Disclaimer : Uta no Prince-sama © Broccoli

Rate : T

Main Chara : Tokiya Ichinose

AN : Hay, maaf baru update ehehehe #wajahinosen Author lagi /agak/ sibuk, jadi gitu deh #hah. BTW, makasih Mori Kousuke18 atas reviewnya *emot bibir* #nggak. Oke akhirnya terkumpul niat nyelesaiin ini chapter :'3 enjoy~


Am I Wrong?

Chapter 3. That Christmas, The Truth

23 Desember. Sudah hampir satu tahun, ia bergumam pada dirinya sendiri ketika mengecek kalender pagi itu. Ia ingat betul apa yang terjadi pada tanggal 24 Desember tahun lalu. Ntah apa yang ada dibenaknya saat itu, meninggalkan acara keluarga besarnya itu hanya untuk merawat teman sekamarnya itu. Sekedar iba kah? Ya, awalnya ia juga berfikir demikian. Tapi benarkah itu hanya sekedar rasa 'kasihan' karena sang pangeran berambut merah itu tak punya orang tua ataupun saudara lagi? Melihat wajah temannya, ia tahu, ia menolongnya bukan karena 'iba', tapi karena ada perasaan lain.

Hari ini ia berjanji akan menemani Otoya untuk membeli hadiah natal untuk Tomo. Tentu saja ia sebenarnya tak mau, tapi khawatir kejadian tahun lalu terulang akhirnya ia mau menemani teman sekamarnya itu.

Sore itu ia berjalan beriringan dengan Otoya melewati berbagai macam toko di suatu pusat perbelanjaan. Keadaannya cukup ramai saat itu. Tentu saja, semua orang berburu hadiah untuk sekedar bertukar dengan sahabatnya atau membeli mainan untuk anaknya atau juga memberi hadiah spesial untuk pasangan mereka. Dirinya sendiri tak yakin akan membeli hadiah apa-apa.

"Huwa! Boneka beruang itu lucu!" seketika sang pangeran berambut merah itu menarik tangannya menuju sebuah toko yang bernuansa 'girly'. Ia merasa ada yang aneh. Jantungnya berdegup kencang ketika Otoya menarik tangannya masuk ke dalam toko itu. Sebelumnya ia tak punya masalah ketika Otoya 'bergelantungan' ditangannya meminta diajarkan cara membuat lirik lagu, tapi mengapa sekarang berbeda? Ia sendiri tak bisa menjawabnya.

Ia melihat sekelilingnya. Tidak ada yang menarik, batinnya. Ia kemudian melirik Otoya yang sedang membayar boneka yang ia belikan untuk Tomo. Raut wajah temannya itu terlihat sangat senang, ntah apa yang ada dipikirannya. Diam-diam, ia ingin melihat Otoya tersenyum seperti itu untuknya. Ah, tapi sang pangeran ceria itu memang sering tersenyum kepadanya bukan? Walau dirinya sudah bersifat sedingin es, seorang Otoya selalu melemparkan senyum cerianya untuk semua orang.

Setelah selesai ia dan Otoya berkeliling sesaat. Otoya mengoceh sendiri soal lagu baru yang dibuat Haruka untuknya dan juga bagaimana hubungan dirinya bersama Tomo. Ia hanya mendengarkan cerita pangeran berambut merah itu sampai Otoya mengehentikan langkahnya di depan suatu toko musik. Ia tak berkata apa-apa, hanya melihat Otoya dengan tatapan datar.

"Bagaimana kalau kita bertukar kado tahun ini?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Tidak apa bukan? Lagi pula tahun lalu aku tidak bisa menikmati hari natal karena sakit. Tahun ini setidaknya aku ingin bertukar kado dengan teman sekamarku!"

"Terserah dirimu saja."

"Baiklah~! Kita bertemu di tempat makan 30 menit lagi!"

Seketika sang pangeran ceria itu sudah menaiki tangga dan menuju lantai 2. Ia sendiri masih sedikit terdiam di tempatnya. Ia tak tau akan memberikan apa pada Otoya. Melirik kesebelahnya ia melihat toko musik. Tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam untuk melihat-lihat.

15 menit ia berkeliling dan masih belum menemukan hadiah yang cocok bagi Otoya. Ketika hampir menyerah ia melihat sebuah headphone merah bergaris putih dengan lambang bintang di masing-masing sisinya. Ia baru ingat kalau beberapa hari yang lalu Otoya bilang earphone lamanya rusak karena ia tak sengaja menumpuknya diantara buku-buku pelajaran. Tanpa pikir panjang lagi ia mengambilnya dan membayarnya.

Ia keluar toko sambil membawa headphone untuk teman sekamarnya itu. Tapi ia harus mencari toko untuk membungkus kadonya. Mencari dari satu toko ke toko lainnya ia akhinya menemukan toko untuk membungkus kadonya. Ia memilih bungkus spesial yang ditawarkan di toko itu. Tentu saja berhubungan dengan natal. Perpaduan antara warna merah, putih, dan hijau membungkus kotak luar hadiah untuk temannya itu.

Sesaat setelah itu ia melihat jam tangannya. Aku harus cepat-cepat ke tempat makan, batinnya. Tapi saat ia berjalan sebentar ia melihat teman berambut merahnya itu sedang berdiri terdiam membawa sebuah kantung plastik. Kantung plastik itu berbeda dengan kantung plastik yang berisi boneka itu. Dikemanakan hadiah untuk Tomo itu?

Ia perlahan menghampirinya dan menepuk bahu temannya itu. Otoya berbalik, dan ia tak bisa melihat raut wajah bahagia Otoya saat itu. Otoya terlihat sangat sedih tapi seperti berusaha menutupi itu darinya dan mencoba memalsukan senyumannya. Tetapi ia tahu bagaimana senyum bahagia sang pangeran itu, dan saat ini, ia tau itu bukanlah senyum bahagianya.

"A-ah Tokiya sudah membeli hadiahnya? Aku juga sudah! Bagaimana kalau kita langsung pulang saja?"

"Tentu. Tapi kemana hadiah untuk Shibuya-san?"

"Itu..." Otoya terlihat menunduk dan tak berani melihatnya "...Aku membuangnya." Seketika ia sangat kaget,tapi ia tak mau memperlihatkan ekspresinya itu dan berusaha tenang.

"Kenapa?"

"...Bisa kita bicarakan di perjalanan saja?"

Ia hanya mengangguk perlahan dan mengikuti Otoya menuju tempat supirnya memarkir limosin miliknya. Ia bisa merasakan kalau sesuatu terjadi diantara Otoya dan Tomo saat ia dan Otoya berpisah mencari hadiah untuk ditukar esok hari.

Di dalam limosin mewahnya ia dan Otoya tidak mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit. Ia yang diam-diam memperhatikan Otoya yang berwajah muram akhirnya berbicara.

"Jadi ada apa?"

Otoya terlihat sedikit tersontak dan sedikit menundukan wajahnya lagi. Setelah beberapa lama akhirnya sang pangeran berambut merah itu berbicara.

"Aku dan Tomo sudah putus. Aku melihatnya, melihatnya bersama pria lain di suatu toko tadi. Aku menghampirinya dan menanyakan semuanya, awalnya ia mengelak, tapi akhirnya memang benar." Ia melihat Otoya mengigit bibir bawahnya seperti menahan agar ia tak menangis. "Pria yang sedang bersamanya itu memang bukan pacarnya, ternyata ia tunangannya. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menjauh dan membuang hadiahku untuknya."

Ia cukup kaget mendengarnya. Ia tak percaya orang seperti Tomo bisa mempermainkan hati orang lain seperti itu, dan orang itu adalah Otoya. Ia mendengar isakan pelan dari Otoya.

"Kalau kau mau menangis, menangis lah. Tak akan kuberitahu yang lain kau menangis."

Otoya yang awalnya duduk agak jauh dengannya menjadi mendekatinya. Ia kemudian mengusap kepala pangeran rambut merah itu. Ntah mengapa tiba-tiba Otoya menarik kausnya dan seketika memendam wajahnya didadanya. Menangis. Ia agak terkejut melihat perlakuan sang pangeran bahagia yang sedang sangat sedih itu. Ia mencoba menenangkan Otoya dengan terus mengusap kepalanya agar ia tenang. Otoya menangis cukup lama tapi lama kelamaan ia tak mendengar isakannya lagi sekarang. Ya, sepertinya Otoya tertidur.

Ntah mengapa ia merasa ada perasaan aneh. Ia merasa hatinya berdebar-debar saat sang pangeran ceria itu menarik tangannya. Ia merasa hatinya teriris melihat Otoya yang menangis daritadi. Saat ini Otoya tidur di dadanya, ia merasa senang dan hatinya berdegup dengan cepat. Mungkin, mungkin saja dirinya tidak sekedar menyukai Otoya, tapi ia sudah mencintainya.

TBC!

Review? :3