Meeting the Clan

Chapter 3

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Hai minna-san! Terima kasih banyak atas support kalian untuk fic ini, baik dalam bentuk review, favourite, ataupun follow. Sebagai author pemula, saya sangat senang saat mendapat respons yang baik dari pembaca fanfic ini :D Chapter ini akan menjadi chapter terakhir dari 'Meeting the Clan' ditutup dengan sebuah chapter epilogue nantinya. Oh ya, mungkin ada yang bertanya-tanya, siapa para tetua itu? Semua tetua itu adalah OC yang dibuat demi kelangsungan cerita ini hehe.

Author juga ingin mengucapkan maaf sebesar-besarnya untuk readers karena keterlambatan update. Gomenne T.T Author sedang menjalani UAS yang ditumpuk semua jadi 1 minggu, ditambah author malah sakit seusai UAS T.T jadilah fics ini terlambat update beberapa minggu. Hontou ni gomennasai T.T

Baiklah, demikianlah rambling saya untuk chapter 3. Semoga minna-san menyukai chapter ini yak!

Happy Reading!

Words Count : 5,137


"Hiashi, dengan mempertimbangkan keselamatan dan keadaan klan Hyuuga, kami menolak bertemu dengan Uzumaki Naruto. Dengan demikian, lamaran Uzumaki Naruto telah ditolak."

Hiashi tertegun mendengar keputusan dari tetua. Ia tak menyangka bahwa para tetua bahkan tak mau bertemu dengan Naruto. Sejak awal, Hiashi tak berharap bahwa ia dapat meluluhkan hati para tetua untuk merestui hubungan Hinata dengan Naruto. Oleh karena itu, Hiashi berniat untuk setidaknya membantu Naruto agar dapat bertemu dengan tetua dan dapat membujuk mereka sendiri. Hiashi percaya akan kemampuan diplomasi Naruto. Hiashi sendiri menyadari, ada sesuatu yang berbeda dalam Naruto. Naruto mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa ingin mengikutinya. Tak ayal, dari Pain hingga Obito, dapat ia taklukkan hanya dengan kata-katanya.

Tapi jika kondisinya sudah demikian, Naruto bahkan tak dapat bertatap muka dengan para tetua. Hiashi kembali gagal. Ia sudah gagal membuka jalan bagi kebahagiaan putrinya.

"Genji-dono, Hisako-dono, kumohon, jangan begitu keras kepala. Setidaknya temuilah Uzumaki Naruto. Semua hal yang kita takutkan saat ini hanyalah sebuah hipotesa. Masih ada kemungkinan bahwa Naruto tidak akan turut campur dalam urusan klan." Hiashi masih berusaha membujuk para tetua. Hiashi tak ingin para tetua menolak hubungan Hinata dan Naruto bahkan sebelum berbicara langsung dengan kedua orang yang bersangkutan.

"Hiashi! Kami hanya memikirkan yang terbaik bagi klan – "

"Genji, Hisako, aku rasa tidak ada salahnya kita bertemu dengan Uzumaki Naruto ini." Tiba-tiba terdengar interupsi dari Hyuuga Hirai, tetua paling berpengaruh di klan Hyuuga.

Hirai adalah tetua yang paling uzur di antara kelima tetua. Ia lahir di zaman klan Hyuuga pertama kali memutuskan bergabung dengan klan Senju dan klan Uchiha membentuk desa Konoha. Ayahnya adalah ketua klan yang telah memutuskan bagi klan Hyuuga untuk membentuk desa Konoha. Hirai telah melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedamaian berhasil dicapai oleh Hokage Pertama di tengah dunia yang berkecamuk dan ia juga telah melihat sendiri bukti dari ketamakan manusia yang direpresentasikan dalam 3 Perang Dunia Shinobi yang melibatkan kelima Negara besar.

"Hirai-sama, maafkan kelancangan kami, tetapi kami rasa tidak ada manfaatnya bertemu dengan Uzumaki Naruto ini. Ia adalah bahaya bagi kelangsungan tradisi klan Hyuuga yang telah berlangsung berpuluh tahun lamanya." Ucap Hisako dengan hormat. Tentu saja, Hirai adalah anggota klan Hyuuga terakhir yang masih hidup yang telah menyaksikan sendiri bagaimana klan Hyuuga bergabung ke desa Konoha pada masa perang yang berkepanjangan. Tak ada seorangpun di dalam klan Hyuuga yang tak mengenal dan menghormati Hirai.

"Hisako, Genji, apakah kau tahu bahwa klan Hyuuga mengandalkan kekuatan matanya, Byakugan?" tanya Hirai kepada Hisako dan Genji.

"Tentu saja, Hirai-sama. Byakugan adalah kekuatan mata harta klan Hyuuga yang telah menjadi kebanggaan klan selama berpuluh tahun. Dengan Byakugan pula Hyuuga menjadi klan terkuat di Konoha." Ujar Genji dengan angkuhnya.

"Genji, kau sendiri mengatakan bahwa Byakugan yang kita miliki adalah kekuatan mata. Oleh karena alasan itu pula, aku ingin bertemu dengan Uzumaki Naruto ini. Seharusnya kalian merasa malu, sebagai anggota klan Hyuuga, kita harus menggunakan mata ini untuk menilai Uzumaki Naruto ini, bukan dengan sebatas kata-kata yang diucapkan saat ia masih berusia 12 tahun." Ucap Hirai dengan bijak.

Hirai, sebagai anggota tertua dan terbijak di klan Hyuuga, tentunya menginginkan yang terbaik bagi Hyuuga. Oleh karena itu, Hirai tak ingin menodai sejarah panjang klan Hyuuga dengan keputusan bodoh berupa penilaian tanpa bertatap muka langsung dengan orang tersebut.

Selain itu, Hirai juga tertarik dengan bocah yang bernama Uzumaki Naruto ini. Meskipun Hirai tak lagi berpartisipasi dalam Perang Dunia Shinobi Keempat, ia telah mendengar cerita bagaimana Naruto ini telah menaklukkan biang kerok Perang Dunia, Uchiha Obito, dengan kata-katanya dan dengan semangatnya yang tak dapat dipadamkan. Deskripsi Naruto juga menyerupai Senju Hashirama, shinobi terkuat namun paling rendah hati dan berkharisma yang pernah dikenal Hirai dalam hidupnya. Semua hal ini membuat Hirai penasaran akan bocah ini, dan lamaran Naruto terhadap putri ketua klan saat ini akan menjadi momen yang tepat bagi Hirai untuk menilai Naruto, apakah segala kehebatannya adalah kenyataan, atau hanyalah cerita yang dilebih-lebihkan orang.

Sementara itu, baik Genji maupun Hisako merasa tertohok saat mendengar argumen Hirai. Entah mengapa, rasanya penuturan Hirai mengenai 'kekuatan mata' adalah suatu sindiran bagi mereka berdua. Meskipun merasa kesal, tentu saja mereka tak dapat menentang jika Hirai sudah membuka suara. Hirai jarang membuka suara dalam pertemuan para tetua, namun, dalam suatu persetujuan tak tertulis, suara Hirai adalah suara absolute bagi para tetua Hyuuga. Jika Hirai menginginkan pertemuan ini, maka suara mereka berdua tak ada artinya.

"Baiklah, Hiashi, aku menyetujui permohonan Uzumaki Naruto untuk bertemu dengan tetua. Pertemuan akan diadakan malam ini di ruang makan pukul 8, selepas makan malam." Ujar Hirai yang otomatis mengakhiri pertemuan tetua ini.

"Baik Hirai-sama. Terima kasih atas pengertian Anda." Ucap Hiashi penuh hormat.

"Terima kasih, Kami-sama. Terima kasih atas bantuan yang telah kau kirimkan bagiku ini…" batin Hiashi dalam hatinya. Sejujurnya Hiashi sempat merasa putus asa saat tiga tetua menyuarakan ketidaksukaan mereka terhadap Naruto. Terlebih saat Genji dan Hisako mengambil keputusan untuk menolak lamaran Naruto. Untung saja, rasa ingin tahu Hirai telah menyelamatkan Naruto dari penolakan total terhadap lamarannya.

"Naruto, aku harap kau berhasil meluluhkan para tetua…" batin Hiashi.


Malamnya, Naruto kini tengah bersiap-siap di depan sebuah cermin. Ia memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah. Naruto kini mengenakan sebuah kimono berwarna biru tua. Sangat kontras dengan rambut dan matanya yang sama-sama berwarna begitu cerah. Namun, demi menjaga formalitas acara malam ini, Naruto harus mengenakan kimono yang lebih gelap, demikian kata Hinata.

Naruto menyisir rambutnya agar terlihat rapi. "Untung rambutku kini sudah pendek-ttebayo… Sulit menyisir rambut jabrik yang panjang.." Ya, seandainya rambut Naruto masih sepanjang dua tahun yang lalu, dapat dipastikan Naruto akan berangkat dengan rambut acak-acakan.

Sebelum berangakat, Naruto memandang sejenak ke foto terakhir kedua orang tuanya. Sebuah foto yang menunjukkan seorang pria pirang yang tampak seperti kembaran Naruto sedang duduk dan di belakangnya seorang wanita bersurai merah dengan perut membuncit yang tersenyum manis. Foto itu diperoleh Naruto dari Konohamaru saat ia membongkar barang-barang peninggalan Sandaime Hokage, dan salah satu peninggalan Sandaime Hokage selain syal ibunya adalah foto keluarga milik Yondaime Hokage, penerusnya.

"Kaa-san, Tou-san… Hari ini aku akan melamar Hinata-ttebayo… Aku mohon restu kalian berdua, ya! Doakan agar aku bisa segera menikahi Hinata-chan ya, Kaa-san, Tou-san.."

Seusai mengucapkan sebuah doa kepada kedua orang tuanya, Naruto segera melesat menuju kediaman Hyuuga.


Naruto tiba di kediaman Hyuuga dan disambut oleh Kou yang sedang jaga di depan gerbang. Kou yang mengerti maksud kedatangan Naruto, segera mempersilahkan Naruto masuk dan menuntunnya ke ruang makan Hyuuga.

Setibanya di ruang makan, Naruto dibuat takjub oleh kemewahan interior ruang makan. Tampak meja makan yang begitu panjang dan di setiap sisinya diisi sepuluh buah kursi. Selain itu, tampak sebuah lampu mewah tergantung di atas ruang makan dan adanya lukisan lambang klan Hyuuga yang digantung di tengah-tengah ruangan tersebut.

"Klan Hyuuga benar-benar hebat-ttebayo.. Ruang makannya saja sudah begitu indah dan luas.."

Namun, ternyata Naruto masih lebih takjub akan penampilan kekasihnya malam itu. Hinata baru saja memasuki ruang makan dengan kimono hitam yang memeluk erat lekuk-lekuk tubuhnya. Selain itu, warna hitam kimononya juga menonjolkan kulitnya yang putih mulus layaknya porselen. Meskipun Hinata hanya tampil natural tanpa dandanan apapun, Naruto tetap merasa Hinata adalah gadis termanis dan tercantik di seluruh dunia. Akibat terlalu larut dalam pikirannya, tanpa disadari Naruto tengah menatap Hinata tanpa berkelip sedikit pun. Sementara itu, Hinata yang ditatapi dengan intens oleh Naruto merasa begitu bahagia bercampur malu. Hinata memberikan sebuah senyuman malu-malu ke arah Naruto yang sukses membuat jantung Naruto makin berdebar-debar.

"Ehem!" dehem Hiashi menghancurkan momen indah sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu. Hinata langsung menundukkan wajahnya yang sudah memerah dan segera mengambil kursi di sebelah ayahnya yang duduk di kepala meja. Sementara itu, tampak Naruto yang hanya menggaruk tengkuknya malu karena sudah tertangkap basah mengagumi Hinata.

"Dasar dua bocah yang dimabuk cinta.. Bisa-bisanya mereka melempar-lempar pandangan di hadapanku." geram Hiashi dalam hatinya.

"Naruto, kau duduklah di sisi kiriku" perintah Hiashi melihat Naruto yang masih terbengong di depan meja makan.

"Ah, baiklah, Hiashi-sama." Naruto segera mengambil tempat duduk di samping Hiashi dan berhadapan langsung dengan Hinata. Naruto memberikan cengiran rubahnya yang seolah berkata, "Aku pasti bisa!" kepada Hinata.

Tak lama berselang, tetua Hyuuga mulai mengisi meja makan tersebut. Di sisi Naruto duduklah Hyuuga Kaze dan Hyuuga Genji. Sementara itu, yang duduk di sebelah Hinata adalah Hyuuga Hirai, Hyuuga Hisako dan Hyuuga Minoru.

Setelah semua tetua berkumpul, para tetua lalu memperkenalkan diri mereka masing-masing. Naruto lalu memberikan salam kepada seluruh klan Hyuuga. "Selamat malam, tetua klan Hyuuga dan Hiashi-sama. Saya sangat berterima kasih atas – "

Perkataan Naruto langsung dipotong Hyuuga Kaze yang tanpa basa-basi langsung mengajukan pertanyaan pada Naruto. "Uzumaki Naruto, ungkapkan maksud kedatanganmu kepada kami."

Naruto agak tertegun. "Apa aku salah? Bukankah pertemuan formal harus diawali dengan salam dulu? Haahh.. Klan Hyuuga memang merepotkan."

"Baiklah, Kaze-sama. Maksud kedatangan saya mala mini adalah untuk meminta persetujuan klan Hyuuga perihal lamaran saya kepada Hinata, putri dari Hiashi-sama." Ucap Naruto sopan.

"Hm. Apa yang membuatmu merasa lamaranmu layak diterima, Uzumaki-san?" tanya Genji dengan sombongnya.

Naruto sebenarnya kurang menyukai gaya bicara Genji yang seolah-olah memandang rendah dirinya. Namun, Naruto berusaha menepis perasaan kesal yang timbul saat Genji mulai berbicara.

"Genji-sama, saya melamar Hinata karena cinta yang kuat di antara kami. Saya percaya, dasar dari suatu pernikahan yang utama ialah cinta. Tanpa cinta – "

"Ya, kami sudah mengetahui hubungan percintaanmu dengan Hinata. Yang ingin kami ketahui adalah alasan mengapa kami harus menerima lamaranmu" Hisako kembali memotong ucapan Naruto.

Naruto mulai merasa jengkel karena daritadi ucapannya mendapat interupsi dari tetua. Naruto menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sembari menahan rasa kesal yang mulai timbul. Naruto lalu melirik Hinata yang memberikannya senyuman penyemangat. Seketika, rasa kesalnya tadi pun menguap dan Naruto kembali berbicara.

"Para tetua, alasan klan Hyuuga untuk menerima lamaranku adalah kebahagiaan Hinata. Saya yakin, Hinata dapat mencapai kebahagiaan denganku dan saya juga dapat mencapai kebahagiaan bersama Hinata. Dan kebahagiaan Hinata, sebagai anggota sekalgius pewaris dari klan Hyuuga, seharusnya merupakan kebahagiaan klan pula." Tutup Naruto. Naruto sebenarnya merasa ada makna lain di balik pertanyaan para tetua, tetapi ia memutuskan untuk memberikan jawaban sesuai isi hatinya saja.

Para tetua lalu menatap aneh ke arah Naruto. Sedangkan Naruto yang merasa mendapat tatapan dari semua orang di ruangan, termasuk Hiashi dan Hinata, hanya tersenyum lebar, merasa bangga akan jawabannya.

"Tampaknya para tetua menyukai jawabanku-ttebayo!" dalam pikirannya Naruto melakukan tarian kemenangan.

"Dasar bocah bodoh! Ingin sekali aku menghajar kepalamu itu.." geram Kurama.

"Apa salahku, Kurama? Kenapa tiba-tiba ingin menghajarku…" balas Naruto bingung atas ucapan Kurama.

"Kau lihat sajalah nanti! Baka Naruto!" tutup Kurama lalu segera bersedekap dan tidur. Naruto terpaksa menelan rasa keingintahuannya dan kembali menatap para tetua dengan senyuman.

Sementara Hinata merasa bahagia dengan jawaban Narutonya, Hiashi, seperti Kurama, mendesah keras, frustasi akan kepolosan Naruto.

"Naruto… Maksud dari pertanyaan tetua adalah, apa manfaat yang bisa kau berikan kepada klan. Kau tahu, sejak Hinata berusia 18 tahun, sudah ada 4 orang daimyo maupun pedagang dari berbagai negara yang melamarnya, dan mereka semua menawarkan kekuatan ekonomi mereka maupun posisi menguntungkan bagi klan Hyuuga. Sekarang, para tetua ingin tahu, apa yang bisa kau berikan pada klan Hyuuga?" ucap Hiashi frontal. Sesungguhnya Hiashi tidak ingin mengucapkannya sefrontal ini. Tapi apa mau dikata, Naruto terlalu polos untuk mengerti maksud kata-kata tetua Hyuuga.

Hyuuga Hirai hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Naruto dan terlebih saat mendengar penjelasan blak-blakan Hiashi kepadanya. "Baiklah, aku akui dari segi kepolosan dia memang mirip dengan Hashirama-sama. Aku jadi makin penasaran dengan bocah ini."

"Apa!? Sudah ada yang melamar Hinata-chan!? Hinata, kau menolak mereka, kan?" panik Naruto mendengar pernyataan Hiashi. Tampaknya Naruto menjadi salah fokus akibat kata-kata Hiashi. Bukannya menjawab pertanyaan tetua, ia malah berdiri dari kursinya dan berteriak di hadapan para tetua.

"Uzumaki! Jaga sikapmu di hadapan kami!" Bentak Hyuuga Kaze terhadap Naruto yang dianggapnya tidak sopan karena berani berteriak dengan lancangnya.

"Tapi tetua – "

"Naruto-kun, aku mohon duduklah. Kita bicarakan hal itu nanti ya, Naruto-kun?" bujuk Hinata pelan melihat Naruto yang sedang berargumen dengan tetua. Hinata tak ingin para tetua memandang Naruto lebih buruk lagi dari pandangan mereka saat ini. Jika boleh jujur, Hinata merasa tersanjung karena dari semua perkataan Hiashi, yang benar-benar mendapat perhatian Naruto hanyalah bagian 'Hinata dilamar oleh 4 orang'. Akan tetapi, tindakan gegabah Naruto bisa memperburuk prospeknya di hadapan tetua dan Hinata tak ingin hal itu terjadi.

Mendengar suara lembut kekasihnya, Naruto berhenti berteriak dan segera duduk. Ia melirik ke arah Hinata yang memberikan sebuah pandangan lembut penuh cinta kepadanya. Naruto lalu menundukkan kepalanya lalu berkata, "Maafkan saya, tetua. Saya telah bertindak lancing."

"Ehem.." Hiashi mendehem untuk membawa semua orang kembali fokus pada permasalahan. "Jadi, Naruto, apa yang bisa kau berikan pada klan Hyuuga?"

"Hmm.. Apa yang bisa kuberikan ya.. Kurasa aku tak bisa menjanjikan apapun. Kalian tahu sendiri, aku hanya seorang shinobi biasa dari desa Konoha. Aku menjalankan misi seperti shinobi lainnya, dan tak ada yang spesial dari diriku." Ucap Naruto. Naruto bukannya merendahkan dirinya, tapi Naruto sungguh merasa tak ada yang istimewa dari dirinya. Mungkin menjadi seorang jinchuuriki cukup istimewa, namun sebagai jinchuuriki, tak ada hal khusus yang bisa ditawarkannya kepada klan Hyuuga. Itulah sebabnya, Naruto sangat bersyukur memiliki Hinata yang mencintainya sepenuh hati, bahkan sejak Naruto masih kecil. Naruto tahu, hanya Hinata yang telah memandangnya dengan cinta dan hormat saat ia masih dikucilkan dan dibenci oleh seluruh penduduk desa, berbeda dengan fansgirls – nya yang mulai mendekatinya hanya karena ia telah menjadi pahlawan dunia shinobi.

Sejak mereka menjalin hubungan, Naruto selalu memanjatkan terima kasihnya pada Kami-sama karena telah memberikan gadis sebaik Hinata kepada dirinya. Jika ingin jujur, Naruto sebenarnya tak tahu, bagian apa dari dirinya yang telah membuat Hinata begitu mencintainya. Akan tetapi, Naruto sadar, bahwa cinta memang tak butuh alasan, karena demikian juga cintanya pada sang gadis. Tanpa ia sadari, hatinya telah terkait begitu kuat dengan Hinata. Naruto tak dapat membayangkan seharipun tanpa belahan hatinya ini. Hal ini pula yang membuat Naruto begitu yakin saat melamar Hinata, suatu keputusan yang mungkin dianggap gegabah mengingat usianya yang baru 19 tahun. Namun, tak ada kata terlalu cepat dalam kamus Naruto jika itu tentang hubungannya dengan Hinata. Naruto sudah yakin sejak misinya di bulan, hanya dengan Hinatalah ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya. Jadi, untuk apa menunggu lagi?

Mendengar jawaban Naruto, Hiashi tersenyum kecil, diam-diam bangga dengan jawaban calon menantunya ini. Meskipun Naruto sudah dipastikan akan menjadi Hokage setelah Kakashi meletakkan jabatannya, tak ada sedikitpun niat dalam diri Naruto untuk menyombongkan posisinya itu. Dalam hati, Hiashi merasa bahagia bahwa putrinya telah memilih pria yang tepat sebagai pendamping hidup. Hiashi sendiri sudah membulatkan tekadnya, meskipun pertemuan hari ini tak berakhir baik dan para tetua tetap menolak lamaran Naruto, Hiashi akan tetap mencari cara lain untuk menjaga hubungan putrinya dengan bocah ini.

"Uzumaki…" geram Genji dengan kesal. "Apa kau ingin mengatakan bahwa tak ada yang istimewa dari kedudukanmu sebagai calon Hokage?" tanya Genji dengan menekankan pada bagian 'calon Hokage'.

"Sebenarnya apa maksud dari bocah ini.. Apa ia sengaja mempermainkan kami!?" batin Hisako dengan kesal.

"Ah, itu. Kurasa tak ada yang perlu dibicarakan dari gelar Hokage itu. Aku menjadi Hokage untuk melindungi desa Konoha, dan sebagai bagian dari Konoha, tentu klan Hyuuga sebagai bagian dari desa Konoha juga akan mendapat perlindunganku-ttebayo! Jadi, kalian tak perlu khawatir akan hal itu." Balas Naruto dengan cengiran rubahnya.

"Lancang sekali kau Uzumaki! Apa kau baru saja mengatakan kami tak dapat menjaga diri kami sendiri!?" bentak Hyuuga Minoru yang buka suara untuk pertama kalinya dalam pertemuan ini.

"Eh, bukan begitu, Hyuuga-sama. Saya hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aargh! Kalian semua membuatku bingung-ttebayo! Katakan saja apa maksud kalian!" teriak Naruto frustasi. Naruto sudah bingung dengan pembicaraan para tetua yang berputar-putar daritadi. 'Apa susahnya, sih, mengatakan apa yang mereka inginkan secara terus terang!' batin Naruto.

Tampak semua orang yang berada di ruangan sweatdropped mendengar Naruto yang frustasi. 'Tampaknya dia benar-benar tidak mengerti.. Sepolos apa, sih, bocah ini?' batin Hiashi.

"Naruto, kami ingin mengatakan, apa dengan kedudukanmu sebagai Hokage nantinya, kau bisa menjamin kedudukan politik Hyuuga yang semakin kuat? Kau tahu, sejak zaman Sandaime Hokage, kekuatan politik klan Hyuuga dalam mengendalikan desa sudah berkurang. Sebaliknya, Sandaime lebih memercayakan urusan politik desa kepada wakil klan Shimura, yaitu Danzo serta dua teman setimnya, Koharu dan Homura. Yang ingin kami tanyakan dengan tegas, apa kau bisa berjanji akan mengangkat wakil klan Hyuuga untuk duduk dalam dewan penasihat desa?" tanya Hirai dengan tegas. Ya, dewan tetua desa yang saat ini diduduki oleh Utatane Koharu dan Mitokado Homura serta pernah diduduki oleh Shimura Danzo. Memang dapat dipastikan, siapapun yang duduk dalam dewan tersebut, sedikit banyak dapat mengendalikan politik desa. Contoh yang paling jelas adalah Danzo. Danzo berhasil mengendalikan desa dari belakang dan melakukan banyak hal untuk keuntungan dirinya sendiri. Selain itu, baik Koharu maupun Homura juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan desa, meskipun kedudukan mereka sempat terancam saat Tsunade menjabat sebagai Godaime Hokage.

Di dalam benak pemikiran klan Hyuuga, jika mereka ingin menerima lamaran Naruto, setidaknya mereka harus memperoleh sesuatu sebagai balasannya. Dengan menerima lamaran Naruto, tetua Hyuuga berharap dapat menempatkan salah satu wakilnya dalam dewan penasihat desa. Tentu saja, mereka juga berharap dapat menekan Naruto untuk tidak melakukan tindakan apapun yang berhubungan dengan dua keluarga Hyuuga.

"Tentu. Jika memang tetua Hyuuga pantas untuk duduk dalam dewan penasihat desa, aku akan dengan senang hati melakukannya. Bukan karena aku telah menikahi Hinata, tetapi karena kepantasan kalian sendiri. Aku bukan orang yang gemar melakukan kecurangan seperti itu-ttebayo." Jawab Naruto tegas.

"Jawaban yang bagus, anak muda." balas Hirai, senang melihat ketegasan Naruto. Di sisi lain, kata-kata Naruto tadi hanya membuat para tetua semakin terbakar amarah. Tampaknya, posisi Naruto semakin tidak menguntungkan saat ini.

"Jelaskan padaku, Uzumaki, apa benar, kau memiliki niat menggabungkan kedua keluarga Hyuuga, yaitu Souke dan Bunke menjadi satu keluarga?" Pertanyaan kedua bagi Naruto yang kini diajukan oleh Minoru.

"Ya, memang benar demikian." Jawab Naruto tanpa keraguan sedikitpun. "Itulah janjiku pada sahabatku Hyuuga Neji, anggota Bunke klan Hyuuga yang telah gugur di medan perang demi dunia shinobi. Aku berjanji akan membebaskan seluruh klan Hyuuga yang memiliki segel terkutuk di dahinya dari kungkungan takdir yang mengikat mereka bahkan sejak lahir. Mengapa harus ada keluarga Bunke? Seharusnya seluruh keluarga Hyuuga memiliki kewajiban untuk menjaga Byakugan mereka sendiri, bukan melemparkan kewajiban mereka kepada keluarga Bunke!" Naruto mengakhiri penjelasannya dengan berapi-api. Naruto tahu, dengan jawabannya barusan, kemungkinan lamarannya akan ditolak oleh para tetua. Tapi Naruto juga sadar, tak ada gunanya membohongi klan Hyuuga. Toh suatu hari nanti ia memang berniat untuk melakukan hal ini. Meskipun tanpa restu klan, Naruto akan tetap menikahi Hinata. Dan kelak ketika ia menjadi Hokage, Naruto berjanji pada dirinya sendiri, hal pertama yang akan dilakukannya adalah mengurus klan Hyuuga yang telah berada dalam konflik berkepanjangan sejak pertama kali keluarga Bunke dibentuk.

"Kau tahu, Uzumaki, dengan posisimu yang hendak meminta restu untuk menikahi anggota klan kami, kau cukup berani mengungkapkan dengan jujur alasan utama kami hendak menolak lamaranmu." Balas Hirai.

'Bocah ini memang berbeda dari yang lain. Di saat dalam kondisi terdesak pun, ia tak segan-segan mengungkapkan kejujuran.'

"Ya! Aku tahu sejak awal kalian takut jika aku menikah dengan Hinata, maka aku akan melakukan perubahan terhadap klan Hyuuga! Tapi ketahuilah hal ini, tanpa menjadi anggota klan Hyuuga pun, sebagai Hokage nantinya aku akan tetap mengubah klan ini!" jawab Naruto.

"Hinata tetaplah anggota klan Hyuuga, dan kami tidak akan membiarkanmu menikahi Hinata!" teriak Hyuuga Kaze dengan keras.

Tampak wajah Hinata yang menunduk. Hinata tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Semuanya sudah berjalan di luar rencana. Restu dari tetua kini hanyalah impian. Tak mungkin tetua akan memberinya restu dengan pernyataan Naruto barusan. 'Sebenarnya apa yang Naruto-kun pikirkan, berbicara sejujur itu di hadapan tetua?' batin Hinata sedih.

Hiashi kini tampaknya sudah menyadari rencana Naruto. Hiashi menyeringai tipis. 'Jadi itu rencanamu, eh, Naruto? Ternyata kau memang memiliki rencana…'

"Hinata!" bentak Hiashi tiba-tiba.

"E-eh, y-ya, Otou-sama?" jawab Hinata tergagap karena tiba-tiba dibentak ayahnya yang padahal duduk hanya di sebelahnya.

"Apa kau masih berniat menikah dengan bocah kurang ajar ini!?" tanya Hiashi keras.

"Jangan bentak Hinata-chan, Hiashi-sama!" Balas Naruto dengan keras pula pada Hiashi. Naruto tak suka jika Hinata diperlakukan buruk seperti itu.

"Diam! Aku tak bicara padamu, Uzumaki! Sekarang jawab aku, Hinata! Apa kau masih berniat menikah dengan bocah ini yang telah terang-terangan ingin mengubah tradisi klan yang telah berlangsung selama puluhan tahun?"

Hinata bertanya-tanya terhadap perubahan sikap ayahnya. Tadi malam ayahnya jelas sudah menerima Naruto. Mengapa tiba-tiba ayahnya memihak tetua?

"Tentu saja, ayah! Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahi Naruto-kun!" balas Hinata dengan berani terhadap ayahnya. Kali ini, Hinata tak akan menjadi pengecut lagi. Hinata akan berusaha untuk menjadi seperti Naruto dan menghadapi masalahnya dengan berani. Hinata juga sudah memutuskan, ia tak akan takut pada tetua. Yang paling utama adalah baik dirinya maupun Naruto sudah siap untuk menikah meskipun tetua menghalangi.

"Hinata…! Beraninya kau! Kau.. Kau tidak pantas menjadi anggota klan Hyuuga! Pergi dari hadapanku! Aku, Hyuuga Hiashi, sebagai ketua klan Hyuuga, mulai saat ini telah mengusir Hinata dari klan Hyuuga! Kau bukan lagi anggota klan Hyuuga! Sekarang pergi! Dan kau juga, Uzumaki, bawa gadis ini pergi dari hadapanku!"

Naruto segera membawa Hinata yang tampak akan menangis dari ruangan itu sambil memberikan tatapan garang pada Hiashi. Sementara itu, Hiashi hanya memberikan seulas senyum tipis?


Semua tetua membelalakkan mata mereka melihat kejadian yang sedang terjadi di hadapan mereka . Kemarin malam, jelas-jelas Hiashi masih memohon kepada mereka untuk bertemu dengan Naruto demi 'kebahagiaan Hinata'. Mengapa tiba-tiba sifat Hiashi berubah 180° hanya karena provokasi Naruto? Padahal jelas-jelas kemarin malam para tetua sudah memberikan argument mereka tentang keinginan Naruto mengubah tradisi klan, tapi Hiashi tetap berkeras untuk bertemu dengan Naruto.

"Hiashi, terima kasih karena sudah membuat keputusan bijaksana.." buka Hyuuga Minoru dengan ragu. "Menurutmu, apa yang perlu kita lakukan terhadap gadis pembangkang itu? Haruskah kita memberi segel kutukan padanya? Bagaimanapun juga, ia memiliki Byakugan.."

"Tidak. Ia bukan lagi anggota klan. Aku sudah mengusirnya. Segel kutukan hanya bagi keluarga Bunke. Saat ini Hyuuga tak memiliki otoritas apapun lagi terhadapnya." Balas Hiashi tegas.

Seketika itu juga, Hyuuga Hirai mengerti apa maksud dari tindakan Hiashi barusan. Ia memberikan seringaian kecil, lalu segera beranjak dari kursi yang ia duduki.

"Hiashi, kau memang ketua klan yang hebat. Aku harap kau bisa memertahankan kebijaksanaanmu ini." Ucap Hirai lalu segera pergi menuju ruangannya.

"Hiashi, aku tetap tak setuju. Aku harap kau bisa memberinya segel kutukan." Hyuuga Hisako menyuarakan ketidaksetujuannya. "Menurutku, terlalu mudah jika Hinata pergi dengan Byakugan dan tidak tersegel."

"Bukankah sudah kukatakan, Hisako-dono, gadis itu bukan lagi urusan kita. Sebagai ketua klan Hyuuga, aku sudah secara resmi mengusirnya. Apa kau mau mencoreng kehormatan klan dengan memberikan segel kutukan pada orang yang bahkan bukan anggota klan lagi!?" balas Hiashi dengan keras, lalu segera pergi dari ruangan.

"Sudahlah, Hisako. Setidaknya bocah Uzumaki itu tak akan pernah menjadi anggota klan Hyuuga. Jangan memancing amarah Hiashi, bagaimanapun juga dia masih ketua klan." Ucap Genji berusaha menenangkan kembarannya.

"Heh, kau benar Genji. Sebaiknya aku sudah cukup bahagia dengan perkembangan ini…"


With Naruto & Hinata

"Hinata, jika kau ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan.." Naruto berkata lembut terhadap Hinata. Naruto tahu, sejak keluar dari kediaman Hyuuga, Hinata ingin menangis, tetapi ia menahan air matanya.

"Hiks.. hiks…" Mendengar perkataan Naruto, akhirnya pertahanan Hinata rubuh juga. Air mata mulai mengalir menuruni kedua pipinya dengan deras.

"Shh.. Tak apa-apa… Masih ada aku disini…" Ujar Naruto pelan sambil merangkul Hinata dan mengelus pelan punggungnya untuk menenangkan Hinata.

"A-a-aku t-tak percaya… Ayah t-tega m-m-mengusirku.. Aku k-kira ayah s-sudah m-menyetujui hubungan k-kita, Naruto-kun…"

"Hinata.. Maaf, tapi sebenarnya, ini semua bukan salah ayahmu… Ini adalah bagian dari rencanaku…"

"A-apa?" Hinata terkejut. Ia segera menatap Naruto meminta penjelasan.

"Jadi begini…"

Flashback

"Heh, kau membuatku terharu, bocah pirang!" balas Kurama dengan sarkastik. "Sekarang, pasang telingamu baik-baik karena aku akan memberikan nasihatku yang berharga!"

Naruto lalu mendengar dengan serius akan nasihat dari Kurama yang diharapkan Naruto dapat membantunya menghadapi segala permasalahan dengan klan Hyuuga ini.

"Naruto, permasalahan utama disini adalah klan Hyuuga tak ingin kau menikah dengan Hinata sebagai anggota klan Hyuuga. Sebab, jika kau menikah dengan Hinata dalam kondisi Hinata adalah anggota Hyuuga, maka otomatis kau juga akan menjadi anggota klan Hyuuga, yaitu menantu dari ketua klan, Hyuuga Hiashi." Jelas Kurama kepada Naruto.

"Ehm, jadi sebenarnya mereka tak ingin aku menikah dengan Hinata karena dia adalah anggota klan Hyuuga? Jadi apa yang harus kulakukan-ttebayo! Bagaimanapun juga Hinata akan selalu menjadi klan Hyuuga!" tanya Naruto dengan panik.

"Hinata tak perlu 'selalu' menjadi klan Hyuuga, Naruto."

"Apa maksudmu, Kurama?"

"Jika Hiashi mengusirnya dari klan Hyuuga dan tak mengakuinya sebagai anak lagi, Hinata bukanlah anggota klan Hyuuga lagi. Bukan hanya isu pernikahanmu dengan Hinata yang akan lebih mudah diselesaikan, bahkan di masa depan nanti kau akan lebih mudah mengurus konflik internal klan sialan itu."

"Maksudmu, kau ingin Hiashi mengusir Hinata dari klan Hyuuga bahkan hingga tak mengakuinya sebagai anak lagi!?" Naruto benar-benar tak menyangka saran semacam inilah yang akan diberikan Kurama. "Saran macam apa ini, Kurama! Apa kau tak pernah memikirkan sesedih apa Hinata jika ia diusir oleh ayahnya sendiri!?"

"Kau bisa menjelaskan hal itu padanya nanti, Naruto. Dilihat dari sisi manapun, ini adalah keputusan yang paling menguntungkan bagi kalian berdua. Bayangkan jika seandainya lamaranmu diterima para tetua dan kau menikah dengan Hinata dari klan Hyuuga. Kelak ketika anak-anakmu lahir, mereka akan mendapat ancaman segel kutukan sebab mereka terlahir dari seorang ibu yang masih anggota sah klan Hyuuga. Kalaupun tidak, kelak saat kau ingin mengurus keluarga Souke dan Bunke para tetua bisa saja menggunakan anak-anakmu sebagai ancaman agar kau tidak mengambil tindakan apapun."

Naruto terdiam mendengar penjelasan Kurama yang benar-benar logis dan tak bercela. Memang, Naruto sempat memikirkan nasib anak-anaknya kelak seandainya anak-anaknya terlahir sebagai anggota klan Hyuuga pula mengingat Hinata yang merupakan putri ketua klan. Ancaman segel kutukan terhadap anak keduanya pasti ada. Tetapi, tak sekalipun ia pernah berpikir sejauh ini.

"Kurama, apa kau yakin tak ada jalan lain lagi? Bagaimanapun juga, aku tak ingin Hinata mengorbankan keluarganya hanya – "

"Mengorbankan keluarganya kau bilang!? Hyuuga tak pernah menjadi keluarga bagi gadis itu, Naruto! Hyuuga hanya bisa menghinanya sedari kecil. Seharusnya kau yang paling tahu tentang hal itu, Naruto!"

"Bagaimana dengan ayahnya, Kurama? Hubungan Hinata dan ayahnya sudah membaik. Aku bahkan bisa melihat dari sorot mata Hiashi bahwa ia memang mencintai putrinya"

"Hiashi bukan orang bodoh, Naruto. Ia bisa saja mengeluarkan Hinata dari klan Hyuuga, tapi bagaimanapun juga hubungan ayah dan anak bukanlah sebuah hubungan yang terikat oleh sebuah marga. Hiashi pasti tahu akan hal itu."

Semakin didengar, argument Kurama semakin masuk akal. Tak ada lagi hal yang bisa dipikirkan Naruto. Ini memang jalan yang paling tepat diambil bagi Naruto. Ada setitik rasa bersalah dalam hati Naruto, mengingat ia bahkan belum menanyakan kepada Hinata apakah ia ingin meninggalkan klannya demi hidup bersamanya. Ia hanya seorang anak yatim piatu yang tak punya apa-apa. Warisan dari kedua orang tuanya hanyalah sebuah syal rajutan ibunya dan Kurama yang kini tinggal di dalam tubuhnya. Apakah Hinata benar-benar mau menghabiskan sisa hidupnya bersamanya bahkan hingga meninggalkan klannya sendiri? Apakah tak egois jika Naruto yang mengambil keputusan ini bagi dirinya?

"Bocah bodoh, singkirkan pikiran anehmu itu. Dari semua orang yang kulihat pernah dekat denganmu, Naruto, gadis itu memiliki perasaan paling tulus terhadapmu. Jangan lupa ia bahkan rela mengorbankan nyawanya demimu, bocah." Jangan lupakan Kurama bisa merasakan apa yang dipikirkan Naruto mengingat Kurama sendiri tinggal di dalam pikiran Naruto. Ia bisa merasakan keraguan Naruto akan sarannya ini.

"Bolehkah aku memberi tahu hal ini pada Hinata, Kurama?"

"Tak bisa, Naruto. Hinata adalah orang yang tak dapat menyembunyikan perasaannya. Memberi tahu Hinata rencana kita akan membuat sikap Hinata menjadi tak natural pada pertemuan nanti dan akan berakibat para tetua yang bisa mengendus rencana kita."

Naruto menyadari kebenaran dalam kata-kata Kurama. Ini adalah rencana penting yang tak boleh diketahui siapapun. Tetapi, Hiashi pasti harus mengetahui hal ini.

"Kurama, bagaimana cara kita member tahu Hiashi? Aku tak mungkin bertemu dengannya tanpa Hinata!"

"Hiashi adalah pria yang cerdas, Naruto. Kau cukup mengarahkan pembicaraan agar para tetua mengungkit-ungkit garis keturunan Hinata sembari membuat tetua marah. Kita hanya bisa berharap Hiashi menyadari tanda-tanda yang kau berikan tadi, Naruto."

"Aku mengerti Kurama. Terima kasih atas bantuanmu.. Terima kasih…" Naruto sungguh berterima kasih terhadap Kurama. Ia tak menyangka Kurama bahkan memikirkan masa depannya dengan Hinata hingga sejauh itu.

"Heh, berhentilah bersikap sentimen, bocah. Kau membuatku merasa jijik." Seperti biasanya, Kurama tetaplah Kurama yang dulu. Meskipun dari luar Kurama tampak sebagai bijuu sombong yang kasar, sebenarnya Kurama sendiri memiliki jiwa yang baik. Pengaruh manusia yang begitu membencinya, itulah yang membuat Kurama dulunya sempat begitu membenci manusia pula. Ketika Kurama mengenal Naruto, manusia pertama setelah Rikudou Sennin yang bisa bersikap tulus padanya, perlahan Kurama pun mulai berubah, menjadi Kurama yang dulu ; Kurama yang pertama kali dibentuk oleh Rikudou Sennin.

"Baiklah, Kurama! Aku harus segera kembali ke dunia nyata! Tampaknya Hinata sudah bingung-ttebayo! Jaa!"

End of flashback


Hinata terdiam mendengar penjelasan Naruto. Ia benar-benar tak menyangka. Kekasihnya bahkan sudah memikirkan sejauh itu. Secara logika, memang jalan keluar inilah yang terbaik bagi keduanya. Hinata memang tak memiliki ikatan apapun dengan klannya selain dengan ayah dan adik perempuannya. Tak ada sedikitpun penyesalan dalam diri Hinata karena ia kini bukan lagi bagian klan Hyuuga. Satu-satunya penyesalan yang ada tadi hanyalah bahwa hubungannya yang kembali rusak dengan ayahnya. Namun, setelah mendengar penjelasan Naruto, Hinata kini tak lagi khawatir tentang hubungannya dengan ayahnya.

Melihat Hinata yang hanya terdiam, Naruto menyalahartikannya sebagai Hinata yang sedang sedih ataupun marah. Mungkin Hinata merasa marah karena Naruto sudah secara sepihak memutuskan hubungannya dengan klan Hyuuga. Naruto kini merasa bersalah dan malu atas tindakannya tadi

"Hinata.." panggil Naruto pelan. "Maafkan aku.. Seharusnya aku meminta izin padamu dulu. Tak sepantasnya aku yang mengambil keputusan sepenting ini dalam hidupmu, Hinata. Mungkin saja kau lebih memilih klan Hyuuga daripada – "

Ucapan Naruto terpotong begitu saja oleh Hinata yang menciumnya mesra. Untuk pertama kalinya sejak mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Naruto dicium oleh Hinata. Biasanya, Hinata terlalu malu untuk mengambil tindakan berani seperti ini.

"Ciuman ini terasa berkali-kali lebih nikmat-ttebayo.. Kenapa aku tak meminta Hinata menciumku sejak dulu.."

Fantasi Naruto terputus bersamaan dengan diakhirinya kecupan tersebut oleh Hinata. Tampak wajah Hinata yang memerah menahan malu. Setelah diam beberapa saat sambil mengumpulkan nafas, Hinata akhirnya buka suara.

"N-Naruto-kun.. Kau tak perlu meminta maaf. Tak ada sedikitpun penyesalan dalam diriku karena kini aku bukan lagi bagian klan Hyuuga. Malah, aku merasa bahagia. Kini aku tak perlu lagi merasakan tatapan merendahkan dari klan itu lagi, dan masa depan anak-anak kita kelak pun kini sudah terjamin. Dan Naruto-kun, aku rela melakukan apapun jika itu untuk bersama dengan dirimu, bahkan nyawaku sekalipun akan kuberikan demi dirimu, Naruto-kun.. Karena aku mencintaimu.."

Naruto sangat terharu mendengar pengakuan Hinata ini. Wanita ini.. satu-satunya wanita yang begitu mencintainya (selain ibunya, tentunya). Detik itu pula, Naruto bersumpah dalam hatinya, ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan wanita ini. Naruto lalu memeluk Hinata erat.

"Terima kasih, Hinata.. Terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih…" Naruto menangis bahagia dalam pelukan sang wanita. Hinata hanya memberikan senyuman tulus sembari mengelus punggung Naruto pelan.

"Ne, maaf Hinata-chan. Aku malah menunjukkan sisi tidak keren ini padamu." Ujar Naruto sambil memberikan senyuman lebarnya setelah ia berhenti menangis.

"Nah, Hinata-chan, sebaiknya kita segera pulang ke apartemenku-ttebayo! Dan bersiaplah, Hinata-chan, karena mulai besok kita akan segera memulai rancangan persiapan pernikahan kita-ttebayo!" Seusai mengucapkan kata-kata tersebut, Naruto segera menggendong Hinata bridal style, lalu meloncat cepat menuju apartemennya.

"K-kyaa, Naruto-kuun!" pekik Hinata saat merasakan Naruto meloncat dengan cepat dari atap ke atap.

"Pegangan yang erat, Hinata-chan!"

END


Yosh! Demikianlah akhir dari fics ini.. Sekali lagi, hontou ni gomennasai karena updatenya yang begitu lama T.T Saya berharap, chapter ini bisa menjadi penutup yang memuaskan bagi para pembaca trilogy saya ini.. Untuk chap 4 (epilogue), akan segera diupdate besok malam/Jumat pagi. Statusnya masih ongoing ya, karena epilogue belum diupdate hehe.

Terima kasih sebesar-besarnya bagi semua pembaca fics ini, baik reviewers, silent readers, followers, maupun yang sudah memfavorit fic ini. Dukungan kalian semua sungguh sangat berarti :"D