The Liar
.
..
…
Flashback…
Hari menunjukkan pukul enam sore, hari sudah mulai gelap dan orang itu berjalan sambil menyanyikan sebuah lagu bernada ceria,dan senyum kini terkembang di wajahnya. Hari ini dia seperti biasanya, T-shirt berwarna putih bergambar kartun Bart Simpsons yang di padukan dengan celana camouflage panjang. Siapapun yang melihatnya pasti tidak menyangka kalau dia adalah seorang perempuan karena potongan rambutnya yang mengikuti trend laki-laki sekarang.
Amber berjalan dengan riang dan menuju ke suatu toko langganannya.
.
"Jiejie, kue yang ku pesan sudah siap?"
"Oh, sudah. Kue cokelat kan?" Amber mengangguk dengan senang.
Perempuan itu langsung mengambil kue yang berukuran sedang itu dan menaruhnya ke dalam box. Perempuan itu memberikan kue itu kepada Amber.
"Xie xie jiejie" Amber menatap kue yang ada ditangannya dengan tatapan yang berbinar-binar. Perempuan yang melihat ekspresi Amber kemudian tersenyum jahil.
"Huang Zi Tao…Siapa dia? Kekasihmu mu?" Goda perempuan pemilik toko kue tersebut.
"Ti-tidak!... Dia teman baikku, hari ini dia berulang tahun."
"Dan itu adalah hadiah darimu untuknya?"
"Ya~ Dia suka sekali dengan kue cokelat buatan jiejie , dia bilang rasanya sangat fantastic!" Puji Amber
"Wah! Benarkah? Aku senang jika dia menyukainya." Senyum perempuan itu.
"Hmm, Kalau begitu, aku mengucapkan selamat ulang tahun untuknya semoga dia bahagia di ulang tahunnya yang kali ini." Lanjut pemilik toko itu.
"Xie xie jiejie, dia pasti senang sekali, aku akan menyampaikan pesanmu padanya. Oh iya aku sedang buru-buru. Aku pergi dulu ya jiejie. Bye…!" Amber pun pergi dari toko kue mungil yang lumayan banyak pengunjungnya itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun teman baiknya Amber, Tao. Sudah menjadi ritual mereka untuk memberi hadiah atau kue di saat ulang tahun mereka. Walaupun sebenarnya masing-masing dari mereka tidak mengiginkan apapun di hari ulang tahun. Amber tahu jika Tao sangat menyukai kue cokelat buatan toko kue langganan Amber. Setiap kali Amber ke sana, Tao pasti selalu memesan kue cokelat di toko langganan Amber itu.
Amber adalah teman baik Tao saat dia memutuskan 'persahabatannya' dengan Kris. Sebulan setelah hancurnya hubungan mereka, Kris pergi dari Cina. Saat itu mereka tidak tahu Kris pindah kemana, Tao tidak memperdulikan hal tersebut tapi Amber sangat ingin tahu kemana Kris pergi. Pernah saat itu Amber bertanya kepada Tao tentang persahabatan mereka yang telah hancur itu. Tetapi Tao hanya diam tidak mau membahas soal itu. Maka sampai saat ini, Amber tidak mau membicarakan tentang Kris di hadapan Tao, dia tidak ingin Tao marah padanya. Dan sampai saat ini Amber tidak tahu apa permasalahan mereka.
Kini Amber sudah berada di depan rumah besar milik keluarga Tao. Amber menekan bel rumahnya, tetapi masih tidak ada yang membuka pintu. Amber memencet kembali bel rumah itu berulang-ulang kali, tapi pintu masih tertutup. Menyerah, Amber pun mencoba membuka pintu itu.
"Eh, tidak dikunci." Tanpa ragu, Amber memasuki rumah Tao. Keadaan rumah Tao sepi, biasanya para maid tersebar di hampir seluruh ruangan untuk melakukan pekerjaan mereka. Tapi sepertinya para maid sudah pulang ke rumah mereka.
"Tao! Kau ada di sini?!" Tapi teriakan Amber tidak mendapat sahutan dari nama yang dipanggil Amber. Amber pun menaiki tangga untuk menuju ke kamar Tao.
"Kenapa pagar di luar terbuka begitu saja?! Bahkan pintu rumah pun tidak terkunci! Bagaimana jika ada pencuri yang masuk!" Amber tidak berhenti mengomel dengan suara yang keras saat berjalan menuju kamar Tao, dia berharap Tao mendengar omelannya di malam hari.
"Tao aku- YA AMPUN! APA YANG TERJADI!" Bagaimana mungkin Amber tidak terkejut. Tao tertidur di lantai sambil memegang botol soju di tangan kanannya. Ada banyak botol soju yang bertebaran di lantai kamar Tao.
"Tao! Tao! Bangun! Apa yang kau lakukan! Ha!" Teriak Amber sambil mengunjang-gunjang tubuh Tao.
"Oh hai hik! Amber hik! Kenapa hik! kau datang hik! kemari?" Tao sudah mabuk berat
"Ya tuhan..! Ada apa dengan mu ha?! Kenapa kau mabuk seperti ini?!" Marah Amber. Amber terkejut saat melihat keadaan Tao. Amber belum pernah melihat Tao meminum minuman keras selama ini.
"Me- Hik! Mangnya kenapa? Hik!"
"Haish! Kau ini benar-benar!" Tanpa mendengar amarah Amber, dengan santainya Tao mulai meneguk kembali minuman soju itu.
"Ya! Hentikan!" Amber menarik botol soju itu hingga terlepas dari tangan Tao. Tao pun melirik Amber marah.
"Ah Kenapaaa! hik! Kau ambil hik! Botol Soju ku!"
"Sadarlah! Ada apa dengan mu kenapa bisa begini!" Teriak Amber di depan wajah Tao yang sudah memerah karena mabuk.
"Aku~.~. Jadi begini hik! Karena hik! Mereka hik! Bajingan! Hik!... Hoek!" Tao menutup mulutnya cepat. Sepertinya akan ada yang keluar dari perutnya.
"Ya! Haish! Kau menyusahkan saja!" Amber mulai membantu Tao berdiri dan berjalan ke arah toilet.
.
"Hoek!… Hoek!" Tao sibuk muntah di dalam toilet, Amber mengelus bagian belakang leher Tao. Amber menatap gerah ke arah Tao yang masih mengeluarkan isi perutnya. Setelah selesai urasan Tao di toilet, Amber membopong tubuh Tao untuk tidur di kasurnya. Setelah berhasil membaringkan tubuh Tao, Amber menarik selimut untuk Tao dan mengambil beberapa botol soju yang telah kosong untuk di buang.
Hari ini Amber akan tidur di rumah Tao, Amber tidur di kamar yang terletak di sebelah kamar Tao. Dia tidak mungkin membiarkan Tao sendirian di rumahnya dengan keadaannya yang sangat kacau. Kue yang niatnya akan Amber berikan kepada Tao, sekarang dia taruh di dalam kulkas. Dia akan memberikan kue itu sampai pagi menjelang.
.
.
"Ehm… Akh!" Pemuda panda berambut hitam legam itu meringis kesakitan di kepalanya saat mencoba bangun dari tidurnya.
'cklek'
"Oh, kau sudah bangun." Amber membawa nampan di tangannya. Lalu dia menaruh nampan itu di meja dekat kasur Tao.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Puh! Bagaimana bisa aku ada di sini? Tentu saja ini gara-gara kau! Kemarin kau menghabiskan beberapa botol soju hingga kau tepar dan menjadi seperti orang gila!" Amber memarahi Tao yang masih bingung dengan keadaannya kini.
"Aku mabuk?" Tanya Tao polos. Dan Amber menghela napasnya mencoba bersabar.
"Ada masalah apa hingga kau mabuk-mabukan tadi malam?"
"Aku tidak mempunyai masalah apa-apa." Serak Tao.
"Jangan membohongiku, aku tahu kau dalam masalah."
"Sudah kubilang aku tidak mempunyai masalah apa-apa!"
"Jangan membohongiku Huang Zi Tao! Ceritakan masalahmu aku akan menjadi pendengar yang baik!" Amber mulai kesal dengan sikap Tao yang masih keras kepala.
Tao yang sedari tadi mencoba mengelak akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Bahu nya bergetar hebat dan air mata mulai mengalir di pipinya.
"He-hei, kenapa kau menangis?" Amber kelabakan saat melihat Tao yang menangis.
"Se-selama ini hiks… Mereka membohongiku hiks, mereka mencoba memberi kesan baik di depan ku hiks… Aku membenci mereka… Aku sungguh membenci mereka hiks…" Amber mulai memeluk Tao dan mengelus pelan punggung Tao, mencoba menenangkan Tao.
"Menangislah sepuasnya hingga kau merasa lebih baik. Setelah itu ceritakan padaku."
Setelah Tao tenang, dia menceritakan masalahnya kepada Amber. Setelah itu Amber membulatkan matanya. Ternyata ini tentang masalah kedua orang tua Tao yang telah resmi bercerai kemarin siang. Amber sulit mempercayainya, selama ini dia selalu melihat orang tua Tao yang selalu romantis setiap hari. Dan ternyata… Itu semua hanya tipuan.
"Bahkan aku mendengar mereka saling beradu mulut saat pagi itu. Aku juga melihat papa yang menampar kuat pipi mama hingga mama terjatuh." Air mata kini menumpuk lagi di mata Tao.
"Dan kau tahu apalagi yang menarik dari semua itu?" Amber menggeleng pelan.
"Aku anak haram." Amber kembali membulatkan matanya kaget.
"Mereka bilang aku adalah anak di luar pernikahan mereka hingga mereka merasa malu dengan semua cemooh orang lain. Selama ini mereka selalu berakting menjadi suami istri yang mesra itu karena aku! Karena aku mereka terikat dalam hubungan tanpa ada rasa cinta itu semua karena aku! Hiks! Pantas saja aku sering mendengar pembicaraan orang lain tentang aku yang lahir dari hasil hubungan gelap mereka. Mereka bilang aku tak usah mendengar ucapan orang lain, dan aku mengiyakannya. Dan ternyata ucapan orang lain itu benar hiks." Tao menangis.
"Setelah itu mereka bercerai tepat di hari ulang tahunku. Haha! Hadiah 'terbaik' yang mereka berikan kepadaku di tahun ini.." Tao menatap kosong ke arah depan. Miris sekali.
Wajar jika Tao benar-benar merasa sedih dan kecewa dengan orang tuanya. Tao adalah anak tunggal dan sudah pastinya dialah yang paling disayangi. Bahkan Tao tak segan untuk bermanja-manja dengan kedua orang tuanya walaupun dia sudah sebesar ini. Dengan perceraian kedua orang tuanya ini, pasti telah menjadi pukulan telak bagi Tao.
Setelah mendengar cerita Tao, Amber hanya diam membisu. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia hanya sibuk mengelus punggung Tao mencoba memberikan ketenangan kepada Tao. Merasa Tao telah kembali tenang, Amber mengambil segelas susu hangat dan memberikannya kepada Tao.
"Minumlah, aku juga membuatkan sandwich untuk mu… Oh iya! Bagaimana aku bisa lupa!" Dengan terburu-buru, Amber keluar dari kamar Tao. Tao hanya menatap bingung kepergian Amber dari kamarnya, kemudian Tao mulai meneguk segelas susu hangat buatan temannya itu.
.
.
"Happy birthday to you… Happy birthday to you… Happy birthday happy birthday happy birthday to you."
Tao sedikit terkejut saat melihat Amber yang membawa kue sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Tao tersenyum dengan matanya yang masih menyiratkan kesedihan.
"Selamat ulang tahun teman ku, make a wish." Perintah Amber untuk menyuruh Tao meniup lilin kecil yang ada di sekitar kue cokelat itu. Kemudian Tao menautkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya dan mengucapkan harapan dalam hati. Setelah itu Tao meniup lilin kecil itu. Kemudian Tao memberikan senyumannya kepada Amber.
"Aku kira kau melupakan hari ulang tahunku."
"Mana mungkin aku melupakannya. Ayo! Cepat potong kuenya!" Tao mulai memotong kue itu.
"Apa harapan mu?" Tanya Amber penasaran, mencoba membuat Tao tidak merasa sedih lagi.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Ya, kau pelit sekali." Cemberut Amber. Tetapi Tao tidak peduli dan masih memotong kuenya.
"Apapun harapan mu itu. Aku akan berdoa agar harapan mu itu cepat terkabul."
"Xie-xie." Amber hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Oh iya, pemilik toko kue mengcapkan selamat ulang tahun untukmu."
"Kalau begitu bilang aku terimakasih kepadanya." Amber mengangguk. Kemudia dia berdiri dan segera pamit pulang.
"Maaf Tao, aku harus cepat pulang. Tadi malam aku lupa membawa ponselku, jadi aku belum memberitahu adikku jika aku menginap di rumahmu semalam."
"Tapi kau belum makan kue nya."
"Itu kan kue mu. Jadi makanlah. Jika kau dalam masalah, panggil aku. Aku akan membantumu. Aku pulang dulu ya, bye~" Amber keluar dari kamar Tao dan meninggalkan Tao yang memandang kue ulang tahun dari Amber untuknya.
Tao tertawa kecil saat melihat tulisan dan gambar di kuenya tersebut. Kue itu di beri tulisan 'Happy Birthday' di bagian atasnya, 'Kung Fu Panda Tao' di bagian bawahnya dan gambar panda di bagian depannya. Tao mulai memotong kuenya dan memakan kue lezat itu. Tetapi Tao berhenti memakan habis sepotong kue itu. Kue itu terasa pahit di lidahnya. Dan Tao kembali mengingat harapannya di hari ulang tahunnya..
.
"Tuhan.. Kenapa begini? Rasanya ingin mati saja. Bolehkah aku menemui secepatnya?"
.
End Flasback…
.
.
.
"Sekarang Tao tinggal bersama ibunya. Dan semenjak perceraian itu, Tao menjadi pendiam dan jarang berada di dalam rumah, mungkin dia tidak mau melihat ibunya lagi." Cerita Amber sedih. Kris yang mendengar cerita Amber tentang Tao membuatnya sedikit iba. Dan Kris masih setia mendengar cerita Amber.
"Dan kau tahu apa yang membuatnya benar-benar berubah?" Amber menatap mata tajam Kris. Lalu Kris menggelengkan kepalanya.
"Saat ini Tao sudah memiliki kekasih." Kris sedikit terkejut mendengarnya. Dan entah kenapa Kris benar-benar tidak menyukai berita yang satu ini.
"Kekasih nya yang brengsek itu benar-benar mengubah Tao menjadi pribadi yang buruk!" Geram Amber.
"Sejak Tao menjalin hubungan dengannya. Sekarang dia menjadi sangat liar! Minuman keras, narkoba dan seks bebas rajin mereka lakukan." Kris membulatkan matanya. Tak menyangka jika 'mantan sahabat' nya itu telah berubah menjadi 'liar' seperti saat ini. Dan kini terlihat jelas kilatan marah di mata Amber.
"Jika aku berjumpa dengan kekasih nya itu aku tak akan segan-segan untuk membunuhnya dengan tangan ku sendiri! Dia bukan manusia! Tetapi iblis!" Amber tidak bisa menahan air matanya. Dengan cepat Amber mengusap kasar wajahnya.
"Kau tahu siapa kekasihnya?" Lagi lagi Kris menggeleng.
"Kau ingat dengan anak baru di kelas kita saat kita duduk di kelas yang sama?"
Kris mencoba mengingat anak itu. Dan Kris kembali membulatkan matanya, dia ingat dengan anak itu.
"Ya, aku mengingatnya. Dia pindahan dari Korea.
"Ya,kau benar. Kau masih ingat dengan namanya?"
Kris berpikir keras mencoba mengingat nama itu. Dan pada akhirnya Kris menyerah. Kris benar-benar lupa dengan nama anak itu.
.
.
.
"Park Chanyeol. Dia yang mengubah Tao menjadi jahat seperti sekarang.
.
.
.
TOBECONTINUE
.
HAHAHA! Kependekan lagi ya? Sorry chingu, Cuma ini yang bisa ku ketik. Maafkan aku readers tercinta! 'bow'
Oh iya, gimana puasanya? Masih kuat dong…! Baru juga setengah hari :v
Sebenarnya aku mau ngarahkan fanfic ini ke rated M. Tapi karena aku masih ingat kalau ini masih bulan puasa dan umurku yang belum mencapai standar kedewasaan #sokpolos Buat aku gak jadi deh… :v
Udah ah! Aku rasa fanfic ini aman-aman aja di baca di bulan puasa, gak bakal batalin puasa, palingan ada sedikit dosa :v
Yo wis lah, pokoke ojo lali review yo chingu. Sorry kalo gak bisa balas review kalian. Tapi aku sangat menghargai review yang kalian berikan! Gomawo!
Pliss Review Miuw~_~
