.

nah.. ini chapter 3 nya..

semoga kalian menyukainya.. -"


A New Manager?

Desclaimer: Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata.. punya saya cuman OCnya.. _ _"

.

.

.

.

.

enjoy!


Esoknya, Riku berangkat ke Universitasnya sambil berlari.

Lalu, di tengah jalan, Riku sempat bertemu dengan Alice yang sedang keluar dari apartemennya.

'Ini apartemennya.. Jadi, ia tinggal sendiri? Wanita yang mandiri sekali..' pikir Riku begitu ia melihat Alice berjalan pergi dari situ.

Riku berhenti sebentar dan menyapanya.

"Alice!"

Alice sadar ada yang memanggilnya, lalu menengok ke asal suara itu.

"Ah! Riku!".

"Hei, kau pergi menuju ke Universitas kan? Mau jalan bareng?" tanya Riku, berjalan ke arahnya.

"Benarkah? Kukira kau bakal ke sana dengan berlari..," kata Alice.

"Ngga juga.. Sudah, ayo! Kita harus cepat ke sana! Kalau ngga, nanti terlambat.."

"Hah... Ya, ya.." desah Alice.

Riku dan Alice pada akhirnya jalan bareng ke Universitas mereka.

Begitu sampai ke Universitasnya, mereka bertemu dengan Suzuna, Sena, dan Monta.

"Hai, Riku.. Oh, emm.. Hai, A-Alice..," sapa Sena yang gugup melihat ada Alice di samping Riku.

"Oh.. Hai juga, emm.. Sena, kan?" tanya Alice.

"I-Iya.., tau darimana? (kita kan belum sempat berkenalan)" tanya Sena yang sedikit terkejut begitu Alice tau namanya.

"Yah... Aku sih asal tebak saja..," jawab Alice dengan tatapan malasnya.

"YAA~! Hai semuanya! Oh, kau anak baru di kelas Rikkun, ya? Kenalkan namaku Suzuna..," sapa Suzuna dengan bahagianya.

"Ah.. Hai, Suzuna.. Senang berkenalan denganmu.., Tu-Tunggu... Rikkun?" tanya Alice bingung.

"Yap! Itu nama panggilanku untuknya!" kata Suzuna bangga.

"Oh..., Rikkun ya..." kata Alice sambil melirik Riku dengan tatapan mengejek.

Riku hanya diam saja dengan tampang kesal.

"WAH! Jadi, ini anak baru yang dibicarakan itu, MAX!" teriak Monta.

"Ini, Mon-mon..," sela Suzuna.

"HEI! SEMBARANGAN MANGGIL! Namaku Monta.. Raimon Taro..," kata Monta yang mengalihkan pandangannya dari Suzuna ke Alice dengan tatapan gentleman yang penuh kenajongan.

"Ha-Hai... Monta...," sapa Alice dengan agak jijik.

"Tidak usah takut.. Dia bukan hewan..," bisik Riku.

"KUDENGAR KAU BICARA TENTANGKU, RIKU? APA AKU SALAH DENGAR?" tanya Monta dengan kerasnya sampai telinga mereka mau pecah semua.

"Ngga ada.. Kau memang salah dengar..," jawab Riku santai.

Monta yang mau menghajar Riku (tentunya ditahan Sena dan Suzuna sekuat mungkin) di hadang oleh suara bel masuk kelas.

"Sampai jumpa saat istirahat nanti ya, Al-chan!" kata Suzuna.

"Ya!" jawab Alice.

Alice berpikir sebentar.. 'Al-chan?'

"Alice? Ada apa? Ayo masuk!" kata Riku.

"Ah, iya.."

Pelajaran berlangsung begitu dosen masuk.

Seluruh murid ada yang memfokuskan diri untuk mendengar penjelasan dosen, dan ada yang pura-pura mendengar pelajaran (gambar, tidur, nyoret-nyoret meja).

Hari ini, Alice fokus pada pelajaran. Ia mencatat semua penjelasan yang dijelaskan sang dosen dengan rumit.

'Hah... Pelajaran ini sih.., sudah sering kubaca di rumah... Sering baca, males dengerin deh..,' pikir Alice begitu mendengar penjelasan dosen.

Alice memberhentikan mencatatnya dan menatap ke luar jendela, memangku dagunya dengan tangannya.

'Kalau gini sih.., kemampuanku ngga bisa diasah..,' pikir Alice kemudian.

Oh, ya? Ketahui dahulu rahasia seluruh dunia ini, lalu rahasiaku..

"Alice? Alice? Woi, Alice!"

Alice tersadar dari lamunannya. Wajahnya begitu banyak keringat. Ia mencari asal suara yang memanggil namanya tadi.

"Emm... Riku?" tanya Alice kepada teman sebelahnya.

"Iya! Kau kenapa? Sakit? Kau berkeringat lho..," kata Riku menghadap ke belakang.

"Ng? Ngga kok.. Cuma panas aja di sini..," jawab Alice, berpura-pura mengipaskan dirinya dengan tangannya.

Begitu Riku menghadap ke depan kembali, Alice memegang kepalanya yang pusing tiba-tiba.

RING! RING!

"Be-Bel? Bel istirahat? Cepat sekali..," tanya Alice tidak percaya.

"Hei.. Apanya yang cepat? Tadi tuh lama banget tau..," protes Riku.

"Kau kenapa, Alice? Sakit?" tanya Sena yang melihat kondisi Alice.

"Ngga kok.. Mungkin aku tadi setengah tertidur.." jawab Alice.

Riku hanya menatapnya dengan tatapan yang mengatakan 'aku-sangat-tidak-percaya' sedangkan Sena menatapnya cemas.

"Sudahlah.. Sekarang istirahat kan? Gunakan waktu ini untuk istirahat! Time is Money, tau!" teriak Alice.

"Iya, iya.. Terburu-buru sekali, Al..," kata Riku dengan malasnya.

"Hei, aku sudah janji untuk bertemu Suzuna.. Janji teman harus ditepati..," jawab Alice sambil mendorong Riku dan Sena.

"Ta-Tapi, kan ka-kalian baru kenalan sebentar..," kata Sena.

"Sudahlah!"


"Hai, Al-chan..," sapa Suzuna sambil melambaikan tangannya.

"Hai..," sapa Alice dengan murung.

"Eh.. Alice? Ke-Kenapa dia?" tanya Suzuna pada Riku.

"Tau tuh.. Dari tadi juga begitu..," jawab Riku seakan (seakan lho, ya..) tidak peduli.

"Wah.. kejam.." kata Monta.

"Apaan sih?" protes Riku.

"Sudahlah.. Alice, kau sakit?" tanya Suzuna.

"Ngga.. Cuma.. Banyak pikiran aja..," jawab Alice sambil berusaha tersenyum.

"Oh.. Baiklah. Sebenarnya aku pengen bicara denganmu berdua saja, Al-chan.." kata Suzuna.

"Tentang ap-"

"Tentang apa?" sela Riku dan Monta yang pengen tau. Sena dan Alice hanya sweatdrop _ _".

"Sekalian saja deh, ngasih tau kalian bertiga..," kata Suzuna menunjuk Riku, Sena, dan Monta.

"Tentang apa, Suzu?" tanya Alice.

"Kau mau masuk klub apa?" tanya Suzuna yang mengabaikan pertanyaan Alice.

"Klub? Entahlah.. Tak terpikiran olehku..," jawab Alice.

"Bagaimana kalau klub Amefuto kami?"

"Amefuto kalian? Tapi, jadi apa?"

"Cheerlader?"

"Nnngg... Ngga," jawab Alice sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Suzuna.

"Karena pakaiannya terlalu feminin..," jawab Alice dengan tatapan yang benci pakaian feminin.

"O-Oh.. karena itu.." kata Suzuna sweatdrop bersama yang lainnya.

Suzuna memutar pikirannya.

"Bagaimana kalau jadi manager kami?" tanya Suzuna.

"Apa?" tanya Alice dan Riku (yang mendengarnya) tidak percaya.

"Mau jadi manager kami, ngga?" kata Suzuna mengulangi pertanyaannya.

"Yah.. Kalau itu si-"

"Kok gitu? Ngga adil dong kalo langsung gini..," protes Riku.

"Lho? Kok jadi kau yang protes?" tanya Alice.

"Terserahku dong.. Aku kan anggota Amefuto sini..," jawab Riku.

Alice menginjak kaki Riku sekuat mungkin.

"Aww!" teriak Riku.

"Kuterima, Suzu. Sepertinya, aku bisa menjadi manager kalian..," kata Alice tersenyum.

Riku yang masih kesakitan, mendapat tatapan 'rasa'in!' dari Alice.

"Benarkah, Al-chan?" teriak Suzuna tidak percaya.

"Benar-"

RING! RING!

"Yah.. Pas banget sama bel masuknya.. Sampai ketemu lagi, Al-chan..," kata Suzu melambaikan tangannya.

"Ya! Bye!" jawab Alice.

"Hei.. Kok mau banget sih jadi manager amefuto sini?" tanya Riku.

"Kan sesuai dengan kemampuan-"

Karena kau penerusku..

"Hello? Alice? Woi!"

Alice tersadar dari pemikirannya.

"Enng? A-apa?"

"Apa, apa.. Sudah masuk, berdiri di situ.. Ayo masuk! Kalo ketahuan rasa'in, lho..," kata Riku.

"Kejam banget sih!" teriak Alice lalu masuk ke dalam kelas.


Pulangnya, Alice dengan hati-hati, berusaha lari dari Suzuna. Ia ingin pergi ke suatu tempat dahulu.

"Alice?" panggil seseorang.

Alice menengok.

"Riku? Apa yang kau lakukan di gerbang?" tanya Alice.

"Kau bodoh ya? Mau pulang lah!" kata Riku.

"Oh.."

Alice lalu pergi dari situ ke arah yang bersebrangan dengan jalan menuju apartemennya.

"Hei, kau mau kemana?" tanya Riku.

"Eh..emm.. Mau ke.. Entahlah..," jawab Alice yang menyerah mau ngomong apa.

"Lebih baik aku ikut denganmu.. Sepertinya kau pergi ke tempat yang menarik..," kata Riku.

"Baiklah.. Tapi jangan tertawa ya.."

Alice dan Riku pergi ke sebuah tempat dimana tempat itu kosong, tapi rapi seperti taman. Di tengahnya ada air mancur bundar yang tidak berfungsi lagi.

"Riku, kau punya koin 5 yen?" tanya Alice.

"Ada.. ini..," jawab Riku sambil menyerahkan koinnya.

Alice menerimanya dan berlari ke tempat mesin boneka Alice in Wonderland. Ada Alice, Mad Hatter, dan White Rabbit di dalamnya.

"Ini kan... Alice in Wonderland..," kata Riku.

"Ya.." jawab Alice sambil terus menatapnya mesin itu.

"Apa namamu diambil dari nama tokoh cerita ini?" tanya Riku.

"Ya.."

Riku ikut menonton mesin boneka itu.

"Hei, sudah waktunya pulang..," kata Riku.

"Ba-baik.. Tunggu sebentar.."

Lalu, Alice melihat seseorang di dekat air mancur bundar itu.

A...lice...

"Eh?"

Alice menengok ke belakangnya, tapi tidak ada siapa-siapa.

"Alice? Ayo.." panggil Riku.

"Ah. Iya!"

Alice pulang dengan Riku dengan penuh pikiran dari masa lalu dan bisikannya.

.

.


A/N: haha..maap ya kalo ini mirip sesuatu.. kalo tau ini mirip cerita apa, ga usah kasih tau.. hehe. yang dikasih tau apanya aja yg kurang, okehh?

hohee..

Review ya?