Summary: Slaine menggeleng "Aku menyukainya".

Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Genre: Romance, YAOI ALLERT

Rate: T

Pairing: Inaho x Slaine

Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan

Italic : Inaho POV

DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~

ORENJI BUTLER

(chap 3)

'Orange and Bat'

Kami berjalan mengelilingi area ini, pusat penjualan barang bekas terbesar di kota. Mulai dari pakaian, barang elektronik, barang-barang yang di produksi di abad ke 16 bahkan buku-buku yang sudah tidak diproduksi lagi semua bisa didapatkan di tempat ini. Aku memegang tangannya, jari jemarinya sedikit lebih panjang dariku, kulirik dia dari sudut mataku, dia tersenyum dengan wajah merona merah dari balik kacamata berframe merah yang digunakannya. Rambutnya yang sudah sedikit panjang dia ikat ke belakang, tapi tidak semuanya. Ada beberapa helai yang dia biarkan bebas. Sesekali tertiup angin yang hari itu memang sedikit lebih kencang. Membuatnya berayun dari kanan ke kiri.

"Orenji, aku baru pertama kali ke tempat seperti ini.. hihi"

"Itu karna kau terlalu malas meninggalkan kamarmu"

"Aku tidak malas!"

"Hmmm"

"Aku.. aku hanya takut tersesat.." aku Slaine kepada Inaho

Kembali wajahnya memerah saat mengakui kelemahannya. Dia terlihat sangat imut saat membuang wajahnya seperti itu. Kembali kulirik dia yang tiba-tiba berhenti berjalan. Kepalanya masih menoleh ke arah tadi. Dari surainya yang berwarna kuning pucat dengan jelas kulihat ada uap panas yang keluar. Aku mengikui arah pandangannya. Tidak jauh dari kami, sepasang manusia terlihat sedang asik berciuman di depan toko roti dengan gaya Eropa Kuno. Si Pria dengan santai menutup sebagian wajah mereka dengan buku yang tentu saja membuat orang yang melihat mereka tau apa yang sedang terjadi.

"Ba..ba..bagaimana bisa mereka beciuman di tempat umum seperti ini?" Tanya Slaine hampir dengan suara yang tidak terdengar menahan malunya

"Seperti ini Bat Chuuuuuup"

Aku yang sudah tidak bisa menahan diri menciumnya tepat di bibir. Kulihat matanya terbelalak kaget. Tapi dengan cepat kupegangi kedua pipinya memaksa kepalanya untuk tetap dalam posisi itu. Jangan salahkan aku, salahkan dia yang terlihat begitu sangat menggoda. Wajah di hadapanku semakin memerah saat beberapa orang mulai melihat ke arah kami sambil berbisik.

"Ahorenji! Kau tidak malu melakukan hal itu?" Slaine bertanya dengan suara pelan, Kedua tangannya menutup wajahnya yang benar-benar merah.

"Malu? Kenapa? Kau kan pacarku"

"Ta..tapi tidak di depan umum juga. Maksudku Bagaimana kalau tadi ada yang memotret dan menyebarkannya di internet? Kita memang sudah menyamar, tapi bagaimana kalau ada yang mengenali kita? Bisa-bisa…" Slaine tidak melanjutkan kalimatnya, dahinya sedikit berkerut tanda dia sedang memikirkan kalimat yang tepat.

"Kalau Asseylum-san tau dan Ayahmu tau?"

Tanpa fikir panjang kutanyakan hal itu. Air mukanya berubah menjadi serius, Slaine yang tampak imut dengan rona merah di wajahnya hilang sudah saat kutanyakan pertanyaan itu. Kita sedang menikmati kencan yang sangat sulit kita lakukan. Tapi di kepalanya masih saja mengingat orang lain. Aku memasuki toko buku bekas tertua di area itu, kulihat dia sedikit berlari menyamakan langkah denganku. Dengan cepat dia menarik tudung jaketku saat kami memasuki toko itu.

Buku-buku di toko tertata rapih, terpisah antara buku dengan hardcover dan softcover. Terpisah antara yang ukurannya paling besar, sedang dan kecil. Teratur sesuai dengan tahun terbitnya. Dan teratur sesuai abjad, memudahkan orang-orang untuk mencari apa yang mereka butuhkan di lautan buku ini. Bata ekspose menjadi pilihan utama dari pemilik toko dalam desain interiornya, di dinding terpasang beberapa board berisi pesanan dari berbagai macam buku. Toko ini tidak hanya menjual buku bekas tapi juga sebagai tempat orang memasang iklan baik menjual buku atau memesan.

Sebenarnya aku sedikit cemburu saat Slaine terlihat sangat antusias mencari sebuah judul di bagian novel. Dengan teliti dia membaca 1 demi 1 jejeran judul itu. Dia bisa seserius itu demi menemukan buku yang sama persis dengan buku milik Asseylum-san. Siapapun pasti marah saat pacarnya memikirkan orang lain sampai segitunya di kencan mereka. Tapi jika bukan karna Asseylum-san kami juga tidak akan berada di sini untuk yang ini aku berterima kasih.

Slaine Saazbaum Troyard, hampir semua orang di negara ini mengenalnya. Anak tunggal dari pengusaha terkaya di negara ini, dan di masa akan datang dipastikan akan menjadi pemimpin negara setelah menikah dengan Asseylum-san cucu satu-satunya dari Sang Kaisar. Dia nyaris terlihat sempurna di mata orang-orang, kaya, ramah, pintar. Tapi ada yang tidak mereka tau. Meskipun sudah bertunangan, Slaine sebenarnya tidak menyukai tunangannya itu tepatnya hanya menganggap tunangannya sebagai adik dan temannya sejak kecil. Hubungan di antara Asseylum-san dan Slaine semuanya diatur kedua tidak tau Slaine punya orang lain yang sangat dicintainya, yaitu aku butler bahkan tidak tau, Slaine itu cengeng, manja, semberono.

"Ahorenji, kau pasti membodoh-bodohiku lagi di dalam fikiranmukan?" Slaine memukulkan sebuah novel setebal 300 halaman tepat di muka butlernya.

"Tidak. Yang kufikirkan itu seratus persen tepat"

"Haaaah?"

"Kau itu cengeng, bodoh, manja, egois, semberono, tidak bisa apa-apa tanpaku dan kau hanya cinta kepadaku"

"U..U..urusai!"

Dia berjalan menuju kasir masih dengan muka sebalnya. Bahkan marahpun di terlihat sangat imut di mataku. Aku mengambil buku yang dia pegang setelah kami membayarnya di kasir. Bagaimanapun dia ini tuanku, tidak pantas melihatnya membawa barangnya sendiri. Terlebih dia pacarku,aku tentu saja tidak tega bagaimana kalau dia sampai kelelahan dan jatuh sakit? Aku tidak keberatan merawatnya hanya saja Asseylum-san itu pasti lagi-lagi datang jika Slaine sakit.

"Sekarang kita mau ke mana lagi? Aku masih belum ingin pulang"

"Hmm. Kebetulan hari ini aku memang berniat mengambil pesanan"

"Pesanan apa Orenji?"

"Kau pasti akan menyukainya Bat"

Dia tersenyum, tanpa malu ataupun risih dia mengapit lenganku. Kami berjalan pelan –menikmati setiap detik yang sangat jarang kami dapatkan–menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari area itu. Kembali dia menghentikan langkahnya saat kami sampai di taman kota.

Beberapa anak kecil terlihat berlarian di tengah kerumunan kawanan merpati yang asik memakan roti pemberian pengunjung. Kepakan sayap dari burung lambang cinta itu membelah udara, membuat suara seperti tabuhan gendang dengan irama sedikit sumbang.

Aku mengajaknya ke tengah taman, petugas yang melihat kami datang kepada kami memberi sebungkus roti yang sudah dipotong dengan ukuran sebesar dadu kepada kami. Mata hijau kebiruan itu berbinar saat kutumpahkan beberapa potong roti ke tangannya. Tidak beberapa lama, burung-burung yang tadi sempat terganggu ulah dari anak-anak kecil kembali, beberapa bertengger di lengan Slaine. Senyum lebarnya merekah, memamerkan barisan gigi putihnya.

Beberapa ekor merpati lain mulai mendekatinya, tangannya yang lumayan besar itu hanya mampu menampung beberapa ekor merpati yang terlihat sedang berebutan remah-remah roti. Sedangkan beberapa yang lain terlihat mengerumuni area di sekitar kakinya. Juga berebut remah-remah yang tanpa sengaja di jatuhkan Slaine.

"Ittai…" Slaine menarik tangannya, menyebabkan burung-burung itu kembali terbang berhamburan. Dengan cepat si pirang meniup-niup ujung jari telunjuknya yang sedikit mengeluarkan darah. "Hahaha, Kau seperti anak perempuan saja Orenji. Membawa plaster obat ke mana-mana" Lanjut Slaine setelah beberapa saat.

Aku menarik tangannya, mengisap beberapa tetes darah yang keluar dari ujung telunjuknya itu. Kulihat wajahnya memerah saat kulakukan hal itu, beberapa anak kecil yang memang sejak tadi memerhatikan kami tampak makin tertarik melihat kami. Setelah darahnya berhenti mengalir kuambil selembar plester luka yang memang selalu kubawa. Yah di setiap saku pakaian milikku aku selalu menyimpan 3-5 lembar plester luka mengingat betapa cerobohnya Slaine, misalnya saja sekarang.

"Minta maaflah kepada orang-orang bijak yang selalu membawa benda itu Bat"

~O~O~O~O~O~O~O~

Slaine duduk di salah satu sudut taman di kediamannya. Dua buah cangkir porselen dengan ukiran indah tampak di pegangan dan sebagian cangkir. Beberapa macam cemilan kue yang terlihat lezat mulai dari yang berbahan coklat, keju, buah bahkan yang dari sari teh hijau tampak tertata rapih di atas sebuah tempat yang di susun di atas piringan bundar bertingkat. Di hadapannya Asseylum sedang tersenyum membaca lembar demi lembar novel yang baru saja diberikan Slaine kepadanya. Novel yang sama yang pernah dia baca sekitar sepuluh tahun lalu (setidaknya isinya sama) dan entah bagaimana dia hilangkan.

"Slaine-kun, Aku tidak menyangka kau akan menemukannya" Wanita itu berterima kasih dengan mata penuh binar bahagia kepada tunangannya.

"Tidak masalah Asseylum-Hime"

"Tunanganku memang lelaki terhebat di dunia ini" Kembali sang putri menyesap teh di cangkirnya. Begitu pula Slaine, dengan khawatir dia melirik ke arah Inaho takut-takut pacarnya marah mendengar ucapan Asseylum. Tapi Inaho seperti biasa tidak menampakkan ekspresi apapun di wajahnya.

Inaho sedikit membungkukkan badannya ke depan ke arah Slaine, berbisik sangat pelan agar tidak ada satupun yang mencuri dengar, tidak Asseylum tidak pula Harklight bahkan tidak untuk tanaman yang tertata indah di taman itu.

"Bisa aku keluar sebentar? Aku harus mengambil barang pesananku"

"Yang tadi akan kita ambil bersama tapi tidak jadi?" Slaine bertanya balik

Inaho mengangguk, Slaine terlihat sedikit menimbang-nimbang. Dia sebenarnya ingin ikut, sudah tidak sabar ingin tau benda apa yang dipesan Inaho. Tapi saat tadi mereka akan ke tempat itu, Asseylum menghubunginya dan berkata akan mengunjunginya untuk minum teh sore beberapa lama Slaine mengangguk, diikuti gerakan menunduk Inaho dengan sebelah tangan di dada, dan lalu hilang dari balik pintu yang menhubungkan taman dengan rumah utama.

"Mau kemana dia Slaine-kun?" Tanya Asseylum dengan sopan tetapi ada nada sinis di suaranya

"Dia meminta izin, katanya harus membeli sesuatu"

"Butler macam apa yang meninggalkan tuannya begitu saja? Sebaiknya kau pecat saja dia!"

Empat siku muncul di pelipis Slaine, dengan berusaha menahan amarahnya, Slaine tersenyum ke arah tunangannya di hadapannya.

"Masa dia harus kehilangan pekerjaan hanya karna meminta izin sebentar ke suatu tempat? Butler juga manusia, wajar jika mereka sesekali meminta izin untuk hal pribadi mereka. Dan lagi susah mencari butler sesempurna dia, kecuali jika kau mau mengembalikan Harklight padaku Asseylum-hime" Slaine tersenyum ke arah Asseylum, di sampingnya Harklight hanya bisa membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. "Aku bercanda"

"Slaine-kun, kakek akan mengadakan pesta natal di salah satu pulau pribadi miliknya di daerah selatan. Bagaimana kalau kau juga ikut bersama kami? Bagaimana pun kau itu tunanganku, sudah sewajarnya kau ikut bukan?"

"Aku menghargai undanganmu Asseylum-hime, tapi setiap tahun Papa juga mengadakan pesta natal dengan relasinya. Bagaimana tanggapan mereka nanti kalau aku satu-satunya penerus keluarga malah tidak hadir"

Asseylum diam menatap pria yang sudah menjadi tunangannya di hadapannya ini. Pria itu masih tersenyum, membuat semua kecurigaan Asseylum hilang. Yah setiap tahun memang keluarga Saazbaum mengadakan pesta natal besar-besaran dan di sana jugalah pertama kali mereka bertemu beberapa tahun lalu.

"Tapi untuk acara tahun baru bisakan? Keluargamu tidak membuat pesta tahun baru besar-besaran" Sekali lagi Asseylum bertanya.

Senyum di wajah Slaine memudar sedikit saat Asseylum ternyata masih belum menyerah mengajaknya ikut di acara keluarganya. Kali ini dia tidak menemukan alasan tepat untuk tidak ikut. Mana mungkin dia mengatakan 'Aku sudah punya janji dengan Inaho saat malam tahun baru' kepada Asseylum-hime. Slaine mengangguk lemah, masih dengan wajah yang dipaksa tersenyum bahagia.

~O~O~O~O~O~O~O~

Bedcover yang tadi terpasang sangat rapih di atas tempat tidur ukuran king itu sudah terlepas, sebagian besar sudah berhasil menyentuh lantai marmer di kamar itu. Horden-horden yang ada di jendela berukuran besar itu belum tertutup. Membuat sinar bulan yang lumayan terang masuk dengan sempurna ke kamar itu. Kamar itu gelap, hanya cahaya redup dari jendela dan dari ponsel yang dipegang Slaine yang ada di sana. Inaho belum juga kembali, sudah lewat pukul sebelas malam tapi butlernya itu belum juga memberinya kabar.

Derik pintu yang berasal dari pintu kamarnya yang terbuka membuat Slaine terperenjat. Butuh waktu beberapa lama sampai dia sadar bahwa orang yang memasuki kamarnya itu adalah Inaho, butler sekaligus pacarnya. Dengan cepat Slaine berlari ke arahnya, memeluk Inaho rindu.

"Kamar ini gelap sekali. Jangan bilang kau bahkan tidak tau dimana saklar lampunya?" Inaho yang balas memeluk Slaine bertanya sekenanya.

"Aho! Kau dari mana saja? Kenapa tidak mengangkat telponmu?"

"Kau merindukanku?"

"Tidak!"

"Lalu?"

"Aku.. Yah aku hanya tidak bisa tidur jika tidak ada orang di sampingku sebelum aku tertidur!"

"Hmmm. Kau punya banyak pelayan kenapa tidak meminta salah satu dari mereka menemanimu sampai kau tertidur?"

"Aku tidak suka ada orang asing yang memasuki kamarku"

"Sekarang aku ada di sini. Kembalilah tidur"

Slaine diam, masih memeluk Inaho. "Kau dari mana saja?"

"Aku lupa, aku tadi mengambil benda ini"

Inaho mengeluarkan sesuatu dari sakunya, memasangkan kalung dengan liontin berbentuk bundar –berukiran seperti buah jeruk lengkap dengan tankai dan sebuah daun yang melekat– kepada Slaine. Slaine menatap benda itu sedikit bingung.

"Ini..?"

"Itu pesanan khusus yang siang tadi kusebut. Kau tidak menyukainya?"

Slaine menggeleng "Aku menyukainya". Inaho tersenyum, sekali lagi Slaine memeluk Inaho, ada suara berdecing saat itu. Membuat Slaine kembali melepaskan pelukannya melihat ke arah Inaho. mulutnya sedikit menganga saat mendapati Inaho juga ternyata memakai sebuah liontin hanya saja bentuknya berbeda. Yang dipakai Inaho lebih berbentuk seperti seekor kelelawar.

"Orenji?"

"Punyamu berbentuk jeruk, punyaku berbentuk kelelawar"

"Kenapa liontin?"

"Karna letak liontin itu dekat dengan hati. Sudahlah ayo tidur, besok kita harus ke sekolah!"

Aku menggendongnya seperti seorang putri. Dengan wajah bahagia kulihat dia sedang memegang duah buah liotin yang kupakai dan yang dipakainya dalam satu genggaman.

~TBC~

OWARI

Huaaaaaa gomenasai.. lama banget yah publishnya? Huhu semoga masih pada ingat dengan dua chapter sebelumnya. Hahahaha See yaaaaaaaaaaa~~~