Title: BETTING
Author: Myka Reien
Main Cast: ChanBaek, Chaehyun (17), Kyungjong (15)
Genre: Rate T, GS
Note: No bash, no flame. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~❤
.
.
.
BETTING
.
.
.
Tegang. Serius. Full of tense. Hanya aura-aura itu yang tertangkap oleh sepasang mata kecil Baekhyun ketika melihat Chanyeol ― suaminya ― dan Chaehyun ― anak laki-laki tunggal mereka ― tengah duduk berhadapan dalam diam dengan meja sebagai perantara keduanya. Nampak ada banyak kartu yang berceceran di permukaan meja itu, menjadi bukti dari duel permainan kedua namja tersebut yang sudah berlangsung hampir satu jam. Satu jam? Benar, satu jam! Chanyeol dan Chaehyun telah menghabiskan waktu hampir 60 menit hanya untuk duduk diam dan menyelesaikan permainan kartu sepele itu. Bagaimana tidak? Dengan bodohnya mereka mencampur rata 3 pack kartu sekaligus untuk sekali main. Ditambah lagi keduanya sama-sama perhitungan dalam membuang kartu, membuat permainan yang sudah pasti lama karena jumlah kartu yang banyak, menjadi semakin panjang disebabkan waktu berpikir yang membengkak.
Baekhyun mengerucutkan mulut, lama-lama dia penasaran juga dengan kediaman serta keasyikan pasangan Ayah dan anak itu. Wanita tersebut memutuskan untuk beranjak dari meja pantri dapur, tempatnya memperhatikan gerak-gerik dua namja di keluarga kecilnya itu sejak tadi. Baekhyun melepas apron yang membelit manis pinggang rampingnya lalu berjalan keluar dapur menuju ruang duduk ― tempat berlangsungnya duel sengit antara Chanyeol dan anak mereka sekarang ― yang hanya berjarak beberapa langkah saja.
Sembari berjalan mendekati Chaehyun, mata nakal Baekhyun melirik kartu yang sedang dipegang oleh Chanyeol, lantas tersungginglah senyuman usilnya begitu tahu gambar serta angka apa saja yang berada di tangan suaminya. Ibu satu anak tersebut mendarat manis di sebelah putra tunggalnya, membuat Chaehyun yang sedang berkonsentrasi penuh pada permainan menjadi terlonjak kaget.
"Ah, Umma! Aku kaget," desis Chaehyun sembari membulatkan mata lebarnya yang mirip seperti mata Chanyeol.
Baekhyun menjawab gerutuan anaknya dengan senyuman manis. Kemudian wanita tersebut mendekatkan bibirnya pada telinga lebar Chaehyun dan membisikkan sesuatu.
"Ya, apa yang sedang kalian bicarakan? Jangan coba-coba curang padaku, huh," tegur Chanyeol tidak suka ketika merasa ada hal yang tidak beres di balik bisik-bisik istri dan anaknya. Baekhyun hanya melirik sebentar pada suaminya lantas menyelesaikan ucapannya terlebih dulu di telinga Chaehyun baru kemudian menolehkan kepala pada Chanyeol.
"Apa maksudmu dengan 'curang', huh? Justru kaulah yang biasanya tidak mau kalah dari Chaehyun dan menggunakan segala cara untuk menang. Padahal ini cuma permainan," cibir Baekhyun membuat Chanyeol merengut sebal menghadapi kenyataan jika (lagi-lagi) istrinya lebih memilih berpihak pada anak mereka dibandingkan padanya.
"Umma, benarkah yang Umma bilang tadi?" celetuk Chaehyun membuat mata Appa-nya melotot.
Baekhyun menganggukkan kepala riang menjawab pertanyaan anaknya, sementara Chanyeol menudingkan tangan tidak terima.
"Ya! Apa yang sebenarnya kalian bicarakan, huh? Mengaku sekarang!" protes Chanyeol merasa benar-benar menjadi korban konspirasi Ibu dan anak itu.
Baekhyun hanya mengerlingkan sebelah matanya dengan jahil pada Chanyeol, lantas menggamit mesra sebelah lengan Chaehyun sambil menyandarkan kepalanya di tubuh remaja itu dengan manja seolah Chaehyun adalah pacarnya. Namun Ibu dan anak tersebut memang nyatanya terlihat seperti orang berpacaran karena tubuh Baekhyun yang mungil serta wajahnya yang muda terawat masih sangat cocok untuk menjadi 'yeojachingu Noona' putranya. Melihat hal tersebut, mau tak mau darah Chanyeol kembali mendidih. Setelah berani berkonspirasi terang-terangan di depannya, sekarang malah bermesra-mesraan berdua seperti itu, Chanyeol benar-benar merasa seperti sedang menerima pengkhianatan berlapis-lapis dari anggota keluarganya sendiri.
"Buang asal saja, Chaehyun-ah. Toh, kau akan menang apapun yang terjadi," bisik Baekhyun pada anaknya yang masih menimang-nimang lima lembar kartu terakhir di tangannya.
Chaehyun nyengir mendengar perkataan Ibunya.
"Hooo~ jadi kau punya kartu yang bagus, Park Chaehyun? Apa kau akan menang lagi kali ini, eum?" tanya Chanyeol yang mendengar suara istrinya barusan.
Chaehyun tak menjawab, hanya meneguk salivanya dengan kasar sambil menatap cemas pada kartu di tangannya dan kartu di tangan Appa-nya bergantian. Jika yang dikatakan Umma-nya tadi benar ― kalau sang Appa hanya punya kartu dengan angka-angka kecil ― bisa dipastikan jika kemenangan pasti berpihak pada Chaehyun (lagi) kali ini. Tapi, namja belasan tahun itu sedang tidak butuh kemenangan sekarang. Dia harus kalah di permainan ini. Benar, dia harus kalah untuk menang!
FLASHBACK
Tok, tok, Chanyeol mengalihkan perhatiannya sejenak dari deretan kalimat di halaman kertas laporan ketika terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Cklek, pintu kayu bercat putih itu terbuka dan sebuah kepala berambut jamur hitam langsung menyembul masuk melalui celahnya lengkap dengan sebaris senyuman lebar yang manis di wajah tampannya.
"Masuklah," ujar Chanyeol membuat Chaehyun bersorak singkat dan membuka pintu lebih lebar. Dengan langkah ringan yang riang, namja itu berjalan mendekati Ayahnya. Begitu tiba di depan meja kerja sang Appa, Chaehyun langsung menjatuhkan lutut ke lantai sementara dagu dan kedua tangannya berada di atas meja.
"Appa~~~" panggil namja kelas 2 SMA tersebut dengan nada mendayu-dayu penuh aegyo.
"Hm?" balas Chanyeol singkat sambil kembali menyibukkan diri dengan laporan-laporan yang menumpuk di meja kerjanya. Dia sudah sangat hapal karakter anak tunggalnya tersebut. Meski sudah 17 tahun, tapi Chaehyun sering kali bersikap seperti anak-anak. Suka merajuk, merengek, ber-aegyo, dan tukang mengadu pada sang Umma. Kali ini pun anak itu pasti punya niat tertentu karena tiba-tiba melakukan aegyo begitu.
"Minta uang~"
Benar 'kan!
"Untuk apa? Bukannya kau baru saja diberi jatah bulanan dari Umma-mu?" desis Chanyeol sembari membolak-balik halaman laporan.
"L'Arc-en-Ciel mau ada konser di Seoul. Ini konser eksklusif, Appa! Aku mau nonton~ Appa, beri aku uang~~~" Chaehyun merajuk dengan bibir manyun ke depan seperti bebek.
Chanyeol menghentikan sejenak kesibukan membacanya, dia menatap tenang wajah anaknya yang sangat mirip dengannya itu dan berusaha keras untuk tidak terpengaruh pada ekspresi puppy eyes Chaehyun yang diturunkan sempurna dari sang Umma. Ekspresi memelas super imut yang paling tidak bisa ditolak oleh Chanyeol.
"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Chanyeol membuat anaknya tersenyum lebar. Namja itu melebarkan kelima jari tangannya.
"Lima ratus ribu won?" tanya Chanyeol. Chaehyun menggeleng.
"Lima juta won."
"MWO!?" suara dalam Chanyeol menggelegar demi mendengar jumlah yang tidak sedikit yang barusan diucapkan dengan nada tak berdosa oleh putra kesayangannya.
"Kau mau nonton konser atau menyewa tempat konser, huh!?" Chanyeol terkejut bukan main.
"Itu harga tiket VIP, Appa~" Chaehyun kembali memanyunkan bibirnya dan membuat matanya berkaca-kaca. Kembali, serangan puppy eyes!
"Andwe! Beli saja tiket yang biasa!" tolak Chanyeol mentah-mentah.
"Anni, anni, anni~~~" Chaehyun menggeleng-gelengkan kepalanya penuh aegyo. "Aku mau tiket VIP. Aku mau lihat member L'Arc-en-Ciel dari dekat. Aku mau salaman sama mereka, Appa. Aku mohon~~~"
Chanyeol menghela napas panjang. Dilepasnya kacamata baca yang sedari tadi dia pakai dan dengan frustasi namja itu memijit-mijit kedua sudut matanya yang terasa penat.
"Appa, lima juta ... beri aku lima juta..." Chaehyun masih merengek sambil meluruskan tangan, berusaha menggapai-gapai Ayahnya seperti bayi.
"Bukankah kau kerja sambilan, berapa gajimu? Akan Appa tambahi," ujar Chanyeol.
Chaehyun merengut semakin jelek. "Aku ketahuan kerja part time sama Umma. Semua gajiku disita Umma. Umma bilang uang itu akan dimasukkan dalam jatah bulananku. Jadi aku sudah tidak punya uang lebih lagi," jelas namja muda tersebut sebal.
Chanyeol mendesis. "Makanya, Appa 'kan sudah bilang dari awal. Kalau mau kerja sambilan, bilang dulu ke Umma-mu..."
"Kalau bilang dulu nanti Umma tidak mengijinkan!" potong Chaehyun kesal. "Umma 'kan selalu over. Padahal aku sudah SMA," cemberutnya.
"Umma hanya mengkhawatirkanmu. Kau 'kan kalau kecapekan selalu nge-drop. Lagipula, kau memang sudah SMA, tapi kelakuanmu yang seperti ini benar-benar seperti bocah, kau tau!" dengan gemas Chanyeol meraih pucuk kepala anaknya dan mengacak-acak rambut hitam tebal itu.
"Ah, Appa! Jangan diberantakin!" protes Chaehyun sambil buru-buru menata lagi rambutnya. "Biaya magic di salon akhir-akhir ini naik gara-gara nilai dollar juga naik. Aish...!" dengusnya sebal membuat sang Ayah tertawa.
"Jadi, kau sama sekali tidak punya uang sekarang?" tanya Chanyeol dibalas gelengan sendu putranya.
"Hanya ada uang bulanan. Itu juga tidak cukup untuk beli tiket," ujar Chaehyun nestapa. "Appa, minta uang~~~" rengeknya lagi.
"Appa berikan," cetus Chanyeol membuat mata anaknya membulat dan bersinar seketika.
"Jinjja!? Appa serius!? Gyaaa~ Appa memang yang terbaik! Aku sayang Appa!" Chaehyun langsung berdiri dan memeluk Appa-nya dari samping kursi.
"TAPI ada syaratnya!" ucapan Chanyeol membuat kegembiraan putranya berhenti seketika.
"Huh? Syarat? Syarat apa?" tanya Chaehyun heran. Sekejab ada firasat buruk yang menusuk kecil hatinya mendengar perkataan Appa-nya itu.
"Duel kartu." Chanyeol menaikkan kedua alisnya, sementara Chaehyun ber-oh panjang menanggapi.
"Taruhan? Appa, sudah pasti aku akan menang lagi," ujar namja belasan tahun tersebut penuh percaya diri karena selama ini dia memang jarang kalah dalam setiap duel melawan Ayahnya, terutama jika duel itu melibatkan taruhan uang.
"Tentu saja, kemungkinan besar kau akan menang. Kau 'kan penuh keberuntungan," desis Chanyeol santai.
"Kalau begitu, Appa siap-siap saja untuk menulis cek lima juta itu. Ne?" kata Chaehyun sambil tersenyum sumringah.
"Akan Appa tulis," ujar Chanyeol, sepasang mata lebarnya menatap penuh makna pada sang anak, membuat Chaehyun-nya mengerutkan kening menyadari ada maksud tersembunyi di balik sinar mata tenang sang Ayah.
"Appa akan memberimu uang meski kau kalah atau menang. Tapi taruhan kita bukan itu," ujar Chanyeol.
Chaehyun menggigit bibir bawahnya dengan rasa cemas menjangkiti isi dadanya perlahan. Oh, baiklah, seharusnya anak itu ingat jika sebenarnya sifat jahilnya tersebut diwariskan dari sang Appa. Dan tidak mungkin Appa-nya yang begitu perhitungan ― meski memang sangat memanjakannya ― bisa dengan mudah memberinya uang sebanyak lima juta hanya untuk selembar tiket tanpa persyaratan yang sulit. Lalu, hal gila apa lagi yang kali ini direncanakan sang Ayah?
"Kalau kau menang, Appa akan menambah seratus ribu TAPI berjanjilah malam ini dan malam setelah konser nanti kau TIDAK akan pulang ke rumah. Tapi kalau kau kalah, malam ini dan malam sehabis konser kau bisa tidur di rumah tapi tidak ada tambahan uang. Bagaimana?" tanya Chanyeol.
Chaehyun terdiam sejenak. Berdiri di sebelah Appa-nya sembari menimbang-nimbang dua syarat tersebut. Dan setelah beberapa menit, namja itu tersadar.
"Appa, Appa mau mengusirku dari rumah?" mata Chaehyun membulat kaget begitu bisa meraba keinginan asli Ayahnya.
Chanyeol menjentikkan jari. "Kau memang sangat pintar, Park Chaehyun!"
"Andweyo~" Chaehyun merajuk. "Itu tidak mungkin, Appa! Aku bisa dimarahi Umma habis-habisan kalau sampai tidak pulang ke rumah lagi! Uang sakuku bisa dipotong separuh nanti!"
Chanyeol mengedikkan bahu cuek.
"Appa~~~" Chaehyun hampir menangis.
"Kau hanya perlu kalah kalau tidak mau dimarahi dan dipotong uang saku," ujar sang Appa santai.
Aku mana mungkin bisa kalah! Batin Chaehyun frustasi.
"Tidak bisakah taruhannya diganti yang lain? Aku mohon, Appa~" Chaehyun menarik-narik lengan kemeja Appa-nya dengan ujung jari.
"Tidak!" jawab Chanyeol tegas. "Itu juga hukuman buatmu karena kau sekarang jarang menginap di luar rumah dan selalu pulang tepat waktu."
"Appa~!" Chaehyun cemberut. "Dimana-mana orang tua itu akan khawatir kalau anak mereka tidak pulang ke rumah atau pulang sekolah terlambat. Tapi Appa malah menyuruhku untuk tidak pulang! Appa benar-benar egois!"
"Ya, justru kaulah yang egois!" tuding Chanyeol balik. "Sebagai sesama namja kau seharusnya mengerti bagaimana perasaan Appa, huh. Setiap kali kau di rumah, Umma selalu menempel padamu dan bahkan tidur di kamarmu. Apa kau tahu bagaimana perasaan Appa? Appa kesepian...!"
"Itu karena Appa terlalu mesum!" ketus Chaehyun.
"APA KAU BILANG!?" mata Chanyeol melotot, membuat anaknya terlonjak dan melompat melarikan diri ke pintu.
"YA! Park Chaehyun, pokoknya taruhan kita yang itu tadi!" Chanyeol mengingatkan.
"Gantilah, Appa~" pinta Chaehyun. "Aku harus bilang apa lagi ke Umma kalau mau menginap di luar!?"
"Terserah! Pokoknya kalau kau menang, kau tidak boleh tidur di rumah malam ini!"
Chaehyun cemberut. Sebelum membuka pintu, namja itu meleletkan lidahnya.
"Appa jahat, Appa egois, Appa mesum, weeek!"
Dan, brak! pintu tertutup.
"Aish, anak ini...!" desis Chanyeol gemas. "Benar-benar seperti Baekhyun," dengusnya sebal.
FLASHBACK END
Kartu terakhir.
Chaehyun menatap diam pada satu lembar kartu yang tersisa di telapak tangannya. AS hati. Dengan gemas namja tersebut meremas kartu tak berdosa itu. Mau apapun kartu yang dipegang oleh Appa-nya sekarang, asalkan kartu itu berwarna merah, sudah pasti Chaehyun-lah yang menang. Dalam hati Chaehyun merutuki keberuntungan yang terlahir bersamanya. Untuk pertama kali namja itu tidak senang atas keberuntungan yang dia miliki.
"Kau menang lagi, Chaehyun-ah," ujar Baekhyun dengan senyuman tersungging cantik di bibir tipisnya tanpa tahu mengenai kegalauan hati anak tunggalnya. Chaehyun menoleh, memandang sang Ibu dengan gamang.
"Umma senang kalau aku menang?" desis namja yang berwajah sangat mirip dengan Appa-nya itu dibalas oleh anggukan bersemangat oleh sang Ibu.
"Kau pasti sedang taruhan aneh 'kan dengan Appa-mu? Kalian pasti sudah membuat perjanjian yang menyulitkan pihak yang kalah 'kan? Jadi kau harus menang, Chagi. Semangat! Hwaiting! Umma mendukungmu!" ujar Baekhyun dengan polos, sama sekali tidak tahu hal apa yang sebenarnya menjadi taruhan antara anak dan suaminya.
Chaehyun nyengir, dalam hati dia bicara. Umma, kalau aku menang, Umma akan 'dikerjai' Appa semalaman. Dan Umma mendukung itu? Aigoo~
Chanyeol yang mendengar percakapan Ibu dan anak tersebut hanya dapat mengulum senyuman penuh makna sambil melayangkan tatapan mata kemenangan pada Chaehyun yang berbalik memandangnya sebal. Di detik itu, untuk pertama kalinya Chanyeol mensyukuri nasibnya yang tidak pernah baik setiap kali bertanding dan bertaruh dengan putra kandungnya tersebut. Dengan mata bahagia, dia memandang kartu King hati yang bertengger manis di tangannya. Kartu itu benar-benar akan menjadi Raja pembawa keberuntungan untuknya malam ini.
-o0o-
Argh, sial! Nasibku buruk punya Appa yang egois dan mesum seperti itu! Appa benar-benar tidak sayang padaku. Bagaimana bisa dia mengusir anak kandungnya dari rumah seperti ini? Sambil bersungut-sungut dan menggerutu tanpa henti di dalam hati, Chaehyun berjalan menyusuri koridor apartemen dengan langkah kaki menghentak-hentak penuh emosi. Jaket nampak terpakai manis menghangatkan tubuh jangkungnya dengan kepala yang ditutupi topi dalam posisi backward, ada juga tas ransel berisi pakaian dan gadget kesayangan yang bertengger aman di punggungnya.
Sekarang Chaehyun sedang ada di gedung apartemen Kyungjong dan bermaksud untuk menginap di rumah sahabatnya itu malam ini, dikarenakan ... yahh, you know why~ lagi-lagi uri Lucky Prince memenangkan taruhan atas Appa-nya, Park Chanyeol, yang membuatnya harus hengkang dari rumah selama satu malam supaya bisa memberi kesempatan pada orang dewasa itu untuk ber-lovey dovey dengan Ibundanya tercinta, Byun Baekhyun. Kemenangan yang lebih tepat disebut kekalahan mutlak oleh Chaehyun. Lagi-lagi, Chaehyun terpaksa harus berbohong pada Umma-nya supaya bisa keluar rumah siang ini dan nanti dia harus berbohong lagi supaya diijinkan untuk tidak pulang sampai besok pagi.
Huh, benar-benar Appa yang merepotkan! Banyak uang sih, tapi kalo merepotkan begini tetap saja menyebalkan! Dengus Chaehyun dalam hati.
Chaehyun sudah sampai di depan pintu apartemen Kyungjong dan tepat ketika dia akan mengetuk pintu putih tersebut, mendadak benda itu bergerak membuka lebih dulu. Chaehyun terkejut bukan kepalang. Dia hampir berteriak sambil terjajar ke belakang, sama halnya dengan Kyungjong yang juga kaget setengah mati langsung berhadapan dengan badan giant Chaehyun yang memenuhi keseluruhan visual di depan matanya.
"Hyung, kenapa kau di sini?" tanya Kyungjong dengan tangan mengelus dada, menata detak jantungnya yang berpacu karena kaget.
"Kau sendiri mau kemana?" balas Chaehyun dengan mata membulat antara terkejut serta heran begitu melihat Kyungjong yang ternyata juga memakai tas ransel.
"Aku mau ke rumahmu," jawab Kyungjong sambil melangkah keluar batas beranda.
"Ke rumahku? Wae?" tanya Chaehyun heran.
Klap, Kyungjong menutup pintu apartemennya.
"Aku mau menginap di rumahmu," ujar namja bermata bulat itu, namun kemudian sinar matanya berubah saat melihat ransel di punggung Chaehyun.
"Apa kau tidak akan pulang ke rumah malam ini?" tanya Kyungjong harap-harap cemas. Dan ketika Chaehyun menjawabnya dengan gelengan, keluarlah desisan lemas namja itu.
"Kenapa kau mau menginap di rumahku?" tanya Chaehyun sembari melangkahkan kaki mengikuti Kyungjong yang berjalan menuju lift sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Aku kalah main game dengan Appa. Kami bertaruh, kalau aku kalah aku harus keluar rumah malam ini tapi diberi uang untuk beli tiket konser. Tapi kalau aku menang, aku hanya akan diberi empat juta dan boleh tidur di rumah." Kyungjong cemberut.
"Dan kau sengaja mengalah?" tebak Chaehyun.
"Mana mungkin!" Kyungjong semakin merengutkan bibir seksinya, membuat Hyung-nya tersenyum dan menyimpan rasa gemas pada kerucutan lucu mulut itu.
"Aku lebih memilih hanya diberi empat juta daripada diomeli habis-habisan sama Umma gara-gara tidak pulang ke rumah! Tadi saja, waktu aku bilang aku mau pergi main dengan Shin, Umma sudah curiga dan menanyaiku macam-macam seperti polisi. Aish, Appa benar-benar keterlaluan! Tega sekali melakukan ini pada anak kandungnya!" dengus Kyungjong mengakhiri sesi curhatnya.
Chaehyun tersenyum. "Kita senasib, Kyungjong-ah," ujarnya sambil merangkul bahu namja itu dan berjalan masuk ke dalam lift yang terbuka bersama-sama.
"Kita berdua jadi anak tunggal dan punya Appa yang menyebalkan. Apa kau tidak berpikir, mungkin saja kita berjodoh. Eum?" goda Chaehyun sambil melirik Dongsaeng-nya yang masih asyik bermain ponsel.
"Kalau aku yeoja, kau bisa bilang seperti itu padaku, Hyung," sahut Kyungjong cuek tanpa mengalihkan mata dari layar ponsel yang menampilkan halaman chatting online.
"Jadi kalau kau yeoja, kau mau berjodoh denganku?" Chaehyun masih mengajukan pertanyaan aneh pada Kyungjong.
"Tergantung kau bisa memberiku fasilitas apa," jawab namja yang lebih muda dua tahun dari Chaehyun itu dengan santai, membuat kakaknya tergelak keras. Melihat Hyung-nya tertawa, Kyungjong hanya menanggapi dengan senyuman simpul.
"Kau benar-benar materialistis, Kyungjong-ah!" ujar Chaehyun.
"Namja yang menyebut yeoja materialistis, itu namja miskin namanya!" balas Kyungjong telak membuat tawa Chaehyun berhenti.
"Ah, benar juga. Kalo namja itu punya uang, baginya pasti tak ada yeoja yang materialistis di dunia ini," desis Chaehyun.
Ting, pintu lift terbuka dan Kyungjong melangkah keluar diikuti oleh ayunan kaki panjang Chaehyun.
"Sekarang, kita mau kemana?" tanya Chaehyun. "Ke rumah Shin?"
"Anniya." Kyungjong mengibaskan tangan. "Shin barusan memberitahuku, dia juga minta uang pada Appa-nya untuk membeli tiket tapi malah diberi kartu kredit..."
"Kartu kredit!?" volume suara Chaehyun naik.
Kyungjong mengangguk. "Dia diberi kartu kredit, dengan syarat dia harus keluar rumah malam ini."
"Dan Shin mau?" Chaehyun seperti orang bodoh menanyakan hal yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Tentu saja. Orang itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang dari Sehun Ahjussi, meski harus keluar rumah atau menguras WC sekalipun," cibir Kyungjong.
Chaehyun nyengir. "Lalu kita harus kemana malam ini? Apa kita akan menginap di sauna lagi? Aku bosan~"
"Aku juga bosan, Hyung. Aku tidak mau menjadi seperti gembel dan tunawisma di sauna," dengus Kyungjong.
"Lalu?" tanya Chaehyun.
"Yang pasti sekarang kita pesan tiket saja dulu. Setelah itu baru cari tempat untuk tidur malam ini."
"Ya, ayo coba tidur di stasiun," ajak Chaehyun ceria. Kyungjong menolehkan kepala dengan wajah kusut.
"Di sauna saja aku tidak sudi apalagi di stasiun!" namja manis itu meledak.
"Lalu kita menggembel dimana malam ini, Kyungjong-ah~?" Chaehyun mulai merengek.
"Aish, diamlah, Hyung. Yang penting pesan tiket dulu sekarang. Kajja, kita cari warnet!" Kyungjong tak mengindahkan aegyo Hyung-nya dan menarik lengan jaket namja jangkung itu lantas menyeretnya di sepanjang jalan seperti seekor kambing.
-END-
Park Family is here ~~~ \(^O^)/
Yehet ~ yehet ~ yehet ~
Berharap Chaehyun mau bagi-bagi duit biar saya bisa ikutan nonton TLP ㅠㅠ
[Chaehyun] Andwe!
[Myka] ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
Review ne? Ppyong~❤
To:
jongdear | Guest | Tikha RyeoLHyun | kim zuki | stefhanny | fangfangxx | fansyie | Baekhynsshi | rillakuchan | Prince Changsa | XOXO KimCloud | sunrise blossom | exindira | kaisoo's noona | younlaycious88 | KaiSooLovers | KrisThehun95 | MykyungieLuvjonginie | rnsoul | H3S0102 | chanbaek p | EXOTICARMYsasha | chotaein816 | kyeoptafadila | iyagimagine | kimyori95 | exonderwear | bubbleLu | babogacha | 12 | Kiru Kirua | honeykkamjong | Hanaeul | Haru3173 | mvpchiken7 | Kachimato
dan para 'bayangan hitam' yang speechless setelah baca FF ini ^^
Thanks for reading and reviewing~ review lagi ya~ ppyong~❤
FAQ CORNER
Q: btw, anaknya Hunhan ada 3 kn? kok yg muncul cm 2 y? si Luna kmn?
A: Luna punya cerita #plak XD (baru dimulai udah absurd aja ini FAQ Corner -_-)
Q: Gak bisa ngebayangin gmna keadaan rmh keluarga kecil Oh .
A: Keluarga kecil? Bapak-Ibu-anak tiga masih termasuk keluarga kecil ya? #plak .-.
Q: Kyaaa eonniee, Shinku ternistakan disini hiks :-:
A: Hohoho~ *ketawa epil*
Q: Huwaaaaa eonni, kenapa cuma oneshoot aja? Sekuel dong, kalo bisa NC an #plak
A: Itu anak tuyul masih SMA! Masih kekecilan buat NC-an! Duhhh~ x_x
Q: next chap masih oh family apa yang lain tho?
A: Yang lain donk, gantian ^^
Q: ini ff series bukan? :o
A: Ber-chapter tapi bukan series *eh
Q: Oh yaa thor-nim perasaan Sena punya kembaran?
A: Kembaran? Enggak ah, kalau adik ada ^^
Q: Eon, itu keluarga berisik mulu kali ya tiap hari gara2 shin sm sehun doang? .-.
A: Ember -_- yang cewe-cewe mah kalem, kecuali Luhan paling -_-
Q: mereka harusnya udah nark kelas dong/?
A: ShinJong masuk SMA baru musim semi kemarin, jadi mereka naik kelasnya musim semi tahun depan .-.
Q: karena FAQ cornernya nggak ada, jadi pertanyaan saya pending dulu deh muehehehehe...
A: Silakan tanya (^O^) silakan tanya (^O^)
Q: rasana pengen culik it semua member, taruk rumah biar berasa pasar pindah. . keke
A: Yakin? .-. Ntar mereka ngabisin beras kamu gimana? .-.
Q: Jadi trio rusuh dkk next storynya udah punya pairnya ya?
A: Pair-nya dicicil(?) tapi ^^
Q: Oh ya eon, sekali-kali hanyutkan ketiga tuyul Chaehyun-Kyunjong-Shin dong -_- gue bosen tiap episode pasti ketemu mereka -_- yg lain kek terutama yeojanya :3
A: Keberadaan Trio Tuyul di NEXOVEROLE itu kayak keberadaan KaiSoo-ChanBaek-KrisHo di atas OTP lain di semua FF-ku ^^ aku suka semua cast, hanya saja yang main cast emang tiga bocah itu ^^ tapi pasti cast lain bakal muncul kok ^^
Q: oh ya, soal tipe org brdasarkan golongan darah, inspirasinya dr buku yg chingu bca ya... yg di upload d twitter...
A: Yehet~ XD sama baca di pesbuk juga, Chingu :D
Q: Minji jeongsok chaehyun kyungjong itu sodaraan kan yah ? Kan kai itu masiih sodaraan sma chenbaek (kalo engk salah pas baca di 'room')
A: Iya, masih sodaraan '-')a
Oh, ya, aku punya berita buat kalian, Readers-nim...
Shin dan Chaehyun bilang kalau mereka ... ngngng ... soal Kyungjong itu ... uuu ... beneran ... (._. )('-' )( '-')( ._.)
FF ini juga di-publish di WP "MY KALAXIEN | The Inspiring Galaxy" a/n Myka Reien.
Silakan hubungi saya untuk kritik, saran, keluhan, & kepo(?) melalui sosmed (lihat link lengkap di profil)
I am VERY WELCOME, Guys~!❤
Kamsahamnida~ *bow*
