Chapter 3 : Do you love me?

[Jinyoung pov]

Sekarang sudah berada diakhir semester semua pelajar menjadi berlipat-lipat kali lebih sibuk. Entah itu hanya sekedar belajar atau bahkan memperbaiki nilai yang mendapat tinta merah dengan keterangan 'tidak lulus'. Hal ini juga berlaku dengan aku dan kak Mark.

1 bulan

2 bulan

3 bulan, ah benar ku rasa ini sudah bulan ketiga aku menjaga jarak dari kak Mark. Begitu pula dengan stephani. Aku tidak marah dengan keduanya, hanya saja dengan cara itulah aku bisa mengontrol keinginan hatiku.

Ayolah mereka sedang masa pendekatan dan aku datang menghancurkannya? Seorang putri akan melangkahkan kakinya dengan anggun saat melewati rangkaian 'anak tangga'. Ibu ku mengatakkannya padaku dulu saat masih berumur 9 tahun.

Hanya dengan tiga bulan kak Mark berhasil membuatku sadar bahwa aku selalu bergantung padanya, bahkan untuk urusan makan sekalipun. Aku menertawai diriku sendiri seperti orang gila.

"aku baru tau bahwa aku seburuk ini"

"harusnya kak Mark menjauhi mu dari kemarin-kemarin saja jadi kau cepat sadar"

Aku meringis pelan saat kalimat Jaebum menusuk tepat dihatiku

"diamlah!"

"ya sudah aku pulang saja"

Dengan cepat aku meraih tangan Jaebum. Tidak, tidak boleh. Dulu kak Mark selalu ada untuk mengajariku berbagai macam pelajaran bahasa sekarang aku sudah tidak punya dia, baiklah aku harus memperbaiki hubungan ku yang sangat kusut ini. Sial sekali Im Jaebum kenapa harus kau yang cerdas dalam pelajaran bahasa kenapa tidak Sean atau Johnny saja? Ah menyebalkan!

"apa kau tega membiarkan ku mendapat nilai jelek Jaebum-ah?"

"ya tepat sekali, aku sangat tega"

"HEI SIALAN KAU BUKAN MARK TUAN JADI JANGAN BERTINGKAH SEMAUMU KARENA KALIAN BERBEDA!!!"

Dan tepat saat aku berteriak kencang seorang Mark Tuan sedang berdiam diri dengan rahang bawah yang terjatuh, ok ini semua kesalahan Jaebum. Bukan aku.

[Author pov]

"HEI SIALAN KAU BUKAN MARK TUAN JADI JANGAN BERTINGKAH SEMAUMU KARENA KALIAN BERBEDA!!!"

Rahang bawah Mark terjatuh begitu saja tanpa diperintah. Mark berpikir bahwa Jinyoung benar-benar marah kepadanya tapi didepannya seorang park Jinyoung sedang dalam posisi membelanya? Entahlah Mark tidak tau masalah awalnya kenapa Jaebum dan Jinyoung saling berteriak. Yang Mark tau, Jinyoung tidak pernah benar-benar marah kepada Jaebum bagaimanapun kesalahan yang dilakukan oleh Jaebum.

"hai kak, maaf Jinyoung sedang dalam 'masa'nya jadi berhati-hatilah"

"JAEBUM!"

"aku pulang!"

Jaebum bergegas pergi hingga tergopoh-gopoh. Ketara sekali ingin meninggalkan Mark dengan Jinyoung. Mark tidak bodoh, ia memahami sinyal dari Jaebum tersebut dan berjalan kearah Jinyoung.

"um, h-hai kak!" Mark menatap manik mata Jinyoung yang terlihat gelisah.

"k-kupikir aku harus berangkat les matematika! Ya aku haru—hmmph"

Mark mencium bibir kissable milik Jinyoung, mengulum bibir atas dan bawah secara bergantian.

Tes!

Mark merasa pipinya basah oleh air mata Jinyoung. Mark melepas tautan bibirnya dengan Jinyoung.

"Hiks…kenapa?"

Mark diam menunggu Jinyoung melanjutkan kalimatnya. 5 menit berlalu isakan Jinyoung masih memenuhi kamar bernuansa merah jambu itu.

"aku akan menunggu, selesaikanlah kalimatmu"

"sudahlah, aku lupa apa yang ingin ku bicarakan dengan kak Ma—arghh"

Mark menghimpit tubuh kecil Jinyoung dan mengigit bibir bawah Jinyoung.

"aku tau kau berbohong, katakan aku akan mendengarkannya dengan seksama"

Mark menurunkan gigitannya ke leher jenjang milik Jinyoung. Entah untuk alasan apa Mark merasa harus memberi Jinyoung hukuman, entah karena telah menghindarinya hingga tiga bulan lamanya atau karena Jinyoung memang menggoyahkan pertahanannya sore ini. Sial Jinyoung yang berantakan seperti ini beribu kali lipat terlihat lebih manis.

"ughh a-aku membencimu akhh Mark!"

Jinyoung mendorong tubuh Mark, tautan mereka terlepas. Jinyoung kembali menangis.

"kenapa kau begitu mudah mempermainkan ku? Kenapa kau begitu mudah menghancurkan keyakinan yang sudah ku bangun setinggi mungkin? Kenapa kau terus membalik-balikkan hati ku? Memangnya kau siapa?!"

Mark membiarkan Jinyoung memukuli lengannya, tangannya tergerak untuk mengelus surai smoke grey sepinggul yang tergerai begitu saja.

"kenapa kau merasa dipermainkan oleh ku? Aku mengejarmu, aku menahan mu, aku mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman jadi dimana letak kesalahannya? Dan untuk pertanyaan terakhir, aku adalah Mark Tuan seseorang yang berkuasa penuh atas seorang gadis bernama Park Jinyoung"

Jinyoung benar-benar marah pada dirinya sendiri, ia tidak seharusnya tersipu dengan kalimat yang terlontar dari kekasih sahabatnya bukan?

"Stephani, aku tidak tau harus berterimakasih atau memakinya setelah ini"

Jinyoung menyeritkan dahinya bingung,

"kenapa ?"

"ia kesal hubungan kita yang tidak jelas, jadi ia merencanakan ini semua tapi siapa sangka kau sungguh sulit ditemui selama tiga bulan?"

"kau tidak berkencan dengan stephani?"

"kenapa aku harus? Dan sepertinya kau sudah sangat hebat hingga melupakan jarak umur kita Jie"

"hah?" Otak Jinyoung terlalu lelah untuk sekedar memikirkan kalimat Mark.

Mark memotret wajah bodoh Jinyoung, tentu saja dihadiahi pukulan oleh Jinyoung setelahnya.

"kau benar tidak berkencan dengan stephani?"

"ayolah aku takut dengan wanita berjiwa pria sepertinya"

"jadi, apakah kau mencintaiku?"

"bagaimana ya Jie, kurasa hatiku sudah tertulis nama orang lain bukan Park Jinyoung"

[Mark pov]

Aku benar-benar ingin tertawa melihat wajah 'blank' milik siswi dengan predikat juara satu paralel sekolah.

"jadi, apakah kau mencintaiku?"

"bagaimana ya Jie, kurasa hatiku sudah tertulis nama orang lain bukan Park Jinyoung"

Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku wajahnya terlihat datar, seperti tidak terjadi sesuatu yang penting.

"Ah aku juga bepikir begitu"

"nama nya sama tetapi sedikit berbeda"

Dia menatapku dalam diam, tetapi matanya seakan berkata 'apa? Beritahu aku'

"Jinyoung Tuan"

"hah?"

1 detik

2 detik

3 detik

"AHAHAHAHA ASTAGA TERSERAHLAH, I'M DONE WITH THIS CRAZY WORLD" ia tertawa lalu berteriak kencang dan meninggalkan aku dikamarnya sendirian.

[Jinyoung pov]

Kemarin kak Mark mengutarakan isi hatinya, hari ini kami berangkat bersama seperti biasanya dan Jaebum sangat senang saat ku beritahu tidak perlu menjemputku

"benarkah?

"apa aku terlihat bercanda? Aish si bodoh ini""wah ini kabar yang sangat ku nanti, akhirnya aku bisa membawa pulang wanita cantik""hei aku juga cantik!""dilihat darimana pun kau itu menyeramkan sudahlah selamat menikmati perjalanan indahmu!""Hei si—"

Aku mendengus kesal mengingat percakapanku dengan Jaebum semalam, kakek sialan itu perlu dikutuk suatu saat. Mengatai bahwa aku menyeramkan dan memutuskan panggilan telepon secara sepihak.

Omong-omong saat ini jantung ku sedang dalam keadaan tidak normal, tidak! Ini bukan penyakit. Ini suatu gejala yang normal saat parfume maskulin milik kak Mark memasuki indera penciuman ku. Entahlah parfume milik kak Mark ini terasa begitu menggambarkan kepribadiannya. Pendiam, hangat dan err—seksi?

Lamunanku buyar saat kak Mark mendengus kasar, dengan segera aku menoleh kesebelah kiri.

"apa aku perlu bicara dengan ibu mu?"

"tentang apa?"

"tentang rok mu yang sepertinya memang semuanya sangat pendek"

"a-ah ayolah ini baik-baik saja, bukan masalah besar"

"bagaimana jika tertiup angin?"

Blushh

Tiba-tiba bayangan rokku yang tertiup angin ditengan kerumunan orang muncul begitu saja otomatis aku memegangi kedua pipiku,

"ini masih pagi kenapa otak kakak sudah kotor hah?!"

"aku hanya antisipasi saja, memangnya apa yang kau pikirkan Jie-ya"

Sial! Jangan tunjukkan smirk mu itu kak. Hati ku sudah menjerit tidak karuan. Ok Mark Tuan kau menang kali ini.

•Next chapter : what i want