- Bunny -

.

.

.

.

.

Jungkook bersenandung riang. Langkahnya terlihat sangat ringan walaupun kedua lengannya sibuk memeluk kantong cokelat ukuran sedang yang hampir tidak muat menampung wortel-wortel segar yang baru saja ia beli di toko swalayan yang hanya berjarak dua blok dari tempat yang ia tuju.

Berat?

Tentu saja.

Tapi tidak masalah baginya, karena wortel-wortel itu akan ia berikan pada teman-teman kecil yang tidak akan pernah menghianatinya. Teman-temannya yang lucu dan berbulu tebal.

"Anyyeo--"

Jungkook refleks menutup mulutnya saat ia melihat ada orang lain di tempat itu. Orang itu sedang berjongkok di depan kandang, membelakangi Jungkook. Tangan-tangannya yang berjemari panjang sibuk mengelus salah satu dari tujuh ekor yang ada. Kesayangan Jungkook, si putih.

Jungkook sudah hapal dengan perawakan itu. Orang itu selalu datang di hari sabtu seperti ini, kurang lebih 3 bulan belakangan ini. Dan dia hampir selalu mengenakan hoodie itu. Hoodie hitam yang terlihat sangat pas dengan perawakannya.

Apakah Jungkook mengenalnya?

Tidak.

Jungkook itu introvert tingkat parah. Jangankan menyapa, baru melihat orang asing disekitarnya saja ia sudah menunduk sambil meneguk ludah gugup. Tipe orang pemalu yang sangat keterlaluan. Ia bahkan hampir tak punya teman di sekolahnya.

Dan beginilah posisi Jungkook saat orang tersebut datang ke tempat ini. Jungkook hanya akan berdiri dibelakang tembok yang berada tak jauh dari kandang. Ia akan diam mengamati interaksi orang tersebut dengan teman-teman berbulunya hingga orang tersebut pergi dari tempat itu.

Tapi kali ini Jungkook akan berani. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia bertemu untuk yang ke 15 kalinya dengan orang tersebut, ia akan menyapanya. Walaupun Jungkook harus mati-matian menahan gelombang malu yang selalu membelenggunya setiap saat, kecuali saat sedang di rumah.

"U-um... Maaf mengganggu... A-annyeong..." sapa Jungkook dengan suara terbata yang nyaris tak terdengar.

Orang tersebut menghentikan elusannya pada gumpalan bulu berwarna putih yang kini melompat mendekati pintu kandangnya.

"Bunny"

Dahi Jungkook mengernyit. Ia memang tidak asing dengan panggilan itu saat orang tersebut berada disini. Tapi ia heran. Mana ada kelinci bernama Bunny di kandang ini? Foto dan nama setiap kelinci di kandang tersebut bahkan terpampang dengan jelas disisi kandang.

"Kenapa kau hanya berdiri disana? Ayo kesini. Teman-teman kecil ini bahkan sudah kelaparan. Lihat!" Orang tersebut menunjuk kelinci putih bernama Milky yang kini sedang menggigit-gigit rumput liar yang tumbuh disamping kandang. Masih dengan posisi membelakangi Jungkook.

Jungkook mengangguk kaku sebelum melangkah mendekat. Tangan kirinya masih memeluk kantong itu dengan kuat, sementara tangan kanannya mengambil dua wortel. Yang satu untuk Milky dan yang satunya untuk teman Milky yang berbulu cokelat muda, Candy.

"Itu pasti berat. Biarkan aku membantumu"

Orang tersebut bangun dari posisi jongkoknya. Mengambil alih kantong tersebut dari tangan Jungkook saat dilihatnya Jungkook seperti kesusahan saat hendak memberikan wortel-wortel itu pada kelinci-kelinci lucu tersebut.

"N-ne... Terima ka--"

Mata Jungkook melebar saat melihat wajah itu.

"E-ee... Sunbaenim?"

Orang tersebut tersenyum ringan. Menampilkan deretan gigi putihnya. Senyum khas yang begitu Jungkook hapal.

Mengenalnya?

Tidak. Bukan mengenal. Hanya tahu.

Dia adalah senior Jungkook di sekolahnya yang sekarang. Satu tingkat diatas Jungkook. Seorang siswa yang tergolong cerdas dan merupakan salah satu siswa populer di sekolah mereka.

"Suatu kejutan yang menyenangkan. Sambil menyelam minum air... Hm... Tidak sia-sia ternyata"

Jungkook mengernyitkan dahi. Menatap bingung seniornya yang mulai membagikan satu persatu wortel pada kelinci lainnya. Membantu Jungkook.

"Maaf karena selama ini selalu merepotkanmu. Kau tahu? Aku sebenarnya mengenal mereka lebih lama bila dibandingkan denganmu. Kalau saja waktu itu tidak pindah rumah, mungkin yang ada di posisimu sekarang adalah aku" Laki-laki berpakaian gelap itu kembali tersenyum. "Terima kasih banyak" ucapnya sambil menatap Jungkook. Membuat Jungkook menelan ludah gugup sambil mengangguk kaku.

Keheningan kembali menyelimuti mereka yang kini sama-sama duduk di depan kandang dengan jarak yang cukup dekat. Jungkook masih sibuk dengan pemikirannya sendiri sedangkan seniornya kembali bermain bersama Milky dan Candy.

"Bunny, kau yang terbaik!"

Jungkook kembali mengernyit sambil memperhatikan seniornya yang mencium gemas Milky.

Sadar sedang diperhatikan, senior Jungkook itu menoleh. Membuat Jungkook salah tingkah hingga rona merah di kedua pipinya terlihat sangat jelas.

Laki-laki itu kemudian bangkit dari posisinya, lalu berjongkok dihadapan Jungkook.

"Disini pasti penuh"

Tubuh Jungkook menegang kaget saat seniornya itu tiba-tiba mengusap dahinya yang tanpa ia sadari berkerut.

"Kau pasti heran kenapa aku memanggil Milky dengan sebutan Bunny"

Jungkook mengangguk tanpa sadar.

"Baiklah. Biar kuberitahu"

Laki-laki itu menatap Jungkook dengan pandangan teduh. Tipe pandangan mata yang begitu Jungkook sukai.

"Tapi sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku dengan benar walaupun mungkin kau sudah mengetahuinya"

Jungkook masih menatap laki-laki itu dengan pandangan bingung. Membuat laki-laki itu kembali mengembangkan senyum yang tanpa sadar sudah menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang Jungkook sukai.

"Perkenalkan. Aku Kim Taehyung. Kelas 2-1. Aku menyukai kelinci-kelinci lucu disini, tapi ada satu yang bisa membuatku benar-benar jatuh hati. Dia adalah..."

Chu~

Taehyung mengecup bibir Jungkook.

"...Bunny-ku yang manis"

Taehyung tersenyum melihat ekspresi di wajah Jungkook. Ia kemudian membelai pipi Jungkook yang kembali bersemu merah dengan lembut sebelum membisikkan sesuatu.

"Aku sudah menyukaimu sejak lama Jeon Jungkook"

Taehyung kemudian bangkit. Berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan di saku hoodie yang ia kenakan.

"Sampai jumpa di sekolah, Bunny" pamitnya sebelum melangkah menjauhi Jungkook yang masih belum sadar dari segala keterkejutannya.

"Y-yang barusan itu...apa?" gumam Jungkook lirih dengan sebelah tangan yang meraba bibirnya.

.

.