Title : Lost Memory Machine
Rated : K+
Disclaimer: Kuroko no Basuke ©Fujimaki Tadatoshi
Percy Jackson & Olympians : The Lightning Thief ©Rick Riordan
Kagerou Project ©Jin / Shinzen no Teki-P
Lost Memory Machine ©Kanzanaki Haseo
Genre : Tragedy,Adventure,Friendship,Romance,Supernatural
WARNING : TYPPO,OOC,GAJE,EYD TIDAK SESUAI
Reader P.O.V
"Siapa?" dia menatapku kosong.
"Guru pembimbing satu lagi,Azami-sensei." Ucapku
Dia mengerutkan kening dan tampak sedikit cemas.
"[family name/last name],dalam karya wisata ini tidak ada Azami-sensei. Sepanjang pengetahuan sensei,di Asrama Teiko belum pernah ada guru bernama Azami. Kau baik-baik saja?"
Jadi tadi itu siapa?
Aku menghampiri Hanamiya,yang tadi bajunya basah kuyup sekarang menjadi agak kering.
"Kau lihat Azami-sensei kemana?" tanyaku
Dia hanya memutar bola matanya dan pergi.
Kemudian aku menghampiri Aomine
"Hei! Kau lihat Azami-sensei kemana?" tanyaku lagi
"Siapa?" tanya Aomine balik
Tapi,sebelum dia bertanya balik dia sempat terdiam. Dan tak mau memandangku.
"Azami-sensei. Itu lho guru pembimbing yang satu lagi!" jawabku
"Hah? Disini gak ada yang namanya Azami-sensei. Mungkin maksudmu Ayano-sensei kali?" ucapnya
Siapa Ayano-sensei? Apakah dia sedang bercanda?
"Gak lucu ah,ini serius." Ucapku
"Aku juga serius,kau ini kenapa?"
Jadi sebenarnya gak ada yang namanya Azami-sensei? Jadi yang tadi siapa?
Mungkin aku harus melupakannya saja.
==SKIP TIME==
[Dua minggu sesudah kunjungan dari museum]
Aku sudah mulai terbiasa dengan pengalaman aneh yang kadang-kadang terjadi,tetapi biasanya pengalaman itu cepat berlalu. Sebetulnya aku masih memikirkan tentang Azami-sensei yang hilang tanpa jejak dan digantikan dengan Ayano-sensei. Murid-murid yakin sepenuhnya bahwa Azami-sensei tidak ada,dan hanya ada Ayano-sensei. Seorang wanita bersurai coklat,selalu memakai syal merah,yang belum pernah kulihat seumur hidupku.
Sesekali aku menanyakan tentang Azami-sensei,mereka hanya menatapku dengan tatapan seolah-olah aku gila.
Keadaan menjadi aneh sedemikian rupa,sampai-sampai aku hampir memercayai mereka bahwa Azami-sensei memang tak pernah ada,ingat hampir
Tetapi,Aomine tidak bisa mengelabuiku. Kalau aku menyinggung nama Azami-sensei kepadanya,dia tampak ragu,lalu menyatakan bahwa Azami-sensei itu tidak pernah ada. Namun, aku tahu dia berbohong.
Aku tak punya banyak waktu untuk memikirkannya pada siang hari. Namun,pada malam hari, bayangan Azami-sensei yang ber-rambut ular,matanya agak merah menyala,terlihat sedikit sisik di kelua pipinya sering membuatku terbangun dengan keringat dingin.
Cuaca aneh sama sekali tidak meringankan suasana hatiku. Suatu malam,badai Guntur mengempaskan jendela-jendela kamar asrama hingga terbuka. Beberapa hari kemudian,angin puting beliung terbesar yang pernah terlihat di Lembah Hudson(lembah deket asrama) turun disuatu tempat yang hanya berjarak delapan puluh kilometer dari Asrama Teiko. Salah satu peristiwa aktual yang pelajari di kelas ilmu sosial adalah betapa banyaknya pesawat kecil yang jatuh tahun itu akibat hujan badai meledak di Samudra Atlantik.
Aku mulai kesal dan gampang marah hampir sepanjang waktu. Nilai pelajaranku melorot dari B menjadi F,Aku semakin sering berkelahi dengan Hanamiya (tentu saja saat istirahat,dan tidak diketahui oleh guru),dan aku disetrap berdiri di luar kelas hampir pada setiap jam pelajaran.
Akhirnya,ketika guru bahasa inggris kami,Nicoll-sensei bertanya kepadaku kesejuta kalinya,mengapa aku terlalu malas belajar untuk ulangan mengeja.
Aku meledak.
Kusebut dia "pemabuk tua Bangka". Aku bahkan tidak tahu apa arti kata-kata itu,tapi kedengarannya bagus.
Kepala asrama mengirimkan surat kepada ibu pekan berikutnya,pesan itu berisikan tentang 'Sehabis ujian nanti,aku dikeluarkan'.
Bagus,4 kali dikeluarkan.
Biarlah,aku rindu rumahku. Aku ingn bersama-sama dengan ibuku di rumah kami di Upper East Side,mungkin habis ini aku akan belajar di sekolah negri dan menghadapi ayah tiriku yang menyebalkan.
Namun… pasti ada beberapa hal yang kurindukan dari Asrama Teiko. Pemandangan hutan dari jendela asramaku,Lemah Hudson dari kejauhan,aroma pohon pinus. Aku juga pasti merindukan Aomine.
Aku juga aka merindukan pelajaran bahasa latin dan sejarah yang diajarkan oleh Tateyama-sensei.
Sementara pekan ujian semakin dekat,bahasa latin dan sejarah adalah satu-satunya ujian yang membuatku belajar. Aku belum lupa perkataan Tateyama-sensei ,bahwa mata pelajaran ini adalah masalah hidup dan mati bagiku. Aku tak yakin kenapa,tetapi aku sudah mulai percaya kepadanya.
Malam sebelum ujian itu,aku merasa begitu frustasi,sampai-sampai kulemparkan buku Panduan Cambridge tentang Mitologi Yunani ke seberang kamar asrama. Huruf-huruf mulai berenang-renang keluar halaman,berputar-putar mengelilingi kepala.
Tak mungin aku bisa ingat perbedaan antara Chiron dan Charon,atau Polydictes dan Polydeuces. Dan menghafal konjugasi kata kerj latin? Lupakan saja
Aku mondar-mandir di kamar,aku ingat tatapan mata Tateyama-sensei dengan warna mata yang berubah menjadi merah sesaat… "Aku hanya menerima yang terbaik darimu [fullname]."
Aku menghela nafas dalam-dalam. Buku mitologi itu kuambil.
Aku belum pernah meminta tolong kepada guru. Mungkin kalau aku berbicara kepada Tateyama-sensei,dia mau memeriku petunjuk. Setidaknya aku bisa meminta maaf untuk nilai F yang akan kuperoleh untuk ujian ini. Aku tidak ingin menginggalkan Asrama Teiko sementara dia beranggapan aku tidak berusaha.
Aku menuruni tangga ke deretan kantor guru. Sebagian besar kosong dan gelap,tetapi pintu Tateyama-sensei terbuka,cahaya dari jendelanya memanjang melintasi lorong.
Aku berada tiga langkah dari gagang pintu ketika terdengara suara di dalam kantor. Tateyama-sensei mengajukan pertanyaan,dan terdengar suara Aomine menjawabnya.
"…..cemas soal [name],sensei." Ucap Aomine,lirih
Aku membeku.
Biasanya aku tak suka menguping,tapi bagaimana bisa aku berusaha untuk tidak menguping saat mendengat sahabatku membicarakan tentang diriku dengan seorang guru.
Aku beringsut-ingsut mendekat.
"….sendirian musim panas ini." Ucap Aomine
"Maksudku,ada Mahluk Baik di asrama ini! Karena sekarang kita sudahtau pasti,dan mereka juga tahu." Ucap Aomine lagi,membetulkan.
"Kita hanya akan memperburuk masalah kalau mendesak anak itu… Kita perlu membiarkan anak itu lebih dewasa." Ujar Tateyama-sensei.
"Tapi dia tak punya waktu lagi. Apa sensei lupa tenggat titik balik matahari musim panas?" Bantah Aomine.
"Harus ditanggulangi tanpa dia,Aomine. Biarkan dia menikmati ketidak tahuannya selagi masih bisa." Ucap Tateyama-sensei
"Tapi sensei,dia melihat mahluk itu." Ujar Aomine
"Khayalan saja,pasti kabut atas para siswa dan staf. Itu sudah cukup untuk meyakinkannya soal itu." Tateyama-sensei bersikeras
"Sensei,saya…. Saya tak bisa gagal dalam tugas lagi,sensei tahu apa artinya itu." Suara Aomine tersekat emosi.
"Kau tidak pernah gagal Aomine." Ucap Tateyama-sensei penuh simpati
"Semestinya saya menyadari apa sebenarnya Azami-sensei itu. Sekarang,kita berkonsentrasi saja soal menjaga [name] tetap hidup hingga musim gugur depan."
Buku mitologi itu terlepas dari tanganku dan jatuh bergedebuk(?) *dengan elitnya* ke lantai
Tateyama-sensei terdiam
Jantungku berdebar-debar. Kupungut buku itu dan mundur sepanjang lorong,dan bersembunyi.
Sebuah bayangan bergerak melintasi kaca bercahaya pada pintu kantor Tateyama-sensei,bayangan sesuatu yang jauh lebih tinggi dari pada guruku,sosok yang memegang seseuatu mirip dengan busur pemanah.
Aku membuka pintu terdekat dan menyelinap masuk.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi langkah kaki kemudian suatu sosok gelap yang besar berhenti di depan kaca,lalu terus berjalan.
Sebutir keringat menuruni leherku.
Di suatu tempat di lorong itu Tateyama-sensei berkata "Tak ada apa-apa,aku sering gugup sejak titik balik matahari musim dingin." Gumamnya
"Saya juga,tapi saya berani sumpah-" ucap Aomine
"Kembali lah ke kamarmu,besok akan ada ujian sepanjang hari." Potong Tateyama-sensei
"Itu sih tak perlu diingatkan." Ucap Aomine sambil berjalan pergi.
Lampu di kantor Tateyama-sensei padam.
Aku mengunggu dalam gelap….rasanya lama sekali.
Akhirnya,aku menyelinap ke lorong dan berjalan kembali ke kamar.
Aku tak mengerti apa yang kudengar tadi di kantor Tateyama-sensei. Rasanya aku ingin percaya bahwa semua itu hanya khayalanku saja.
Tapi,satu hal yang pasti : Aomine dan Tateyama-sensei membicarakanku diam-diam. Mereka berpendapat bahwa aku terancam suatu bahaya.
Keesokan sorenya,aku hendak keluar dari ruang ujian bahasa latin dan Tateyama-sensei memanggilku masuk lagi.
Aku sempat khawatir bahwa dia tahu aku menguping tadi malam,tetapi sepertinya masalahnya bukan itu.
"[name],jangan berkecil hati soal meninggalkan Asrama Teiko. Ini…. Ini jalan keluar terbaik." Ucapya.
Nadanya ramah,tetapi kata-kata itu tetap membuatku jengah. Meskipun dia berbicara lirih,anak-anak lain yang sedang menyelesaikan ujian bisa mendengar. Hanamiya tersenyum mengejek.
"Oke,sensei." Gumamku
"Maksudku… Tempat ini tidak cocok untukmu. Sebenarnya ini tinggal tunggu waktu." Ucapnya
Mataku pedih
Guru favoritku memberitahuku di depan kelas,bahwa aku tidak mampu menangani semua ini. Tapi waktu itu dia berkata dia yakin akan kemampuanku,sejarang dia bilang aku memang ditakdirkan dikeluarkan dari asrama ini.
"Benar." Kataku gemetar
"Bukan,bukan." Ujar Tateyama-sensei
"Oh,sial. Maksudku tadi… kau tidak normal [name]. Itu bukan hal yang-" ucap Tateyama-sensei
"Ya." Potongku
"Terima kasih banyak sensei, tolong ingat saya." Cetusku sambil berlari keluar
"[name]."
Tateyama-senseei memanggilku,tapi aku sudah keluar kelas.
==TIME SKIP==
[1 minggu setelah ujian]
Aku bersiap-siap,menjelalkan baju-bajuku ke dalam koper.
Anak-anak yang lain saling bercanda,membicarakan rencana liburan.
Mereka menanyakan apa kegiatanku pada musim panas ini, dan aku memberitahukan bahwa aku akan pulang ke kota.
Namun,aku tidak bercerita bahwa aku akan mengisi waktu luang dengan mencemaskan kemana aku akan bersekolah musim gugur nanti.
Mereka kembali mengobrol seolah-olah aku tak pernah ada.
Satu-satunya orang yang membuatku enggan mengucapkan selamat tinggal adalah Aomine,tetapi ternyata memang tak perlu. Dia memesan tiket bus Greyhound ke Manhattan yang sama denganku,jadi kamipun ke kota bersama-sama lagi.
Sepanjang perjalanan di bus,Aomine terus-menerus melirik gugup ke jendela lalu mengamati penumpang lain. Aku jadi teringat percakapannya dengan Tateyama-sensei waktu itu.
"Mencari mahluk baik?" tanyaku
"Apa- apa maksudmu? Aomine hampir terlompat dari kursinya
Aku mengaku menguping pembicaraan antara dia dan Tateyama-sensei pada malam sebelum ujian.
"Berapa banyak yang kau dengar?"mata Aomine berkedut
"Gak banyak kok,cuman mahluk baik dan tengat titik balik matahari musim panas. Apaan sih itu artinya? Aku gak ngerti." Jawabku
"[name] dengar… Aku cuma khawatir mengenaimu saja. Maksudku, berhalusinasi tentang guru pembimbing berambut ular." Ucapnya
"Aomine-" ucapku yang dipotong olehnya
"Dan aku bilang pada Tateyama-sensei,barang kali kau terlalu stres atau apa,karena gak ada orang yang namanya Azami-sensei dan-" ucap Aomine
"Aomine,kau benar-benar tak ahli berbohong." Ujarku
"Pokoknya ambil ini,oke? Kalau-kalau kau perlu aku di musim panas ini." Ucap Aomine sambil mengambil selembar kartu dari saku kemejanya.
Kartu itu bertulisan indah,sehingga dapat terbaca oleh mataku yang disleksia.
Aomine Daiki
Penjaga
Bukit Blasteran
Long Island, New York
(800) 009-00009
"Apaan tuh Bukit Blas—" ucapanku dipotong lagi olehnya
"Jangan dibaca keras-keras!" pekiknya
"Itu,eh… alamat liburanku." Jawab Aomine
"Oke,jadi misalnya kalau aku ingin bertamu ke istanamu-" ucap ku
"Atau kau perlu aku" ujar Aomine
"Untuk apa aku memerlukanmu?" tanyaku. Ucapan itu keluar dengan nada lebih kasar dari pada yang kuniatkan...
"Dengar [name],sebenarnya aku itu bertugas melindungimu."
TBC
Ini dia hasil voting sementara : *drum roll*
Akashi Seijuro : 9
Kuroko Tetsuya : 2
Aomine Daiki : 1
Kagami Taiga : 5
Mayuzumi Chihiro : 5
Himuro Tatsuya : 5
Kise Ryouta : 3
Midorima Shintaro : 1
yang Kagami sama Mayuzumi sama ya? TTwTT
berarti vote masih berlajan sampe chap 3 /slap
Review dah dibales lewat PM ya~
Mind to review?
Sampai jumpa di tragedy selanjutnya~
