Caro Lettore: Oke, Q tahu ini namanya ingkar janji, tapi maaf sekali, sebenarnya Q niat mau publish loh, lusa setelah publish chapter 2, tapi mata kiriQ tiba-tiba merah (banget). Q kira cuma gara-gara kurang tidur, tapi pas diperiksa ke dokter ternyata Q terkena radang mata yang mengharuskanQ menjauhi hiburan favorit seperti TV, laptop, dan HP (hiks kesiksa banget deh TT_TT) dan gara2 Q bandel, diam-diam pake laptop di tengah malam, nular deh ke mata kanan, duh, sharingan nya lengkap sudah... ribet banget, gak boleh nangis (padahal perih!) gak boleh digaruk (padahal gatel banget!) gak boleh liat cowok cakep (soalnya cowok cakep itu aura nya silau dan bikin mataQ perih juga XD) *plak* (author-nya sarap!)... Jadi...m(_ _)m mohon maaf yang sebesar-besarnya! Hontou ni gomenasaaaaaai~
Grazie: Rst, Rheinny del Zialiony, Kamikaze Rein, Rui Arisawa, Rouvrir Fleur, Kurea Cavallone, Marionette-M, NadeshikoLachrymose, dan Cleisthen Steve, terima kasih telah menyumbangkan review kalian di chapter 2 ^^v
Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira, Il Mio Amore © Ileyra collab with Chel di Cieli
Capitolo 3. Il Segreto di Dino
...aku ingin mengetahui semua yang ia miliki...
"Kyouya, bangun!"
Hibari membuka mata saat ia merasa tubuhnya diguncang-guncang dengan lembut oleh seseorang. Namun rasa kantuk yang hebat membuatnya berkelit dan bangun hanya untuk menarik selimutnya kemudian kembali tidur.
"Kyouya, jangan begitu! Ayo sarapan dulu!" Kata Dino sambil mencoba untuk membangunkannya sekali lagi. Namun melihat bahwa Hibari tidak menghiraukannya sama sekali, maka ia pun menarik selimutnya secara paksa. "Ayo Kyouya! Nanti aku terlambat kerja!"
'Whuuus'
Sensasi dingin pun langsung menyerang tubuh Hibari, sehingga mau tak mau akhirnya ia harus bangun juga. Dengan pandangan setengah sadar dan nyawa yang belum kembali seutuhnya, Hibari melihat ke arah jam dinding. Pukul setengah enam.
"Kau menyuruhku sarapan di pagi buta seperti ini?" tanya Hibari, dia ingin sekali memperlihatkan death glare-nya namun sayang, matanya masih terasa ngantuk sekali.
"Apa boleh buat, aku harus pergi sebelum jam tujuh." Ucap Dino seraya membuka tirai jendela. Semburat cahaya fajar samar-samar terlihat di ufuk timur. Dino membuka daun jendela dan menghirup kesegaran udara di puncak bukit Italy, "Aaaah...segar sekali pagi ini!" serunya sembari mengangkat kedua lengan dan meregangkan tubuhnya sebentar. Namun saat ia berbalik, Hibari masih juga tertidur dengan bergulung di selimutnya yang tebal.
"Kyouya, kubilang bangun! Hei!" Sekali lagi, Dino mengguncang-guncangkan tubuh Hibari, kali ini agak keras, tapi lelaki itu masih bergeming. Merasa sia-sia akan usahanya, Dino pun tak punya cara lain selain mengangkat tubuh Hibari beserta selimutnya kemudian membawanya ke kamar mandi secara paksa.
"Turunkan aku Cavallone!" teriak Hibari sambil berontak.
"Nah, kau sudah bangun sekarang?" Dino pun menurunkan Hibari di dalam bathtub, kemudian membuka pakaiannya satu persatu. "Sekarang kau harus mandi!"
"Lepaskan bodoh! Aku bisa membuka pakaianku sendiri!" teriaknya. Sedikit rona merah terlihat di pipi pucat pria muda itu.
"Tapi kalau sama Kyouya, nanti jadi lama..."
"Aku bisa membukanya!"
'PLETAAK'
Satu bebek karet plastik sukses membentur hidung Dino, kemudian disusul botol shampoo, botol bath foam, botol pengharum ruangan...
"Keluar!" raung Hibari sambil mengangkat sebuah botol wine (yang sering diminum Dino saat berendam) tinggi-tinggi.
"WAAAA! Oke, oke! Aku keluar!"
.
.
.
Sarapan pagi itu lagi-lagi berlangsung sepi. Jam dinding baru menunjukkan pukul enam pagi lewat delapan menit, namun mood Hibari sudah memburuk. Ia menyantap sarapannya tanpa melirik Dino meskipun lelaki Italia itu mencoba memanggil namanya.
"Kyouya, nanti aku akan pulang malam, jadi kalau mau makan, ambillah apapun yang kau mau di kulkas," kata Dino. Hibari tidak menghiraukannya sama sekali, dan ruang makan yang luas itu pun kembali sepi untuk beberapa menit.
"Kalau kau mau keluar, jangan lupa kunci pintu, ok?" Kata Dino lagi. Hibari lagi-lagi tidak menggubrisnya, sementara Dino terus memberinya nasehat, "Kalau ada apa-apa, kau bisa hubungi nomerku, lihat saja di buku kontak di sebelah telepon."
Sepi lagi.
"Kalau kau mau ber—"
"Kalau kau mau berangkat kerja, pergi saja! Aku bukan anak kecil yang masih harus kau beri peringatan!" potong Hibari sambil meletakkan sendok garpunya (dengan keras).
"Hmm, baiklah..." Bukannya tersinggung, Dino malah tersenyum senang karena ternyata sedari tadi Hibari mendengarkan semua perkataannya, "Kau mau kubelikan sesuatu?"
"Tidak perlu," jawab Hibari singkat. Ia mengambil secangkir teh hangat di samping piringnya, dan dalam satu tegukan panjang, habislah sudah.
Jam tujuh kurang sepuluh, Dino pun hendak berangkat kerja, ia berpamitan pada Hibari di teras depan rumahnya (yang juga luas).
"Ini kunci rumah, jangan biarkan siapapun yang tidak kau kenal masuk ke rumah ini," pesan Dino sambil memberikan kunci rumah pada Hibari.
Hibari memperhatikan penampilan Dino dari atas sampai bawah, ia sama sekali tidak menemukan perubahan apapun dengan penampilan kasual ketika Dino berada di rumah: jaket dengan tudung berbulu, kaos polo tak berkerah, celana gombrang—selain itu Dino tak membawa apapun, hanya kunci motor dan dompet yang ia simpan di salah satu saku celananya.
"Kau akan berangkat kerja dengan penampilan seperti itu?" tanya Hibari keheranan.
"Ya, kenapa?"
"Kau ini kerja apa?"
Dino terdiam sesaat sebelum menjawab sambil nyengir, "Rahasia—"
'BLAAM'
Daun pintu rumah Dino yang bercat putih lily itu ditutup dengan keras hingga membuat sebuah pot tanaman yang terpajang tak jauh dari sana jatuh terguling.
"Dasar Kyouya, ternyata kalau ngambek dia mudah sekali merusak barang—" keluh Dino seraya membetulkan pot yang jatuh ke tempatnya semula, "Yah, tapi kalau tidak begitu pasti tidak seru—" ujarnya riang. Dino pun berangkat kerja sementara Hibari yang ditinggal sendirian dan tak tahu mesti berbuat apa hanya bisa melamun di sofa ruang depan.
Si bodoh itu, pagi-pagi sudah membuatku kesal dua kali—gerutu Hibari dalam hati. Ia lupa sama sekali bahwa orang bodoh itulah yang memberinya tempat tinggal. Tapi apa boleh buat, ia benci sesuatu yang bersifat rahasia.
Memang apa pekerjaannya sampai dia harus menyembunyikannnya segala? Pengedar narkoba? Dokter malpraktek?
Semakin ia memikirkan pekerjaan Dino, semakin ia dibuatnya kesal, karena itu Hibari memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan berlatih biola. Tapi baru saja kakinya melangkah empat kali, sebuah telepon yang berada di samping sofa yang didudukinya tadi tiba-tiba berdering. Dilema segera saja memenuhi pikirannya, haruskah ia mengangkat telepon? Atau dibiarkan saja?
Mungkin dia ketinggalan sesuatu—pikir Hibari. Ia pun menghampiri telepon itu dan mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo, boss?" jawab seseorang di seberang sana.
...boss?
"Boss, sekarang sudah pukul tujuh, kenapa belum berangkat juga?" tanyanya.
"Kalau kau cari laki-laki pirang itu, dia sudah pergi!" jawab Hibari.
"Eh? Siapa ini?" Suara itu terdengar sedikit panik.
"...Bukan siapa-siapa." Jawab Hibari lagi kemudian ia menutup telepon dengan kasar. Baru saja Hibari berbalik untuk pergi ke kamarnya, telepon kembali berdering. Hibari sebenarnya enggan sekali mengangkat telepon itu untuk yang ke dua kalinya, tapi suara bising yang ditimbulkannya benar-benar berisik.
"Halo?" sapa Hibari ketus.
"Siapa kau? Katakan di mana boss!" teriak seseorang. Suara yang sama.
"Mati!" geram Hibari, dan ditutuplah telepon itu dengan kasar sekali lagi. Tapi untuk yang ke tiga kalinya, telepon antik bercorak cokelat tua itu berdering lagi. Hibari benar-benar merasa sangat terganggu sekarang, maka kali ini ia tidak menjawab, melainkan mencabut kabelnya hingga suara bising itu pun akhirnya berhenti.
"Ck, rumah ini berisik sekali..." dengus Hibari sambil berjalan ke kamarnya. Tapi tiba-tiba saja ia teringat dengan kata-kata orang asing tadi dan membuatnya terpaku di tempat.
Tadi dia memanggil Dino 'boss'? Memangnya dia kerja apa?—Pikir Hibari.
Masa benar-benar pengedar ganja?
.
.
.
"Kyouya, aku pulang!" seru Dino. Hibari tidak menyahut meski ia tepat berada di sofa depan sambil membaca buku panduan bermain biola. Dino berjalan menghampirinya seraya melepas jaket kemudian duduk di sebelah Hibari, "Baca apa?"
Hibari memperlihatkan sampul depan buku yang dibacanya pada Dino tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu kembali terpaku pada buku tersebut. Sementara Dino terus memperhatikan ekspresi serius pada wajah Hibari sampai ia merasa risih.
"Kau ini menunggu untuk kubunuh?" tanya Hibari dengan intonasi datar sambil menutup buku bercover tebal itu.
"Tidak, aku—emm—menunggu perhatian darimu." Jawab Dino senyam-senyum. Hibari diam, membalas senyumnya, kemudian—
'BUUUK'
Lemparan maut dari Hibari Kyouya berhasil mengenai permukaan wajah sang Don Cavallone hingga ia merintih kesakitan sambil memegangi hidungnya (yang nyaris mimisan). Aw, Dino baru tahu kalau dilempar dengan buku bisa sesakit itu.
"K-Kau kejam sekali, Kyouya!" rintih Dino.
"Kau bilang mau perhatianku, sekarang setelah kau dapatkan masih juga mengeluh."
"Maksudku bukan perhatian seperti itu, memangnya kau tidak bisa kalau sedikit lebih—"
"Lebih apa?"
"—lembut?"
"Tidak." jawab Hibari, pelan namun tegas.
"Hei, hei! Apa itu balasan bagi orang yang sudah membelikanmu baju dan biola yang kau inginkan?"
"Aku tidak pernah memintamu membelikannya."
"..."
—iya sih...
"Tadi pagi ada telepon untukmu."
"Oh? Dari siapa?"
"Tidak tahu." Jawab Hibari enteng sambil memungut buku yang ia lempar.
"Dia tidak menyebutkan namanya?"
"Dia hanya bilang, 'boss, sekarang sudah jam tujuh pagi, bla-bla-bla' begitu.."
"Oooh, itu pasti Romario."
"Siapa Romario?"
Dino terlihat sedikit terkejut, singkat namun Hibari menyadarinya.
Aduh, aku keceplosan...
"Emm, Romario itu err...pamanku! Yah, pamanku dari desa tetangga yang punya selera humor buruk hahaha!"
Mata Hibari yang sipit langsung memicing curiga. Sebodoh apapun dia, mana mungkin seorang paman memanggil keponakannya dengan sebutan 'boss'. Apa Dino bermaksud menipu dirinya? Tapi meski Hibari bertanya pun, Dino pasti akan mengelak lagi. Sepertinya tak ada jalan lain selain mencari tahu sendiri.
"Kyouya, kau mau ke mana?" tanya Dino ketika Hibari beranjak dari kursi.
"Tidur."
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Baiklah..."
Hibari tidak menyahut dan pergi ke kamarnya, ia meletakkan buku di atas meja di samping biola lalu tiduran di tempat tidur sambil memandangi langit-langit bercat putih yang berhiaskan relief emas di setiap sisinya. Tadi Hibari memang bilang kalau ia akan tidur tapi sebenarnya Hibari tidak merasa mengantuk sama sekali, ambang pikirannya masih dipenuhi misteri tentang pekerjaan Dino.
Hibari membetulkan posisi tidurnya ke sebelah kiri dan mencoba menutup mata. Sementara otaknya masih terus bekerja memikirkan cara-cara untuk mengungkap rahasia itu. Rumah Dino agak jauh dari penduduk lainnya, ia tidak memiliki tetangga untuk ditanya. Satu-satunya petunjuk adalah nama Romario, tapi ada berapa Romario di Italy?
Oh! Mungkin kalau ia melihat daftar kontak di buku telepon, dia bisa menghubungi orang yang bernama Romario itu.
Hibari segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan terburu-buru ke arah pintu kamar, tapi langkahnya terhenti tepat saat ia memegang kenop pintu.
Jangan, aku sudah terlanjur bilang mau tidur, kalau tiba-tiba keluar dan mencari nama orang di buku kontak, nanti malah dia yang curiga—pikir Hibari.
Sepertinya aku harus menunggu sampai besok.
"Benar, besok aku akan ke sana lagi." Suara Dino samar-samar terdengar di balik pintu. Hibari mengintipnya dari lubang kunci yang sempit. Tidak kelihatan, tapi sepertinya Dino sedang menelepon seseorang. Hibari mencoba membuka pintu kamarnya sedikit sehingga menimbulkan celah yang cukup untuk mengintip Dino.
"Ya, aku mengerti...Ah! Jangan! Tidak usah menjemputku...Akan kuusahakan untuk tidak terlambat lagi."
Dino memang sedang menelpon seseorang lewat HP-nya.
"Nanti Kyouya akan curiga kalau kau datang, sebaiknya tidak usah, ya...benar...Oh ya Romario, boleh aku minta tolong? Mulai besok, biasakanlah untuk memanggilku Dino...tidak usah, cukup panggil nama saja...benar...ya, besok akan kujelaskan, aku harus menandatangani setumpuk surat sekarang. Selamat malam..."
Sepertinya pembicaraan mereka sudah selesai. Dino menyimpan HP-nya ke dalam saku celana lalu berbalik menghampiri kamar Hibari. Hibari yang sadar bahwa Dino sedang berjalan ke arahnya buru-buru naik ke kasur lalu berbaring sambil pura-pura tidur.
"Ya ampun, saking ngantuknya kau sampai lupa mematikan lampu ya Kyouya?" tanya Dino.
Bukan bodoh! Saking paniknya aku lupa mematikan lampu!—sahut Hibari dalam hati.
Dino menyelimuti Hibari lalu memandangi wajahnya.
"Haah—aku suka sekali wajahmu yang sedang tidur." Gumam Dino. "Coba kalau kau selalu tenang seperti ini setiap saat.."
Mana mungkin aku bisa tenang kalau setiap muncul kau selalu menggangguku!—gertak Hibari dalam hati lagi.
" Buona notte, Kyouya—" Dino mencium kening Hibari sebelum ia mematikan lampu dan menutup pintu kamar pelan-pelan. Hibari membuka matanya, lalu perlahan bangkit sambil menyentuh kening yang ditinggali bekas kecupan Dino.
"Tadi itu—apa yang ia lakukan?" semburat rona merah kembali terlihat di pipinya meski tertutupi kegelapan. Ia yakin kalau barusan itu Dino mencium keningnya. Jantungnya terasa sedikit deg-degan. Sekarang pikirannya benar-benar terisi oleh Dino, baik tentang pekerjaannya, atau pun kecupan 'selamat malam' yang ia berikan. Kenapa begitu banyak misteri tentang Dino yang membuatnya tertarik? "Dino—dasar bodoh!"
Malam itu, Hibari Kyouya sama sekali tidak bisa tidur.
Il Segreto di Dino (Rahasia Dino)
Sekali lagi, mohon maaf kepada reader semua, atas keterlambatannya (yang sangat parah) DX maaf sekali ya... m(_ _)m
Ah, mohon review-nya flame dan ungkapan rasa kecewa pun tidak apa-apa...
