6 FIRST KISSES Chapter 3

Second: Inuzuka Kiba dan Rekan satu Tim

"Hey Tenten, kenapa kau melamun seperti itu? Ini kan ditempat kerja." Teguran Tayuya menyadarkan lamunan Tenten, ia hanya mengerucutkan bibirnya melihat senior cerewetnya yang satu itu.

"Untukmu." Tiba-tiba seorang pria tidak dikenal meletakkan sebuah amplop cokelat diatas meja di hadapan Tenten dan berlalu begitu saja, membuat gadis itu lagi-lagi terheran-heran ketika mendapati tak ada alamat maupun nama pengirim yang tertera di luar amplop tersebut.

.

.

Tenten membuka lemari lokernya dan mengeluarkan tas serta pakaian gantinya. Hari ini waktu berlalu lebih cepat daripada yang diharapkan. Tau-tau sudah pukul 9 malam saja yang artinya jam kerjanya sudah berakhir dan saatnya pulang kerumah. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya, sebuah amplop. Buru-buru dibukanya amplop tersebut dan membaca secarik kertas dengan tulisan singkat berbunyi: "Kutitipkan ini sementara padamu."

Didalam amplop terdapat sebuah flashdisk dan gadis itu menyimpannya didalam tas, berganti pakaian, dan lekas bergegas pulang kerumah. Jalan yang dilalui Tenten memang sepi, tapi biasanya suasananya takkan sesunyi ini, terlebih lagi waktu masih menunjukkan pukul 9 lewat sedikit saja. Dan entah kenapa beberapa sumber penerangan di tempat itu tidak menyala, menjadikannya remang-remang.

Tiba-tiba seorang pemuda mencegat Tenten dan menghalangi jalannya. Pemuda itu memakai jaket hitam dan sebuah topi hitam yang menutupi matanya. Tenten sangat takut dan hampir saja berteriak jika pemuda itu tidak menaikkan topinya sedikit dan memperlihatkan wajahnya dengan utuh.

Hah! Bukankah dia adalah Inuzuka Kiba si detektif kepolisian Konoha yang terkenal itu?!

"A-apa yang terjadi ini?" tanya Tenten dengan takut-takut. Apakah ia dituduh terlibat dalam kasus pembunuhan?

Kiba tidak berkata apa-apa dan hanya menyodorkan tangannya kehadapan Tenten, meminta sesuatu. Butuh beberapa detik bagi otak lemot Tenten untuk mencerna bahwa surat berisi flashdisk yang didapatnya tadi siang ternyata dari Kiba, dan sekarang pemuda itu memintanya kembali. Tenten langsung mengeluarkan benda kecil itu dari tasnya dan memberikan pada Kiba.

"Terimakasih. Maaf aku mendadak melibatkanmu. Segeralah kembali pulang."

Pria dengan gigi taring runcing itu langsung saja meninggalkan Tenten tanpa sepatah katapun, namun baru menjauh beberapa langkah, seseorang telah menodongkan pistol ke kepala Kiba. Membuat Tenten memekik tertahan. Beberapa orang langsung mengerumuni mereka berdua.

"Kau sudah terpojok, tuan Inuzuka Kiba. Sekarang serahkan bukti yang kau miliki bahwa kami bermain kotor dalam organisasi perusahaan." Pria setengah baya yang memegang pistol itu berkata dengan sengit.

Tenten meringis, kenapa ia harus ikut terlibat dalam masalah ini? Kiba masih terdiam, sementara gadis itu menjaga pergerakannya agar tidak terlihat mencurigakan dan mengundang masalah. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh detektif ini? Apakah ia akan terus diam sampai bala bantuan datang ke TKP?

Tiba-tiba dengan secepat kilat Kiba menepis pistol tersebut dan menendang pria itu. Kiba langsung mengambil pistol yang terjatuh dan dengan cepat menembaki kaki anak buah pria itu sebelum mereka menyerang lagi. Sementara Tenten yang ketakutan dengan adegan tembak menembak didepan matanya itu hanya bisa berdoa dalam hati sambil menutup kedua telinganya dan berjongkok, bersikap was-was agar tidak terkena peluru yang meleset. Seberapa hebat pun Kiba melawan mereka, ia tetap saja terpojok karena jumlahnya yang kalah banyak. Meskipun sebagian kaki dari para mafia itu sudah tertembak, sebagiannya lagi masih bisa lolos dari tembakan dan berusaha untuk mengeroyok Kiba meskipun ia tetap berusaha melawan dengan kehebatan beladiri nya.

"Jatuhkan senjatamu atau gadis ini akan mati." Tiba-tiba suara pria pimpinan geng mafia itu menerobos masuk ke indera pendengaran Kiba, otomatis langsung menghentikan aksinya menembak dan menendang. Ia melihat Tenten sudah dibekap dengan sebuah pisau lipat yang diarahkan ke lehernya.

Kiba langsung menjatuhkan pistolnya kebawah kakinya. Tenten pernah mendalami seni beladiri silat di sekolahnya, bahkan ia pernah menjadi pemimpin organisasi karena kehebatannya mengalahkan murid-murid yang menjadi lawannya. Dengan cepat Tenten menendang kemaluan pria itu, ketika pria itu membungkuk karena kesakitan, ia menendang wajah dan perut pria tersebut dengan lututnya hingga pria itu jatuh ke tanah. Melihat aksi Tenten, Kiba pun kembali memungut pistolnya dan menembak kaki para anggota mafia yang masih tersisa sehingga mereka tidak bisa berlari kemanapun. Setelah semuanya tumbang, Kiba memberi sinyal pada kepolisian Konoha untuk datang dan mengamankan lokasi kejadian.

"Aksimu boleh juga." Ujar Kiba basa-basi pada Tenten. Pasukan polisi Konoha sudah datang dan mengamankan TKP.

Tenten hanya menyengir untuk menanggapi. Tadi itu benar-benar menegangkan, seperti aksi di film-film saja. Syukurlah ia masih hidup sampai saat ini.

"Maaf aku melibatkanmu dalam kejadian ini."

"Kalau aku boleh tau kenapa kau memberi amplop itu padaku? Kenapa aku? Kenapa tidak orang lain yang lebih kau kenal?" tanya Tenten.

Kiba tertawa renyah. "Aku memang mengenalmu. Kau tidak ingat aku? Kita pernah menjadi rekan satu tim."

Sekarang giliran Tenten yang tertawa garing. Rekan satu tim? Yang benar saja. Ia tidak pernah menjadi rekan seorang detektif untuk menyelidiki kasus bersama-sama. Percayalah Tenten tidak sepintar itu. "Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Kau tidak ingat? Ketika kau kelas 5 sekolah dasar, dan aku kelas 6. Kita pernah membantu anak yang menangis karena kehilangan sepatunya."

Tenten langsung menutup mulutnya dengan spontan. Ia ingat dulu kakak kelasnya pernah ikut membantu ketika Tenten mencari sepatu seorang anak kecil yang hilang sebelah. Tenten Cuma mengingat bahwa dulu kakak kelasnya itu adalah orang yang tinggi dan pendiam, saat membantu pun ia tak banyak bicara. Keesokan-keesokan harinya disekolah, gadis itu tidak pernah bertemu lagi dengan kakak kelasnya tersebut karena anak kelas 6 sudah meyelesaikan ujian nasional dan sudah berlibur panjang.

"Jadi kau adalah kakak kelasku di sekolah dasar? Bagaimana kau bisa ingat aku?" tanya Tenten dengan heran.

"Aku ingat kedua cepol dirambutmu itu. Wajahmu pun tak jauh berbeda perubahannya." Jawab Kiba dengan singkat. "Aku sudah mengantisipasi situasi dengan memasukkan flashdisk itu kedalam amplop dan berniat menitipkannya pada seseorang sementara aku menyelidiki mafia-mafia itu lebih jauh lagi. Tapi ketika aku menyelidiki mereka sampai ke bandara, aku ketahuan dan langsung dikejar oleh anak buah mereka. Saat itu aku yg melihatmu tanpa pikir panjang langsung meminta seseorang untuk memberikan ini padamu, dan melarikan diri. Aku tidak menyangka mereka akan menemukanku ketika aku sedang berbicara denganmu sehingga aku hampir membahayakan nyawamu." Jelas Kiba panjang lebar.

Tenten hanya bisa menatapnya tanpa berkata sepatah katapun. Tidak disangka seorang detektif terkenal yang hanya bisa dilihatnya dari tivi kini sedang berada di hadapannya dan ternyata pernah terlibat masalalu dengannya!. Apakah ini juga bagian dari 'mimpi sepuluh detik' ?

"Tidak. Terimakasih juga kau sudah menyelamatkan nyawaku." Ujar Tenten, tersenyum manis.

Kiba terpana dan tanpa sadar memegang pundak Tenten. Membuat gadis itu melihat langsung kedalam mata hijau milik Kiba. Seolah tersihir keduanya saling memajukan wajahnya dan berusaha memperpendek jarak diantara mereka.

Mungkin pada detektif inilah aku akan memberikan ciuman pertamaku. Pikir Tenten sambil memejamkan kedua matanya dengan erat.

Sebelum bibir mereka saling bertemu, ruang dan waktu kembali terhenti. Semuanya membeku, orang-orang terdiam bagai patung manekin. Beberapa detik kemudian semua kembali normal lagi. Tenten berdiri sambil celingak-celinguk memperhatikan pengunjung bandara yang berlalu lalang, pemandangan yang paling familiar yaitu kedua pasangan yang sedang bertengkar dihadapannya. Dilihatnya kartu kedua diatas meja perlahan-lahan membentuk wajah seseorang. Wajah Inuzuka Kiba yang sedang tersenyum kearahnya.

Lalu beberapa detik berselang ada Tayuya dan Karin yang kembali dari toilet dengan bedak dan lipstik yang amat tebal, dan jam yang menunjukkan pukul 14.20. benar-benar de ja vu yang begitu nyata. Gadis itu menghela nafas lagi dan meraih kartu dengan foto Kiba. Ia membalik kartu itu dan tertera sebuah tulisan dibelakangnya: "jangan ciuman."

"Ternyata begitu, aku akan kembali ke waktu semula jika kami berciuman." Gumam Tenten dengan wajah berpikirnya yang amat dibuat-buat.

Yoosh! Siapapun pria berikutnya yang akan kutemui, ia tetaplah pria hebat dan akan kupastikan kami takkan berciuman sehingga aku takkan kembali ke waktu semula lagi!

To Be Continued

Huwaa apaan tuh adegan actionnya maksa bangettt T_T tapi karena ini bukan fiksi action jadi harap dimaklumi yaw dan anggap saja bahwa potongan adegan itu cuma sebagai pelengkap aja :"D meskipun adegan romantisnya juga terkesan gak natural T_T #Pundung. Harap dimaafkan ya teman-teman. Sedikit bocoran, untuk chapter depan akan hadir ikemen kebanggaan kita, Gaara! Yeaay #sorak-sorak&taburbunga :V