Yuuhuu~ I'm back! *demennya apdet malem-malem*
Maap karena updatenya lama m(+_+)m dikarenakan Author sedang dibanjiri tugas sekolah yang rasanya pengen author bakar aja *jadi curhat*
Terima Kasih banyak bagi para Readers yang masih setia baca FF geje ini :'D
Yaak, langsung saja ke TKP!
HUMANITY'S STRONGEST...?
-Chapter 3-
Author's note: Typo(s), harsh word, OC (figuran)
"Heh—Gadis ini masih muda sekali." Pria itu memegang dagu wanita yang terikat kedua tangan dan kakinya. Mulut wanita itu dibekap oleh kain untuk membuatnya diam.
"Hnngg! Nn—angggg!" Wanita itu meronta-ronta, matanya berlinang airmata. Pria itupun menamparnya dan menendang tubuhnya kasar. Dua orang wanita yang lain terdiam, melihat temannya disiksa berkali-kali, mereka memutuskan untuk berhenti melawan. Tak ada gunanya lagi, lagipula mereka bukan siapa-siapa. Hampir tidak memiliki eksistensi, menghilangpun tidak ada yang akan menyadari .
Rivaille hanya menatap rekannya yang sedang menyiksa remaja perempuan itu dan menghela nafas panjang, sedikit heran dengan pemandangan di depannya. Ia hanya melakukan tugasnya untuk menangkap wanita-wanita itu, tak kurang dan tak lebih. Mereka menunggu rekan mereka yang satu lagi, dia akan datang dengan kereta untuk membawa mereka ke Wall Sina.
Ia menatap keluar, mereka sekarang bersembunyi di reruntuhan kastil yang sudah tak digunakan.
"Hhh.." Ia menghela nafas.
Lagi-lagi Rivaille merasa jijik dengan dirinya, entah untuk yang berapa juta kalinya.
Pekerjaan ini, lama kelamaan membuat Rivaille merasa hidup sebagai setengah manusia. Ia merasa seperti seonggok daging tak berguna yang penuh hina. Entah karena ia tidak berbakat untuk jadi penjahat atau karena darah dua orang prajurit telah mengalir dalam pembuluh darahnya, Rivaille tidak mengerti. Ketika ia merasa dirinya sudah terbiasa dengan semua hal nista ini, ternyata perasaan itu muncul kembali. Entah berapa lama lagi Rivaille sanggup membangkang jeritan hatinya yang mengatakan semua ini salah.
Bola mata hitam membesar saat melihat sebuah dinding besar yang selama ini menerangkapnya. Wall Maria dapat terlihat dekat dari kastil ini, kota luar Shiganshina juga tak begitu jauh dari posisi mereka.
"eh? Shiganshina..?" Gumam Rivaille, ia sekarang menatap kosong ke langit karena otaknya sedang memutar beberapa memori yang ia punya. Sudut bibir Rivaille terangkat , sebuah senyum simpul terlukis diwajahnya, dan akhirnya Rivaille pun memikirkan sebuah ide gila.
"Oi, Rivaille kita kembali ke Wall sina sekarang." Pria yang ia kenal sebagai rekannya itu menepuk pundak Rivaille, ia telah kembali membawa kereta. Merekapun segera membopong wanita-wanita itu ke dalamnya.
"Kau masuk duluan Rivaille."
"ah, tentang itu.. aku akan tinggal disini sebentar." Rivaille berjalan ke arah kuda yang menarik kereta itu dan mengelus-elusnya.
Kedua rekannya pun menatap Rivaille kebingungan, "ah.. R-Rivaille, jika bos tahu nanti—"
"Kalau begitu jangan beritahu kakek itu, ada urusan yang ingin kuselesaikan disini."
Dan rekannya hanya saling bertatapan, bingung dengan maksud Rivaille untuk tetap tinggal.
.
.
Manusia berlalu-lalang, mata Mikasa tak berhenti mengikuti keadaan sekitarnya. Hari itu ibunya Eren mengajaknya berbelanja di pasar. Sungguh pengalaman baru bagi Mikasa yang tidak pernah ke pasar. Tentu saja, ia tinggal memetik sayur dan buah-buahan di halaman rumahnya sedangkan ayahnya berburu binatang.
"Mikasa, menurutmu kita buat menu apa untuk nanti malam?" Tanya Carla.
Mikasa menggenggam rok Carla erat, ia menatap mata ibu tirinya itu lalu menunduk.
"Sup..jagung.."
Carla tersenyum, "baiklah, kita akan makan sup jagung malam ini."
Mikasa tersenyum kecil dan mengangguk, itu menu makan malam terakhir yang dibuat ibunya.
Sampailah mereka di salah satu pedagang, Carla langsung sibuk memilih bahan-bahan untuk makan malamnya nanti. Mikasa menarik-narik rok Carla untuk menarik perhatiannya dari sayuran segar didepan mata mereka, dan dia berhasil membuat Carla berpaling kearahnya.
"Kenapa Eren tidak ikut?" Tanya Mikasa.
"Oh.. dia itu selalu mencari keributan dan seringkali menghilang dari pengawasanku. Jadi aku tidak pernah mengajakknya ke pasar lagi, lagipula aku sudah punya anak perempuan sekarang, iya kan?" Carla tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit, ia melanjutkan memilih bahan-bahan makanan.
"Aa.. terima kasih.. ibu.." kata Mikasa dengan rona merah kecil di pipinya. Hangat.. keluarga ini sangat hangat, tak jauh berbeda dengan keluarganya yang dulu.
Mereka pun berjalan kembali mencari bahan yang lain, banyak hal baru dan unik yang dilihat Mikasa di sini. Hidup di gunung memang berbeda dengan di kota, bahkan kota kecil seperti Shiganshina ini terlihat sangat modern dimatanya. Bola mata Mikasa tidak bisa berhenti memperhatikan dagangan dan orang-orang di sekelilingnya.
BRUKK
Bokong Mikasa berhasil mendarat dengan mulus ke tanah, seseorang menabraknya.
"Bocah, pakai mata kalau jalan" kata lelaki yang barusan menabraknya itu. Suara bass itu terdengar jelas ditengah-tengah kerumunan pasar.
Mikasa meringis kesakitan sambil memegangi belakangnya. Syal dari Eren hampir terlepas dari lehernya lalu cepat-cepat ia betulkan.
Tak kunjung bangun, lelaki itu pun menjulurkan tangannya membantu Mikasa bangun. Ia menarik Mikasa kasar dan membuat anak perempuan itu sedikit terhuyung-huyung saat berdiri, tapi lelaki itu menangkap pundaknya.
"Maaf, saya tidak memperhatikan jalan tadi."
Mikasa membungkuk singkat dan akhirnya menatap wajah lelaki itu. Tapi lelaki dihadapannya memasang wajah datar tanpa ekspresi yang terkesan sedikit menyeramkan bagi Mikasa. Lelaki itu membalas tatapan Mikasa, kedua alisnya bertaut membuat kerutan-kerutan di antara kedua matanya. Ekspresi itu makin membuat Mikasa ngeri dan ia melangkah mundur.
"Ya, sama-sama bocah."
Terkejut, itu yang dirasakan oleh seorang Mikasa.
Lelaki itu mengusap kepala Mikasa pelan, tangannya tidak sekasar saat ia membantu Mikasa berdiri barusan.
Ia berjalan melewati Mikasa lalu menghilang di kerumunan manusia. Mikasa sempat terdiam tapi ia segera tersadar dan berlari kearah berlawanan menyusul Carla, untung ibu tirinya itu berhenti di tempat pedagang manisan yang tidak jauh dari tempat Mikasa jatuh.
"Mikasa, kau mau manisan? Eren suka dengan ini, aku akan belikan untuknya. Kau mau juga?" Tanya Carla saat merasakan Mikasa memegang ujung roknya. Ia tidak sadar kalau anak itu hampir saja hilang dari pengawasannya
Mikasa mengangguk, ia memegang kepalanya yang barusan diusap oleh lelaki tak dikenal itu.
"Baru kali ini seseorang selain keluargaku mengusap kepalaku."
.
.
Anak laki-laki berambut pirang melompat-lompat meraih sebuah buku tebal yang tengah diangkat tinggi-tinggi oleh segerombolan anak nakal. Tubuhnya didorong kasar oleh salah satu dari mereka. Anak nakal yang memegang bukunya membuka lembaran isinya dan ia memasang wajah mengejek.
"Dasar orang aneh, pantas saja temanmu cuma si pecundang itu."
"Aku bukan orang aneh! Dan Eren bukan pecundang!" Seru anak laki-laki berambut pirang itu. Tak lama, mereka mendengar suara derapan langkah kaki.
"Armin!" Seru Eren berlari ke arah mereka.
"Eren! Jangan! Nanti kau—" anak laki-laki yang barusan dipanggil Armin itu sempat terdiam karena melihat seorang anak perempuan dibelakang Eren.
Terlambat, Eren sudah menarik kerah baju anak laki-laki yang mem bully sahabatnya itu.
"Hah! Jaeger, mau apa kau?!" Anak yang bertubuh lebih besar itu menarik baju Eren dan menjatuhkan Eren ke tanah.
"Eren!" Mikasa berseru saat Eren terjatuh dekat dengan kakinya.
Sebenarnya tadi Eren bermaksud untuk mengenalkan Mikasa kepada Armin, tapi mereka malah mendengar teriakan Armin saat berjalan menuju rumahnya dan Eren langsung saja berlari mengejar arah suara itu.
"Oh? Siapa perempuan cantik ini, Eren?" Anak-anak nakal itu mulai menghampiri Mikasa.
"Jangan dekati dia!" Eren langsung memukul salah satu dari mereka. Armin menarik tangan Mikasa untuk menjauh agar tidak ikut terpukul, mereka melihat Eren memukuli anak itu, tapi tentu saja dia kalah jumlah dan keadaan segera berbalik.
"Rasakan! Dasar pecundang!" Ejek mereka sambil memukul wajah Eren, Eren mencakar wajah anak tersebut.
"Sialan kau bocah tengik!" Mereka makin membabi-buta dan menendang-nendang Eren, Eren menahan tendangan mereka dengan lengannya.
"Eren!" Armin teriak histeris melihat temannya itu dikeroyok habis-habisan. Akhirnya iapun ikut membantu Eren melawan mereka, tapi Mikasa hanya bisa diam. Tangannya gemetar, entah mengapa ia teringat sebuah kejadian tak menyenangkan beberapa waktu lalu. Tapi Eren telah menyelamatkan hidupnya, Mikasa harus menolong Eren!
Namun sayangnya, tubuh Mikasa berkata lain. Ia hanya bisa mematung dan makin menempelkan punggungnya ke dinding.
Alhasil, mereka dikeroyok habis-habisan oleh anak-anak itu. Mikasa tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan masih diam menatap Eren dan Armin yang penuh luka. Jika ia tidak bisa menolong Eren dan Armin, mereka bisa terluka parah. 'Tolong seseorang bantu kami ' Pinta hati Mikasa
"HEI! APA-APAAN INI?!" Seru sebuah suara.
Seorang prajurit Garrison berlari kearah Eren dan Armin yang sedang dikeroyok. Mereka langsung berhenti memukuli Eren dan Armin, wajah mereka panik.
"Sialan, kau beruntung kali ini Jaeger!" Anak-anak nakal itupun lari tunggang langgang, saat melihat prajurit itu berlari semakin mendekati mereka.
"Kalian tidak apa-apa? Apa sih yang kalian pikirkan?!" Prajurit itu lantas langsung membantu Eren dan Armin berdiri. Armin menangis, sekujur tubuhnya terasa sakit karena dipukuli. Keadaan mereka sekarang sangat jauh dari 'tidak apa-apa'.
"Mereka yang memulai!" Seru Eren, ia masih saja berlagak kuat padahal beberapa sudut wajahnya terlihat biru-biru. Ujung bibirnya sedikit berdarah dan lengannya memar-memar biru karena menahan tendangan anak-anak itu barusan.
Sedangkan Armin terlihat memar-memar di lengan dan kakinya, keadaannya masih lebih baik dari Eren. Prajurit Garrison itu meraba wajah dan kepala Eren, ia juga melakukan hal yang sama dengan Armin.
"Syukurlah, tidak ada luka serius. Dasar Bodoh! Aku harus bilang apa dengan orangtuamu nanti!" Prajurit itu menjitak kepala Eren pelan.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Hannes! Mereka yang salah!" Eren tiba-tiba teringat hal penting. Ia menghampiri anak perempuan yang daritadi hanya menonton mereka.
"Mikasa kau tidak apa-apa kan?" Tanya Eren, ia memperhatikan Mikasa yang berdiri menempel ke dinding dengan gemetaran.
"Lho, siapa anak ini?" Prajurit Garrison itu baru sadar bahwa ada satu anak lagi selain Eren dan Armin.
Mikasa menenggelamkan setengah wajahnya ke syal merahnya. Ia mendekati Eren, rasanya Mikasa ingin sekali menangis saat itu tapi tidak ada airmata yang keluar.
"Maaf eren.. aku tidak bisa menolong.."
Sosok Mikasa saat ini, ekspresi yang sama dilihat Eren malam itu.
.
.
"Aku takut.."
Bola mata Eren membesar, ternyata seorang perempuan bisa menjadi sangat rapuh. Eren ingin bicara tapi ia juga takut, ia takut perempuan dihadapannya itu akan lebih terluka jika ia salah bicara.
"Mikasa.." Eren akhirnya membuka mulut.
"Aku yakin orangtuamu senang karena kamu selamat, penjahat itu juga sudah tiada, kau tak perlu takut, kami sudah jadi keluargamu sekarang" Kata Eren pelan-pelan, berusaha membuat anak perempuan itu lebih tenang. Ah.. ia memang payah dalam hal ini.
"Bukan itu—" Mikasa akhirnya memperlihatkan wajahnya, itu jelas bukan ekspresi takut yang dibayangkan Eren. Ia tidak menangis, bahkan matanya tidak berkaca-kaca sedikitpun.
"Bagaimana kau bisa merasa biasa-biasa saja setelah melakukannya?" Tanya Mikasa
"Hah?" Eren bingung dengan pertanyaan Mikasa barusan.
"Penjahat-penjahat itu, kita membunuhnya.. "
Eren akhirnya mengerti maksud dari ketakutan Mikasa, bukan ketakutan karena kehilangan orangtuanya tapi ketakutan karena dihantui rasa bersalah.
"Mikasa, mereka itu hanya binatang dalam wujud manusia. Mereka bahkan tidak pantas hidup sejak awal. Untuk apa merasa kasihan atau bersalah setelah membunuh manusia seperti itu?" Oceh Eren, ia sedikit geram saat menjawab pertanyaan Mikasa. Jiwa kebenaran Eren bergejolak setiap membahas hal seperti ini.
Mikasa merasa sedikit takjub dengan Eren, padahal umur mereka masih tergolong 'anak-anak' tapi Eren berpikir sangat dewasa. Sayangnya penjelasan Eren tidak sepenuhnya menghilangkan rasa takut di hatinya.
Mikasa mengingat jelas sangat pisau itu ditusukkannya ke punggung penjahat. Saat itu, tubuh Mikasa terasa dialiri listrik yang menjalar ke saraf-saraf ototnya. Teriakan Eren tambah memacunya, naluri bertahan hidup Mikasa yang hampir mati saat melihat ayah dan ibunya tewas seketika bangun. Setelah itu, ia melakukan semuanya dengan insting, ia mengerahkan seluruh tenaganya ke benda tajam itu.
"Aku mengerti.." Mikasa berkata dengan lirih.
"Jika kau tidak melawan, kau kalah. Jika kau melawan, kau menang." Ujar Eren mantap. Kata-kata itu, alasan terbesar Mikasa mampu membunuh bedebah yang membunuh orangtuanya .Tapi, sekali lagi ia masih merasa adanya rasa takut dan cemas jauh di dalam dirinya.
Eren memegangi pipinya yang membengkak, ia membuka mulutnya.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa." Eren tersenyum.
"Ah iya, Mikasa ini Armin" Eren menunjuk anak lelaki yang sibuk mengusap airmatanya, anak berambut pirang itu terlihat sangat lemah tapi tentu ia lebih berani dari Mikasa.
"Dan ini Hannes, ia prajurit Garrison. Hannes ini Mikasa Ackerman, ia mulai sekarang tinggal dengan keluargaku." Jelas Eren dan Hannes mengangguk-angguk.
.
.
.
Langkah Rivaille terhenti, ia berbalik arah menuju keributan yang mengarah ke sebuah gang kecil yang baru saja dilewatinya. Dimana-mana ada saja orang-orang bodoh yang merasa dirinya kuat dan mengganggu orang lemah. Seorang anak kecil berambut pirang tampak dikerubungi oleh beberapa anak yang badannya jauh lebih besar darinya.
Rivaille bermaksud menolong anak itu, toh—ia sudah lama tidak berkelahi. Terakhir kali adalah saat ia menghabiskan 15 berandalan di Wall Sina, rasanya ingin sekali lagi memberikan pelajaran pada bedebah-bedebah lainnya. Tapi aksinya kalah cepat karena ada seorang anak laki-laki berambut coklat dari arah gang yang berlawanan berlari dan langsung menolong si bocah pirang. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menolong dan memutuskan untuk menonton mereka dari kejauhan.
"Bocah bodoh.. kalau mau menolong harusnya kau menang," gumam Rivaille.
Mereka benar-benar habis dikeroyok, mungkin memang harusnya Rivaille menolong mereka sekarang. Ada yang menarik di perkelahian itu, ada seseorang yang tidak ikut berkelahi dan Rivaille baru sadar bahwa ada perempuan diantara mereka. Wajahnya tak asing, Rivaille merasa pernah bertemu dengannya. Perempuan itu hanya diam, tentu saja ia ketakutan ia seorang anak perempuan pikir Rivaille.
"HEI! APA-APAAN INI?!"
Ah, Rivaille merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan karena seorang prajurit Garrison menolong mereka. Ho.. ternyata masih ada prajurit yang benar-benar dapat dikatakan 'prajurit'. Prajurit itu datang dengan heroik dan seketika bocah-bocah nakal itu lari terbirit-birit. Rivaille pun angkat kaki dari tempat nya, sudah tidak tertarik lagi dengan totonan yang barusan ia lihat. Baru saja Rivaille berjalan sekitar lima langkah sampai ia mendengar bocah berambut coklat itu berkata.
"-ini Mikasa Ackerman, ia mulai sekarang—"
Ekspresi Rivaille yang begitu datar seketika berubah, ekspresi antara terkejut, tidak percaya dan sedikit heran.
"Ackerman?"
Ia menoleh ke belakang lagi dan melihat ketiga anak itu. Bocah berambut pirang? Ah bukan dia laki-laki kalau begitu anak perempuan barusan bernama Ackerman. Ya, nama yang akhir-akhir ini tidak bisa ia hilangkan dari pikirannya. Dan ia segera mengerti bahwa bocah berambut coklat pasti adalah anak dokter Jaeger yang disebut-sebut prajurit waktu itu.
"Dia membunuh Gund? Bocah itu?" Rivaille tidak bisa menyembunyikan senyum nya, walau tidak sepenuhnya mengubah ekspresi datarnya.
"Aku menemukanmu."
.
.
Alasan mengapa Rivaille memutuskan untuk berada di Wall Maria sekarang, mungkin adalah alasan yang kekanak-kanakan.
Ia penasaran.
Penasaran dengan kekuatan dua orang anak kecil. Penasaran dengan semangat keberanian keduanya. Dan penasaran dengan sosok seorang gadis perempuan berumur 9 tahun yang bernama Ackerman.
Anak itu kehilangan kedua orangtuanya pada umur yang masih sangat muda. Rivaille mengerti perasaan itu, ia sangat mengerti karena ia bernasib sama. Yang berbeda adalah bocah itu sekarang dirawat oleh keluarga yang baik-baik, sedangkan Rivaille 'dirawat' oleh pria tua yang hanya memanfaatkannya untuk menjalankan sebuah bisnis haram.
Tak hanya itu, Rivaille merasa ia bukan anak perempuan biasa. Semua orang yang pernah Rivaille temui hanyalah orang-orang bodoh dan orang-orang lemah. Tidak pernah sekalipun Rivaille bertemu orang yang lebih kuat darinya, bahkan yang mendekati sedikitpun.
Semuanya Lemah!
Lemah! Lemah! Mereka terlalu lemah!
Tapi Rivaille yakin ia akan bertemu orang yang sekuat dirinya dan ia selalu menunggu saat itu datang.
Insting Rivaille mengatakan anak perempuan bernama Ackerman itu memiliki sesuatu, dan Rivaille yakin akan hal tersebut.
"Mikasa.."
-To be Continued-
.
.
UWAAA~~
Akhirnya kelar juga chapter ini :D
Dan akhirnya ada adegan RivaMika walaupun secara ga langsung *tebar kancut rivai* *senyum titan* #authorkhilaf
Makasih banyak buat yang udah Review di chap 1 & 2
Crimson Wine Koshiba kiri [makasih dukungannya ^^ *peluk cium*], rivamika lovers [ini udah apdet ] rivamika shipper [hoo.. saya memang keceh *disumpel kain lap sama rivaille* ini udah apdet ^^], kueii [*tebar Rivaille buat kamu karena udah nge-review tata bahasa dan tanda bacanya* ditunggu reviewmu lagi^^], LinLin [Di chap ini udah ada dikit rivamikanya :D], ChikaxRatte [maafkan kesalahan author bejad yg nilai selalu jeblok ini +_+ semoga tanda bacanya udah mulai bener *berharap*mungkin ketawa colossal itu seperti.. MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA *langit 7 lapis runtuh*], ca99oline [saya sudah lanjutkan ini! FIGHT!], Wintersia [semangat buatmu juga, ditunggu reviewmu lagi].
Makasih buat para readers yang masih mengikuti FF ini :'D
Mohon Reviewnya! Review kalian kutunggu!
Ingat~ Your Review is like oxygen to me :* #ketawacolossal
