Acceptance

Cast : Min Yoongi (BTS), Jung Hoseok (BTS), Min (Choi) Youngjae (GOT7) as Yoongi's son, etc.

Pair : Yoonseok (Seme!Yoongi, Uke!Hoseok)

Rate : T+ (bisa berubah sewaktu-waktu)

Warning : YAOI, Straight, Typo(s), OOC, Don't Like Don't Read

Disclaimer : The story plot belong to Hamosuga. I just translate it into Bahasa.

Note : Hai hai reader. Maaf baru update. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Dan maaf lagi kalau update selanjutnya akan memakan sedikit waktu. Karena, yah, aku akan sedikit sibuk di hari raya idul fitri. Untuk yang merayakannya, aku ucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H ya". Dan aku minta maaf atas segala kesalahanku baik yang disengaja maupun yang tidak.

p.s : ini akan jadi kumpulan oneshoot tentang keluarga kecil Yoonseok and little Youngjae.

p.s.s : pertama kalinya Youngjae memanggil Hoseok dengan sebutan 'Appa'.

Happy reading!

.

.

.

"Apa sekolah menyenangkan hari ini, Youngjae-ya?" Tanya Hoseok sambil menatap Youngjae dari kaca spion. Mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Youngjae. Hoseok menyelesaikan pekerjaannya di sekolah lebih cepat dari biasanya untuk mengantar anak itu pulang. Yoongi memberinya kunci cadangan setelah kencan pertama mereka dan pria sibuk itu tidak bisa menjemput Youngjae hari ini, jadi Hoseok mengantarnya.

"Yeah! Aku punya teman baru saat bermain di ayunan. Namanya Jackson dan dia berasal dari China. Dia sangat keren!" Kata Youngjae ceria. Anak laki-laki itu melanjutkan ocehannya sepanjang perjalanan. Ia berkata bahwa Jackson sedang mempelajari bahasa Korea dan ia membantunya mempraktekkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh teman barunya itu.

"Kau harus mengajaknya ke rumah, jadi kalian bisa bermain bersama." Ujar Hoseok ketika ia menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia menatap supermarket di dekat sana. "Apa kau ingin membuat makan malam spesial untuk Daddy-mu ketika dia pulang?"

Mata Youngjae membulat lucu, lalu ia mengangguk dengan semangat. Ia sangat suka mengejutkan ayahnya walaupun dengan hal kecil. "Apa Daddy akan mengijinkan Jackson main ke rumah, Hobi?"

"Tentu saja. Kalaupun Daddy tidak memperbolehkan, aku akan berbicara padanya untukmu. Tapi kurasa dia akan setuju." Hoseok tersenyum lebar karena ia tahu Yoongi tidak akan pernah bisa berkata 'tidak' pada anaknya.

Hoseok memarkirkan mobilnya di parkiran ketika mereka sampai di supermarket. Pria itu mengulurkan tangannya pada Youngjae yang dengan senang hati menggenggam tangan itu setelah mereka keluar dari mobil. Mereka berjalan bersama memasuki supermarket tersebut.

Hoseok membiarkan Youngjae yang membawa keranjang belanjaan mereka. Ia berpikir apa yang akan ia masak malam ini.

"Makanannya harus sehat karena Yoongi-hyung tidak makan seperti seharusnya saat ia sibuk bekerja." Gumam Hoseok pada diri sendiri. Ia mengernyitkan dahinya membayangkan Yoongi yang kelaparan dan kehabisan tenaga.

"Kita harus membuat makanan yang banyak sampai Daddy berkata kalau Daddy kenyang." Sambung Youngjae. Hoseok mengangguk setuju. Mereka memutuskan akan membuat sup berisi banyak sayuran dengan daging panggang. Mereka mengumpulkan seluruh bahan untuk membuat masakan tersebut. Hoseok membelikan beberapa snack untuk Youngjae. Setelah mereka selesai membayar, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Youngjae.

.

.

.

"Kau ingin melihat aku memasak?" Tanya Hoseok sambil mengeluarkan semua bahan makanan yang mereka beli. Pria manis itu segera mengangkat Youngjae dan mendudukkannya di meja counter setelah anak laki-laki tampan itu menganggukkan kepalanya.

"Aku boleh mencicipinya, 'kan?" Tanya Youngjae. Kakinya bergoyang-goyang ketika Hoseok mulai membersihkan semua sayuran.

Hoseok mendongak dan menatapnya dengan ragu-ragu. "Tentu saja. Kau adalah seorang profesional dalam bidang itu."

Youngjae terkikik geli mendengar perkataan Hoseok, membuat pria itu merasa sepluh kali lebih bahagia daripada ketika ia memulai harinya pagi ini.

"Ini. Bagaimana rasanya?" Hoseok menyuapkan masakannya pada Youngjae.

Anak enam tahun itu terlihat bingung untuk beberapa saat sebelum tersenyum dan mengangkat jempolnya. Membuat Hoseok menghembuskan nafas lega.

"Karena ahlinya sudah menyetujui, jadi tinggal beberapa tes lagi yang harus kulalui." Canda Hoseok.

Youngjae terpingkal-pingkal mendengarnya. "Kau bisa mendapatkan nilai A, Hobi."

"Apa kau tidak berlebihan, Youngjae-ya?"

"Aniya. Karena Hobi adalah seorang guru, kau selalu memberi nilai A. Jadi, jika kau gagal, kau harus memberi dirimu sendiri nilai A." Terang Youngjae, sedikit terasa logis jika Hoseok boleh jujur. Youngjae kembali melanjutkan ucapannya saat Hoseok menatapnya seperti sedang berpikir. "Lagipula, masakanmu yang terbaik. Dan juga lebih lezat dari masakan Daddy."

Mereka berdua terlarut dalam tawa. Membuat dapur apartemen itu terlihat semakin berwarna. Tak lama kemudian, Hoseok menyelesaikan masakannya. Ia menuangkan sup itu ke dua mangkuk—miliknya dan milik Youngjae, lalu menyisihkan sebuah porsi besar untuk Yoongi.

Youngjae bergumam 'enak' dengan wajah riangnya setiap menyendokkan sup buatan Hoseok ke dalam mulutnya. Hoseok tersenyum lebar melihat betapa bahagianya Youngjae saat ini. Setelah mereka selesai, Youngjae langsung pergi mandi, sedangkan Hoseok mencuci semua piring dan peralatan masak yang ia pakai tadi.

.

.

.

Hoseok dan Youngjae duduk berdampingan di sofa sambil menonton televisi.

"Ingin menonton acara apa, squirt?" Tanya Hoseok.

Youngjae tertawa dengan keras. "Jimin selalu memanggilku seperti itu."

Hoseok mengangguk menanggapinya.

"Ada acara televisi yang ingin sekali kutonton, tapi acara itu ditayangkan saat aku sudah tidur." Dan kemudian, Youngjae melakukan sesuatu yang pernah Yoongi katakan pada Hoseok. Anak itu menatap Hoseok dengan mata yang membulat dan berkaca-kaca, menatap Hoseok dengan puppy eyes andalannya. Bagaimana bisa Hoseok menolak mata menggemaskan itu?

"Baiklah, tapi jangan katakan ini pada Dad. Apalagi besok kau masih harus sekolah. Dan kalau kau sampai mengantuk di kelas besok, jangan bilang kalau aku tidak memperingatimu sebelumnya." Hoseok mengabulkan permintaan Youngjae. Masalah besok, lupakan dulu.

Belum sampai menonton acara favoritnya selama sepuluh menit, Youngjae sudah tertidur. Ia merapatkan tubuh mungilnya pada Hoseok. Membuat Hoseok bersyukur karena tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Youngjae di kelas besok. Dengan lembut, Hoseok menggendong anak itu ke kamarnya.

"Hobi?" Youngjae berkata ketika Hoseok membaringkannya di tempat tidur. Hoseok merespon dengan sebuah gumaman sambil merapikan poni anak itu. "Bisa kau menyelimutiku?"

"Tentu saja, kiddo." Hoseok menyelimuti tubuh Youngjae sampai ke dagu. Bahkan ia mengecup kening sang anak.

Youngjae tersenyum kecil. Matanya hanya terbuka setengah karena sudah sangat mengantuk. "Goodnight, Appa."

Hoseok membeku. Ia terdiam di tempatnya—dimana ia berjongkok di samping ranjang Youngjae—selama beberapa saat. Tapi, belum sempat ia merespon, Youngjae sudah membuka matanya kembali. Anak itu menatapnya seperti orang yang sudah melakukan kesalahan besar.

"Goodnight, Youngjae-ya. Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah, eoh?" Jawab Hoseok dengan cepat. Tidak ingin membuat Youngjae berpikir macam-macam.

Wajah Youngjae kembali berubah seperti sebelumnya. Ia mengangguk kecil dan menutup matanya. Bersiap memasuki alam bawah sadarnya.

.

.

.

Hoseok berusaha menenangkan dirinya sampai ia berada di kamar Yoongi. Matanya berair dan ia menahan isakannya. Tanpa sadar, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mendial nomor Yoongi. Tangannya gemetar karena terlalu erat menggenggam benda persegi itu.

"Hoseok-ah?" Yoongi menjawab panggilannya pada nada panggil ke-empat.

Hoseok bisa mendengar suara musik yang samar-samar sebagai backsound—mungkin itu suara musik yang sedang diproduksi oleh Yoongi dan Namjoon. Ia kembali sedikit terisak.

"Hoseok-ah? Kau baik-baik saja?"

"Mianhae, Hyung. Youngjae... dia..." Hoseok tidak tahu kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ini rasanya seperti semua emosi menyatu dalam tubuhnya dan dalam hitungan detik akan meledak.

"Mwo? Youngjae? Apa sesuatu terjadi padanya?" Yoongi terdengar lebih siaga sekarang. Nada suaranya terdengar penasaran dan sedikit naik.

"Hal itu terjadi dengan tiba-tiba... Bahkan aku tidak sempat bereaksi." Hoseok menghapus air mata di pipinya menggunakan lengan kemejanya. Ia bisa mendengar Yoongi berkata pada Namjoon jika ia harus pergi sekarang.

"Apa kau di rumah?"

Hoseok terdiam sebentar, mencoba mencerna pertanyaan Yoongi. Ia bergumam kemudian.

"Aku akan berada di sana secepat yang kubisa, Hoseok-ah. Tarik nafas dan tenangkan dirimu, eoh? Aku sudah di jalan."

Hoseok mengangguk, walaupun ia tahu Yoongi tidak dapat melihatnya. Sambungan telepon mati setelahnya. Hoseok berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Isak tangisnya sudah mereda begitu Yoongi memasuki apartemennya.

Pria itu terlihat pucat—meskipun kulitnya memang sudah pucat—dan ketakutan.

Hoseok menatapnya bingung sebelum menyadari apa yang telah ia katakan pada ayah Youngjae itu di telepon.

"bingung sebelum menyadari apa yang telah ia katakan pada ayah Youngjae itu di telepon.

"Dimana Youngjae?" Tanya Yoongi. Ia berjalan cepat ke arah Hoseok dan memegang kedua lengan kurus pria yang lebih muda darinya itu.

"Dia baik-baik saja dan sedang tidur sekarang. Maafkan aku, Hyung. Seharusnya aku mengatakan padamu kalau dia baik-baik saja dan semuanya jua baik-baik saja. Tapi..." Hoseok kembali terisak. Ia mengusap matanya untuk menghilangkan air mata yang kembali menggenang.

Yoongi menghela nafas lega, tapi tetap menatap Hoseok dengan khawatir. Ia tidak tahu apa yang membuat Hoseok menangis seperti ini. Jadi, ia menarik Hoseok ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan pria manis itu.

"What's wrong, Baby?" Tanya Yoongi pelan.

Hoseok sedikit tenang berada dalam pelukan hangat seorang Min Yoongi. "Youngjae... dia memanggilku Appa."

Yoongi terdiam sebelum melepaskan pelukannya untuk menatap Hoseok tepat di mata kelam pria itu. Ia tersenyum dari telinga kiri ke telinga kanan, menunjukkan deretan gigi-giginya dan juga gusinya.

"Itu yang membuatmu menangis? Kukira Youngjae kecelakaan atau menjadi korban tabrak-lari. Tapi ternyata dia memanggilmu Appa?" Yoongi tertawa. Tidak percaya pada apa yang membuat Hoseok sampai menangis sesenggukan seperti itu. "You're adorable, Jung Hoseok. Unbelievable, but adorable."

"Aku tahu, Hyung. Maaf menghubungimu saat kau harus bekerja. Mungkin ini bukan masalah penting dan aku juga tidak seharusnya menangis seperti ini, tapi dia—"

Yoongi memotong perkataannya dengan sebuah kecupan di bibir pink-nya.

"Ini sangat penting, Hoseok-ah. Dan kau berhak untuk menangis. Tahu kenapa?"

Hoseok mendongak untuk menatap Yoongi. Alisnya berkerut bingung.

"Itu artinya Youngjae menerimamu. Kau tahu apa maksudnya?" Yoongi berkata dengan suara lembutnya sambil menghapus jejak-jejak air mata di pipi chubby Hoseok. Ia kembali menunjukkan gummy smile-nya. Membuat Hoseok sedikit merona sambil tersenyum malu. Senyum pria manis itu melebar mendengar perkataan Yoongi selanjutnya.

"Selamat datang di keluarga kecil kami."

-END-

Thanks to :

nuruladi07 | Lee Shikuni | .39 | JirinHope | ayumKim | Rin-chan Park | gummysmiled | nn | sugasmile | anthi lee | Aita Hwang | riani98 | namseokbae | DeroyaDiv | DozhilaChika | Nyonya Jung

Maaf nggak sempat balas review satu persatu. Semoga kalian suka chapter ini.

Terima kasih untuk yang sudah baca, review, fav, dan follow fic ini. Sampai bertemu di chapter selanjutnya :)

With love,

Aiko