"Sana-kun, kapan Kaa-san pulang? Saku rindu kaa-san", Ucapnya sambil menangis dipelukan ku, ku elus lembut punggungnya yang bergetar, dalam diam aku bertanya pada diri ku 'apa yang harus aku katakan? bahkan sampai saat inipun aku juga tak mengerti arti dari sebuah kehilangan'.


Chap ke-3 dari seri Sasu-Saku family ^_^

#enjoy!


"Hujan. ."

Sebulan berlalu sejak kepergian Kaa-san, sejak saat itu hampir setiap malam terjadi badai, aku tidak mengerti, kenapa malam bagaikan kegelapan itu terus berdatangan tanpa henti.

Aku benci hujan. Kenapa?

Bagiku hujan itu seperti kesedihan, aku tak suka segala hal yang menyedihkan yang membuat ku terasa begitu rapuh.

Saat terakhir Kaa-san, aku bilang akan menjadi laki-laki yang kuat seperti Tou-san, aku bahkan tidak mengerti arti kata'kuat' yang ku janjikan pada Kaa-san, yang ku tahu kata itu cukup membuatnya tersenyum lembut pada ku.

Meski tangan Kaa-san tidak sebesar Tou-san, tapi tangan itu terasa sangat hangat.

Ntah aku anak yang durhaka atau apa, yang jelas aku tidak menangis saat tangan itu mengelus puncak rambut ku, "Jaga Saku-chan…" ,Kata terakhir Kaa-san yang diucapkannya pada ku akan selalu ku ingat.

Ku genggam erat tangan Kaa-san yang sedikit demi sedikit mulai mendingin, hidup ku tanpa Kaa-san akan jadi seperti apa ya?

Tou-san tetap saja sibuk bekerja setiap hari ku lewati dengan rasa bosan, bangun pagi, diantar kesekolah oleh Tou-san, pulang sendirian, kenapa? biasanya Kaa-san yang menjumput ku, kalian tahu kan kalau Kaa-san sudah tidak ada lagi. Terlebih aku bukan anak manja, aku sudah 5 tahun, aku masih ingat jalan yang ku lalui bersama Kaa-san saat hendak pulang, apalagi jarak antara taman kanak-kanak itu hanya 2km dari rumah, tak terlalu jauh -?- untuk ku.

Dalam perjalanan pulang aku melihat taman kota yang biasanya aku, Kaa-san, Nii-san dan Sakura-chan bermain, ntah kenapa terlintas rasa rindu di hati ku, tapi aku tidak boleh menangis, aku harus menjadi laki-laki yang kuat.

.

.

Rumah tanpa Kaa-san.

Kakak ku, Uchiha Reizuki, saat ini dia menduduki bangku 4 SD, kak Reid an aku itu atas bawah mirip Tou-san hanya saja kakak sedikit lebih lembut dan lebih childish -?- dari pada aku.

Kakak itu bagaikan panutan untuk ku, saat melihat kakak, aku merasa sedikit mengerti arti kata kuat yang sebenarnya, meski saat Kaa-san pergi dia yang menangis paling kencang -_-

Kak Rei biasanya pemalas, tapi sejak Kaa-san tidak ada dia jadi sangat rajin.

Tiap pagi kakak yang memasak untuk kami, meski hanya sekedar nasi dan misoshiru, tapi itu sudah lebih dari cukup.

Aku tahu kakak sering membantu Kaa-san, jadi tak heran jika dia lumayan bisa mengerjakan hal-hal yang berbau pekerjaan rumah tangga. Bahkan mengurus Sakura-chan pun kakak bisa, meski sedikit kesusahan.

Melihat itupun aku berinisiatif membantu kakak sebisa mungkin, meski hanya sekedar membuatkan susu atau hanya menjaganya sampai Tou-san dan kakak pulang ke rumah.

.

.

Rumah tanpa kaa-san.

Adik ku, Uchiha Sakura, saat ini umurnya baru 3 tahun, dia yang paling tidak tahu apa-apa soal kematian Kaa-san. Saat itu Sakura digendong oleh Tou-san, dengan wajah polos dia melihat Kaa-san yang terbaring, "Tou-san, Kaa-san kenapa?".

"Jangan cemas Saku-chan, Kaa-san hanya tidur sebentar", Ku lihat wajah Tou-san saat itu, Tou-san yang biasanya dingin dengan wajah stoicnya kini disana terukir kesedihan meski hanya secuil.

.

.

"Hujan. ."

Ku tatap lekat-lekat jendela kamar ku, terlihat benang-benang halus terpampang di langit sana, seiringan dengan kemunculannya, suara gemuruh yang memekakkan telinga juga ikut menghiasi malam ini.

Petir itu tak adil, dengan tergesa-gesa dia keluar meninggalkan suara yang mengikuti dibelakangnya. Tidak bisakah kau menunggunya atau sekedar keluar bersamanya?.

Petir itu tak adil, dia terlihat menggambarkan keretakan hati ku saat aku teringat hal yang paling tidak ku inginkan. Dan bisakah kau untuk tidak muncul sebentar saja dihadapan ku?

Tok. . .Tok. . .

Lamunan ku buyar, ku langkahkan kaki menuju pintu kamar ku, ku buka pintu itu perlahan, terlihat seorang anak kecil menangis terisak, bahunya bergetar, ku tatap dirinya lekat-lekat, anak kecil berambut merah sebahu, dengan piyama putih bergambar strawberry kesukaannya, tangannya mengusap-ngusap matanya yang sembab, sedangkan tangan yang lain memegang erat teddy bear kesayangannya.

"Kenapa kau menangis?", Tanya ku lembut.

Dia melihat ke arah ku sambil mengangkat kedua tangannya, "Gendong!"

'Eh~?'Aku diam sejenak.

"Sana-kun, aku mau di gendong!", Ucapnya lagi.

Sambil menghela napas akupun menggendongnya 'berat' risau ku sesaat.

"Sana-kun, tidur sama-sama ya, aku takut, diluar menyeramkan!".

Aku hanya diam mendengarkan permintaannya yang datang bertubi-tubi.

"Baiklah", Ku naikan dia ke atas tempat tidur, kuselimuti dan ku elus kepalanya. Selang beberapa menit ia tak kunjung tidur 'Sudah jam 10 malam', Batin ku lesu. Dikibaskannya tangan ku, dan ia mulai menangis lagi, 'Ada apa Sakura?'.

"Kaa-san. .", Dengan sigap ku peluk erat tubuhnya, entah kenapa saat dia memanggil Kaa-san aku merasa begitu takut.

"Sana-kun, kapan Kaa-san pulang? Saku rindu Kaa-san", Ucapnya sambil menangis dipelukan ku, ku elus lembut punggungnya yang bergetar, dalam diam aku bertanya pada diri ku 'apa yang harus aku katakan bahkan sampai saat inipun aku juga tak mengerti arti dari sebuah kehilangan'.

"Sana-kun jangan pergi ya, tetap sama Saku disini, Saku gak mau sendirian".

"Aku akan terus bersama mu Saku-chan, aku berjanji takkan meninggalkan mu sendirian", Ku eratkan plukanku, semakin erat, takkan ku lepaskan, aku akan menjaga mu, karna kau adik ku dan seperti janji ku pada Kaa-san, aku takkan mengingkarinya.

"Kalau begitu setiap hari kita tidur bersama, kau maukan Saku-chan? Bersama ku?".

Dia menatap wajah ku dengan intens, "Saku mau sama Sana-chan~!", wajah yang ku lihat sendu tadi kini mulai merah merona, aku suka melihat senyum yang terukir di wajah polosnya, "Ano...Sana-chan, aku ngantuk!".

Ku longgarkan pelukan ku dan mulai merebahkannya di samping ku. "Oyasumi Sakura-chan", kata ku hendak menutup mata.

"Mana ciuman selamat tidurnya?". Mata ku membulat kaget, "Cium?"

"Iya, cium! Kaa-san selalu melakukannya setiap aku mau tidur", Terangnya sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Lucu, kata itu yang terlintas di benak ku.

"Hm...baiklah, selamat tidur", Ku kecup pelan keningnya, tercium aroma strawberry yang begitu lembut, 'adikku yang manis'.

"Oyasumi Sana-kun"

Kamipun tertidur, dengan tangan ku yang menggenggam tangan Sakura.

.

.


"Sana-kun BAKAAA~!"

Tepat seketika benda lunak namun empuk itu mendarat mulus ke kepala ku. Kulihat tirai yang memisahkan kamar-ku dengan kamar adik-ku terbuka.

Ku dapati gadis yang tengah memakai baju tidur bermotif polkadot itu menatap ku intens.

"Nani?", Tanya ku melemperkan kembali bantalnya.

"Kau kira ini jam berapa, ha? Cepat matikan lampunya, aku tak bisa tidur gara-gara itu!"

"Baiklah, nona yang menyebalkan!", Ku matikan lampu itu dan cepat melesat ke atas kasur kesayangan ku, ku dengar hari masih hujan'Kapan berhentinya sih?' ,Saat aku memikirkan hal itu tiba-tiba benda yang cukup keras dan berat mengimpit ku. 'Mau apa lagi sih tu anak!', Saat ku buka mata, ku lihat -benda- yang mengimpit ku tadi ternyata tak lain adalah Sakura.

"Tidur sama-sama ya", Ucapnya setengan memelas.

Aku menyeringai, ku tatap wajahnya lekat-lekat, "Kau tak bisa tidur bukan karna lampunya belum ku matikan 'kan?"

Seketika wajah itu merona, "Baka!", ucapnya sambil menarik selimut yang ku pakai dan terang saja dia langsung memonopoli kasur kesayangan ku.'Aku memang tak bisa menang melawannya'.

"Ne sakura-san..."

"Hm...nani?", Ucapnya tanpa menoleh ke arah ku.

"Lihat aku dulu..."

Dengan setengah hati dia menoleh ke arah ku, cepat saja aku langsung mencium keningnya, aku lihat dia terpaku sejenak, tanpa mempedulikannya aku mulai meronggoh setengah selimut ku dan mulai tidur, "SANADAAAAAAAAA...!".

Tak ku hiraukan teriakkan itu, dan lihatlah, akhirnya dia pun menyusul untuk tidur!

Paginya aku terbangun lebih dulu dari Sakura, ku buka tirai jendela, diluar masih terlihat basah, mungkin semalaman terus hujan dan baru berhenti subuh ini.

"Kaa-san, apa aku masih belum kuat?". Ku tatap Sakura masih tertidur dengan lelap.

"Kaa-san..."


~END~

Setelah membacanya ku harap kalian dapat memberi masukan pada ku

Thx before :)