalam gendongannya. Ada perasaan tercubit saat melihat anak kecil itu dan Jongin yakini jantungnya berdenyut nyeri karena tidak bisa mendekat.
Saat melihat Kyungsoo yang berdiri di pinggir jalan, membuat Jongin berpikir kalau ini adalah kesempatannya. Ia keluar dari mobil dan menawarkan sebuah tumpangan kepada wanita itu. Jongin tidak berpikir untuk masalah resiko. Ia melupakan –atau berpura-pura– fakta Kyungsoo tidak mengingatnya.
Sebelum ia berhasil melaksanakan rencananya, mobil Ferrari merah mengkilap tepat berhenti dihadapan Kyungsoo. Jongin mematung di tempatnya berdiri. Itu Park Chanyeol, orang yang sekarang sudah beribu langkah di depannya.
Mereka berbincang satu sama lain, yang terlihat begitu akrab. Orang-orang pasti menyimpulkan mereka adalah keluarga bahagia karena interaksi keduanya. Jongin tidak menyukai itu. Lebih tidak menyukai lagi saat melihat Kyungsoo masuk ke dalam mobil merah tersebut.
Di saat ia masih sibuk dengan rasa tak sukanya, Jongin bertatapan langsung dengan Chanyeol yang berdiri di depan mobil. Wajah lelaki itu menampakkan raut datar, Jongin membalasnya tak kalah datar. Ibaratnya saat ini, Jongin sudah basah, kenapa tidak mandi sekalian. Makanya, dibiarkan Chanyeol mengetahui ia berdiri disini. Bersikap seperti pecundang yang hanya mampu melihat dari jauh. Lelaki tinggi itu lalu masuk ke mobilnya tanpa memedulikan Jongin.
Dengan sedih, Jongin memaku pandangannya ke arah laju mobil merah tersebut. Perasaan sesak menyakitinya. Ia akui, karma memang sangat menyakitkan.
…
Mengantar Kyungsoo sampai di pintu apartemennya adalah sebuah keharusan bagi Chanyeol. Makanya, lelaki itu selalu mampir kemari dan bertindak seakan rumah Kyungsoo adalah rumah keduanya. Ia juga mengambil alih menggendong In Soo, karena mengetahui jika anak kecil ini tiap hari bertambah berat. Ia hanya mencoba meringankan beban Kyungsoo.
In Soo diletakkan Chanyeol dengan pelan di ranjang kamar Kyungsoo. Wajah manis In Soo yang tengah tidur selalu mengingatkannya pada wanita yang sudah menjerat hatinya. Menggemaskan dan membuat semua orang ingin melindunginya. Malaikat tak bersayap punya Kyungsoo yang Chanyeol harapkan miliknya juga.
"Ingin teh hangat?" tawar Kyungsoo setelah Chanyeol keluar dari kamarnya. Wanita itu membawa dua cangkir besar yang diletakkannya di meja tamu. Chanyeol mendudukkan dirinya dan menyesap teh tersebut secara perlahan.
"In Soo makin berat, ya." Komentar Chanyeol.
"Dia sudah tujuh tahun, sudah besar." Jari-jari Kyungsoo memeluk cangkir, mencari kehangatan di tehnya.
"Tapi masih manja." timpal Chanyeol.
Kyungsoo menyesap tehnya secara perlahan, ia tersenyum mengingat tingkah laku In Soo yang tidak pernah lepas darinya. "Tidak masalah dia manja. In Soo satu-satunya hartaku yang paling berharga."
"Aku suka In Soo, apalagi jika punya anak seperti dia." Matanya menerawang jauh, seakan ia tengah berandai-andai.
"Menikahlah, dan berharap punya anak perempuan," sahut Kyungsoo ringan.
"Kalau begitu, menikahlah denganku."
Kyungsoo reflek menoleh dan mendapati Chanyeol tengah menatapnya dengan serius. Mata besar itu menyorotkan kemantapan yang pasti. Ia gugup seketika ditatap seperti itu. Kyungsoo tertawa garing setelahnya, "Di sini bukan tempat yang tepat untuk lamaran, Yeol."
"Lalu, kamu maunya dimana?" nada suara Chanyeol membuat Kyungsoo semakin bingung. Lelaki ini terdengar serius, seakan perkataannya tadi bukanlah bahan candaan seperti biasa mereka lakukan.
"Kamu serius?" nada suara Kyungsoo memelan. Ia agaknya ragu dengan pernyataan mendadak laki-laki itu.
Chanyeol mengangkat bahunya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, diminumnya seteguk teh hangat itu. Ekspresinya kembali santai, tidak seserius tadi. "Parlsz Hotel akan mengadakan acara ulang tahun ke lima puluh. Karena keluargaku menyukai tartletmu, mereka ingin memesannya untuk acara itu."
Perubahan topik secara mendadak membuat Kyungsoo menjadi bingung. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? "Chan… sesungguhnya aku tak mengerti –"
"Bisa, kan?" Chanyeol langsung memotong ucapan Kyungsoo. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa Chanyeol tidak ingin mengungkit pernyataannya tadi. Jadi, tanpa sadar ia mengangguk.
Entah kenapa, Kyungsoo tak pernah mengerti apa arti dibalik senyuman Chanyeol sejak dulu.
…
Minseok belum datang. Ia menelpon Kyungsoo, mengabarkan kalau Min Ae – anak Minseok – rewel sekali hari ini. Jadi ia akan datang terlambat. Kyungsoo pikir keterlambatan sepupunya itu hanya berkisar setengah atau satu jam. Tidak tahunya, sampai pukul dua belas siang Minseok belum menampakkan batang hidungnya. Kyungsoo yakin bukan cuma Min Ae saja yang rewel, Jongdae pasti ikut-ikutan rewel.
Awalnya itu bukan masalah besar. Sebelum salah satu pegawainya mengingatkan Kyungsoo mengenai kue tart pesanan nyonya Han belum diantar. Ia langsung buru-buru menelpon Minseok, bertanya tentang alamat nyonya Han. Sepupunya yang menyimpan semua alamat dan Kyungsoo tidak mengetahui satu pun. Karena ini tugas Minseok, ia lepas tangan mengenai hal ini.
"Cepat berikan alamatnya nyonya Kim!" Kyungsoo bisa mendengar suara tangis Min Ae diseberang sana, balita umur dua tahun itu sepertinya tidak mengerti jika ibunya tengah sama paniknya dengan Kyungsoo.
Lou-Be tidak pernah mengenal keterlambatan dalam mengantar pesanan. Paling lambat diantar adalah satu jam sebelum waktu yang sudah ditentukan oleh pelanggan. Pukul satu siang deadline dari nyonya Han kemarin, sedangkan ini sudah pukul setengah satu. Makanya, Kyungsoo yang turun langsung mengantar kue ini, sekaligus meminta maaf atas keterlambatannya.
Ia keluar toko membawa kotak besar yang membuat kedua tangannya sibuk memeluk kotak tersebut. Ponselnya diapit dengan bahu dan telinga kanan. "Tunggu sebentar, Kyung! Aku lupa menaruh dimana buku catatanku." Kyungsoo berdecak pelan. Ia sudah kesusahan membawa kotak kue ini sendirian karena pegawainya semua sibuk, dan Minseok menambah beban dengan lupa meletakkan seluruh alamat pelanggan.
"Jangan membuatku tambah – eh…"
Ponselnya langsung jatuh saat ada seseorang yang menahan kedua lengannya secara tiba-tiba. Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Ia menahan nafasnya saat melihat langsung dua iris tajam itu tepat memaku matanya. Orang itu tinggi, hingga sinar matahari terhalang oleh tubuh kokohnya. Orang asing itu berjenis kelamin laki-laki. Dan tambahan pula, ia tampan luar biasa.
Oh, sial! Apakah Kyungsoo tengah terpesona sekarang?
TBC
AN :
Banyak yang pada minta ChanSoo. jadi pengen diwujudin :v
makasih untuk semua komentarnya, saya terima dengan baik (walau ada yang review cuma satu kata). yang penting udah ngehargain saya sebagai author fanfiction ini.
mohon doanya, semoga dua minggu lagi chap. depan udah ada. mungkin udah pada nebak siapa cowok yang bikin terpana Kyungsoo di ending.
jangan lupa tinggalkan review :)
