Pernahkah kau bermimpi, suatu saat nanti kau akan pergi?

Melampaui batasan dan imajinasi.

Pernahkah kau berangan atas sebuah cinta yang mustahil?

Dengan hati kau bawa seluruh nasib.

Kau mungkin berpikir itu tak mungkin.

Namun apadaya bila ini semua kehendak takdir?

Disney Princess Sasunaru Version

"The Merman"

By Chocolate Cronut

Yaoi SasuNaru

"NARUTOOO!" Suara Kiba terdengar nyaring bergema di hampir seluruh penjuru istana. Sedangkan Namikaze Naruto hanya terkikik kecil mendengar gemaan suara milik sahabat karibnya tersebut. Tanpa mengidahkan teriakan Kiba, Naruto mempercepat gerakannya menuju ke pintu keluar gerbang istana.

TWITCH.

Semakin kesal dengan tingkah Naruto, Kiba kali ini tidak akan tinggal diam lagi. Urat nadi pada wajah Kiba berkedut akibat ulah sahabatnya, dengan cepat Kiba sudah berada tepat di belakang Naruto, berusaha mengejarnya.

"Kau! Kau tidak akan kemana-mana! Tingkahmu kemarin hampir membuat kita berdua terkena masalah kau tahu?!" Kiba berteriak teriak dengan sebal tepat di kuping Naruto sembari menunjuk nunjukan jari telunjuknya pada kepala kuning milik Naruto. Merasa terganggu, Naruto mengehentikan gerakannya dan berbalik menghadap Kiba. Naruto menampilkan wajah cemberutnya dengan bibir manyun andalannya.

"Nee~ Kau ini kaku sekali Kiba. Kau tenang saja, tidak ada yang akan terjadi. Aku hanya ingin melihat ke luar~" Jawab Naruto dengan nada merajuk yang sangat kentara.

Kiba sangat pusing dibuatnya, ia tahu Naruto sedang berusaha untuk membujuknya. Ia tidak boleh kalah kenapa ekspresi tipuan milik Naruto. Dengan menutup wajah dengan kedua tanganya Kiba membalas kembali.

"TIDAK! Sekali tidak tetap tidak!"

"Ta-tapi…"

"TIDAK! SEKALI AKU BILANG TIDAK YA TIDAK!"

"…"

"…"

"…"

Kiba heran, kenapa jadi sepi sekali. Tanpa berpikir apa apa, ia berasumsi bahwa mungkin Naruto sudah mulai mengerti arti ucapannya dan bersedia menurut tanpa membantah apapun lagi. Didalam tangkupan tangannya, wajah Kiba menyeringai puas. Ia bersyukur bahwa ia tidak perlu menghabiskan waktunya terlalu lama untuk menceramahi sahabatnya itu. Akhirnya, Kiba membuka kedua tangannya.

"Nah, kalau kau menurutkan en-"

Namikaze Naruto sudah hilang dari pandangannya. Kiba menampilkan ekspresi miris yang sangat kentara, ya, miris dengan nasibnya sendiri yang pasti akan dimarahi kembali oleh Raja Minato. Ah, ingin sekali rasanya Kiba menangis mengetahui seberapa cerdas dan liciknya sahabatnya tersebut, dan masih saja kurang kreatif dalam menahan sahabatnya.

"NARUTOOOOOOO!"

Dan sekali lagi, suara Kiba bergema dalam Istana Laut Timur, Namikaze Palace.

Mata Shappire Naruto berbinar sementara ekor Naruto berenang semakin cepat ke arah permukaan. Bibirnya tak henti hentinya menyunggingkan senyuman bahagia serta helaian rambut pirangnya bergerak indah bersesuaian dengan arus air laut yang menerpa wajahnya.

Namikaze Naruto, seorang pangeran duyung dari Istana Timur dengan nama Namikaze Palace. Seorang duyung pria yang namun cukup manis. Dengan rambut pirang keemasan yang berkilau ditempa sinar matahari yang menerobos lautan, paras manis dengan bibir mungil kemerahan dan mata biru shappire berkilau, ditambah proporsi tubuh langsing berbalut kulit tan mulus. Manis adalah kata kata yang tepat untuk mendeskripsikan fisik dari pengeran duyung kita yang satu ini. Tidak hanya itu, sikapnya yang sangat ramah sehangat matahari membuat Naruto menjadi sangat popular di kalangan rakyatnya. Meskipun ia seorang putra mahkota, ia tidak pernah sekalipun berbuat semena mena dan bersikap sombong, malah sebaliknya, Naruto adalah penghuni istana yang paling ramah.

PYASH!

Naruto muncul kepermukaan. Matanya berpendar mencari cari sesuatu, wajahnya tampak tidak sabar. Matanya memindai dengan teliti sejauh yang bisa ia lihat. Baru saja akan berputar untuk mengecek arah sebaliknya, tiba tiba indra pendengaran Naruto mendengar sesuatu mendekat melalui bagian belakang tubuhnya. Dengan segera, Naruto memutar posisinya 180 derajat, memposisikan dirinya di belakang bebatuan laut, tidak ingin terlihat. Binar mata pada Naruto terlihat semakin cerah melalui celah bebatuan. Penuh dengan harapan dan keingintahuan, menatap pada sebuah kapal ukuran sedang, yang berlayar menuju ke tengah lautan.

"SASUKE!"

Teriakan Itachi terdengar sampai telinga Naruto. Naruto memperhatikan sumber suara dengan seksama. Rona wajah Naruto perlahan lahan berubah memerah, jantung Naruto berdetak dengan kencang seiring dengan ketidaksabarannya menanti sesosok manusia muncul pada dek kapal. Tanpa Naruto sadari, ia sudah menggenggam erat rumput laut yang ada di sekitar batuan sehingga rumput laut itu menjadi kusut. Naruto menahan nafasnya sejenak saat sosok yang ia tunggu tunggu muncul. Ia merasa tidak bisa bernafas sekarang, dadanya sesak, perasaan bahagia membucah di dadadnya. Sesosok pemuda dengan rambut hitam legam, kulit seputih porcelain, hidung mancung dan aura dominan yang luar biasa, muncul di dek kapal dengan teropong kesayangannya.

Naruto sangat yakin bahwa saat ini mukanya berwarna merah semerah buah apel lautan, ia merasa bahwa jantungnya akan terlepas dari rongga dadanya, dan ia merasa sangat sulit mengalihkan padangannya pada sosok yang ada dihadapannya. Naruto meruntuki kebodohannya, ia sudah melihat pemuda itu puluhan kali, namun tetap saja ia bereaksi seakan akan baru pertama kali bertemu dengan pemuda tersebut. Pemuda yang ia ketahui bernama Sasuke.

"Kau tidak ingin memancing? Selama beberapa hari ini kau hanya melihat keadaan dengan teropong itu." Seseorang yang ia ketahui bernama Itachi menghampiri Sasuke yang sedang menikmati semilir angin laut.

Sasuke menoleh sekilas melihat Itachi yang ada di sampingnya dengan beberapa alat pancing. Sasuke menatap kakaknya tidak tertarik.

"Tidak berminat."

Itachi hanya tersenyum maklum, ia tahu betul bahwa Sasuke sangat menyukai lautan dan tidak ingin mengambil salah satu hasil lautan untuk dirinya. Itachi sedikit tidak paham, Sasuke bukannya tidak bisa makan ikan atau jenis makanan laut lainnya, ia makan tentu saja. Namun, jika kau menyuruh Sasuke untuk memanennya langsung di lautan, jangan berharap ia akan mengatakan 'ya'. Kenapa Itachi bertanya meskipun ia sudah mengetahui hal itu? Hanya sekedar formalitas belaka tentu saja.

Mata Naruto berbinar melihat seluruh interaksi yang dilakukan oleh dua saudara yang ada di atas dek kapal itu. Ia tersenyum bahagia melihat hal tersebut. Ia ingin mengakui sesuatu yang mungkin akan sangat terlarang bagi dirinya, seorang duyung. Ah bukan, seorang putra mahkota duyung. Ia mencintai pemuda yang berada di atas dek kapal tersebut, pemuda dengan sorot mata tajam yang selalu menjaga lautan miliknya, pemuda yang memiliki paras yang dapat membuatnya jatuh cinta dan aura yang membuatnya tunduk dengan rela.

Mengingat hal ini, Naruto merasa sedih. Perasaan yang dimilikinya ini bukan main main. Ia sudah jatuh cinta pada pemuda tersebut saat beberapa bulan yang lalu sang pemuda sering menurunkan jangkar kapalnya di daerah perairan kekuasaan Naruto. Ia yang selalu memperhatikan pemuda itu, akan selalu memperhatikan sang pemuda itu sampai akhir hayatnya. Ia yang seorang pangeran duyung, apalagi putra mahkota. Tidak mungkin bersama manusia bukan? Mengingatnya, Naruto hanya bisa tersenyum miris, menatap sang pujaan hati diantara bebatuan. Menyalurkan perasaannya melalui tatapan dan doa. Merapalkan yang terbaik untuk yang terkasih, agar hidup bahagia di dunia manusia.

Tidak terasa, senja mulai datang. Langit berubah menjadi oranye, warna yang paling Naruto sukai. Namun pada kasus ini, Naruto tidak menyukai datangnya warna itu di langit. Menandakan bahwa waktunya untuk menatap sang pujaan hati harus segera berakhir. Naruto menatap langit yang berada tepat di atas kepalanya, menatapnya dengan sedih. Ia mulai merasa terlalu berlebihan, padahal ia sudah menjalani perpisahan ini selama berbulan bulan, namun tetap saja rasanya sama. Dengan sedih Naruto menghela nafas, mungkin ia memang sudah seharusnya untuk menahan diri dari segala perasaan yang ada di hatinya.

PYASH

Tanpa menengok lagi, ia berenang kebawah, kembali ke tempat seharusnya ia berada. Sementara itu, ia tidak menyadari ada sepasang mata hitam yang menatapnya dengan tatapan penuh makna.

"Namikaze Naruto!" Suara sang Raja bergema. Membuat yang dipanggil hanya bisa menunduk dalam, tidak berani melihat sang ayahanda yang menampilkan raut wajah yang sama sekali tidak senang dengan kebiasaannya beberapa bulan ini.

"Ini sudah kesekian kalinya aku memperingatkan mu, putra mahkota." Naruto hanya meneguk ludahnya berat. Kata kata itu sudah sekian kalinya pula masuk ke dalam telinganya dan tentu saja keluar lagi melalui telinga sebelahnya.

"Kau dilarang untuk menampakan diri dipermukaan. Dan kau masih melakukan hal yang sama berulang kali. Bahkan setelah hukuman yang kuberikan kepadamu."

Minato tidak main main kali ini,amarah yang kentara terdengar pada nada suaranya. Ekspresinya mengeras saat mengatakan kalimat terakhir. Kushina yang duduk disebelah singgahsana Minato hanya bisa diam dan menatap putra sulungnya, ia sudah tidak mempunyai hal apapun untuk dikatakan. Suaminya saat ini adalah orang yang paling tepat untuk, sekali lagi, mengingatkan sang putra sulung atas bahayanya menampilkan diri di permukaan.

"Aku sudah berhati hati ayah! Tidak akan terjadi apa ap-"

"Kau membantah Ayahmu?"

Naruto kembali bungkam.

"Peraturan dibuat bukanlah tanpa alasan, kita sebagai mahluk yang tidak boleh diketahui keberadaannya oleh manusia tidak boleh menampakan diri. Jika sampai ada manusia yang tahu bahwa kita benar benar ada, akan terjadi bencana besar untuk kaum kita Naruto."

"A-aku.."

"Aku tahu kau sangat tertarik dengan manusia dan segala kehidupan mereka. Tapi kau harus tahu, mengetahui mereka lebih jauh adalah hal yang sangat berbahaya dan penuh resiko."

"…"

"Kematian bisa menjemputmu Naruto. Dan aku, sebagai Raja sekaligus seorang Ayah, tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamuu."

Naruto masih diam. Dalam keadaan seperti ini, jika ia membuka mulutnya lebih lama, ia pasti akan mendapatkan masalah yang lebih besar.

Minato menghela nafas berat, akhirnya ia membuka kedua mulutnya kembali dengan hati yang sangat berat.

"Putra Mahkota Namikaze Naruto, akan dihukum untuk tidak keluar dari lingkungan istana dalam kurun waktu 40 hari. Dan akan selalu di damping oleh penjaga kerajaan."

Naruto sangat terkejut dengan keputusan Ayahnya. Terakhir Naruto mendapat hukuman hanyalah dua minggu, itupun Naruto sudah sangat tersiksa karena tidak bisa bermain ke permukaan.

"A-Ayah! 40 hari itu terlalu lama! Aku tidak bi-"

"Tidak ada keringanan, jika kau terus bersikap seperti ini. Ayah akan melarangmu keluar dari Istana ini, untuk selamanya."

Hening menyelimuti, Naruto dan Minato saling beradu pandangan. Mempertahankan keinginan mereka masing masing. Naruto yang biasanya selalu memperlihatkan tatapan hangat, sekarang menatapa tajam Raja Istana Timur aka Ayahnya sendiri. Namun, tentu saja seorang pangeran tidak akan bisa mengalahkan seorang raja. Naruto kalah dalam mempertahankan argumen dan keinginannya. Pada akhirnya, ia harus menjalankan hukuman yang diberikan oleh sang Ayah kepada dirinya.

Dengan perasaan kecewa, Naruto meninggalkan ruangan yang berisi Ayah dan Ibunya tersebut. Terakhir kali sebelum ia meninggalkan ruangan, ia melihat ayahnya berkata dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa ia terpaksa mengambil langkah ini.

"Demi kebaikanmu nak, jangan ulang kesalahan Ayah."

Kalimat terakhir sang Ayah sukses membulatkan kedua mata Naruto, sebelum akhirnya pintu ruangan tersebut tertutup dengan rapat.

Sudah 30 hari Naruto tidak diijinkan untuk keluar dari Istana sedikitpun. Bahkan untuk menjulurkan tangannya melalui gerbang istanapun sangat sulit. Ada suatu waktu, saat ia ingin keluar istana dengan kedok berkunjung ke rumah Kiba, ia tidak diperbolehkan oleh penjaga gerbang yang merupakan suruhan ayahnya untuk pergi melewati gerbang tersebut. Lagi-lagi Naruto hanya bisa berdecih kesal. Dengan alasan bosan dan butuh hiburan, ia mendatangi ayahnya, meminta izin untuk dibukakan pintu agar ia bisa berkunjung ke rumah kiba. Bukannya dibukakan pintu gerbang, malah Kiba yang didatangkan ke Istana untuk menghibur Naruto. Naruto hanya bisa menghela nafas sabar karena rencananya sekali lagi gagal.

Naruto sudah berulang kali merencakan berbagai cara untuk kabur dan istana ini. Berkali kali pula ia gagal dan tertangkap basah oleh para penjaga. Naruto sampai lelah dengan segala rencananya. Namun, pada akhirnya setelah tertangkap berkali kali dan melakukan kesalahan berkali kali. Ia akhirnya menyusun sebuah rencana melalui berbagai macam kegagalan yang pernah ia buat. Dengan mempelajari setiap kegagalan, Naruto telah membuat rencana yang ia yakini akan berhasil untuk percobaan melarikan dirinya yang satu ini.

Dengan segala cara ia berdoa sebelum menjalankan rencananya.. Tidak lupa mengecek barang barang yang dibutuhkan.

Naruto yang sedang berdiri di depan ranjangnya yang terbuat dari cangkang kerang mulai mengabsen barang barang yang sudah ia kumpulkan.

"ekhem, Tali, gas tidur buatan sendiri, topeng, boomerang, makanan untuk ikan penjaga dan emmm sudah cukup." Naruto mulai menyengir bahagia, berharap bahwa kali ini akan berhasil. Sebelum menjalankan rencananya, sebagai permulaan, ia menggunakan topeng yang telah ia buat dan menyeringai licik.

"Selamat menikmati pertunjukan~"

Naruto menjalankan rencananya pada sore hari, saat itu terjadi pergantian penjaga. Naruto yang sudah berhasil keluar dari istana akibat gas tidur beracun yang ia berikan pada penjaga kamarnya merasa sangat senang. Tahap pertama dalam rencananya telah berhasil. Sekarang ia sedang berada di halaman istana. Bersembunyi di balik karang karang istana dan mulai mengamati keadaan.

Ia menghitung waktu, seharusnya sesuai dengan perhitungannya. Sebentar lagi akan terjadi pergantian penjaga. Naruto menunggu dengan sabar dibalik karang dan mengamati sekitar dengan tenang.

TINGGG!

Bunyi karang yang dipukul terdengar dengan nyaring, menandakan terjadinya perubahan tempat penjagaan pada istana. Dalam beberapa menit penjaga penjaga berhamburan.

"hey kau! Pergantian penjagaan" Kata seseorang penjaga lain kepada penjaga gerbang. Sang penjaga gerbang memperhatikan ke arah penjaga lain tersebut.

"Benarkah? Ah Syukurlah. Aku ingin beristirahat sejenak."

Nah ini dia yang ditunggu tunggu oleh Naruto. Naruto tahu betul jika penjaga biasanya akan mengambil istirahat sebentar pada saat pergantian penjagaan, sembari menunggu penjaga lain yang bertugas datang. Dengan cepat, Naruto berjalan ke depan sang penjaga. Penjaga yang hampir memejamkan matanya pun kembali membuka matanya, walaupun masih terlihat sangat santai.

"he? Siapa kau ha?"

"Aku ada sebuah hadiah untuk mu."

BOOM!

Dengan cepat Naruto melemparkan gas tidur pada penjaga gerbang utama. Dalam hitungan detik, penjaga tersebut sudah tertidur dengan pulas.

"GRRRR HAUK HAUK!" Terdengar suara ikan ikan penjaga gerbang, Naruto yang melihat hal itu sudah mengambil langkah pencegahan. Dengan cepat, ia mulai mengambil bebapa makanan ikan penjaga gerbang yang ia curi dari gudang istana.

SYUT!

Ia lemparkan makanan tersebut ke arah yang berlawanan dengan gerbang istana. Dengan cepat, ikan ikan yang semula berenang mendekati Naruto berganti arah mengejar makanan tersebut.

"HAUUU"

Naruto tersenyum puas rencana keduanya berhasil. Dengan cepat ia berbalik ke arah gerbang istana. Belum selesai tantangan Naruto, tiba tiba ada dua penjaga yang datang dan melihat Naruto.

"HEI! SIAPA KAU?!" Dengan cepat, ia keluarkan senjata terakhirnya, boomerang. Dengan cepat Boomerang itu menyambar kedua penjaga. Dengan cepat mereka mengindar..

"Ahaha Kau pikir bisa mengalahkan kami dengan itu?"

Naruto menyeringai licik sembari menatap kedua penjaga tersebut.

"Tidak tentu saja tidak. Tapi dengan ini!"

Tidak membuang buang waktu, Naruto melemparkan gas tidur buatannya saat posisi kedua penjaga tersebut dalam posisi yang tidak seimbang.

BOOM

"uhuk uhuk, khhh, KURANG AJAR!"

Kedua penjaga tersebut terbatuk batuk akibat gas yang dilemparkan oleh Naruto. Semula mereka terbatuk batuk, lalu berangsur angsur kedua penjaga tersebut mulai memejamkan matta mereka, dan tertidur. Meninggalkan Naruto dengan pintu gerbang yang tidak terjaga. Naruto tersenyum puas atas hasil kerja keras dan rencananya yang telah sukses.

Memanfaatkan situasi ini, Naruto segera membuka gerbang istana.

KRIETT

Ia berenang dengan cepat menjauhi wilayah Istana.

WUSH PYASH!

Dalam hitungan menit, Naruto sudah berada cukup jauh dari jangkauan para penjaga. Mata Naruto berbinar saat ia berhasil berenang keluar dari Istana. Sirip Naruto bergerak cepat, membawa tubuhnya menuju ke permukaan. Sekedar informasi, Naruto adalah duyung tercepat setelah sang Ayah di kerajaan timur. Namun, mengingat umur ayahnya yang tidak lagi muda, mungkin gelar yellow flash telah jatuh ketangannya.

Semakin dekat, Naruto dapat melihat dengan langit yang mulai berganti warna. Ia memacu siripnya untuk segera menggapai permukaan. Sedikit lagi, sedikit lagi ia akan sampai. Ia hanya harus berenang beberapa meter lagi.

PYASH!

Naruto mendongakan kepala, telah mencapai permukaan. Rambut pirang Naruto berkilauan tertimpa cahaya senja. Mata biru Naruto mengerjap sesaat, menyesuaikan dengan keadaan di atas permukaan. Akhirnya Naruto dapat melihat langit berawan setelah hampir satu bulan.

Dengan bersemangat, Naruto menggerakan kepalanya. Memindai sekekeling, berusaha mencari sebuah kapal yang biasa berlayar di sekitar perairan tersebut dengan manusia itu di atasnya. Beberapa menit berlalu, ia tidak menemukan apapun sejauh matanya memandang. Ekspresi Naruto berubah. Binar mata Naruto mulai hilang, terganti dengan kekecewaan. Ia lupa bahwa hari sudah senja, manusia yang ia cari s pasti sudah berlayar kembali ke daratan. Naruto termenung menatap senja, raut wajahnya tak terbaca, ia menatap horizon yang perlahan berubah warna. Warna oranye berganti perlahan, hilang dilahap kegelapan.

Seperti harapan Naruto.

Perlahan terlahap, dan menghilang beriringan dengan malam yang tiba. Naruto hanya bisa tersenyum kecil, berusaha menghibur dirinya.

"Ah apa yang kau pikirkan Naruto. Kau bahkan lupa bahwa dia su-"

"Kau."

DEG

Suara rendah seorang laki laki perlahan menyapu pendengaran Naruto. Suara itu mengalun lembut memasuk gendang telinganya. Bersamaan dengan frekuensi suara yang masuk, otaknya mulai memproduksi informasi dengan cepat. Menimbulkan friksi pada tubuhnya, jantungnya memacu darah lebih cepat keseluruh tubuhnya, ia merasakan suhu tubuhnya naik turun tidak tetap. Naruto bisa mendengar suara detak jantungnya, ia bisa merasakan wajahnya terasa panas, ia bisa merasakan keringat dingin yang keluar melalui pori pori telapak tangannya, dan ia bisa merasakan keberadaan seseorang tepat di belakang tubuhnya.

Naruto menahan nafas, firasatnya mengatakan ini akan menjadi sesuatu yang buruk. Dengan perlahan, ia beranikan diri untuk memutar kepalanya, melihat sumber suara yang telah mengagetkannya.

DEG! DEG!

Naruto merasa sekali lagi jantungnya terlalu cepat memompa darah. Jantungnya seakan bersiap untuk melompat keluar dari tubuhnya.

Yang pertama kali tertangkap oleh kedua mata Naruto adalah hitam. Warna hitam kelam dua buah manik mata yang menyedot seluruh tenaganya, memicu detak jantungnya, menarik jiwanya menyelami manik kelam tersebut. Kedua mata Naruto tak bisa teralihkan, tenggorokan tercekat, membendung semua kata kata yang ingin ia katakana. Naruto benar benar belum siap. Ia benar benar belum siap, jika harus berhadapan dengan sang pujaan.

Uchiha Sasuke, kini berada di depannya.

Sasuke memandangi Naruto dengan pandangan menyelidik. Ketertarikan terpancar jelas pada kedua matanya. Tatapan menusuk, mengamati detail tubuh Naruto, dan menelanjangi di saat yang bersamaan.

Tubuh Naruto tidak bisa merespon, ia terlalu terkejut. Ia tidak menyangka akan bisa ditemukan secepatnya ini. Ia bahkan tidak berpikir akan ditemukan. Ia belum mempersiapkan hatinya, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi tatapan mata sang Uchiha muda.

Sasuke yang berada di atas sebuah kapal kayu kecil masih mengamati Naruto, ia berdiri sendiri disana, tanpa siapapun, tanpa kakaknya yang selalu menemani. Jubah hitam yang ia pakai berkibar tertiup angin bersamaan dengan makin kencangnya hembusan angin dikarenakan hari sudah mulai gelap. Melihat tidak ada respon yang ia dapat dari objek yang ada di depan matanya, ia mulai membuka mulut kembali.

"Kau terus mengamatiku."

Tubuh Naruto menegang kembali. Ekspresi wajahnya menampilkan kepanikan yang sangat kentara. Bahkan sang Uchiha menyadari bahwa selama ini Naruto terus mengamati dirinya.

Sasuke yang semula berdiri mulai mengubah posisinya. Berlutut dengan salah satu kakinya, membuat dirinya lebih dekat dengan duyung yang masih belum mengatakan satu patah kata pun.

"Kau.. menyukaiku."

Kata kata Sasuke terdengar semakin ambigu ditelinga Naruto. Ia memberi pertanyaan atau pernyataan, Naruto tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang Naruto ingin tahu adalah bagaimana cara melepaskan diri dari pujaan hatinya.

Sasuke mengernyitkan kedua alisnya, ia sudah mengatakan banyak hal tapi duyung itu masih terus diam.

"Kau menghilang selama sebulan."

'Bahkan ia tahu bahwa aku menghilang'

"Siapa kau?"

Akhirnya Naruto menyerah, ia hampir tidak sanggup dengan semua ini. Ia memang sangat ingin pergi, tapi tak bisa dipungkiri, hatinya menjerit, meminta belas kasih kepada pikirannya untuk bertemu dan berinteraksi sedekat ini.

Naruto menatap pemuda yang berada di atas kapal kecil tersebut.

"Aku adalah sesuatu yang tidak seharusnya kau tahu."

"…"

"Aku adalah sesuatu yang tidak seharusnya berada di sini."

"…"

"Aku adalah sesuatu yang berbeda darimu."

"…"

"Maka dari itu, kita tidak seharusnya bertemu."

Tanpa sadar, air mata Naruto mengalir keluar dari kedua bola matanya. Ia harus mengatakan ini, yang terakhir. Saat sang pujaan hati sudah mengetahui semua ini, hancur sudah. Ia tidak mungkin lagi bisa mengamati pemuda itu dari jauh. Ini adalah akhirnya. Akhir cinta seorang duyung kepada seorang manusia.

Naruto bersiap untuk berbalik, berenang ke bawah meninggalkan sang Uchiha dengan kapalnya. Sampai suara pemuda tersebut membuatnya kembali mengurungkan niat.

"Aku ingin tahu tentang dirimu."

Sasuke menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. Berbagai perasaan terlihat bercampur menjadi satu, menjadikan tatapan tersebut sangat menyesakan sekaligus membingungkan. Naruto hanya bisa tersenyum pedih. Ia berusaha tersenyum. Mungkin Naruto harus memberikannya sebuah hadiah kecil sebelum pergi selama lamanya.

"Namikaze Naruto"

Dua kata terakhir meluncur bebas dari mulut Naruto. Hadiah kecil bagi sang pujaan, untuk dikenang, untuk diingat. Bahwa pernah ada sesosok mahluk bernama Namikaze Naruto yang pernah mengisi kehidupannya. Dengan cepat Naruto berbalik, berenang menuju ke dasar laut, dan tidak akan pernah kembali. Meninggalkan cinta pertama, harapan, dan kenangannya di permukaan. Berharap bahwa kenangan itu akan hidup, selamanya.

THE END

OMAKE

Sasuke termangu melihat kepergian duyung yang ia tunggu selama beberapa hari tersebut. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia menatap percikan air yang tercipta akibat kepakan indah sirip duyung pria tersebut yang ia ketahui bernama Namikaze Naruto.

Tes Tes

Sasuke terkejut merasakan butiran air asin memaksa keluar dari kedua matanya. Ia gerakan kedua tangannya untuk menyapu beberapa tetes yang memaksa keluar dari matanya.

Ekspresinya tidak berubah, Sasuke mendongakan matanya menatap langit yang benar benar sudah menggelap. Namun, air mata terus mengalir tanpa ia sadari.

Banyak hal yang tidak Sasuke temukan jawabannya dan tidak ia ketahui sampai saat ini. Namun, satu yang dapat ia pastikan.

Kepergian duyung itu, turut membawa seluruh hati dan separuh jiwanya pergi untuk selama lamanya.

THE REAL THE END.

Halo! Terimakasih sudah mau membaca chapter 3 fic ini. Kali ini saya membuat sasunaru dan sepertinya akan menjadi yang terakhir kali.

Oh iya saya minta maaf atas kesalahan pada fic chapter 2. Saya benar benar tidak tahu dan lupa kalau judulnya sasunaru version. Waktu itu saya terburu buru untuk mengupload cerita Karena sedang sibuk sampai lupa kalau judulnya ada sasunarunya.

Saya langsung membuat fic ini sebagai permintaan maaf untuk para reader yang kecewa, walaupun ternyata membutuhkan waktu lama karena kesibukan sebagai siswa kelas 3 sma dan ide yang tiba tiba berhenti di tengah jalan. Saya tidak ada niatan untuk pair war atau mendongkrak popularitas SEPERTI yang dikatakan oleh REVIEWER. Sedih juga sebenarnya saya ahaha, tapi saya juga menyadari bahwa ini adalah kesalahan saya.

Saya sangat menghargai setiap review, namun saya akan lebih menghargai lagi jika reviewer memberikan review dengan kata kata yang lebih lembut dan lebih membangun. Maaf jika kesalah dichapter sebelumnya membuat beberapa reader merasa marah.

Untuk beberapa reader yang mengharapkan Narusasu saya juga minta maaf kalau chapter ini bukan Narusasu. Mungkin di project fic berikutnya ahaha.

Dan chapter 3 ini akan mengakhiri fic ini. Terima kasih atas dukungan para pembaca sekalian. Any question bisa langsung via Messeage.

Terimakasi atas perhatiannya

Salam

Chocholate Cronut